Pulauku Nol Sampah, Semangat Pulau Pramuka untuk Kebaikan Dunia


Memasuki penghujung tahun, cuaca di belahan bumi Eropa terasa semakin jauh dari kata bersahabat. Tidak terkecuali di Katowice, sebuah kota metropolitan di bagian selatan Polandia. Suhu udara kala itu mencapai titik nadirnya, minus 2 derajat Celcius.
Meski hawa dingin terus menderu, namun suasana di Paviliun E Spodek Arena—stadion kebanggaan warga Katowice—seketika berubah menjadi hangat tatkala Dr. Tukul Rameyo Adi tampil memukau di atas panggung. Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman itu menyampaikan sebuah pesan penting dari Indonesia.
We proudly present to you, Pulauku Nol Sampah. A community-based innovation movement to manage waste on the island,” tuturnya berbahasa Inggris seraya membuka sesi presentasi pada gelaran akbar bertajuk Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-24 (COP24), Selasa (11/12).



Dalam paparannya, ia menceritakan bagaimana sebuah gerakan komunitas dapat mengatasi masalah sampah plastik. Sebuah isu lingkungan yang akhir-akhir ini kembali mengemuka, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.
Decak kagum terpancar dari raut wajah para pemerhati lingkungan yang memenuhi aula. Ratusan pasang mata yang datang dari berbagai penjuru dunia berhasil dibuatnya terpukau. Tepuk tangan sontak terdengar riuh saat Dr. Tukul merampungkan materinya.
Ketakjuban peserta dalam pertemuan tahunan lingkungan hidup sedunia itu bukanlah tanpa alasan. Sebab solusi sampah plastik yang dinanti dunia, kini tersaji utuh di depan mata. Uniknya, solusi tadi bukanlah berasal dari kota, teknologi terkini, maupun kajian akademisi. Melainkan letupan semangat dan aksi sederhana warga dari Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka.

Mahariah yang Pantang Menyerah

Tidak seperti di Katowice, cuaca di Pulau Pramuka terasa sangat terik. Aroma asin air laut khas pesisir pantai seketika menghujam batang hidung saya, saat kapal cepat yang bertolak dari Pelabuhan Marina Ancol merapat di dermaga.
Rasa mual akibat terjangan ombak di sepanjang perjalanan seketika sirna, tatkala melihat senyum seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangan saya di KBA Pulau Pramuka. Sambil menyusuri tepian pantai, kami pun mulai berdiskusi.



“Enam puluh persen sampah di Kepulauan Seribu berasal dari Jakarta, Mas. Biasanya datang saat musim hujan karena terbawa arus air laut. Hampir seluruhnya berupa sampah plastik,” ujar Mahariah. Tutur katanya lembut, namun tetap tidak bisa menutupi semangat kuat yang muncul dari dalam dirinya.
Mahariah (49) adalah pendiri Rumah Hijau, sebuah komunitas lingkungan hidup yang bermarkas di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dari komunitas inilah lahir gerakan Pulauku Nol Sampah yang dipresentasikan Dr. Tukul di Polandia. Gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan melalui upaya pengelolaan sampah yang baik.

Seperti kata pepatah, pengalaman merupakan guru yang terbaik. Jauh sebelum Rumah Hijau didirikan, Mahariah menjadi saksi bagaimana sampah plastik meluluhlantahkan kelestarian lingkungannya. Tahun 2009, saat banjir besar melanda Jakarta, sebagian besar tanaman bakau di Pulau Pramuka mati akibat terjangan sampah plastik kiriman.
Akibatnya, abrasi pantai tak bisa terhindarkan. Terumbu karang mati, biota laut kehilangan nutrisi. Para nelayan kesulitan mencari ikan, pariwisata daerah kehilangan minat wisatawan. Pada akhirnya, kesejahteraan warga Pulau Pramuka yang menjadi taruhan.
“Kejadian itulah yang menggerakkan hati saya, Mas. Sejak saat itu, kami mulai mengajak warga untuk mendaur ulang sampah plastik dan melakukan reboisasi tanaman bakau di sepanjang pesisir pantai,” ucap Mahariah. Kali ini nada bicaranya terdengar sendu, seakan menyembunyikan kekecewaan yang telah lalu.

Menyadarkan warga untuk melestarikan lingkungan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang mesti dilewati. Segudang tentangan pun harus dihadapi.
Mulai dari keengganan warga untuk memilah sampah, penolakan warga untuk mengikuti pelatihan daur ulang, program budidaya bakau yang tak mendapat sambutan, hingga tuduhan bahwa aksi yang dilakukan Mahariah semata-mata hanya untuk mendapat bayaran.
Namun, segala ujian tadi sama sekali tidak melunturkan semangatnya. Sebagai seorang guru Madrasah Ibtidaiyah, ia sudah terbiasa mendidik santrinya dengan penuh kesabaran. Mengajarkan kebaikan dengan penuh kesantunan, membalas gunjingan dengan seuntai senyuman.
“Saya nikmati semua prosesnya, Mas Adhi. Jikalau saya hanya berorientasi pada hasil, mungkin saya sudah menyerah sejak dulu,” cakapnya pasti.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Kegigihan Mahariah pelan-pelan membuahkan hasil. Tahun 2014, ia mendapat suntikan tenaga dari Variabel Bebas, sebuah komunitas anak muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan pesisir pantai.
Aksi peduli lingkungan yang lebih variatif lantas digencarkan. Mulai dari pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual, penanaman bibit bakau dan terumbu karang, hingga penerapan pola tanam hidroponik untuk memanfaatkan pekarangan.
Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan paket wisata edukasi konservasi. Pelancong yang berlibur ke Pulau Pramuka diajarkan cara mendaur ulang sampah plastik, serta menanam bakau dan terumbu karang. Tujuannya agar para wisatawan juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam dan lingkungan.



“Dari sana, akhirnya banyak warga yang tertarik ikut serta aksi peduli lingkungan. Karena selain melestarikan alam, warga juga memiliki kesempatan untuk mendapat tambahan penghasilan dari daur ulang sampah dan pariwisata daerah,” kata Mahariah. Matanya kini berbinar penuh kebahagiaan.
Seiring meningkatnya kesadaran warga terhadap isu lingkungan, pada tahun 2015 Mahariah bersama sekelompok ibu-ibu di Pulau Pramuka dan sekitarnya mendirikan komunitas Rumah Hijau. Anggotanya kala itu masih sangat terbatas, hanya 9 keluarga saja.
Namun, keterbatasan tadi tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus mengampanyekan gerakan Pulauku Nol Sampah. Saat waktu luang dan akhir pekan, mereka rutin melakukan aksi peduli lingkungan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan warga sekitar, khususnya terhadap bahaya sampah plastik.

Berkat daya juangnya yang tak pernah padam, Mahariah dianugerahi Kalpataru Tingkat Nasional pada tahun 2017. Sebuah penghargaan tertinggi di negeri ini bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Apresiasi itu ia terima langsung dari tangan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Alih-alih jemawa, Mahariah malah semakin bersahaja. Baginya, prestasi pribadi bukanlah tolok ukur keberhasilannya. “Yang terpenting adalah apa yang saya lakukan bisa mengubah pola pikir warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Karena lingkungan yang asri akan memberi banyak manfaat bagi warga,” tuturnya sederhana.
Apa yang dikatakan Mahariah memang benar. Ikhtiarnya terus dilakukan tanpa henti. Pelan tapi pasti, anggota Rumah Hijau pun mulai bertambah. Kini, sudah ada sekitar 40 keluarga yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.



Sejumlah komunitas lingkungan hidup dari berbagai daerah pun mulai berdatangan untuk melakukan studi banding. Terutama komunitas yang fokus terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian ekosistem pesisir pantai. Karena hingga saat ini, belum ada literatur mengenai sistem pengelolaan sampah untuk daerah kepulauan seperti di Pulau Pramuka.
Bak bola salju yang bergulir, Pulauku Nol Sampah mendapat atensi positif dari warga. Tidak hanya sekadar aksi nyata, gerakan ini lambat laun mulai mengubah kebiasaan dan perilaku warga. Dari yang semula acuh tak acuh, menjadi saling merengkuh. Alhasil, kampung Pulau Seribu kini mulai berseri kembali.



Memilah Sampah Mulai dari Rumah
Kami melanjutkan diskusi sambil menelusuri lorong kampung yang nampak sangat asri. Lubang resapan biopori saya temui setiap melangkahkan kaki sejauh 2 hingga 3 meter. Dua kantong sampah—organik dan anorganik—tertata rapi menghiasi pagar rumah-rumah warga. Lengkap dengan tanda pemilah sampah unik yang terbuat dari kaleng bekas berwarna-warni.
“Sengaja kami buat menarik, supaya warga jadi tertarik. Karena pemilahan sampah merupakan langkah pertama dari upaya pelestarian lingkungan. Kami ingin warga terbiasa memilah sampah mulai dari rumahnya,” jawab Mahariah menuntaskan rasa penasaran saya.


Ia kemudian mengantar saya ke “hutan”, sebutan akrab untuk sekretariat Rumah Hijau. Kebetulan hari itu memang bertepatan dengan agenda rapat Rumah Hijau. Persis seperti namanya, sekretariat Rumah Hijau merupakan sebuah tempat terbuka beralas tanah yang dikelilingi pepohonan rindang.
Tak jauh dari sana, saya bisa melihat deretan pot berisi aneka ragam sayuran hidroponik. Di atasnya tersedia alat penadah air hujan yang berfungsi untuk irigasi tanaman saat kemarau datang. Tepat di belakang, kandang kelinci seukuran rumah tipe 21 nampak berdiri tegak menjulang.

Ada pula hutan yang difungsikan sebagai kawasan edukasi konservasi. Suasana pendidikan alam memang terasa sangat kental. Sebab, deretan pesan menarik berwarna-warni yang diukir di atas papan kayu menghiasi pelataran. Lafalnya pun tedengar sangat unik dan menyegarkan, seperti “Less Waste is Better” dan “Pulauku Cantik Tanpa Kantong Plastik”.

Berdekatan dengan kawasan hutan konservasi, ratusan bibit bakau siap tanam tersusun dengan rapi. Bibit ini memang sengaja disiapkan untuk paket edutrip. Dalam paket ini, para pelancong yang berwisata ke Pulau Pramuka akan diajarkan cara menamam bakau di sepanjang pesisir pantai.

“Di sini kami juga memiliki bank sampah, Mas Adhi. Warga yang telah memilah sampah plastik dari rumahnya, bisa menyetornya ke mari,” kata Mahariah seraya menunjukkan mesin pencacah sampah plastik yang tersimpan di bagian belakang.
Nilai tabungan sampah plastik pun bervariasi, tergantung jenisnya. Untuk botol plastik dihargai Rp4.000 per kilogram, sedangkan gelas plastik dinilai Rp6.000 per kilogram. Meski dinilai dengan satuan uang, warga tidak bisa mengambil tabungannya begitu saja.
“Hanya dengan alasan tertentu, barulah warga dibolehkan mengambil uang tabungannya. Seperti membeli beras, membayar biaya sekolah, membeli buku dan seragam sekolah, atau berobat,” ujar Mahariah melanjutkan. “Tujuannya agar tabungan sampah ini benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.”



Sampah plastik yang disetor warga, kemudian dikeringkan dan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah sampah plastik. Nantinya, cacahan plastik tersebut dijual oleh Rumah Hijau kepada para penadah di Muara Angke. Keuntungannya digunakan untuk melakukan aksi pelestarian lingkungan lainnya.
Untuk mengolah sampah plastik jenis lainnya seperti kantong plastik, bungkus mi instan, dan sedotan, Rumah Hijau menerapkan dua jenis metode. Pertama, mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai macam kerajinan tangan, mulai dari bunga buatan, gantungan kunci, hingga tas tangan.
Kedua, membuat bata ramah lingkungan, atau yang dikenal dengan istilah ecobrick. Dengan metode ini, botol plastik diisi dengan berbagai macam sampah plastik yang telah dipotong kecil-kecil hingga padat. Ecobrick kemudian direkatkan dan dibentuk menjadi berbagai peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, serta hiasan dinding.
Dengan berbagai upaya tadi, Mahariah berharap agar sampah plastik tidak lagi mencemari lingkungan Pulau Pramuka, sehingga membuat warganya hidup lebih nyaman.

Dukungan Astra

“Sejak pertama kali Rumah Hijau didirikan, Astra memang sudah hadir mendukung kami,” jawab Mahariah tatkala saya menanyakan dukungan PT Astra International Tbk untuk Pulau Pramuka. Melalui program KBA, Astra bersama Rumah Hijau bahu membahu untuk mewujudkan lingkungan Pulau Pramuka yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif.
Dukungan Astra terbagi menjadi empat pilar, yakni lingkungan, kewirausahaan, pendidikan, dan kesehatan. Pada pilar lingkungan, Astra memfasilitasi upaya pengolahan sampah organik yang dilakukan oleh warga. Saya mencatat, setidaknya ada dua kegiatan yang dilakukan.

Pertama, pemanfaatan alat pembuat kompos dari sampah, atau komposter. Astra mendonasi sejumlah komposter untuk dimanfaatkan warga secara langsung di rumahnya. Dengan alat ini, sampah organik akan diurai oleh bakteri sehingga menjadi pupuk kompos. Pupuk ini kemudian bisa dimanfaatkan kembali oleh warga untuk bercocok tanam.
Kedua, pemanfaatan biodigester. Alat ini berfungsi untuk mengubah sampah organik menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan, yakni biogas. Layaknya gas LPG, biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak.
Mahyudin Hafsah, seorang warga yang memanfaatkan biodigester di rumahnya, mengakui bahwa biogas tidak berbau meski terbuat dari sampah organik. Selain itu, kalori yang dihasilkan juga lebih besar dibandingkan dengan gas LPG, sehingga membuat masakan lebih cepat matang.
“Kegiatan lainnya yang digagas Astra bersama Rumah Hijau adalah Rumah Berseri Astra. Jadi, setiap warga di Pulau Pramuka, diajari cara menanam di pekarangan rumah yang relatif terbatas,” ujar Mahariah bersemangat.

Contoh penerapan Rumah Berseri Astra dapat ditemui di kediaman Hastuti. Suasana hijau nan asri langsung terasa ketika kami berkunjung ke rumah Ibu dua anak itu. Berbagai macam vegetasi ada di rumahnya, mulai dari tanaman obat keluarga, hias, sayuran, hingga buah-buahan.
Sebagian besar tanaman, terutama sayuran, ditanam secara hidroponik. Metode tanam ini sangat cocok diterapkan di pekarangan rumah yang terbatas, karena tidak membutuhkan media tanah. Beberapa jenis sayuran yang ditanam secara hidroponik adalah pakcoy, kangkung, terung, jeruk, kelengkeng, cabai, dan lengkuas.
Sebagai daerah kepulauan, salinitas tanah Pulau Pramuka memang tinggi. Sehingga tidak banyak bahan pangan yang dapat tumbuh di atasnya. Oleh karenanya, pasokan bahan pangan harus dipenuhi dari Jakarta, sehingga biayanya menjadi lebih mahal.
Dengan metode tanam hidroponik, Hastuti mengakui bahwa kebutuhan nutrisi buah dan sayuran keluarga bisa terpenuhi secara mandiri. Alhasil, biaya dapur dan kebutuhan rumah tangga juga dapat ditekan.
Sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan warga Pulau Pramuka, Astra juga menerapkan pilar kewirausahaan. Pada pilar ini, dukungan Astra diwujudkan dalam bentuk pelatihan produk pangan olahan, salah satunya adalah keripik sukun.
Selain itu, ada pula jepa—penganan khas daerah kepulauan. Kudapan ini terbuat dari buah alkesah, nama lain dari sawo mentega. Di tangan ibu-ibu Rumah Hijau, kreasi jepa ala Pulau Pramuka berhasil meraih Juara 1 Lomba Olahan Buah Langka antar KBA yang diselenggarakan oleh Astra pada awal tahun ini.



Dari pilar kesehatan, Astra memberikan pelatihan kepada para bidan yang melayani posyandu Pulau Pramuka. Dengan pelatihan ini, keterampilan para bidan dalam melayani warga Pulau Pramuka semakin meningkat. Harapannya, kesehatan warga akan lebih terjaga.
Pada pilar terakhir, yakni pendidikan, Astra memberikan pendampingan sekolah adiwiyata, dan beasiswa bagi siswa SD, SMP, dan SMA. Selain itu, Astra juga mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan memanfaatkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri. Lokasinya berada di bibir pantai, tidak jauh dari pelabuhan.
Di sini, ada berbagai sarana edukasi yang bisa dimanfaatkan orangtua dalam mendidik anaknya, seperti taman membaca dan papan penunjuk jalan dengan desain yang kekinian. Anak-anak juga bisa belajar menanam sejak dini dengan alat peraga tanaman vertikultur.

Berada di RPTRA Tanjung Elang Berseri, saya seperti melintasi lorong waktu dan kembali ke masa lalu. Ada ayunan dan jungkat-jungkit yang kerap saya mainkan sewaktu TK dahulu. Dari kejauhan, tampak senyum cerah dari wajah polos anak-anak yang berlarian. Saya yakin, kebahagiaan mereka adalah jaminan cerahnya masa depan Pulau Pramuka.
Bernostalgia di RPTRA membuat waktu seakan cepat bergulir. Tak terasa, arloji sudah menunjukkan pukul 14.30. Saya pun harus bergegas ke pelabuhan untuk kembali ke peraduan.
“Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu,” ujar saya kepada Mahariah seraya membenarkan posisi ransel di punggung.
Banyak inspirasi yang bisa dipetik dari kunjungan saya ke KBA Pulau Pramuka kali ini. Namun di antara itu semua, ada satu yang paling melekat di hati. Yaitu semangat Mahariah dalam menjaga lingkungan kampungnya agar tetap berseri.
Bersama Astra, semangat itu kemudian ia tularkan dengan sabar kepada setiap warga. Hingga akhirnya timbul tiga kata mulia: Pulauku Nol Sampah. Untaian kata yang bukan hanya membangkitkan gelora warga Pulau Pramuka, tetapi juga menjadi asa yang terus dilantaskan demi kebaikan Indonesia dan dunia.



***
Artikel ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2018

30 comments:

  1. keren, sudah bisa menerapkan zero waste,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ke mari, Mas. Salam hangat.

      Delete
  2. Masyarakat yang dibina sejatinya akan mandiri dengan hasil kerja keras mereka ya, Mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Mas! Jika yang dibina bisa mandiri, maka salutlah dengan yang membina. Terima kasih sudah berkenan mampir, Mas. Sal hangat.

      Delete
  3. Dibutuhkan lebih banyak lagi insan berjiwa seperti Bu Mahariah. Betapa keteladanan itu tidak mudah. Contoh nyata hanya akan bisa menggerakkan masyarakat dari yang semula apatis jadi lebih tergerak. Butuh dukungan dari pihak luar juga. Semoag Astra kian memperluas programnya ke banyak wilayah. Masih banyak daerah lain yang butuh teladan dan dukungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harusnya berdoa dan berusaha, agar apa yang dilakukan Mahariah bisa ditiru. Dimulai dari diri sendiri. Apapun yang kita kerjakan, semoga menjadi inspirasi buat banyak orang.

      Terima kasih sudah berkenan mampir, Mba. Salam hangat.

      Delete
  4. Terlihat sekali semangat untuk menjaga kelestarian alam melalui penanaman bibit bakaunya, semoga Pulai ini makin asri kedepanya, amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Ya Rabb. Terima kasih sudah mampir Mas Amir. Salam hangat.

      Delete
  5. Salut bang sama Bu Mahariah, keren yah semangatnya luar biasaaaaaa. Pastinya dukungan Astra jg turut membantu pulau tsb menjadi nol sampah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Bang. Salut sama beliau. Astra menjadi pelengkap semangatnya. Terima kasih sudah mampir, Bang. Salam hangat.

      Delete
  6. Semoga aksinya ini bisa ditiru sama yang lainnya. Kalo saja setiap daerah menerapkan ini, pasti lingkungannya sehat terus dan terlihat indah banget dah. Tapi kembali lagi, pertama yang harus dibina adalah kedisiplinan diri dan kesadaran terhadap lingkungan... Mantap ulasannya... Good luck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mas Hendra. Berbagai KBA di Indonesia juga menerapkan hal yang sama. Terima kasih sudah mampir, Mas. Salam hangat.

      Delete
  7. nice. pengelolaan sampah yang membuat warga juga mandiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Koh. Terima kasih sudah repot-repot mampir ya, Koh. Salam hangat.

      Delete
  8. Dari jargon pulaunya saja sudah benar2 terlihat betapa Pulau Pramuka ini begitu menginspirasi. Semangat Ibu Mahariah yang didukung oleh bantuan Astra patut diacungi jempol. Senangnya melihat Kampung2 Berseri Astra yang tersebar di seluruh Indonesia, semuanya memiliki keunikan cerita dan latar belakang masing-masing. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mas Firman. Kampung Berseri Astra di seluruh Indonesia memang unik dan menginspirasi. Terima kasih sudah mampir, Mas. Salam hangat.

      Delete
  9. Weww kereeenn, pulauku nol sampah, semoga bisa diduplikasi di seluruh wilayah indonesia, hatipun lapang meliaht alam saat nol sampah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Ito. Hati tenteram kalau melihat sampah menghilang. Terima kasih sudah mampir, To. Salam hangat.

      Delete
  10. Wah, salut buat Ibu Mahariah ini. Semoga semakin banyak yang peduli dengan lingkungan. Aku sih masih jauh dari zero waste. Tapi dicoba sedikit-sedikit, at least dengan beli sayur tanpa kemasan (segar, bawa keranjang sendiri ke pasar) 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ide yang menarik, Mba. Patut ditiru. Terima kasih sudah mampir ke mari. Salam hangat.

      Delete
  11. Semoga ada banyak jiwa-jiwa lain seperti ibu mahariah, yang semangat dalam menjaga kelestarian lingkungan khususnya di daerah kepulauan. Dan tak lupa pula peran astra dalam membantu daerah-daerah kepulauan dalam melestarikan lingkungan. Sehingga bisa menjadi Pulauku Indonesia Nol Sampah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Yaa Rabb. Terima kasih sudah mampir ke mari, Mas. Salam hangat.

      Delete
  12. Akupun pernah ke pulau ini... dan benar2 asri lagi indah...
    Jargonnya menginspirasi, penyampaian ulasannya menarik dan menginspirasi...
    Mantab Suhu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mas. Pulau Pramuka memang semakin asri. Terima kasih, Suhu Adhi, sudah repot-repot mampir ke mari. Hehe.

      Delete
  13. Tulisan ini sangat berguna untuk lebih banyak menginspirasi daerah lainnya.
    Lanjutkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Yaa Rabb. Semoga menginspirasi daerah kepulauan lainnya. Terima kasih sudah mampir ke mari, Mas. Salam hangat.

      Delete
  14. Baca tulisan ini dan lihat foto-fotonya, saya jadi ngiler pengen main ke P. Pramuka ini. Ingin melihat langsung suasana disana.
    Jalan setapaknya keren banget dengan lantainya terbuat dari paving block, baik sekali untuk resapan air hujan. Ini mengingatkan gang kecil di dekat rumah orang tua saya di Sukabumi yang baru-baru ini di renovasi dan diganti dengan paving block oleh pemerintah setempat.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Kang. Jalan setapaknya sederhana, adem, dan lestari. Terima kasih sudah mampir ke mari ya, Kang. Salam hangat dari Jakarta.

      Delete
  15. Replies
    1. Alhamdulillah. Terima kasih, Kak. Salam hangat.

      Delete