Cabai. Seakan tak ada habisnya tatkala menyoal tanaman perdu yang satu ini. Meskipun rasanya pedas membara, cabai tetaplah disuka. Saat hidangan sudah tersaji, ia selalu saja dicari-cari. Bahkan ketika harganya membumbung tinggi, sayuran yang satu ini masih saja dibeli. Benar, tidak?
Padahal, jika kita membaca data, harga bahan baku sambal tersebut sebenarnya mirip-mirip dengan roller coaster. Bila kemarin masih terjangkau, besok-besok sudah melambung tinggi. Eh, tak disangka-sangka, bulan depan kembali melorot tajam. Jika dijajarkan dalam bentuk grafik, maka hasilnya akan seperti di bawah ini.
Sayangnya, bila harga cabai naik, ternyata harga barang dan jasa lainnya juga ikut-ikutan naik. Kondisi ini kemudian kita kenal dengan istilah inflasi.
Sederhananya begini. Jikalau harga cabai naik, maka harga makanan yang mengandung cabai juga akan semakin mahal. Mulai dari gorengan, nasi bungkus, siomay, hingga pecel ayam. Nah, saat semua harga pangan meroket, maka ongkos produksi barang nonpangan juga ikut-ikutan terkerek.
Analogi tadi sesungguhnya benar dan tak terbantahkan. Karena BPS mencatat, komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Oktober 2018 adalah cabai merah. Bahkan, andil cabai mengalahkan beras, yang notabene adalah bahan makanan pokok.

Budaya Makan Cabai Mengalahkan Hukum Ekonomi

Sebentar. Bukankah hukum ekonomi mengatakan hal sebaliknya? Jikalau harga naik, maka pembeli akan mencari barang penggantinya? Merica, misalnya. Terlebih, cabai bukanlah makanan pokok. Pedasnya hanya untuk menambah kenikmatan sajian, bukan menuntaskan lapar.
“Tidak semudah itu, Ferguso,” mungkin demikian generasi milenial mengamsalkan.
Bagi penduduk Indonesia, menepikan cabai bukanlah perkara sederhana. Di Manado, misalnya. Tiga tahun bermukim di sana membuat saya sedikit mengerti mengapa cabai bisa mematahkan hukum ekonomi.
Suku Minahasa memang gemar sekali mengonsumsi rica—sebutan lokal untuk cabai. Tiada hari tanpa makan rica. Apa pun santapannya, dabu-dabu dan sambal roa harus tersedia di meja. Mulai dari ikan bakar, tinutuan, nasi kuning, hingga pisang goreng sekali pun, semua dilahapnya dengan cocolan sambal.
Tunggu dulu. Mungkin kita tak perlu jauh-jauh pergi ke Sulawesi Utara. Sebab, daerah lainnya sama saja. Bila tak percaya, mampirlah ke Restoran Padang yang setiap menunya mengandung olahan cabai. Mulai dari rendang, dendeng balado, sampai ayam gulai.
Sambal matah yang sekarang sedang hits itu juga asalnya dari Bali. Bahkan, Abang-abang pecel lele, mie ayam, atau ketoprak yang kerap mangkal di pinggir jalan juga selalu menanyakan hal yang sama saat kita memesan, “Pakai sambal, ga?”
Kebiasaan yang telah mendarah daging inilah yang membuat cabai selalu menjadi primadona. Kita kemudian menyebutnya dengan budaya.

Tantangan Budidaya Cabai

Meski tak pernah sepi permintaan, bukan berarti budidaya cabai nihil tantangan. Menjaga stok cabai tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa faktor yang sering kali memicu terjadinya kelangkaan “si merah” di pasaran.
Pertama, cabai memiliki sifat perishable atau mudah busuk. Layaknya produk pertanian lainnya, cabai harus dikonsumsi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama sejak dipanen. Dengan teknik pengeringan sekali pun, normalnya cabai hanya mampu bertahan selama satu bulan.
Kedua, serangan hama dan virus. Dilansir dari Sipindo, ada tiga musuh utama bagi petani cabai, yakni kutu kebul, patek, dan virus kuning. Kombinasi ketiganya sangat merugikan, karena bukan hanya menyerang tanaman cabai, tetapi juga tanaman lain di sekitarnya.
Ketiga, faktor cuaca. Pasokan air dan sinar matahari yang cukup, sangat krusial bagi kesuksesan budidaya cabai. Pada musim hujan, biasanya pasokan cabai menukik tajam, karena lebih cepat busuk dan rawan terserang hama. Kondisi inilah yang membuat petani cabai merugi dan harga cabai melambung tinggi.
Terakhir, keterbatasan lahan. Dalam laporan bertajuk Statistik Tanaman Sayuran dan Buah-buahan Semusim Indonesia 2017, BPS mencatat luas area panen cabai cenderung stagnan. Padahal, cabai tak pernah sepi peminat. Semakin sempitnya lahan tanam, menyebabkan produksi cabai juga tertahan.

Menilik Manfaat Cabai
Sekarang, mari kita berandai-andai. Anggap saja kita mampu menahan nafsu memakan sambal. Dengan sekian banyak tantangan yang mesti dihadapi, apakah sudah saatnya kita meninggalkan cabai?
Nanti dulu, jangan buru-buru. Sebelum menjawab pertanyaan tadi, mari kita tilik manfaat cabai satu per satu.
Di balik rasa pedasnya, ternyata cabai memiliki kandungan gizi yang sangat kaya. Beberapa di antaranya baik bagi kesehatan tubuh, yakni vitamin A, B6, C, E, K, serta zat besi, kalium, fosfor, dan energi. Oleh karena itu, tak heran apabila cabai berkhasiat untuk mencegah sembilan serangan penyakit berbahaya.
Pertama, menjaga kesehatan jantung. Cabai dapat membuka dan memperlancar aliran darah di dalam arteri jantung, sehingga mencegah terjadinya risiko serangan jantung.
Kedua, menangkal stroke. Cabai memiliki kemampuan untuk membuang kolesterol jahat dari dalam tubuh. Aliran darah di dalam tubuh akan lancar, sehingga mengurangi risiko terjadinya stroke.
Ketiga, mencegah kanker. Zat capcaisin yang dikandung dalam cabai dapat menghambat perkembangan sel kanker. Oleh karenanya, cabai dapat membantu mencegah terjadinya kanker, terutama kanker paru-paru dan pankreas.
Keempat, meredakan sakit kepala. Ketika makan pedas, sering kali kita berkeringat. Nah, kondisi inilah yang bisa meredakan sakit kepala, karena rasa pedas dapat memicu otak untuk menghilangkan rasa nyeri di kepala.
Kelima, melancarkan pencernaan. Cabai dapat menstimulasi sistem pencernaan agar memproduksi enzim dan asam lambung. Sehingga, proses asimiliasi dan eliminasi makanan di dalam tubuh akan semakin lancar.
Keenam, zat anti inflamasi. Cabai merupakan obat herbal anti inflamasi yang baik bagi penderita penyakit gula darah, arthritis, psoriasis, dan kerusakan syaraf.
Ketujuh, melawan jamur. Kandungan zat capcaisin yang dimiliki oleh cabai, diketahui dapat membantu mengurangi jamur pada kulit. Oleh karena itu, cabai sangat baik dikonsumsi bagi penderita penyakit gatal-gatal kulit.
Kedelapan, menurunkan berat badan. Keringat yang kita keluarkan tatkala mengonsumsi makanan pedas, ternyata mengandung lemak. Ini berkat zat capcaisin yang bertugas membakar lemak dari dalam tubuh. Alhasil, berat badan tubuh akan berkurang.
Terakhir, mempercepat pertumbuhan rambut. Kebotakan salah satunya ditimbulkan akibat sirkulasi udara yang kurang baik di kulit kepala. Dengan mengonsumsi cabai, maka sirkulasi udara di kulit kepala menjadi lancar, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan rambut dan mencegah terjadinya kebotakan.
Bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan, cabai juga memiliki andil yang cukup besar dalam perekonomian. Seperti dilansir BPS, nilai ekspor cabai sepanjang tahun 2017 mencapai 630,29 ribu Dollar AS. Jumlah tersebut meningkat 6,24 persen dibandingkan dengan tahun 2016, yang tercatat sebesar 593,26 ribu Dollar AS.
Membaca data di atas, tentu kita merasa berbesar diri. Cabai lokal bukan hanya sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditi kebanggaan bangsa yang mampu menghasilkan pundi-pundi devisa.
Tidak berhenti sampai di sana, produk olahan cabai juga menjadi warisan budaya. Untuk yang satu ini, kita patut berbangga. Karena hingga detik ini, kita telah memiliki lebih dari 322 jenis sambal tradisional yang tersebar di seluruh Nusantara. Tidak ada satu pun olahan bahan pangan di dunia ini yang memiliki varian sebanyak cabai. Hebat, kan?
Sekarang, mari kita kembali ke pertanyaan semula. Jika baik untuk kesehatan, dahsyat untuk perekonomian, dan menjadi produk yang paling membanggakan, sudikah kita meninggalkan cabai sebagai bahan pangan?

Kisah Inspiratif Atasi Masalah Cabai

Setiap masalah pasti ada solusi. Begitu pula dengan permasalahan cabai yang mendera dua sisi, baik pembeli maupun petani. Oleh karena itu, ada baiknya kita tengok kisah inspiratif dari seorang wanita bernama Mahariah.
Ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai pegiat lingkungan ini, bermukim di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Tinggal di daerah lepas pantai sering kali membuatnya kesulitan dalam memperoleh buah dan sayuran, termasuk cabai.
Jikalau ada, harganya pun terbilang luar biasa. Ongkos angkutlah yang menjadi kausanya. Sebab, para pedagang harus mendatangkannya langsung dari Jakarta. Melawan deru ombak selama 3 jam, hanya dengan menggunakan perahu kayu sederhana.
Kondisi demikian tidak membuat Mahariah kehilangan akal. Bersama ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam komunitas Rumah Hijau, mereka kemudian menginisiasi gerakan menanam buah dan sayuran dengan metode hidroponik di pekarangan rumah sejak tahun 2015.
Bukan hanya cabai, berbagai jenis buah dan sayuran lainnya juga ditanam secara hidroponik. Beberapa di antaranya adalah pakcoy, kangkung, terong, jeruk, kelengkeng, dan lengkuas.
Mahariah berharap, gerakan ini dapat menjadikan warga di Pulau Seribu bisa memenuhi kebutuhan gizi sayur dan buahnya secara mandiri. Tidak lagi bergantung pada suplai dari Jakarta yang kerap membebani ongkos belanja.
Hingga saat ini, metode tanam hidropronik yang dimotori oleh Rumah Hijau sudah diikuti oleh lebih dari 40 kepala keluarga. Tidak hanya dari Pulau Pramuka saja, tetapi juga pulau-pulau di sekitarnya.

Cap Panah Merah Membawa Banyak Berkah

Bila kisah Mahariah dapat memecahkan masalah cabai dari sisi pembeli, maka kita pun harus memiliki solusi untuk para petani. Untuk menjaga kontinuitas produksi cabai, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, penggunaan benih unggul. Mengingat cabai merupakan tanaman yang rentan terserang hama dan virus, maka benih unggul haruslah menjadi modal utama bagi petani cabai.
Oleh karena itu, petani dapat memilih benih cabai keriting hibrida varietas LABA F1 yang diproduksi oleh Cap Panah Merah. Benih jenis ini tahan terhadap serangan jamur dan bakteri penyebab penyakit. Di antaranya adalah jamur Phytopthora capsici penyebab busuk akar dan bakteri Ralstonia solanacearum penyebab layu bakteri.
Penyakit layu pada tanaman cabai sendiri, dikenal sebagai momok paling menakutkan di kalangan petani. Sebab, tingkat kematian tanaman cabai akibat jenis penyakit ini sangat tinggi, yakni mencapai 70 persen.
Selain memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan penyakit, keunggulan benih LABA F1 buatan Cap Panah Merah lainnya adalah tahan terhadap cuaca kering. Meski ditanam pada musim panas berkepanjangan, tanaman cabai masih mampu berproduksi secara optimal.
Selain benih cabai kering varietas LABA F1, produk dagang milik PT East West Seed Indonesia (Ewindo) ini juga menyediakan 23 jenis benih cabai F1 berkualitas lainnya. Mulai dari LENTUR, BAJA, KRIDA, MONCER, PILAR, hingga DEWATA.
Masing-masing benih memiliki karakteristik sendiri. Sehingga memberi keleluasaan bagi para petani dalam memilih benih yang cocok, sesuai dengan waktu penanaman dan kondisi lahannya. Dengan demikian, pasokan cabai di pasaran akan tetap terjaga sepanjang waktu.
O ya, ada satu lagi. Perusahaan benih terpadu pertama di Indonesia ini juga menyediakan benih sayuran unggul lainnya. Di antaranya adalah bayam, wortel, kubis, jagung, caisim, kangkung, selada, dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya, kalian dapat melihat gambar di bawah ini.
Kedua, mengatasi kesenjangan informasi. Sudah menjadi stigma sejak dahulu bahwa akses petani terhadap informasi sangatlah terbatas. Baik informasi teknik budidaya yang baik, maupun informasi harga jual di pasaran.
Nah, untuk memerangi kesenjangan informasi tersebut, Ewindo telah meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Pertanian Indonesia, atau Sipindo. Berbagai informasi tentang sayur dan buah dapat diakses petani hanya dengan sentuhan jari.
Untuk meningkatkan kualitas teknik budidaya petani sayur, Sipindo memiliki tiga fitur, yakni artikel seputar pertanian, tips urban farming, dan cara bercocok tanam yang baik. Dari menu-menu tadi, para petani cabai dapat mempelajari cara menanam cabai dan mengendalikan hama. Contohnya seperti infografik cara budidaya cabai rawit di bawah ini.
Sipindo juga memiliki berbagai fitur yang dapat mengatasi kesenjangan harga jual sayuran di pasaran. Ini dapat ditemui pada menu rencana penanaman, jual beli sayuran, hingga cek harga jual sayuran di pasar.
Fitur harga jual sayuran misalnya, dapat disesuaikan dengan lokasi tanam petani. Dengan memanfaatkan fitur ini, petani dapat mengendalikan biaya produksi untuk mengoptimalkan harga jual di pasaran. Alhasil, suplai cabai terjaga, petani pun makin sejahtera.

Kesimpulan

Pedas lagi nikmat. Seperti rasanya, begitulah dua sisi kondisi cabai di Indonesia. Pedas, sebab bila salah takar, cabai bisa membuat petani terjepit rugi dan konsumen menjerit karena harga melambung tinggi.
Sebaliknya bila takarannya pas, cabai bisa membawa banyak kenikmatan. Tidak hanya baik bagi kesehatan, akan tetapi juga mampu menggerakkan roda pekonomian dan melestarikan warisan budaya kuliner lokal.
Namun sepedas-pedasnya rasa cabai, kita harus tetap optimis. Kisah Mahariah sebagai konsumen cerdas dan upaya Ewindo dalam memajukan petani, dapat dijadikan contoh bagi kita untuk memadamkan pedasnya cabai.
Karena biar bagaimana pun, bukankah kita tetap rindu akan cabai rawit saat menggigit gorengan? Bukankah kita tetap mencari sesendok sambal saat memesan mie ayam? Dan, bukankah kita juga masih ingin mencocol saus tatkala menyantap ayam goreng di restoran?
Lantas, apa jawaban saya untuk judul artikel ini? Tanpa ragu saya pasti menjawab: mengonsumsi cabai sangatlah penting untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Jadi, yuk kita makan cabai ramai-ramai!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Berbagi Informasi Nutrisi (BION)” yang diselenggarakan oleh Cap Panah Merah.

Sumber Referensi:
No.
Judul/Perihal
Sumber/Tautan
1.
Wow, Ternyata Ada 322 Jenis Sambal di Indonesia
https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kuliner/1034315-wow-ternyata-ada-322-jenis-sambal-di-indonesia
2.
Analisis Perkembangan Harga Bahan Pangan Pokok di Pasar Domestik dan Internasional edisi Oktober 2018
http://bppp.kemendag.go.id/analisis_perkembangan_harga
3.
Statistik Tanaman Sayuran dan Buahbuahan Semusim Indonesia 2017
https://www.bps.go.id/publication/2018/10/05/bbd90b867a6ee372e7f51c43/statistik-tanaman-sayuran-dan-buah---buahan-semusim-indonesia-2017.html
4.
Kandungan Gizi dan Manfaat Cabai (Cabe)
http://informasitips.com/kandungan-gizi-dan-manfaat-cabai-cabe
5.
Di Balik Pedasnya Cabai Rawit
Artikel dari Aplikasi Sipindo
6.
Cap Panah Merah Luncurkan Varietas Cabai Tahan Kekeringan
http://www.panahmerah.id/news/cap-panah-merah-luncurkan-varietas-cabai-tahan-kekeringan


Senyum Andi kembali semringah. Pagi itu, ia bahagia menatap notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Warnanya hijau tua. Artinya, kesehatan diri dan keluarganya berada dalam kondisi prima.
Sebagai kepala keluarga, tentu saja ia riang gembira. Kesehatan istri dan dua anaknya adalah yang utama. Ia sangat bersyukur. Hidupnya benar-benar berubah sejak pemerintah kota memasang sensor sanitasi pintar di kediamannya.
Setiap hari, pusat kendali data di tengah kota mengirim berbagai indikator kesehatan keluarganya lewat aplikasi. Ia bisa mengaksesnya kapan dan di mana saja. Tanpa perlu datang ke dokter, ia bisa memantau kesehatan istri dan buah hatinya.
Tak hanya itu, ia juga dapat melakukan upaya preventif bilamana indikatornya berubah warna menjadi kuning atau merah muda. Kuning untuk siaga, merah muda untuk waspada.
Artinya, ada potensi penyakit yang menyerang anggota keluarganya. Secepat kilat, ia bisa memesan obat yang tepat di apotek atau mengunjungi dokter dekat rumahnya.
Bekerja mencari nafkah untuk keluarga, kini bisa dilakukannya dengan hati lega.



~
Seperti Andi, teknologi sensor sanitasi pintar juga mengubah hidup Dewi. Sebagai seorang data scientist di Rumah Sakit Koja, tugasnya kini sangat ringan. Setiap petang, ia hanya perlu mengunduh hasil analisis data kesehatan warga yang dikirim oleh command center ke layar dashboard laptop-nya.
Data tersebut menyajikan berbagai indikator kesehatan dan pola penyakit yang berpotensi diderita oleh warga Jakarta Utara. Sekaligus daftar rekomendasi obat-obatan dan dokter spesialis yang sesuai dengan patron data hasil olahan komputer artificial inteligence.
Kini, tak ada lagi keraguan dalam benaknya. Ia bisa mengatur persediaan obat-obatan di apotek dan jadwal praktek dokter dengan tepat. Tak ada lagi cerita kehabisan obat atau ketiadaan dokter ahli yang dapat mengganggu kenyamanan pasien dalam berobat.



~
Mata Bambang berkilat-kilat melihat layar monitor yang berkedip-kedip di hadapannya. Meski malam telah pekat, semangat menegakkan hukum seketika membuncah dari pelipis kepala. Sebagai Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan, ia segera mengumpulkan jajarannya dengan penuh wibawa.
Indikator merah di layar monitor menjadi penyebabnya. Artinya, ada potensi penyalahgunaan narkoba di wilayahnya. Dari titik lokasinya, ia bisa menduga bahwa sebuah kafe di daerah Kemang yang menjadi sumber masalahnya.
Sama seperti Andi dan Dewi, teknologi sensor sanitasi pintar yang dipasang di sejumlah fasilitas umum telah menjadikan tugas Bambang lebih terarah. Bila layar monitor berubah menjadi merah, maka dapat dipastikan bahwa seseorang telah mengonsumsi narkoba.
Diiringi deru sirene, ia pun segera meluncur ke lokasi demi menyelamatkan generasi bangsa.


Jakarta Nelangsa

Seperti yang kalian duga, ketiga cerita di atas hanyalah imajinasi saya belaka. Tapi, jangan dulu dihina. Berilah saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Siapa tahu berguna. Boleh, ya?
Sebagai seorang pekerja yang tinggal di Jakarta, saya merasa prihatin dan nelangsa ketika membaca data kesehatan. Polusi udara dan padatnya penduduk nampaknya membuat ibukota semakin tak layak huni. Pasalnya, semakin banyak penyakit yang datang menghinggapi warganya.
Adalah Laporan Profil Kesehatan DKI Jakarta terbaru keluaran Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang menjadi acuannya. Ambil saja Tuberkolusis (TB) paru sebagai contohnya. Tingkat kesembuhan penyakit jenis tersebut merosot, dari semula 80,59% pada tahun 2016 menjadi 77,26% pada tahun 2017.
Infeksi saluran pernapasan, seperti TB, memang menjadi momok bagi Jakarta. Hingga kuartal ketiga tahun ini, Dinas Kesehatan mencatat sudah ada 137.621 kasus. Tertinggi pertama setelah penyakit darah tinggi yang menyerang warga Jakarta sebanyak 172.163 kali.
Belumlah selesai masalah penyakit, generasi muda Jakarta juga terancam narkoba. Barang haram ini yang membuat kita berulang kali harus mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Sebab, ada 50 orang meninggal setiap harinya karena penyalahgunaan narkoba.
Darurat narkoba juga terbukti dari data. Dilansir dari detikcom, Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto mengungkapkan bahwa terdapat 3.213 kasus narkoba yang terjadi di sepanjang bulan September 2018. Dari jumlah tersebut, Jakarta menempati peringkat pertama dengan 169 kasus, disusul dengan Sumatera Utara (126 kasus) dan Jawa Timur (81 kasus).

Sensor Sanitasi

Pada era digital seperti sekarang, pemanfaatan teknologi acapkali menjadi solusi atas berbagai permasalahan kota. Tidak terkecuali dengan perkara kesehatan dan narkoba seperti yang dialami Jakarta. Asalkan mau berimajinasi, bukan tidak mungkin dua masalah akut tersebut bisa lenyap tak bersisa.
Sejak beberapa tahun lalu, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Amerika Serikat (AS), tengah menyelesaikan sebuah proyek yang dinamakan Underworlds. Penelitian berbiaya 4 juta Dollar AS itu bertujuan untuk mempelajari pola kesehatan manusia lewat saluran sanitasi.
Urin dan feses yang kita buang begitu saja, ternyata merupakan sumber informasi yang sangat kaya. Berbagai spesies bakteri, virus, mikroba, dan zat-zat kimia yang dikandungnya, dapat dijadikan data untuk mendeteksi berbagai macam penyakit dan gangguan kesehatan.
Nah, sensor pintar yang tengah dikembangkan untuk meneliti sanitasi manusia tersebut dinamakan Luigi. Alat ini bertugas mengambil sejumlah sampel kotoran manusia dari saluran sanitasi, serta mengirimnya ke pusat kendali data.
Berbekal teknologi kecerdasan buatan yang menjadi “otak” Luigi, mereka yakin dalam beberapa tahun ke depan, sensor berkuran mungil itu bisa menghasilkan data yang sangat berguna untuk memonitor kesehatan dan mengambil kebijakan, serta mendukung terciptanya Kota Cerdas.
Untuk lebih jelasnya, mari kita tonton video liputan The Economist di bawah ini.

Memanfaatkan Teknologi

Sekarang, mari kita berandai-andai. Jikalau Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia dapat memanfaatkan teknologi sensor sanitasi, maka masalah kesehatan dan narkoba, menurut saya, bisa tuntas.

Saya membayangkan sensor sanitasi pintar tersebut dipasang di setiap saluran pembuangan hunian, baik rumah apartemen, dan hotel. Tidak lupa, juga diinstal di saluran pembuangan fasilitas umum, seperti kafe dan pusat perbelanjaan.
Data yang terkumpul, kemudian dikirim ke pusat kendali data lewat teknologi awan (cloud technology), dan diolah lebih lanjut menjadi berbagai informasi yang berharga. Informasi ini kemudian bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak sesuai kebutuhannya.
Pertama, bagi warga. Setiap warga dapat memantau kondisi kesehatannya lewat aplikasi ponsel yang terhubung dengan pusat kendali data, seperti cerita Andi di atas. Ibarat tes urin, warga bisa mengetahui gejala penyakit yang dideteksi dari air seni. Seperti gangguan ginjal, demam, nyeri pinggang, kerusakan otot, gula darah, hati, dan lain-lain. Tanpa perlu repot-repot datang ke dokter!
Bagi wanita, sensor sanitasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi kehamilan secara dini. Tanpa perlu membeli test-pack, kabar gembira bisa segera disampaikan kepada suami.
Kedua, bagi fasilitas kesehatan. Seperti cerita Dewi, fasilitas kesehatan—seperti rumah sakit, klinik, posyandu, dan apotek—dapat memanfaatkan informasi dari sensor sanitasi untuk kepentingan penyediaan obat-obatan dan tenaga medis yang lebih tepat.
Jika musimnya sakit flu, maka obatnya flu. Jika sedang wabah demam berdarah, maka obat demam berdarah pula yang akan distok. Tidak keliru apalagi tertukar. Dengan demikian, penanganan pasien akan lebih efektif dan rasio harapan sembuh akan membaik.
Ketiga, bagi aparat penegak hukum. Sepenggal kisah Bambang di atas menjadi contohnya. Sensor sanitasi bisa mendeteksi secara dini saat terjadi penyalahgunaan narkoba. Di mana pun pengguna berada, maka lokasinya dapat diketahui dengan serta-merta.
Sensor sanitasi pintar dapat mengetahui sekresi manusia yang mengandung zat berbahaya, seperti opiate/opioid, benzodiazepine, barbiturate, phencyclidine, ganja, metamphetamine, amphetamine, kokain, dan lain-lain.
Dengan demikian, upaya penegakkan hukum dalam memberantas barang haram tersebut menjadi lebih terukur dan terarah. Ujung-ujungnya, cita-cita menjadi kota bebas dari narkoba bisa kita amini bersama.
Terakhir, bagi pemerintah. Informasi yang dihasilkan pusat kendali data dapat digunakan untuk memantau kesehatan warga. Tentu saja digunakan sebagai acuan pengambilan kebijakan, agar makin tepat sasaran.


Bila pemanfaatan sensor sanitasi sudah terintegrasi dalam sebuah kerangka Smart City seperti imajinasi tadi, tentu banyak manfaat yang bisa dihadirkan. Seperti yang dikatakan Albert Einstein, “Imajinasi adalah segalanya. Ia adalah pratinjau dari kehidupan di masa depan.”
Pertanyaannya, apakah kita merasa cukup dengan berimajinasi saja? Tentu tidak.
Oleh karena itu, mari bersama lakukan aksi nyata untuk mendukung pengembangan Kota Cerdas dalam menangkap potensi dan memecahkan masalah di kotamu. Ini ideku, mana punyamu?
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Ini Kota Cerdasku!” yang diselenggarakan oleh Majalah Info Komputer.



Referensi: Profil Kesehatan DKI Jakarta 2017, Detik.com, dan The Economist.





Lika-liku kehidupan memang tak pernah bisa diduga. Meski sudah direncanakan dengan baik, terkadang ada-ada saja kebutuhan yang datang secara tiba-tiba. Tak jarang, berbagai kebutuhan tersebut membutuhkan dana yang harus tersedia dalam sekejap mata.
Misalnya ketika ada anggota keluarga yang mendadak jatuh sakit. Atau saat mobil yang kita kendarai tiba-tiba mengalami kerusakan akibat ditabrak pengendara lain. Maupun tatkala tertimpa musibah bencana alam.
Apabila dana tabungan tidak mencukupi untuk menanggung biaya kejadian tadi, maka meminjam uang kepada lembaga keuangan—seperti bank dan perusahaan pembiayaan—merupakan solusi yang ideal. Dan untuk urusan mendadak seperti ini, fasilitas Kredit Tanpa Agunan (KTA) sangat menarik untuk kita jadikan pilihan.
Sayangnya, mendapat fasilitas Kredit Tanpa Agunan dari bank tidaklah mudah. Selain persyaratan yang berbelit, prosesnya juga terkadang memakan waktu yang lama karena kita harus langsung datang ke kantor cabang terdekat.
Belum lagi jika kita ingin memperoleh tingkat suku bunga terbaik, dengan cara membandingkan antara bank yang satu dengan yang lain. Sudah barang tentu prosesnya semakin bertambah kompleks. Karena paling tidak kita harus membuka website resmi atau menghubungi call center bank satu per satu. 
Nah, untungnya kini sudah ada Disitu. Sebuah financial marketplace berbasis internet yang memudahkan kita dalam mencari Kredit Tanpa Agunan dari perbankan terbaik di Indonesia.
Cukup dengan mengunjungi website Disitu, maka kalian bisa membandingkan dan mengajukan Kredit Tanpa Agunan tanpa harus datang ke kantor cabang bank. Mudah, bukan? Mari kita berkenalan.

Apa itu Disitu?

Disitu adalah sebuah situs yang menghubungkan antara Pihak yang membutuhkan pinjaman uang dengan berbagai institusi penyedia jasa keuangan, baik bank, perusahaan pembiayaan, maupun perusahaan asuransi.
Pendukung pasar keuangan besutan PT Gapura Data Kreasi ini akan membantu kalian dalam menemukan pinjaman uang terbaik untuk berbagai kebutuhan. Baik fasilitas Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multi Guna, maupun Kredit Konsumtif lainnya.
Disitu telah bermitra dengan berbagai bank, perusahaan pembiayaan, dan perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Oleh karenanya, kalian bisa dengan mudah mencari, membandingkan, dan mengajukan produk keuangan yang disediakan oleh berbagai institusi keuangan tersebut.

Apa Saja Produk Keuangan yang Tersedia?

Ada empat produk keuangan yang disediakan Disitu, yakni Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multiguna, Kredit Konsumen, dan Asuransi.


1.      Kredit Tanpa Agunan
Sesuai namanya, Kredit Tanpa Agunan merupakan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya, tanpa persyaratan agunan. Hingga saat ini, ada enam bank yang telah menjalin kerjasama dengan Disitu, yakni Commonwealth Bank, DBS, CTBC, Permata Bank, Amar Bank, dan Standard Chartered Bank.
2.     Kredit Multiguna
Kredit Multiguna adalah fasilitas kredit yang diberikan oleh perusahaan pembiayaan kepada nasabahnya, dengan syarat menjaminkan dokumen kepemilikan aset, seperti BPKB Sepeda Motor, BPKB Mobil, atau Sertifikat Rumah.
3.     Kredit Konsumen
Kredit Konsumen adalah fasilitas kredit yang digunakan untuk membiayai pembelian kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Yang menarik, Disitu tidak hanya menyediakan informasi Kredit Konsumen untuk pembelian kendaraan baru saja, namun juga kendaraan bekas.
4.     Asuransi
Tidak hanya fasilitas pinjaman uang, Disitu juga menyediakan informasi mengenai produk asuransi mobil. Berbagai perusahaan asuransi yang telah menjadi mitra kerja Disitu adalah ACA, Asuransi Bintang, Adira Insurance, dan AXA.


Bagaimana Cara Mengajukan Kredit Tanpa Agunan?

Tak perlu repot-repot datang ke kantor cabang bank, cukup melakukan 3 langkah mudah untuk mengajukan Kredit Tanpa Agunan lewat Disitu.


1.      Ajukan
Daftarkan data diri kalian melalui website Disitu, yakni nama, nomor telepon, alamat email, dan tanda identitas. Kalian juga bisa mendaftarkan diri dengan menggunakan akun Google atau Facebook. Setelah mengisi data diri dengan lengkap, barulah kalian bisa mengajukan pinjaman.
2.     Pilih
Pilihlah produk Kredit Tanpa Agunan dari berbagai bank yang bekerja sama dengan Disitu. Untuk memudahkan kalian dalam memilih, Disitu juga menyediakan fitur Bandingkan yang berfungsi membandingkan produk Kredit Tanpa Agunan satu bank dengan lainnya.
3.     Cair
Setelah proses verifikasi selesai, dana pinjaman akan ditransfer ke rekening kalian.
Nah, untuk lebih jelasnya kalian bisa tonton videonya di bawah ini.




Apa Saja Keunggulan Disitu?

Sebagai financial marketplace yang terpercaya, setidaknya ada sembilan keunggulan yang dimiliki oleh Disitu, yakni:



1.      Kapan dan Dimana Saja
Setiap rangkaian proses pengajuan pinjaman uang, dilakukan melalui situs Disitu. Asalkan terhubung dengan jaringan internet, maka kalian bisa mengajukan pinjaman kapanpun dan dimanapun.
2.     Mudah dan Sederhana
Kita tidak perlu mengisi formulir yang ribet dan membingungkan seperti datang ke bank. Cukup dengan mengisi data diri lewat Disitu, maka kita bisa mengajukan Pinjaman Uang.
3.     Hemat Waktu
Melalui situs Disitu, kalian bisa dengan mudah membandingkan secara langsung antara produk keuangan bank yang satu dengan yang lainnya, sehingga bisa menghemat waktu kalian.
4.     Kepastian
Setiap rincian informasi produk keuangan yang ditampilkan oleh Disitu—misalnya plafon pinjaman, suku bunga, jangka waktu, dan sebagainya—adalah mencerminkan informasi yang sebenarnya yang diperoleh secara real time dari bank.
5.     Jaminan Keamanan Data
Data yang disimpan oleh Disitu aman dan tidak akan disebarluaskan kepada pihak manapun yang tidak berwenang.
6.     Fitur Melacak Pengajuan
Disitu memiliki fitur pengecekan, sehingga kalian bisa melacak sejauh mana pengajuan pinjaman kalian diproses oleh bank.
7.     Terdaftar di Bank Indonesia
PT Gapura Data Kreasi telah terdaftar di Bank Indonesia sebagai Penyelenggara Teknologi Finansial dengan jenis Pendukung Pasar. Untuk mengeceknya, kalian bisa lihat di sini.
8.     Tersedia Fasilitas Keuangan Syariah
Disitu juga telah bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan yang menerapkan prinsip-prinsip Syariah, seperti Alif Finance (PT Al Ijarah Indonesia Finance). Produk keuangan syariah yang ditawarkannya antara lain Ijarah Muntahia Bittamlik (Sewa dan Beli) dan Murabahah (Jual dan Beli).
9.     Berbagai Promo Menarik
Disitu juga memberikan berbagai promo yang menarik untuk kalian. Contohnya seperti saat ini, yaitu Diskon DP hingga Rp1.500.000 untuk Pembelian Kredit Motor Honda Favorit, Diskon DP hingga Rp1.500.000 untuk Pembelian Motor Honda Sport, dan Diskon 25% untuk Pembelian Asuransi Mobil. Menarik, bukan?



Kesimpulan

Kini, kalian tidak perlu khawatir mencari pinjaman uang untuk memenuhi kebutuhan yang datang secara tiba-tiba. Karena Disitu telah menyediakan semuanya. Mulai dari Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multiguna, Kredit Konsumtif, hingga Produk Asuransi.
Bekerja sama dengan puluhan institusi keuangan terbaik di Indonesia, Disitu mampu menjadikan kita “Raja” dalam memilih produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan kita tanpa perlu datang ke kantor.
Prosedurnya mudah, informasinya akurat dan real time, ada fitur perbandingannya, serta mampu diakses kapan saja. Cocok bagi generasi milenial yang mendambakan layanan yang serba mudah dan cepat.
Jadi, tunggu apa lagi? Mencari Kredit Tanpa Agunan tanpa perlu datang ke bank? Ya, Disitu aja!
***