Mata kami langsung terasa perih saat mencermati rekap pengeluaran bulan ini. Bukan karena sakit mata, tetapi karena angka-angka ajaib yang muncul tiba-tiba. Bulan lalu, rasanya tidak ada. Namun sekarang, ia tega menuntut tabungan yang kami simpan untuk keperluan tak terduga.
Meskipun kali ini terbilang mendadak, tetap saja kami kecewa. Sebab setelah menilik dalam-dalam, angka berjuta-juta itu datangnya dari pos pengeluaran yang harusnya bisa kami kendalikan. Ya, apalagi kalau bukan beban pulsa, kuota data, dan hasrat internetan?
***
Andai saja kami tidak menempati apartemen dengan fasilitas akses internet, sepertinya kegelisahan ini tidak akan muncul. Sebab kami tahu, penyebab membengkaknya pengeluaran rumah tangga kali ini, bukanlah berasal dari pemakaian internet yang melebihi batas kewajaran. Melainkan lantaran WiFi di apartemen yang sering lemot tidak keruan.
Alhasil, kami jadi sering menggunakan kuota data saat menonton YouTube di ponsel. Tidak jarang, kami juga terpaksa thetering demi berselancar mencari bahan tulisan atau mengirim dokumen kerjaan dari laptop. Tentu saja, semua ini tidak perlu dilakukan andaikan provider internet di apartemen kami tidak bermasalah.
Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Kami harus tetap membayar biaya sewa apartemen bulanan secara penuh, meski sebenarnya fasilitas internet yang kami peroleh berkurang drastis. Miris! Untung saja layanan TV kabel kami tidak sampai ikut-ikutan bermasalah.
Sebagai karyawan kantoran, internet memang menjadi kebutuhan utama bagi saya. Perintah atasan bisa datang kapan saja, termasuk saat sedang selonjoran di kasur. Kirim dokumen ini, garap kerjaan itu, atau sekadar membalas surel dua yang hari lalu, adalah sekelumit ragam kewajiban yang harus saya kerjakan.
Akses internet juga saya butuhkan untuk menuntaskan hobi saya menulis di blog. Ya, menjadi seorang part-time blogger tentu memerlukan akses internet yang mumpuni. Entah untuk mencari ide, data, maupun bahan tulisan, balas-membalas surel dan tawaran pekerjaan, serta tentu saja, menayangkan artikel di blog.


Maka, laptop dan akses internet harus tetap siaga guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan atau menangkap peluang yang sayang dilewatkan. Apapun kondisinya! Termasuk apabila harus mengorbankan kuota data di ponsel tatkala WiFi apartemen sedang ngos-ngosan.
Nadia—istri saya, sama saja. Tugas kuliah pascasarjananya membuat ia sering memelototi laptop. Maklum, dosennya sering memberinya tugas menulis esai—yang bagi saya lebih rumit daripada membuat artikel di blog. Apalagi kalau sudah memasuki musim ujian. Bisa-bisa ia terjaga hingga larut malam.
Seperti saya, ia juga memerlukan akses internet untuk menelusuri berbagai literatur. Mulai dari kajian, tesis, disertasi, penelitian, data mentah, hingga artikel dan isu terkini mengenai ekonomi. Kemarin, saat internet apartemen sedang ngadat, ia pun harus rela thetering untuk merampungkan tugas-tugasnya.
Nah, kalau kalian bagaimana? Apakah pernah mengalami nasib serupa? Ingin menayangkan artikel di blog namun terkendala jaringan? Atau sedang online shopping tetapi loading screen terus berputar-putar?
Ah, saya yakin, kita semua pernah mengalaminya. Benar, kan?



Zaman sekarang, siapa pula yang tidak butuh internet? Dari semula kebutuhan tersier, internet kini telah menjelma menjadi kebutuhan sekunder. Bahkan mungkin kebutuhan primer bagi sebagian orang yang bekerja secara online.
Kisah kami di atas, mungkin hanya sebatas debu di padang pasir. Ada banyak orang di luar sana yang mengandalkan paket internet untuk mencari rezeki. Sebut saja digital freelancer, remote worker, content creator, atau digital entrepreneur. Pekerjaan mereka tidak terbatas pada satu ruang dan bisa dilakukan dari mana saja, asalkan terhubung dengan koneksi internet. Biar saya tebak, salah satunya adalah kalian. Benar, kan?
Di sisi lain, cara orang-orang menikmati hiburan juga semakin berbasis digital. Game online dan layanan TV kabel adalah dua dari sekian banyak cara mengisi waktu luang yang membutuhkan jaringan internet. Bagi warga di kota-kota besar, kebutuhan ini bahkan sudah membudaya. Seakan tiada hari tanpa mengecek akun media sosial atau bermain gim bersama rekan-rekan.


Bila kita tilik datanya, faktanya memang demikian. Hootsuite dalam Digital in 2019 in Indonesia menyebutkan bahwa pengguna internet terus meningkat. Situs layanan manajemen konten digital asal Kanada tersebut menaksir setidaknya terdapat 150 juta pengguna internet di Indonesia pada medio Januari 2019.
Jumlah ini meningkat 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang tercatat sebanyak 132,7 juta pengguna. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 56%, atau meningkat 6% dibanding tahun lalu.
Meningkatnya pengguna internet menyebabkan perubahan preferensi masyarakat dalam memperoleh informasi secara struktural. Bila 20—30 tahun lalu orang-orang mengandalkan surat kabar dan media cetak sebagai sumber informasi kredibel, kini semuanya telah berubah. Media daring semakin berjaya sejalan dengan semakin cepatnya koneksi dan loading time internet.
Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya mudah saja. Sebab hasrat masyarakat untuk memperoleh informasi terkini sudah semakin laju. Frekuensinya pun menjadi semakin ekspres. Tidak lagi dari hari-ke-hari, tetapi setiap jam atau bahkan setiap menit, kita butuh informasi terbaru.
Ya, semua orang seakan mengharapkan informasi teranyar saban kali memelototi gawainya. Sebab gagal mendapat update informasi bisa-bisa dicap penyakit kekinian yang akrab menjangkiti sebagian generasi milenial: kudet, singkatan dari “kurang update”.
Mungkin ada satu pertanyaan yang melintas di kepala kita. Lantas, media apa yang paling sering digunakan oleh para pencari informasi?


IDN Research Institute dalam laporan bertajuk Indonesia Millennial Report 2019 memberikan jawabannya. Menurutnya, televisi dan media digital adalah dua sumber informasi yang paling digandrungi kalangan milenial.
Dari 1.400 orang milenial di 12 kota besar di Nusantara, 97% di antaranya pasti menonton televisi dalam sebulan terakhir. Lebih dari setengah responden (54,5%) mengakses media digital berbasis internet dalam kurun waktu yang sama. Sedangkan sebagian kecilnya memperoleh informasi dari radio (16%), surat kabar (13%), tabloid (4%), dan majalah (3%).



Berbekal fakta di atas, maka tidak heran bila kini banyak provider yang menggabungkan dua media paling diminati oleh kalangan milenial dalam satu paket layanan, yakni TV Kabel dan internet di rumah. Tidak perlu terpisah-pisah, semuanya bisa dinikmati dalam sekali iuran.
Nah, beruntunglah kalian yang tinggal di rumah sendiri dan memiliki kendali penuh atas pilihan home entertainment (tidak seperti kami yang tinggal di apartemen sewa, hiks). Sebab ada tiga keunggulan yang bisa kalian manfaatkan ketika menggunakan layanan TV kabel dan internet dalam satu paket, ketimbang membelinya secara terpisah. Silakan teliti infografis di bawah ini.


Pertama, tentu saja lebih hemat. Dengan adanya fasilitas internet, maka selain bisa menikmati hiburan melalui TV, kalian juga bisa mengurangi pemakaian kuota data di ponsel. Pas buat kalian yang gemar YouTube-an sambil selonjoran atau bekerja dari rumah.
Kedua, anti repot. Bayarnya sekali, dapatnya dua manfaat sekaligus. Kalian hanya perlu membayar tagihan ke satu provider, alih-alih bersusah-payah ke dua provider. Hal ini juga sangat penting saat terdapat kendala, misalnya internet lemot. Cukup satu aduan, semuanya bisa tuntas tanpa beban.
Terakhir, meningkatkan kualitas hidup berumah tangga. LG dalam survei berjudul Home Entertainment Trends Survey Data Report 2017 mengungkap sebuah fakta menarik. Menurutnya, semakin tinggi kualitas home entertainment, maka semakin baik pula kualitas kehidupan berumah tangga. Layanan TV Kabel dan internet dalam satu paket, sudah pasti akan menambah kualitas hiburan di rumah kalian.
Tiga manfaat tadi rasanya sudah cukup bagi kita untuk mengerti, betapa pentingnya layanan TV kabel dan internet pada zaman sekarang. Oleh karena itu, menentukan provider TV kabel dan internet yang tepat menjadi sangat krusial. Sebab salah memilih provider, bisa-bisa kita menjadi rugi.
Seperti kisah internet lemot di apartemen saya tadi. Ah, sudahlah jangan diungkit lagi.
Kabar baiknya, kalian tidak perlu bingung bila ingin mencari provider TV kabel dan internet yang andal. Sebab kini ada Groovy yang akan membuat kualitas hiburan dan internet di rumah kalian lebih berwarna.
Penasaran? Makanya, jangan buru-buru pindah laman. Simak ulasannya dalam beberapa paragraf ke depan.



Groovy adalah provider yang cukup berpengalaman di kancah perinternetan dalam negeri. Layanan besutan PT Media Antar Nusa ini telah menjangkau kebutuhan internet bagi bisnis dan perusahaan sejak 1996.
Kini, Groovy hadir kembali di tengah-tengah kita dan memperluas layanannya dengan menghadirkan paket layanan TV Kabel dan Internet Rumah secara unlimited. Ya, kalian tidak salah baca: un-li-mi-ted alias tanpa batas.
Dobel kombo, deh. Dapat tontonan berkualitas sekaligus internetan sepuasnya. Mantap, bukan?


Supaya menjamin kualitas internet senantiasa cepat dan stabil, Groovy menggunakan jaringan fiber optik sampai ke dalam rumah. Hingga saat ini, jaringan fiber optik Groovy telah menjangkau 10 kota yang terdiri dari 54 perumahan, 30 apartemen, dan 254.325 titik lokasi. Area koneksinya sudah mencakup wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung.
Tidak hanya akses internet yang cepat. Groovy juga memiliki beberapa keunggulan. Mulai dari teknologi Static IP Address, helpdesk yang senantiasa standby selama 24 jam, gratis perangkat WiFi selama berlangganan, puluhan channel TV yang siap menjadi bahan tontonan, hingga harga yang transparan karena telah memperhitungkan pajak. Selengkapnya, silakan tilik infografis di bawah ini.


Bila melihat berbagai keunggulan di atas, mungkin kalian menduga bahwa layanan Groovy pasti dibanderol dengan harga yang mahal. Eits, jangan buru-buru menerka. Sebab nanti kalian bisa salah sangka.
Di luar dugaan kita semua, Groovy menawarkan paket layanan TV kabel dan internet dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai dari Rp349 ribu per bulan, kalian sudah bisa menikmati Paket Personal dengan kecepatan selancar hingga 15 Mbps. Paket ini sangat cocok untuk kalian yang tinggal sendiri di apartemen atau pasangan muda yang baru menikah.
Nah, bagi kalian yang sudah berkeluarga, di mana Si Kecil sudah mulai bisa merengek minta nonton film kartun atau YouTube, maka pilihan yang tepat adalah Paket Family. Dengan merogoh kocek sebesar Rp449 ribu per bulan, maka layanan TV kabel dan internet cepat hingga 30 Mbps dapat kalian nikmati.
Masih ingin lebih? Tenang. Groovy juga menyediakan Paket Gamer seharga Rp549 ribu per bulan dengan kecepatan akses internet mencapai 50 Mbps. Bagi kalian yang memiliki bisnis di rumah atau home office, maka Groovy juga menyediakan Paket Extreme seharga Rp649 ribu per bulan dengan kecepatan internet dua kali lipat dibanding Paket Gamer.
Sudah terbayang ingin mengambil paket yang mana? Kalau belum, coba teliti kembali pilihan paket dan fiturnya lewat infografis di bawah ini.


Kalau sudah rampung menentukan pilihan, sekarang saatnya mengetahui cara berlangganannya. Tidak perlu repot-repot, cukup lakukan tiga langkah mudah bila kalian ingin berlangganan Groovy.
Pertama, cek area. Pastikan rumah atau apartemen kalian berada dalam jangkauan jaringan fiber optik Groovy. Agar lebih pasti, silakan lakukan pengecekan melalui website Groovy dengan tautan di sini.
Kedua, pilih paket internet yang sesuai dengan kebutuhan kalian. Bila ingin paket TV kabel dan internet sekaligus, maka uraian di atas bisa kalian jadikan panduan dalam memilih.
Terakhir, pembayaran. Setelah menentukan pilihan paket, Groovy akan mengirim surel kepada kalian. Di sana, tersedia tata cara pembayaran atas paket yang dipilih, serta jadwal instalasi oleh petugas Groovy. Setelah beres bayar-membayar, petugas Groovy akan segera meluncur ke rumah kalian.
Supaya lebih mudah, ketiga langkah di atas telah saya rangkum dalam bentuk infografis bergerak di bawah ini. Silakan dicermati lebih lanjut, ya!





Kebutuhan layanan TV kabel dan internet di tengah-tengah keluarga memang semakin tidak bisa dibendung. Manfaatnya juga bukan terbatas pada hiburan semata. Bagi kalian yang terbiasa produktif bekerja atau berbisnis dari rumah, jaringan internet sudah menjadi kewajiban yang tidak boleh alpa.
Bagi yang tinggal di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya, kalian patut berbahagia. Sebab layanan TV kabel dan internet Groovy siap menjangkau rumah atau apartemen kalian. Jaringan fiber optik yang super cepat dan pilihan paket yang sangat terjangkau, menjadikan Groovy sebagai provider yang sayang bila kalian lewatkan begitu saja.
Kawan, coba kita pikir sejenak. Bukankah keceriaan dan senyuman keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya? Maka, tunggu apa lagi? Segera tuai hangatnya senyuman keluarga di rumah dengan tontonan berkualitas dan layanan internet tanpa batas dari Groovy!

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Article Writing Competition yang diselenggarakan oleh Groovy.


Foto, gambar, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Groovy.id, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis.



“Tumben sampai malam, Pak?” tanya pengojek yang saya tumpangi sepulang kerja. Sambil menggeser status pemesanan pada aplikasi di ponselnya menjadi “sedang bersama”, ia menyodorkan helm kepada saya.
“Kok, bisa tahu, Mas?” Saya agak heran. Dari mana ia hafal jam pulang kerja saya? Rasanya saya tidak pernah mengenalinya.
“Iya Pak, saya tahu dari aplikasi ini. Menurut data di sini, saya pernah mengantar Bapak seminggu yang lalu. Rumah Bapak di Petojo, kan?
***
Percakapan singkat kami membuka sesi diskusi panjang pada malam itu. Meskipun tidak bertatap muka (karena ia menyetir, sementara saya dibonceng), kami memaksa untuk tetap bersahut-sahutan.
“Sudah lama ngojek, Mas?” Saya berusaha membalikkan keadaan. Giliran dia yang menjadi objek cecar pertanyaan.
“Lumayan, Pak. Ada kali tiga tahun.”
“Sebelumnya kerja apa?” Saya penasaran.
“Saya di bank swasta, Pak. Karena bosan dengan rutinitas, akhirnya saya ngojek saja,” jawabnya setengah berteriak melawan lengkingan klakson pengendara lain yang tidak sabaran menunggu nyala lampu hijau di persimpangan jalan ibukota.
“Memangnya enakan ngojek, Mas?” Saya masih penasaran.
“Oh jelas, Pak,” tuturnya pasti. “Sewaktu di bank, saya pergi-pagi-pulang-malam, tapi gaji ga seberapa. Kalau sekarang, waktu kerjanya semau saya. Biasanya narik dari pagi sampai siang. Habis itu makan dan istirahat di rumah sampai sore. Selepas Maghrib, baru saya keluar lagi sampai jam 9. Ini Bapak yang terakhir.”
“Pendapatannya?” Kepalang tanggung. Pertanyaan pribadi pun saya luncurkan.
“Hampir dua kali lipat gaji saya di bank. Kalau rajin, malah bisa lebih, Pak. Hehe.” Saya bisa melihat senyum lebarnya lewat kaca spion. Menandakan kepuasan diri karena ia berhasil membuat saya tak mengira.


“Kalau Bapak sudah lama kerja kantoran?” Nampaknya ia mulai jengah dan mencoba balik bertanya.
“Sudah delapan tahun, Mas. Selama itu, saya tidak hanya bertugas di Jakarta saja. Saya juga pernah ditugaskan di Bogor, Bukittinggi, Bandung, dan Manado. Lumayan, keliling Indonesia gratis,” jawab saya bangga.
“Hebat, ya?”
“Ah, tidak juga, Mas. Yang hebat, ya, yang punya kantor. Saya, mah, hanya pekerja biasa,” kilah saya.
“Tapi, saya juga punya hobi sampingan yang menghasilkan, Mas,” tutur saya tidak mau kalah. “Sama seperti pekerjaan sampeyan, hobi saya juga tidak dibatasi oleh waktu. Saya bisa bekerja semau dan sesuka hati saya. Namanya ngeblog, Mas.”
“Hah, nge-bolot?”
“Bukan nge-bolot! Ngeblog, Mas. Blogger. Itu lho, yang kerjaannya nulis artikel di website.” Saya berusaha menerangkan dengan sabar.
“Oh, penulis, ya?” Ia mencoba mencerna.
“Yah, sebelas-dua belas, lah. Kalau penulis menghasilkan buku, blogger menghasilkan blog. Dari hobi sampingan tadi, saya bisa mendapat tawaran menulis artikel, mengajar, bekerja sama dengan orang baru, menerbitkan buku, hingga memenangkan banyak lomba. Hasilnya lumayan, bisa buat beli gorengan.”
“Wah, asyik, ya?”
“Yah, seperti sampeyan. Karena hobi, maka saya jalani dengan sepenuh hati. Bangga sudah pasti. Kalau ternyata bisa menghasilkan prestasi, siapa pula yang tidak senang hati?” jawab saya penuh semringah.


Ketika saya ingin melancarkan serangan balik dan bertanya mengenai asal-usul dan usianya, tikungan terakhir mengurungkan kembali niat saya.
“Sudah sampai, Pak. Di sini, kan?” Sepertinya ia bangga bisa mengetahui dengan tepat lokasi apartemen saya tanpa melihat peta di ponselnya.
“Betul, Mas. Terima kasih, ya!” sahut saya seraya mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dompet.
“Jangan lupa bintang lima ya, Pak. Sukses selalu!” pesannya sambil menarik gas kencang-kencang. Dengan cepat ia melaju untuk kembali ke peraduannya.
Sambil menatap kilauan lampu rem sepeda motornya yang semakin memudar ditelan jarak pandang, saya bergumam dalam hati. Ternyata revolusi industri 4.0 sudah mengubah tatanan hidup banyak orang. Saya, dia, dan mungkin juga Anda yang sedang membaca artikel ini. Benar, tidak?



Ya, suka atau tidak, babak baru revolusi industri memang telah bergulir sejak beberapa tahun terakhir. Namanya revolusi industri 4.0, episode terbaru dari revolusi industri sebelumnya, 3.0.
Ciri yang paling kentara dalam revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi dalam skala yang besar. Mulai dari robot, otomasi, Internet of Things (IoT), cloud computing, big data, hingga artificial intelligence (AI). Untuk lebih jelas, silakan teliti infografis berikut ini.


Pada setiap edisi revolusi, dampak yang dihasilkan relatif sama, yaitu menghadirkan perubahan bagi banyak orang. Caranya dengan mengubah kaidah penciptaan suatu produk dan jasa dengan teknologi sebagai tulang punggungnya. Alhasil, semua menjadi serba cepat dan canggih.
Pengojek yang saya tumpangi, misalnya. Dengan bantuan big data dan cloud computing, ia mampu mengetahui dengan pasti bahwa saya adalah pelanggan yang diantarkannya satu minggu yang lalu. Melalui rekam jejak pada aplikasinya, ia pun mampu mengidentifikasi dengan tepat, bahwa saya adalah benar-benar pelanggan, bukan pembegal yang kerap beraksi di tengah malam.
Sedangkan bagi saya, teknologi yang digunakan oleh perusahaan rintisan penyedia ojek tersebut, membantu saya pulang ke rumah dengan lebih cepat dan hemat. Saya pun tidak perlu repot-repot membawa kendaraan. Hanya dengan memainkan jari, lima menit kemudian pesanan ojek sudah tiba di depan batang hidung saya.
Selain memudahkan banyak hal, revolusi industri 4.0 juga membawa segudang peluang. Lagi-lagi, percakapan saya dengan Abang Ojek bisa dijadikan contoh nyata.
Si Pengojek rela meninggalkan pekerjaan di bank swasta lantaran melihat peluang yang lebih baik. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, apa yang dilakukannya sungguh di luar dugaan. Keluar dari bank dan menjadi pengojek bukanlah keputusan yang biasa. Namun, ia mampu membuktikan bahwa menjadi seorang pengojek bisa lebih sejahtera ketimbang seorang staf di bank swasta.
Dari kisahnya, setidaknya ada dua hal yang ia dapatkan. Pertama, kebebasan waktu bekerja. Dengan beralih profesi menjadi pengojek, ia bisa menata jam kerjanya sendiri. Ia pun bisa menentukan waktu menjemput rezekinya secara mandiri. Berbeda dengan ketika ia masih menjadi karyawan bank yang jam masuknya (bukan pulangnya, ya!) sudah ditentukan dengan pasti.
Kedua, pendapatan yang dihasilkan dua kali lebih besar, meskipun dengan waktu kerja yang relatif fleksibel. Ia juga bisa makan dan tidur dengan tenang, kala siang hari menjelang. Hanya bermodalkan keahlian mengendarai sepeda motor dengan baik dan benar, ia mampu mengalahkan masa lalunya sendiri.
Bagi saya, sama saja. Blogging membuat hidup saya jadi lebih berwarna. Ada cakrawala baru yang bisa saya nikmati, ketimbang stress dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Saya bisa terus mengasah kemampuan dan menyalurkan hobi, sambil menikmati berbagai peluang dari menulis dalam jaringan internet.
Yang paling utama, saya bisa melakukan hobi yang menghasilkan. Bukan melulu kilauan materi, tetapi juga deretan prestasi. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah puluhan kali saya menjuarai lomba menulis. Saya juga berkesempatan tampil di depan banyak orang untuk berbagi ilmu kepenulisan. Contohnya bisa kalian lihat di bawah ini.


Bagaimana? Keren, kan? Hehehe.
Namun demikian, bukan berarti revolusi industri tidak punya tantangan. Kita harus pintar-pintar menghadapi era digital seperti sekarang. Salah melangkah, bisa-bisa kita tertinggal jauh di belakang. Maka, semestinya kita berbenah diri bila tidak mau terlibas dalam persaingan yang super ketat.
Satu hal yang pasti, zaman sekarang menuntut kita untuk memiliki keahlian. Iya, keahlian. Keahlian apapun bisa kalian asah dan manfaatkan demi meraih peluang. Misalnya keahlian mengendarai sepeda motor untuk pengojek daring. Atau keahlian menulis dan meramu konten bagi seorang blogger.
Singkatnya, menata diri menjadi kunci untuk mengatasi segala tantangan yang menerjang. Tidak bisa tidak, apabila kalian tidak ingin tertinggal.
Nah, pada artikel ini, saya akan berbagi lima resep pintar dalam menghadapi era digital. Silakan seduh kopi atau teh terlebih dahulu. Tambah camilan atau sambil selonjoran juga boleh. Kalau sudah siap, mari kita telaah satu per satu.



Ada sebuah peribahasa yang patut direvisi pada zaman sekarang. Bila dahulu kita mengenal “Mulutmu, harimaumu”, kini sudah berbeda. “Mulut dan jarimu adalah harimaumu”. Salah memainkan jari ketika mengetik di ranah publik, maka citra diri yang akan menjadi taruhannya.
Ya, media sosial kini sudah menjadi gerbang bagi siapa saja untuk menangkap berbagai peluang. Bisnis kuliner rumahan bisa memajang foto-foto produknya lewat akun Instagram. Influencer atau buzzer bekerja dengan memanfaatkan tagar dan followers di akun Twitter.
Berbagai perusahaan besar pun berlomba-lomba menjadikan media sosial sebagai sarana interaksi dengan pelanggan. Tujuannya, tentu saja agar produknya semakin lekat di batok kepala orang-orang. Lembaga pemerintah dan wakil rakyat juga kerap memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk membuat dan mengomunikasikan kebijakan.


Peran media sosial memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab Hootsuite dalam laporan bertajuk Digital 2019 in Indonesia menyebutkan bahwa saat ini ada 150 juta pengguna sosial media aktif di Indonesia. Dalam sehari, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh orang Indonesia untuk bermedia sosial adalah sekitar 3,5 jam!
Begitu pentingnya media sosial mengharuskan penggunanya untuk tetap berhati-hati. Sebab salah sebar informasi bisa berujung tudingan hoaks atau pemblokiran. Keliru curhat dan mengeluh berlebihan di media sosial bisa mengundang gunjingan. Wong, yang benar saja bisa jadi salah, apalagi yang jelas-jelas salah?
Bagi kaum milenial, media sosial kini layaknya potret diri. Kita adalah apa yang kita tayangkan (posting). Ini memengaruhi banyak hal, misalnya ketika hendak melamar kerja.
Berbagai perusahaan sudah tidak membutuhkan biodata (CV) panjang-panjang. Cukup dengan meneliti akun media sosial kalian, maka para data scientist akan menyajikan beragam fakta yang menentukan layak atau tidaknya kalian bekerja.
Bagi seorang freelancer sama saja. Salah tayang atau keliru berucap di media sosial, bisa berujung viral. Alhasil, tawaran pekerjaan dari agensi menjadi berkurang dan pendapatan akan semakin terancam. Kita tidak ingin begitu, kan?
Oleh karena itu, kuncinya adalah mengendalikan diri. Saring sebelum sharing, teliti sebelum tayang. Jangan melulu pakai nafsu. Gunakan pula otak kalian untuk menentukan kebenaran konten yang ingin disebarkan. Setuju?



Seperti yang telah saya singgung, keahlian atau skill sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Dalam lingkup yang terbatas, keahlian yang terkesan “sederhana” bisa jadi sangat berguna bila ditekuni dengan cara yang istimewa.
Bila Anda jago memasak, maka jangan takut memajang foto sajian yang Anda buat di dunia maya. Karena siapa tahu ada yang mengajak kerja sama membuka bisnis kuliner, atau ditawari pekerjaan menjadi koki di restoran bintang lima.
Demikian halnya bila Anda ahli memainkan jari di tubuh orang. Jangan salah sangka, maksudnya memijit, ya! Coba kita terka, berapa banyak pemijit yang bisa menghidupi dirinya lewat layanan pesan antar pada aplikasi di ponsel? Dengan teknologi, para pemijit bisa mendapat rezeki dari arah yang tak pernah ia duga.


Itu baru dua contoh sederhana. Belum berbagai keahlian mentereng lainnya seperti data scientist, social media experts, digital entrepreneur incubator, payment systems analyst, dan sebagainya. Tentu keahlian seperti ini sangatlah dibutuhkan pada era digital. Sebab jangankan yang rumit, yang sederhana saja bisa laris di pasaran. Iya, kan?
Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk memilih keahlian yang cocok dengan diri kalian. Lakukan secara benar dan tekuni dengan gigih. Multitasking, pada beberapa kondisi, memang tetap diperlukan. Akan tetapi, sebaiknya jadilah ahli dalam satu bidang terlebih dahulu, baru kemudian menekuni bidang yang lainnya.
Ingat-ingat pesan saya. Selain menggigit kuping sendiri, semua bisa dilakukan pada era digital.



Ada satu hal yang patut kalian ketahui untuk menghadapi tantangan pada era industri 4.0. Kita tidak bisa lagi berjalan sendirian, melainkan harus saling merangkul dan bergandeng tangan. Singkatnya, kolaborasi!
Supaya mudah dicerna, saya kasih contoh nyata. Ini merupakan pengalaman saya pribadi, bukan hanya sekadar teori.
Tiga bulan lalu saya mengadakan lomba menulis yang saya namai dengan “Kompetisi Blog Nodi”. Tujuannya ingin berbagi kepada bloggers di Indonesia, sekaligus mengembangkan dunia literasi di dalam negeri.
Singkat cerita, saya ingin kompetisi ini berjalan dengan mulus. Mulai dari persyaratan, jangka waktu penyelenggaraan, hingga tata cara penilaian. Maka, saya pun tidak bisa berjalan sendirian. Pengalaman saya minim, karena ini merupakan kompetisi pertama yang saya selenggarakan secara mandiri.


Alhamdulillah, ada tiga orang ternama yang berkenan membantu saya. Ketiganya bertugas sebagai juri, sekaligus teman bertukar pikiran untuk mencari solusi apabila ada kendala selama kompetisi berlangsung. Mereka adalah Khrisna Pabichara, Joe Candra, dan Nabilla DP.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kompetisi Blog Nodi diikuti oleh 438 peserta dari seluruh Indonesia! Saya senang bukan kepalang. Sebab meski hadiahnya mungkin tidak terlalu istimewa, akan tetapi atensi blogger sungguh luar biasa. Tidak kalah dengan kompetisi yang diadakan oleh perusahaan ternama, padahal yang mengurus hanya empat orang saja.
Pengalaman tersebut menambah tebal keyakinan saya. Bila ingin #BuildSuccessOnline, maka kolaborasi menjadi kunci utama. Rumusnya sudah kita ketahui: silaturahmi memperpanjang rezeki. Maka, silakan bersilaturahmi dengan siapa saja yang berpikiran positif bila ingin mendulang banyak rezeki.



Kunci keempat adalah jangan cepat berpuas diri. Sebab puas sejatinya sangat lekat dengan malas. Sebaliknya, bila kita selalu haus, maka gairah belajar akan terus menyala.
Untungnya era industri 4.0 memudahkan kita dalam mempelajari banyak hal. Mau jadi YouTuber, misalnya. Maka Anda bisa belajar dari video tutorial mengedit video yang banyak berserakan di berbagai channel YouTube. Cukup bermodal kuota data dua giga, maka niscaya kalian bisa belajar langsung dari ahlinya.
Demikian halnya dengan seorang blogger. Bila ingin mempercantik konten dengan sentuhan infografis, maka ia bisa mencari artikel yang relevan di Google. Saat membutuhkan data, ia bisa mencari di berbagai situs penyedia data. Atau tatkala ingin belajar teknik memotret gambar, maka ia pun bisa memelototi foto-foto kece di banyak akun Instagram.


Dunia bisnis juga sama. Ketika ingin memulai bisnis kopi, maka kalian bisa belajar dari kisah sukses pebisnis kopi pada halaman pertama mesin pencarian. Mulai dari siapa pemasoknya, bagaimana cara memasarkannya, hingga berapa modal dan keuntungannya, semua bisa kalian temukan lewat bantuan internet. Mudah, bukan?
Kalau sudah begitu, yang tersisa tinggal satu, yaitu kemauan. Bila sifat itu kalian tanamkan di dalam diri, maka ilmu akan datang dengan mudah. Sebaliknya juga demikian. Kalau malas, ya mohon maaf, ujung-ujungnya kalian akan terlibas.



Kunci terakhir adalah promosi. Percuma bila kalian sudah memiliki keahlian namun tidak pandai mempromosikan diri. Blogger berprestasi pun butuh laman berjudul “portfolio” atau “achievement” untuk menyajikan rekam jejaknya. Supaya dunia tahu betul kita ini sebenarnya siapa dan apa keahlian yang membuat kita berbeda.
Lembaga riset IDN Research Institute dalam Indonesia Millenial Report 2019 menjelaskan bahwa 70% kalangan milenial Indonesia mengakses informasi lewat media digital. Artinya, media digital adalah sarana promosi yang paling efektif. Oleh karena itu, peran website menjadi sangat penting untuk meraih kesuksesan pada era revolusi industri 4.0.


Bicara mengenai website, tentu kita harus memerhatikan kualitas layanan dari penyedia hosting. Salah memilih, ujung-ujungnya bisa merugi. Misalnya ketika loading time website menjadi lama, spam yang tidak tersaring dengan baik, biaya yang kemahalan, atau keluhan yang tidak ditindaklanjuti dengan benar. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?
Oleh karena itu, saya menyarankan kalian cermat dalam memilih penyedia hosting. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik seperti Niagahoster. Karena ada empat keunggulan yang bisa kalian manfaatkan demi meraih impian. Kalian bisa tilik infografis di bawah ini.


Pertama, Niagahoster memberikan garansi harga termurah, tetapi dengan fasilitas yang sangat mewah. Hanya dengan Rp8.000 per bulan, kalian sudah bisa membeli Paket Bayi dengan fitur unlimited bandwidth, databases, dan SSL.
Bila mau lebih lengkap, kalian juga bisa memilih tiga paket lainnya, yaitu Pelajar (Rp38.900 per bulan), Personal (Rp23.807 per bulan), dan Bisnis (Rp84.564 per bulan). Ketiganya telah dilengkapi dengan fitur domain gratis. Selengkapnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


Kedua, Niagahoster memberikan dukungan terbaik bagi kalian. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan website, bisa disediakan oleh penyedia hosting besutan PT Web Media Technology Indonesia ini. Mulai dari Web Hosting, Cloud VPS, WordPress Hosting, Email Hosting, Registrasi Domain, hingga Sertifikat SSL.
Bagi kalian yang awam dengan website tetapi ingin mengembangkan bisnis secara digital, Niagahoster juga menyediakan jasa pembuatan website. Jangan khawatir gagal, karena sudah lebih dari 500 pelanggan telah mempercayakan website-nya diracik oleh Niagahoster.
Ketiga, Niagahoster memberikan rasa aman dan nyaman. Sebab rasio server uptime-nya mencapai 99,98%. Artinya, kalian hampir tidak akan menjumpai kendala server bila menggunakan jasa hosting di Niagahoster.
Terakhir, ini yang paling penting. Niagahoster memberikan garansi 30 hari uang kembali bila kalian tidak puas dengan layanan yang diberikan. Coba saja dulu. Bila kurang berkenan, maka Niagahoster akan mengembalikan picis kalian.
Dengan empat keunggulan di atas, maka Niagahoster bisa menjadi partner yang tepat dalam mempromosikan diri di media digital. Bila ingin tahu lebih lanjut tentang Niagahoster, maka kalian bisa kunjungi website-nya di sini, atau simak videonya berikut ini.




Revolusi industri 4.0 menjadikan kehidupan serba digital. Ada banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan lewat teknologi dan digitalisasi. Mau apa saja, cukup mainkan ibu jari.
Namun, era digital juga memberikan segudang tantangan yang harus kita hadapi. Bila tidak pintar-pintar menghadapinya, bisa-bisa kita malah gigit jari. Keahlian saja tidak cukup, karena cara mempromosikan diri juga bisa menentukan rezeki dan prestasi.
Akhir kata, semoga lima resep pintar yang saya urai bisa membuat kalian tidak lekas berpuas diri dan terus belajar lagi. Juga menjadikan kalian pandai menangkap peluang dengan terus berkolaborasi. Jangan lupa, selalu berdoa kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.
Maka, segeralah berbenah diri dan selamat menghadapi era digital, Kawan Pintar!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Niagahoster Blog Competition yang diselenggarakan oleh Niagahoster. Informasi mengenai kompetisi ini telah disebar melalui akun Twitter dan Facebook penulis.
Foto, gambar, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Niagahoster, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari channel YouTube Niagahoster.