Manusia pada dasarnya ialah makhluk kinestesis. Kita harus terus bergerak bila ingin maju dan berkembang. Dalam konteks yang lebih luas, kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada mobilitas penduduknya. Oleh karenanya, pembangunan infrastruktur transportasi menjadi kunci pemerataan pembangunan bangsa.
***
Indonesia adalah negara besar. Sangat besar malah. Tidak ada satu pun negara di dunia yang punya lebih dari 17 ribu pulau, selain Indonesia. Di satu sisi, kebesaran itu patut kita syukuri. Beragam kekayaan alam terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Rote hingga Miangas. Menjadi sumber rezeki bagi siapa pun anak bangsa yang berdiri di atasnya.
Koes Plus, grup musik kenamaan pada era 70-an, bahkan menyebut tanah kita adalah tanah surga. Sebegitu suburnya sampai-sampai tongkat kayu dan batu bila ditanam pasti tumbuh jadi tanaman. Saya yakin kita semua pasti hafal liriknya. Tak bisa dinafikan, tembang Kolam Susu ialah sekelumit bukti bahwa negeri kita memang dianugerahi kekayaan alam yang melimpah oleh Tuhan Yang Mahakuasa.
Namun pada sisi lain, situasi itu juga menjadi tantangan bagi pemerataan pembangunan bangsa. Sebab kita tahu, sejak era penjajahan dahulu ekonomi Nusantara terpusat pada tanah Jawa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terkini menyatakan pangsa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pulau Jawa sekitar 60 persen dari nasional. Artinya, lebih dari setengah ekonomi Tanah Air ditopang oleh pulau Jawa.
Untuk mengalirkan capaian ekonomi dari pulau Jawa hingga ke seluruh daerah di Nusantara, mau tidak mau dibutuhkan interaksi antarpelaku ekonomi. Hanya saja, menjalin konektivitas antardaerah, antarpulau, antarkota bahkan antarkecamatan, tidak semudah membalik telapak tangan.
Membangun gedung sekolah di pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, misalnya. Dibutuhkan semen, kayu, genting, dan rupa-rupa bahan bangunan lainnya. Sementara kita tahu, di Miangas—pulau paling utara di Indonesia dan berbatasan langsung dengan Filipina itu—tidak ada industri bahan bangunan.
Maklum saja, jumlah penduduk pulau Miangas hanya sekitar 678 jiwa. Sehari-hari, mayoritas warga yang mendiami pulau berukuran 3,15 km2 itu mengais rezeki sebagai nelayan. Jangan tanya soal bahan bangunan. Mereka hanya tahu kapan laut surut dan bilamana laut pasang. Oleh karena itu, material pembangunan gedung sekolah wajib didatangkan dari daerah lain.
Nah, untuk mendatangkan bahan bangunan ke Miangas, dibutuhkan infrastruktur dan moda transportasi yang memadai. Jika tidak, anak-anak Miangas tidak bisa bersekolah dengan baik, sebaik mereka yang berada di pulau Jawa. Akibatnya, pembangunan di sana tidak akan maju dan semakin jauh tertinggal.


Untung saja, Pemerintah tidak tinggal diam. Pada 12 Maret 2017, bandara Miangas resmi beroperasi setelah lima tahun dibangun. Dengan nilai proyek sekitar Rp275 miliar, bandara ini menjadi tumpuan sekaligus sumber pemerataan pembangunan di Miangas.
Selain aliran barang yang lebih lancar, pembangunan bandara anyar membuka sumber ekonomi baru bagi warga Miangas. Belum lama ini, satu-dua rumah makan lokal dikabarkan mulai beroperasi, menjajakan ikan bakar bumbu rica bagi pelancong yang berani menjejakkan kaki ke daerah perbatasan. Hasil laut yang semula dijual mentah, kini diolah dan diberi nilai tambah. Artinya, kapasitas ekonomi warga Miangas perlahan mulai meningkat.
Ya, beroperasinya bandara Miangas membuka sumber ekonomi baru bagi warganya. Dari semula menangkap ikan, kini menjamu kedatangan wisatawan. Dari hanya menjual barang, sekarang mulai menawarkan beragam jasa unggulan.
Proses pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan akibat interaksi antara kaum pendatang/pelancong dan warga lokal juga semakin intens. Dengan begitu, pembangunan manusia dan pemerataan pembangunan di Miangas akan berlangsung semakin cepat.
Ke depan, tentu kita berharap warga Miangas bisa mendulang potensi yang lebih besar lagi. Pembangunan akomodasi dan kawasan wisata, misalnya. Tidak perlu langsung hotel bintang lima, cukup dimulai dari penginapan sederhana saja. Sebab siapa pun yang pernah ke Miangas pasti setuju, pantai pasir putih di sana lebih indah dan asri ketimbang pantai Pandawa di Bali.


Kalau tidak percaya, silakan kalian tengok foto-foto di atas. Itu adalah salah satu pantai di Kepulauan Talaud, yaitu Pantai Sara Besar. Pasirnya putih, seputih tepung. Keasriannya masih terjaga sebab pulau berukuran 2,4 km2 ini tidak berpenghuni. Penerbangan ke Miangas, selain menambah daftar tujuan berlibur bagi para pejalan, juga menghidupkan potensi sektor pariwisata bagi warga lokal.



Pembangunan bandara Miangas adalah salah satu contoh keseriusan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dalam menata sektor transportasi selama lima tahun terakhir. Arah pembangunannya jelas: paradigma Jawa sentris harus diubah menjadi Indonesia sentris. Itu semua demi mengatasi ketimpangan di daerah.
Selama lima tahun terakhir, Pemerintah telah membangun banyak infrastruktur transportasi di daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan). Dilansir dari laman resmi Kemenhub, pembangunan tersebut berupa penyediaan sarana dan prasarana di 18 rute tol laut.
Selain itu, ada pula 891 trayek angkutan perintis (angkutan jalan, kereta api, laut, dan udara), serta pembangunan dan pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan, dan terisolir. Untuk meningkatkan konektivitas logistik, 39 titik Jembatan Udara juga dibangun di wilayah Indonesia bagian timur.


Asal tahu saja, laju pembangunan infrastruktur transportasi 2014—2019 adalah yang tercepat sejak Indonesia merdeka. Kalau mau dikalkulasi, pembangunan bandara Miangas ataupun infrastruktur transportasi di sejumlah terpencil lainnya bukan semata-mata diukur dari untung-ruginya saja. Di antara sekian banyak investasi transportasi, boleh jadi ada yang belum atau tidak akan pernah balik modal.
Akan tetapi, lebih dari sekadar balik modal, pembangunan infrastruktur transportasi adalah wujud nyata pemerintah dalam memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Simpul-simpul akses di daerah harus dibuka.
Warga di daerah terpencil tidak boleh lagi merasa kesulitan mendapat pasokan barang gara-gara ketiadaan sarana transportasi memadai. Itulah esensi pembangunan transportasi yang sebenarnya. Jika tidak dimulai, peningkatan kapasitas ekonomi dan pemerataan pembangunan hanyalah tinggal wacana.


Selain itu, pembangunan infrastruktur transportasi juga ditujukan untuk mengejar ketertinggalan. Sebagai contoh pembangunan Mass Rapid Transportation, atau yang sudah diberi padanan menjadi Moda Raya Terpadu (MRT), di Jakarta. Setelah sekian lama direncanakan, akhirnya pada 10 Oktober 2015 pembangunan sarana transportasi massal ini dimulai juga.
Pepatah bilang, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Benar saja. Tidak sampai lima tahun, sejak 24 Maret 2019 warga Jakarta bisa menikmati kemudahan bertransportasi lewat MRT. Dari bundaran Hotel Indonesia hingga bilangan Lebak Bulus dapat ditempuh dalam waktu 30 menit saja!
Tak pelak, beroperasinya MRT membuka harapan tinggi bagi warga ibukota dan sekitarnya. Terutama bagi mereka yang bekerja kawasan perkantoran. Selama ini, jalan raya di Jakarta memang terkenal dengan kemacetannya. Saya yang bekerja dan tinggal di Jakarta, harus menyisihkan banyak waktu bila tidak ingin terlambat masuk kerja.


Dengan menggunakan MRT, waktu perjalanan akan terpangkas. Selain itu, ongkosnya juga lebih murah. Untuk rute terjauhnya saja, Hotel Indonesia—Lebak Bulus, kita cukup menyediakan uang di kartu uang elektronik sebesar Rp14 ribu. Lantaran pembayarannya menggunakan uang elektronik, tidak ada lagi risiko membawa uang tunai seperti kehilangan uang, tidak ada kembalian, ataupun uang palsu. Sekali tap langsung melaju.
O ya, bagi saya pribadi, naik MRT itu lebih sehat. Paling tidak, kita jadi terbiasa jalan kaki dan naik-turun tangga di stasiun. Potensi stres di perjalanan juga menghilang. Sebab tidak ada lagi kemacetan, seperti biasa saya rasakan ketika mengendarai mobil atau sepeda motor.



Pada tataran yang lebih luas, MRT akan mengurangi kemacetan di Jakarta. Warga diberi pilihan moda transportasi yang lebih cepat dan hemat. Alhasil, penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan akan semakin berkurang. Itu berarti, polusi udara akibat asap kendaraan bermotor juga semakin menurun.
Dalam konteks ekonomi, MRT akan mengurangi kerugian akibat kemacetan. Asal tahu saja, kajian Bappenas pada 2017 menyebut dampak kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp67 triliun per tahun. Sebagian besar berupa penggunaan BBM yang sia-sia ketika kendaraan kita terjebak macet. Singkat kata, dengan menggunakan MRT, bujet bensin kita pun akan semakin berkurang.


Manfaat yang sama juga dirasakan oleh warga Palembang sejak Lintas Rel Terpadu (LRT) dioperasikan sejak 1 Agustus 2018 yang lalu. Ke depan, mobilitas dan konektivitas warga antardaerah juga akan semakin cepat seiring dengan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta—Bandung, LRT Jabodebek, dan kereta semi-cepat Jakarta—Surabaya.
Lantas, apa dampaknya bagi pemerataan pembangunan? Tentu saja ada. Ketika ongkos transportasi lebih murah, kita bisa menyimpan uang lebih banyak. Nah, kelebihan uang itu bisa kita belanjakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Membeli obligasi negara, sedekah, menyantuni anak yatim, dan sebagainya.
Kalau kalian hobi traveling, tabungan tadi bisa juga untuk liburan ke Miangas atau daerah wisata lainnya di Indonesia. Semakin banyak warga yang berwisata ke pelosok daerah, semakin laju geliat ekonomi di sana. Artinya, semakin cepat juga proses pemerataan pembangunan di daerah. Benar, kan?



Pembangunan transportasi yang gencar dilakukan Pemerintah selama lima tahun terakhir, tentu tidak akan sukses dan lestari tanpa peran serta warganya. Sebagai warga negara yang baik, tugas kita ialah menjaga dan mendukung segala upaya pembangunan. Oleh karena itu, ada tiga hal yang wajib kita lakukan.

1.      Membayar Pajak Tepat Waktu
Dana pembangunan infrastruktur transportasi sebagian besar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Data Kominfo memaparkan bahwa sepanjang 2015—2019, anggaran infrastruktur kita mencapai Rp5.519 triliun.


Dalam lima tahun ke depan, kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur akan lebih tinggi lagi, yaitu mencapai sekitar Rp6.455 triliun. Untuk mendukung rencana tersebut, kita harus membayar pajak tepat waktu. Dengan begitu, ketertinggalan infrastruktur di daerah akan semakin cepat dikejar.

2.     Menjaga Sarana dan Prasarana Transportasi
Ketika menggunakan sarana atau moda transportasi, entah itu kereta api, busway, ataupun kapal laut, seyogianya kita memperlakukannya sebagaimana milik kita sendiri. Stasiun, pelabuhan, dan bandara pun harus kita jaga. Jangan mengotori, mencoret-coret, apalagi merusaknya. Supaya awet dan lestari.
Jika tidak, Pemerintah terpaksa harus mengeluarkan anggaran perbaikan untuk memperbaiki kerusakan sarana transportasi. Mubazir, kan? Lebih baik dananya digunakan untuk membangun bandara, pelabuhan, jembatan, atau trotoar ramah difabel.

3.     Menaati Tata Tertib
Sering tersiar kabar perilaku iseng oknum penumpang yang latah mengatakan “bom” di pesawat atau bandara. Perilaku ini sangat merugikan penumpang lainnya karena penerbangan terpaksa ditunda. Bayangkan apabila penumpang itu adalah warga yang ingin berobat, menikah, menghadiri rapat yang tak bisa ditunda, atau perkara penting lainnya. Tentu nasibnya akan sengsara.


Oleh karena itu, sebagai pengguna moda transportasi yang baik, kita harus senantiasa menaati tata tertib yang berlaku. Ingatlah selalu bahwa tata tertib ada untuk menjaga keamanan dan kenyamanan kita selama menggunakan moda transportasi. Hormatilah hak pengguna sarana transportasi lainnya selama perjalanan.
Dengan melakukan ketiga hal di atas, artinya kita sudah turut serta mendukung pembangunan transportasi yang dilakukan Pemerintah. Ingat, tanpa dukungan kita semua, pembangunan transportasi yang sudah susah-payah dilaksanakan akan berakhir sia-sia.
Akhir kata, semoga dengan mengetahui peran pembangunan transportasi bagi pembangunan bangsa, kita bisa lebih bijak dalam menggunakan moda transportasi. Selamat berjalan-jalan! [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Kemenhub bertema “Transportasi Unggul, Indonesia Maju”. Seluruh sumber gambar yang ditampilkan dalam artikel ini telah dicantumkan pada masing-masing gambar. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.



Upaya membangun bangsa harus sejalan dengan perkembangan zaman. Di tengah euforia transaksi daring, zakat digital menjadi instrumen yang paling tepat untuk mengentaskan kemiskinan. Infrastrukturnya sudah siap. Hanya saja, kesadaran umat masih perlu ditingkatkan.
***
Kemiskinan masih menjadi momok kita bersama. Per Maret 2019, BPS menyebut rasio penduduk miskin Indonesia berada di angka 9,41 persen. Itu artinya, sekira 25,14 juta saudara kita masih dilanda kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.
Di satu sisi, sajian data di atas patut kita syukuri. Dibanding rilis sebelumnya, rasio penduduk miskin Indonesia turun 0,25 persen. Dengan kata lain, sekitar 0,53 juta jiwa penduduk yang tercatat miskin pada September 2018, berhasil keluar dari jerat kemiskinan.
Namun pada sisi lain, kita tidak boleh berpuas diri. Sebab di kawasan Asia Tenggara, rasio penduduk miskin kita lebih buruk dibanding Thailand (7,20 persen) dan Malaysia (3,80 persen). Juga Singapura dan Brunei Darusalam yang nihil kemiskinan berkat keberhasilan program subsidi kepada warga berpenghasilan rendah.
Jika ditilik lebih dalam, sumber kemiskinan kita sebenarnya berasal dari perdesaan. Sekitar 60,26 persen (15,15 juta jiwa) penduduk miskin bermukim di desa. Maka dari itu, mengentaskan kemiskinan di desa harus menjadi prioritas dalam upaya membangun bangsa.
Banyak cara untuk memangkas kemiskinan di desa, salah satunya dengan zakat. Berbekal lebih dari 85 persen (263 juta jiwa) penduduk beragama Islam, potensi zakat di Indonesia sangatlah besar. Sebab menunaikan zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat.


Semangat umat muslim Indonesia dalam berzakat sejatinya cukup tinggi. Sajian data milik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), medio 2002—2017, menyebut dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang berhasil dikumpulkan telah mencapai Rp6,2 triliun. Laju pertumbuhannya pun cukup tinggi, yakni mencapai 38,02 persen dalam setahun.
Tingginya gairah berzakat di Indonesia seakan mengafirmasi laporan Charities Aid Foundation (CAF) yang baru saja dirilis pada Oktober 2018 kemarin. Lembaga donasi internasional asal Inggris itu menempatkan Indonesia pada peringkat teratas World Giving Index untuk pertama kalinya dalam sejarah. Artinya, budaya memberi kita paling kental dibandingkan dengan 145 negara lainnya di dunia.


Hanya saja, kita masih perlu menjawab satu pertanyaan. Kalau semangat berzakat begitu tinggi, mengapa kemiskinan masih melanda negeri ini? Bukankah zakat yang terkumpul dari para muzakki sudah optimal? Jawabannya: belum tentu. Sekarang, ayo kita hitung!
Di antara syarat wajib zakat ialah: muslim, dewasa, dan mencapai nisab (batas kepemilikan harta tertentu). Dari ketiga syarat ini, kita bisa memperkirakan berapa jumlah zakat ideal.
Dari sajian pembuka, kita tahu bahwa jumlah penduduk non-miskin Indonesia mencapai 242 juta jiwa. Namun ingat, tidak semua penduduk berusia dewasa. Maka dari itu, kalikan jumlah penduduk non-miskin dengan rasio penduduk dewasa (sekitar 63 persen). Niscaya kita bertemu angka 152 juta jiwa. Itulah jumlah penduduk dewasa non-miskin Indonesia.
Kemudian, anggaplah 85 persen-nya memeluk agama Islam. Dari sana, kita bisa memperkirakan jumlah penduduk muslim dewasa yang mencapai nisab, yaitu sekitar 129 juta jiwa. Terakhir, kalikan dengan pendapatan per kapita (Rp56 juta per tahun, BPS) dan 2,5 persen (rasio zakat penghasilan minimum).
Hasilnya pasti membuat kita tercengang: Rp181,44 triliun! Itulah jumlah zakat ideal kita dalam setahun. Nyaris tiga kali lipat anggaran Kementerian Agama (Kemenag) pada 2019 (Rp65,2 triliun).
Bila dibandingkan dengan realisasi ZIS milik Baznas (Rp6,2 triliun), rasionya baru mencapai 3,42 persen. Singkat kata, masih jauh panggang dari api. Ingat, zakat itu perkara wajib. Kita belum memperhitungkan potensi donasi sunah seperti sedekah, infak, atau wakaf. Kalau realisasi zakat saja sebegitu rendahnya, pantaslah dera kemiskinan tidak kunjung terselesaikan.

Digitalisasi Zakat

Cara terbaik menarik minat muzakki dalam berzakat ialah dengan mengikuti perkembangan zaman. Pada era kekinian, seruan berzakat seharusnya dilantangkan dan dilakukan melalui gawai digital. Untuk mempersingkat diksi, bolehlah kita sebut dengan istilah zakat digital.


Faktanya, transaksi daring memang semakin digemari masyarakat. Pada Juli 2019, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp12,9 triliun, atau meningkat 285 persen dalam setahun.
Pertumbuhan volume transaksinya bahkan jauh lebih mencengangkan. Sekira 476 juta transaksi berhasil dibukukan pada periode yang sama—naik lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Alhasil, pangsa uang elektronik pada transaksi pasar daring (e-commerce) kini menyentuh angka 23,5 persen.
Situasi ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia. Untuk menunaikan zakat, muzakki tidak perlu lagi keluar rumah. Cukup bermodal ponsel pintar, zakat bisa segera ditunaikan. Apalagi, survei Hootsuite pada 2019 menyebut 60 persen penduduk Indonesia telah menggunakan ponsel pintar.


Untuk menggambarkan betapa mudahnya berzakat digital, izinkan saya berbagi secuil pengalaman. Sebagai seorang pekerja kantoran, saya diberkahi gaji bulanan yang ditransfer ke rekening setiap tanggal 25. Oleh karenanya, jenis zakat yang wajib saya tunaikan adalah zakat penghasilan.
Setiap tanggal gajian, saya menggunakan fasilitas mobile banking dari ponsel untuk menunaikan zakat. Di sana sudah tersedia menu transaksi berzakat, lengkap dengan daftar BAZ/LAZ yang terdaftar di Kemenag.
Biayanya pun sangat murah. Setiap transaksi dibebani ongkos Rp1.500 saja. Saya tidak perlu keluar rumah untuk singgah di ATM lagi. Cepat, mudah, dan praktis.


Lagi pula, kini zakat tidak hanya bisa ditunaikan melalui mobile banking atau ATM saja. Sudah banyak masjid atau payment point yang menerima donasi uang elektronik berbasis Quick Response Code (QR Code). Cukup buka aplikasi pembayaran digital macam GO-PAY atau OVO, pindai (scan) QR Code-nya, masukkan jumlahnya; transaksi rampung dalam hitungan detik.
Apalagi, Bank Indonesia telah merilis aturan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) alias standar nasional QR Code Pembayaran pada Agustus 2019 kemarin. Mulai 1 Januari 2020 nanti, satu QR Code bisa dipindai dari semua aplikasi pembayaran.
QR Code terbitan GO-PAY, misalnya, bisa dipindai dari aplikasi milik LinkAja, DANA, atau OVO. Alhasil, kita tidak perlu lagi membuka banyak-banyak akun dompet digital. Cukup satu akun untuk semua transaksi QR Code. Pada tataran pragmatis, kondisi ini memudahkan para muzakki menunaikan zakatnya secara nontunai.



Tiga Upaya

Infrastruktur untuk menerima pembayaran zakat digital sudah tersedia. Namun, BAZ/LAZ tidak boleh terlena dan berdiam diri saja. Untuk memperluas basis muzakki dan meningkatkan perolehan zakat, setidaknya ada tiga hal yang harus diupayakan.
Pertama, kesungguhan berdakwah. Rendahnya realisasi zakat di Indonesia boleh jadi lantaran sebagian umat muslim belum paham mengenai kewajiban berzakat. Atau, bisa juga karena tidak paham bagaimana cara menghitung zakat dan ke mana zakat harus disalurkan.
Apa pun alasannya, yang pasti, sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk saling mengingatkan. Apalagi, zakat adalah kewajiban yang sering disandingkan dengan perintah salat di dalam Alquran.


Maka dari itu, diperlukan sinergi semua pihak. Pemerintah melalui Kemenag harus bahu-membahu dengan BAZ dan LAZ agar seruan berzakat semakin nyaring terdengar. Jangan mau kalah dari promosi cashback atau giveaway perusahaan rintisan yang gencar tersiar di media sosial. BAZ/LAZ juga sepatutnya menggunakan media digital untuk menarik minat berzakat dari kalangan milenial.
Kedua, keterbukaan profil mustahiq. Beberapa tahun ke belakang, penggalangan dana melalui situs donasi digital kian mendapat tempat di hati masyarakat. Berbekal “promosi” lewat media sosial, donatur berbondong-bondong memberi sumbangan. Tidak sedikit warga yang berhasil lepas dari kesulitan.
Kalau mau ditilik lebih dalam, kunci kesuksesan donasi daring terletak pada satu hal: prinsip keterbukaan. Setiap donatur mengetahui dengan pasti profil penerima donasi. Setiap penyumbang memahami latar belakang kesulitan yang dialami penerima sumbangan. Untuk membangkitkan gairah berzakat, prinsip ini seharusnya bisa diadopsi oleh BAZ/LAZ di Indonesia.


Kalau boleh jujur, tidak banyak BAZ/LAZ yang memberikan laporan penyaluran zakat kepada para muzakki. Andaipun ada, muzakki harus meminta langsung atau menelusurinya lewat situs milik BAZ/LAZ.
Paradigma ini seharusnya diubah. Caranya, jadikan media sosial sebagai tempat berbagi kisah penyaluran dana zakat. Tak bisa dimungkiri, masih banyak muzakki yang punya idealisme “tidak percaya kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri”.
Terakhir, inovasi pengelolaan dana zakat. Distribusi zakat yang benar dan tepat sasaran menjadi kunci keberhasilan ikhtiar menumpas kemiskinan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pokok, zakat harus disalurkan pula untuk kegiatan produktif. Secara syariat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan hal ini lewat fatwa yang dikeluarkan pada 2 Februari 1982.
Zakat produktif yang disalurkan juga harus mengikuti perkembangan zaman. Jikalau pengumpulan zakat dari para muzakki saja telah on-line, maka BAZ/LAZ pun harus membina para mustahiq agar melek teknologi. Supaya usaha yang dibentuk dari zakat bisa bernilai tambah, laku di pasaran, dan tidak ketinggalan zaman. Ingat, untuk menembus pasar milenial, maka mustahiq haruslah bermental digital.
Demi menuntaskan kemiskinan di desa, saya menyarankan agar BAZ/LAZ membentuk Kampung Digital. Caranya, dana zakat disalurkan dalam bentuk skema modal usaha yang sesuai dengan karakteristik desa. Misalnya industri batik di Pekalongan, pariwisata di Bali, kuliner di Yogyakarta, atau peternakan sapi di Malang.
Produk/jasa dari usaha yang dikembangkan selanjutnya dipasarkan dengan menggunakan media digital. Bukan lagi dengan cara-cara konvensional atau jadul. Melalui dana zakat, pemuda desa juga diberikan pelatihan teknologi digital seperti teknik fotografi, olah gambar, desain grafis, video kreatif, hingga pembuatan website. Mereka akan menjadi corong promosi Kampung Digital di desanya.
Sebagai contoh, pemasaran Sate Buntel (produk kuliner) di Desa Pucangsawit, Solo. Promosi dilakukan lewat Instagram dengan kualitas foto sekelas bidikan fotografer profesional. Ulasannya ditulis di blog, dan reportasenya ditayangkan di YouTube. Menarik, bukan?


Kampung Digital bukan hanya sebuah konsep untuk memberdayakan warga desa. Lebih dari itu, pembentukan Kampung Digital lewat zakat merupakan jalan keluar warga desa dari jerat kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi.
Ingat, bukankah Nabi Muhammad SAW pernah memberi kapak kepada seorang sahabat untuk mencari rezekinya sendiri? Pada era milenial, kapak itu kini telah berubah bentuk menjadi gawai digital.
Andai ketiga upaya tadi dilakukan BAZ/LAZ, bolehlah kita optimis pada masa depan pengelolaan zakat di Indonesia. Pada akhirnya, ketepatan pengumpulan dan penyaluran zakat menjadi kunci sukses pengentasan kemiskinan dan pembangunan bangsa. Dengan demikian, status mustahiq akan berubah menjadi muzakki dalam tempo yang secepat-cepatnya. Semoga. [Adhi]
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Festival Literasi Zakat & Wakaf 2019. Foto dan gambar yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi, Envato, dan sumber lainnya. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.
Referensi:
[1] BPS (2019), Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2019.
[2] BPS (2019), Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia Maret 2019.
[3] Index Mundi (2019), Population below poverty line - Country Comparison.
[4] Charities Aid Foundation (2018), World Giving Index 2018.
[5] Baznas (2018), Statistik Zakat Nasional 2017.
[6] Hootsuite (2019), Digital in 2019 in Indonesia.
[7] Bank Indonesia (2019), Jumlah Transaksi Uang Elektronik Beredar.
[8] Bank Indonesia (2019), PADG No.21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional QR Code untuk Pembayaran.
[9] Adhi Nugroho (Penulis, 2018), Merintis Kampung Digital Lewat Kearifan Zakat.


Mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi sekarang menjadi ladang pendapatan baru yang menarik. Internet dan manusia seakan tak bisa dipisahkan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak bisa melepaskan diri dari dunia maya.
Dalam semua bidang kehidupan, seperti mencari hiburan, berita, menonton TV, sampai hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan koneksi ke internet. Internet berhasil sedikit banyak berhasil merevolusi bagaimana cara pandang manusia tentang kehidupan, termasuk dalam hal mencari uang.

ID Webhost Affiliate Marketing

Internet memberikan banyak peluang-peluang bisnis baru dengan janji bebas sekat-sekat wilayah. Bayangkan, sekarang kamu bisa bekerja di rumah, sementara rekan kerjamu berada jauh di luar negeri sana. Salah satu peluang bisnis yang sedang berkembang di internet adalah menjadi affiliate marketer.
Artikel ini akan membahas seluk beluk dunia program afiliasi karena IDwebhost juga mempunyai program afiliasi yang menjanjikan.

Apa itu program afiliasi?

Pertanyaan ini mungkin banyak menghantui pikiran kebanyakan orang awam tentang program afiliasi. Apakah program afiliasi itu termasuk MLM? Apakah program afiliasi itu scam?
Program afiliasi atau kemitraan adalah salah satu teknik dalam dunia pemasaran dimana penjual bekerjasama dengan pemasar melalui saluran pemasaran yang dimiliki oleh pemasar tersebut, bisa website, blog, sampai sosial media.
Misalnya, kamu adalah seorang blogger teknologi, lalu kamu mengikuti program afiliasi dari salah satu web hosting provider. Karena mengikuti program tersebut, kamu bisa memasang banner dari penyedia hosting tersebut.
Nantinya apabila ada pengunjung blogmu membeli produk dari penyedia hosting tersebut, kamu akan mendapatkan komisi. Menarik bukan?
Ada beberapa tips dan trik yang bisa kamu aplikasikan apabila kamu ingin memulai peruntungan mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi.  Apa saja itu? Ini dia:

Persiapan Mengikuti Program Afiliasi

Mengikuti Program Affiliate Marketing

       Menentukan Bisnis Model
Ada dua model bisnis yang menjadi pilihan bagi affiliate marketer. Tipe pertama adalah situs sumber daya, dan yang kedua adalah situs review. Perbedaannya terletak pada bagaimana cara kerja keduanya.
Situs sumber daya, atau resources, biasanya akan meletakkan situs dari penjual berupa banner di situs atau website pemasar, biasanya pada artikel. Tipe ini mengharuskan pemasar untuk terus memperbarui kontennya agar pengunjung selalu tertuju ke situs penjual setiap mengklik tautan tersebut.
Sedangkan situs review atau ulasan, biasanya akan melakukan ulasan pada produk atau layanan yang pernah digunakan oleh pemasar. Pemasar akan meletakkan tautan pada ulasan tersebut.

       Membuat Website
Program afiliasi adalah salah satu bisnis di dunia digital marketing. Untuk kamu memerlukan sebuah platform, yang ideal dalam hal ini adalah sebuah website.
Dengan memiliki website, kamu bisa membuat posting-an berupa link dan kamu bisa mengiklankannya kepada pengunjung website-mu. Jika memiliki website, kamu bisa menghasilkan penghasilan tambahan dengan menjadi affiliate marketer.

       Memilih Niche
Siapa pun yang memutuskan terjun di dunia internet marketing wajib memilih satu niche atau spesialisasi yang akan mereka jalankan. Sebelum mulai memasarkan produk atau layanan dari penjual, sebaiknya kamu memilih bidang yang kamu kuasai.
Jangan sekali-sekali kamu mencoba tema yang tidak kami kuasai dengan baik. Karena nanti akan berpengaruh pada kualitas kontenmu.

       Memilih Produk atau Layanan
Setelah menentukan niche atau tema yang menjadi pilihanmu, sekarang saatnya kamu memilih produk atau layanan yang akan kamu promosikan di website-mu. Produk atau layanan yang kamu promosikan haruslah sejalan dengan niche yang kamu pilih.
Kalau kamu menyukai konten digital, kamu bisa mempromosikan produk seperti e-books atau software. Beberapa perusahaan yang mungkin kamu bisa jajaki antara lain Amazon, IDwebhost, dan sebagainya.
Kalau kamu adalah tipikal pemasar yang menyukai platform seperti Google Adsense, cobalah menjajal jenis pay per click atau PPC. PPC adalah bentuk termudah dibanding jenis pemasaran lainnya.
Keuntungannya adalah kamu tak perlu melakukan usaha yang lebih untuk melakukan pemasaran. Kamu cukup berusaha menaikkan traffic ke website-mu karena PPC menghitung berapa jumlah pengunjung yang mengeklik pada situs tertarget.

       Bergabung Dengan Program Affiliate Marketing
Karena tujuanmu adalah mencari uang di internet dengan program afiliasi, maka langkah penting yang harus kamu lakukan adalah bergabung dengan sebuah program afiliasi. Untuk itu, kamu harus membangun lebih dulu reputasimu, contohnya dengan membangun website dengan pengunjung yang besar.
Afiliasi akan membantumu dalam meningkatkan kemampuan dan juga meningkatkan traffic di website-mu. Dengan reputasi yang bagus, kamu akan lebih mudah bertemu dan bekerja sama dengan para affiliate lainnya.
Untuk bisa berhubungan dengan para affiliate, kamu bisa melakukan beberapa cara seperti: mengirimi email kepada blogger atau pemasar online lainnya, dan mengajak mereka untuk saling memasarkan produk kalian.
Kamu bisa mencarinya dengan bergabung pada program afiliasi yang sudah eksis, seperti bergabung dengan program afiliasi IDwebhost, dan membangun jaringan yang saling menguntungkan di sana.

       Mendorong Traffic ke Program Afiliasi Milikmu
Setelah membangun reputasi yang bagus berupa website yang ramai oleh pengunjung, kamu harus mengarahkan lalu lintas pengunjung ke program affiliasi milikmu. Untuk mendapatkan pengunjung, kamu bisa menggunakan beberapa strategi.
Namun, cara yang umum untuk dilakukan adalah dengan mengirimi email secara berkala kepada pengunjung website-mu, dan mengundang mereka untuk bergabung dengan program afiliasi yang kamu pilih.

Mengembangkan Bisnis Program Afiliasi

Sekarang saatnya kamu mengembangkan program afiliasi yang kamu jalankan. Tanpa dikembangkan lebih lanjut, kamu tidak akan mendapat hasil yang memuaskan dari bisnis program afiliasi. Nah, beberapa cara yang bisa kamu lakukan antara lain:

       Belajar dari Affiliate Lain
Salah satu cara cepat dan mudah untuk meningkatkan skill di bidang program afiliasi adalah bergabung dengan grup komunitas affiliate yang banyak tersebar di internet. Kamu bisa mendapatkan banyak ilmu baru dari para marketer yang sudah ahli di bidang program afiliasi.

Program Afiliasi ID Webhost


       Membangun Relasi yang Baik
Untuk bisa berhasil mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi, diperlukan kerja keras dan kesabaran. Affiliate marketing bukan hanya bagaimana mengarahkan pengunjung untuk mengunjungi website-mu, tetapi juga menjalin relasi jangka panjang dengan sesama pelaku program afiliasi.
Sebagai seorang pemasar yang baik, kamu harus bisa melanjutkan hubungan baik dengan pelaku program afiliasi lainnya.

       Menarik Pengunjung Tertarget
Untuk mendapatkan uang dari program afiliasi, kamu tak cukup hanya fokus pada besarnya jumlah pengunjung di website-mu. Untuk bisa mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi, kamu juga harus memastikan bahwa mereka mengeklik link affiliasi mu. Beberapa cara yang bisa kamu lakukan antara lain adalah:

       Paid Advertising
Cara ini membutuhkan kombinasi dari teknik copywriting, grafis yang bagus, dan tautan yang menarik. Paid advertising akan membantu kamu mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi, terlepas pengunjung membeli produk atau tidak. Contoh dari paid advertising ini adalah Google Adsense.

       Free Advertising
Metode ini adalah menempatkan link iklan di platform bebas, seperti Craigslist. Kamu akan mendapatkan penghasilan dari jumlah klik yang kamu dapat.

       Article Marketing
Cara ini bekerja dengan menjadikan artikel yang dipublish di website-mu merupakan artikel yang berkualitas. Dengan konten yang original dan bagus, website-mu akan memiliki ranking yang tinggi di mesin pencari, sehingga berpotensi meningkatkan traffic ke website-mu.

       Email Marketing
Dengan metode ini, kamu selaku pemasar akan memberikan opsi berlangganan email kepada pengunjung website-mu. Hal ini memungkinkanmu mengetahui nama dan alamat email pengunjung situsmu, dan juga berguna untuk membangun hubungan yang panjang antara kamu dan pengunjungmu.

       Utamakan Kualitas
Memiliki jaringan afiliasi yang luas tak serta merta akan memudahkanmu mendapatkan penghasilan dari program afiliasi secara cepat. Ingatlah, untuk berhasil dalam mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi membutuhkan kerja keras dan kesabaran.
Para ahli berpendapat, kunci sukses dari program afiliasi adalah menemukan afiliasi yang tepat dan mendorong peningkatan pengunjung platform Anda. Namun dari itu semua, kualitas konten menjadi kunci bila kamu ingin mendapatkan penghasilan dari program afiliasi.
Itulah tadi beragam tips dan cara untuk kamu yang ingin mengetahui apa itu affiliate marketing dan bagaimana cara mendapatkan uang di internet dengan program afiliasi.
IDwebhost memiliki program afiliasi untuk kamu. Banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan bergabung program afiliasi IDwebhost. Tunggu apa lagi? Segera daftar di sini!

***