Navigation Menu

featured Slider

Featured Posts!

Lomba Blog Exabytes

Random Post

Kebutuhan Pokok itu Bebas Asap Rokok, Bukan Rokok!







Baru-baru ini oknum Ketua RT di Kampung Pulo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, dilabrak oleh warganya sendiri lantaran meminta jatah uang rokok dari dana bantuan langsung tunai (BLT).

Warga geram karena uang sebesar Rp600 ribu per bulan yang semestinya mereka terima untuk menyambung nyawa selama pandemi korona, malah disunat oleh tetuanya sendiri dengan dalih ingin sebat.

Sudahlah berdosa, cepat mati pula. Ada-ada saja.


*** 

Kabar menggelikan sekaligus menyedihkan itu diunggah Detik pada Sabtu, 2 Mei 2020 lalu. Saya sebut menggelikan karena rupanya masih ada saja pengayom masyarakat yang berperilaku jahat meskipun paham betul nasib warganya tengah melarat.

Saya merasa geli lantaran kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam sesi #CloseTheDoor Corbuzier Podcast, pandemi korona itu ibarat peperangan atau pertempuran. Dalam situasi menegangkan, bagaimana mungkin seorang pemimpin yang tugasnya pasang badan malah tega berganti jubah menjadi seorang lawan?

Atau jangan-jangan, oknum Ketua RT Kampung Pulo sedang lelah dirundung pusing melihat warganya yang bersikap ogah-ogahan saat diminta menerapkan protokol kesehatan. Daripada pening, mending ngudud sekalian. Dua kalimat tadi jangan diambil hati, Kawan! Guyon saja.

Meski begitu, berita di atas juga terdengar begitu menyedihkan. Betapa tidak? Saya sedih melihat fakta bahwa ternyata kebutuhan pokok kita adalah rokok. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang pemuka kampung mengorupsi duit rakyat jelata hanya demi menyulut batang asap?

Yah, memang seperti itulah elegi bangsa kita. Hanya karena urusan sebat sampai tega mengambil hak warga yang sedang tertimpa derita. Apa pun kausanya, rokok atau bukan, hukum perlu ditegakkan dengan seadil-adilnya.




Sekarang, mari kita berandai-andai atau menduga-duga. Jika dana BLT diterima warga secara penuh atau utuh, apakah pasti digunakan untuk membeli kebutuhan pokok atau obat-obatan dalam rangka menjaga kesehatan tubuh? Sayang sekali, jawabannya tidak.

Fakta miris itu diungkap oleh Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, Mukhaer Pakkana, seperti dikutip Okezone (24/08). Menurut Mukhaer, masih banyak dana BLT, terutama yang diterima oleh kepala rumah tangga, digunakan untuk mengonsumsi rokok.

Bukannya membeli beras, susu, atau popok, eh, malah dibelikan rokok. Sudah susah-payah dibantu, uangnya malah digunakan untuk meracuni paru-paru. Ajaib, kan?

Fenomena ini, kata Mukhaer lagi, berkaitan erat dengan fakta bahwa 70 persen perokok di Indonesia berasal dari barisan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Bagi mereka, makan nomor dua, udud nomor satu. Ini jelas keliru!

Senada dengan riset Mukhaer, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengungkap hal yang sama. Dalam rilis BPS bertajuk Profil Kemiskinan di Indonesia edisi Maret 2020, disebutkan bahwa rokok kretek filter menjadi penyumbang garis kemiskinan tertinggi setelah beras.

Kalau beras, kita mafhum. Kawan saya pernah berseloroh, katanya, kalau belum makan nasi sama saja belum makan. Saya paham. Karena saya juga begitu.

Tapi kalau rokok? Ini yang membuat saya geleng-geleng kepala.




Di perdesaan, masih kata BPS, kontribusi rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan mencapai 10,98 persen. Sedangkan di perkotaan, sumbangsihnya lebih besar lagi, yakni sekisar 12,16 persen.

Apa artinya? Jika ada sepuluh orang warga berpenghasilan rendah menghentikan kebiasaan merokoknya, maka dapat dipastikan ada satu atau dua orang di antara mereka yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Hanya saja, tampaknya saudara kita lebih betah hidup di bawah garis kemiskinan, asalkan tetap merokok. Padahal, pada tiap-tiap bungkus rokok sudah terpampang kalimat mengerikan: merokok membunuhmu.

Kalimat tadi bukan dipasang secara kebetulan atau asal-asalan. Kata-kata itu dilekatkan dengan tujuan memberi peringatan kepada perokok bahwa produk olahan tembakau itu sesungguhnya mematikan. Lebih mematikan ketimbang virus korona, bahkan!

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkap sekitar 90 persen penyakit kanker paru disebabkan oleh paparan asap rokok. Mula-mula batuk-batuk, lama-lama sesak napas akut. Mula-mula serak-serak, lama-lama mati mendadak.

Peluang sembuh dari kanker paru juga sangat tipis, Kawan! Kata IDI lagi, hanya ada satu dari lima penderita kanker paru yang sembuh dan bertahan hidup. Sementara sisanya terpaksa menjumpai batu nisan lebih cepat dari kebanyakan orang.

Kalaulah fakta di atas belum juga membuatmu jera, coba baca kalimat di bawah pelan-pelan:

Setiap tahun ada 225.700 orang Indonesia yang mati sia-sia gara-gara merokok. Andakah berikutnya?

Kalimat yang disampaikan World Health Organization (WHO) pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2020 lalu, mungkin perlu dilekatkan juga pada bungkus rokok. Termasuk nomor urutnya sekalian. Supaya perokok kapok, atau minimal, tidak mempengaruhi orang lain untuk merokok dan mengembuskan asap rokok sembarangan.




Namun sebelum itu, seyogianya kita pahami terlebih dahulu, faktor apa yang menyebabkan perokok sulit menghentikan kebiasaan buruknya. Bahkan sampai rela mengorbankan kebutuhan pokoknya hanya demi mengulum batang rokok.

Dari sana, barulah kita bisa menentukan langkah, solusi dan upaya apa yang tepat dan cepat untuk mencegah bahaya merokok.


Mengapa Rokok Bisa Mengalahkan Bahan Pokok?

“Faktor yang utama adalah harga. Biaya membeli sebatang rokok lebih murah ketimbang sebungkus mi instan.”

Pernyataan itu dilontarkan oleh peneliti Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Nurul Nadia Luntungan, dalam talkshow Ruang Publik KBR bertema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok” pada 26 Agustus 2020.

Itulah mengapa, lanjut Nurul, perokok beranggapan, daripada menyantap mi instan, lebih baik mengisap rokok. Selain itu, zat adiktif dalam rokok juga bisa memberikan efek kenyang sesaat, sehingga perokok lebih tahan lapar ketimbang mereka yang tidak merokok.




Faktor kedua, yang menurut Nurul tidak kalah penting, ialah lingkungan. Fakta mengatakan, tujuh dari sepuluh pria dewasa di Indonesia adalah perokok. Artinya, laki-laki yang tidak merokok bisa dikategorikan sebagai kaum minoritas. Cadas!

Pengalaman Nurul membuktikan, tantangan terbesar bagi perokok insaf yang tengah berupaya berhenti merokok adalah godaan. Keluar rumah, lihat orang merokok. Pergi ke kantor, bertemu orang merokok. Rokok lagi, rokok lagi.

Lingkungan seperti itu, kata Nurul, adalah lingkungan toxic. Dengan kata lain, lingkungan beracun yang sangat tidak bersahabat bagi mereka yang tengah melepaskan diri dari jerat candu rokok.

Faktor terakhir adalah penetrasi iklan. Meski sekarang sudah jauh berkurang, dalam kerak-kerak ingatan kita masih terngiang betapa jantannya sosok pemeran bintang iklan rokok tempo dulu.

Itu sebabnya, hingga saat ini rokok masih diasosiasikan banyak orang sebagai produk jempolan yang melambangkan maskulinitas pria dewasa. Anggapan ini sebenarnya salah kaprah jika bercermin pada fakta begitu banyak jenis penyakit yang ditimbulkan asap rokok.

Meski diliputi banyak tantangan, tidak semestinya kita angkat tangan. Kita harus menyadarkan pencandu rokok, bahwa kebutuhan pokok itu bebas asap rokok, bukan rokok!

Untungnya, semboyan itu dipegang teguh oleh M. Nur Kasih selaku Ketua RT 1/RW 3 Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19, Kebun Pala, Cililitan, Jakarta Timur. Nur, bersama segenap perangkat kampung, gigih berperang melawan asap rokok.

“Sejak 18 Juli 2020, kami mendeklarasikan Kampung Bebas Asap Rokok. Di sini, kami mengimbau sekaligus melarang warga merokok di dalam rumah,” ujar Nur.

Kepedulian terhadap generasi masa depan adalah alasan Nur menciptakan Kampung Bebas Asap Rokok. Bukan apa-apa, menurut Nur, anggota keluarga di rumah, khususnya anak-anak, semestinya berhak menghirup udara segar, bukan asap rokok.

Ketika, katakanlah, kepala keluarga merokok di dalam rumah, maka risikonya tidak ditanggung oleh dirinya saja. Anak-anak rentan menjadi perokok pasif, yang menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), berpotensi mengidap kanker empat kali lebih tinggi dibanding orang yang tidak terpapar asap rokok.




Apa yang menjadi perhatian Nur memang bukan tanpa alasan. Data terkini milik Global Youth Tobacco Survey (2019) menunjukkan bahwa 40,6 persen remaja berusia 13-15 tahun, 2 dari 3 anak laki-laki, dan 1 dari 5 anak perempuan; mengaku sudah pernah mengisap rokok.

Hal itu senada dengan udaran Kementerian Kesehatan yang menyatakan tingkat prevalensi merokok remaja berusia 10-19 tahun terus meningkat. Pada 2018, tingkat prevalensinya mencapai 9,1 persen, atau meningkat dibanding 2013 yang mencatat angka 7,2 persen.

Jika tidak ada upaya pembatasan yang terstruktur, masif, dan sistematis untuk membatasi peredaran rokok; bukan tidak mungkin angka-angka tersebut akan jauh lebih memprihatinkan pada masa depan. Dan, upaya itu mau tidak mau harus kita lakukan sekarang juga!


Upaya Membatasi Peredaran Rokok

“Rokok memang barang legal, tetapi peredarannya wajib dikendalikan,” ujar Nurul.

Apa yang Nurul katakan memang benar. Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk memitigasi dampak negatif yang ditimbulkan rokok ialah dengan membatasi peredarannya. Rokok tidak boleh didapatkan dengan begitu mudah, apalagi dikonsumsi oleh anak-anak.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Pemerintah tidak tinggal diam. Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN Tahun 2021, Pemerintah terus melakukan penyesuaian tarif cukai rokok. Pada tahun depan, target penerimaan cukai rokok dicanangkan naik sebesar 3,6 persen dibanding 2020.

Hanya saja, apakah kenaikan tarif cukai rokok saja cukup? Jelas tidak! Meskipun tarif cukai ditingkatkan setiap tahun, jumlah perokok aktif masih saja bertambah. Tahun ini saja, tarif cukai rokok sudah dinaikkan hingga 23 persen.

Namun, apa yang terjadi? Jangankan uang tabungan, dana BLT saja digunakan untuk membeli rokok, bukan kebutuhan pokok. Ini yang patut kita garis bawahi.

Kenaikan tarif cukai rokok memang perlu. Akan tetapi, kebijakan itu harus dibarengi dengan upaya pembatasan peredaran rokok. Menurut hemat saya, ada tiga cara yang dapat ditempuh oleh Pemerintah.




Pertama, membatasi akses rokok dengan menerapkan rezim perizinan kepada penjual rokok. Dengan kata lain, pedagang mesti mengajukan izin kepada Pemerintah terlebih dahulu sebelum beroleh tiket menjual rokok. Sama seperti minuman keras, misalnya, tidak semua orang bisa menjual barang haram itu kepada masyarakat.

Hal ini bertujuan agar peredaran rokok di masyarakat dapat diminimalisasi. Bukan seperti saat ini, ketika semua orang bebas mengakses dan membeli rokok. Rokok hanya dijual oleh pihak atau pedagang tertentu saja, bukan sebebas-bebasnya.

Mengapa demikian? Karena satu-satunya hal yang mendorong anak-anak untuk merokok adalah bebasnya perederan rokok di pasaran. Belanja ke warung sebelah, jual rokok. Pergi ke minimarket, ada rokok. Di mana-mana ada rokok.

Kondisi seperti inilah yang mesti diubah oleh Pemerintah, dengan cara menerapkan izin penjualan rokok tadi. Cara seperti ini sudah diterapkan oleh Afrika Selatan selama pandemi korona. Mau jual rokok, izin dulu!




Nah, jika landasan hukum sudah diketok palu, maka langkah yang kedua adalah memperberat syarat untuk mendapat izin penjualan rokok. Tujuannya tentu saja supaya penjual rokok diberi disinsentif sebesar-besarnya, agar berpikir dua kali ketika ingin menjual rokok.

Misalnya, begini. Pedagang yang berhak memperoleh izin penjualan rokok adalah mereka yang memiliki lokasi usaha jauh dari pemukiman warga. Selain itu, produk rokok juga tidak boleh dipamerkan di rak kaca atau etalase yang bisa terlihat oleh pembeli.

Cara seperti ini sudah lebih dulu dilakukan oleh negara tetangga kita, Singapura. Penjual rokok menyimpan produknya di tempat tertutup, agar pembeli tidak terpancing dan terpantik hasratnya untuk membeli rokok.

Pedagang rokok juga tidak diperkenankan memberi tanda atau papan berkalimat “di sini menjual rokok”. Pembeli rokoklah yang harus bertanya kepada penjual, “apakah di sini menjual rokok?”

Langkah ini akan memantik budaya “malu merokok”, seperti lazim ditemukan di berbagai negara maju. Mereka sadar, rokok itu berbahaya dan berdampak buruk, sehingga orang yang ingin merokok pun seakan harus mengasingkan diri terlebih dahulu. Kalau sudah seperti ini, lama-lama juga bosan sendiri.




Cara yang terakhir adalah melarang iklan rokok, baik melalui televisi, media daring, maupun papan reklame. Tanpa terkecuali!

Generasi muda kita tidak boleh lagi tertipu oleh kegagahan atau kejantanan yang kerap diasosiasikan dalam setiap materi iklan rokok.

Sebab anggapan itu sungguh berbahaya. Mereka pikir merokok itu gagah, padahal salah. Mereka pikir merokok itu jantan, padahal penyakitan. Mereka pikir merokok itu keren, padahal cemen.

Jika salah kaprah itu tertanam lekat-lekat di alam bawah sadar generasi muda, habislah bangsa kita. Maka jangan heran apabila ada oknum ketua RT yang tega memalak dana BLT warganya sendiri, seperti yang dikisahkan di awal artikel ini, hanya gara-gara kecanduan nikotin. Sungguh menggelikan dan mengerikan.

Jika ketiga langkah itu diterapkan, bolehlah kita optimis menatap masa depan. Sekali lagi, kuncinya adalah mengendalikan peredaran. Sebab kita tidak ingin generasi emas yang digadang-gadang menjadi macan dunia pada 2045 kelak, malah penyakitan gara-gara asap rokok gagal kita kendalikan.

Lalu, bagaimana dengan nasib perokok? Ah, sudahlah, Kawan. Percayalah, rokok itu ibarat mantan. Enyahkanlah dari perasaan, pikiran, dan pandangan. Anda tidak ingin mendiami liang lahat cepat-cepat, bukan? [Adhi]

*** 

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Tautan artikel ini sudah ditayangkan di Twitter dan Facebook penulis.

Senarai Rujukan:

[1] Talkshow “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok”, akun YouTube Kantor Berita Radio (2020);

[2] Media Informasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Banyak yang Tidak Tahu, Perokok Pasif Ternyata 4 Kali Lipat Berisiko Terkena Kanker (2019);

[3] Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik Indonesia: Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2020 (2020);

[4] Okezone.com, Dana BLT Banyak Dipakai untuk Beli Rokok, Gimana Nih? (2020);

[5] Detiknews.com, Ketua RT di Tangerang Minta Jatah Rokok dari Bansos yang Diterima Warga (2020);

[6] World Health Organization Indonesia: Pernyataan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020 (2020)

Bermodal Internet, Ini Cara Saya Mendulang Rezeki Saat Pandemi



Suatu ketika sejawat di kantor pernah bertanya. Katanya, apa alasan saya rajin menulis di blog? Katanya lagi, sudah enak-enak terima gaji tiap bulan, kenapa harus repot-repot terjun di dunia digital?

Saya hanya menyodorkan jawaban singkat.

Digitalisasi adalah masa depan. Siapa yang enggan beradaptasi pasti terlibas perkembangan zaman. Nge-blog hanyalah salah satu bentuk tindakan rasional yang saya lakukan untuk menghadapi perubahan.

Sekarang, saya balik tanya. Apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan dan ketidakpastian?

*** 

Percakapan di atas terjadi sekitar tiga tahun silam. Saat pandemi COVID-19 belum muncul ke permukaan dan meluluhlantahkan aktivitas ekonomi dan sosial. Ketika tatap muka masih menjadi barang murah yang, mungkin, belum banyak kita syukuri.

Kala itu sebagian orang masih belum sepenuhnya mempercayai arti penting digitalisasi. Rekan kerja saya, misalnya. Ia tidak yakin bahwa nge-blog bisa melahirkan pendapatan tanpa dibatasi sekat lokasi dan jabatan.

Meski menyandang profesi analis ekonomi di salah satu lembaga negara, saya sadar bahwa tiada seorang pun bisa menjamin apa yang akan terjadi pada masa depan. Bisa saja karena resesi ekonomi atau kejadian luar biasa lainnya, kantor saya terpaksa mengurangi jumlah karyawan.

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa saya akan bekerja hingga masa pensiun tiba. Sebab satu-satunya kepastian yang berlaku di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang, lantas kapan lagi?


Sekarang, kita bisa lihat sendiri. Apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi pada banyak pekerja di Indonesia. Gara-gara pandemi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) seakan bergulir tanpa henti.

Kementerian Tenaga Kerja, seperti dilansir Kompas (4/8), menyebut lebih dari 3,5 juta pekerja terpaksa di-PHK dan dirumahkan. Sementara jutaan pelaku usaha gulung tikar atau paling tidak mengalami penurunan omzet lantaran terdampak upaya pembatasan sosial.

Kalaupun nasib baik masih berpihak, risiko pemotongan gaji sudah pasti ditanggung pekerja. Masih segar dalam ingatan kabar viral beberapa waktu lalu. Seorang pekerja bergaji Rp20 juta per bulan curhat kepada pemerintah lewat media sosial lantaran gajinya disunat hingga separuhnya.

Ia mengaku kesulitan karena dengan gaji yang sekarang, cicilan dan biaya hidupnya jauh melebihi penghasilan. Sekalipun gajinya lebih dari dua kali upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta, ia masih berharap agar pemerintah sudi memberi santunan.

Meski terasa menggelikan, kabar viral itu membuktikan satu hal. Apa yang akan terjadi pada masa depan sepenuhnya milik Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah giat belajar, rajin bekerja, dan gigih mengasah kemampuan. Sebab hanya dengan cara itulah pundi-pundi rezeki bisa kita dapati.


Menangkap Peluang di Tengah Tantangan

Pandemi COVID-19 memang tidak menyenangkan bagi semua orang. Itu sudah pasti. Namun demikian, saya termasuk pribadi yang optimis. Saya yakin, Tuhan tidak pernah memberi ujian jika tidak disertai dengan jalan keluar.

Jadi, daripada sibuk berkeluh kesah, lebih baik kita mencari hikmah. Ingat, menggerutu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mending putar otak dan cari akal bagaimana cara mendulang rezeki di tengah himpitan pandemi.

Kalaulah sudi berkaca pada data, maka kita akan temukan jawabannya. Sandvine, konsultan internet asal Kanada, melaporkan konsumsi internet dunia naik hingga 40 persen selama pandemi. Data itu disajikan dalam kajian bertajuk The Global Internet Phenomena Report COVID-19 Spotlight.

Jika kita kaitkan data di atas dengan fenomena digitalisasi, maka pandemi terbukti mempercepat proses digitalisasi itu sendiri. Itulah sebabnya, bidang pekerjaan yang mampu bertahan—bahkan melejit—selama pandemi pasti berkaitan dengan internet.

Sebagai contoh, pekerja kantoran—seperti saya—terpaksa menerapkan kebiasaan baru berupa bekerja dari rumah. Rapat atau aktivitas tatap muka kini dilakukan di ranah maya. Entah pakai virtual meeting, entah lewat email.

Pendidikan sama saja. Untuk mencegah penyebaran virus korona, istri saya terpaksa mempertahankan tesisnya di hadapan sidang pascasarjana dari depan layar laptop. Bulan depan, ia akan diwisuda, lagi-lagi melalui sambungan virtual.

Sektor usaha pun serupa. Pelaku usaha yang mampu berdiri tegak selama pandemi adalah mereka yang sudi merambah pasar digital. Aktivitas promosi maupun penjualan lebih banyak mengandalkan pasar daring (e-commerce), media sosial, maupun layanan pesan antar.

Bagaimana dengan blog? Well, kalau mau bukti, mari saya sodorkan satu data lagi. Menurut Tribun (2/5), penulis digital atau blogger adalah satu dari delapan profesi paling menjanjikan selama pandemi. Tujuh profesi lainnya adalah desainer grafis, fotografer, YouTuber, penjual masker, pedagang camilan, podcaster, dan penjual pulsa.






Itulah mengapa, sejak 2016 saya gigih menggeluti dunia blogging. Sekalipun sudah menduduki posisi cukup nyaman di kantor, saya punya prediksi, blogger bakal menjadi pekerjaan menjanjikan pada masa depan. Tak disangka, prediksi saya kini sudah terbukti.

Sekarang kita sudah sadar. Ternyata masih banyak peluang bertebaran walaupun situasi tengah dirundung tantangan. Pertanyaannya, sudikah Anda bekerja keras dan mengasah diri hingga sanggup mendulang rezeki dari beragam profesi tadi?

Yang jelas, seperti judul artikel ini, saya akan blak-blakan membuka pengalaman saya mendulang rezeki dari dunia blogging. Artikel ini bakal merincikan upaya saya mengais pundi-pundi di bidang kepenulisan digital. Moga-moga ada manfaat yang bisa kalian ambil dan praktikkan.

Jika nanti dirasa baik dan bermanfaat, jangan lupa sebarkan kepada teman, relasi, ataupun sanak famili. Ingat, pahala menyebar kebaikan itu setara dengan berbuat baik. Jadi, tanpa berpanjang-lebar, ayo kita mulai sekarang.

1. Kompetisi Menulis

Sekitar 80 persen total pendapatan yang saya peroleh dari dunia blogging berasal dari hadiah kompetisi menulis. Bahkan sebenarnya, lomba blog merupakan langkah pertama saya berkecimpung di dunia kepenulisan digital.

Jadi begini. Lima tahun silam, kantor saya mengadakan kompetisi blog untuk karyawannya. Gara-gara tergiur hadiahnya, saya coba-coba ikut saja. Hasilnya bisa kalian duga. Saya terpaksa gigit jari lantaran artikel saya buat sekenanya saja.

Penasaran, dong!

Tahun depan saya ikut lagi kompetisi serupa. Namun kali ini saya hadir dengan segudang persiapan. Sebelum menulis, saya pelajari dulu karya para jawara. Saya perhatikan betul bagaimana pemenang lomba menyusun kata demi kata.

Alhamdulillah, saya berhasil mendapat juara kedua. Tahun berikutnya, prestasi saya kembali meningkat. Saya sukses menggondol peringkat pertama.

Sejak saat itu saya rajin menulis dan mengikuti kompetisi. Tidak puas bermain di kandang, saya cari kompetisi menulis berskala nasional. Hasilnya sungguh mengejutkan. Ada puluhan kompetisi menulis digelar dalam setiap bulan!

Penyelenggaranya pun bermacam-macam. Mulai dari perusahaan ternama, lembaga nirlaba, hingga instansi pemerintah. Tinggal pilih saja sesuai kesanggupan, pengetahuan, dan kemampuan kalian.

Hingga artikel ini naik tayang, saya telah menjuarai kompetisi menulis sebanyak 60 kali. Rinciannya bisa dilihat di sini. Memang tidak semuanya juara pertama. Ada yang kedua, ketiga, atau juara harapan. Yang pasti, saya berani jamin, pundi-pundi hadiah dari kompetisi menulis lebih dari sekadar menggiurkan.

Berapa persisnya?

Well, sebagai gambaran, selama 2019 saja, ada 30 lomba menulis yang berhasil saya juarai dari total 62 kali ikut serta. Memang tidak semua hadiah berbentuk uang tunai. Ada gadget, tiket liburan, voucher belanja, dan lain-lain.

Jika semua hadiah tadi dikonversi dalam bentuk uang, maka total pendapatan saya dalam setahun mencapai Rp82,7 juta. Dengan kata lain, dalam sebulan saya sanggup meraup pundi-pundi senilai hampir Rp7 juta. Itu di atas UMR DKI Jakarta, Kawan!

Lantas, apa kiat saya jadi juara?




Setelah ratusan kali ikut kompetisi, menurut hemat saya jurusnya cuma ada tiga. Pantang menyerah, gigih mengasah kemampuan menulis dengan mempelajari artikel para jawara, dan berdoa. Itu saja.

Kalau ketiga hal tadi sudah dilakukan tapi masih gagal juga, silakan cek lagi jurus yang pertama: pantang menyerah. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saja tidak selalu menjuarai Liga Champions, Kawan! Jadi, jangan pernah berputus asa.

Yakini saja rezeki itu sudah Tuhan atur seadil-adilnya. Tugas kita tinggal berikhtiar dan berdoa. Jika kalah dalam kompetisi yang satu, bisa jadi rezeki kita ada di kompetisi selanjutnya. Tetap bersemangat!

2. Konten Berbayar

Semakin banyak menulis di blog, semakin besar pula potensi blog kita dibaca orang. Dengan begitu, traffic atau jumlah kunjungan blog bakal semakin meningkat. Mesin pencari (Google, misalnya) tentu lebih senang merekomendasikan blog yang banyak dikunjungi orang.

Kalau sudah begitu, potensi blog kita untuk dilirik perusahaan atau brand ternama bakal semakin besar. Di sinilah awal mula rezeki yang kedua: konten berbayar atau sponsored post.

Seperti disinggung di awal, internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar kalangan. Segala informasi bisa dicari lewat jaringan internet. Internetlivestats melansir, jumlah pencarian situs lewat Google mencapai 3,5 miliar dalam sehari!

Untuk bersaing dengan miliaran situs lainnya di mesin pencari, perusahaan atau brand ternama sudi mengeluarkan biaya promosi. Blog yang jumlah kunjungannya tinggi diajak bekerja sama dalam bentuk konten berbayar.

Syaratnya, artikel harus mengandung kata kunci (keyword) tertentu yang disisipkan tautan (backlink) menuju laman perusahaan tadi. Artikel itu bisa dibuat oleh pemilik blog sendiri, ataupun disiapkan oleh pemberi kerja.

Kerja sama ini tentu menguntungkan kedua belah pihak. Blogger mendapat bayaran, sedangkan perusahaan memperoleh backlink. Backlink inilah yang akan meningkatkan kualitas situs perusahaan di mata mesin pencari.

Saya pribadi telah belasan kali bekerja sama dengan brand atau perusahaan. Untuk setiap artikel tidak lebih dari 1.000 kata, saya mendapat bayaran mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. Lumayan, kan?

Lalu, apa kiat supaya blog kita dilirik banyak perusahaan?




Ada dua cara. Pertama, berjuang sendiri. Rajinlah mengepos artikel berkualitas di blog, kemudian sebarkan tautannya lewat media sosial. Supaya blog kita dibaca banyak orang dan jumlah kunjungan meningkat.

Dengan begitu, peluang kita diajak bekerja sama oleh brand atau perusahaan ternama akan semakin besar. Jangan lupa, cantumkan pula nomor kontak kalian di blog. Supaya pemberi kerja tahu ke mana mereka harus menghubungi kalian.

Kedua, ikut komunitas atau agensi. Dewasa ini banyak agensi blogger yang punya akses ke berbagai perusahaan ternama. Dengan mendaftarkan diri pada agensi, peluang mendapat tawaran kerja sama konten berbayar akan semakin besar.

Namun demikian, kedua cara di atas sama-sama memerlukan satu hal: rajin-rajin mengepos artikel di blog. Jangan sampai blogmu dihiasi sarang laba-laba karena jarang di-update. Minimal, buatlah tiga hingga lima artikel dalam sebulan.

3. Menulis Opini di Media Massa

Selain menulis di blog, tidak jarang saya mengirim opini ke media massa. Akan tetapi, nuansa artikel untuk kolom opini jauh berbeda dengan tulisan di blog. Jika di blog saya bebas curhat begini begitu, opini tidak seperti itu.

Agar opini naik cetak, pada umumnya kita wajib membahas isu atau topik hangat terkini. Semakin update, semakin besar peluang disetujui redaksi. Sesuai namanya, artikel opini juga mesti mengandung ide, solusi, atau pemikiran orisinal penulis mengenai isu atau fenomena yang sedang terjadi.

Ada sejumlah keuntungan jika opini kita diterima media. Selain menumbuhkan rasa bangga, tentu nama kita akan dikenal banyak orang. Semakin sering menulis opini, semakin kuat pula branding yang kita miliki. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja mendapat bayaran.




Jadi, berapa honor untuk setiap opini yang naik tayang?

Jawabnya bergantung pada kebijakan internal media. Tarif honor opini antara media yang satu dengan media lainnya tidak seragam. Sependek pengalaman saya, honor menulis di media cetak berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per artikel. Dengan kata lain, hampir setara dengan tarif konten berbayar.

Lalu, apakah menulis opini bisa dikategorikan aktivitas di media digital?

Tentu saja, iya. Tidak seperti dulu yang dikirim lewat pos dalam bentuk hardcopy, sekarang kita bisa mengirim opini melalui email dalam format softcopy. Jadi, prosesnya mirip-mirip dengan menulis di blog. Kelar tulis, tinggal kirim.

4. Royalti atau Bagi Hasil Penjualan Buku

Sejujurnya ini salah satu berkah dari rajin ikut kompetisi menulis. Beberapa penata kompetisi menulis yang saya ikuti memang bermaksud membukukan artikel para pemenang lomba. Buku itu kemudian dijual bebas kepada khalayak ramai.

Hingga kini sudah ada tiga buku antologi yang berhasil saya tulis dan beredar di pasaran. Daftarnya bisa kalian lihat pada infografis di bawah ini.




Sekali lagi, semuanya tidak saya niatkan. Saya hanya mengikuti kompetisi, keluar sebagai juara, bonusnya mendapat buku berisi karya sendiri dan pemenang lainnya.

Kabar baiknya, beberapa penyelenggara berbaik hati berbagi royalti. Sebagian keuntungan penjualan buku (harga jual buku dikurangi ongkos produksi) dibagikan kepada penulis.

Jadi, berapa royalti yang saya terima?

Sekali lagi, bergantung pada kebijakan penerbit dan penyelenggara lomba. Kalau saya, sekitar 16 persen dari harga jual buku. Jadi, misalkan setiap unit buku dijual dengan harga Rp100.000, maka bagi hasil yang akan saya terima sebesar Rp16.000 per buku.

Semakin banyak buku terjual, semakin banyak pula royalti yang bisa kita dapatkan.

5. Mengajar Kelas Menulis Virtual

Selain berkompetisi, inilah cara yang paling saya sukai untuk mengais rezeki. Bukan apa-apa, saya memang suka berbagi ilmu dan tampil di hadapan banyak orang. Sudahlah dapat pahala, eh, dapat sangu juga.

Saya tidak hapal persis kapan awal mula diminta mengajar. Yang jelas, ketika prestasi kepenulisan saya mencapai kisaran puluhan, banyak penyelenggara atau instansi yang meminta saya mengisi sesi kelas menulis.

Ada belasan kelas menulis yang telah saya narasumberi. Sebelum pandemi, biasanya kelas ditata dalam format tatap muka. Sekarang, seluruhnya mengandalkan aplikasi rapat virtual di ranah maya.

Uniknya, justru tawaran mengajar lebih banyak saya terima saat pandemi. Sepanjang 2020 saja, sudah ada empat kelas atau acara yang saya narasumberi. Rinciannya bisa kalian temui pada gambar di bawah ini.




Jadi, berapa honor yang saya terima tiap kali mengajar? Maaf, untuk yang satu ini saya tidak pernah menetapkan tarif.

Mengapa? Karena bagi saya, ilmu, termasuk kepenulisan, tidak semestinya menjadi barang dagangan. Dibayar syukur, tidak dibayar juga tidak apa-apa. Santai saja. Hitung-hitung tambah pahala.

Saya pernah mengantongi Rp150 ribu untuk cuap-cuap selama dua jam. Lain waktu diberi Rp1,5 juta untuk sekali pertemuan. Akan tetapi, saya juga pernah tidak menerima honor barang sepeser pun selama mengajar. Yang jelas, kualitas mengajar tetap saya jaga terlepas dari ada atau tidaknya honorarium.

Bagaimana bisa saya mendapat tawaran mengajar?

Well, di sinilah pentingnya branding, Kawan! Zaman sekarang, ketika kalian merasa punya kemampuan atau keahlian di salah satu bidang, promosikan saja lewat media digital. Baik lewat website ataupun media sosial. Cara itu saya lakukan hingga cap penulis digital melekat erat-erat.

Percayalah, jejak digital seseorang akan terekam dengan jelas pada era digital. Gunakan fakta itu untuk mempromosikan usaha atau keahlianmu. Ketika ada pihak yang memerlukan produk atau jasa tertentu, pasti mereka akan mencarinya lewat media digital.

Contohnya tidak usah jauh-jauh. Tengok saja diri sendiri ketika mencari hiburan, tutorial, ataupun barang belanjaan. Hal pertama yang kita lakukan pasti membuka Google, bukan? Maka dari itu, penting bagi kita untuk membangun digital branding yang jempolan.

Membangun Digital Branding Lewat Website

Salah satu media yang saya gunakan untuk membangun digital branding adalah situs atau website. Mengapa? Bagi seorang blogger, website ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Tanpa website milik sendiri, bagaimana artikel bisa diunggah?

Memang benar, blog atau website yang bersifat user generated content (UGC) banyak beredar di jagat maya. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk membangun sebuah digital branding? Jelas tidak.

Jangankan seorang blogger. Pelaku usaha saja kini beramai-ramai membuat website supaya produknya terkurasi oleh mesin pencari. Supaya ketika calon pembeli mencari produk itu lewat internet, situs milik pelaku usaha bisa terpampang di laman utama mesin pencari.

Hal yang sama juga berlaku pada blogger. Dengan memiliki website sendiri, maka pintu rezeki akan terbuka lebih lebar ketimbang menulis di blog UGC. Mulai dari lomba blog hingga konten berbayar, pasti mensyaratkan blogger untuk menulis di website pribadi.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membuat website pribadi?

Well, langkah pertama yang perlu kalian tempuh adalah mencari penyedia hosting. Untuk yang satu ini, jangan tanggung-tanggung. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik Indonesia seperti Exabytes Indonesia.




Mengapa saya menyarankan Exabytes Indonesia?

Sederhana saja. Exabytes adalah penyedia hosting yang telah malang-melintang selama 18 tahun lebih di dunia digital. Exabytes sudah melayani lebih dari 140 ribu klien, baik kalangan individu, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga instansi atau lembaga pemerintah.

Untuk menjaga kepercayaan klien, Exabytes senantiasa memberikan pelayanan terbaik, seperti menyediakan dukungan teknis profesional selama 24 jam penuh. Soal keandalan pun tidak perlu diragukan. Ada jaminan uptime server hingga 99,9 persen yang membuat waktu-muat atau loading page di website-mu semakin melaju.

Tak kenal, maka tak sayang. Untuk mengenal lebih jauh tentang Exabytes Indonesia, silakan tonton video di bawah ini.



Bagaimana Exabytes Membantumu Membuat Website?

Well, ada banyak cara, sih. Kamu bisa membuat website sendiri lalu berlangganan hosting dan Domain Murah di Exabytes. Atau kamu juga bisa mulai dari nol, duduk santai, rebahan, lantas tinggal terima beres saja dari Exabytes.

Lho, website-nya bisa dibuatkan Exabytes juga? Bisa, dong! Cocok banget buat blogger pemula yang belum paham mengutak-atik jeroan website, kan?

Exabytes menyediakan layanan Hosting WordPress Terbaik yang bisa kamu manfaatkan untuk memulai peruntungan di dunia digital. Yang perlu kamu lakukan ialah menentukan paket, memilih nama domain, membayar tagihan, dan menunggu website-nya beres. Mudah, kan?

Tinggal pilih saja sesuai kebutuhan dan profesimu. Untuk blogger pemula, ada pilihan paket WP Blogger dengan biaya Rp48.000 per bulan saja. Sedangkan untuk pelaku usaha kecil, ada paket WP Lite yang dibanderol dengan harga Rp64.000 per bulan.

Bila kedua pilihan di atas tidak cukup karena, katakanlah, kamu seorang developer atau reseller yang ingin bertransaksi melalui website, jangan berkecil hati. Exabytes juga menyediakan paket WP Plus dan WP Geek dengan harga, berturut-turut, Rp216.000 per bulan dan Rp752.000 per bulan.

Kalau sudah membayar dan ternyata kurang puas, lalu bagaimana, dong? Tenang. Exabytes memberikan jaminan 100 hari uang kembali. Kamu bisa me-refund uang secara penuh dalam 100 hari ke depan. Coba saja dulu! Ga akan rugi, deh.

Untuk mengetahui fitur apa saja yang disediakan pada masing-masing pilihan paket, silakan tengok infografis di bawah ini.







Raih Rezeki dengan Program Afiliasi

Sudah punya website dan ingin menambah penghasilan? Ada program menarik dari Exabytes, nih. Namanya Program Afiliasi Terbaik. Lewat program ini, kamu bisa mendapat komisi hingga 25 persen dari setiap transaksi yang menggunakan kode referral-mu. Asyik, kan?

Caranya bagaimana? Tinggal daftar saja di Exabytes. Gratis alias bebas biaya! Kalau sudah, kamu tinggal sebar link atau banner afiliasi sebanyak-banyak di website, media sosial, ataupun media digital lainnya.

Gampang, kan? Tinggal ongkang-ongkang kaki bisa dapat komisi.

O ya, Exabytes juga tidak membatasi pemakaian kode referral, lho! Jadi, kamu bisa mencari calon pelanggan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak pelanggan yang menggunakan kode referral-mu, semakin besar pula komisi yang bakal kamu dapatkan. Keren, kan?

Supaya kamu mendapat gambaran yang utuh mengenai program afiliasi di Exabytes, silakan simak infografis di bawah ini.







Pada Akhirnya, Semua Bergantung pada Ikhtiar Kita

Sekarang, kita sudah paham. Ternyata ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendulang rezeki lewat internet. Tinggal pilih saja, mana yang benar-benar cocok dengan kemampuan dan keahlianmu.

Pandemi COVID-19 ibarat cendawan di musim hujan. Kehadirannya yang begitu cepat dan meluas memang menyusahkan banyak orang. Namun demikian, kita harus yakin bahwa selalu ada hikmah di balik setiap musibah.

Sesulit apa pun tantangan menghadang, selalu ada peluang bagi mereka yang mau berpikir, berikhtiar, dan pantang menyerah. Pertanyaannya, apakah kita termasuk golongan orang yang gigih berikhtiar? Saya kembalikan lagi ke diri kalian.

Yang pasti, saya sudah panjang-lebar membuka resep mendulang rezeki tatkala pandemi. Sekarang giliran kalian. Maukah berbagi di kolom komentar? [Adhi]

*** 

Tautan artikel ini juga dibagikan melalui akun media sosial penulis:

Foto: dokumentasi pribadi. Ikon: Freepik dan Exabytes. Infografis: olah pribadi. Video: YouTube Exabytes Indonesia.

Senarai Rujukan:
1. Sandvine
2. Kompas
3. Tribun
4. Oberlo
5. Exabytes Indonesia

Tetap Nyaman Saat Bekerja dari Rumah Bersama iCreate.id


“Makan dulu, sayang. Sudah siang.”

Kalau sudah asyik bekerja, saya memang sering lupa makan. Untung saja ada istri tercinta yang tak bosan mengingatkan. Kalau tidak ada dia, cacing di perut pasti sudah berteriak kelaparan.


*** 

Enam bulan terakhir memang penuh tantangan. Sejak pandemi Covid-19 meluas, saya punya kebiasaan baru: bekerja dari rumah. Kantor saya menempuh kebijakan work from home (WFH) bagi sebagian besar karyawannya, termasuk saya. Di sinilah tantangan bermula. 

Jika kalian berpikir kerja dari rumah itu santai, kalian salah besar. Justru malah sebaliknya. Saat bekerja di kantor, ada yang namanya “jam pulang kantor”. Namun ketika bekerja dari rumah, tidak ada yang namanya “jam pulang rumah”.

Analogi di atas benar-benar saya alami. Gara-gara tidak ada pembatas yang jelas antara jam kerja dan istirahat, tugas dan pekerjaan seakan tidak ada habisnya. Tidak jarang pula bos memberi tugas malam-malam. Jangankan tengah pekan, akhir pekan pun terkadang saya mesti tetap bekerja.

Undangan rapat juga seakan tidak ada habisnya. Kalian yang berprofesi sebagai karyawan kantoran juga pasti merasakannya. Sejak virtual meeting jadi booming akibat pembatasan sosial, segala hal dibahas lewat rapat virtual. Dalam sehari, saya bisa mengikuti empat hingga lima kali rapat.

  
Meski menantang, situasi ini tetap saya jalani dengan sabar. Alhasil, saya jadi lebih produktif ketika bekerja dari rumah. Daftar pekerjaan yang saya tuntaskan lebih banyak ketimbang bekerja dari kantor. Bonusnya, saya tidak perlu pakai kemeja dan sepatu saat bekerja di rumah. Lebih plong.

Bagi saya, tidak masalah bekerja dari rumah meskipun tantangannya lebih berat. Kita yang masih diberi kesempatan bekerja semestinya bersyukur. Banyak saudara kita di luar sana bernasib malang lantaran di-PHK atau dirumahkan tanpa gaji gara-gara pandemi korona. Kita yang masih terima gaji setiap bulan seharusnya bisa menunjukkan rasa syukur dengan bekerja sebaik-baiknya.

Nah, salah satu bentuk rasa syukur saya kepada Tuhan adalah dengan berbagi ilmu. Kebetulan, saya memang hobi menulis. Pada akhir pekan, selepas terbebas dari padatnya rutinitas, saya sering memanfaatkan waktu luang untuk mengajar cara menulis.

Dalam enam bulan terakhir, alhamdulillah, ada tiga penyelenggara yang meminang saya sebagai narasumber. Seluruh kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara daring melalui bantuan aplikasi rapat virtual. Dan, tentu saja itu semua saya lakoni dari rumah. Dari meja kerja saya.


Kalau kita berpikir sejenak, pandemi Covid-19 memang tidak menyenangkan. Kita mesti mengurangi intensitas bepergian atau keluar rumah. Belum lagi, kalau terpaksa keluar rumah, kita wajib mengenakan masker dan membawa hand sanitizer.

Tapi kalau kita berkenan mengubah sudut pandang, korona juga mengajarkan kita banyak hal positif. Kita bisa melakukan banyak hal produktif dari rumah. Saya, misalnya. Tidak hanya bekerja dari rumah, saya juga bisa mengajar ilmu kepenulisan kepada belasan, bahkan puluhan orang, dengan bermodal gawai dan kuota.

Yah, hitung-hitung tambah amal. Sebab ilmu akan menjadi ladang pahala bagi orang yang tidak segan mengajarkan. Tidak ada salahnya, bukan?

Tetap Nyaman Selama Bekerja di Rumah

Nah, supaya tetap aktif, produktif, dan nyaman saat bekerja dari rumah, kita juga perlu memperhatikan beberapa hal. Karena bekerja dari rumah adalah suatu kebiasaan baru. Sehingga perlu dipersiapkan dengan matang bila tidak ingin keteteran.

Bagi saya, ada empat hal yang perlu kita perhatikan selama bekerja dari rumah. Pertama, menetapkan agenda. Dari sekian banyak pekerjaan kita harus berani menyusun agenda kerja.

Tujuannya apa? Supaya tidak lupa. Terkadang tanpa agenda kerja, ada saja satu-dua tugas yang lupa kita kerjakan. Asyik mengerjakan tugas yang ini, eh, malah lupa mengerjakan tugas yang itu. Imbasnya, kita malah kena omel atasan. Jadi, jangan malas membuat daftar pekerjaan kalau tidak ingin terserang risiko lupa.

Kedua, buat skala prioritas. Dari sekian banyak daftar pekerjaan yang sudah kalian susun, pilih dan pilah mana yang paling penting. Kerjakanlah satu demi satu berdasarkan urutan prioritas.

Dengan menyusun skala prioritas, proses kerja akan lebih fokus dan terarah. Kita jadi tahu persis, pekerjaan mana yang mesti dituntaskan, tugas mana yang perlu didelegasikan. Terkadang, kita terpaksa lembur bukan karena banyak tugas, melainkan karena tidak paham tugas mana yang mesti dikerjakan lebih dulu.


Ketiga, jaga kesehatan. Ini penting. Jangan seperti saya yang sering lupa makan karena keasyikan bekerja. Ingat, ketika bekerja dari rumah, aktivitas fisik akan jauh berkurang ketimbang bekerja dari kantor.

Saat bekerja dari kantor, paling tidak kita akan berjalan kaki, sejak turun kendaraan menuju meja kerja. Beda halnya ketika bekerja dari rumah. Bangun tidur sudah langsung mendekam di meja kerja. Jadi, jangan lupa sempatkan beraktivitas fisik selama bekerja dari rumah.

Terakhir, menata ruang kerja. Ini yang sering dilupakan orang. Apa sebab? Semula, rumah adalah tempat kita beristirahat. Sejak pandemi Covid-19 meluas, rumah bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga tempat bekerja.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memiliki ruang dan peralatan kerja yang nyaman. Paling tidak, meja dan kursi kerja harus kita sesuaikan. Salah kursi bisa berakibat keram otot. Salah meja bisa rentan terjangkit pegal leher. Karena selama ini, kita memang tidak pernah menyiapkan rumah sebagai tempat untuk bekerja.

Untuk itu, kalian perlu furniture kantor yang mendukung aktivitas saat bekerja dari rumah. Atur dan tata ruang kerja sedemikian rupa, supaya kalian tetap nyaman dan betah ketika seharian bekerja dari rumah.

Omong-omong soal peralatan kerja, saya punya satu rekomendasi untuk kalian yang sedang mencari meja dan kursi kerja untuk bekerja dari rumah. Namanya iCreate.id. Di sini, kita bisa memilih beragam furniture online agar tetap merasa asyik dan nyaman selama bekerja dari rumah.

Penasaran seperti apa rupanya? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa ambil kopi dan camilan. Karena sesaat lagi, saya akan mengulas ragam pilihan furniture yang tersedia di iCreate.id. Kalau sudah, ayo kita mulai sekarang.

iCreate.id: Teman Setia Saat Bekerja di Rumah

iCreate.id adalah perusahaan penyedia furniture rumah dan kantoran yang punya beragam pilihan produk. Mulai dari sofa, kursi, meja, tempat penyimpanan, hingga aksesoris. Selain banyak pilihan, produk yang dijual di iCreate.id juga memiliki kualitas yang baik dan tahan lama.

Di iCreate.id, kalian tidak perlu repot-repot keluar rumah. Cukup buka website-nya di sini, kalian bisa memilih ragam produk sesuai kebutuhan kalian. Tinggal dipilih sesuai selera dan anggaran saja. Yang mana pun kalian pilih, dijamin tidak akan menyesal.

Jika kalian tipe orang yang sering penasaran dan tidak puas kalau hanya memilih barang dari website, kalian juga bisa mendatangi gerai iCreate.id di Pesona Square Depok. Tapi ingat, ketika keluar rumah, tetap jaga jarak dan patuhi selalu protokol kesehatan, ya!

Nah, seperti apa, sih produk furniture dari iCreate.id yang kalian butuhkan selama bekerja? Bagi saya, paling tidak ada tiga. Kursi kerja, meja kerja, dan sofa. Yuk kita simak satu per satu.

1. Kursi Kerja

Seperti yang sudah saya kemukakan di awal, iCreate.id punya beragam pilihan kursi kerja. Mulai dari yang biasa hingga yang super nyaman. Totalnya ada sembilan jenis. Tinggal kalian pilih saja sesuai selera dan kebutuhan. Mau yang pakai roda ada. Mau yang pakai kaki juga ada.

Tapi kalau menurut saya, jenis kursi kerja yang paling cocok untuk bekerja dari rumah ada tiga tipe. Pertama, Halstatt Kursi Kantor. Kedua, Hangzhou Staff Chair. Dan yang ketiga, Milstatt Manager Chair.

Soal harga jangan khawatir. Ketiga tipe kursi pilihan saya dijual dengan harga di bawah Rp1,4 juta. Murah, kan? Meski terjangkau, kualitas kursi kerja ini setara dengan kursi kerja yang sering kalian temui di kantor. Awetnya pasti bertahun-tahun.

Nah, daripada penasaran seperti apa bentuknya, lebih baik kalian lihat infografis di bawah ini.


Bagaimana? Keren, kan? Selain terjangkau dan tahan lama, iCreate.id juga punya satu keunggulan lagi yang sayang kalian lewatkan. Bagi kalian yang tinggal di wilayah Jabodetabek dan Bandung, iCreate.id membebaskan ongkos kirim dan instalasi.

Asyik, kan? Tinggal klik langsung bisa kerja!

2. Meja Kerja

Yang tidak kalah penting saat bekerja dari rumah adalah meja kerja. Jika meja kerja terlalu pendek, maka leher kalian akan berisiko terserang pegal-pegal. Jadi, kita memerlukan meja kerja yang baik dan proporsional saat bekerja dari rumah.

iCreate.id juga punya deretan meja kerja yang apik. Total ada 15 tipe meja kerja yang bisa kalian pilih di situs resmi iCreate.id. Dari sekian banyak pilihan, manakah yang paling cocok untuk mendukung aktivitas kita selama bekerja dari rumah?

Sama seperti kursi kerja, saya punya tiga pilihan meja kerja favorit. Pertama, Gosausee Workstation. Kedua, Como Double Desk. Dan yang ketiga, Hillier Double Desk. Seluruhnya adalah meja kerja dengan kualitas nomor wahid dan tidak perlu diragukan lagi. Untuk lebih jelasnya, simak infografis di bawah ini.


Harganya juga tidak bikin kantong bolong. Semua pilihan meja kerja di atas dibanderol dengan harga di bawah Rp3,6 juta saja. Seperti halnya kursi kerja, iCreate.id juga menggratiskan ongkos kirim dan pasang bagi kalian yang bermukim di Jabodetabek dan Bandung.

Jadi, tunggu apa lagi?

3. Sofa

Lah, katanya kerja dari rumah? Kok, ada sofa? Eits, jangan salah. Setelah seharian bekerja kita juga butuh istirahat. Kita perlu selonjoran. Kita juga butuh meregangkan badan supaya tidak kaku dan pegal-pegal.

Inilah yang disebut dengan worklife balance. Waktu istirahat dan bekerja mesti seimbang. Dengan istirahat yang cukup, energi dan semangat kalian akan terisi kembali dan siap digunakan untuk menunaikan tugas dan pekerjaan dari rumah.

Untuk urusan leha-leha, iCreate.id memang jagonya. Ada banyak tipe sofa yang bisa kalian pilih ketika mengunjungi website iCreate.id. Total ada empat merk sofa yang bisa menemani waktu santai kalian selepas bekerja.

Dari keempat pilihan tersebut, jagoan saya ada tiga. Pertama, Amorinito Blue 1-Seater. Kedua, Amorinito Krem 1-Seater. Terakhir, Haiti Sofa 1-Seater. Masing-masing dijual dengan harga kurang dari Rp3 juta saja.

Penasaran bagaimana rupanya? Silakan pelototi infografis di bawah ini.


Keren, kan? Pasti sudah ga sabar, dong, ingin merasakan keempukan sofa dari iCreate.id. Daripada cuma mengkhayal, lebih baik kunjungi saja website resmi iCreate.id sekarang juga!

Mengapa Harus Berbelanja di iCreate.id?

Ada beberapa keunggulan yang bisa kalian menfaatkan ketika berbelanja di iCreate.id. Asal tahu saja, iCreate.id juga menyediakan cicilan 0%, lho! Bagi nasabah BCA, CIMB Niaga, ataupun Mandiri; kalian bisa memanfaatkan fitur cicilan 0% ketika berbelanja di iCreate.id.

Dengan cicilan 0%, pemenuhan kebutuhan meja dan kursi kerja di rumah sendiri akan menjadi lebih mudah dan tidak membebani anggaran. Dengan meja dan kursi kerja yang nyaman, kita bisa bekerja dengan lebih aktif dan produktif.


O ya, untuk kalian yang memesan secara online, di website iCreate.id juga disediakan fitur pelacakan barang. Ketika sudah membayar, kalian tinggal memasukkan nomor pesanan untuk melacak keberadaan pesanan. Cukup mainkan jari, lokasi barang sudah bisa diketahui. 

Selain bisa memesan melalui website, galeri iCreate.id juga tersedia di marketplace kesayangan kalian. Pas banget buat para pemburu diskonan. Seperti belum lama ini, iCreate.id memberi potongan harga dalam rangka promo "Waktu Indonesia Belanja" di Tokopedia.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mengeluh saat bekerja dari rumah. Meski tantangan semakin berat, kita bisa tetap produktif ketika didukung ruang dan peralatan kerja yang nyaman. Untuk kebutuhan meja dan kursi selama bekerja dari rumah, percayakan saja pada iCreate.id! [Adhi]

 
*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog yang diselenggarakan iCreate.id. Gambar bersumber dari dokumentasi pribadi dan website iCreate.id. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

#IniUntukKita – Creative Financing: Paradigma Baru Pembiayaan Infrastruktur Tanpa Kas Negara


Infrastruktur ibarat urat nadi perekonomian bangsa. Semakin cepat dibangun, semakin cepat pula roda ekonomi berputar.

Karena itu, paradigma pembiayaan infrastruktur modern tidak boleh hanya mengandalkan APBN/APBD semata. Creative financing hadir sebagai solusi pendanaan tanpa membebani kas negara.

*** 

Pernahkah kita berpikir apa rasanya bepergian tanpa jalan tol, jalur kereta api, atau bandara? Sempatkah kita merenung apa jadinya aktivitas perdagangan tanpa pelabuhan? Atau sudahkah kita bertafakur bagaimana nasib petani tanpa aliran irigasi dari bendungan?

Tanpa kehadiran tol, jalur kereta api, dan bandara; kemacetan pasti merajalela. Perjalanan menuju kantor, sekolah, atau lokasi usaha bakal terhambat.

Tanpa peran pelabuhan, aliran barang dan logistik dari dan luar negeri pasti akan tersendat. Seperti halnya nasib petani tanpa bendungan. Tanaman pangan rentan terserang risiko gagal panen akibat kekurangan asupan air.

Kawan, itulah makna penting pembangunan infrastruktur. Dengan jalan tol, kereta api, atau bandara; ruang gerak dan aktivitas tentu menjadi lebih luas. Kita bisa melakukan lebih banyak hal produktif seperti menuntut ilmu dan bekerja.

Dengan pelabuhan, aliran logistik jadi lebih lancar sehingga hasil produksi bisa tersebar merata ke seluruh penjuru Nusantara. Begitu pula dengan keberadaan bendungan sebagai sarana irigasi. Petani bakal hidup sejahtera karena tanaman tumbuh subur dan produktivitas hasil pertanian meningkat.


 
Jadi, tidaklah berlebihan bila infrastruktur disebut sebagai syarat utama menuju bangsa sejahtera. Berkat infrastruktur, sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah akan tumbuh dan berkembang. Hasilnya bisa dirasakan dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Hanya saja, pembangunan infrastruktur kita belumlah sempurna. Kajian Global Infrastructure Hub (GIH) pada 2017 menyebut masih ada celah (gap) pembiayaan sebesar 140 miliar Dolar AS hingga 2040 mendatang agar Indonesia bisa meningkatkan kualitas infrastrukturnya hingga setara dengan negara-negara kelas menengah.

Studi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyodorkan hal senada. Menurut Bappenas, dibutuhkan belanja infrastruktur hingga Rp7.000 triliun pada 2020—2024 agar pertumbuhan ekonomi bisa optimal. 

Sementara kapasitas APBN dalam mendanai infrastruktur hanya sekitar Rp5.000 triliun saja. Gap sebesar Rp2.000 triliun mesti dipenuhi dari luar kas negara. Di sinilah peran creative financing dibutuhkan.


 


Sesuai namanya, creative financing ialah pembiayaan infrastruktur yang dananya tidak bersumber dari APBN/APBD. Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur dibiayai melalui berbagai skema kerja sama antara pemerintah, BUMN, swasta, maupun masyarakat.

Creative financing adalah paradigma anyar dalam membiayai kebutuhan pembangunan. Dengan konsep ini, tanggung jawab pembiayaan infrastruktur tidak semata-mata dibebankan pada pundak pemerintah.

Akan tetapi, semua pihak bersatu-padu dan bahu-membahu demi terciptanya Indonesia maju. Skema kerja sama ini sering disebut dengan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Lantas, apa saja jenis proyek infrastruktur yang dapat dibiayai melalui creative financing? Kementerian Keuangan telah membaginya ke dalam tiga jenis, yakni proyek yang: (i) layak secara ekonomi tetapi finansial marjinal dengan kapasitas fiskal terbatas; (ii) layak secara ekonomi tetapi finansial marjinal dengan kapasitas fiskal memadai; dan (iii) layak secara ekonomi dan finansial.

Dengan kata lain, jika proyek infrastruktur dinilai menguntungkan dan mampu menghasilkan pendapatan setelah beroperasi, maka sebaiknya tidak dibiayai melalui kas negara.

Apa sebab? Karena proyek seperti ini sudah menjadi keahlian BUMN dan Swasta. Dengan begitu, dana APBN/APBD bisa digunakan untuk proyek infrastruktur umum yang memang bersifat nirlaba, seperti jalan raya, fasilitas umum, dan kesehatan masyarakat.

  
Sekarang, mari saya sodorkan satu contoh. Jalan tol Gempol—Pandaan, misalnya. Jalan tol yang beroperasi sejak 2019 ini tidak dibiayai APBN/APBD ataupun perbankan, melainkan dari dana investasi infrastruktur (DINFRA).

DINFRA adalah wadah berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) guna menghimpun dana dari masyarakat, yang selanjutnya digunakan Manajer Investasi untuk berinvestasi pada aset infrastruktur dalam bentuk utang atau ekuitas.

Jadi, skemanya seperti ini. PT Jasamarga Pandaan Tol sebagai pemilik konsesi jalan tol Gempol—Pandaan menjual sahamnya kepada Mandiri Investasi selaku Manajer Investasi. 

Kemudian, Mandiri Investasi menerbitkan DINFRA yang dapat dibeli oleh investor dan masyarakat di pasar modal, dengan potensi imbal hasil sekitar 9 persen per tahun. Hak imbal hasil ini akan dibayar dari pendapatan jalan tol itu sendiri.

Singkat kata, melalui DINFRA, masyarakat punya opsi investasi yang menguntungkan. Selain itu, masyarakat juga bisa berperan aktif dan turut serta menyukseskan pembangunan bangsa lewat infrastruktur jalan tol.

Selain DINFRA, contoh lain creative financing juga bisa kita temui dari skema pembiayaan efek beragun aset (EBA) atas ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi. PT Jasa Marga selaku operator jalan tol mengagunkan hak atas pendapatan ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi selama lima tahun ke depan.

Hak atas pendapatan itu kemudian dijual kepada masyarakat, melalui perantara Manajer Investasi, dalam bentuk surat utang yang disebut EBA.

Dengan membeli EBA, masyarakat bisa memperoleh imbal hasil hingga 9 persen per tahun. Dana hasil penjualan EBA itu nantinya akan digunakan PT Jasa Marga untuk membangun ruas jalan tol di daerah lain di seluruh Indonesia.

  
Dari contoh EBA di atas, kita bisa menarik kesimpulan. Manfaat creative financing tidak sekadar menuntaskan proyek yang sedang dibangun saja, tetapi juga punya efek berganda. 

Dengan berinvestasi pada EBA, artinya kita tidak hanya ikut serta membiayai ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi saja, tetapi juga berbagai ruas tol lainnya milik PT Jasa Marga di seluruh Indonesia.

Dampaknya pun bisa dirasakan secara lebih luas. Saudara kita di luar daerah juga bisa merasakan kemudahan dan kecepatan bertransportasi melalui jalan tol. Konektivitas antar-daerah akan meningkat, sehingga roda perekonomian bakal berputar secara lebih cepat.

Contoh jalan tol di atas hanyalah dua di antara beragam proyek infrastruktur yang dibiayai melalui creative financing. Selain itu, ada pula proyek infrastruktur tanpa pembiayaan kas negara seperti pembangkit listrik milik PT Indonesia Power senilai Rp78,3 triliun, bandara Kulon Progo besutan PT Angkasa Pura I senilai Rp6,7 triliun, maupun tol Trans Jawa buatan PT Waskita Toll Road senilai Rp135 triliun.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung rencana pembangunan infrastruktur yang ditetapkan pemerintah. Syukur-syukur bila mampu terlibat aktif dengan membeli produk investasi creative financing. Itu lebih baik.

Sebab kita paham, tujuan pembangunan infrastruktur adalah untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Persis seperti tagar yang mengawali judul artikel ini: #IniUntukKita. [Adhi]

  
*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Merah Putih Creator Competition kategori Blog Writing Competition yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Menitip Masa Depan pada Energi Terbarukan



Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan energi fosil. Tapi bukan berarti kita berdiam diri saja. Banyak cara untuk menghasilkan energi terbarukan. Biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat adalah tiga di antaranya.

*** 

Lebih dari seratus tahun lalu, Henry Ford, pencetus revolusi industri transportasi asal Amerika Serikat, pernah membuat ramalan. Katanya, energi masa depan akan berasal dari rumput, buah, tanaman—hampir apa saja.

Kala itu, banyak orang yang meragukan kebenaran ucapan Sang Revolutor. Namun seiring perkembangan zaman, ketika teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, mayoritas orang sepakat bahwa apa yang diucapkan Ford bukanlah pepesan kosong belaka.

Energi fosil yang lazim kita gunakan, seperti batu bara dan minyak bumi, memang punya beragam efek negatif. Mulai dari polusi udara, efek gas rumah kaca, pemanasan global, hingga hujan asam. Penelitian Gopal dan Reddy (2015) juga membuktikan bahwa proses eksploitasi energi fosil punya dampak buruk terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

Selain merusak lingkungan, energi konvensional juga dapat menurunkan kualitas kesehatan. Pembakaran pabrik dan kendaraan bermotor menyebabkan kita sesak napas. Itulah mengapa, kita lebih senang menghirup segarnya udara pegunungan ketimbang menyesap sesaknya hawa perkotaan.

Lagi pula, energi fosil bukanlah sumber daya abadi. Suatu saat nanti, jika dieksploitasi terus-menerus, akan habis dari muka bumi. Gioietta Kuo, peneliti dari Stanford, memprakirakan energi fosil akan habis pada 2090. Dengan demikian, jelaslah bahwa mencari sumber energi terbarukan mesti menjadi prioritas bangsa mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

Di tengah pencarian sumber energi terbarukan, kita patut bersyukur. Capaian produksi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia terus meningkat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat angka produksi EBT hingga Mei 2020 sudah mencapai 15.805,59 GWh, atau setara dengan 14,21 persen total produksi energi nasional.

Dibanding dua tahun lalu, angka bauran EBT kita mencatat lonjakan yang cukup menggembirakan. Pada 2018, pangsa EBT terhadap total energi nasional hanya berkisar di angka 8,55 persen saja. Dengan kata lain, kita membukukan kenaikan hampir dua kali lipat hanya dalam waktu singkat.




Namun demikian, kita pun sadar bahwa kita tidak boleh lekas berpuas diri. Sebab masih tersisa ruang perbaikan agar cita-cita meningkatkan bauran EBT hingga 23 persen pada 2025, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, benar-benar dapat diwujudkan.

Upaya pencarian sumber energi alternatif terus dilakukan. Banyak penelitian telah membuktikan komoditas alam dan organik bisa menjadi sumber energi terbarukan. Mulai dari singkong, sampah organik, hingga tebu. Hanya saja, penerapannya tidak semudah membalik telapak tangan.

Tingginya biaya produksi masih menjadi kendala terbesar. Sumber energi ramah lingkungan seringkali gagal mencapai pasar gara-gara mahalnya ongkos produksi. Karena alasan itulah batubara masih menjadi penyumbang bahan baku terbesar energi listrik nasional hingga sekarang.

Maka dari itu, energi alternatif yang perlu didorong dan dikembangkan harus berasal dari komoditas yang pasokannya melimpah dan punya daya saing. Agar ongkos produksinya bisa menandingi energi konvensional. Di antara beragam energi alternatif, ada tiga sumber energi yang keberadaannya patut dicermati, yakni biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat.

Nah, faktor apa yang menyebabkan ketiga sumber energi itu mampu menjadi tulang punggung EBT nasional pada masa depan? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa sediakan kopi dan camilan. Jika sudah, ayo kita ulas satu per satu.



Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan sebenarnya sudah dilakukan sejak dua belas tahun silam. Kala itu, kadar biodiesel baru mencapai 2,5 persen. Artinya, setiap 100 liter biodiesel terdiri atas campuran 2,5 liter bahan bakar nabati atau energi terbarukan dan 97,5 liter bahan bakar solar. Seiring perkembangan teknologi, kandungan bahan bakar nabati terus ditingkatkan.

Keseriusan kita dalam mengembangkan biodiesel baru terlihat sejak 2016. Pada tahun itu, program mandatori B20 (biodiesel dengan kadar campuran bahan bakar nabati sebesar 20%) mulai digalakkan. Sesuai namanya, mandatori merupakan kewajiban atau keharusan. Dengan kata lain, sektor tertentu seperti usaha mikro, perikanan, pertanian, transportasi, dan pelayanan umum wajib menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini.

Upaya kita tidak berhenti sampai di situ. Pada 2020, program biodiesel terus ditingkatkan menjadi B30. Itu berarti, kadar energi terbarukan dalam tiap tetes solar semakin tinggi. Secara bertahap, kadar nabati dalam solar akan terus dinaikkan hingga berada di titik maksimal, yakni B100. Jika itu terlaksana, maka 100 persen kandungan solar bukan lagi berasal dari minyak bumi melainkan energi terbarukan.

Asa menciptakan B100 pada masa depan memang bukan sekadar impian. Sebab kandungan nabati dari biodiesel sejatinya berasal dari ekstraksi minyak kelapa sawit bernama bioetanol. Di sinilah kita patut bersyukur. Karena Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak kelapa sawit nasional pada 2019 mencapai 51,8 juta ton, atau meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16,7 juta ton dimanfaatkan untuk kepentingan domestik. Yang melegakan, setengah dari permintaan minyak kelapa sawit domestik diserap oleh program biodiesel.


  

Sederet catatan di atas tentu membanggakan. Akan tetapi, bukan berarti program biodiesel bebas hambatan. Tantangan terbesar, seperti yang dikemukakan di awal, ialah menekan harga jual biodiesel agar, paling tidak, setara dengan bahan bakar konvensional.

Untuk saat ini, selisih ongkos produksi biodiesel disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Konsep pengelolaannya pun sangat baik, karena menjunjung tinggi semboyan “dari kita untuk kita”. Perusahaan sawit berorientasi ekspor dipungut iuran sejumlah tertentu. Dana iuran itu digunakan untuk menambal selisih ongkos produksi biodiesel, agar harga jual biodiesel di pasaran bisa bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM).

Kita pun berharap banyak pada perkembangan teknologi. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya konsumsi biodiesel dalam negeri, teknologi produksi pun akan terus berkembang. Ongkos produksi biodiesel pun suatu saat akan lebih murah daripada biaya produksi bahan bakar konvensional.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah ini. Secara bertahap, gantilah bahan bakar mesin dan kendaraan kita dengan biodiesel. Selain ramah lingkungan, kita juga berperan serta dalam membantu bangsa menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi impor BBM. Keren, kan?




Selain biodiesel, tenaga surya juga menjadi sumber alternatif EBT yang potensial. Apalagi, sumber energi yang satu ini tidak akan habis dimakan zaman. Selama ada sinar matahari, selama itu pula energi bisa dihasilkan.

Saat ini, teknologi yang mengubah radiasi sinar matahari menjadi energi listrik secara langsung sudah tersedia. Namanya solar panel atau photovoltaic. Di Indonesia, teknologi solar panel sudah banyak digunakan untuk Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Yang menarik, penggunaan tenaga surya sebagai sumber energi listrik alternatif pengganti batubara terus meningkat. Apa sebab? Sama seperti biodiesel, keseriusan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi terbarukan memang memegang peranan yang begitu besar.

Kementerian ESDM, melalui Permen ESDM No.12/2008, telah meneguhkan penggunaan tenaga surya sebagai sumber penerangan jalan. Dampaknya, pembangunan infrastruktur penerangan jalan berbasis tenaga surya pun terus meningkat. Selama 2016—2019, sudah ada 46.613 unit PJU-TS yang dibangun.

Lampu tenaga surya itu telah menerangi 2.300 km jalan di 258 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, target pembangunan PJU-TS kembali dinaikkan. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 45.000 unit dalam setahun, atau hampir setara dengan torehan pembangunan selama 4 tahun terakhir.


  

Bukan hanya jalan raya saja yang mendapat sentuhan tenaga surya. Lampu tenaga surya juga sudah menerangi puluhan ribu desa yang tersebar di 22 provinsi berkat program bantuan LTSHE. Sepanjang 2017—2019, ada 363.220 unit LTSHE dibagikan secara cuma-cuma kepada desa yang belum menikmati listrik sama sekali.

Dari keseluruhan daerah, Nusa Tenggara Barat dan Papua menjadi dua provinsi dengan jatah pembagian LTSHE terbesar. Secara berturut-turut, jumlah LTSHE yang diterima oleh kedua provinsi di Kawasan Timur Indonesia itu mencapai 21.558 unit dan 13.252 unit.

Selain sebagai upaya mengurangi peran batubara yang saat ini menjadi sumber energi listrik terbesar nasional, program bantuan LTSHE juga menjadi ejawantah sila kelima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan bantuan LTSHE, saudara kita yang berada di area terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) bisa mendapat penerangan yang sama dengan kita yang berada di daerah jangkauan aliran listrik.

Kita paham bahwa penerangan merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam mencapai kesejahteraan. Melalui penerangan yang baik, kegiatan belajar-mengajar dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerangan adalah sumber harapan bangsa.

Ke depan, pemanfaatan tenaga surya tidak berhenti sebagai sumber penerangan saja. Pada Februari lalu, PT Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN, sudah menggunakan teknologi solar panel di atap gedung kantor dan unit bisnis pembangkitnya di Bali, untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, bukan mustahil bila teknologi solar panel nantinya akan digunakan secara masif di gedung perkantoran di daerah perkotaan. Atau bahkan di rumah-rumah sebagai alternatif pengganti listrik. Jika itu terjadi, harapan menurunkan emisi karbon dan membangun manusia Indonesia yang peduli akan kelestarian lingkungan pasti bakal terwujud.


 
Jika biodiesel dan tenaga surya sudah tidak asing kita dengar, maka yang satu ini pasti belum banyak diketahui orang. Ya, tidak banyak yang mengira kulit cokelat bisa digunakan sebagai sumber alternatif energi terbarukan. Dan yang paling membanggakan, temuan mengenai potensi kulit cokelat sejatinya datang dari ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Dieni Mansur.

Pada 2014, Dieni mempublikasikan jurnal bertajuk Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals. Dalam kajiannya, ia membuktikan kulit cokelat bisa menghasilkan minyak nabati, bernama pyrolysis oil, yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik.

Pyrolysis oil selama ini memang dikenal punya beragam manfaat. Di bidang kesehatan, minyak nabati ini dimanfaatkan sebagai bahan baku antiseptik dan cairan pembersih luka. Dalam bidang pangan, pyrolysis oil lazim digunakan sebagai cairan pembuat cuka.

Khusus di bidang energi, belum banyak yang memanfaatkan pyrolysis oil. Padahal, menurut Dr. Dieni, potensinya sangat besar. Kulit cokelat—bahan baku pyrolysis oil—berasal dari residu atau limbah kebun cokelat. Cokelat yang biasa kita konsumsi berasal dari biji cokelat. Sedangkan kulitnya biasanya dibuang petani dan menjadi limbah. Itu artinya, memanfaatkan kulit cokelat sama dengan melestarikan lingkungan.

Dengan demikian, tinggal satu pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah biaya produksi pyrolysis oil dari kulit cokelat bisa menandingi ongkos produksi batubara? Untuk menjawab pertanyaan itu, dua tahun lalu saya bertemu Dr. Dieni secara langsung. Kebetulan, saya bekerja sebagai analis ekonomi yang terbiasa menghitung ongkos produksi.


  

Setelah kami kalkulasi, hasilnya cukup mencengangkan. Ongkos produksi pyrolysis oil lebih hemat sekitar 20—30 persen ketimbang batubara. Selain itu, tingkat kalori yang dihasilkan pyrolysis oil lebih tinggi daripada batubara. Tingkat kalori batubara yang lazim digunakan PLN hanya berkisar 4.400 kcal. Sedangkan pyrolysis oil mampu menghasilkan energi setara 5.200 kcal. Hebat, kan?

Untuk urusan pasokan, kita tidak perlu khawatir. Indonesia adalah negara penghasil cokelat terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kementerian Pertanian mencatat produksi cokelat nasional pada 2019 mencapai 783,97 ribu ton, meningkat 2,18 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu semua bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil pyrolysis oil.

Apa yang ditemukan Dr. Dieni memberi banyak harapan sekaligus—sekali lagi—membuktikan bahwa Indonesia kaya akan sumber energi bersih dan terbarukan. Ke depan, apabila temuan Dr. Dieni bisa diekskalasi ke tingkat produksi masal, tentu akan meningkatkan capaian EBT dalam bauran energi nasional.




Dari ulasan tiga sumber energi terbarukan di atas, tentu kita berharap banyak. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa semestinya kita menitipkan masa depan bangsa pada energi terbarukan. Karena Indonesia, nyatanya memang punya kekayaan alam melimpah, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tinggal bagaimana kita yang hidup pada zaman sekarang menentukan langkah ke depan. Sudahkan kita berperan serta dalam proses penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan? Ingat, apa yang kita kerjakan saat ini pasti punya dampak bagi generasi mendatang. Jadi, ayo gunakan energi terbarukan untuk masa depan yang lebih gemilang. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 bertema Energi untuk Indonesia kategori blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.



Daftar Referensi

1. Gopal, D, dan Reddy, R.T. 2015. Exploitation of Conventional Energy Resources—Impacts on Environment—A Legal Strategy for Sustainable Development. 4th International Conference on Informatics, Environment, Energy and Applications Volume 82 of IPCBEE.

2. Kuo, Gioietta. 2019. When Fossil Fuels Run Out, What Then? [daring, https://mahb.stanford.edu/library-item/fossil-fuels-run/, diakses pada 29 Agustus 2020].

3. Kementerian ESDM. 2020. Capaian Kinerja 2019 dan Program 2020. Jakarta: Kementerian ESDM.

4. Yolanda, F. 2020. Produksi Sawit 2019 Capai 51,8 Juta Ton [daring, https://republika.co.id/berita/q54sje370/produksi-sawit-2019-capai-518-juta-ton, diakses pada 29 Agustus 2020].

5. Mansur D. dkk. 2014. Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals.

6. Kementerian Pertanian. 2020. Produksi Kakao Menurut Provinsi di Indonesia 2016—2020. Jakarta: Kementerian Pertanian.