“Tumben sampai malam, Pak?” tanya pengojek yang saya tumpangi sepulang kerja. Sambil menggeser status pemesanan pada aplikasi di ponselnya menjadi “sedang bersama”, ia menyodorkan helm kepada saya.
“Kok, bisa tahu, Mas?” Saya agak heran. Dari mana ia hafal jam pulang kerja saya? Rasanya saya tidak pernah mengenalinya.
“Iya Pak, saya tahu dari aplikasi ini. Menurut data di sini, saya pernah mengantar Bapak seminggu yang lalu. Rumah Bapak di Petojo, kan?
***
Percakapan singkat kami membuka sesi diskusi panjang pada malam itu. Meskipun tidak bertatap muka (karena ia menyetir, sementara saya dibonceng), kami memaksa untuk tetap bersahut-sahutan.
“Sudah lama ngojek, Mas?” Saya berusaha membalikkan keadaan. Giliran dia yang menjadi objek cecar pertanyaan.
“Lumayan, Pak. Ada kali tiga tahun.”
“Sebelumnya kerja apa?” Saya penasaran.
“Saya di bank swasta, Pak. Karena bosan dengan rutinitas, akhirnya saya ngojek saja,” jawabnya setengah berteriak melawan lengkingan klakson pengendara lain yang tidak sabaran menunggu nyala lampu hijau di persimpangan jalan ibukota.
“Memangnya enakan ngojek, Mas?” Saya masih penasaran.
“Oh jelas, Pak,” tuturnya pasti. “Sewaktu di bank, saya pergi-pagi-pulang-malam, tapi gaji ga seberapa. Kalau sekarang, waktu kerjanya semau saya. Biasanya narik dari pagi sampai siang. Habis itu makan dan istirahat di rumah sampai sore. Selepas Maghrib, baru saya keluar lagi sampai jam 9. Ini Bapak yang terakhir.”
“Pendapatannya?” Kepalang tanggung. Pertanyaan pribadi pun saya luncurkan.
“Hampir dua kali lipat gaji saya di bank. Kalau rajin, malah bisa lebih, Pak. Hehe.” Saya bisa melihat senyum lebarnya lewat kaca spion. Menandakan kepuasan diri karena ia berhasil membuat saya tak mengira.


“Kalau Bapak sudah lama kerja kantoran?” Nampaknya ia mulai jengah dan mencoba balik bertanya.
“Sudah delapan tahun, Mas. Selama itu, saya tidak hanya bertugas di Jakarta saja. Saya juga pernah ditugaskan di Bogor, Bukittinggi, Bandung, dan Manado. Lumayan, keliling Indonesia gratis,” jawab saya bangga.
“Hebat, ya?”
“Ah, tidak juga, Mas. Yang hebat, ya, yang punya kantor. Saya, mah, hanya pekerja biasa,” kilah saya.
“Tapi, saya juga punya hobi sampingan yang menghasilkan, Mas,” tutur saya tidak mau kalah. “Sama seperti pekerjaan sampeyan, hobi saya juga tidak dibatasi oleh waktu. Saya bisa bekerja semau dan sesuka hati saya. Namanya ngeblog, Mas.”
“Hah, nge-bolot?”
“Bukan nge-bolot! Ngeblog, Mas. Blogger. Itu lho, yang kerjaannya nulis artikel di website.” Saya berusaha menerangkan dengan sabar.
“Oh, penulis, ya?” Ia mencoba mencerna.
“Yah, sebelas-dua belas, lah. Kalau penulis menghasilkan buku, blogger menghasilkan blog. Dari hobi sampingan tadi, saya bisa mendapat tawaran menulis artikel, mengajar, bekerja sama dengan orang baru, menerbitkan buku, hingga memenangkan banyak lomba. Hasilnya lumayan, bisa buat beli gorengan.”
“Wah, asyik, ya?”
“Yah, seperti sampeyan. Karena hobi, maka saya jalani dengan sepenuh hati. Bangga sudah pasti. Kalau ternyata bisa menghasilkan prestasi, siapa pula yang tidak senang hati?” jawab saya penuh semringah.


Ketika saya ingin melancarkan serangan balik dan bertanya mengenai asal-usul dan usianya, tikungan terakhir mengurungkan kembali niat saya.
“Sudah sampai, Pak. Di sini, kan?” Sepertinya ia bangga bisa mengetahui dengan tepat lokasi apartemen saya tanpa melihat peta di ponselnya.
“Betul, Mas. Terima kasih, ya!” sahut saya seraya mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dompet.
“Jangan lupa bintang lima ya, Pak. Sukses selalu!” pesannya sambil menarik gas kencang-kencang. Dengan cepat ia melaju untuk kembali ke peraduannya.
Sambil menatap kilauan lampu rem sepeda motornya yang semakin memudar ditelan jarak pandang, saya bergumam dalam hati. Ternyata revolusi industri 4.0 sudah mengubah tatanan hidup banyak orang. Saya, dia, dan mungkin juga Anda yang sedang membaca artikel ini. Benar, tidak?



Ya, suka atau tidak, babak baru revolusi industri memang telah bergulir sejak beberapa tahun terakhir. Namanya revolusi industri 4.0, episode terbaru dari revolusi industri sebelumnya, 3.0.
Ciri yang paling kentara dalam revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi dalam skala yang besar. Mulai dari robot, otomasi, Internet of Things (IoT), cloud computing, big data, hingga artificial intelligence (AI). Untuk lebih jelas, silakan teliti infografis berikut ini.


Pada setiap edisi revolusi, dampak yang dihasilkan relatif sama, yaitu menghadirkan perubahan bagi banyak orang. Caranya dengan mengubah kaidah penciptaan suatu produk dan jasa dengan teknologi sebagai tulang punggungnya. Alhasil, semua menjadi serba cepat dan canggih.
Pengojek yang saya tumpangi, misalnya. Dengan bantuan big data dan cloud computing, ia mampu mengetahui dengan pasti bahwa saya adalah pelanggan yang diantarkannya satu minggu yang lalu. Melalui rekam jejak pada aplikasinya, ia pun mampu mengidentifikasi dengan tepat, bahwa saya adalah benar-benar pelanggan, bukan pembegal yang kerap beraksi di tengah malam.
Sedangkan bagi saya, teknologi yang digunakan oleh perusahaan rintisan penyedia ojek tersebut, membantu saya pulang ke rumah dengan lebih cepat dan hemat. Saya pun tidak perlu repot-repot membawa kendaraan. Hanya dengan memainkan jari, lima menit kemudian pesanan ojek sudah tiba di depan batang hidung saya.
Selain memudahkan banyak hal, revolusi industri 4.0 juga membawa segudang peluang. Lagi-lagi, percakapan saya dengan Abang Ojek bisa dijadikan contoh nyata.
Si Pengojek rela meninggalkan pekerjaan di bank swasta lantaran melihat peluang yang lebih baik. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, apa yang dilakukannya sungguh di luar dugaan. Keluar dari bank dan menjadi pengojek bukanlah keputusan yang biasa. Namun, ia mampu membuktikan bahwa menjadi seorang pengojek bisa lebih sejahtera ketimbang seorang staf di bank swasta.
Dari kisahnya, setidaknya ada dua hal yang ia dapatkan. Pertama, kebebasan waktu bekerja. Dengan beralih profesi menjadi pengojek, ia bisa menata jam kerjanya sendiri. Ia pun bisa menentukan waktu menjemput rezekinya secara mandiri. Berbeda dengan ketika ia masih menjadi karyawan bank yang jam masuknya (bukan pulangnya, ya!) sudah ditentukan dengan pasti.
Kedua, pendapatan yang dihasilkan dua kali lebih besar, meskipun dengan waktu kerja yang relatif fleksibel. Ia juga bisa makan dan tidur dengan tenang, kala siang hari menjelang. Hanya bermodalkan keahlian mengendarai sepeda motor dengan baik dan benar, ia mampu mengalahkan masa lalunya sendiri.
Bagi saya, sama saja. Blogging membuat hidup saya jadi lebih berwarna. Ada cakrawala baru yang bisa saya nikmati, ketimbang stress dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Saya bisa terus mengasah kemampuan dan menyalurkan hobi, sambil menikmati berbagai peluang dari menulis dalam jaringan internet.
Yang paling utama, saya bisa melakukan hobi yang menghasilkan. Bukan melulu kilauan materi, tetapi juga deretan prestasi. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah puluhan kali saya menjuarai lomba menulis. Saya juga berkesempatan tampil di depan banyak orang untuk berbagi ilmu kepenulisan. Contohnya bisa kalian lihat di bawah ini.


Bagaimana? Keren, kan? Hehehe.
Namun demikian, bukan berarti revolusi industri tidak punya tantangan. Kita harus pintar-pintar menghadapi era digital seperti sekarang. Salah melangkah, bisa-bisa kita tertinggal jauh di belakang. Maka, semestinya kita berbenah diri bila tidak mau terlibas dalam persaingan yang super ketat.
Satu hal yang pasti, zaman sekarang menuntut kita untuk memiliki keahlian. Iya, keahlian. Keahlian apapun bisa kalian asah dan manfaatkan demi meraih peluang. Misalnya keahlian mengendarai sepeda motor untuk pengojek daring. Atau keahlian menulis dan meramu konten bagi seorang blogger.
Singkatnya, menata diri menjadi kunci untuk mengatasi segala tantangan yang menerjang. Tidak bisa tidak, apabila kalian tidak ingin tertinggal.
Nah, pada artikel ini, saya akan berbagi lima resep pintar dalam menghadapi era digital. Silakan seduh kopi atau teh terlebih dahulu. Tambah camilan atau sambil selonjoran juga boleh. Kalau sudah siap, mari kita telaah satu per satu.



Ada sebuah peribahasa yang patut direvisi pada zaman sekarang. Bila dahulu kita mengenal “Mulutmu, harimaumu”, kini sudah berbeda. “Mulut dan jarimu adalah harimaumu”. Salah memainkan jari ketika mengetik di ranah publik, maka citra diri yang akan menjadi taruhannya.
Ya, media sosial kini sudah menjadi gerbang bagi siapa saja untuk menangkap berbagai peluang. Bisnis kuliner rumahan bisa memajang foto-foto produknya lewat akun Instagram. Influencer atau buzzer bekerja dengan memanfaatkan tagar dan followers di akun Twitter.
Berbagai perusahaan besar pun berlomba-lomba menjadikan media sosial sebagai sarana interaksi dengan pelanggan. Tujuannya, tentu saja agar produknya semakin lekat di batok kepala orang-orang. Lembaga pemerintah dan wakil rakyat juga kerap memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk membuat dan mengomunikasikan kebijakan.


Peran media sosial memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab Hootsuite dalam laporan bertajuk Digital 2019 in Indonesia menyebutkan bahwa saat ini ada 150 juta pengguna sosial media aktif di Indonesia. Dalam sehari, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh orang Indonesia untuk bermedia sosial adalah sekitar 3,5 jam!
Begitu pentingnya media sosial mengharuskan penggunanya untuk tetap berhati-hati. Sebab salah sebar informasi bisa berujung tudingan hoaks atau pemblokiran. Keliru curhat dan mengeluh berlebihan di media sosial bisa mengundang gunjingan. Wong, yang benar saja bisa jadi salah, apalagi yang jelas-jelas salah?
Bagi kaum milenial, media sosial kini layaknya potret diri. Kita adalah apa yang kita tayangkan (posting). Ini memengaruhi banyak hal, misalnya ketika hendak melamar kerja.
Berbagai perusahaan sudah tidak membutuhkan biodata (CV) panjang-panjang. Cukup dengan meneliti akun media sosial kalian, maka para data scientist akan menyajikan beragam fakta yang menentukan layak atau tidaknya kalian bekerja.
Bagi seorang freelancer sama saja. Salah tayang atau keliru berucap di media sosial, bisa berujung viral. Alhasil, tawaran pekerjaan dari agensi menjadi berkurang dan pendapatan akan semakin terancam. Kita tidak ingin begitu, kan?
Oleh karena itu, kuncinya adalah mengendalikan diri. Saring sebelum sharing, teliti sebelum tayang. Jangan melulu pakai nafsu. Gunakan pula otak kalian untuk menentukan kebenaran konten yang ingin disebarkan. Setuju?



Seperti yang telah saya singgung, keahlian atau skill sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Dalam lingkup yang terbatas, keahlian yang terkesan “sederhana” bisa jadi sangat berguna bila ditekuni dengan cara yang istimewa.
Bila Anda jago memasak, maka jangan takut memajang foto sajian yang Anda buat di dunia maya. Karena siapa tahu ada yang mengajak kerja sama membuka bisnis kuliner, atau ditawari pekerjaan menjadi koki di restoran bintang lima.
Demikian halnya bila Anda ahli memainkan jari di tubuh orang. Jangan salah sangka, maksudnya memijit, ya! Coba kita terka, berapa banyak pemijit yang bisa menghidupi dirinya lewat layanan pesan antar pada aplikasi di ponsel? Dengan teknologi, para pemijit bisa mendapat rezeki dari arah yang tak pernah ia duga.


Itu baru dua contoh sederhana. Belum berbagai keahlian mentereng lainnya seperti data scientist, social media experts, digital entrepreneur incubator, payment systems analyst, dan sebagainya. Tentu keahlian seperti ini sangatlah dibutuhkan pada era digital. Sebab jangankan yang rumit, yang sederhana saja bisa laris di pasaran. Iya, kan?
Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk memilih keahlian yang cocok dengan diri kalian. Lakukan secara benar dan tekuni dengan gigih. Multitasking, pada beberapa kondisi, memang tetap diperlukan. Akan tetapi, sebaiknya jadilah ahli dalam satu bidang terlebih dahulu, baru kemudian menekuni bidang yang lainnya.
Ingat-ingat pesan saya. Selain menggigit kuping sendiri, semua bisa dilakukan pada era digital.



Ada satu hal yang patut kalian ketahui untuk menghadapi tantangan pada era industri 4.0. Kita tidak bisa lagi berjalan sendirian, melainkan harus saling merangkul dan bergandeng tangan. Singkatnya, kolaborasi!
Supaya mudah dicerna, saya kasih contoh nyata. Ini merupakan pengalaman saya pribadi, bukan hanya sekadar teori.
Tiga bulan lalu saya mengadakan lomba menulis yang saya namai dengan “Kompetisi Blog Nodi”. Tujuannya ingin berbagi kepada bloggers di Indonesia, sekaligus mengembangkan dunia literasi di dalam negeri.
Singkat cerita, saya ingin kompetisi ini berjalan dengan mulus. Mulai dari persyaratan, jangka waktu penyelenggaraan, hingga tata cara penilaian. Maka, saya pun tidak bisa berjalan sendirian. Pengalaman saya minim, karena ini merupakan kompetisi pertama yang saya selenggarakan secara mandiri.


Alhamdulillah, ada tiga orang ternama yang berkenan membantu saya. Ketiganya bertugas sebagai juri, sekaligus teman bertukar pikiran untuk mencari solusi apabila ada kendala selama kompetisi berlangsung. Mereka adalah Khrisna Pabichara, Joe Candra, dan Nabilla DP.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kompetisi Blog Nodi diikuti oleh 438 peserta dari seluruh Indonesia! Saya senang bukan kepalang. Sebab meski hadiahnya mungkin tidak terlalu istimewa, akan tetapi atensi blogger sungguh luar biasa. Tidak kalah dengan kompetisi yang diadakan oleh perusahaan ternama, padahal yang mengurus hanya empat orang saja.
Pengalaman tersebut menambah tebal keyakinan saya. Bila ingin #BuildSuccessOnline, maka kolaborasi menjadi kunci utama. Rumusnya sudah kita ketahui: silaturahmi memperpanjang rezeki. Maka, silakan bersilaturahmi dengan siapa saja yang berpikiran positif bila ingin mendulang banyak rezeki.



Kunci keempat adalah jangan cepat berpuas diri. Sebab puas sejatinya sangat lekat dengan malas. Sebaliknya, bila kita selalu haus, maka gairah belajar akan terus menyala.
Untungnya era industri 4.0 memudahkan kita dalam mempelajari banyak hal. Mau jadi YouTuber, misalnya. Maka Anda bisa belajar dari video tutorial mengedit video yang banyak berserakan di berbagai channel YouTube. Cukup bermodal kuota data dua giga, maka niscaya kalian bisa belajar langsung dari ahlinya.
Demikian halnya dengan seorang blogger. Bila ingin mempercantik konten dengan sentuhan infografis, maka ia bisa mencari artikel yang relevan di Google. Saat membutuhkan data, ia bisa mencari di berbagai situs penyedia data. Atau tatkala ingin belajar teknik memotret gambar, maka ia pun bisa memelototi foto-foto kece di banyak akun Instagram.


Dunia bisnis juga sama. Ketika ingin memulai bisnis kopi, maka kalian bisa belajar dari kisah sukses pebisnis kopi pada halaman pertama mesin pencarian. Mulai dari siapa pemasoknya, bagaimana cara memasarkannya, hingga berapa modal dan keuntungannya, semua bisa kalian temukan lewat bantuan internet. Mudah, bukan?
Kalau sudah begitu, yang tersisa tinggal satu, yaitu kemauan. Bila sifat itu kalian tanamkan di dalam diri, maka ilmu akan datang dengan mudah. Sebaliknya juga demikian. Kalau malas, ya mohon maaf, ujung-ujungnya kalian akan terlibas.



Kunci terakhir adalah promosi. Percuma bila kalian sudah memiliki keahlian namun tidak pandai mempromosikan diri. Blogger berprestasi pun butuh laman berjudul “portfolio” atau “achievement” untuk menyajikan rekam jejaknya. Supaya dunia tahu betul kita ini sebenarnya siapa dan apa keahlian yang membuat kita berbeda.
Lembaga riset IDN Research Institute dalam Indonesia Millenial Report 2019 menjelaskan bahwa 70% kalangan milenial Indonesia mengakses informasi lewat media digital. Artinya, media digital adalah sarana promosi yang paling efektif. Oleh karena itu, peran website menjadi sangat penting untuk meraih kesuksesan pada era revolusi industri 4.0.


Bicara mengenai website, tentu kita harus memerhatikan kualitas layanan dari penyedia hosting. Salah memilih, ujung-ujungnya bisa merugi. Misalnya ketika loading time website menjadi lama, spam yang tidak tersaring dengan baik, biaya yang kemahalan, atau keluhan yang tidak ditindaklanjuti dengan benar. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?
Oleh karena itu, saya menyarankan kalian cermat dalam memilih penyedia hosting. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik seperti Niagahoster. Karena ada empat keunggulan yang bisa kalian manfaatkan demi meraih impian. Kalian bisa tilik infografis di bawah ini.


Pertama, Niagahoster memberikan garansi harga termurah, tetapi dengan fasilitas yang sangat mewah. Hanya dengan Rp8.000 per bulan, kalian sudah bisa membeli Paket Bayi dengan fitur unlimited bandwidth, databases, dan SSL.
Bila mau lebih lengkap, kalian juga bisa memilih tiga paket lainnya, yaitu Pelajar (Rp38.900 per bulan), Personal (Rp23.807 per bulan), dan Bisnis (Rp84.564 per bulan). Ketiganya telah dilengkapi dengan fitur domain gratis. Selengkapnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


Kedua, Niagahoster memberikan dukungan terbaik bagi kalian. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan website, bisa disediakan oleh penyedia hosting besutan PT Web Media Technology Indonesia ini. Mulai dari Web Hosting, Cloud VPS, WordPress Hosting, Email Hosting, Registrasi Domain, hingga Sertifikat SSL.
Bagi kalian yang awam dengan website tetapi ingin mengembangkan bisnis secara digital, Niagahoster juga menyediakan jasa pembuatan website. Jangan khawatir gagal, karena sudah lebih dari 500 pelanggan telah mempercayakan website-nya diracik oleh Niagahoster.
Ketiga, Niagahoster memberikan rasa aman dan nyaman. Sebab rasio server uptime-nya mencapai 99,98%. Artinya, kalian hampir tidak akan menjumpai kendala server bila menggunakan jasa hosting di Niagahoster.
Terakhir, ini yang paling penting. Niagahoster memberikan garansi 30 hari uang kembali bila kalian tidak puas dengan layanan yang diberikan. Coba saja dulu. Bila kurang berkenan, maka Niagahoster akan mengembalikan picis kalian.
Dengan empat keunggulan di atas, maka Niagahoster bisa menjadi partner yang tepat dalam mempromosikan diri di media digital. Bila ingin tahu lebih lanjut tentang Niagahoster, maka kalian bisa kunjungi website-nya di sini, atau simak videonya berikut ini.




Revolusi industri 4.0 menjadikan kehidupan serba digital. Ada banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan lewat teknologi dan digitalisasi. Mau apa saja, cukup mainkan ibu jari.
Namun, era digital juga memberikan segudang tantangan yang harus kita hadapi. Bila tidak pintar-pintar menghadapinya, bisa-bisa kita malah gigit jari. Keahlian saja tidak cukup, karena cara mempromosikan diri juga bisa menentukan rezeki dan prestasi.
Akhir kata, semoga lima resep pintar yang saya urai bisa membuat kalian tidak lekas berpuas diri dan terus belajar lagi. Juga menjadikan kalian pandai menangkap peluang dengan terus berkolaborasi. Jangan lupa, selalu berdoa kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.
Maka, segeralah berbenah diri dan selamat menghadapi era digital, Kawan Pintar!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Niagahoster Blog Competition yang diselenggarakan oleh Niagahoster. Informasi mengenai kompetisi ini telah disebar melalui akun Twitter dan Facebook penulis.
Foto, gambar, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Niagahoster, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari channel YouTube Niagahoster.



Pemuda itu mengamuk. Skuter merah tak berdosa itu dijungkirbalikkannya dengan penuh amarah. Sejurus kemudian, kedua tangannya lantas mempreteli beberapa bagian tubuh kendaraannya secara membabi buta. Tepat di hadapannya, Pak Polisi dengan tenang menyiapkan surat tilang.
Si Pemudi hanya bisa duduk bersimpuh di pinggir jalan, memandangi kekasihnya yang sedang kerasukan setan. Tangisnya memecah iba bagi siapa saja yang melintas. Jeritannya memancing simpati semua orang yang menyaksikan.
Semua. Kecuali kekasihnya.
***
Peristiwa unik itu sontak viral di media sosial. Warganet dihebohkan dengan video amatir bertagar #unboxingscoopy yang langsung ramai di jagat maya. Tanggapannya pun bermacam-macam. Ada yang menganggapnya sebagai hiburan. Tidak jarang pula yang menjadikannya sebagai bahan renungan.
Ya, suka atau tidak, kejadian di Tangerang Selatan, Februari silam, memang sangat menarik perhatian. Reaksi berlebihan pemuda berinisial AS itu memang bukan perkara biasa. Lantaran kesal ditilang Pak Polisi, ia malah menghancurkan sepeda motornya sendiri.
Menurut keterangan polisi, sebagaimana dikutip dari detiknews, ada tiga kausa yang menyebabkan AS kena tilang. Mulai dari melawan arus, alpa menggunakan helm, hingga tidak bisa menunjukkan dokumen berkendara.
Dari keterangan tersebut, maka jelas, apa yang dilakukan AS sangat mengancam Keselamatan Lalu Lintas. Baik bagi dirinya sendiri, kekasih yang diboncengnya, hingga pengendara lain yang ada di sekitarnya.



Dari sana, kita pun sepakat bahwa tindakan preventif yang dilakukan polisi—dengan cara menilang AS—sudah sangat tepat. Sebab faktanya, jumlah kecelakaan lalu lintas terus meningkat.
Korlantas Polri dalam laman resminya menyajikan sejumlah data. Menurutnya, terdapat 109.806 kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang 2018. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka jumlah kecelakaan lalu lintas meningkat sekitar 11,6%.
Berbagai musibah tersebut telah menelan 25.762 korban jiwa. Sayangnya, sebagian besar korban kecelakaan berasal dari kaum milenial. Kelompok umur 15—29 tahun tercatat paling banyak tertimpa nahas di jalan raya.


Yang menarik, 75% kecelakaan lalu lintas menimpa pengendara sepeda motor. Artinya, riders memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengguna jalan raya lainnya, seperti mobil, sepeda, bus, dan truk.
Hal ini lantaran aspek pengaman pada sepeda motor lebih minim ketimbang kendaraan roda empat atau lebih. Sedikit saja tersenggol, maka pengendara sepeda motor bisa hilang keseimbangan dan terjatuh. Kalau sudah begitu, keselamatan jiwa yang akan menjadi taruhannya.
Bila kita tilik lebih dalam, ternyata 61% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor kesalahan manusia (human error). Rasio tersebut saya peroleh dari hasil studi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) atas kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia yang terjadi pada rentang tahun 2007—2016.
Apa yang disimpulkan KNKT seakan membenarkan pernyataan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, seperti dilansir kompas.com. Menurutnya, ada empat perilaku utama yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Yaitu berboncengan sepeda motor lebih dari dua orang, tidak menggunakan helm, menggunakan ponsel saat berkendara, dan tidak mengenakan sabuk pengaman.
Jujur saja, saya terkejut melihat berbagai fakta tersebut. Sebagai pengendara roda dua, saya harus ekstra waspada. Sama halnya dengan kita semua, yang saya yakini, sering mengandalkan ojeg daring sebagai sarana transportasi ke mana-mana. Sebab risiko kecelakaan ternyata bisa mengintai dari mana saja.


Maka, sudah sepatutnya kaum milenial harus lebih serius dalam meningkatkan keamanan dalam berkendara. Keselamatan harus menjadi prioritas utama tatkala mengarungi jalan raya. Pengetahuan tentang tata cara berkendara yang baik dan benar pun mutlak diperlukan.
Nah, bagi kalian para millennial riders, berikut akan saya bagikan 7 kiat berkendara agar tetap selamat sampai tujuan. Tanpa berpanjang lebar, mari kita ulas satu per satu.



Hal pertama yang patut kita perhatikan adalah kondisi kendaraan. Rumusnya sederhana: jangan pernah berkendara tatkala sepeda motor tidak sedang dalam kondisi prima. Sebelum keluar garasi, ada sejumlah hal yang patut kalian teliti.


a.     Roda
Pastikan kondisi ban tidak bocor dan cukup angin. Cek kembali jeruji roda apakah ada yang lepas atau retak-retak. Teliti pula keadaan pentil ban, yang sering kali hilang tanpa kita sadari. Bila itu terjadi, segera beli ke bengkel terdekat.
b.     Spion
Ini yang sering diabaikan oleh kaum milenial. Lantaran gaya-gayaan, spion dicopot, baik salah satu maupun keduanya, atau diganti dengan ukuran yang lebih kecil. Padahal, fungsi spion sangatlah penting. Ia memudahkan kita untuk melihat apa yang terjadi di belakang, terutama saat berbelok di tikungan. Jadi, pastikan spion selalu terpasang dengan benar, ya!
c.     Penerangan
Meski siang hari, lampu harus tetap dinyalakan. Fungsinya untuk memberikan sinyal keberadaan kita kepada para pengendara lain. Selain lampu depan, perhatikan juga kondisi lampu rem dan sein yang harus menyala tatkala diperlukan.
d.     Bahan bakar
Ukur jarak tempuh dengan jumlah bahan bakar yang tersisa. Bila dirasa kurang, segera pergi ke pom bensin terdekat. Ingat, jangan pernah memaksakan kehendak. Sebab kita tidak ingin sepeda motor tiba-tiba mati mendadak. Ini sangat membahayakan diri dan pengendara lain.
e.     Rantai
Rantai adalah salah satu elemen penting untuk menggerakkan roda. Cek secara berkala, apakah rantai masih kencang atau sudah mengendur. Pastikan pula rantai cukup pelumas, sehingga laju sepeda motor terasa luwes.
f.      Servis secara berkala
Sepeda motor yang baik sejatinya harus berteman akrab dengan bengkel. Artinya, ia harus rutin diservis. Simpanlah buku servis dan penuhi aturan mainnya. Dengan demikian, sepeda motor akan selalu tampil prima saat kita butuhkan.



Bagi setiap pengendara bermotor, setidaknya ada 3 dokumen yang harus dibawa saat berkendara di jalan raya, yakni Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Tanda Nomor Kendaraan atau lazim disebut dengan nomor polisi.
Kewajiban membawa serta dokumen secara lengkap saat berkendara, sudah diatur melalui UU Nomor 22 Tahun 2009. Dalam Pasal 68 ayat 1, disebutkan bahwa:
Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan wajib dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor.
Sedangkan Pasal 77 ayat 1, dinyatakan bahwa:
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan.
Selain membawa serta dokumen berkendara, kalian juga harus cek secara berkala tanggal masa berlaku dari masing-masing dokumen. Jangan-jangan sudah harus diperpanjang. Ini yang mungkin sering kali kita lupakan.


Supaya gampang mengingatnya, atur reminder di smartphone kalian minimal tiga bulan sebelum tanggal kedaluwarsa dokumen atau pajak kendaraan. Manfaatkan pula layanan SIM Keliling terdekat dari tempat tinggal kalian. Untuk mengetahui jadwalnya, kalian bisa klik laman Korlantas Polri di sini. Mudah, bukan?
Nah, bagi riders, jangan sampai alpa membawa atau memperpanjang masa berlaku dokumen, ya! Sebab ada sanksi bagi pengendara yang tidak bisa menunjukkan saat diminta oleh petugas kepolisian, yakni berupa peringatan tertulis, pemberian denda administratif, pembekuan izin, dan/atau pencabutan izin.



Helm merupakan alat keamanan yang wajib dikenakan oleh pengendara sepeda motor. Ingat, ya, wajib! Sebab fungsi helm sejatinya sangat vital, yakni melindungi bagian kepala kita saat terjadi kecelakaan. Tidak mengenakan helm, sama saja bertaruh nyawa di jalan.
Supaya lebih aman, kenakan selalu helm dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pastikan juga pengait atau sabuk helm berfungsi dengan baik dan benar. Jangan pernah melepaskan sabuk helm saat sedang berkendara. Karena risiko kecelakaan bisa mengintai dari mana saja.


Nah, selain helm, ada beberapa pakaian yang akan membuat millennial riders tambah nyaman. Yakni jaket lengan panjang supaya tidak masuk angin, sepatu agar pijakan semakin mantap (terutama bagi pengendara sepeda motor yang masih oper gigi lewat kaki), serta sarung tangan biar genggaman semakin ajek. Sediakan pula jaket anti air di bagasi untuk berjaga-jaga saat kondisi hujan.



Salah satu penyebab kecelakaan bagi pengendara sepeda motor adalah kebut-kebutan. Ada yang memang dasarnya karena ugal-ugalan, tapi tidak jarang pula yang terpaksa melakukan karena kepepet waktu.
Nah, supaya tidak ada alasan untuk kebut-kebutan, selalu ukur jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat tujuan. Sekarang, zaman sudah canggih. Kita bisa memantau kondisi jalan lewat aplikasi Google Map atau Waze. Sisihkan waktu untuk meneliti keduanya.


Pelajari pula jalan alternatif apabila kondisi jalan sedang macet. Bila ternyata masih juga membutuhkan waktu yang lama, maka berangkatlah lebih awal. Terakhir, jikalau segala upaya sudah dilakukan tetapi tetap terlambat, maka ingatlah kalimat ini baik-baik: alon-alon asal kelakon, biar lambat asal tetap selamat.



Ada beberapa kondisi yang mengharuskan kita untuk menepi sejenak saat berkendara. Di antaranya adalah saat ingin menggunakan ponsel, ketika lelah dan mengantuk, serta tatkala tiba-tiba turun hujan.
Nah, saat mengalami kondisi tersebut, jangan pernah ragu untuk menepi. Sebab menggunakan ponsel saat mengendarai sepeda motor bisa memecah konsentrasi dan sangat membahayakan.

Pun demikian halnya dengan saat tubuh sedang lelah dan mengantuk. Segera cari tempat singgah atau warung, untuk istirahat dan minum air putih. Serupa ketika turun hujan. Maka, menepilah untuk mengenakan jas hujan atau berteduh sejenak sembari menunggu hujan reda.



Untuk menjadi riders yang terampil, kita harus gigih berlatih. Berkendara itu ada etikanya, bukan asal-asalan saja. Maka dari itu, ada beberapa hal yang harus kita latih saat berkendara.
a.     Mematuhi rambu lalu lintas
Ini adalah hal yang paling mendasar saat berkendara. Rambu lalu lintas diciptakan untuk ditaati, bukan dilanggar. Jadi, ketika lampu merah menyala misalnya, maka berhentilah sebelum batas zebra cross.
Nah, yang mungkin masih belum diketahui oleh millennial riders adalah larangan belok kiri saat lampu merah menyala. Sejak UU No.22 Tahun 2009 berlaku, maka kita wajib menunggu lampu hijau saat ingin belok kiri di persimpangan. Kalau tidak percaya, mari kita simak Pasal 112 ayat 3 berikut ini:
Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.
Jadi bagaimana? Sudah jelas, bukan?
b.     Tidak terpancing emosi
Pernah dengar bunyi klakson sontak bersahut-sahutan saat lampu hijau baru menyala? Di ibukota, ini sering banget terjadi. Mengapa demikian? Mudah saja, karena para pengendara tidak bisa mengontrol emosinya. Padahal, justru perilaku tersebut bisa menyebabkan pengendara lain menjadi stress.
Maka, pengendara yang santun harus tahu tata cara membunyikan klakson. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1993, hanya ada dua kondisi yang membolehkan pengendara membunyikan klasonnya. Yakni saat diperlukan untuk keselamatan lalu lintas, dan melewati kendaraan bermotor lainnya.
Jadi, jangan usil menekan tombol klakson saat macet-macetan, ya!


c.     Rem empat jari
Salah satu kebiasaan yang perlu dilatih millennial riders adalah menarik tuas rem dengan empat jari. Sebaliknya, sangat tidak dianjurkan untuk mengerem dengan dua jari. Sebab daya henti akan berkurang dan putaran mesin masih terus berjalan. Ini sangat fatal ketika ada kondisi yang mengharuskan kita untuk mengerem secara mendadak.
d.     Menyalip dari kanan
Meski ruang yang dibutuhkan pengendara motor relatif sempit, namun kita harus tetap memiliki etika berkendara. Salah satunya adalah menyalip dari sebelah kanan pengendara lain. Jangan pernah menyalip dari kiri. Sebab titik itu merupakan salah satu blindspot pengendara. Risiko terjadinya kecelakaan akan semakin besar saat kita menyalip dari kiri.
e.     Menjaga jarak aman
Sisakan ruang antara kita dan pengendara lainnya yang ada di depan. Supaya mudah, ukurlah dalam satuan waktu. Menurut penelitian yang dilakukan Honda Safety Driving Clinic, jarak aman kendaraan minimal yang paling ideal adalah 3 detik.
Perhatikan pula kondisi jalan yang sedang dilalui. Bila basah karena hujan atau berpasir, maka untuk berjaga-jaga, tambahlah jarak ideal menjadi lebih dari 3 detik.



Bila ikhtiar berkendara sudah dilakukan secara maksimal, maka langkah terakhir adalah berdoa. Sebagai umat beragama, kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, hanyalah karena kehendak-Nya. Oleh karena itu, jangan lupa selalu berdoa sebelum berkendara, ya!





Jika boleh jujur, siapa sih, yang tidak mau selamat berkendara? Tentu saja, hal itu merupakan cita-cita kita bersama. Tidak ada aral melintang dan tetap selamat sampai tujuan. Untuk mencapai kata “selamat”, maka yang harus dibenahi untuk pertama kali, tentu saja diri sendiri.
Sudahkah kita paham cara mengendarai sepeda motor dengan benar? Mampukah kita menaati seluruh peraturan di jalan meski tidak ada Pak Polisi di persimpangan? Dan bisakah kita selalu “adem” saat berkendara tanpa harus mengganggu pengendara lain hanya karena salah membunyikan klakson?
Semua itu kembali kepada kesadaran diri sendiri. Jika millennial riders mau berkenan meningkatkan kesadaran diri dalam berkendara, maka niscaya angka kecelakaan mampu ditekan. Jalan raya akan hilang stigma kekejamannya. Persimpangan tidak lagi membuat stress berkepanjangan.
Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kesadaran diri untuk mencapai keselamatan berkendara, mulai dari sekarang. Keep safety and fun! []

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Road Safety Jakarta 2019 yang diselenggarakan oleh Millenial Road Safety Festival. Informasi mengenai lomba ini telah disebarkan melalui akun Instagram pribadi milik penulis.
Foto, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Sedangkan video, diambil dari YouTube channel milik.
Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Masing-masing sumber telah dicantumkan pada setiap gambar.

Daftar Referensi

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. 1993. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Jakarta: Kementerian Sekretaris Negara.
Detiknews. 2019. Ironi Adi Saputra: Motor Hasil Susah Payah Hancur Dilahap Amarah. [daring] (https://news.detik.com/berita/d-4420416/ironi-adi-saputra-motor-hasil-susah-payah-hancur-dilahap-amarah, diakses tanggal 8 Maret 2019).
Korlantas Polri. 2019. Statistik Laka. [daring] (http://korlantas.polri.go.id/statistik-2/, diakses tanggal 8 Maret 2019).
Korlantas Polri. 2019. SIM Keliling. [daring] (http://korlantas.polri.go.id/sim-keliling/, diakses tanggal 8 Maret 2019).
Saputra, Abadi Dwi. 2017. Studi Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas Jalan di Indonesia Berdasarkan Data KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dari Tahun 2007—2016. Jakarta: Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
Kompas.com. 2018. Kemenhub Ungkap 4 Perilaku Utama Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan. [daring] (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/04/063000026/kemenhub-ungkap-4-perilaku-utama-penyebab-kecelakaan-lalu-lintas-di-jalan, diakses tanggal 8 Maret 2019).
Kompas.com. 2018. Ukur Jarak Aman Berdasarkan Detik. [daring] (https://otomotif.kompas.com/read/2018/07/20/110200315/ukur-jarak-aman-berdasarkan-detik, diakses tanggal 8 Maret 2019).