Rokok ibarat candu. Meski sudah tahu ragam penyakit yang ditimbulkannya, produk olahan tembakau ini masih saja diburu. Celakanya, mereka yang berpenghasilan pas-pasan justru lebih rentan menjadi pencandu. Bagi mereka, makan nomor dua, udud nomor satu.
***
Merokok membunuhmu. Dua kata yang kita jumpai pada kemasan rokok itu sepertinya menjadi kalimat yang paling sering diabaikan di negeri ini. Sebab kalau tidak, lantas mengapa masih ada 90 juta penduduk yang masuk ke dalam barisan ahli isap?
Otak saya hanya menemukan satu kata yang cocok untuk menjawab pertanyaan di atas secara ringkas: candu. Ya, semakin diisap, semakin melaju.
Candu pula yang menjadi alasan perokok menafikan berbagai ancaman penyakit ketika mengulum batang rokok. Kendatipun harus berhadapan dengan risiko tertinggi sekalipun: kematian.
Memang benar, perokok tidak akan mati seketika lantaran mengisap sebatang rokok. Hanya saja, merokok itu ibarat menabung penyakit. Zat-zat beracun yang dikandung rokok akan terakumulasi di dalam tubuh. Nah, zat-zat itulah yang akan menyebabkan perokok rentan terserang beragam jenis penyakit.
Mula-mula, perokok akrab dengan batuk dan sakit tenggorokan. Bila terus diabaikan, lama-lama penyakit kelas berat akan datang menerjang. Sebut saja kanker paru-paru, jantung, stroke, asma, diabetes, impotensi, dan infeksi saluran pernapasan.
Celakanya, deretan penyakit di atas adalah penyebab kematian utama di Indonesia. Survei The Lancet bertajuk Global Burden of Disease Study 2016 menyebut penyakit jantung, stroke, dan diabetes adalah tiga penyakit perenggut nyawa terbanyak di Indonesia.
Setali tiga uang, data The Global Cancer Observatory (2018) juga menempatkan kanker paru-paru pada urutan pertama penyebab kematian di antara jenis kanker lainnya. Yang menarik, hasil kajian RS Persahabatan menyatakan hampir seluruh kasus kanker paru (87 persen) disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Kalau uraian data di atas belum juga membuat Anda tercengang dan berhenti merokok, maka baca baik-baik kalimat berikut ini.
Rokok membunuh 230 ribu penduduk Indonesia setiap tahun.
Tentu saja, kalimat di atas bukan opini saya, melainkan hasil kajian Badan Litbangkes 2015. Kalimat yang sebenarnya sangat mudah dicerna, namun tidak serta-merta membuat perokok menjadi jera.
Andaipun bahaya merokok disuguhi secara apik lewat infografis di bawah ini, belum tentu pula mereka lantas sadar diri.


Akan tetapi, perokok aktif memang sudah semestinya sadar diri. Sebab sebagaimana kita ketahui, bahaya rokok tidak hanya mengancam perokok aktif saja, tetapi juga perokok pasif.
Asap rokok yang diembuskan ke udara, tidak serta-merta hilang begitu saja. Butuh waktu sekira 2,5 jam untuk membersihkan udara yang terpapar asap rokok hingga benar-benar steril.
Andaipun tidak terlihat, jangan sangka asap rokok sudah minggat. Sering kali bekas asap rokok tidak terdeteksi oleh hidung. Ini yang sangat berbahaya. Studi Kemenkes pada 2014 membuktikan, risiko kanker paru pada perokok pasif 25—30 persen lebih tinggi dibanding mereka yang tidak terpapar asap rokok.
Yang paling disayangkan, jumlah perokok usia muda juga terus bertambah. Data Riskesdas 2018 menyatakan prevalensi merokok pada remaja (usia 10—18 tahun) semakin meningkat, dari 7,2 persen menjadi 9,1 persen.
Padahal, kita tahu bahwa generasi muda adalah cermin masa depan bangsa. Di pundak mereka tersemat berjuta harapan dan cita-cita bangsa. Kalau generasi muda dinodai dengan budaya merokok, lantas, mau dibawa ke mana nasib bangsa ini?

Makan Nomor Dua, Udud Nomor Satu
Upaya pembatasan konsumsi rokok terus bergulir. Mulai dari peringatan pada bungkus rokok yang lebih keras, iklan rokok yang semakin terbatas, ruang publik bebas asap rokok yang semakin luas, hingga aturan larangan merokok yang lebih tegas.
Berbagai daerah di Indonesia, telah menerapkan aturan resmi demi meminimalisasi efek negatif dari rokok, salah satunya adalah Kabupaten Karawang.
Ya, sejak 2016, Kota Pangkal Perjuangan itu telah menerapkan aturan bebas rokok melalui Perda No.5/2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Bebas Rokok.
Hanya saja, untuk menjadikan Karawang benar-benar bebas asap rokok, Pemkab Karawang tampaknya harus memberikan perhatian ekstra pada kelompok masyarakat miskin.
Pasalnya, data Susenas 2016—2017 mengatakan prevalensi merokok kelompok masyarakat berpenghasilan rendah meningkat lebih cepat dibandingkan masyarakat berpenghasilan lebih tinggi. Dengan kata lain, rokok lebih banyak diisap oleh mereka yang berkantong pas-pasan.
Sejalan dengan hal tersebut, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) baru-baru ini juga menemukan sebuah fakta menarik.
“Penerima bantuan sosial (bansos) berkorelasi positif dengan perilaku merokok. Efek tertinggi terjadi pada penerima Program Keluarga Harapan (PKH),” kata Dr. Renny Nurhasana, Manajer PKJS-UI, pada serial talkshow #putusinaja edisi ke-6 besutan Ruang Publik KBR yang digelar di Mercure Hotel Karawang, Rabu (14/08).


Lebih lanjut, Dr. Renny juga mengatakan penerima PKH memiliki peluang 11 persen lebih tinggi untuk merokok dibandingkan dengan non-penerima PKH. Rumah tangga penerima bansos disebutkan mengonsumsi lebih banyak batang rokok dibandingkan dengan bukan penerima bansos.
Penerima program beras sejahtera (rastra), misalnya, mengonsumsi 4,5 batang rokok per kapita per minggu lebih tinggi dibandingkan dengan non-penerima rastra.
Alhasil, asupan nutrisi, pendidikan, dan kesehatan keluarga perokok penerima bansos jauh lebih rendah dibandingkan dengan keluarga penerima bansos yang tidak merokok.
Temuan PKJS-UI tersebut ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, fakta yang diungkap sangat berguna bagi pemangku kepentingan, khususnya Pemerintah (baik pusat maupun daerah) dalam merumuskan kebijakan antirokok yang lebih tepat sasaran.
Namun pada sisi lain, data PKJS-UI sesungguhnya memaksa kita meringis sambil mengelus dada. Mengapa? Sebab ternyata, bansos bukan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, melainkan dipakai untuk membeli rokok!
Itu jelas sangat menyedihkan. Makan nomor dua, udud nomor satu. Sungguh keliru!


Kalau terus menerus dibiarkan, masa depan Karawang bisa terancam. Sebab sedikitnya, ada 60 ribu keluarga penerima PKH di daerah Bung Karno mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia 74 tahun silam itu.
Di atas semua itu, yang paling menyedihkan adalah masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi terancam. Maaf, itu memang fakta. Sebab orangtua mereka lebih memilih rokok ketimbang memberikan pendidikan yang layak dan menjamin hidup yang lebih sehat.

Selamatkan Generasi Emas Karawang dari Bahaya Rokok
Untuk menyelematkan generasi emas Karawang dari bahaya rokok, sebenarnya Pemkab Karawang tidak tinggal diam. Berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan ke berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha hingga sopir angkutan kota.
“Kami juga ada regulasi yang melarang jalan-jalan protokol di seluruh Kabupaten Karawang untuk dipasangi baliho yang berkaitan dengan iklan rokok,” ujar Samsuri SIP MM, Asisten Daerah I Pemkab Karawang, masih dari acara talkshow Ruang Publik KBR bertema Selamatkan Generasi Emas Karawang dari Bahaya Rokok.
Pada acara talkshow yang disiarkan langsung melalui 100 radio jaringan KBR di seluruh Nusantara tersebut, Samsuri juga mengatakan, regulasi tersebut belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) baru diterapkan di beberapa lokasi tertentu saja.
Di pusat-pusat keramaian seperti pasar tradisional, tempat makan kaki lima, atau terminal penumpang, masih banyak ditemukan perokok yang bebas ke sana kemari menyulut batang rokoknya. Area bebas asap rokok baru tersedia di tempat-tempat ber-AC seperti mal dan hotel.


Padahal, kata Samsuri lagi, beleid larangan merokok tersebut telah dilengkapi dengan sanksi berupa denda. Bahkan, dendanya pun tidak main-main: maksimal hingga Rp5 juta.
Hanya saja, belum adanya satgas penegakan aturan larangan merokok menimbulkan celah bagi Pemkab Karawang untuk menindak para perokok yang tidak taat aturan. Hal ini yang menjadi catatan terpenting bagi Pemkab Karawang.
Meski begitu, aturan larangan merokok di Karawang sebenarnya menunjukkan perkembangan yang positif, terutama dari sisi peningkatan jumlah KTR. Dibanding tiga tahun lalu, KTR tumbuh menjamur di seluruh daerah di Karawang.
“Selama tiga tahun (aturan larangan merokok) digarap, sudah tampak hasil yang cukup baik. Dari 519 lokasi, sebanyak 92 persen telah menegakkan aturan KTR,” kata Nurdin Hidayat, Plt. Kadis Kesehatan Karawang.
Namun demikian, sebagai implikasi dari pembentukan aturan, pelanggaran peraturan pasti akan selalu ada. Oleh karena itu, terlepas dari jerat pasal dalam larangan merokok, hanya kesadaran kitalah yang akan membuat Karawang benar-benar bebas asap rokok.

Tiga Saran untuk Karawang
Berangkat dari diskusi publik hangat tersebut, saya berpendapat ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi bahaya rokok sekaligus menyelamatkan generasi emas Karawang dari jeratan rokok.


Pertama, membentuk satgas antirokok sesegera mungkin. Perda Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Bebas Rokok di Kawarang sudah berjalan selama tiga tahun. Artinya, waktu yang diperlukan masyarakat untuk memahami isi Perda relatif sudah cukup. Kini saatnya melakukan penegakkan secara tegas.
Untuk tahap awal, tidak usah memikirkan denda. Jalani saja dulu. Buat perokok yang masih merokok di sembarang tempat jera. Tegur, kemudian hasilnya dilaporkan ke publik lewat media. Supaya masyarakat paham, merokok itu ada tempatnya, bukan di sembarang tempat.
Selain itu, publikasi hasil penindakan oleh satgas juga diperlukan sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang transparan. Dari sisi pelanggar, ketimbang denda, pengumuman pelanggaran di ranah publik—termasuk media sosial—semestinya lebih menimbulkan efek jera.


Kedua, persempit akses rokok. Suka atau tidak, banyaknya jumlah perokok didukung oleh mudahnya akses masyarakat dalam membeli rokok. Semakin mudah membeli rokok, semakin banyak pula pencandu rokok. Jika konsumsi rokok ingin dibatasi, maka batasilah akses rokok.
Pembatasan akses rokok bisa dilakukan dengan berbagai cara. Larangan menjual rokok di daerah miskin, misalnya. Hal ini akan meminimalisasi masyarakat berpenghasilan rendah untuk merokok. Buatlah mereka kesulitan mengakses rokok, sehingga mereka akan berpikir dua kali ketika ingin merokok.
Selain itu, pembatasan akses rokok juga bisa dikaitkan dengan instrumen fiskal. Pajak ekstra, misalnya. Pedagang, toko, atau pasar swalayan yang menjual rokok dikenai pajak lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak menjual rokok. Aturan ini akan membuat pelaku UMKM berpikir dua kali untuk menjual produk rokok.


Terakhir, membangun pusat rehabilitasi rokok. Ketika aturan sudah ditegakkan, hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah merangkul para perokok agar bebas dari jerat candu nikotin. Ini sangat penting. Sebab pencandu rokok perlu didukung agar benar-benar bebas dari rokok.
Dengan begitu, perokok yang ingin bebas dari asap rokok benar-benar merasa dihargai dan dipedulikan. Mereka bukanlah orang asing yang harus dicampakkan, melainkan korban candu yang perlu diselamatkan. Jangan keliru.
Pusat rehabilitasi rokok juga akan meminimalisasi kemungkinan mantan perokok untuk kembali menjadi perokok aktif. Dan, tentu saja, meningkatkan kesehatan mantan perokok sehingga mereka bisa meraih masa depan yang lebih baik—masa depan yang bebas asap rokok.
Namun demikian, perlu diingat kembali bahwa ketiga langkah di atas hanyalah upaya meminimalisasi bahaya rokok dari luar. Sekuat apa pun usahanya, kalau tidak didukung dari tekad dan niat yang kuat dari dalam hati, tentu semuanya akan berakhir sia-sia.
Oleh karena itu, menurut saya, cara terampuh berhenti merokok adalah dengan mengucapkan bismillah. Ucapkanlah dari hati yang paling dalam. Ibarat mantan, buang bungkus rokok Anda sekarang juga dan jangan diingat-ingat kembali.
Sebab kita tidak ingin masa depan terbuang sia-sia dan menjumpai batu nisan dengan segera, bukan? [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam KBR Blog Competition Edisi ke-6 bertema Selamatkan Generasi Emas Karawang dari Bahaya Rokok.
Sumber foto yang ditampilkan dalam artikel ini telah dicantumkan pada masing-masing foto. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.
Tautan artikel ini telah dibagikan melalui akun Twitter dan Facebook milik penulis.

Referensi:
[1] Siaran Diskusi Publik "Selamatkan Generasi Emas Karawang dari Bahaya Rokok", akun Facebook Kantor Berita Radio (2019);
[2] Incidence, Mortality and Prevalence by Cancer Site in Indonesia, The Global Cancer Observatory (2018);
[3] Global Burden of Disease Study 2016, The Lancet (2018);
[4] Hasil Utama Riskesdas 2018, Kementerian Kesehatan (2018); dan
[5] Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan Kawasan Bebas Rokok, Pemerintah Kabupaten Karawang (2016).



Cepat, tangguh, dan kreatif. Ketiga hal itu adalah modal utama dalam mengarungi era digital. Sebuah masa ketika langkah kaki dan ketukan jari selalu dituntut untuk menghasilkan karya bermutu. Sebuah zaman tatkala pekerjaan tidak lagi disekati oleh ruang dan waktu, melainkan hasil yang akan menjadi gugus penentu.
Namun awas, jangan salah langkah! Ide brilian urung menjadi karya besar bila tidak didukung oleh perangkat jempolan. Kamu butuh gawai serba-bisa agar kecepatan, ketangguhan, dan kreativitasmu bisa terus melaju. Ya, gawai layaknya Vivobook Ultra A412DA—sebuah mahakarya ASUS keluaran terbaru.
***
Jumat petang. Aku mengelap kacamataku dengan ujung kemeja, membersihkan embun yang menempel dari lensanya. Di atas meja kerja, layar ASUS masih menyala, menampilkan enam surel yang belum kubalas. Lima dari atasan, satu dari klien. Semuanya harus rampung sebelum Senin pagi.
Aku menghela napas panjang. Akhir pekan memang tinggal hitungan jam. Ingin rasanya berlibur ke luar kota dan mengajak istri makan malam. Namun apa daya, profesionalitas kudu dijaga. Bukan apa-apa, pekerjaan kali ini memang memerlukan perhatian ekstra. Tidak bisa ditinggalkan, tidak boleh ditunda-tunda.
Maklum saja, tugas analis ekonomi memang begitu. Ada kalanya beban kerja tiba-tiba naik tajam melebihi hari-hari biasanya. Tepat seperti Agustus ini, ketika BPS merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan kedua.
Tak ayal, aku harus segera membuat analisis, menyusun kajian, dan menyerahkannya kepada atasan. Terlambat sedikit saja, alamat dapat murka. Telat sekejap saja, bisa-bisa catatan karier yang kena noda.
Ya, itulah risiko sekaligus tantangan pekerjaanku. Pekerjaan utama yang sama sekali bukan masalah bagiku lantaran sudah delapan tahun kujalani dengan gigih dan bangga.
Yang jadi persoalan adalah bilamana tugas utama datang bersamaan dengan tawaran menulis atau mengajar kelas menulis daring. Itu yang membuat aku garuk-garuk kepala. Persis seperti saat ini.
Asal tahu saja, selain analis ekonomi, aku juga berprofesi sebagai blogger. Menulis adalah caraku berbagi, menyalurkan hobi, dan meraih prestasi. Aku harus pintar-pintar menata waktu agar bisa terus berjalan lenggang di atas kedua rodanya.
Mengotak-atik data ekonomi saat siang hari, menulis artikel pada malam hari. Membuat analisis sepanjang hari kerja, merangkai kata-kata ketika akhir pekan tiba. Kira-kira seperti itulah kiatku mengakali waktu. Seru!


Kalau boleh jujur, bukan aku saja yang punya kesibukan ganda. Kaum milenial zaman sekarang juga umumnya merasakan hal yang sama. Era digital memang melahirkan banyak pejuang multitasking. Sebab di balik semua kesibukan, tersembul jutaan peluang dan pundi-pundi rezeki.
Teman-temanku, contohnya. Ada yang menjadi ibu rumah tangga merangkap penulis lepas. Ada yang berprofesi sebagai pekerja kantoran sembari merintis online shop. Ada pula yang memilih karier sebagai desainer grafis sekaligus YouTuber. Itu sudah biasa.
Hanya saja, sama seperti lika-liku kehidupan, tidak semuanya berjalan lancar. Terkadang, ada hal-hal yang harus kita korbankan. Tapi tenang saja, bukan korban perasaan, kok! Melainkan waktu senggang pada akhir pekan. Itu saja.
Azan Magrib berkumandang. Satu per satu rekan kantorku pulang. Aku masih tersudut di balik meja kerja, sibuk mencari akal agar pekerjaan bisa kelar tetapi liburan tetap bisa dilakukan. Supaya tugas lekas tuntas sambil menikmati akhir pekan yang berkualitas.
Tiba-tiba aku teringat satu hal. Sebuah istilah kekinian yang semakin ke sini semakin digandrungi kaum milenial. Satu kegiatan yang bisa menjamin pelakunya tetap produktif tanpa mengorbankan kesenangan pada akhir pekan.


Staycation! Ya, itulah solusi terbaik yang terlintas di otakku. Kalau bisa bekerja sambil berlibur, mengapa tidak?
Segera kurapihkan meja kerjaku, memasukkan ASUS ke dalam ransel, memesan ojek daring, kemudian cepat-cepat angkat kaki menuju peraduan. Dua agenda besar menunggu untuk dituntaskan: menyusun laporan ekonomi triwulanan dan mengajar kelas menulis online.
Aku semakin tak sabar. Sebab aku tahu, besok akan menjadi hari yang amat menyenangkan.



Sinar mentari jatuh di antara rimbunnya pohon palem. Embusan angin mengelus biduk air biru, mengaduk-aduk tawa anak-anak yang berenang di kolam dangkal. Kursi malas berjajar rapi di tepian, menanti untuk disinggahi para pencari kesenangan.
Sempurna! Inilah potret akhir pekan yang kudamba. Duduk bersantai di pinggir kolam, menikmati hangat matahari, menertawai riak air, sembari menyesap kopi pagi hari.
Aku mengambil ASUS dari dalam ransel, membuka lebar-lebar layar mungilnya, menekan tombolnya, kemudian membiarkan diriku larut dalam pekerjaan.
Zaman memang sudah berubah. Bekerja tidak hanya bisa dilakukan di kantor atau meja kerja saja, tetapi juga di mana-mana. Mau di kafe boleh, ingin di kedai kopi juga sah-sah saja. Pilih saja yang paling kamu suka. Sesederhana itu saja.
Bahkan, sambil bersantai di pinggir kolam renang juga bisa. Tidak perlu mahal-mahal, cukup di hotel bintang tiga saja. Seperti staycation yang kulakukan kali ini. Yang penting ide terus mengalir, yang pasti tetap bisa berkonsentrasi.
O ya, ada satu lagi. Yang pasti, di mana pun kamu bekerja, kamu perlu memerhatikan tiga “A”.


Pertama, anggaran. Selalu sesuaikan bujet dengan lokasi bekerja. Singkatnya, jangan besar pasak daripada tiang. Jangan pernah. Sebab kita tidak ingin mengorbankan satu akhir pekan semata lantas mengencangkan ikat pinggang pada minggu depannya, bukan?
Memang benar, hidup ini tidak hanya melulu diisi dengan pekerjaan. Kita juga perlu bersenang-senang agar kualitas hidup bisa berimbang. Namun demikian, aku menyarankan, lakukanlah kegiatan “senang-senang” ketika proyekmu sudah kelar. Beri dirimu penghargaan ketika invoice sudah cair. Bukan sebaliknya.
Kedua, ambience atau suasana. Ini penting, terutama bagi pekerja kreatif. Entah itu blogger, graphic designer, YouTuber, penulis, pensyair, pengarang, atau analis ekonomi sekalipun. Mengapa? Sebab suasana yang nyaman bisa mempercepat ide brilian keluar dari batok kepalamu.
Ada yang suka lantunan musik jazz di kafe, silakan. Ada yang menghindari keramaian agar konsentrasi tetap tinggi, ayo lakukan. Pilih saja suasana yang paling menunjang.
Kebetulan, saya suka sekali melihat air. Entah air kolam atau air laut. Rasanya sangat menenangkan dan menyenangkan hati. Maka dari itu, bekerja di pinggir kolam hotel menjadi pilihan saya menghabiskan akhir pekan.
Terakhir, ASUS! Untuk yang satu ini, pasti kamu setuju, kan? Pekerja digital seperti kita membutuhkan laptop yang bisa diandalkan. Yang performanya setangguh karang, tetapi tetap elok dipandang. Yang mudah dibawa ke mana saja, tetapi tetap menghadirkan fitur pengaman berteknologi juara.
Asal tahu saja, segala keunggulan itu melekat pada produsen komputer asal Taiwan ini. Jajaran laptopnya senantiasa mendapat tempat di hati pelanggan. Inovasi yang dilakukan ASUS selalu tidak tanggung-tanggung. Mulai dari desain yang ceria, performa mumpuni, bobot yang ringan, hingga bodi yang kompak.


Maka dari itu, tidak heran bila ASUS digemari oleh semua kalangan. Mulai dari pekerja hingga ibu rumah tangga. Mulai dari pebisnis online hingga content creator. Mulai dari remaja hingga mereka yang sudah tidak lagi muda.
Sebagai bukti, pemilik taglineIn Search of Incredible” ini baru saja dianugerahi Top Brand Award 2018 untuk kategori laptop. Asal tahu saja, itu adalah gelar paling bergengsi bagi produsen yang memasarkan produknya di Indonesia.
Menyabet gelar Top Brand Award tidak mudah. Untuk menentukan produsen terbaik, Majalah Marketing dan Frontier Consulting Group—selaku pemberi penghargaan—melakukan survei secara face-to-face pada konsumen di sebelas kota besar di Indonesia.
Itu membuktikan bahwa sebagian besar konsumen Indonesia memilih merek ASUS ketika mencari laptop. Dengan kata lain, ASUS menjadi top of mind di Indonesia.
“Kami sangat bangga dengan capaian ini. Segala jerih payah dan usaha kami bisa diterima dan menjadi pilihan masyarakat,” ujar Regional Director ASUS South East Asia, Jimmy Lin.
Maka dari itu, sungguh tidak keliru bila kamu mengandalkan ASUS untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Apalagi, baru-baru ini ASUS meluncurkan VivoBook seri terbaru: Ultra A412DA. Laptop yang mendapat julukan The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook.
Penasaran seperti apa rupanya? Makanya, tetap di sini, ya. Jangan pindah laman. Ulasannya akan kusajikan dalam beberapa alinea ke depan.



Vivobook adalah kategori laptop ASUS yang menyajikan tiga ciri utama: ringkas, tipis, dan memiliki performa mumpuni. Sesuai tagline-nya, Vivobook Ultra A412DA adalah jenis Vivobook yang paling ringkas di kelasnya. Untuk saat ini, tidak ada yang lebih ringkas darinya.
Oleh karenanya, laptop yang satu ini cocok digunakan siapa saja. Terutama bagi mereka yang mobilitasnya tinggi. Mereka yang pekerjaannya tidak mengenal ruang dan waktu. Mereka yang kreatif, unik, dan aktif membuat konten. Atau mereka yang mengisi akhir pekannya dengan kegiatan produktif.
Ya, seperti kita semua!
Mengapa? Alasannya sederhana. Orang bermobilitas tinggi perlu didukung oleh laptop yang kompak dan ringkas. Orang seperti ini bisa bekerja di mana saja. Bisa di kafe, co-working space, atau bahkan di dalam pesawat sekalipun.


Ke mana pun mereka pergi, laptop selalu melekat pada diri. Sebab surel bisa masuk kapan saja, begitu pula dengan proyek yang harus dituntaskan sesuai tenggat waktunya. Sudah bukan zamannya membawa laptop besar dan berat. Bukan itu yang kita butuhkan.
Yang kita butuhkan adalah ASUS Vivobook Ultra A412DA, laptop ringan berbobot 1,5 kg dengan bentang layar seluas 14 inch dan tebal sekira 19,9 mm. Sudahlah ringkas, desain bingkainya juga oke punya lantaran mengusung frameless NanoEdge di keempat sisinya. Alhasil, visualisasi terasa luas dan optimal, memudahkan tugas seorang pekerja digital.
Lantas, apakah keringkasan adalah satu-satunya keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA ini? Tentu saja tidak. Ada lima kriteria lain yang menjadikan laptop ini terbaik di kelasnya.



Kecil-kecil cabai rawit. Itulah frasa paling tepat untuk menggambarkan keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA. Kalau ringkas atau tipis saja itu biasa. Jadi luar biasa bila didukung oleh performa yang juga oke punya.
Sejak dulu, ASUS memang begitu. Mereka sangat mengerti apa yang dibutuhkan seorang milenial produktif. Mereka juga paham bahwa sebuah karya besar perlu didukung oleh laptop berperforma gahar.
Adalah prosesor AMD Ryzen 3000 Series, baik Ryzen 3 ataupun Ryzen 5, yang menjadikan performa laptop ini luar biasa. Asal tahu saja, dunia telah mengenal AMD Ryzen sebagai prosesor bertenaga kuda. Sangat kencang dan efisien. Performa naik siginifikan, tetapi konsumsi daya tetap hemat.
AMD Ryzen 3000 Series sendiri adalah generasi ketiga dari daftar prosesor ciptaan Ryzen. Baru masuk di Indonesia pada pertengahan 2019 ini. Tanpa pikir panjang, ASUS langsung membenamkannya pada seri Vivobook Ultra A412DA.


Untuk menunjang performanya, ASUS Vivobook Ultra A412DA dilengkapi memori 4 GB DDR4 2400MHz SDRAM. Bila itu tidak cukup, kamu juga bisa meningkatkannya menjadi 16 GB melalui expansion socket yang tersedia hingga 12 GB.
Kapasitas laptop ini juga terbilang sangat besar. Kamu tidak perlu takut kehabisan space, sebab ASUS Vivobook Ultra A412DA memiliki kapasitas hingga 512GB SSD dan 1TB HDD. Alhasil, menyimpan file kerja berukuran besar tidak lagi menjadi persoalan.
Kualitas koneksi ASUS Vivobook Ultra A412DA juga tidak kalah jempolan. Adalah Wi-Fi 5 dual-band 802.11ac yang menjamin kecepatan akses internet hingga 867Mbps. Dengan koneksi Wi-Fi yang andal, kamu bisa melantaskan kreativitas tanpa batas.
Meski performanya jempolan, daya tahan laptop ini juga mengagumkan. Sebab ASUS Vivobook Ultra A412DA sudah didukung 2-Cell 37 Wh Battery, menjadikannya tahan digunakan seharian penuh. Jadi, kamu tidak perlu takut bilamana charger tertinggal.



Warna bisa menunjukkan ciri dan kepribadian seseorang. Frasa tersebut sangat dipahami ASUS ketika menciptakan Vivobook Ultra A412DA. Tidak hanya satu, ada empat pilihan warna yang bisa kamu pilih sesuai karaktermu.
Kalau kamu adalah orang yang elegan dan formal, ada baiknya kamu memilih warna Transparent Silver atau Slate Grey. Andai kamu orang yang simpel dan tidak ribet, aku menyarankan kamu memilih Peacock Blue. Sebaliknya, kamu yang energik dan ekspresif, pasti cocok dengan Coral Crush.
Apa pun pilihan warnamu, ASUS Vivobook Ultra A412DA akan menjadikan aktivitasmu lebih berwarna. Tidak percaya? Tilik saja gambar di bawah.




Pernah membeli laptop kosongan? Yang tidak memiliki operating system (OS) sama sekali, sehingga kamu perlu memasangnya terlebih dahulu. Bagaimana rasanya? Ribet, kan? Kalau saya, sih, ribet.
Sederhana saja. Kalau beli laptop, maunya langsung bisa digunakan. Buat apa beli mahal kalau OS-nya tidak terpasang sekalian?
Nah, untungnya ASUS mengerti kebutuhan kita. Vivobook Ultra A412DA sudah pre-install dengan Windows 10 asli. Kamu tidak perlu membeli dan memasang Windows lagi. Apalagi yang bajakan. Ah, jangan! Itu namanya pencurian hak intelektual.




Sering lupa password? Selamat. Aku kasih satu kabar gembira. Kalau kamu membeli ASUS Vivobook Ultra A412DA, kamu bisa mengucapkan selamat tinggal pada segala jenis password numerik dan alfabetik. Sekarang, jarimu adalah kata kuncimu.
ASUS Vivobook Ultra A412DA menggunakan teknologi fingerprint sensor. Artinya, kamu cukup menyentuhnya dengan jarimu untuk membuka laptop. Alhasil, laptop ini lebih aman dan praktis. Tidak ada orang lain yang bisa membuka, kecuali kamu sendiri.


Selain itu, laptop ini juga dibekali Windows Hello. Asal tahu saja, Windows Hello adalah sistem otentifikasi terbaik yang dimiliki laptop masa kini. Sistem ini memungkinkan login biometrik, seperti sidik jari dan wajah, untuk melindungi informasi dan data pribadi di laptop dari serangan siber.
Berkat teknologi tersebut, bekerja dengan ASUS Vivobook Ultra A412DA menjadi lebih aman dan menenangkan.




Suka atau tidak, berlama-lama bekerja di depan laptop dapat membuat jari dan lengan pegal-pegal. Bagi pekerja digital, risiko ini cukup mengganggu. Sebab berpotensi menghambat kreativitas dan durabilitas kerja.
Namun, kamu tidak perlu ragu ketika bekerja dengan ASUS Vivobook Ultra A412DA. Pasalnya, keyboard laptop ini didesain secara ergonomis, menghasilkan pengetikan yang lebih akurat, anti-selip, dan yang paling penting tidak membuat jari dan lengan pegal-pegal.
Jarak antartuts pada keyboard diatur secara begitu cermat. Masing-masing tuts berjarak 1,3 mm, memastikan kenyamanan pada saat pengetikan. Sudah begitu, keandalannya juga tidak perlu diragukan sebab masing-masing tuts telah lulus uji 10 juta kali ketik. Masa pakai jadi lebih lama.


Bila itu saja tidak cukup, ASUS Vivobook Ultra A412DA juga mengusung teknologi ErgoLift. Ketika layar dibuka, posisi laptop akan meningkat 2 derajat, sehingga menghasilkan posisi mengetik yang lebih stabil, aman, dan nyaman.
Khusus pada warna Transparent Silver, ASUS Vivobook Ultra A412DA juga dilengkapi dengan NumberPad. Selain menghadirkan kesan yang lebih elegan karena sentuhan LED-illuminated numeric keypad, NumberPad juga sangat berguna bagi kalian yang gemar bermain angka-angka.
***
Nah, itulah lima keunggulan ASUS Vivobook Ultra A412DA yang bisa kurangkum untuk kamu. Bagaimana? Pasti tak sabar untuk memilikinya, dong? Supaya makin yakin, silakan tilik spesifikasi lengkapnya lewat infografis di bawah ini.




Dalam hidup, kita harus pandai-pandai memanfaatkan setiap kesempatan. Menyikapi akhir pekan, misalnya. Hari libur yang hanya dua hari itu nyatanya bisa saya manfaatkan untuk tetap produktif, baik untuk tugas di kantor ataupun kerja sampingan sebagai blogger. Dan, tentu saja sambil liburan. Itu juga penting!
Akan tetapi, kesempatan hanya bisa kita maksimalkan dengan bantuan gawai jempolan. Untuk yang satu ini, saya tidak pernah meragukan kemampuan ASUS. Bersama ASUS, kita bisa menghasilkan jutaan karya besar. Bersama ASUS pula, kita bisa menyalurkan bakat dan mewujudkan ide brilian.


Apalagi kalau punya ASUS Vivobook Ultra A412DA. Bisa saya pastikan, The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook ini akan membuat hari-harimu semakin produktif dan berwarna. Maka dari itu, jangan takut menangkap setiap peluang dan kesempatan. Sebab ada ASUS yang selalu mendukungmu dari depan. [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Vivobook Ultra A412 AMD Wiriting Competition. Tautan artikel ini telah dibagikan pada akun Instagram penulis.
Seluruh gambar yang ditampilkan dalam artikel bersumber dari koleksi pribadi dan ASUS. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.