Cepat, tangguh, dan kreatif. Ketiga hal itu adalah modal utama dalam mengarungi era digital. Sebuah masa ketika langkah kaki dan ketukan jari selalu dituntut untuk menghasilkan karya bermutu. Sebuah zaman tatkala pekerjaan tidak lagi disekati oleh ruang dan waktu, melainkan hasil yang akan menjadi gugus penentu.
Namun awas, jangan salah langkah! Ide brilian urung menjadi karya besar bila tidak didukung oleh perangkat jempolan. Kamu butuh gawai serba-bisa agar kecepatan, ketangguhan, dan kreativitasmu bisa terus melaju. Ya, gawai layaknya Vivobook Ultra A412DA—sebuah mahakarya ASUS keluaran terbaru.
***
Jumat petang. Aku mengelap kacamataku dengan ujung kemeja, membersihkan embun yang menempel dari lensanya. Di atas meja kerja, layar ASUS masih menyala, menampilkan enam surel yang belum kubalas. Lima dari atasan, satu dari klien. Semuanya harus rampung sebelum Senin pagi.
Aku menghela napas panjang. Akhir pekan memang tinggal hitungan jam. Ingin rasanya berlibur ke luar kota dan mengajak istri makan malam. Namun apa daya, profesionalitas kudu dijaga. Bukan apa-apa, pekerjaan kali ini memang memerlukan perhatian ekstra. Tidak bisa ditinggalkan, tidak boleh ditunda-tunda.
Maklum saja, tugas analis ekonomi memang begitu. Ada kalanya beban kerja tiba-tiba naik tajam melebihi hari-hari biasanya. Tepat seperti Agustus ini, ketika BPS merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan kedua.
Tak ayal, aku harus segera membuat analisis, menyusun kajian, dan menyerahkannya kepada atasan. Terlambat sedikit saja, alamat dapat murka. Telat sekejap saja, bisa-bisa catatan karier yang kena noda.
Ya, itulah risiko sekaligus tantangan pekerjaanku. Pekerjaan utama yang sama sekali bukan masalah bagiku lantaran sudah delapan tahun kujalani dengan gigih dan bangga.
Yang jadi persoalan adalah bilamana tugas utama datang bersamaan dengan tawaran menulis atau mengajar kelas menulis daring. Itu yang membuat aku garuk-garuk kepala. Persis seperti saat ini.
Asal tahu saja, selain analis ekonomi, aku juga berprofesi sebagai blogger. Menulis adalah caraku berbagi, menyalurkan hobi, dan meraih prestasi. Aku harus pintar-pintar menata waktu agar bisa terus berjalan lenggang di atas kedua rodanya.
Mengotak-atik data ekonomi saat siang hari, menulis artikel pada malam hari. Membuat analisis sepanjang hari kerja, merangkai kata-kata ketika akhir pekan tiba. Kira-kira seperti itulah kiatku mengakali waktu. Seru!


Kalau boleh jujur, bukan aku saja yang punya kesibukan ganda. Kaum milenial zaman sekarang juga umumnya merasakan hal yang sama. Era digital memang melahirkan banyak pejuang multitasking. Sebab di balik semua kesibukan, tersembul jutaan peluang dan pundi-pundi rezeki.
Teman-temanku, contohnya. Ada yang menjadi ibu rumah tangga merangkap penulis lepas. Ada yang berprofesi sebagai pekerja kantoran sembari merintis online shop. Ada pula yang memilih karier sebagai desainer grafis sekaligus YouTuber. Itu sudah biasa.
Hanya saja, sama seperti lika-liku kehidupan, tidak semuanya berjalan lancar. Terkadang, ada hal-hal yang harus kita korbankan. Tapi tenang saja, bukan korban perasaan, kok! Melainkan waktu senggang pada akhir pekan. Itu saja.
Azan Magrib berkumandang. Satu per satu rekan kantorku pulang. Aku masih tersudut di balik meja kerja, sibuk mencari akal agar pekerjaan bisa kelar tetapi liburan tetap bisa dilakukan. Supaya tugas lekas tuntas sambil menikmati akhir pekan yang berkualitas.
Tiba-tiba aku teringat satu hal. Sebuah istilah kekinian yang semakin ke sini semakin digandrungi kaum milenial. Satu kegiatan yang bisa menjamin pelakunya tetap produktif tanpa mengorbankan kesenangan pada akhir pekan.


Staycation! Ya, itulah solusi terbaik yang terlintas di otakku. Kalau bisa bekerja sambil berlibur, mengapa tidak?
Segera kurapihkan meja kerjaku, memasukkan ASUS ke dalam ransel, memesan ojek daring, kemudian cepat-cepat angkat kaki menuju peraduan. Dua agenda besar menunggu untuk dituntaskan: menyusun laporan ekonomi triwulanan dan mengajar kelas menulis online.
Aku semakin tak sabar. Sebab aku tahu, besok akan menjadi hari yang amat menyenangkan.



Sinar mentari jatuh di antara rimbunnya pohon palem. Embusan angin mengelus biduk air biru, mengaduk-aduk tawa anak-anak yang berenang di kolam dangkal. Kursi malas berjajar rapi di tepian, menanti untuk disinggahi para pencari kesenangan.
Sempurna! Inilah potret akhir pekan yang kudamba. Duduk bersantai di pinggir kolam, menikmati hangat matahari, menertawai riak air, sembari menyesap kopi pagi hari.
Aku mengambil ASUS dari dalam ransel, membuka lebar-lebar layar mungilnya, menekan tombolnya, kemudian membiarkan diriku larut dalam pekerjaan.
Zaman memang sudah berubah. Bekerja tidak hanya bisa dilakukan di kantor atau meja kerja saja, tetapi juga di mana-mana. Mau di kafe boleh, ingin di kedai kopi juga sah-sah saja. Pilih saja yang paling kamu suka. Sesederhana itu saja.
Bahkan, sambil bersantai di pinggir kolam renang juga bisa. Tidak perlu mahal-mahal, cukup di hotel bintang tiga saja. Seperti staycation yang kulakukan kali ini. Yang penting ide terus mengalir, yang pasti tetap bisa berkonsentrasi.
O ya, ada satu lagi. Yang pasti, di mana pun kamu bekerja, kamu perlu memerhatikan tiga “A”.


Pertama, anggaran. Selalu sesuaikan bujet dengan lokasi bekerja. Singkatnya, jangan besar pasak daripada tiang. Jangan pernah. Sebab kita tidak ingin mengorbankan satu akhir pekan semata lantas mengencangkan ikat pinggang pada minggu depannya, bukan?
Memang benar, hidup ini tidak hanya melulu diisi dengan pekerjaan. Kita juga perlu bersenang-senang agar kualitas hidup bisa berimbang. Namun demikian, aku menyarankan, lakukanlah kegiatan “senang-senang” ketika proyekmu sudah kelar. Beri dirimu penghargaan ketika invoice sudah cair. Bukan sebaliknya.
Kedua, ambience atau suasana. Ini penting, terutama bagi pekerja kreatif. Entah itu blogger, graphic designer, YouTuber, penulis, pensyair, pengarang, atau analis ekonomi sekalipun. Mengapa? Sebab suasana yang nyaman bisa mempercepat ide brilian keluar dari batok kepalamu.
Ada yang suka lantunan musik jazz di kafe, silakan. Ada yang menghindari keramaian agar konsentrasi tetap tinggi, ayo lakukan. Pilih saja suasana yang paling menunjang.
Kebetulan, saya suka sekali melihat air. Entah air kolam atau air laut. Rasanya sangat menenangkan dan menyenangkan hati. Maka dari itu, bekerja di pinggir kolam hotel menjadi pilihan saya menghabiskan akhir pekan.
Terakhir, ASUS! Untuk yang satu ini, pasti kamu setuju, kan? Pekerja digital seperti kita membutuhkan laptop yang bisa diandalkan. Yang performanya setangguh karang, tetapi tetap elok dipandang. Yang mudah dibawa ke mana saja, tetapi tetap menghadirkan fitur pengaman berteknologi juara.
Asal tahu saja, segala keunggulan itu melekat pada produsen komputer asal Taiwan ini. Jajaran laptopnya senantiasa mendapat tempat di hati pelanggan. Inovasi yang dilakukan ASUS selalu tidak tanggung-tanggung. Mulai dari desain yang ceria, performa mumpuni, bobot yang ringan, hingga bodi yang kompak.


Maka dari itu, tidak heran bila ASUS digemari oleh semua kalangan. Mulai dari pekerja hingga ibu rumah tangga. Mulai dari pebisnis online hingga content creator. Mulai dari remaja hingga mereka yang sudah tidak lagi muda.
Sebagai bukti, pemilik taglineIn Search of Incredible” ini baru saja dianugerahi Top Brand Award 2018 untuk kategori laptop. Asal tahu saja, itu adalah gelar paling bergengsi bagi produsen yang memasarkan produknya di Indonesia.
Menyabet gelar Top Brand Award tidak mudah. Untuk menentukan produsen terbaik, Majalah Marketing dan Frontier Consulting Group—selaku pemberi penghargaan—melakukan survei secara face-to-face pada konsumen di sebelas kota besar di Indonesia.
Itu membuktikan bahwa sebagian besar konsumen Indonesia memilih merek ASUS ketika mencari laptop. Dengan kata lain, ASUS menjadi top of mind di Indonesia.
“Kami sangat bangga dengan capaian ini. Segala jerih payah dan usaha kami bisa diterima dan menjadi pilihan masyarakat,” ujar Regional Director ASUS South East Asia, Jimmy Lin.
Maka dari itu, sungguh tidak keliru bila kamu mengandalkan ASUS untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Apalagi, baru-baru ini ASUS meluncurkan VivoBook seri terbaru: Ultra A412DA. Laptop yang mendapat julukan The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook.
Penasaran seperti apa rupanya? Makanya, tetap di sini, ya. Jangan pindah laman. Ulasannya akan kusajikan dalam beberapa alinea ke depan.



Vivobook adalah kategori laptop ASUS yang menyajikan tiga ciri utama: ringkas, tipis, dan memiliki performa mumpuni. Sesuai tagline-nya, Vivobook Ultra A412DA adalah jenis Vivobook yang paling ringkas di kelasnya. Untuk saat ini, tidak ada yang lebih ringkas darinya.
Oleh karenanya, laptop yang satu ini cocok digunakan siapa saja. Terutama bagi mereka yang mobilitasnya tinggi. Mereka yang pekerjaannya tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka yang kreatif, unik, dan aktif membuat konten. Atau mereka yang mengisi akhir pekannya dengan kegiatan produktif.
Ya, seperti kita semua!
Mengapa? Alasannya sederhana. Orang bermobilitas tinggi perlu didukung oleh laptop yang kompak dan ringkas. Orang seperti ini bisa bekerja di mana saja. Bisa di kafe, co-working space, atau bahkan di dalam pesawat sekalipun.


Ke mana pun mereka pergi, laptop selalu melekat pada diri. Sebab surel bisa masuk kapan saja, begitu pula dengan proyek yang harus dituntaskan sesuai tenggat waktunya. Sudah bukan zamannya membawa laptop besar dan berat. Bukan itu yang kita butuhkan.
Yang kita butuhkan adalah ASUS Vivobook Ultra A412DA, laptop ringan berbobot 1,5 kg dengan bentang layar seluas 14 inch dan tebal sekira 19,9 mm. Sudahlah ringkas, desain bingkainya juga oke punya lantaran mengusung frameless NanoEdge di keempat sisinya. Alhasil, visualisasi terasa luas dan optimal, memudahkan tugas seorang pekerja digital.
Lantas, apakah keringkasan adalah satu-satunya keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA ini? Tentu saja tidak. Ada lima kriteria lain yang menjadikan laptop ini terbaik di kelasnya.



Kecil-kecil cabai rawit. Itulah frasa paling tepat untuk menggambarkan keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA. Kalau ringkas atau tipis saja itu biasa. Jadi luar biasa bila didukung oleh performa yang juga oke punya.
Sejak dulu, ASUS memang begitu. Mereka sangat mengerti apa yang dibutuhkan seorang milenial produktif. Mereka juga paham bahwa sebuah karya besar perlu didukung oleh laptop berperforma gahar.
Adalah prosesor AMD Ryzen 3000 Series, baik Ryzen 3 ataupun Ryzen 5, yang menjadikan performa laptop ini luar biasa. Asal tahu saja, dunia telah mengenal AMD Ryzen sebagai prosesor bertenaga kuda. Sangat kencang dan efisien. Performa naik siginifikan, tetapi konsumsi daya tetap hemat.
AMD Ryzen 3000 Series sendiri adalah generasi ketiga dari daftar prosesor ciptaan Ryzen. Baru masuk di Indonesia pada pertengahan 2019 ini. Tanpa pikir panjang, ASUS langsung membenamkannya pada seri Vivobook Ultra A412DA.


Untuk menunjang performanya, ASUS Vivobook Ultra A412DA dilengkapi memori 4 GB DDR4 2400MHz SDRAM. Bila itu tidak cukup, kami juga bisa meningkatkannya menjadi 16 GB melalui expansion socket yang tersedia hingga 12 GB.
Kapasitasnya laptop ini juga terbilang sangat besar. Kamu tidak perlu takut kehabisan space, sebab ASUS Vivobook Ultra A412DA memiliki kapasitas hingga 512GB SSD dan 1TB HDD. Alhasil, menyimpan file kerja berukuran besar tidak lagi menjadi persoalan.
Kualitas koneksi ASUS Vivobook Ultra A412DA juga tidak kalah jempolan. Adalah Wi-Fi 5 dual-band 802.11ac yang menjamin kecepatan akses internet hingga 867Mbps. Dengan koneksi Wi-Fi yang andal, kamu bisa melantaskan kreativitas tanpa batas.
Meski performanya jempolan, daya tahan laptop ini juga mengagumkan. Sebab ASUS Vivobook Ultra A412DA sudah didukung 2-Cell 37 Wh Battery, menjadikannya tahan digunakan seharian penuh. Jadi, kamu tidak perlu takut bilamana charger tertinggal.



Warna bisa menunjukkan ciri dan kepribadian seseorang. Frasa tersebut sangat dipahami ASUS ketika menciptakan Vivobook Ultra A412DA. Tidak hanya satu, ada empat pilihan warna yang bisa kamu pilih sesuai karaktermu.
Kalau kamu adalah orang yang elegan dan formal, ada baiknya kamu memilih warna Transparent Silver atau Slate Grey. Andai kamu orang yang simpel dan tidak ribet, aku menyarankan kamu memilih Peacock Blue. Sebaliknya, kamu yang energik dan ekspresif, pasti kamu cocok dengan Coral Crush.
Apa pun pilihan warnamu, ASUS Vivobook Ultra A412DA akan menjadikan aktivitasmu lebih berwarna. Tidak percaya? Tilik saja gambar di bawah.




Pernah membeli laptop kosongan? Yang tidak memiliki operating system (OS) sama sekali, sehingga kamu perlu memasangnya terlebih dahulu. Bagaimana rasanya? Ribet, kan? Kalau saya, sih, ribet.
Sederhana saja. Kalau beli laptop, maunya langsung bisa digunakan. Buat apa beli mahal kalau OS-nya tidak terpasang sekalian?
Nah, untungnya ASUS mengerti kebutuhan kita. Vivobook Ultra A412DA sudah pre-install dengan Windows 10 asli. Kamu tidak perlu membeli dan memasang Windows lagi. Apalagi yang bajakan. Ah, jangan! Itu namanya pencurian hak intelektual.




Sering lupa password? Selamat. Aku kasih satu kabar gembira. Kalau kamu membeli ASUS Vivobook Ultra A412DA, kamu bisa mengucapkan selamat tinggal pada segala jenis password numerik dan alfabetik. Sekarang, jarimu adalah kata kuncimu.
ASUS Vivobook Ultra A412DA menggunakan teknologi fingerprint sensor. Artinya, kamu cukup menyentuhnya dengan jarimu untuk membuka laptop. Alhasil, laptop ini lebih aman dan praktis. Tidak ada orang lain yang bisa membuka, kecuali kamu sendiri.


Selain itu, laptop ini juga dibekali Windows Hello. Asal tahu saja, Windows Hello adalah sistem otentifikasi terbaik yang dimiliki laptop masa kini. Sistem ini memungkinkan login biometrik, seperti sidik jari dan wajah, untuk melindungi informasi dan data pribadi di laptop dari serangan siber.
Berkat teknologi tersebut, bekerja dengan ASUS Vivobook Ultra A412DA menjadi lebih aman dan menenangkan.




Suka atau tidak, berlama-lama bekerja di depan laptop dapat membuat jari dan lengan pegal-pegal. Bagi pekerja digital, risiko ini cukup mengganggu. Sebab berpotensi menghambat kreativitas dan durabilitas kerja.
Namun, kamu tidak perlu ragu ketika bekerja dengan ASUS Vivobook Ultra A412DA. Pasalnya, keyboard laptop ini didesain secara ergonomis, menghasilkan pengetikan yang lebih akurat, anti-selip, dan yang paling penting tidak membuat jari dan lengan pegal-pegal.
Jarak antartuts pada keyboard diatur secara begitu cermat. Masing-masing tuts berjarak 1,3 mm, memastikan kenyamanan pada saat pengetikan. Sudah begitu, keandalannya juga tidak perlu diragukan sebab masing-masing tuts telah lulus uji 10 juta kali ketik. Masa pakai jadi lebih lama.


Bila itu saja tidak cukup, ASUS Vivobook Ultra A412DA juga mengusung teknologi ErgoLift. Ketika layar dibuka, posisi laptop akan meningkat 2 derajat, sehingga menghasilkan posisi mengetik yang lebih stabil, aman, dan nyaman.
Khusus pada warna Transparent Silver, ASUS Vivobook Ultra A412DA juga dilengkapi dengan NumberPad. Selain menghadirkan kesan yang lebih elegan karena sentuhan LED-illuminated numeric keypad, NumberPad juga sangat berguna bagi kalian yang gemar bermain angka-angka.
***
Nah, itulah lima keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA yang bisa kurangkum untuk kamu. Bagaimana? Pasti tak sabar untuk memilikinya, dong? Supaya makin yakin, silakan tilik spesifikasi lengkapnya lewat infografis di bawah ini.




Dalam hidup, kita harus pandai-pandai memanfaatkan setiap kesempatan. Menyikapi akhir pekan, misalnya. Hari libur yang hanya dua hari itu nyatanya bisa saya manfaatkan untuk tetap produktif, baik untuk tugas di kantor ataupun kerja sampingan sebagai blogger. Dan, tentu saja sambil liburan. Itu juga penting!
Akan tetapi, kesempatan hanya bisa kita maksimalkan dengan bantuan gawai jempolan. Untuk yang satu ini, saya tidak pernah meragukan kemampuan ASUS. Bersama ASUS, kita bisa menghasilkan jutaan karya besar. Bersama ASUS pula, kita bisa menyalurkan bakat dan mewujudkan ide brilian.


Apalagi kalau punya ASUS Vivobook Ultra A412DA. Bisa saya pastikan, The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook ini akan membuat hari-harimu semakin produktif dan berwarna. Maka dari itu, jangan takut menangkap setiap peluang dan kesempatan. Sebab ada ASUS yang selalu mendukungmu dari depan. [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Vivobook Ultra A412 AMD Wiriting Competition. Tautan artikel ini telah dibagikan pada akun Instagram penulis.
Seluruh gambar yang ditampilkan dalam artikel bersumber dari koleksi pribadi dan ASUS. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.


Ketika raung sirene memecah kesunyian malam, Greg menyadari keberuntungannya sudah hampir habis. Dari balik tirai jendela, Greg menyaksikan delapan mobil polisi berkejar-kejaran melintasi tanjakan, meliuk-liuk di kelokan, kemudian berhenti tepat di depan lobi rumahnya. Tak berapa lama, sesosok polisi berbadan gempal dengan sepucuk laras panjang keluar dari balik kemudi seraya memberi komando kepada satuannya untuk segera membentuk formasi siaga.
Kalian pasti mencari Flo, tebak Greg. Percuma saja, dia sudah tak bernyawa.
Sebagai orang yang telah banyak merasakan kemenangan, Greg selalu termotivasi oleh pencapaian. Pengusaha muda terbaik Asia dan filantropi paling berpengaruh di Indonesia adalah dua dari puluhan prestasi yang pernah diraihnya. Kekayaan Greg setara dengan Hotman Paris Hutapea, pengacara tersohor se-Indonesia. Di Jakarta saja, Greg punya dua belas properti dan lima belas bengkel mobil mewah.
Akan tetapi, semua kegemilangan tersebut tidak pernah membuat Greg merasa benar-benar puas. Sebab masih ada satu trofi yang hingga kini tidak kunjung—atau lebih tepatnya tidak akan pernah—menghiasi etalasenya: Flo.
Flo memang berbeda dengan puluhan wanita yang pernah singgah-satu-malam di ranjang empuk milik Greg. Sekretaris bank berwajah manis yang dikenal Greg lewat Instagram itu sama sekali tidak gila harta. Kendatipun Greg punya segalanya, Flo tetap tidak suka. Walaupun Greg berulang kali mengiming-iminginya dengan harta, Flo tetap bergeming.
Bagi Flo, cinta tidak bisa dipaksa dan harta bukanlah segala-galanya. Sebab gaji Flo sudah cukup untuk mencicil apartemen di pusat kota dan membeli BMW Seri 3 bekas. Lagi pula, Flo juga sudah bertekad untuk hidup seorang diri hingga maut menjemputnya kelak. Memiliki pasangan tidak pernah sekali pun terlintas dalam benaknya.
Satu waktu, Greg pernah memberi Flo kejutan. Greg menyewa papan reklame digital yang terletak di seberang kantor Flo selama sebulan penuh. Setiap hari, papan reklame tersebut menampilkan video animasi pernyataan cinta Greg kepada Flo. Setiap hari pula, Greg mengirim bunga dan boneka beruang ke meja kerja Flo. Tepat pada hari ketiga puluh, kunci Ferrari 488 berpita merah jambu ia antarkan langsung ke hadapan Flo. Singkat kata, Greg menembak Flo dengan cara takbiasa.
Sayangnya, Flo menanggapi dengan cara yang juga tidak biasa. Flo tetap teguh pada pendiriannya. Keputusannya untuk tidak mencintai lelaki mana pun sudah bulat. Kariernya jauh lebih penting ketimbang menjadi tuan putri di istana pengusaha kaya raya macam Greg. Flo menolak Greg, termasuk embel-embel harta yang mengiringinya.
Penolakan demi penolakan yang dilancarkan Flo lama-lama membuat Greg menjadi gila. Baru kali ini, Greg kesulitan mendapatkan apa yang diinginkannya. Baru kali ini pula, Greg kepayahan memperoleh apa yang diangankannya. Greg putus asa dan setan menguasai pikirannya.
Kalau aku tidak bisa mendapatkan cintanya Flo, maka tidak boleh ada seorang pun yang bisa, pikir Greg.
Jauh sebelum polisi menyambangi rumahnya malam ini, tepat lima bulan lalu, sekira pukul sebelas malam, Greg mengemudikan Hummer-nya kencang-kencang. Tangan kanannya memegang setir, tangan kirinya menggenggam sebotol Jack Daniel’s. Di bawah pengaruh alkohol, Greg membulatkan tekad: menabrak Flo yang sedang berkendara pulang hingga tewas.
Sayangnya, Greg sukses besar.
Setelah peristiwa pembunuhan itu terjadi, Greg paham, ia tidak bisa selamanya bersembunyi. Pagi tadi, Greg mendapat kabar bahwa polisi telah menemukan bangkai mobil Flo yang disembunyikannya di salah satu bengkelnya di bilangan Kemang. Greg sudah punya firasat, polisi akan menyusulnya ke Tomohon malam ini juga. Firasat yang kini sudah terbukti benar dan harus ia hadapi seorang diri.
Seorang diri? Tentu saja tidak!
Greg segera mengambil ponselnya dan mencari nama Hotman Paris Hutapea di antara daftar kontak. Greg paham, ia sangat membutuhkan jasa Pengacara 30 Miliar itu untuk memenangi perang di meja hijau dalam beberapa bulan ke depan. [Adhi]
***
Sebelum saya menggenapi tantangan Mas Khrisna, ada dua catatan yang perlu saya utarakan. Pertama, kata “dan” pada judul seharusnya diawali dengan huruf nonkapital. Saya tahu itu. Akan tetapi, saya tidak tahu cara mengaturnya di blog. Sistem penamaan judul di blog saya secara otomatis mengubah huruf pertama dari setiap kata menjadi kapital. Jadi, mohon dimaklumi.
Kedua, terkait nama tokoh, saya kurang nyaman dengan F dan G. Tidak enak dibaca. Maka dari itu, F saya ganti dengan Flo. Sedangkan G saya ubah menjadi Greg. Itu saja.
Sekarang, izinkan saya mengurai kalimat aktif dan pasif yang saya gunakan pada artikel di atas.
Pertama, kalimat aktif. Sesuai maknanya, kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan suatu pekerjaan. Yang paling mudah, Mas Khrisna bisa mendapatinya pada kalimat berikut.
Singkat kata, Greg menembak Flo dengan cara takbiasa.
Pada kalimat di atas, Greg berperan sebagai subjek. Sebaliknya, Flo berperan sebagai objek. Greg melakukan pekerjaan berupa “menembak”. Sedangkan Flo, berperan sebagai objek, “ditembak” oleh Greg.
Kedua, kalimat pasif. Kebalikan dari kalimat aktif, subjek pada kalimat dikenai pekerjaan. Contohnya seperti potongan kalimat berikut.
…Greg selalu termotivasi oleh pencapaian.
Pada kalimat di atas, Greg berperan sebagai subjek yang dikenai pekerjaan bernama “termotivasi”. Kalau mau diubah menjadi kalimat aktif, maka kalimatnya menjadi sebagai berikut.
Pencapaian selalu memotivasi Greg.
Tuntas dengan kalimat aktif dan pasif, sekarang kita beralih kepada kata penghubung antarkalimat dan intrakalimat.
Kalau aku tidak bisa mendapatkan cintanya Flo, maka tidak boleh ada seorang pun yang bisa, pikir Greg.
Pada kalimat di atas, kata “maka” berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat.
Akan tetapi, semua kegemilangan tersebut tidak pernah membuat Greg merasa benar-benar puas.
Sedangkan frasa “akan tetapi” pada kalimat di atas berperan sebagai kata penghubung antarkalimat.
Terakhir, kalimat majemuk setara ditunjukkan pada kalimat berikut.
Greg putus asa dan setan menguasai pikirannya.
Kalimat di atas sejatinya terdiri dari dua kalimat yang setara. Greg putus asa. Setan menguasai pikirannya. Lantaran digabung, maka kalimat tersebut menjadi kalimat majemuk setara.
Berhubung 15 menit lagi sudah tenggat, saya cukupkan saja. Khawatir mendapat pengurangan skor. Saya tunggu ulasan pedasnya ya, Mas!