Menuju Indonesia Emas tahun 2045, generasi muda tidak boleh bermanja-manja. Sebab untuk menjadi bangsa yang maju, Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang unggul—yang hanya bisa dicapai melalui pendidikan dan kesehatan.
~Presiden Joko Widodo ketika memberi arahan kepada para pelajar SMA di Magelang, Jawa Tengah (9/4/2018).
***
Sejak dulu kala, generasi muda adalah tumpuan setiap bangsa. Sebab di pundak pemudalah tersemat berjuta asa dan masa depan bangsa. Di tangan anak-anak muda, nasib dan takdir sebuah bangsa ditentukan.
Tatkala pemudanya tumbuh menjadi manusia dewasa yang intelek, sehat, dan berakhlak mulia, maka jayalah masa depan bangsanya. Namun ketika pembangunan generasi muda dipandang sebelah mata, bersiaplah menjadi bangsa yang tertinggal.
Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memiliki sebuah cita-cita akbar. Pada 2045 nanti, Indonesia akan berusia 100 tahun. Usia yang terbilang dewasa dalam konteks kemerdekaan suatu bangsa. Usia yang, seharusnya, bisa mengantarkan Indonesia pada masa keemasannya.
Cita-cita mulia tersebut bukanlah sekadar isapan jempol semata. Berbagai lembaga terkemuka dunia telah memprediksi kemajuan Nusantara dalam beberapa tahun mendatang.


Standard Chartered adalah salah satunya. Bank multinasional yang bermarkas di London tersebut memproyeksikan Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 dunia pada 2030. Tepat berada di belakang Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.
Setali tiga uang, PwC juga memprediksi hal serupa. Dalam laporan bertajuk The Long View: How Will the Global Economic Order Change by 2050, kantor audit dan konsultan kelas dunia itu meramalkan Indonesia akan menjadi motor ekonomi ke-4 dunia.
Hanya saja, untuk menuju ke sana, bangsa ini tidak boleh berdiam diri. Persis seperti apa yang dikatakan Presiden Jokowi, generasi muda harus bekerja keras untuk menata diri. Senantiasa memperkuat kapasitas diri agar tidak tertinggal atau tergilas oleh roda perkembangan zaman.

Tantangan Kesehatan Milenial pada Era Digital
Saat ini, kita telah memasuki era digital. Masa ketika hampir semua aktivitas dilakukan dengan menggunakan teknologi digital. Masa ketika dunia mulai mengenal dan merasakan dampak dari apa yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Internet of Things (IoT), cloud computing, dan big data adalah beberapa ciri teknologi yang menyertainya.
Perubahan perilaku dan lanskap ekonomi akibat digitalisasi sangatlah terasa. Dewasa ini, kita bisa memenuhi hampir setiap kebutuhan lewat aplikasi di ponsel pintar. Entah itu pesan makanan, belanja kebutuhan rumah tangga, berinteraksi dengan sesama, hingga menikmati berbagai sajian hiburan.
Untuk mengukur dampak digitalisasi, kita bisa meneliti data perkembangan internet dalam negeri. Hootsuite dalam Digital 2019 in Indonesia memaparkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 150 juta pada Januari 2019. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 56%.
Dibanding tahun sebelumnya, jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat 13%. Sementara itu, ponsel pintar (smartphone) menjadi gawai yang paling sering digunakan untuk mengakses internet (60%), di samping laptop atau komputer (22%) dan tablet (8%).
Melihat fakta di atas, kita patut bersyukur. Pesatnya perkembangan teknologi dan internet turut membawa keadilan di Bumi Pertiwi. Mengakses informasi kini semudah membalik telapak tangan. Cukup bermodal kuota data, siapa pun bisa belajar mengenai apa saja.


Namun demikian, segala kemudahan yang melekat pada era digital bukan berarti tidak memiliki dampak sampingan. Nyatanya, generasi milenial memiliki kecenderungan untuk mengakses internet secara berlebihan.
Survei IDN Research Institute bertajuk Indonesia Millenial Report 2019 melaporkan 49% generasi milenial Indonesia tergolong pengguna internet “kelas berat” (heavy user), lantaran menghabiskan 4—6 jam dalam sehari untuk internetan. Bahkan, sekitar 18,6% pemuda Indonesia lainnya masuk ke dalam barisan “pencandu internet” (addicted user) karena sudi mengakses internet lebih dari 7 jam per hari.
Meskipun internet mutlak diperlukan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan, kecanduan internet—khususnya pada anak muda—tidak boleh dibiarkan. Sebab ada segudang Penyakit Tidak Menular (PTM) yang mengintai kalangan milenial dari balik layar gawai digital.
Tiga PTM yang paling umum menjangkiti kalangan pemuda akibat keranjingan internet ialah gangguan penglihatan, nyeri punggung, dan obesitas. Bila terus-menerus diabaikan, ketiganya dapat memicu penyakit yang lebih parah sehingga berpotensi merenggut masa depan bangsa.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali ketiga PTM tersebut secara lebih mendalam. Mari kita teliti satu per satu.

1. Gangguan Penglihatan
Doni Widyandana, peraih penghargaan Orbis Medal The European Society of Cataract and Refractive Surgeons (ECSRS) asal Indonesia, seperti dilansir Kompas (21/10/2017), menemukan fakta bahwa saat ini sedang terjadi tren Myopia Boom, atau meningkatnya jumlah anak yang mengalami rabun jauh.
Menurutnya, faktor utama yang menyebabkan terjadinya Myopia Boom adalah gaya hidup tidak sehat. Pada era digital, anak cenderung menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau menatap layar ponsel terlalu lama.


Selain itu, kebiasaan melihat layar terlalu dekat juga mengakibatkan mata menjadi cepat lelah. Alhasil, kualitas penglihatan pada anak jadi menurun, serta memperbesar risiko terjadinya rabun jauh. Kalau sudah seperti ini, pemakaian kacamata pun tidak lagi bisa dihindari.
Bukan hanya rabun jauh, seorang anak yang terbiasa menatap layar digital secara berlebihan dapat berisiko menderita mata malas. Lantaran daya tangkap salah satu matanya sudah menurun, anak cenderung fokus menggunakan sebelah mata lainnya. Lama-kelamaan, mata yang jarang digunakan secara berangsur-angsur dapat berubah menjadi mata malas.

2. Nyeri Punggung
Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa yang sangat penting bagi pertumbuhan. Sayangnya, kebiasaan generasi milenial menggunakan gawai secara berlebihan dapat mengganggu kesehatan, salah satunya adalah nyeri punggung.
Nyeri punggung, atau dalam dunia medis dikenal dengan nama lumbal strain, biasanya bermula dari posisi duduk yang salah. Seorang anak yang bermain gim di ponsel tanpa disertai dengan posisi duduk yang tepat, memiliki risiko nyeri punggung yang lebih besar.


Apabila kebiasaan tersebut terus-menerus dilakukan, maka saraf tulang belakang akan terjepit. Rasa sakit pun lantas menjalar ke bagian tubuh lainnya seperti pinggul dan leher. Lama-kelamaan, akan terjadi penonjolan ruas tulang belakang atau Herniasi nucleus polposus.
Selain rasa sakit, posisi duduk yang kurang tepat pada anak atau remaja juga dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang belakang. Tiga di antaranya adalah lordosis (tulang bagian bawah tumbuh melengkung ke depan), kifosis (tulang bagian atas condong ke belakang), dan skoliosis (tulang belakang tumbuh bengkok ke samping).

3. Obesitas
Obesitas atau masalah berat badan, terjadi karena seringnya mengonsumsi makanan tinggi kalori tanpa disertai aktivitas fisik yang memadai. Gaya hidup era digital yang serba mudah, turut memperbesar peluang generasi milenial terkena obesitas.
Faktanya, tingkat obesitas pada remaja Indonesia meningkat cukup signifikan. Kemenkes dalam Hasil Utama Riskesdas 2018 melaporkan 31% remaja usia di atas 15 tahun mengalami obesitas pada 2018. Proporsi ini tercatat meningkat bila dibandingkan tahun 2013 yang “hanya” sekitar 26,6% saja.


Hiburan dan gim yang bisa diakses lewat gawai digital, semakin membatasi keinginan anak untuk beraktivitas di luar rumah. Apabila perilaku ini menjadi kebiasaan, maka masalah obesitas pada generasi milenial pun akan semakin sulit dihindari.
Selain gerak yang terbatas, penderita obesitas juga berisiko tinggi terkena komplikasi penyakit lainnya. Penumpukan lemak tubuh dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti jantung, diabetes, dan hipertensi. Depresi dan gangguan percaya diri juga umum dijumpai pada penderita obesitas.

Upaya Mengendalikan PTM Lewat GERMAS
Meski tidak menular, ketiga jenis gangguan kesehatan di atas sesungguhnya dapat mengancam masa depan bangsa secara perlahan. Para remaja—sosok yang menjadi tumpuan harapan bangsa—seharusnya memiliki tubuh yang prima. Sebab kita tidak akan bisa menghadapi segudang tantangan pada era digital kalau badan sering sakit-sakitan.
Maka, upaya pengendalian penyakit tidak menular mutlak diperlukan. Gaya hidup sehat, aktif, dan positif, mesti terus dilantangkan dan dibiasakan. Agar setiap anak bangsa bisa meraih masa depan dengan cemerlang.
Menyadari bahwa risiko PTM semakin tinggi dan dapat menyerang siapa saja, termasuk generasi muda, Pemerintah melalui Kemenkes telah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sejak 2016.
GERMAS merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dengan GERMAS, Pemerintah berharap masyarakat bisa berperilaku sehat, sehingga produktivitas pun akan meningkat. Pada akhirnya, angka penderita PTM akan berkurang dan biaya kesehatan semakin menurun.
Bukti keseriusan Pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui GERMAS adalah dikeluarkannya Instruksi Presiden No.1 Tahun 2017. Beleid ini mewajibkan setiap perangkat negara seperti Menteri, Lembaga Negara, BPJS Kesehatan, serta Kepala Daerah untuk turut mendukung GERMAS melalui kewenangannya masing-masing.
Untuk mengenal lebih jauh tentang GERMAS, silakan simak video yang diambil dari saluran YouTube milik Kemenkes berikut ini.


Sejak dicanangkan, sosialisasi GERMAS terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sepanjang 2016, Kemenkes telah melakukan sosialisasi GERMAS di 101 lokasi. Pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 134 lokasi. Artinya, upaya mengenalkan GERMAS kepada seluruh lapisan masyarakat memang bukan main-main.
Esensi dari GERMAS adalah membangun masyarakat sehat lewat paradigma promotif dan preventif. Artinya, pencegahan selalu menjadi prioritas utama dibandingkan dengan pengobatan. Oleh karena itu, tiga perilaku GERMAS yang diangkat adalah: (i) melakukan aktivitas fisik; (ii) mengonsumsi sayur dan buah; serta (iii) memeriksa kesehatan secara berkala.
Ketiga perilaku GERMAS sejatinya tidak membutuhkan banyak biaya. Oleh sebab itu, GERMAS dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat di setiap daerah di Nusantara. Lewat GERMAS, siapa pun bisa mengubah kebiasaan atau perilaku tidak sehat menjadi sehat.
Bagi generasi milenial, GERMAS merupakan solusi gaya hidup sehat yang sangat dibutuhkan dalam upaya mencegah berbagai PTM, termasuk gangguan penglihatan, nyeri punggung, maupun obesitas.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal ketiga perilaku GERMAS dan manfaatnya bagi upaya pengendalian PTM di kalangan milenial. Sekarang, ayo kita ulas satu demi satu.

1. Melakukan Aktivitas Fisik
Ada alasan mengapa aktivitas fisik ditempatkan sebagai perilaku pertama dalam GERMAS. Sebab aktivitas fisik sejatinya merupakan kegiatan yang paling mudah dan murah untuk membiasakan pola hidup sehat. Bisa dilakukan di mana dan kapan saja.
Melakukan aktivitas fisik berarti melakukan gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka untuk mengeluarkan energi. Timbunan lemak akan sangat berbahaya bila terus terperam di dalam tubuh. Obesitas, nyeri punggung, serta berbagai penyakit PTM lainnya seperti jantung, hipertensi, dan diabetes adalah buah dari kurangnya melakukan aktivitas fisik.


Maka, GERMAS mengajak generasi milenial untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari. Di sekolah, siswa bisa melakukan berbagai aktivitas fisik seperti berolahraga secara rutin, melakukan peregangan saat pergantian pelajaran, bermain saat istirahat, serta banyak berjalan atau naik-turun tangga.
Di rumah, anak bisa turut membantu orangtua melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring, menyapu halaman, berkebun, atau bermain bersama adik atau kakak. Sedangkan di dalam perjalanan, anak bisa menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi sekaligus media berolahraga.
Selain sehat, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin juga akan memperkuat daya tahan tubuh. Badan tetap fit dan tidak mudah terserang penyakit. Alhasil, penyakit PTM pun dapat dicegah sedini mungkin.

2. Mengonsumsi Sayur dan Buah
Sayur dan buah merupakan sumber serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa lain yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah dapat menurunkan risiko PTM bagi kalangan milenial, seperti obesitas dan gangguan penglihatan.
Serat alami yang dikandung sayur dan buah dapat memperlancar pencernaan dan mencegah konstipasi. Buang air besar menjadi teratur, sehingga dapat menjaga berat badan tubuh agar tetap ideal dan mencegah terjadinya kegemukan.
Kandungan vitamin A dan C pada sayur dan buah juga dapat meningkatkan kualitas penglihatan mata. Risiko terjadinya rabun jauh dan mata malas pada anak dapat dikurangi dengan membiasakan anak untuk makan sayur dan buah.


Namun, perlu disadari bahwa keberadaan sajian sayur dan buah bagi anak sangat bergantung pada orangtua dan keluarga. Oleh karena itu, mengajari anak untuk mencintai sayur dan buah sejak dini menjadi sangat penting dalam rangka mencegah PTM.
Untuk membiasakan anak makan sayur dan buah, GERMAS mengajak orangtua untuk memanfaatkan sayur dan buah lokal yang tersedia di pasar tradisional terdekat. Selain murah dan mudah didapat, memanfaatkan produk lokal juga turut membantu meningkatkan ekonomi masyarakat.
Agar manfaat mengonsumsi sayur dan buah semakin optimal, imbangi pula dengan minum air putih yang cukup. Membatasi makanan yang mengandung gula, garam, dan minyak juga sangat baik bagi kesehatan tubuh.

3. Memeriksa Kesehatan Secara Berkala
Tidak semua penyakit menimbulkan gejala pada awal fasenya. Oleh karena itu, GERMAS mengajak masyarakat untuk senantiasa memeriksa kesehatan secara berkala. Tujuannya agar kita dapat mengetahui kondisi kesehatan secara baik dan benar.
Jenis pemeriksaan kesehatan rutin yang wajib dilakukan meliputi cek darah, kolesterol, dan lingkar perut. Khusus bagi wanita remaja maupun dewasa, dianjurkan pula melakukan tes IVA (Inspeksi Visual Asam Cuka) untuk mendeteksi secara dini kanker leher rahim.


Berbagai pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di rumah sakit, puskesmas, atau posbindu (pos pembinaan terpadu) terdekat.
Bagi generasi milenial, pemeriksaan kesehatan sangat penting untuk mendeteksi PTM sejak dini. Bila dilakukan rutin minimal 6 bulan sekali, maka gejala dan gangguan PTM dapat segera dieliminasi.

Menuju Indonesia Emas Bersama GERMAS
Berbagai tantangan pada era digital harus dihadapi dengan persiapan yang matang. Selain wawasan, anak bangsa juga perlu diajari cara menjaga kesehatan. Supaya potensi yang dimiliki bisa tumbuh subur dan tidak layu sebelum berkembang.
Risiko PTM memang akan terus menghantui generasi milenial dalam meraih masa depan. Akan tetapi, setiap elemen bangsa, baik Pemerintah maupun masyarakat, mesti turun tangan bahu-membahu dalam rangka menekan angka pesakitan. Bila tidak, asa menjadi bangsa maju yang akan dipertaruhkan.
Dalam 26 tahun mendatang, Indonesia akan memasuki usia keemasan. Masa yang diprediksi akan membawa Nusantara menjadi macan dunia. Peluang menuju ke sana tetaplah terbuka.


Namun demikian, mewujudkan hal tersebut bukanlah seperti menunggu durian runtuh semata. Indonesia Emas harus dipersiapkan dengan gigih dan diperjuangkan secara gagah.
Di bidang kesehatan, GERMAS adalah solusi mewujudkan Indonesia Emas. Dengan tiga perilaku GERMAS, pencegahan PTM seharusnya dapat dilakukan secara lebih optimal. Asalkan, seperti esensi GERMAS itu sendiri, praktiknya mesti dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Akhir kata, mari kita dukung dan aplikasikan GERMAS mulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? [Adhi]

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Media Sosial Kemenkes 2019 kategori Blog bertema Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan Pendekatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Gambar yang ditampilkan dalam artikel diolah terlebih dahulu oleh penulis. Sumber foto yang ditampilkan dalam artikel ini dicantumkan pada masing-masing gambar. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube milik Kemenkes RI.

Daftar Referensi
Alodokter. 2018. Penyebab Obesitas. [daring] (https://www.alodokter.com/obesitas/penyebab, diakses tanggal 15 Juli 2019).
CNN Indonesia. 2018. Mata Minus Kian Mengintai Kesehatan Anak di Era Digital. [daring] (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181031085818-255-342810/mata-minus-kian-mengintai-kesehatan-anak-di-era-digital, diakses tanggal 15 Juli 2019).
CNN Indonesia. 2018. Indonesia Emas 2045, Jokowi Minta Pemuda Tahan Banting. [daring] (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180409105848-20-289413/indonesia-emas-2045-jokowi-minta-pemuda-tahan-banting, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Halodoc.com. 2018. Penyebab 3 Kelainan Tulang Belakang. [daring] (https://www.halodoc.com/penyebab-3-kelainan-tulang-belakang, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Hootsuite. 2019. Digital 2019 in Indonesia, Canada: Hootsuite.
IDN Research Institute. 2019. Indonesia Millenial Report 2019, Jakarta: IDN Research Institute.
Kemenkes. 2016. GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat. [daring] (www.depkes.go.id/article/view/16111500002/germas-wujudkan-indonesia-sehat.html, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Kemenkes. 2016. Pemerintah Canangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). [daring] (http://www.depkes.go.id/article/view/16111600003/pemerintah-canangkan-gerakan-masyarakat-hidup-sehat-germas-.html, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Kemenkes. 2017. Warta Kesmas Edisi 01 2017, Jakarta: Kemenkes.
Kemenkes. 2018. Hasil Utama Riskesdas 2018, Jakarta: Kemenkes.
Kemenkes. 2018. Sosialisasi Germas Atasi Masalah Kesehatan. [daring] (sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180405/3725458/sosialisasi-germas-atasi-masalah-kesehatan/, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Kompas.com. 2017. Myopia Boom, Kenapa Banyak Anak Zaman Sekarang Berkacamata? [daring] (https://sains.kompas.com/read/2017/10/21/150431523/myopia-boom-kenapa-banyak-anak-zaman-sekarang-berkacamata?page=all, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Kompas.com. 2018. Beragam Manfaat Diet Sehat dengan Buah dan Sayuran [daring] (https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/27/204208020/beragam-manfaat-diet-sehat-dengan-buah-dan-sayuran?page=all, diakses tanggal 15 Juli 2019).
Okezone.com. 2018. Penyebab Nyeri Tulang Belakang & Kenali Tips Pencegahannya. [daring] (https://lifestyle.okezone.com/read/2018/08/23/481/1940413/penyebab-nyeri-tulang-belakang-kenali-tips-pencegahannya, diakses tanggal 15 Juli 2019).
PwC. 2017. The Long View: How will the global economic order change by 2050?, London: PwC.
Social Investment Indonesia. 2019. World GDP Forecasts for 2030. [daring] (https://socialinvestment.id/news/2019/01/world-gdp-forecasts-for-2030/, diakses tanggal 15 Juli 2019).


Insto Dry Eyes Solusi Mata Kering

Bye Mata Kering! – Tubuh fit dan sehat adalah dambaan setiap insan. Lebih-lebih bila Anda adalah seorang pekerja. Entah sebagai karyawan kantoran, petugas lapangan, atau pekerja bebas (freelancer), kesehatan menjadi modal paling dasar untuk menyelesaikan berbagai tugas.
Bila tubuh sakit, tentu aktivitas akan terganggu. Jadwal yang sudah disusun rapi sejak jauh-jauh hari, bisa buyar lantaran kurang enak badan atau terserang penyakit. Oleh karena itu, menjaga badan agar tetap bugar harus menjadi prioritas utama bagi Anda yang bekerja.
Sayangnya, kita juga tidak bisa menafikan kenyataan bahwa tuntutan pekerjaan pada era digital semakin berkembang dan menantang.
Pada beberapa bidang pekerjaan seperti jasa periklanan, perbankan, telekomunikasi, marketing, atau digital start-up, misalnya, tidak ada lagi istilah nine-to-five atau datang jam 9 pulang jam 5. Tugas-tugas mesti digarap kapan saja sesuai dengan permintaan pelanggan atau komitmen yang telah disepakati bersama klien.
Alhasil, bila beban kerja sedang tidak banyak, terkadang kita bisa pulang kantor lebih awal. Akan tetapi, tatkala sebaliknya yang terjadi, tidak jarang pula kita masih harus membuka laptop ketika sudah sampai di rumah.
Yang pasti, itu semua kita lakukan demi satu sikap yang selalu dituntut oleh setiap perusahaan atau pemberi kerja: profesionalitas. Untuk Anda yang bekerja, saya yakin kita semua pernah mengalami hal serupa.
Fleksibilitas waktu kerja tersebut, didukung oleh perkembangan teknologi gawai digital yang semakin pesat. Laptop, smartphone, dan tablet, adalah tiga perangkat mobile yang sudah awam menjadi senjata para pekerja kantoran dan freelancer dalam menyelesaikan tugas.

Gadget Sebabkan Mata Kering

Hanya saja, berlama-lama di depan gadget juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Gara-gara terlalu asyik bekerja di depan laptop, lama-lama Anda pun bisa mengalami gangguan mata kering atau mata lelah.
Tiga gejala yang biasa mengawalinya adalah mata pegel, mata sepet, dan mata perih. Kalau sudah seperti ini, konsentrasi pun akan semakin berkurang. Daya fokus dan kualitas penglihatan juga ikut-ikutan melemah.
Alhasil, tugas-tugas yang harusnya bisa lekas diselesaikan menjadi alpa atau tertunda. Anda pun berisiko mendapat perintah lembur atau terpaksa bekerja pada hari libur.
Apalagi ketika tuntutan pekerjaan mengharuskan Anda bertemu dengan klien secara langsung. Saat mata kering melanda, tingkat kepercayaan diri pasti memudar. Komunikasi dengan pelanggan menjadi tidak lancar. Pada akhirnya, pencapaian target dan kinerja pun yang akan menjadi taruhan.

Mata Kering Mengganggu Pekerjaan
Berbicara mengenai gangguan mata kering saat bekerja, saya pribadi pernah mengalaminya. Rasanya sungguh tidak nyaman dan tiada pula menenangkan.
Sebagai seorang analis ekonomi yang bekerja di lembaga negara, aktivitas keseharian saya tidak jauh berbeda dengan pekerja kantoran lainnya. Duduk manis seharian di depan laptop telah menjadi rutinitas saya sehari-hari.
Ketika berbagai data indikator ekonomi terkini rilis, saya pun mesti bekerja ekstra keras. Ribuan hingga jutaan baris dan kolom berisi data mentah, mesti saya olah menjadi bahan analisis atau kajian.
Sajian grafik, tabel, hingga infografis adalah beberapa hal yang harus saya persiapkan, sebelum akhirnya dipresentasikan kepada atasan. Bila dirangkum menjadi dua kata saja, tugas saya adalah “membunyikan data”.
Bagi saya, daya konsentrasi dan fokus yang tinggi adalah modal utama seorang analis ekonomi. Sebab memasak data hingga menjadi sajian analisis yang bermakna membutuhkan keseriusan dan keuletan yang tinggi.
Terkadang, tuntutan pekerjaan mengharuskan saya mengolah data hanya dalam hitungan jam saja. Pagi terima data, sore sudah harus menjadi bahan tayang untuk dikoreksi atasan atau dibahas dalam rapat kerja.

Mata Kering karena Bekerja

Kalau sudah berkonsentrasi penuh, biasanya saya jadi lupa waktu. Jemari sibuk menari di antara tuts keyboard, memasukkan sejumlah rumus-rumus untuk “menggoreng” data. Mata pun sibuk meneliti baris dan kolom satu per satu, untuk memastikan apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada yang terlewat barang sebiji.
Tentu saja, saya tidak boleh salah. Sebab keliru memasukkan data, bisa berujung salah analisa. Alhasil, kebijakan yang diambil juga terancam tidak sesuai dengan kondisi dan realita yang ada. Duh, jangan sampai, deh!
Karena takut risiko itu terjadi, terkadang saya “menggeber” mata hingga bahan analisis benar-benar rampung dan tiba dengan selamat di meja pimpinan. Ujung-ujungnya, gangguan dan gejala mata kering menjadi sering saya alami.
Pernah pada satu waktu, saya ditugaskan untuk presentasi di depan pemimpin tertinggi lembaga tempat saya bekerja. Bagi saya, ini merupakan momen terbaik untuk menunjukkan kualitas dan tanggung jawab saya sebagai seorang pegawai. Lantaran tertantang, saya pun menyanggupinya dengan penuh suka cita.
Sayangnya, waktu yang diberikan kepada saya untuk menyelesaikan bahan presentasi tidaklah lama. Hanya sehari saja.
Sementara itu, cakupan bahan yang wajib dipaparkan relatif banyak dan kompleks. Alhasil, tidak ada pilihan lain bagi saya selain begadang untuk menggarap bahan presentasi dengan sebaik-baiknya.

Gejala Mata Kering Saat Bekerja

Kondisi tadi menimbulkan sejumlah masalah bagi saya. Stres karena tekanan pekerjaan membuat saya mengalami mata sepet. Gangguan mata kering pun saya alami lantaran paparan hawa dingin dari penyejuk ruangan di kantor.
Selain itu, karena terpaksa melek semalam suntuk, saya pun mengalami gangguan mata perih. Alhasil, pada pagi hari ketika tiba saatnya presentasi, saya pun harus bersabar menahan diri dari kondisi mata lelah.
Rasanya sungguh tidak menenangkan. Karena pada saat yang bersamaan, saya pun harus berbicara di depan banyak orang dan tersenyum di balik penderitaan. Di hadapan orang-orang, saya berbicara lantang, tetapi di dalam hati saya meringis kesakitan.
Untung saja, kondisi mata kering yang saya alami tidak sampai membuat jalannya presentasi berantakan. Tugas tetap saya selesaikan dengan baik, kendatipun setelahnya saya harus meminta izin kepada atasan untuk beristirahat selama dua hari.
Ah, andai saja pada waktu itu saya sudah sedia Insto Dry Eyes, bisa jadi hasilnya akan jauh berbeda. Saya tidak perlu mengajukan cuti dan bisa kembali bekerja seperti sedia kala seraya menyerukan tiga kata: bye mata kering!

Mengenal Gejala Mata Kering
Seperti cerita saya di atas, gangguan mata kering bisa dialami oleh siapa pun ketika bekerja, termasuk Anda. Lantaran tuntutan pekerjaan dan sikap profesional yang mesti Anda tunjukkan, terkadang Anda harus bekerja melebihi waktu biasa.
Bila sudah demikian, potensi penyakit mata kering, atau dalam istilah medis dikenal dengan nama keratoconjunctivitis sicca ini, tentu akan semakin besar.
Oleh karena itu, sebelum saya jelaskan Insto Dry Eyes dan fungsinya dalam mengatasi penyakit mata kering, ada baiknya Anda mengenal terlebih dahulu penyebab dan gejala mata kering.
Dengan demikian, Anda bisa mengetahui dengan pasti kapan mata Anda harus diistirahatkan atau diteteskan Insto Dry Eyes. Mari kita kuliti satu demi satu.

1. Mata Sepet
Gejala pertama yang akan Anda rasakan ketika mengalami mata kering adalah mata sepet. Kelopak mata penderita mata sepet akan terasa lengket ketika hendak berkedip. Biasanya, warna mata penderita mata sepet bisa memerah apabila tidak segera diobati.
Pada umumnya, mata sepet dipicu oleh aktivitas atau gangguan eksternal lainnya. Dalam konteks bekerja, mata sepet sering kali terjadi karena menatap layar laptop atau smartphone terlalu lama.

Mata Sepet Gejala Mata Kering

Menurut penelitian World Health Organization (WHO), batas wajar menatap layar smartphone atau laptop paling lama adalah 1 jam. Bila terpaksa harus lebih dari itu, maka WHO menyarankan agar kita mengistirahatkan mata sejenak.
Dari sisi eksternal, mata sepet juga bisa disebabkan oleh suhu udara yang terlalu kering. Atau bisa juga terlalu lama di ruangan ber-AC atau berada di tempat gersang. Kondisi tak bersahabat seperti itu turut memperbesar risiko seseorang untuk terkena gejala mata sepet.

2. Mata Pegel
Gejala kedua yang timbul akibat penyakit mata kering adalah mata pegel. Seseorang yang mengalami mata pegel biasanya ditandai dengan sakit yang dirasakan di sekitar otot mata.
Secara umum, mata pegel disebabkan oleh fokus mata yang terlalu lama dan berlebihan. Misalnya saja ketika sedang menulis di depan laptop. Selain terkena paparan cahaya dari layar laptop, mata juga kita gunakan untuk fokus pada aksara atau gambar yang sedang diketik atau dibaca.

Mata Pegel Gejala Mata Kering

Bila Anda bekerja di depan laptop dalam waktu yang lama, maka risiko terjangkit penyakit mata pegel akan semakin besar. Oleh karena itu, mengistirahatkan mata sejenak ketika bekerja atau menggunakan obat tetes mata adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan.
Bagi Anda yang menggunakan kacamata, mata pegel juga bisa diakibatkan oleh lensa kacamata yang kurang sesuai. Biasanya, mata akan terasa pegel tatkala minus bertambah atau berkurang. Untuk mengatasinya, Anda bisa melakukan tes mata di klinik secara berkala.

3. Mata Perih
Gejala terakhir yang biasanya timbul karena penyakit mata kering adalah mata perih. Biasanya, penyakit mata perih akan memicu produksi air mata secara berlebihan, sebagai salah satu cara tubuh untuk mengatasinya secara natural.
Namun demikian, penderita mata perih sering kali tidak sadar akan hal ini. Bukannya mengobati dengan obat tetes mata, biasanya kita malah mengucek-ngucek mata. Alhasil, mata akan semakin perih dan berisiko terkena gangguan mata kering.

Mata Perih Gejala Mata Kering

Mata perih biasanya terjadi karena gangguan eksternal. Misalnya karena terkena percikan air yang kotor, debu, kerikil, ataupun udara yang terkontaminasi polusi.
Pengguna sepeda motor pasti tahu betul akan gejala mata perih. Ketika mengendarai motor dalam waktu yang lama tanpa menutup kaca helm, maka mata akan menjadi perih karena terpapar debu jalanan.
Bagi pekerja kantoran atau digital freelancer, mata perih pada umumnya disebabkan oleh suhu udara yang terlalu dingin atau paparan asap rokok. Seseorang yang bekerja di kafe bebas merokok, misalnya, akan berpotensi terjangkit penyakit mata perih lebih besar dibanding mereka yang bekerja di ruang steril.

Insto Dry Eyes Solusi Atasi Mata Kering
Kini, Anda sudah tahu tiga gejala yang biasa menyertai gangguan mata kering. Ketika Anda merasakan salah satu di antaranya, jangan sampai telat bertindak. Bila terus-menerus diremehkan atau diabaikan, tingkat keparahan penyakit mata kering yang dialami bisa-bisa semakin besar.
Pada beberapa kasus mata kering yang sudah berat, tidak jarang diikuti dengan peradangan permukaan mata. Hal ini akan memperbesar risiko timbulnya bakteri dan jamur pada mata. Tentu saja, kita tidak menginginkan kondisi itu terjadi pada mata kita.
Nah, agar lebih nyaman saat bekerja, sebaiknya Anda selalu menyediakan Insto Dry Eyes di saku celana atau tas Anda. Sebab sesuai namanya, Insto Dry Eyes memang khusus diciptakan bagi Anda untuk mengatasi penyakit mata kering.
Untuk mengetahui kegunaan Insto Dry Eyes dalam mengatasi mata kering, silakan simak video singkat yang saya ambil dari saluran YouTube milik Insto Indonesia berikut ini.


Dalam setiap kemasan Insto Dry Eyes berukuran 7,5 mL, terdapat kandungan Hydroxypropyl methylcellulose—atau dalam istilah medis cukup disingkat menjadi hypromellose—sebanyak 3,0 mg. Senyawa ini sangat efektif untuk mengatasi gangguan mata kering dan bekerja—layaknya air mata—sebagai pelumas mata.
Dengan menggunakan Insto Dry Eyes, kelembapan mata akan semakin terjaga, di samping membantu mata terlindung dari cedera dan infeksi. Insto Dry Eyes juga dapat meredakan sensasi gatal, terbakar, atau iritasi yang biasa dirasakan oleh penderita mata kering.
Selain mengandung Hypromellose, Insto Dry Eyes juga mengandung Benzalkonium chloride sebanyak 0,1 mg. Bila kalian teliti lebih jauh, senyawa ini berfungsi sebagai zat antiseptik yang berfungsi untuk membersihkan mata dari berbagai virus, jamur, maupun bakteri.
Dengan kata lain, Instro Dry Eyes dapat mencegah Anda dari penyakit mata kering, meredakan iritasi pada mata, serta membantu membersihkan mata yang kotor akibat kondisi eksternal, seperti polusi udara, debu, kerikil, asap rokok, atau zat berbahaya lainnya.

Bye Mata Kering

Ketika Anda bekerja di depan laptop atau smartphone dan merasakan salah satu di antara ketiga gejala mata kering tersebut, entah itu mata sepet, pegel, atau perih, segera teteskan saja Insto Dry Eyes. Seketika langsung bye mata kering!
Akan tetapi, ingat-ingat aturan pakainya, ya. Cukup 1 hingga 2 tetes dalam sekali pakai saja. Dalam sehari, maksimal 3 kali pemakaian, atau ikuti petunjuk dan saran dari dokter setelah berkonsultasi terlebih dahulu.
Nah, selain mampu mengatasi gejala mata kering dengan cepat dan efektif, Insto Dry Eyes juga mempunyai empat keunggulan lainnya. Seluruhnya sangat cocok untuk mendukung aktivitas Anda sebagai seorang pekerja kantoran atau freelancer yang super padat.
Langsung saja, ayo kita bahas satu per satu.

1. Harga Terjangkau
Untuk menyembuhkan mata kering, Anda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Sebab Insto Dry Eyes dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Di bilangan Jakarta, tempat saya bermukim, Anda dapat membeli Insto Dry Eyes dengan harga Rp 13.500 saja. Dengan harga setara satu nasi bungkus saja, Anda sudah dapat melindungi diri dari gejala penyakit mata kering. Murah, bukan?

Insto Dry Eyes Harga Terjangkau

Selain murah, Insto Dry Eyes juga terbilang awet lantaran satu kemasan berisi 7,5 mL. Artinya, ada ratusan tetes Insto Dry Eyes yang bisa Anda manfaatkan untuk melindungi mata dari serangan mata kering tatkala sedang bekerja. Mengarungi segudang aktivitas kerja yang padat jadi semakin tenang dan nyaman.

2. Praktis
Satu kemasan Insto Dry Eyes berukuran tidak lebih dari genggaman orang dewasa. Kita bisa menyimpan Insto Dry Eyes di mana saja. Bisa di saku celana atau baju, tas kecil, atau bisa juga disimpan di balik laci meja kerja. Praktis dan tidak memakan banyak tempat.
Bagi Anda yang bekerja dengan mobilitas tinggi, Insto Dry Eyes sangat cocok untuk menunjang segala aktivitas. Lantaran sangat praktis, Insto Dry Eyes juga bisa Anda bawa ke mana saja dengan mudah.

Insto Dry Eyes Praktis

Rapat dengan klien, meeting di coffee shop, hingga on-site visit di lapangan atau lokasi proyek bagi Anda yang sehari-hari bekerja sebagai petugas lapangan. Dinas ke berbagai kota atau daerah jadi lebih tenang, aman, dan nyaman.
Untuk Anda yang sering presentasi di hadapan atasan atau rekan kerja, seperti saya, Insto Dry Eyes juga dapat Anda simpan di kotak pensil atau tas laptop. Ketika mata mulai terasa sepet, pegel, dan perih, jangan ragu untuk menggunakan Insto Dry Eyes.

3. Mudah Diperoleh
Insto Dry Eyes adalah obat tetes mata produksi Compibhar yang sudah dikenal oleh banyak orang. Oleh karena itu, menemukan Insto Dry Eyes semudah membeli nasi goreng di pinggir jalan. Tersedia di mana pun Anda berada.
Untuk membeli Insto Dry Eyes, Anda bisa berkunjung ke apotek atau mini market terdekat. Mintalah kasir atau petugas apotek untuk menunjukkan tempat Insto Dry Eyes berada.


Bagi Anda yang super sibuk dan tidak sempat keluar kantor, Anda juga bisa memanfaatkan layanan jasa pesan-antar berbasis aplikasi. Lebih praktis dan tidak menguras banyak waktu dan tenaga.
Tapi awas, jangan sampai salah pilih, ya! Kemasan Insto Dry Eyes berwarna biru kehijauan dan berukuran mungil.

4. Aman dan Tepercaya
Mata adalah panca indera sekaligus anggota tubuh yang sangat vital bagi manusia. Oleh karena itu, dalam memilih obat tetes mata, Anda tidak boleh sembarangan. Jangan salah pilih! Karena keliru memilih obat tetes mata bisa berdampak pada menurunnya kualitas penglihatan Anda.
Untungnya, Insto Dry Eyes adalah obat tetes mata yang aman dan tepercaya. Sebab Insto Dry Eyes sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dengan nomor registrasi DTL1438202146A1.
Anda bisa mengecek secara langsung melalui website resmi BPOM untuk mendapat keterangan seperti gambar di bawah ini.

Insto Dry Eyes Aman

Dengan demikian, ada jaminan kualitas, kredibilitas, dan keamanan ketika Anda menggunakan Insto Dry Eyes untuk mengatasi gejala mata kering. Saat mata pegel, perih, dan sepet menyerang, Anda bisa menggunakan Insto Dry Eyes dengan hati aman dan nyaman.

Bye Mata Kering!
Ada sebuah pepatah yang, menurut saya, sangat tepat untuk para pekerja: kesempatan tidak akan datang dua kali. Dalam dunia kerja, ketika Anda diminta untuk mengerjakan tugas tak biasa atau di luar dari tanggung jawab Anda, biasanya itu merupakan kesempatan Anda untuk naik kelas.
Segera buktikan kapasitas dan kapabilitas diri Anda. Jangan ragu dan jangan pernah menolak. Kerjakan sebaik mungkin, niscaya rezeki dan karier pun akan semakin terbuka lebar untuk Anda.
Ketika harus menghadapi tugas seperti itu, sudah tentu Anda akan mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran. Namun ingat, tetap jagalah kondisi tubuh dan kesehatan, termasuk kesehatan mata. Untuk urusan yang terakhir, sediakanlah selalu Insto Dry Eyes di sisi Anda.

Insto Dry Eyes untuk Mata Kering

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, Insto Dry Eyes sangat tepat untuk menemani kesibukan dan aktivitas Anda sehari-hari.
Berlama-lama menggarap proyek, membuat artikel, hingga menganalisis data di depan laptop atau smartphone menjadi lebih aman dan nyaman. Sebab kini sudah ada Insto Dry Eyes yang siap mengatasi semua gejala mata kering. Mulai dari mata sepet, mata pegel, ataupun mata perih.
Bersama Insto Dry Eyes, Anda bisa bekerja lebih tenang dan nyaman seraya berkata: bye mata kering! Selamat mencoba. [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Insto Dry Eyes Blog Competition bertema Bye Mata Kering!
Seluruh gambar dan foto yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi dan website Insto, yang sebelumnya diolah terlebih dahulu oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube milik Insto Indonesia.