Mengurus pekarangan rumah selalu lebih rumit dibanding mempercantik ruang tengah. Selain sulit dijangkau, daya tarik pekarangan rumah juga tidak sepopuler ruang tengah. Tiada tuan rumah yang sudi menjamu tamunya di pekarangan. Itulah mengapa, rupa-rupa karya seni dan pajangan terbaik selalu diletakkan di ruang tengah, bukan di pekarangan.
Padahal, peran pekarangan rumah tidak bisa dipandang sebelah mata. Di mata petandang, ia laksana cermin yang merefleksikan kepribadian Sang Tuan Rumah. Jikalau banyak sampah dan kotoran, maka hasrat bertamu akan terancam buyar. Sebaliknya pun demikian. Tatkala ditanami beragam bunga yang indah dan cantik, mata siapa pula yang tidak akan melirik?
Hanya saja, mempercantik pekarangan rumah tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau asal-asalan. Dibutuhkan tiga perkara, yakni kegigihan, keuletan, dan kesabaran. Apalagi ketika “rumah” itu bernama Indonesia—negara dengan “pekarangan rumah” terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada.
***
Sejak zaman penjajahan dulu, pembangunan Nusantara memang selalu dimulai dan difokuskan pada “ruang tengah” bernama pulau Jawa. Dengan bertumpu pada Batavia sebagai titik pusat pemerintahan dan ekonomi, Belanda membangun berbagai infrastruktur dasar yang diperlukan. Sebut saja pelabuhan, stasiun, ataupun bandar udara.
Diskursus ini kemudian berlanjut dan dipraktikkan pada awal masa kemerdekaan. Apalagi ketika memasuki masa Orde Baru, pembangunan bernuansa Jawa sentris menjadi sangat lekat dan dilakukan secara lebih masif. Cara ini terus berlangsung hingga awal periode reformasi.
Alhasil, buah pembangunan itu terhampar rata di sekujur pulau Jawa. Mulai dari gedung pencakar langit, jalan tol berkilo-kilometer, pusat perbelanjaan megah, hingga segudang fasilitas modern, dapat dengan mudah kita temui di pulau seluas 128,29 ribu km2 ini.
Seperti kata pepatah, di mana ada gula, di situ pasti ada semut. Penyebaran penduduk pun terkonsentrasi dari Ujung Kulon hingga Banyuwangi. Badan Pusat Statistik (2015) menyebutkan ada sekitar 145 juta jiwa penduduk, atau lebih dari setengah total jumlah penduduk Indonesia, yang bermukim di tanah Jawa.
Terpusatnya pembangunan di pulau Jawa, tentu membawa dampak bagi daerah lainnya. “Pekarangan rumah” berupa daerah perbatasan seringkali terabaikan. Buktinya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) antara daerah tengah dan pinggiran menjadi sangat jomplang. Mari kita cermati grafik di bawah ini.


Nilai IPM daerah perbatasan seperti Papua (60,06), Papua Barat (63,74), Nusa Tenggara Timur (64,39), dan Sulawesi Barat (65,10) berada jauh di bawah nilai rata-rata IPM secara nasional (71,39). Dibandingkan dengan ibukota Jakarta (80,06), nilai IPM daerah perbatasan ibarat langit dan bumi. Jauh sekali!
Padahal, sumber kekayaan alam Indonesia sejatinya terletak di “pekarangan rumah”. Papua, misalnya. Daerah yang dulunya dikenal dengan nama Irian Jaya itu dianugerahi komoditas logam yang melimpah, lahan sawit yang subur, hingga deretan hutan hujan yang lebat. Sayangnya, berbagai kekayaan alam tadi belum bisa diejawantahkan dalam pembangunan yang mumpuni, baik dari sisi infrastruktur, fasilitas pendukung, maupun kualitas sumber daya manusia.
Bila kita mau belajar dari sejarah, peran daerah perbatasan sebenarnya sangat vital. Taruhannya juga tidak main-main, yakni kedaulatan bangsa. Sebagai contoh, mari kita tengok kisah sengketa pulau Sipadan dan Ligitan beberapa tahun silam.


Kala itu, kita harus merelakan dua pulau yang berada di selat Makassar tersebut berpisah dari pangkuan Ibu Pertiwi. Tepat pada 17 Desember 2002, International Court of Justice (ICJ) memutuskan Sipadan dan Ligitan resmi menjadi daerah teritorial Malaysia. Salah satu alasannya sangat sederhana. Ringgit lebih banyak digunakan untuk transaksi ekonomi penduduknya ketimbang Rupiah.
Cerita Sipadan dan Ligitan sontak menjadi tamparan keras bagi kita semua. Analogi yang dipilih hakim ICJ sangat jelas: semakin tinggi tingkat kepercayaan daerah terhadap suatu mata uang, semakin tinggi pula campur tangan Sang Pemilik mata uang terhadap pembangunan daerah tersebut. Dengan kata lain, kita tidak cukup serius menyatukan dan mempersatukan “pekarangan rumah” NKRI.
Tentu saja, ke depan kita tidak boleh alpa lagi. Pembangunan daerah perbatasan harus menjadi prioritas bangsa ini. Jangan karena terus-menerus tertinggal, pekarangan rumah yang lengkap dan asri terpaksa harus berpisah atau memisahkan diri. Gelora itu mesti kita patri dalam hati seraya meresapi makna semboyan yang sudah tidak asing lagi di telinga: “NKRI harga mati!”



Lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Kita patut bersyukur bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan upaya yang serius dalam membangun daerah perbatasan. Ini terbukti dari diberlakukannya PP Nomor 78/2014 yang teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut melalui Perpres Nomor 131/2015.
Dari sana, kita bisa mengetahui 6 kriteria daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang menjadi acuan pemerintah. Mereka adalah (i) perekonomian masyarakat; (ii) sumber daya manusia; (iii) sarana dan prasarana; (iv) keuangan daerah; (v) aksesibilitas; dan (vi) karakteristik daerah.


Hasilnya, ada 122 kabupaten yang tersebar di 24 provinsi yang masuk kategori daerah tertinggal. Dari jumlah tersebut, 94 kabupaten (77,05 persen) di antaranya berasal dari wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI), yakni Papua, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Bila diteliti lebih dalam, Papua tercatat sebagai provinsi penyumbang daerah tertinggal terbanyak, yaitu 26 kabupaten (21,31 persen).
Sajian data tersebut memberi rambu-rambu yang jelas untuk menentukan arah percepatan pembangunan di daerah 3T. Memapas tingginya kesenjangan di KTI, khususnya Papua, harus menjadi daftar lakon (to-do-list) nomor satu apabila bangsa ini ingin maju. Pertanyaannya, siapa yang paling bertanggung jawab melakukannya?
Dalam membangun suatu bangsa, tentu pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Ada peranan atau kedudukan pihak swasta dan masyarakat yang juga tidak kalah penting. Sebab dalam memacu putaran roda ekonomi riil, korporasi dan individu masyarakat justru merupakan pemegang kendali yang sebenarnya.


Lantas, bagaimana cara yang paling tepat dalam membangun daerah tertinggal? Langkah pertama adalah menciptakan pusat ekonomi baru yang bersinergi dengan kearifan lokal. Artinya, teknologi, keahlian, investasi, dan sumber daya yang diangkut dari luar daerah tertinggal, mesti bersatu-padu dengan tenaga kerja lokal. Supaya kualitas sumber daya manusia yang tadinya terbelakang, bisa turut maju dan berkembang.
Langkah selanjutnya adalah memastikan hasil pembangunan tetap bercokol di daerah asal. Tatkala pusat ekonomi sudah dibangun, manisnya perasan madu pembangunan harus menetes di sekitarnya. Jangan diangkut semua. Mesti ada yang tersisa, baik berupa pendapatan daerah, infrastruktur penunjang, bantuan sosial, pendidikan, maupun sarana dan prasarana umum.
Terakhir, menjaga kesinambungan. Bila kedua langkah di atas dilakukan secara konsisten, maka penanggalan status daerah tertinggal hanya tinggal menunggu waktu saja. Sebab pembangunan infrastruktur besar seperti jalan tol, listrik, pelabuhan, dan bandar udara akan terlaksana sejalan dengan kebutuhan warganya.



Mencontoh kesuksesan adalah cara tercepat membangun daerah tertinggal. Jika ingin belajar bagaimana cara swasta membangun daerah tertinggal, maka contohlah cara KORINDO dalam menjalankan usahanya.
KORINDO adalah korporasi yang bergerak di bidang sumber daya alam, yang seluruh sahamnya dikuasai oleh putra-putri bangsa. Sejak berdiri pada 1969, lini bisnis KORINDO terus berkembang dengan pesat.
Produk yang dihasilkan pun menjadi beragam, mulai dari kayu lapis (1979), kertas (1984), perkebunan kayu (1993), dan perkebunan kelapa sawit (1995). Pundi-pundi devisa hasil ekspor terus mengalir untuk Negeri Tercinta, lantaran produk KORINDO telah menembus pasar Amerika, Eropa, dan Asia.


Eksplorasi sumber daya alam Nusantara dilakukan KORINDO di beberapa daerah tertinggal, seperti Buru dan Halmahera di Maluku, serta Merauke dan Boven Digul di Papua. Pada setiap daerah yang dieksplorasi, KORINDO berkomitmen untuk berkembang bersama-sama dengan masyarakat lokal.
Komitmen tersebut tercermin dari visi dan ketiga misi yang diusungnya. Sebagai contoh, mari kita cermati misi kedua yang berbunyi, “Membangun kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas, dan juga partisipasi aktif masyarakat lokal dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup mereka”. Jelas, uraian misi itu merupakan sebuah nilai luhur yang mesti dicontoh oleh korporasi lainnya dalam memutar roda bisnis di daerah tertinggal.
Nah, sebelum mengulas tindakan nyata apa saja yang dilakukan KORINDO dalam membangun daerah perbatasan, ada baiknya kita berkenalan dengan korporasi yang memiliki lebih dari 30 anak perusahaan ini. Agar lebih nikmat dan nyaman, profil singkat KORINDO saya sajikan melalui video berikut ini.


Dalam menghadirkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, KORINDO memiliki program pembangunan masyarakat berkelanjutan yang diberi nama Corporate Social Responsibility (CSR). Bukan sekadar program CSR biasa, sebab seluruh elemen kehidupan bermasyarakat bersatu-padu menjadi pilarnya, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur.
KORINDO menyadari bahwa kunci utama pembangunan daerah tertinggal ada di bidang pendidikan. Itulah mengapa, KORINDO banyak melakukan upaya meningkatkan kualitas sumber daya anak Papua melalui berbagai hal. Mulai dari pembangunan sekolah, beasiswa pendidikan, bantuan operasional, hingga tambahan honor bagi guru penunjang.
Yang paling unik dan menarik, para siswa di Desa Asiki tak perlu bersusah payah menerjang hutan dan kubangan tatkala berangkat ke sekolah. Sebab, kini sudah ada 25 unit bus yang siap mengantar mereka mengejar cita-cita. Selain itu, KORINDO juga menyediakan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) bagi siswa SMA yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.



Untuk menjaga kesehatan masyarakat Asiki dan sekitarnya, sejak 1994 KORINDO telah mendirikan Klinik Asiki. Pada perkembangannya, klinik ini terus dipercantik dan diperluas. Sekarang, bangunan klinik yang terletak di Distrik Jair ini memiliki luas 1.270 m2 yang berdiri gagah di atas lahan seluas 2.929 m2.
Bukan hanya luasnya saja, jenis dan kualitas layanannya juga terus ditingkatkan. Peserta BPJS Kesehatan sudah bisa difasilitasi. Pelayanan kesehatan yang disediakan juga terbilang lengkap, mulai dari dokter umum, unit gawat darurat, hingga ruang bersalin dan rawat bayi. Jangkauan pemeriksaan kesehatan juga turut diperluas dengan klinik keliling (mobile service) yang sudah hadir di 6 desa di sekitar Distrik Jair.



Bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia. Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh KORINDO kepada dunia ketika berbicara mengenai CSR di bidang ekonomi dan infrastruktur. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, KORINDO telah menyerap tidak kurang dari 10.000 tenaga kerja asal Papua. Kebijakan ini tentu akan membuat taraf hidup masyarakat meningkat, pengangguran berkurang, dan produktivitas penduduk kalangan usia produktif semakin optimal.
Kontribusi KORINDO bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga tidak bisa dipandang sebelah mata. KORINDO tercatat sebagai korporasi pembayar pajak terbesar bagi Kabupaten Merauke (30 persen dari total penerimaan pajak daerah) dan Boven Digul (50 persen). Lewat penerimaan pajak ini, pemerintah daerah bisa lebih leluasa dalam membangun daerahnya.



Di bidang infrastruktur, KORINDO menjadi salah satu perusahaan pertama yang mengembangkan jalan Trans Papua. Jalan lintas provinsi sepanjang lebih dari 4.300 kilometer yang dirintis pada masa pemerintahan Joko Widodo ini, terbentang luas melewati area perkebunan kelapa sawit milik KORINDO.
Baru-baru ini, KORINDO juga turut membangun Jembatan Kali Tortora yang berada di Desa Prabu-Asiki. Jembatan ini bukanlah jembatan biasa, sebab inilah satu-satunya prasarana yang menghubungkan antara Kampung Aiwat dan wilayah lainnya di Distrik Jair dan Subur. Konektivitas dan aktivitas ekonomi di antara wilayah tersebut sangat bergantung pada jembatan sepanjang 15 meter ini.
Semula, Jembatan Kali Tortora hanya beralaskan kayu. Karena dimakan usia, jembatan ini lambat laun mulai mengalami kerusakan. Khawatir semakin parah, PT Korindo Abadi, salah satu anak perusahaan KORINDO Group, segera membeton jembatan ini. Kini, warga Prabu-Asiki bisa bernapas lebih lega dan tersenyum ceria.



Terakhir, di bidang lingkungan, KORINDO membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) ramah lingkungan di Wapeko, Merauke. Semburan daya listrik yang dihasilkan mencapai 10 MW. Cukup untuk memasok listrik ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di daerah Salor.
Lantas, mengapa disebut ramah lingkungan? Karena di sekeliling area PLTBm seluas 7.200 Ha ini ditanami tumbuhan Jabon dan Ecalyptus. Nantinya, kedua jenis tumbuhan itu akan menjadi bahan baku untuk menghasilkan tenaga listrik yang ramah lingkungan. Ini sesuai dengan cita-cita kita bersama yang ingin memanfaatkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) secara lebih optimal.
Untuk mengetahui kilas balik program CSR yang dilakukan KORINDO sepanjang 2018, silakan tonton video di bawah ini.





Apa yang dilakukan oleh KORINDO seharusnya bisa membuka mata kita semua. Kesenjangan yang begitu kentara di antara daerah perbatasan dan pulau Jawa tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab, saudara kita di tepian sana memiliki hak yang sama untuk menikmati buah pembangunan bangsa. Jangan lagi ada yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan.
KORINDO juga membuktikan bahwa sinergi antara swasta, pemerintah, dan masyarakat lokal adalah kunci dalam membangun daerah tertinggal. Tidak perlu terburu-buru atau tergesa-gesa. Biarkan pembangunan mengalir secara alami tanpa dipaksa. Pelan-pelan saja, asalkan tetap berada pada jalur berkelanjutan dan berkesinambungan.



Sekarang, mari kita sedikit berandai-andai. Seumpama semua perusahaan eksplorasi sumber daya alam di Nusantara mencontoh KORINDO, maka kita patut optimis. Kesenjangan di tapal batas, cepat atau lambat, akan semakin terpapas. Sumber daya manusia Indonesia semakin unggul, merata, dan berkeadilan. Persis seperti butir kelima Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ya, inilah harapan kita bersama. Harapan para pendiri bangsa, pengisi kemerdekaan, hingga kita yang hidup pada zaman sekarang. Sebab kita ingin Indonesia yang dititipkan pada anak-cucu kita kelak, adalah Indonesia dengan “pekarangan rumah” terbaik di dunia, yang tidak kalah megah dengan “ruang tengahnya”. Itu saja.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam KORINDO Blog Competition yang diselenggarakan oleh KORINDO. Tautan artikel ini telah disebarkan melalui akun Instagram, Facebook, dan Linkedin pribadi milik penulis.
Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Seluruh sumber foto telah dicantumkan pada masing-masing gambar. Sedangkan video bersumber dari YouTube channel milik KORINDO Group.



BPS. 2019. Indeks Pembangunan Manusia menurut Provinsi, 2010-2018 (Metode Baru). [daring] (https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1211, diakses tanggal 10 Mei 2019).
Kementerian PPN/Bappenas. 2016. Laporan Akhir Koordinasi Strategis Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan Daerah Tertinggal untuk Mendukung PP No.78 Tahun 2014 dan Perpres No.131 Tahun 2015. Jakarta: Bappenas.
Korindo. 2018. KORINDO CSR Report 2017: Continuosly working for a better society. Jakarta: Korindo.
Korindo. 2018. KORINDO Papua Bangun Jembatan untuk Masyarakat Pedalaman. [daring] (https://www.korindo.co.id/korindo-papua-bangun-jembatan-untuk-masyarakat-pedalaman/?lang=id, diakses tanggal 9 Mei 2019).
Korindo. 2019. Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia. [daring] (https://korindonews.com/border-building-to-becomes-a-terrace-of-indonesia/?lang=id, diakses tanggal 9 Mei 2019).
Pemerintah Republik Indonesia. 2014. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2014 Tentang Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. 2015. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015—2019. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.



“Sudah sampai mana, Pap?” Begitu bunyi pesan singkat dari Nadia—istri saya—yang acap kali menghiasi notifikasi di ponsel saya ketika hendak pulang kerja.
Sebagai istri seorang karyawan kantoran, rasa khawatir kerap merasuki pikirannya pada jam pulang kantor. Apalagi jika tuntutan pekerjaan memaksa saya untuk pulang larut malam. Maka, sebuah pesan singkat adalah cara tercepat untuk memastikan keberadaan dan keselamatan saya.
Padahal, jarak antara kantor dan apartemen kami tidaklah seberapa. Hanya sekitar 15 menit saja. Pada saat macet pun, paling lama 25 menit, saya sudah tiba di griya. Akan tetapi, kekhawatiran seorang istri tetaplah tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia butuh jawaban segera dari suaminya.
Saya pun membalas pesannya singkat saja. “Tenang, Mih, aku sudah bersama GOJEK. Nih, aku kirim detail perjalanannya.”
***
Bagi pekerja seperti saya yang sehari-hari menggunakan moda transportasi umum, faktor keamanan haruslah nomor satu. Ketika rasa aman dalam genggaman, maka satu kekhawatiran akan sirna. Saya bisa lebih fokus menyelesaikan setumpuk tugas di kantor, tanpa takut pulang malam lantaran diminta lembur oleh Si Bos.
Tugas sebagai seorang analis ekonomi di ibukota terkadang memaksa saya untuk bekerja melebihi jam kerja biasa. Maklum, ketika indikator ekonomi terbaru sudah dirilis, maka setumpuk laporan segera menanti untuk dirampungkan. Deretan angka terkini menunggu untuk dimasak menjadi sebuah analisis. Kalau sudah begini, lembur pun tidak bisa terhindarkan.
Sebenarnya, saya baik-baik saja ketika harus pulang malam. Yah, namanya juga sedang mencari nafkah. Harus terima segala konsekuensinya, bukan? Yang penting halal dan setiap tanggal 25 masih gajian. Hehehe.
Namun demikian, Nadia kerap khawatir tatkala saya harus pulang malam. Meski saya sudah memberinya kabar akan pulang telat, ia tetap mengirim pesan setiap satu setengah jam. Alhasil, ponsel saya harus tetap hidup dan tidak boleh dimatikan.
Nah, rasa aman dan nyaman saat berangkat atau pulang kantor tadi, bisa kami temui di GOJEK. Pasalnya, GOJEK selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada para mitra dan pelanggannya, termasuk saya.
Apalagi, saat ini GOJEK telah memiliki rangkaian fitur keamanan yang membuat pelanggannya seketika langsung #UninstallKhawatir. Penasaran? Makanya jangan buru-buru pindah laman. Mari, saya perkenalkan.

Tombol Darurat


Fitur ini memang sengaja diciptakan GOJEK untuk meningkatkan rasa aman bagi para pelanggannya. Seperti namanya, tombol darurat digunakan pada saat kondisi atau situasi darurat, seperti kecelakaan atau adanya bencana alam yang mengganggu perjalanan kalian.
Ketika kalian menggunakan fitur Panggil Bantuan Darurat, maka Unit Darurat GOJEK yang selalu standby 24/7, akan menanyakan tentang detail kondisi darurat yang kalian alami. GOJEK juga seketika akan mengirimkan pihak keamanan langsung ke lokasi kalian. Aman, kan?
Kabar baiknya, fitur ini sudah tersedia di seluruh layanan GO-CAR di area Jabodetabek. Kalau GO-RIDE bagaimana? Sabar, jangan khawatir. Sebab GOJEK terus mengembangkan fitur ini dan nantinya akan bisa dinikmati oleh pelanggan GO-RIDE di seluruh Indonesia.
Meskipun begitu, saya berharap fitur canggih ini tidak terpakai untuk kalian, deh. Stay safe ya, Kawan!

Bagikan Perjalanan


Fitur ini seru, banget. Sumpah! Ketika istri, suami, atau siapa pun anggota keluarga di rumah yang menanyakan lokasi, maka fitur Bagikan Perjalanan menjadi jawaban yang paling tepat. Persis seperti jawaban saya kepada Nadia ketika ia menanyakan lokasi saya.
Dengan fitur ini, saya bisa membagikan lokasi saya sekarang kepada Nadia ketika berkendara bersama GOJEK. Yaitu dengan cara mengirimkan tautan melalui Whatsapp, LINE, SMS, DM Instagram, atau aplikasi bertukar pesan lainnya.
Nantinya, penerima pesan akan mendapat informasi yang lengkap mengenai perjalanan kalian. Mulai dari titik pick-up dan drop-off, data pengendara secara detail (nama, nomor dan jenis kendaraan, serta nomor pemesanan), hingga tentu saja, live location.
Perjalanan pun akan terasa lebih aman karena bisa dipantau oleh kerabat atau keluarga terdekat. Kabar baiknya, fitur ini sudah berlaku untuk layanan GO-RIDE dan GO-CAR di seluruh Indonesia. Asyik, kan?

Driver Jempolan


Bisa dibilang, para driver adalah representasi wajah GOJEK di mata pelanggannya. Oleh karena itu, tidak heran apabila GOJEK senantiasa membekali driver-nya dengan segudang pelatihan terbaik agar mampu memberikan pelayanan yang terbaik pula bagi para pelanggannya.
Nah, beberapa cara GOJEK untuk menjadikan mitranya sebagai Driver Jempolan adalah dengan menjalankan proses rekrutmen dan seleksi yang ketat. Selain itu, GOJEK juga memberikan modul pelatihan yang berisi cara merawat kendaraan, tata cara kerja aplikasi, kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas, dan kiat memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan.
Untuk melatih para driver, GOJEK tidaklah main-main. Secara berkala, driver akan diikutsertakan dalam sebuah program bernama Rifat Driver Labs (RDL GOJEK). Sesuai namanya, program ini diinisiasi oleh Duta Keselamatan Berkendara, Rifat Sungkar. Mantap, bukan?
Setiap bulan, RDL GOJEK diikuti oleh lebih dari 10 ribu driver, dan sudah berjalan selama lebih dari 4 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, sudah ada 300 ribu driver di 20 kota di Indonesia yang dilatih melalui program ini.
Setidaknya ada lima hal yang dipelajari driver selama mengikuti rangkaian RDL GOJEK, yakni ilmu tanggung jawab, kesabaran, dan empati, defensive riding, keselamatan berkendara, pre trip inspection, dan praktik berkendara.
GOJEK juga memberikan edukasi kepada driver-nya melalui sebuah program bernama #TrikNgetrip. Inti dari program edukasi ini adalah bagaimana para driver bisa memberikan pelayanan terbaik dan mengetahui tata cara berkendara yang benar selama di perjalanan.
Selain itu, ada pula program Bengkel Belajar Mitra yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Para profesional yang diajak kerja sama melalui program ini, akan memberi pembekalan kepada driver GOJEK dalam meningkatkan layanan dan mengasah pengetahuan di bidang lainnya.
Mungkin kalian pernah melihat driver yang mengenakan pin di jaket GOJEK-nya? Kalau iya, maka GOJEK menamai mereka dengan sebutan Driver Jempolan. Yakni driver yang diberi penghargaan atas pelayanannya yang prima dan kontribusi lebihnya di masyarakat. Tentu saja, ini adalah salah satu cara GOJEK untuk memotivasi para driver agar selalu memberikan pelayanan terbaik.

Asuransi GO-RIDE


Demi melindungi segenap pelanggannya, GOJEK juga bekerja sama dengan platform asuransi digital untuk menghadirkan perlindungan asuransi bagi pelanggan GO-RIDE. Ga perlu repot-repot, sebab fasilitas ini akan aktif secara otomatis, mulai saat penjemputan hingga tiba di tempat tujuan.
Yang lebih menarik, asuransi GO-RIDE juga sudah berlaku di seluruh area di Indonesia. Artinya, kalian yang tinggal di daerah juga berhak mendapat fasilitas asuransi yang sama dengan mereka yang tinggal di ibukota.
Lantas, risiko apa saja yang ditanggung oleh asuransi ini? Banyak. Di antaranya adalah risiko kecelakaan atau pencurian saat di perjalanan, maka perlindungan asuransi ini bisa langsung kita manfaatkan. Namun demikian, saya tetap mendoakan agar kalian tidak akan pernah mengajukan klaim, ya!

Saatnya #UninstallKhawatir Bersama GOJEK

Tak bisa dimungkiri, keamanan dan kenyamanan berkendara merupakan prioritas utama bagi siapa saja. Saya, Anda, dan kita semua pasti menginginkan rasa tenang selama berkendara. Bukan rasa was-was, resah, atau khawatir yang dapat membuat jantung berdegup kencang.
Deretan fitur keamanan yang dimiliki GOJEK, bisa membuat kita #UninstallKhawatir secara seketika. Maka, sudah saatnya kalian menjadikan GOJEK sebagai teman saat berpelesir. Baik saat berangkat kantor, hangout di mall, nongkrong di kedai kopi, atau ke mana pun tujuannya, pastikan GOJEK yang menjadi pilihannya.
Tapi ingat. Jangan lupa untuk selalu memperbarui (update) aplikasi GOJEK ke versi terbaru. Sebab fitur Tombol Darurat dan Bagikan Perjalanan hanya bisa kalian nikmati pada aplikasi GOJEK versi 3.24 ke atas.
Akhir kata, selamat berkendara bersama GOJEK, ya!
***



“Yorick, penyelam ulung, yang akan muncul ke permukaan setelah mutiara laut berada dalam genggaman.” ~ Yorick, halaman 290.
***
Kesuksesan hanya bisa diraih dengan kegigihan. Lagi-lagi, petuah klasik itu terbukti benar lewat untaian kata yang tersaji dalam Novel Yorick, anggitan Kirana Kejora.
Bukan sekadar teori, sebab lakon yang dituturkan dalam novel ini sejatinya diangkat dari kisah nyata. Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup Yorick, seorang lelaki asal Panjalu, yang akan membuat pembacanya kehabisan tisu lantaran derai air mata yang tak kunjung berlalu, meski telah menutup buku.
Pembaca akan diajak menyelam di lautan kepedihan yang tergurat rapi di setiap halaman. Cobaan demi cobaan telah menerpa Yorick sejak dini. Semenjak membuka mata, Yorick tidak mengenal sosok ayah dan ibu. Satu-satunya figur sentral yang memberinya kasih sayang, perhatian, dan tuntunan kehidupan adalah Nenek Encum, neneknya sendiri.
Tinggal berdua di gubuk derita nan sederhana, Yorick kecil diajarkan neneknya untuk selalu bersabar dan tidak mengeluh. Yorick mesti menerima guratan nasib bahwa neneknya bukanlah orang berada.
Saat kawan sebayanya bermain mobil-mobilan, Yorick berulang kali mesti menelan harapan. Tatkala murid-murid lainnya berseragam lengkap, Yorick harus mengenakan seragam lusuh tanpa kancing satu, dan sepatu bolong kebesaran lengkap dengan sumpalan kertas koran.
Yorick adalah ‘alien’ di kampung halamannya. Lantaran tampilan fisiknya yang berbeda, Yorick seringkali menerima cemoohan dan perundungan dari teman sekolahnya. Alhasil, Yorick kerap menghindar. Berlari melintasi hamparan sawah dan hutan adalah satu-satunya hiburan baginya. Kesendirian dan kesunyian terpaksa menjadi kawan sejatinya.
Didikan tegas Nenek Encum membuat Yorick mampu bertahan di tengah cobaan. Lisan Nenek Encum bak mutiara yang tidak pernah kehabisan kata-kata. Mengajari Yorick bersabar dengan sikap dan tingkah laku yang sederhana. Mendidik Yorick agar tidak pernah alpa mengaji dan selalu percaya dengan keadilan Sang Pemberi Rezeki.


Emosi pembaca diaduk-aduk, ketika kisah mesra di antara Yorick dan Nenek Encum tidak berlangsung lama. Yorick harus berpisah dengan Nenek Encum yang jatuh sakit dan harus mendapat perawatan di kota. Yorick pun terpaksa tinggal di rumah kerabat jauh sembari bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Bukannya lebih baik, Yorick kerap mendapat siksaan yang lebih memilukan dari para kerabatnya. Deretan perlakuan negatif harus rela diterimanya. Berulang kali pula Yorick harus mengelus dada. Alasannya hanya dua: patuh terhadap pesan neneknya dan melanjutkan sekolahnya.
Hingga pada satu titik, Yorick kecil tidak sanggup lagi menahan derita. Ia minggat dan memilih hidup luntang-lantung di jalan. Akan tetapi, justru kehidupan baru ini memberikannya segudang pelajaran kehidupan.
Meski keras dan penuh tempaan, ia bisa berkenalan dan belajar dari banyak orang. Kehidupan jalanan pula yang mempertemukannya dengan para sahabat sejati, yang setia menunggu walaupun dirinya sempat nyaris mati.
Api semangat Yorick untuk terus belajar tidak pernah padam meski serba kekurangan. Kecintaan dan kegigihannya belajar ilmu komputer membuat ia sanggup bertahan hidup secara mandiri. Ia percaya, hanya dengan ilmulah ia bisa menaklukan dunia.
Mengawali karier sebagai pekerja servis komputer serabutan, Yorick bertransformasi menjadi pemrogram IT andal. Keberaniannya dalam mengambil berbagai keputusan penting—meski terkadang tanpa disertai pertimbangan matang—menjadikannya seorang pebisnis jempolan.
Niatnya untuk menaklukan dunia tetap teguh sejak dulu. Yorick tidak pernah menyerah meski bisnisnya pernah merugi 320 ribu Dollar AS lantaran sistem yang dibuatnya untuk klien, sukses dibobol peretas. Ia tetap tabah, bertanggung jawab, dan gigih mencari akal agar bisnisnya tetap berjalan dan impiannya tidak pupus di tengah jalan.
Jiwa pemenang tercipta ketika bangkit dari ribuan kekalahan. Pesan inilah yang tersaji nyata pada novel ini, khususnya ketika pembaca telah merampungkan tiga per empat bagian buku.
Cerita kepedihan yang awalnya sangat pekat, lambat laun berubah menjadi rentetan kemenangan yang melegakan. Manisnya rasa ini kemudian berlangsung hingga titik terakhir kelar ditaja.

Menurut opini saya pribadi, ada lima alasan mengapa Yorick patut menambah deretan koleksi novel kalian. Silakan cermati infografis berikut ini.


Pertama, Yorick adalah novel yang dilematis sekaligus inspiratif. Kisahnya akan melekat erat di hati pembaca novel bergenre mellow, sekaligus menjadi pemantik api semangat bagi yang gemar mencari motivasi lewat sajian literasi.
Dalam novel ini, banyak momen yang akan menumpahkan air mata pembaca. Beberapa di antaranya adalah saat Yorick menjadi petugas upacara, perjuangan Yorick kecil menjadi asisten rumah tangga, kematian Jaung, hingga tentu saja, kepergian Sang Nenek tercinta.
Sebaliknya, pembaca juga akan terinspirasi dengan kisah sukses Yorick dalam menaklukan dunia. Misalnya, kesuksesan melanjutkan sekolah seorang diri, keberhasilan mendapatkan BMW E36 keluaran tahun 1993, hingga puncaknya, kemenangannya dalam menciptakan coding cryptocurrency untuk klien Rusia.
Alhasil, pembaca Yorick akan larut dalam lintasan emosi yang bertumpu pada dua fondasi rasa berbeda: kesedihan dan semangat. Untungnya, Kirana pintar dalam menyatukan keduanya.
Kedua, alur cerita yang bikin penasaran. Kirana dengan cerdas menggunakan alur flashback. Pembaca akan diseret maju-mundur di antara dua negara dan masa, yakni Saint Petersburg di Rusia untuk masa kini, serta Ciamis dan Bandung di Indonesia untuk masa lalu.
Sejak membuka halaman pertama, saya langsung enggan menutup buku lantaran selalu diusik dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Ringan, cepat, dan tidak basa-basi. Saya berani menjamin, pembaca akan sanggup menyelesaikan Yorick setebal 336 halaman dalam waktu singkat tanpa takut merasa tersiksa atau terbebani.
Ketiga, teknik pelataran yang apik. Pembaca akan menikmati keindahan Saint Petersburg yang tergambar jelas dalam deretan kata. Sebaliknya, pembaca pun akan bergidik tatkala membayangkan betapa kerasnya perempatan jalan di bilangan Bandung Utara. Setelah rampung membaca, saya berani bertaruh, pembaca juga pasti tertarik untuk mencari letak Panjalu lewat Google Map.
Dari sisi suasana, budaya Sunda sangat kental mewarnai novel ini. Banyak pepatah Sunda tempo dulu yang dihidupkan kembali oleh sosok Nenek Encum. Kebodoran (kejenakaan) dialog berbahasa Sunda antara Yorick dan kawan-kawannya, tidak jarang mengundang gelak tawa.
Namun demikian, bukan berarti novel ini tidak bisa dinikmati oleh pembaca non-Sunda. Tanpa terkesan menggurui, dengan cergas Kirana menuturkan makna dari setiap aksara berbahasa Sunda, langsung pada alinea selanjutnya.


Keempat, kaya kata-kata mutiara. Bagi pembaca yang suka mengumpulkan kata-kata mutiara, Yorick adalah salah satu novel yang patut dimiliki. Berbagai petuah Sunda khas lisan Nenek Encum bisa dijadikan rujukan sekaligus panutan untuk menumbuhkan motivasi di dalam diri.
Selain itu, Kirana juga membungkus Yorick dengan balutan kata-kata puitis. Umumnya ditampilkan sebagai pengantar pada awal bab. Tidak jarang, Kirana juga menampilkan kalimat puitis sebagai penarik kesimpulan pada akhir bab. Menurut saya, ini yang menjadikan cecap Yorick terasa begitu melekat di hati pembaca.
Kalau tidak percaya, simak kepandaian Kirana dalam menggambarkan sosok Nenek Encum lewat untaian kata-kata berikut.
“Atas nama cinta-Nya, utuh dan penuh memberi, ia setia ada, menyiapkan kedua bahunya untuk melindungi Yorick yang dianggap sebagian orang sebagai anak bungsunya.” ~ Yorick, halaman 105.
Terakhir, diangkat dari kisah nyata. Jujur saja, buku ini sebenarnya biografi yang dikemas dengan cara yang unik: novel. Sosok Yorick benar-benar ada di antara kita, seperti halnya Nevsky Prospekt yang bisa kita temui di dunia nyata. Fakta ini tentunya semakin menyentuh hati pembaca, sebab kisah yang ditera bukanlah fiksi belaka.
Pada bagian akhir novel, terdapat opini yang ditulis oleh enam orang terdekat Yorick. Mereka bercerita mengenai sosok Yorick dari kacamata mereka. Alhasil, pembaca pun jadi ingin tahu, siapa figur Yorick yang sebenarnya? Ketiadaan foto atau gambar Yorick di novel ini dipastikan akan membuat pembaca semakin penasaran.

Tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan Yorick. Meski kisahnya sungguh apik dan inspiratif, di mata saya, ada tiga kelemahan mendasar yang berpotensi membuat pembaca merasa tidak nyaman.


Pertama, penokohan peran pendukung yang terasa dangkal. Beberapa tokoh pendukung, yang menurut saya penting, hanya diulas sepintas lalu.
Pak Harna dan Bu Harna, misalnya. Tidak jelas, mengapa mereka begitu membenci dan tega menyiksa Yorick. Padahal, Yorick menjalani tugasnya sebagai asisten rumah tangga dengan baik. Meskipun kerap melakukan kesalahan kecil, tetap saja Yorick tidak pantas diganjar hukuman “diikat di pohon cemara”. Pasti ada penyebabnya.
Menurut saya, Pak Harna dan Bu Harna adalah figur yang cukup sentral. Sebab Yorick menghabiskan tiga tahun di kediaman keluarga Harna. Saya menduga, di rumah ini pula Yorick melewati masa akil balig. Pasalnya, Yorick berhasil melanjutkan studinya dari SD ke SMP sewaktu tinggal bersama keluarga Harna.
Akil balig adalah salah satu momen penting dalam tumbuh kembang anak. Apa yang dirasakannya pada saat itu, sudah pasti akan membentuk karakter dan kepribadiannya di masa depan.
Maka, interaksi Yorick dan keluarga Harna tidak bisa dipandang sebelah mata. Andai saja Kirana lebih gigih mengurai karakter keluarga Harna, pastilah pembaca akan mendapat kisah yang lebih utuh dan mendalam.
Contoh figur sentral lainnya yang ‘kurang’ mendapat perhatian lebih adalah Tia. Alasannya jelas, Tia pernah menjadi kekasih Yorick. Kisah cinta mereka tak berlanjut karena Tia memutuskan Yorick secara sepihak, lantas menikah dengan pria lain. Batin siapa pun yang berada di posisi Yorick, pasti terguncang.
Sayang, sosok Tia tidak digambarkan dengan lugas. Ia diperkenalkan Kirana sebagai seorang agamis dari keluarga sederhana. Itu saja. Padahal saya yakin, apabila digali lebih dalam, kisah cintanya dengan Yorick pastilah akan menjadi bumbu-bumbu drama, yang niscaya menjadikan novel ini lebih menarik.


Kedua, momen krusial yang terkesan datar. Ada dua momen krusial dalam novel ini yang diuraikan ala kadarnya. Pertama, pertemuan Yorick dengan kedua orangtua kandungnya. Dua kali Yorick dikisahkan bertemu dengan orangtuanya. Dua kali pula Kirana menuturkan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Pertemuan pertama dengan Papanya yang berlangsung di rumah Pak Jaya, hanya mendapat tempat satu setengah halaman (156—157)! Saya sengaja mengakhiri kalimat terakhir dengan tanda seru (!) lantaran benar-benar terkejut. Ini harusnya bisa menjadi momen klimaks di tengah perjalanan cerita. Bagaimana mungkin hanya satu setengah halaman?
Baiklah. Bagaimana dengan pertemuan kedua, yang kali ini dihadiri pula oleh Mama Yorick? Jawabannya, sama saja. Kirana menggambarkan momen kunci itu sebanyak dua halaman saja (177—178). Tidak lebih. Dan ini membuat saya benar-benar kecewa.
Tadinya saya berpikir, pertemuan Yorick dengan orangtuanya bisa menjelaskan asal-usul Yorick. Mengapa ia dititipkan pada Nenek Encum sejak berumur satu tahun? Apa alasan orangtua Yorick berpisah? Tapi sudahlah. Toh, kita tidak akan pernah menemukan jawabannya.
Kedua, kepergian Nenek Encum. Sang Nenek adalah cinta sejati Yorick. Berkat kasih sayang, tuntunan, dan nasihatnya, Yorick tumbuh menjadi pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Namun ketika sampai pada bab Kepergian Nenek, lagi-lagi saya kecewa.
Betapa tidak, kepergian orang nomor satu di hati Yorick itu hanya mendapat tempat 4 halaman saja (237—240). Bandingkan dengan bab terakhir yang mendapat tempat hingga 15 halaman, padahal ‘hanya’ berisi percakapan antara Yorick dan para sahabatnya. Jauh, Mba Kirana!
Alih-alih merasa sedih dan menderita, Yorick malah lebih terlihat terkejut dan menyesal ketika mendengar kematian Nenek Encum. Jujur saja, saya lebih merasa sedih ketika membaca Yorick memakan paha Jaung tanpa sengaja, dibandingkan dengan narasi kematian Nenek Encum. Sayang sekali.
Sebenarnya, tutur cerita yang tampil pada bagian-bagian awal novel terasa lebih menyentuh. Temponya lebih pelan dan kiasannya lebih dalam. Penggunaan alur maju-mundur (flashback) pun terasa sangat pas dan mengena.
Entah mengapa, saya merasa Kirana terburu-buru saat menyelesaikan paruh terakhir novel. Sehingga polesan pada dua momen krusial di atas terasa sangat kurang. Seperti baru menyelesaikan draft, kemudian langsung tayang tanpa dilakukan swasunting terlebih dahulu. Apakah karena diburu tenggat waktu?


Terakhir, kaidah berbahasa Indonesia yang masih kurang. Selain untuk Mba Kirana, kritik yang terakhir saya tujukan pula kepada Key Almira selaku editor.
Meski terlihat sederhana, kesalahan yang terjadi, menurut saya, adalah buah dari seringnya menyepelekan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Novel adalah salah satu media bagi pembaca untuk belajar bahasa Indonesia. Bila sampai ditiru dan dianggap benar, maka akibatnya sangatlah fatal.
Seharusnya, kesalahan ini bisa direduksi dengan rajin membaca KBBI. Terutama bagi editor yang tugasnya menyaring naskah hingga matang sebelum naik cetak. Oke. Supaya lebih jelas, izinkan saya mengurainya dalam bentuk poin-poin.

a.     Penggunaan kata yang keliru:
-    Menakhlukan (hlm. 2), seharusnya menaklukan. Sebab kata dasarnya bukan takhluk, melainkan takluk. Kesalahan yang sama juga terjadi pada kata turunannya seperti penakhluk (hlm. 196), dan menakhlukannya (hlm. 229).
-        Mesjid (hlm. 152), seharusnya masjid.
-    Dipungkiri (hlm. 178 & 286), seharusnya dimungkiri. Sebab kata dasarnya bukan pungkir, melainkan mungkir.
-    Aktifitas (hlm. 245 & 269), seharusnya aktivitas. Sebab aktivitas diserap dari kata berbahasa Inggris yaitu activity, bukan actifity.

b.     Kata yang seharusnya ditulis terpisah:
-        Dimana (hlm. 2, 236, dan 237), seharusnya di mana.
-        Diantaranya (hlm. 2), seharusnya di antaranya. Contoh yang benar ada di hlm. 6 & 95.
-        Kemana (hlm. 6), seharusnya ke mana.
-        Diaplikasi (hlm. 7), seharusnya di aplikasi.
-        Satu persatu (hlm. 72, 88, dan 125), seharusnya satu per satu.
-      Kapanpun (hlm. 91), seharusnya kapan pun. Partikel “pun” ditulis serangkai hanya pada 12 kata berikut: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun. Selain 12 kata tadi, partikel “pun” harus ditulis terpisah.

c.     Kata yang seharusnya ditulis serangkai:
-        Multi kultur (hlm. 7), seharusnya multikultur.
-        Para normal (hlm. 229), seharusnya paranormal.
-        Di undang (hlm. 268), seharusnya diundang.
-        Di jodoh-jodohkan (hlm. 270), seharusnya dijodoh-jodohkan.

d.     Kata yang tidak perlu dicetak miring:
-      Spontan (terjadi berulang kali, contohnya pada hlm. 14 & 16). Kata “spontan” tidak perlu dicetak miring karena merupakan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah atau asing.

e.     Kesalahan akhiran –kan pada kata yang diakhiri huruf /k/:
-        Memantikan (hlm. 3), seharusnya memantikkan.
-        Ditampakan (hlm. 53), seharusnya ditampakkan.
-        Menunjukan (hlm. 53), seharusnya menunjukkan.
-        Menundukan (hlm. 60), seharusnya menundukkan.
-        Menyejukan (hlm. 71), seharusnya menyejukkan.
-        Menaikan (hlm. 161), seharusnya menaikkan.
-        Menampakan (hlm. 178), seharusnya menampakkan.
-        Menaikan (hlm. 182 & 197), seharusnya menaikkan.
-        Memabukan (hlm. 229), seharusnya memabukkan.

f.      Salah tik (typo):
-        Speetboad (hlm. 17), seharusnya speedboat.
-        Setidakya (hlm. 29), seharusnya setidaknya.
-        Tersengal-senga (hlm. 117), seharusnya tersengal-sengal.
-        Menggganti (hlm. 267), seharusnya mengganti.

Mengingat cukup banyaknya kesalahan yang terjadi, maka saya menyarankan agar novel ini diedit kembali pada cetakan selanjutnya. Tujuannya ada dua, yaitu supaya lebih nyaman di mata dan tidak menyesatkan pembaca. Sayang sekali apabila substansi novel yang sungguh memikat, harus ternodai gara-gara kesalahan yang sangat sepele.
Akhir kata, semoga Mba Kirana dan Key Almira bisa menerima kritik membangun ini dengan lapang dada. Tiada maksud saya selain meningkatkan kualitas literasi di Negeri kita tercinta.

Ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari novel ini, yaitu sifat Yorick yang tegar bak karang di lautan. Semangat ini pantas ditiru oleh generasi milenial untuk meraih kesuksesan. Supaya bangsa ini bisa terus maju dan disegani dunia. Oleh karenanya, Yorick pantas dibaca oleh siapa saja yang memerlukan suntikan motivasi.
Akhir kata, saya menilai Yorick pantas diganjar nilai 7 dari skala 10. Mengapa tidak 8 saja? Alasannya sederhana. Apabila kesalahan berbahasa Indonesia diperbaiki pada cetakan selanjutnya, jangankan 8, nilai 9 pun akan saya beri! Selamat membaca!


***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog Review Yorick yang diselenggarakan oleh Novel Yorick.