Navigation Menu

Kebutuhan Pokok itu Bebas Asap Rokok, Bukan Rokok!







Baru-baru ini oknum Ketua RT di Kampung Pulo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, dilabrak oleh warganya sendiri lantaran meminta jatah uang rokok dari dana bantuan langsung tunai (BLT).

Warga geram karena uang sebesar Rp600 ribu per bulan yang semestinya mereka terima untuk menyambung nyawa selama pandemi korona, malah disunat oleh tetuanya sendiri dengan dalih ingin sebat.

Sudahlah berdosa, cepat mati pula. Ada-ada saja.


*** 

Kabar menggelikan sekaligus menyedihkan itu diunggah Detik pada Sabtu, 2 Mei 2020 lalu. Saya sebut menggelikan karena rupanya masih ada saja pengayom masyarakat yang berperilaku jahat meskipun paham betul nasib warganya tengah melarat.

Saya merasa geli lantaran kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam sesi #CloseTheDoor Corbuzier Podcast, pandemi korona itu ibarat peperangan atau pertempuran. Dalam situasi menegangkan, bagaimana mungkin seorang pemimpin yang tugasnya pasang badan malah tega berganti jubah menjadi seorang lawan?

Atau jangan-jangan, oknum Ketua RT Kampung Pulo sedang lelah dirundung pusing melihat warganya yang bersikap ogah-ogahan saat diminta menerapkan protokol kesehatan. Daripada pening, mending ngudud sekalian. Dua kalimat tadi jangan diambil hati, Kawan! Guyon saja.

Meski begitu, berita di atas juga terdengar begitu menyedihkan. Betapa tidak? Saya sedih melihat fakta bahwa ternyata kebutuhan pokok kita adalah rokok. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang pemuka kampung mengorupsi duit rakyat jelata hanya demi menyulut batang asap?

Yah, memang seperti itulah elegi bangsa kita. Hanya karena urusan sebat sampai tega mengambil hak warga yang sedang tertimpa derita. Apa pun kausanya, rokok atau bukan, hukum perlu ditegakkan dengan seadil-adilnya.




Sekarang, mari kita berandai-andai atau menduga-duga. Jika dana BLT diterima warga secara penuh atau utuh, apakah pasti digunakan untuk membeli kebutuhan pokok atau obat-obatan dalam rangka menjaga kesehatan tubuh? Sayang sekali, jawabannya tidak.

Fakta miris itu diungkap oleh Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, Mukhaer Pakkana, seperti dikutip Okezone (24/08). Menurut Mukhaer, masih banyak dana BLT, terutama yang diterima oleh kepala rumah tangga, digunakan untuk mengonsumsi rokok.

Bukannya membeli beras, susu, atau popok, eh, malah dibelikan rokok. Sudah susah-payah dibantu, uangnya malah digunakan untuk meracuni paru-paru. Ajaib, kan?

Fenomena ini, kata Mukhaer lagi, berkaitan erat dengan fakta bahwa 70 persen perokok di Indonesia berasal dari barisan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Bagi mereka, makan nomor dua, udud nomor satu. Ini jelas keliru!

Senada dengan riset Mukhaer, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengungkap hal yang sama. Dalam rilis BPS bertajuk Profil Kemiskinan di Indonesia edisi Maret 2020, disebutkan bahwa rokok kretek filter menjadi penyumbang garis kemiskinan tertinggi setelah beras.

Kalau beras, kita mafhum. Kawan saya pernah berseloroh, katanya, kalau belum makan nasi sama saja belum makan. Saya paham. Karena saya juga begitu.

Tapi kalau rokok? Ini yang membuat saya geleng-geleng kepala.




Di perdesaan, masih kata BPS, kontribusi rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan mencapai 10,98 persen. Sedangkan di perkotaan, sumbangsihnya lebih besar lagi, yakni sekisar 12,16 persen.

Apa artinya? Jika ada sepuluh orang warga berpenghasilan rendah menghentikan kebiasaan merokoknya, maka dapat dipastikan ada satu atau dua orang di antara mereka yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Hanya saja, tampaknya saudara kita lebih betah hidup di bawah garis kemiskinan, asalkan tetap merokok. Padahal, pada tiap-tiap bungkus rokok sudah terpampang kalimat mengerikan: merokok membunuhmu.

Kalimat tadi bukan dipasang secara kebetulan atau asal-asalan. Kata-kata itu dilekatkan dengan tujuan memberi peringatan kepada perokok bahwa produk olahan tembakau itu sesungguhnya mematikan. Lebih mematikan ketimbang virus korona, bahkan!

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkap sekitar 90 persen penyakit kanker paru disebabkan oleh paparan asap rokok. Mula-mula batuk-batuk, lama-lama sesak napas akut. Mula-mula serak-serak, lama-lama mati mendadak.

Peluang sembuh dari kanker paru juga sangat tipis, Kawan! Kata IDI lagi, hanya ada satu dari lima penderita kanker paru yang sembuh dan bertahan hidup. Sementara sisanya terpaksa menjumpai batu nisan lebih cepat dari kebanyakan orang.

Kalaulah fakta di atas belum juga membuatmu jera, coba baca kalimat di bawah pelan-pelan:

Setiap tahun ada 225.700 orang Indonesia yang mati sia-sia gara-gara merokok. Andakah berikutnya?

Kalimat yang disampaikan World Health Organization (WHO) pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2020 lalu, mungkin perlu dilekatkan juga pada bungkus rokok. Termasuk nomor urutnya sekalian. Supaya perokok kapok, atau minimal, tidak mempengaruhi orang lain untuk merokok dan mengembuskan asap rokok sembarangan.




Namun sebelum itu, seyogianya kita pahami terlebih dahulu, faktor apa yang menyebabkan perokok sulit menghentikan kebiasaan buruknya. Bahkan sampai rela mengorbankan kebutuhan pokoknya hanya demi mengulum batang rokok.

Dari sana, barulah kita bisa menentukan langkah, solusi dan upaya apa yang tepat dan cepat untuk mencegah bahaya merokok.


Mengapa Rokok Bisa Mengalahkan Bahan Pokok?

“Faktor yang utama adalah harga. Biaya membeli sebatang rokok lebih murah ketimbang sebungkus mi instan.”

Pernyataan itu dilontarkan oleh peneliti Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Nurul Nadia Luntungan, dalam talkshow Ruang Publik KBR bertema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok” pada 26 Agustus 2020.

Itulah mengapa, lanjut Nurul, perokok beranggapan, daripada menyantap mi instan, lebih baik mengisap rokok. Selain itu, zat adiktif dalam rokok juga bisa memberikan efek kenyang sesaat, sehingga perokok lebih tahan lapar ketimbang mereka yang tidak merokok.




Faktor kedua, yang menurut Nurul tidak kalah penting, ialah lingkungan. Fakta mengatakan, tujuh dari sepuluh pria dewasa di Indonesia adalah perokok. Artinya, laki-laki yang tidak merokok bisa dikategorikan sebagai kaum minoritas. Cadas!

Pengalaman Nurul membuktikan, tantangan terbesar bagi perokok insaf yang tengah berupaya berhenti merokok adalah godaan. Keluar rumah, lihat orang merokok. Pergi ke kantor, bertemu orang merokok. Rokok lagi, rokok lagi.

Lingkungan seperti itu, kata Nurul, adalah lingkungan toxic. Dengan kata lain, lingkungan beracun yang sangat tidak bersahabat bagi mereka yang tengah melepaskan diri dari jerat candu rokok.

Faktor terakhir adalah penetrasi iklan. Meski sekarang sudah jauh berkurang, dalam kerak-kerak ingatan kita masih terngiang betapa jantannya sosok pemeran bintang iklan rokok tempo dulu.

Itu sebabnya, hingga saat ini rokok masih diasosiasikan banyak orang sebagai produk jempolan yang melambangkan maskulinitas pria dewasa. Anggapan ini sebenarnya salah kaprah jika bercermin pada fakta begitu banyak jenis penyakit yang ditimbulkan asap rokok.

Meski diliputi banyak tantangan, tidak semestinya kita angkat tangan. Kita harus menyadarkan pencandu rokok, bahwa kebutuhan pokok itu bebas asap rokok, bukan rokok!

Untungnya, semboyan itu dipegang teguh oleh M. Nur Kasih selaku Ketua RT 1/RW 3 Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19, Kebun Pala, Cililitan, Jakarta Timur. Nur, bersama segenap perangkat kampung, gigih berperang melawan asap rokok.

“Sejak 18 Juli 2020, kami mendeklarasikan Kampung Bebas Asap Rokok. Di sini, kami mengimbau sekaligus melarang warga merokok di dalam rumah,” ujar Nur.

Kepedulian terhadap generasi masa depan adalah alasan Nur menciptakan Kampung Bebas Asap Rokok. Bukan apa-apa, menurut Nur, anggota keluarga di rumah, khususnya anak-anak, semestinya berhak menghirup udara segar, bukan asap rokok.

Ketika, katakanlah, kepala keluarga merokok di dalam rumah, maka risikonya tidak ditanggung oleh dirinya saja. Anak-anak rentan menjadi perokok pasif, yang menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), berpotensi mengidap kanker empat kali lebih tinggi dibanding orang yang tidak terpapar asap rokok.




Apa yang menjadi perhatian Nur memang bukan tanpa alasan. Data terkini milik Global Youth Tobacco Survey (2019) menunjukkan bahwa 40,6 persen remaja berusia 13-15 tahun, 2 dari 3 anak laki-laki, dan 1 dari 5 anak perempuan; mengaku sudah pernah mengisap rokok.

Hal itu senada dengan udaran Kementerian Kesehatan yang menyatakan tingkat prevalensi merokok remaja berusia 10-19 tahun terus meningkat. Pada 2018, tingkat prevalensinya mencapai 9,1 persen, atau meningkat dibanding 2013 yang mencatat angka 7,2 persen.

Jika tidak ada upaya pembatasan yang terstruktur, masif, dan sistematis untuk membatasi peredaran rokok; bukan tidak mungkin angka-angka tersebut akan jauh lebih memprihatinkan pada masa depan. Dan, upaya itu mau tidak mau harus kita lakukan sekarang juga!


Upaya Membatasi Peredaran Rokok

“Rokok memang barang legal, tetapi peredarannya wajib dikendalikan,” ujar Nurul.

Apa yang Nurul katakan memang benar. Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk memitigasi dampak negatif yang ditimbulkan rokok ialah dengan membatasi peredarannya. Rokok tidak boleh didapatkan dengan begitu mudah, apalagi dikonsumsi oleh anak-anak.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Pemerintah tidak tinggal diam. Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN Tahun 2021, Pemerintah terus melakukan penyesuaian tarif cukai rokok. Pada tahun depan, target penerimaan cukai rokok dicanangkan naik sebesar 3,6 persen dibanding 2020.

Hanya saja, apakah kenaikan tarif cukai rokok saja cukup? Jelas tidak! Meskipun tarif cukai ditingkatkan setiap tahun, jumlah perokok aktif masih saja bertambah. Tahun ini saja, tarif cukai rokok sudah dinaikkan hingga 23 persen.

Namun, apa yang terjadi? Jangankan uang tabungan, dana BLT saja digunakan untuk membeli rokok, bukan kebutuhan pokok. Ini yang patut kita garis bawahi.

Kenaikan tarif cukai rokok memang perlu. Akan tetapi, kebijakan itu harus dibarengi dengan upaya pembatasan peredaran rokok. Menurut hemat saya, ada tiga cara yang dapat ditempuh oleh Pemerintah.




Pertama, membatasi akses rokok dengan menerapkan rezim perizinan kepada penjual rokok. Dengan kata lain, pedagang mesti mengajukan izin kepada Pemerintah terlebih dahulu sebelum beroleh tiket menjual rokok. Sama seperti minuman keras, misalnya, tidak semua orang bisa menjual barang haram itu kepada masyarakat.

Hal ini bertujuan agar peredaran rokok di masyarakat dapat diminimalisasi. Bukan seperti saat ini, ketika semua orang bebas mengakses dan membeli rokok. Rokok hanya dijual oleh pihak atau pedagang tertentu saja, bukan sebebas-bebasnya.

Mengapa demikian? Karena satu-satunya hal yang mendorong anak-anak untuk merokok adalah bebasnya perederan rokok di pasaran. Belanja ke warung sebelah, jual rokok. Pergi ke minimarket, ada rokok. Di mana-mana ada rokok.

Kondisi seperti inilah yang mesti diubah oleh Pemerintah, dengan cara menerapkan izin penjualan rokok tadi. Cara seperti ini sudah diterapkan oleh Afrika Selatan selama pandemi korona. Mau jual rokok, izin dulu!




Nah, jika landasan hukum sudah diketok palu, maka langkah yang kedua adalah memperberat syarat untuk mendapat izin penjualan rokok. Tujuannya tentu saja supaya penjual rokok diberi disinsentif sebesar-besarnya, agar berpikir dua kali ketika ingin menjual rokok.

Misalnya, begini. Pedagang yang berhak memperoleh izin penjualan rokok adalah mereka yang memiliki lokasi usaha jauh dari pemukiman warga. Selain itu, produk rokok juga tidak boleh dipamerkan di rak kaca atau etalase yang bisa terlihat oleh pembeli.

Cara seperti ini sudah lebih dulu dilakukan oleh negara tetangga kita, Singapura. Penjual rokok menyimpan produknya di tempat tertutup, agar pembeli tidak terpancing dan terpantik hasratnya untuk membeli rokok.

Pedagang rokok juga tidak diperkenankan memberi tanda atau papan berkalimat “di sini menjual rokok”. Pembeli rokoklah yang harus bertanya kepada penjual, “apakah di sini menjual rokok?”

Langkah ini akan memantik budaya “malu merokok”, seperti lazim ditemukan di berbagai negara maju. Mereka sadar, rokok itu berbahaya dan berdampak buruk, sehingga orang yang ingin merokok pun seakan harus mengasingkan diri terlebih dahulu. Kalau sudah seperti ini, lama-lama juga bosan sendiri.




Cara yang terakhir adalah melarang iklan rokok, baik melalui televisi, media daring, maupun papan reklame. Tanpa terkecuali!

Generasi muda kita tidak boleh lagi tertipu oleh kegagahan atau kejantanan yang kerap diasosiasikan dalam setiap materi iklan rokok.

Sebab anggapan itu sungguh berbahaya. Mereka pikir merokok itu gagah, padahal salah. Mereka pikir merokok itu jantan, padahal penyakitan. Mereka pikir merokok itu keren, padahal cemen.

Jika salah kaprah itu tertanam lekat-lekat di alam bawah sadar generasi muda, habislah bangsa kita. Maka jangan heran apabila ada oknum ketua RT yang tega memalak dana BLT warganya sendiri, seperti yang dikisahkan di awal artikel ini, hanya gara-gara kecanduan nikotin. Sungguh menggelikan dan mengerikan.

Jika ketiga langkah itu diterapkan, bolehlah kita optimis menatap masa depan. Sekali lagi, kuncinya adalah mengendalikan peredaran. Sebab kita tidak ingin generasi emas yang digadang-gadang menjadi macan dunia pada 2045 kelak, malah penyakitan gara-gara asap rokok gagal kita kendalikan.

Lalu, bagaimana dengan nasib perokok? Ah, sudahlah, Kawan. Percayalah, rokok itu ibarat mantan. Enyahkanlah dari perasaan, pikiran, dan pandangan. Anda tidak ingin mendiami liang lahat cepat-cepat, bukan? [Adhi]

*** 

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Tautan artikel ini sudah ditayangkan di Twitter dan Facebook penulis.

Senarai Rujukan:

[1] Talkshow “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok”, akun YouTube Kantor Berita Radio (2020);

[2] Media Informasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Banyak yang Tidak Tahu, Perokok Pasif Ternyata 4 Kali Lipat Berisiko Terkena Kanker (2019);

[3] Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik Indonesia: Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2020 (2020);

[4] Okezone.com, Dana BLT Banyak Dipakai untuk Beli Rokok, Gimana Nih? (2020);

[5] Detiknews.com, Ketua RT di Tangerang Minta Jatah Rokok dari Bansos yang Diterima Warga (2020);

[6] World Health Organization Indonesia: Pernyataan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020 (2020)

0 komentar:

Bermodal Internet, Ini Cara Saya Mendulang Rezeki Saat Pandemi



Suatu ketika sejawat di kantor pernah bertanya. Katanya, apa alasan saya rajin menulis di blog? Katanya lagi, sudah enak-enak terima gaji tiap bulan, kenapa harus repot-repot terjun di dunia digital?

Saya hanya menyodorkan jawaban singkat.

Digitalisasi adalah masa depan. Siapa yang enggan beradaptasi pasti terlibas perkembangan zaman. Nge-blog hanyalah salah satu bentuk tindakan rasional yang saya lakukan untuk menghadapi perubahan.

Sekarang, saya balik tanya. Apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan dan ketidakpastian?

*** 

Percakapan di atas terjadi sekitar tiga tahun silam. Saat pandemi COVID-19 belum muncul ke permukaan dan meluluhlantahkan aktivitas ekonomi dan sosial. Ketika tatap muka masih menjadi barang murah yang, mungkin, belum banyak kita syukuri.

Kala itu sebagian orang masih belum sepenuhnya mempercayai arti penting digitalisasi. Rekan kerja saya, misalnya. Ia tidak yakin bahwa nge-blog bisa melahirkan pendapatan tanpa dibatasi sekat lokasi dan jabatan.

Meski menyandang profesi analis ekonomi di salah satu lembaga negara, saya sadar bahwa tiada seorang pun bisa menjamin apa yang akan terjadi pada masa depan. Bisa saja karena resesi ekonomi atau kejadian luar biasa lainnya, kantor saya terpaksa mengurangi jumlah karyawan.

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa saya akan bekerja hingga masa pensiun tiba. Sebab satu-satunya kepastian yang berlaku di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang, lantas kapan lagi?


Sekarang, kita bisa lihat sendiri. Apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi pada banyak pekerja di Indonesia. Gara-gara pandemi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) seakan bergulir tanpa henti.

Kementerian Tenaga Kerja, seperti dilansir Kompas (4/8), menyebut lebih dari 3,5 juta pekerja terpaksa di-PHK dan dirumahkan. Sementara jutaan pelaku usaha gulung tikar atau paling tidak mengalami penurunan omzet lantaran terdampak upaya pembatasan sosial.

Kalaupun nasib baik masih berpihak, risiko pemotongan gaji sudah pasti ditanggung pekerja. Masih segar dalam ingatan kabar viral beberapa waktu lalu. Seorang pekerja bergaji Rp20 juta per bulan curhat kepada pemerintah lewat media sosial lantaran gajinya disunat hingga separuhnya.

Ia mengaku kesulitan karena dengan gaji yang sekarang, cicilan dan biaya hidupnya jauh melebihi penghasilan. Sekalipun gajinya lebih dari dua kali upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta, ia masih berharap agar pemerintah sudi memberi santunan.

Meski terasa menggelikan, kabar viral itu membuktikan satu hal. Apa yang akan terjadi pada masa depan sepenuhnya milik Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah giat belajar, rajin bekerja, dan gigih mengasah kemampuan. Sebab hanya dengan cara itulah pundi-pundi rezeki bisa kita dapati.


Menangkap Peluang di Tengah Tantangan

Pandemi COVID-19 memang tidak menyenangkan bagi semua orang. Itu sudah pasti. Namun demikian, saya termasuk pribadi yang optimis. Saya yakin, Tuhan tidak pernah memberi ujian jika tidak disertai dengan jalan keluar.

Jadi, daripada sibuk berkeluh kesah, lebih baik kita mencari hikmah. Ingat, menggerutu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mending putar otak dan cari akal bagaimana cara mendulang rezeki di tengah himpitan pandemi.

Kalaulah sudi berkaca pada data, maka kita akan temukan jawabannya. Sandvine, konsultan internet asal Kanada, melaporkan konsumsi internet dunia naik hingga 40 persen selama pandemi. Data itu disajikan dalam kajian bertajuk The Global Internet Phenomena Report COVID-19 Spotlight.

Jika kita kaitkan data di atas dengan fenomena digitalisasi, maka pandemi terbukti mempercepat proses digitalisasi itu sendiri. Itulah sebabnya, bidang pekerjaan yang mampu bertahan—bahkan melejit—selama pandemi pasti berkaitan dengan internet.

Sebagai contoh, pekerja kantoran—seperti saya—terpaksa menerapkan kebiasaan baru berupa bekerja dari rumah. Rapat atau aktivitas tatap muka kini dilakukan di ranah maya. Entah pakai virtual meeting, entah lewat email.

Pendidikan sama saja. Untuk mencegah penyebaran virus korona, istri saya terpaksa mempertahankan tesisnya di hadapan sidang pascasarjana dari depan layar laptop. Bulan depan, ia akan diwisuda, lagi-lagi melalui sambungan virtual.

Sektor usaha pun serupa. Pelaku usaha yang mampu berdiri tegak selama pandemi adalah mereka yang sudi merambah pasar digital. Aktivitas promosi maupun penjualan lebih banyak mengandalkan pasar daring (e-commerce), media sosial, maupun layanan pesan antar.

Bagaimana dengan blog? Well, kalau mau bukti, mari saya sodorkan satu data lagi. Menurut Tribun (2/5), penulis digital atau blogger adalah satu dari delapan profesi paling menjanjikan selama pandemi. Tujuh profesi lainnya adalah desainer grafis, fotografer, YouTuber, penjual masker, pedagang camilan, podcaster, dan penjual pulsa.






Itulah mengapa, sejak 2016 saya gigih menggeluti dunia blogging. Sekalipun sudah menduduki posisi cukup nyaman di kantor, saya punya prediksi, blogger bakal menjadi pekerjaan menjanjikan pada masa depan. Tak disangka, prediksi saya kini sudah terbukti.

Sekarang kita sudah sadar. Ternyata masih banyak peluang bertebaran walaupun situasi tengah dirundung tantangan. Pertanyaannya, sudikah Anda bekerja keras dan mengasah diri hingga sanggup mendulang rezeki dari beragam profesi tadi?

Yang jelas, seperti judul artikel ini, saya akan blak-blakan membuka pengalaman saya mendulang rezeki dari dunia blogging. Artikel ini bakal merincikan upaya saya mengais pundi-pundi di bidang kepenulisan digital. Moga-moga ada manfaat yang bisa kalian ambil dan praktikkan.

Jika nanti dirasa baik dan bermanfaat, jangan lupa sebarkan kepada teman, relasi, ataupun sanak famili. Ingat, pahala menyebar kebaikan itu setara dengan berbuat baik. Jadi, tanpa berpanjang-lebar, ayo kita mulai sekarang.

1. Kompetisi Menulis

Sekitar 80 persen total pendapatan yang saya peroleh dari dunia blogging berasal dari hadiah kompetisi menulis. Bahkan sebenarnya, lomba blog merupakan langkah pertama saya berkecimpung di dunia kepenulisan digital.

Jadi begini. Lima tahun silam, kantor saya mengadakan kompetisi blog untuk karyawannya. Gara-gara tergiur hadiahnya, saya coba-coba ikut saja. Hasilnya bisa kalian duga. Saya terpaksa gigit jari lantaran artikel saya buat sekenanya saja.

Penasaran, dong!

Tahun depan saya ikut lagi kompetisi serupa. Namun kali ini saya hadir dengan segudang persiapan. Sebelum menulis, saya pelajari dulu karya para jawara. Saya perhatikan betul bagaimana pemenang lomba menyusun kata demi kata.

Alhamdulillah, saya berhasil mendapat juara kedua. Tahun berikutnya, prestasi saya kembali meningkat. Saya sukses menggondol peringkat pertama.

Sejak saat itu saya rajin menulis dan mengikuti kompetisi. Tidak puas bermain di kandang, saya cari kompetisi menulis berskala nasional. Hasilnya sungguh mengejutkan. Ada puluhan kompetisi menulis digelar dalam setiap bulan!

Penyelenggaranya pun bermacam-macam. Mulai dari perusahaan ternama, lembaga nirlaba, hingga instansi pemerintah. Tinggal pilih saja sesuai kesanggupan, pengetahuan, dan kemampuan kalian.

Hingga artikel ini naik tayang, saya telah menjuarai kompetisi menulis sebanyak 60 kali. Rinciannya bisa dilihat di sini. Memang tidak semuanya juara pertama. Ada yang kedua, ketiga, atau juara harapan. Yang pasti, saya berani jamin, pundi-pundi hadiah dari kompetisi menulis lebih dari sekadar menggiurkan.

Berapa persisnya?

Well, sebagai gambaran, selama 2019 saja, ada 30 lomba menulis yang berhasil saya juarai dari total 62 kali ikut serta. Memang tidak semua hadiah berbentuk uang tunai. Ada gadget, tiket liburan, voucher belanja, dan lain-lain.

Jika semua hadiah tadi dikonversi dalam bentuk uang, maka total pendapatan saya dalam setahun mencapai Rp82,7 juta. Dengan kata lain, dalam sebulan saya sanggup meraup pundi-pundi senilai hampir Rp7 juta. Itu di atas UMR DKI Jakarta, Kawan!

Lantas, apa kiat saya jadi juara?




Setelah ratusan kali ikut kompetisi, menurut hemat saya jurusnya cuma ada tiga. Pantang menyerah, gigih mengasah kemampuan menulis dengan mempelajari artikel para jawara, dan berdoa. Itu saja.

Kalau ketiga hal tadi sudah dilakukan tapi masih gagal juga, silakan cek lagi jurus yang pertama: pantang menyerah. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saja tidak selalu menjuarai Liga Champions, Kawan! Jadi, jangan pernah berputus asa.

Yakini saja rezeki itu sudah Tuhan atur seadil-adilnya. Tugas kita tinggal berikhtiar dan berdoa. Jika kalah dalam kompetisi yang satu, bisa jadi rezeki kita ada di kompetisi selanjutnya. Tetap bersemangat!

2. Konten Berbayar

Semakin banyak menulis di blog, semakin besar pula potensi blog kita dibaca orang. Dengan begitu, traffic atau jumlah kunjungan blog bakal semakin meningkat. Mesin pencari (Google, misalnya) tentu lebih senang merekomendasikan blog yang banyak dikunjungi orang.

Kalau sudah begitu, potensi blog kita untuk dilirik perusahaan atau brand ternama bakal semakin besar. Di sinilah awal mula rezeki yang kedua: konten berbayar atau sponsored post.

Seperti disinggung di awal, internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar kalangan. Segala informasi bisa dicari lewat jaringan internet. Internetlivestats melansir, jumlah pencarian situs lewat Google mencapai 3,5 miliar dalam sehari!

Untuk bersaing dengan miliaran situs lainnya di mesin pencari, perusahaan atau brand ternama sudi mengeluarkan biaya promosi. Blog yang jumlah kunjungannya tinggi diajak bekerja sama dalam bentuk konten berbayar.

Syaratnya, artikel harus mengandung kata kunci (keyword) tertentu yang disisipkan tautan (backlink) menuju laman perusahaan tadi. Artikel itu bisa dibuat oleh pemilik blog sendiri, ataupun disiapkan oleh pemberi kerja.

Kerja sama ini tentu menguntungkan kedua belah pihak. Blogger mendapat bayaran, sedangkan perusahaan memperoleh backlink. Backlink inilah yang akan meningkatkan kualitas situs perusahaan di mata mesin pencari.

Saya pribadi telah belasan kali bekerja sama dengan brand atau perusahaan. Untuk setiap artikel tidak lebih dari 1.000 kata, saya mendapat bayaran mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. Lumayan, kan?

Lalu, apa kiat supaya blog kita dilirik banyak perusahaan?




Ada dua cara. Pertama, berjuang sendiri. Rajinlah mengepos artikel berkualitas di blog, kemudian sebarkan tautannya lewat media sosial. Supaya blog kita dibaca banyak orang dan jumlah kunjungan meningkat.

Dengan begitu, peluang kita diajak bekerja sama oleh brand atau perusahaan ternama akan semakin besar. Jangan lupa, cantumkan pula nomor kontak kalian di blog. Supaya pemberi kerja tahu ke mana mereka harus menghubungi kalian.

Kedua, ikut komunitas atau agensi. Dewasa ini banyak agensi blogger yang punya akses ke berbagai perusahaan ternama. Dengan mendaftarkan diri pada agensi, peluang mendapat tawaran kerja sama konten berbayar akan semakin besar.

Namun demikian, kedua cara di atas sama-sama memerlukan satu hal: rajin-rajin mengepos artikel di blog. Jangan sampai blogmu dihiasi sarang laba-laba karena jarang di-update. Minimal, buatlah tiga hingga lima artikel dalam sebulan.

3. Menulis Opini di Media Massa

Selain menulis di blog, tidak jarang saya mengirim opini ke media massa. Akan tetapi, nuansa artikel untuk kolom opini jauh berbeda dengan tulisan di blog. Jika di blog saya bebas curhat begini begitu, opini tidak seperti itu.

Agar opini naik cetak, pada umumnya kita wajib membahas isu atau topik hangat terkini. Semakin update, semakin besar peluang disetujui redaksi. Sesuai namanya, artikel opini juga mesti mengandung ide, solusi, atau pemikiran orisinal penulis mengenai isu atau fenomena yang sedang terjadi.

Ada sejumlah keuntungan jika opini kita diterima media. Selain menumbuhkan rasa bangga, tentu nama kita akan dikenal banyak orang. Semakin sering menulis opini, semakin kuat pula branding yang kita miliki. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja mendapat bayaran.




Jadi, berapa honor untuk setiap opini yang naik tayang?

Jawabnya bergantung pada kebijakan internal media. Tarif honor opini antara media yang satu dengan media lainnya tidak seragam. Sependek pengalaman saya, honor menulis di media cetak berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per artikel. Dengan kata lain, hampir setara dengan tarif konten berbayar.

Lalu, apakah menulis opini bisa dikategorikan aktivitas di media digital?

Tentu saja, iya. Tidak seperti dulu yang dikirim lewat pos dalam bentuk hardcopy, sekarang kita bisa mengirim opini melalui email dalam format softcopy. Jadi, prosesnya mirip-mirip dengan menulis di blog. Kelar tulis, tinggal kirim.

4. Royalti atau Bagi Hasil Penjualan Buku

Sejujurnya ini salah satu berkah dari rajin ikut kompetisi menulis. Beberapa penata kompetisi menulis yang saya ikuti memang bermaksud membukukan artikel para pemenang lomba. Buku itu kemudian dijual bebas kepada khalayak ramai.

Hingga kini sudah ada tiga buku antologi yang berhasil saya tulis dan beredar di pasaran. Daftarnya bisa kalian lihat pada infografis di bawah ini.




Sekali lagi, semuanya tidak saya niatkan. Saya hanya mengikuti kompetisi, keluar sebagai juara, bonusnya mendapat buku berisi karya sendiri dan pemenang lainnya.

Kabar baiknya, beberapa penyelenggara berbaik hati berbagi royalti. Sebagian keuntungan penjualan buku (harga jual buku dikurangi ongkos produksi) dibagikan kepada penulis.

Jadi, berapa royalti yang saya terima?

Sekali lagi, bergantung pada kebijakan penerbit dan penyelenggara lomba. Kalau saya, sekitar 16 persen dari harga jual buku. Jadi, misalkan setiap unit buku dijual dengan harga Rp100.000, maka bagi hasil yang akan saya terima sebesar Rp16.000 per buku.

Semakin banyak buku terjual, semakin banyak pula royalti yang bisa kita dapatkan.

5. Mengajar Kelas Menulis Virtual

Selain berkompetisi, inilah cara yang paling saya sukai untuk mengais rezeki. Bukan apa-apa, saya memang suka berbagi ilmu dan tampil di hadapan banyak orang. Sudahlah dapat pahala, eh, dapat sangu juga.

Saya tidak hapal persis kapan awal mula diminta mengajar. Yang jelas, ketika prestasi kepenulisan saya mencapai kisaran puluhan, banyak penyelenggara atau instansi yang meminta saya mengisi sesi kelas menulis.

Ada belasan kelas menulis yang telah saya narasumberi. Sebelum pandemi, biasanya kelas ditata dalam format tatap muka. Sekarang, seluruhnya mengandalkan aplikasi rapat virtual di ranah maya.

Uniknya, justru tawaran mengajar lebih banyak saya terima saat pandemi. Sepanjang 2020 saja, sudah ada empat kelas atau acara yang saya narasumberi. Rinciannya bisa kalian temui pada gambar di bawah ini.




Jadi, berapa honor yang saya terima tiap kali mengajar? Maaf, untuk yang satu ini saya tidak pernah menetapkan tarif.

Mengapa? Karena bagi saya, ilmu, termasuk kepenulisan, tidak semestinya menjadi barang dagangan. Dibayar syukur, tidak dibayar juga tidak apa-apa. Santai saja. Hitung-hitung tambah pahala.

Saya pernah mengantongi Rp150 ribu untuk cuap-cuap selama dua jam. Lain waktu diberi Rp1,5 juta untuk sekali pertemuan. Akan tetapi, saya juga pernah tidak menerima honor barang sepeser pun selama mengajar. Yang jelas, kualitas mengajar tetap saya jaga terlepas dari ada atau tidaknya honorarium.

Bagaimana bisa saya mendapat tawaran mengajar?

Well, di sinilah pentingnya branding, Kawan! Zaman sekarang, ketika kalian merasa punya kemampuan atau keahlian di salah satu bidang, promosikan saja lewat media digital. Baik lewat website ataupun media sosial. Cara itu saya lakukan hingga cap penulis digital melekat erat-erat.

Percayalah, jejak digital seseorang akan terekam dengan jelas pada era digital. Gunakan fakta itu untuk mempromosikan usaha atau keahlianmu. Ketika ada pihak yang memerlukan produk atau jasa tertentu, pasti mereka akan mencarinya lewat media digital.

Contohnya tidak usah jauh-jauh. Tengok saja diri sendiri ketika mencari hiburan, tutorial, ataupun barang belanjaan. Hal pertama yang kita lakukan pasti membuka Google, bukan? Maka dari itu, penting bagi kita untuk membangun digital branding yang jempolan.

Membangun Digital Branding Lewat Website

Salah satu media yang saya gunakan untuk membangun digital branding adalah situs atau website. Mengapa? Bagi seorang blogger, website ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Tanpa website milik sendiri, bagaimana artikel bisa diunggah?

Memang benar, blog atau website yang bersifat user generated content (UGC) banyak beredar di jagat maya. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk membangun sebuah digital branding? Jelas tidak.

Jangankan seorang blogger. Pelaku usaha saja kini beramai-ramai membuat website supaya produknya terkurasi oleh mesin pencari. Supaya ketika calon pembeli mencari produk itu lewat internet, situs milik pelaku usaha bisa terpampang di laman utama mesin pencari.

Hal yang sama juga berlaku pada blogger. Dengan memiliki website sendiri, maka pintu rezeki akan terbuka lebih lebar ketimbang menulis di blog UGC. Mulai dari lomba blog hingga konten berbayar, pasti mensyaratkan blogger untuk menulis di website pribadi.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membuat website pribadi?

Well, langkah pertama yang perlu kalian tempuh adalah mencari penyedia hosting. Untuk yang satu ini, jangan tanggung-tanggung. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik Indonesia seperti Exabytes Indonesia.




Mengapa saya menyarankan Exabytes Indonesia?

Sederhana saja. Exabytes adalah penyedia hosting yang telah malang-melintang selama 18 tahun lebih di dunia digital. Exabytes sudah melayani lebih dari 140 ribu klien, baik kalangan individu, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga instansi atau lembaga pemerintah.

Untuk menjaga kepercayaan klien, Exabytes senantiasa memberikan pelayanan terbaik, seperti menyediakan dukungan teknis profesional selama 24 jam penuh. Soal keandalan pun tidak perlu diragukan. Ada jaminan uptime server hingga 99,9 persen yang membuat waktu-muat atau loading page di website-mu semakin melaju.

Tak kenal, maka tak sayang. Untuk mengenal lebih jauh tentang Exabytes Indonesia, silakan tonton video di bawah ini.



Bagaimana Exabytes Membantumu Membuat Website?

Well, ada banyak cara, sih. Kamu bisa membuat website sendiri lalu berlangganan hosting dan Domain Murah di Exabytes. Atau kamu juga bisa mulai dari nol, duduk santai, rebahan, lantas tinggal terima beres saja dari Exabytes.

Lho, website-nya bisa dibuatkan Exabytes juga? Bisa, dong! Cocok banget buat blogger pemula yang belum paham mengutak-atik jeroan website, kan?

Exabytes menyediakan layanan Hosting WordPress Terbaik yang bisa kamu manfaatkan untuk memulai peruntungan di dunia digital. Yang perlu kamu lakukan ialah menentukan paket, memilih nama domain, membayar tagihan, dan menunggu website-nya beres. Mudah, kan?

Tinggal pilih saja sesuai kebutuhan dan profesimu. Untuk blogger pemula, ada pilihan paket WP Blogger dengan biaya Rp48.000 per bulan saja. Sedangkan untuk pelaku usaha kecil, ada paket WP Lite yang dibanderol dengan harga Rp64.000 per bulan.

Bila kedua pilihan di atas tidak cukup karena, katakanlah, kamu seorang developer atau reseller yang ingin bertransaksi melalui website, jangan berkecil hati. Exabytes juga menyediakan paket WP Plus dan WP Geek dengan harga, berturut-turut, Rp216.000 per bulan dan Rp752.000 per bulan.

Kalau sudah membayar dan ternyata kurang puas, lalu bagaimana, dong? Tenang. Exabytes memberikan jaminan 100 hari uang kembali. Kamu bisa me-refund uang secara penuh dalam 100 hari ke depan. Coba saja dulu! Ga akan rugi, deh.

Untuk mengetahui fitur apa saja yang disediakan pada masing-masing pilihan paket, silakan tengok infografis di bawah ini.







Raih Rezeki dengan Program Afiliasi

Sudah punya website dan ingin menambah penghasilan? Ada program menarik dari Exabytes, nih. Namanya Program Afiliasi Terbaik. Lewat program ini, kamu bisa mendapat komisi hingga 25 persen dari setiap transaksi yang menggunakan kode referral-mu. Asyik, kan?

Caranya bagaimana? Tinggal daftar saja di Exabytes. Gratis alias bebas biaya! Kalau sudah, kamu tinggal sebar link atau banner afiliasi sebanyak-banyak di website, media sosial, ataupun media digital lainnya.

Gampang, kan? Tinggal ongkang-ongkang kaki bisa dapat komisi.

O ya, Exabytes juga tidak membatasi pemakaian kode referral, lho! Jadi, kamu bisa mencari calon pelanggan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak pelanggan yang menggunakan kode referral-mu, semakin besar pula komisi yang bakal kamu dapatkan. Keren, kan?

Supaya kamu mendapat gambaran yang utuh mengenai program afiliasi di Exabytes, silakan simak infografis di bawah ini.







Pada Akhirnya, Semua Bergantung pada Ikhtiar Kita

Sekarang, kita sudah paham. Ternyata ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendulang rezeki lewat internet. Tinggal pilih saja, mana yang benar-benar cocok dengan kemampuan dan keahlianmu.

Pandemi COVID-19 ibarat cendawan di musim hujan. Kehadirannya yang begitu cepat dan meluas memang menyusahkan banyak orang. Namun demikian, kita harus yakin bahwa selalu ada hikmah di balik setiap musibah.

Sesulit apa pun tantangan menghadang, selalu ada peluang bagi mereka yang mau berpikir, berikhtiar, dan pantang menyerah. Pertanyaannya, apakah kita termasuk golongan orang yang gigih berikhtiar? Saya kembalikan lagi ke diri kalian.

Yang pasti, saya sudah panjang-lebar membuka resep mendulang rezeki tatkala pandemi. Sekarang giliran kalian. Maukah berbagi di kolom komentar? [Adhi]

*** 

Tautan artikel ini juga dibagikan melalui akun media sosial penulis:

Foto: dokumentasi pribadi. Ikon: Freepik dan Exabytes. Infografis: olah pribadi. Video: YouTube Exabytes Indonesia.

Senarai Rujukan:
1. Sandvine
2. Kompas
3. Tribun
4. Oberlo
5. Exabytes Indonesia

0 komentar: