Pesawat mungil berbaling-baling ganda yang kami tumpangi akhirnya menginjakkan ketiga rodanya di muka bumi. Membawaku dan enam puluh dua penumpang lainnya melintasi laut Sulawesi. Sesaat kemudian, terdengar suara merdu sang pramugari yang mengakhiri tugasnya pada penerbangan kali ini.
“Penumpang yang terhormat, selamat datang di Melonguane. Waktu setempat telah menunjukkan pukul sebelas lewat empat menit. Tidak ada perbedaan waktu antara Melonguane dan bandara Sam Ratulangi di Manado. Silakan tetap duduk sampai pesawat benar-benar berhenti dengan sempurna, dan tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan,” ujarnya lewat pengeras suara.
Akhirnya sampai juga, pikirku gembira.
Rasanya aku ingin cepat-cepat melompat keluar jendela saja. Membaui aroma tanah dan udara yang belum pernah kurasa. Menikmati birunya langit dan lautan khas Nusantara. Yang sudah pasti tidak akan pernah aku temui saat kembali ke Jakarta.
Jujur saja, aku benar-benar tak pernah menduga sebelumnya. Ketika melamar pekerjaan ini empat tahun yang lalu, aku mengira tugasku hanya duduk di belakang meja.
Menganalisis kumpulan data yang dibumbui dengan deretan angka. Menghasilkan berbagai kajian, laporan, dan bahan tayang yang selalu dituntut untuk sempurna tanpa cela. Melawan dinginnya ruangan kantor pada malam hari, kala dikejar oleh deadline yang datang bertubi-tubi. Yah, sebagaimana tugas seorang analis ekonomi pada umumnya.
Ternyata aku salah besar, gumamku saat keluar dari pintu kabin bagian belakang.
Setengah berlari, kulangkahkan kakiku menuruni anak tangga. Ketika akhirnya kakiku memijak tanah Nusa Utara, aku langsung mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Alhamdulillah, sampai jua di ujung utaramu, wahai Indonesia.



Bekerja Sambil Berwisata
Bukan. Ini bukan cerita tentang liburan. Sayangnya, ini masih bagian dari rutinitas pekerjaan. Namun tolong, jangan buru-buru pindah laman. Karena masih banyak yang ingin kuceritakan kepada kalian.
Beberapa tahun yang lalu, aku ditugaskan untuk pergi ke Melonguane. Sudah pernah dengar? Aku pun tak tahu hingga mengunjunginya langsung. Bagi kalian yang malas mengetuk pintu si embah Google, biar aku jelaskan.
Melonguane adalah nama salah satu Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Jika Indonesia memiliki Sabang di ujung barat, Merauke di ujung timur, pulau Rote di ujung selatan, maka Talaud tepat berada di ujung bagian utara. Berbatasan langsung dengan negara tetangga kita, Filipina.
Saking jauhnya di ujung utara, gugusan kepulauan seluas 1.240 km2 ini bahkan memiliki jarak yang lebih dekat dengan Filipina ketimbang kota Manado di pulau Sulawesi. Talaud bukanlah daerah yang maju. Hingga saat ini, masih ada puluhan desa yang dicatat sebagai desa tertinggal oleh Pemerintah.
Jumlah penduduknya saja tidak genap 100 ribu. Kira-kira, hanya setara dengan 10 persen jumlah penduduk Jakarta Pusat, yang mencapai 900 ribuan kepala. Sepi? Sudah pasti. Aku berdoa agar kalian tidak sakit ketika berwisata ke sini. Pasalnya, hanya ada 2 RSUD kelas C di sini.
Sudah terbayang? Oke, mari kita lanjutkan.
Ceritanya aku datang ke Talaud dengan membawa misi yang mulia. Mengenalkan uang Rupiah emisi terbaru, yang diluncurkan pada 19 Desember 2016 yang lalu. Sekaligus membuka layanan bagi masyarakat, yang ingin menukar uang lamanya dengan uang baru.
Informasi mengenai uang baru, pasti akan mudah didapatkan oleh kita yang tinggal di kota besar. Namun, tidak demikian halnya dengan saudara kita di ujung Nusantara. Keterbatasan infrastruktur dan jaringan komunikasi menyebabkan arus informasi berjalan lambat. Oleh karenanya, perlu dilakukan langkah jemput bola.


Konkretnya, aku—bersama-sama dengan tim—menyelenggarakan sosialisasi tentang uang kepada adik-adik pelajar SMA se-Melonguane. Mengapa pelajar? Karena pelajar adalah cerminan masa depan bangsa. Merekalah yang perlu diajari ciri-ciri uang baru, membedakan antara uang asli dan palsu, sejarah uang, dan tentunya arti penting menabung sejak dini.
Jikalau adik-adik kita di pelosok sana pintar-pintar dan pandai mengelola uang, maka kami berharap mereka dapat membangun dan mengembangkan daerahnya. Pada gilirannya, perekonomian Talaud akan semakin maju, serta cap sebagai daerah tertinggal dapat segera ditanggalkan.
Singkat cerita, alhamdulillah, acara sosialisasi berjalan dengan sukses dan meriah. Senang hatiku kala adik-adik pelajar terlihat sangat antusias dan tertarik dengan uang baru. Rasa lelah karena tugas menjadi terbayar hingga lunas.
Nah, kalau tugas sudah selesai dan jadwal penerbangan pulang masih esok hari, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Yap, jalan-jalan, dong! Meski ini bukanlah liburan, tapi berwisata di sela-sela pekerjaan sah-sah saja, bukan?
Oh ya, aku belum cerita. Sebenarnya Talaud juga menyimpan berjuta keindahan dan keunikan. Seperti halnya gugusan kepulauan lainnya, Talaud juga memiliki bibir pantai yang aduhai. Selain itu, Talaud juga memiliki beberapa situs sejarah yang menarik untuk dijelajahi.
Oleh karena itu, ada dua lokasi wisata yang aku rekomendasikan untuk kalian para traveler. Siapa tahu, takdir akan membawa kalian berkunjung ke Talaud suatu saat nanti.
Pertama, jangan lupa mengunjungi pulau Sara Besar. Meskipun luasnya hanya sekitar 2 km2, pulau tak berpenghuni ini memiliki daya tarik tersendiri. Yaitu, pasirnya yang berwarna putih bersih, seputih tepung kanji. Cocok bagi kalian yang ingin menyegarkan pikiran saat lelah menghadapi rutinitas pekerjaan.






Kedua, kunjungi juga Goa Tatombatu di Desa Tarohan. Tapi jangan kaget ya, karena ini bukanlah sembarang goa. Di sana, kalian bisa mencoba selfie dengan tengkorak.
Tengkorak? Iya, tengkorak.
Bukan hanya satu, namun konon ada 33 tengkorak di sini, lengkap dengan tulang belulang yang berbaris rapi. Serem, kan?
Penasaran? Bagi kalian yang ingin tahu tips dan trik bagaimana agar bisa sampai ke pulau Sara Besar dan Goa Tatombatu, tenang saja. Pada bagian akhir artikel ini, sudah aku sisipkan tautan ulasanku mengenai keduanya. Jangan lupa dibaca, ya.




ASUS Menemaniku Tugas dan Traveling ke Luar Kota
Lho, memangnya nulis tentang traveling juga? Nulis, dong. Selain nge-blog, aku juga aktif sebagai anggota redaksi majalah internal kantorku. Satu bulan sekali, aku rapat bersama anggota redaksi lainnya untuk menentukan tema dan berbagi tugas menulis kolom.
Karena aku suka traveling, otomatis aku sering kebagian menulis tentang ulasan tempat wisata di seluruh Indonesia. Makanya, tugas ke luar kota—seperti ke Melonguane—menjadi kesempatan berharga bagiku untuk memperkaya bahan tulisan.



Nah, gawai yang wajib ada saat aku dinas ke luar kota adalah laptop. Mengapa? Tentu saja karena tugas di luar kota juga membutuhkan laptop.
Aku harus presentasi di depan adik-adik pelajar saat acara sosialisasi di Melonguane. Aku juga harus mencicil laporan kegiatan, agar ketika kembali ke kantor, tugasku semakin ringan.
Selain itu, aku juga memerlukan laptop untuk menulis ulasan tempat wisata yang aku kunjungi. Kalau bisa, menulisnya saat itu juga. Biar tidak ada yang tertinggal atau terlupa. 
Sama seperti sop buntut, artikel akan lebih enak disajikan saat masih hangat. Benar, kan?

Laptopku saat ini adalah ASUS Zenbook UX305U berwarna ceramic alloy. Dengan berbagai fitur yang ada, laptop ini sangat mendukungku ketika menjalani tugas dan berwisata ke luar kota. Ringan, ramping, bertenaga, serta mudah dibawa ke mana-mana.
Namun, ketika aku mendengar bahwa ASUS mengeluarkan seri Zenbook terbarunya, yaitu 13 UX331UAL, aku langsung kepincut. Betapa tidak, varian Zenbook terbaru ini unggul segala-galanya dibandingkan dengan laptopku saat ini. Lebih ringan, ramping, awet, dan punya performa yang lebih mumpuni.
Aku jadi membayangkan. Kalau saja aku punya ASUS Zenbook 13 UX331UAL, menjalani tugas dan wisata ke luar kota, pastinya akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Benar-benar menjadi laptop idamanku, deh.






Ingat Travel, Ingat ASUS Zenbook 13 UX331UAL
Nah, sebenarnya apa saja sih keunggulan dari laptop ASUS Zenbook 13 UX331UAL? Yang jelas, ada banyak sekali. Namun, biar kalian mudah mengingatnya, aku ringkas menjadi enam huruf yang gampang kalian eja: T-R-A-V-E-L. Pokoknya, ingat travel, ingat ASUS Zenbook 13 UX331UAL.


Tipis dan Elegan
Bagi kalian para traveler, tentu mendambakan laptop yang ringkas dan mudah dibawa ke mana saja. Baik menggunakan backpack ataupun tas laptop. Ini bisa kalian temui pada ASUS Zenbook 13 UX331UAL yang super tipis. Ketebalannya hanya mencapai 13,9 milimeter. Tipis banget, kan?
Selain itu, ASUS Zenbook 13 UX331UAL juga dibalut dengan desain bingkai NanoEdge yang membuatnya tambah ringkas dan elegan. NanoEdge sendiri adalah bingkai ultra tipis yang mampu memberikan rasio layar-ke-tubuh yang ideal. Tanpa halangan bezel yang dapat mengganggu aktivitas menulis kalian.
ASUS Zenbook 13 UX331UAL hadir dalam dua varian warna, yakni Deep Dive Blue dan Rose Gold (limited edition). Jikalau Blue melambangkan kecanggihan, sementara Rose Gold mencerminkan kilauan segar dan menyenangkan.
Pilih yang mana saja, aku jamin kalian akan makin percaya diri. Saat digunakan untuk presentasi, ataupun sekadar nongkrong di kedai kopi.



Ringan
ASUS Zenbook 13 UX331UAL merupakan laptop yang paling ringan di kelasnya. Beratnya saja tidak mencapai 1 kg. Tepatnya hanya 985 gram saja. Bagi para traveler, laptop yang ringan tentu akan sangat memudahkan. Gampang dibawa ke mana-mana tanpa harus merasa pegal-pegal.
Apa rahasianya? ASUS Zenbook 13 UX331UAL dibuat dari paduan magnesium-alumunium. Menjadikan laptop ini memiliki bobot 33% lebih ringan dibandingkan dengan laptop biasa. Kalau sudah ringan begini, pastinya kalian ga akan cape saat dibawa traveling.



Anti-Gelap dan Presisi
ASUS Zenbook 13 UX331UAL dilengkapi dengan keyboard backlit berukuran penuh. Membuat kalian tetap nyaman mengetik meski dalam kondisi pencahayaan yang terbatas. Fitur ini sangat berguna bagi kalian yang suka traveling ke remote area.
Seperti di Melonguane, misalnya, masih sering mati lampu pada malam hari akibat infrastruktur listrik yang sangat terbatas. Dengan fitur ini, aku tidak akan takut produktivitas terhambat, meski berada dalam kondisi yang gelap.
Layaknya koleksi laptop ASUS lainnya, Zenbook 13 UX331UAL juga memiliki jarak antartombol yang diatur secara presisi, yaitu 1,4 milimeter. Jarak ini mampu menambah kenyamanan kalian dalam mengetik. Ditambah dengan fitur palm-rejection dan multi-touch gesture yang akan meningkatkan akurasi jari tangan saat menari di atas keyboard.



Validasi Canggih
Laptop—khususnya bagi penulis dan blogger—adalah barang pribadi yang mesti dijaga keamanannya. Ga pengen, kan, ada orang lain yang mengutak-ngatik foto atau data tanpa sepengetahuan kita.
Oleh karenanya, ASUS Zenbook 13 UX331UAL sangat mengerti kebutuhan kalian. Laptop ini memiliki fitur validasi dengan menggunakan sensor sidik jari. Teknologi Windows Hello-nya juga memungkinkan kalian untuk login dengan menggunakan wajah. Lebih aman dan mudah ketimbang harus mengetikkan kata sandi. Canggih, bukan?



Energik
Laptopnya tipis, kemampuannya terbatas, dong? Eits, jangan salah. Meskipun tipis, performa ASUS Zenbook 13 UX331UAL sangat energik, karena didukung oleh prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 terbaru. Kemampuan membaca prosesornya dapat ditingkatkan hingga 4.0GHz. Ditambah dengan RAM 8GB dan storage 256GB PCIe® SSD, membuat laptop ini sangat mudah untuk diajak multitasking.
Selain itu, suara yang dihasilkan oleh laptop ini juga sangat baik, karena menggunakan teknologi SonicMaster generasi terbaru, yang telah tersertifikasi oleh Harman Kardon. Iya benar, Harman Kardon, si produsen audio yang sudah tidak diragukan lagi kehebatannya.
ASUS Zenbook 13 UX331UAL juga dilengkapi dengan teknologi Wi-Fi master. Membuat kalian dapat menikmati koneksi Wi-Fi yang lebih cepat dengan jarak yang lebih jauh. Dengan teknologi Wi-Fi Master, kalian dapat menikmati streaming video YouTube Full HD pada jarak lebih dari 300 meter. Wow!



Lebih Awet
Apanya yang awet? Ya, segala-galanya. Pertama, baterainya. ASUS Zenbook 13 UX331UAL menggunakan baterai lithium-polymer 50Wh, menjadikannya tetap menyala hingga 15 jam penuh.
Baterai ini juga tetap awet meski di-charge berulang-ulang. Memiliki masa pakai hingga 3 kali lebih lama dibandingkan dengan baterai standar. Ketika baterainya sudah terisi penuh, kalian tidak perlu khawatir untuk menggunakannya selama mungkin.



Kedua, daya tahannya. Ini yang paling menakjubkan. ASUS Zenbook 13 UX331UAL telah lolos pengujian standar daya tahan military-grade MIL-STD 810G. Bukan sembarang kuat. Meski diinjak-injak, dijadikan alat pemukul kasti, dilindas sepeda, bahkan dilindas sepeda motor, laptop ini masih mulus tanpa retak.
Ga percaya? Tonton aja videonya Raditya Dika dan Ridwan Hanif ketika menguji daya tahan ASUS Zenbook 13 UX331UAL di bawah ini.


Bagaimana? Hebat bukan? Nah, bagi kalian yang masih penasaran dengan laptop ini, kalian dapat melihat spesifikasinya pada tabel di bawah ini, atau mengunjungi website resmi ASUS di sini.

Kesimpulanku
Akhirnya kita sampai pada kesimpulan. Seperti yang sudah kubilang, ASUS Zenbook 13 UX331UAL adalah laptop yang cocok bagi kalian yang suka berpergian. Baik karena tugas, traveling, atau kedua-duanya.
Meski tipis dan ringan, laptop ini ternyata memiliki performa yang mumpuni, aman, baterai yang tahan lama, dan body yang super kuat. Mampu menunjang segala kebutuhan kalian dalam menulis dan bekerja, kala berpergian jauh dari rumah.
Hingga artikel ini dibuat, ASUS membanderolnya dengan harga Rp 14.299.000,00. Dengan segudang keunggulan yang dimilikinya, rasanya harga segitu memang pantas disematkan pada laptop ini.  Bagiku, ASUS Zenbook 13 UX331UAL benar-benar menjadi laptop idamanku dan para traveler.
Jadi, sudah ingat, kan? Ingat apa? Ya, ingat T-R-A-V-E-L, ingat ASUS Zenbook 13 UX331UAL. Jangan lupa, klik video di bawah sebelum pindah laman, ya. Selamat menonton dan sampai jumpa.


***
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Blog Competition dengan tema Laptop Idaman Sobat Traveler yang diselenggarakan oleh ASUS dan travelerien.com.
Ulasanku mengenai pulau Sara Besar dapat kalian lihat di sini. Sedangkan untuk Goa Tatombatu, kalian dapat membacanya di sini.






Rasa gugup mendadak muncul kala secarik kertas diantarkan ke meja kerjaku sore itu. Bukan sekadar kertas biasa, melainkan sebuah surat undangan. Berisi tiga paragraf singkat yang diketik rapi dengan menggunakan huruf Times New Roman. Bunyinya meminta kesediaan pejabat kantorku untuk menjadi pembicara di sebuah acara diskusi ekonomi.
Undangan seperti ini sebenarnya sudah biasa, ketika kita bekerja di sebuah lembaga negara. Sudah banyak surat sejenis yang ditujukan ke alamat kantorku, dengan maksud yang serupa. Namun, disposisi atasanku kali ini membuatku terngaga.
“Saudara Adhi, tolong wakili saya untuk menghadiri acara ini,” tulisnya di pojok kanan atas surat dengan menggunakan pena kebanggaannya.
Tugas membawakan materi di berbagai kesempatan presentasi, sebenarnya sudah biasa aku ladeni. Hanya saja levelnya berbeda. Sebagai analis ekonomi yang baru empat tahun bekerja, aku biasanya diberikan kesempatan tampil pada acara sosialisasi. Pesertanya paling-paling sekelompok pelajar, mahasiswa, dan akademisi.
Penyajiannya pun cenderung satu arah. Jikalau ada sesi tanya jawab, paling lama hanya berlangsung selama 15 menit. Itupun jarang terpakai penuh, karena adik-adik yang kujejali dengan materi, rata-rata malu bertanya. Kalau sudah begini, biasanya aku memancing keberanian mereka dengan hadiah yang tak seberapa.
Untuk acara diskusi ekonomi seperti kali ini, tugasku biasanya hanya menyiapkan bahan presentasi dan menjadi asisten sorot untuk atasanku. Apalagi, yang menjadi pesertanya bukanlah pihak yang biasa-biasa: ratusan aparatur sipil negara.

Bak ratusan semut yang mengerubungi gula, berjuta pertanyaan dengan cepat menyerang isi kepalaku. Apa yang harus kusampaikan di hadapan orang-orang berseragam coklat itu? Apa jadinya jika mereka mencecarku dengan beragam pertanyaan? Sementara ide dan mulutku hanya terdiam seperti batu. Oh, tidak.
Hingga malam tiba, berbagai pertanyaan itu terus menghantuiku. Menjauhkanku dari tidur nyenyak. Hingga akhirnya kutumpahkan seluruh kegalauanku kepada istriku.
“Tenang saja, acaranya masih dua minggu lagi. Masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan materi dan penampilanmu. Yang penting kamu berusaha, Allah pasti akan memberimu hasil yang terbaik,” pesan istriku mencoba menenangkanku.

Batik Jadikan Penampilanku Lebih Baik
Mencoba mengalahkan rasa gugup, akhirnya aku putuskan untuk memfokuskan diri pada hal yang lebih penting: mempersiapkan diri dengan baik. Lagian, namanya tugas harus tetap dijalani, bukan diratapi. Oke, kita mulai satu per satu.

Pertama, materi presentasi. Ini sudah makananku sehari-hari. Template-nya sudah ada, tinggal meng-update data. Tidak memerlukan waktu lama, dan dalam hitungan jam, voila! Materi sudah jadi dan siap untuk ditayangkan.
Kedua, latihan presentasi. Aku sudah terbiasa tampil di depan pelajar, sehingga hanya perlu latihan dua hingga tiga kali lagi. Tidak lupa, aku juga menanamkan sugesti positif, bahwa kali ini aku juga presentasi di hadapan pelajar—meski pelajar yang sudah lulus sejak dua puluh tahun lalu.
Terakhir, penampilan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penampilan memegang peranan penting dalam kesuksesan sebuah presentasi. Betapa tidak? Sebelum mulut berbicara dan gerak tubuh berirama, hal yang pertama kali dilihat oleh peserta adalah penampilan sang presenter.
Penampilan yang baik dan enak dipandang, akan menarik atensi audiens. Berpenampilan baik juga turut meningkatkan rasa percaya diri seorang presenter. Pun demikian sebaliknya. Penampilan yang kurang pas, akan cepat menimbulkan kebosanan bagi penonton. Meskipun materi presentasi dibuat tanpa cela, akan menjadi tiada berarti bila audiens tidak menunjukkan atensinya.
Nah, untuk acara diskusi ekonomi yang sifatnya formal seperti kali ini, batik adalah pilihan yang tepat dan tidak mungkin salah. Mengapa? Warisan budaya asli Indonesia ini terbukti meningkatkan kualitas penampilan bagi siapa saja yang mengenakannya. Baik tua maupun muda, mau pria ataupun wanita.
Dalam momen-momen penting seperti kali ini, batik yang kupilih bukanlah sembarang batik. Batiknya haruslah Batik Indonesia berkualitas tinggi. Oleh karena itu, aku memercayai BT Batik Trusmi untuk memaksimalkan penampilanku saat presentasi.
Mengingat ini adalah momen yang sangat krusial bagiku, aku memutuskan untuk membeli batik baru. Supaya makin fresh dan tambah percaya diri. Karena tinggal di Jakarta, aku langsung mengunjungi store BT Batik Trusmi yang ada di Jakarta. Deretan koleksi premium langsung kuterawang sesampainya di sana.



Setelah setengah jam mencari, akhirnya pilihanku jatuh pada si ungu yang menawan. Tidak lupa, kubelikan satu lagi yang berwarna merah membara untuk ibuku di rumah. Hitung-hitung meminta doa kepada ibu, agar anaknya diberi kemudahan saat presentasi. Doa ibu, adalah doa yang cepat terkabul, bukan?



Berbagai persiapan yang kulakukan akhirnya berbuah manis. Presentasiku mengalir bagai air. Seluruh pertanyaan yang diajukan audiens dapat kujawab dengan lugas. Dan di penghujung acara, pertanyaan dari salah seorang panitia membuatku semakin bangga mengenakan BT Batik Trusmi.
“Batiknya keren banget, Mas. Beli di mana?”
Selain untuk presentasi, BT Batik Trusmi juga menjadi busana andalanku dalam menghadiri berbagai momen penting. Yang terkini, aku juga mengenakan “si ungu” saat menghadiri peluncuran buku antologi karyaku dan tujuh kawan penulis lainnya pada Puspiptek Innovation Festival 2018 tanggal 27 September 2018 yang lalu. Bagaimana? Keren, kan?


Mengapa Batik Trusmi?
Mungkin sejak tadi kalian bertanya-tanya, mengapa batiknya harus BT Batik Trusmi? Sabar, pelan-pelan, akan kujelaskan secara gamblang.
BT Batik Trusmi adalah pionirnya Batik Cirebon berkualitas. Namanya berasal dari salah satu kampung di Kabupaten Cirebon, yakni kampung Trusmi. Tempatnya para perajin sekaligus pusat kesenian batik di Cirebon.
Adalah kegigihan seorang pebisnis muda, Ibnu Riyanto, yang menyebabkan batik kampung Trusmi terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri. Ia mendirikan store pertamanya di sana, untuk memasarkan karya perajin batik lokal yang jumlahnya kini lebih dari 1.000 orang.
Tepat pada 25 Maret 2013, ia berhasil meraih rekor MURI sebagai pemilik toko batik terbesar dan terluas pada usia termuda, yakni 22 tahun, 4 bulan, dan 11 hari. Yap, gerai BT Batik Trusmi yang ada di Cirebon, merupakan gerai batik yang terbesar di Indonesia. Hebat, bukan?
Motif yang diusung oleh BT Batik Trusmi adalah motif Megamendung. Motif ini merupakan warisan budaya yang menjadi ciri khas Batik Cirebon. Motif Megamendung menggambarkan awan pembawa hujan, melambangkan kesuburan dan pemberi kehidupan.
Gradasi warna pada motif ini sangat bagus, karena proses pewarnaannya dilakukan lebih dari tiga kali. Proses pengecekan (quality control) juga dilakukan berkali-kali, sebelum dipajang dan dipasarkan kepada para penggemar batik.
Layaknya empal gentong, BT Batik Trusmi juga tidak dapat dipisahkan dari Wisata Cirebon dan Pesona Indonesia. Berkunjung ke Cirebon, kurang lengkap rasanya bila tidak mengunjungi gerai BT Batik Trusmi. Setiap harinya ribuan orang berkunjung ke gerai yang terletak di Jl. Syekh Datul Kahfi No.148 Plered Cirebon ini.

Bagi kalian yang tinggal di luar Cirebon, tidak perlu berkecil hati. Seperti aku, kalian juga dapat membeli batik Trusmi di gerai yang ada di Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, atau secara on-line dengan membuka laman resmi BT Batik Trusmi di sini.
Nah, di laman resmi gerai yang mengusung slogan BT Always Batik ini, kalian dapat memilih koleksi batik dengan berbagai pilihan kategori sesuai kebutuhan. Ada pria, wanita, aksesoris, kain, batik couple, kondangan, hang-out, muslim, semi-sutra, premium, hingga batik yang berharga di bawah Rp 100 ribu.
Tinggal pilih, klik, bayar, batik pun akan segera meluncur ke alamat kalian. Mudah, bukan?

Batik Jadikan Indonesia Lebih Baik
Seperti nasi, batik sejatinya tidak bisa dipisahkan dari keseharian kita. Sejak dulu, batik telah menjadi salah satu seragam wajib aparatur sipil negara, pegawai kantoran, maupun pelajar. Bahkan, karena kelaziman mengenakan batik pada hari Jumat, kita kemudian mengenalnya sebagai hari batik.
Dalam berbagai kegiatan dan acara, seperti pernikahan, upacara keagamaan, hingga acara kenegaraan, batik pun senantiasa menjadi busana pilihan bangsa Indonesia.
Batik juga merupakan cerminan ragam budaya Indonesia. Masing-masing daerah memiliki motif yang khas, berbeda, serta sarat akan simbol dan filosofi kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, batik dikenal sebagai salah satu warisan budaya Nusantara.
Sejak tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan Batik Indonesia sebagai warisan budaya kemanusiaan nonbendawi (intagible cultural heritage of humanity). Untuk memupuk kebanggaan dan melestarikan Batik Indonesia, sejak saat itu pula kita memperingati tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional.

Selain warisan budaya, tentunya batik memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Setidaknya, ada lima alasan yang mendasarinya.
Pertama, batik merupakan salah satu sumber devisa Negara. Mengutip Republika.co.id (18/5), Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Gati Wibawaningsih, menjelaskan bahwa Batik Indonesia mampu menjadi pemimpin pasar batik dunia.
Kinerja ekspor Batik Indonesia juga meningkat setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2017, nilai ekspor batik nasional tercatat sebesar 58,46 juta Dolar AS. Fakta tersebut layaknya angin segar bagi perekonomian nasional, terutama di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah dan melebarnya defisit transaksi berjalan seperti sekarang ini.
Sejalan dengan program pemerintah yang terus mendorong aktivitas ekspor, batik diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggeraknya. Dengan memanfaatkan momentum hari batik nasional ke-9 pada 2 Oktober 2018 nanti, batik dapat menjadi obat yang pas untuk mencegah pelemahan nilai tukar lebih dalam.
Kedua, industri batik merupakan industri yang padat karya. Masih dari sumber yang sama, total tenaga kerja yang diserap oleh industri batik nasional mencapai lebih dari 15.000 orang. Oleh karenanya, industri batik memiliki peran yang penting dalam mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan bangsa.
Ketiga, industri batik mendukung pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Gati menjelaskan bahwa industri batik nasional didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM). Saat ini, ada 101 sentra batik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. UMKM juga telah terbukti memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibanding sektor lainnya, dalam menghadapi berbagai risiko eksternal, seperti krisis ekonomi pada 1997/1998 lalu. Dengan membeli batik nasional, maka kita turut serta mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa.
Keempat, batik merupakan warisan luhur budaya bangsa yang berkontribusi terhadap industri pariwisata nasional. Keberadaan BT Batik Trusmi di Cirebon, misalnya, dapat mendorong minat wisatawan untuk datang ke Cirebon. Dampaknya, industri pendukung lainnya seperti hotel, makan minum, dan transportasi, dapat ikut berkembang.
Terakhir, batik merupakan alat pemersatu bangsa. Ini yang paling penting. Layaknya bendera merah putih atau lagu kebangsaan Indonesia Raya, batik dapat menyatukan bangsa. Ini terkonfirmasi dari survey yang dilakukan oleh Jajak Pendapat pada tahun 2014. Hasilnya, 95,54% dari total 1.000 responden di seluruh Indonesia, memiliki baju batik di lemarinya. Kalian juga punya batik, kan?


Saranku Agar Batik Semakin Baik
Sebagai penutup, aku ingin menyampaikan beberapa saran untuk menjadikan batik lebih baik. Boleh, kan? Tiga saja kok, tidak banyak-banyak.

Pertama, selalu kenakan Batik Indonesia dalam setiap kesempatan. Layu maupun berkembangnya batik nasional, ada di tangan kita bersama. Oleh karena itu, pakailah batik dalam berbagai acara, seperti seminar, forum, pernikahan, upacara keagamaan, bahkan hang-out ke mall sekalipun. Ingat, ya, belilah Batik Indonesia, jangan yang lain.
Kedua, menggemakan Batik Indonesia ke dunia internasional. Pameran busana bertajuk Batik for The World yang diselenggarakan di Paris pada bulan Juni yang lalu, menjadi contoh nyata bagaimana seharusnya kita menggemakan batik nasional ke kancah dunia.
Nah, event seperti itu, harusnya bisa diselenggarakan lebih sering lagi. Sebagai orang Indonesia, tentunya kita akan bangga, apabila Batik Indonesia dikenal hingga ke mancanegara.
Terakhir, menambah jumlah kewajiban mengenakan batik di hari kerja. Sebagai contoh, kantorku saat ini mewajibkanku mengenakan batik setiap hari Selasa dan Jumat. Artinya, ada 2 dari 5 hari kerja yang diwajibkan untuk memakai seragam batik.
Menurutku, kewajiban mengenakan batik pada hari kerja harus ditambah, hingga menjadi 3 atau 4 hari dalam seminggu. Dengan demikian, kita dapat meningkatkan permintaan terhadap industri batik nasional hingga 2 kali lipat.
Dengan berbagai upaya tersebut, aku yakin Batik Indonesia akan menjadi lebih baik. Bagaimana menurutmu? Setuju? Yuk, kenakan batik agar Indonesia menjadi lebih baik.

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Nasional BT Batik Trusmi.