“Yorick, penyelam ulung, yang akan muncul ke permukaan setelah mutiara laut berada dalam genggaman.” ~ Yorick, halaman 290.
***
Kesuksesan hanya bisa diraih dengan kegigihan. Lagi-lagi, petuah klasik itu terbukti benar lewat untaian kata yang tersaji dalam Novel Yorick, anggitan Kirana Kejora.
Bukan sekadar teori, sebab lakon yang dituturkan dalam novel ini sejatinya diangkat dari kisah nyata. Cerita tentang kerasnya perjuangan hidup Yorick, seorang lelaki asal Panjalu, yang akan membuat pembacanya kehabisan tisu lantaran derai air mata yang tak kunjung berlalu, meski telah menutup buku.
Pembaca akan diajak menyelam di lautan kepedihan yang tergurat rapi di setiap halaman. Cobaan demi cobaan telah menerpa Yorick sejak dini. Semenjak membuka mata, Yorick tidak mengenal sosok ayah dan ibu. Satu-satunya figur sentral yang memberinya kasih sayang, perhatian, dan tuntunan kehidupan adalah Nenek Encum, neneknya sendiri.
Tinggal berdua di gubuk derita nan sederhana, Yorick kecil diajarkan neneknya untuk selalu bersabar dan tidak mengeluh. Yorick mesti menerima guratan nasib bahwa neneknya bukanlah orang berada.
Saat kawan sebayanya bermain mobil-mobilan, Yorick berulang kali mesti menelan harapan. Tatkala murid-murid lainnya berseragam lengkap, Yorick harus mengenakan seragam lusuh tanpa kancing satu, dan sepatu bolong kebesaran lengkap dengan sumpalan kertas koran.
Yorick adalah ‘alien’ di kampung halamannya. Lantaran tampilan fisiknya yang berbeda, Yorick seringkali menerima cemoohan dan perundungan dari teman sekolahnya. Alhasil, Yorick kerap menghindar. Berlari melintasi hamparan sawah dan hutan adalah satu-satunya hiburan baginya. Kesendirian dan kesunyian terpaksa menjadi kawan sejatinya.
Didikan tegas Nenek Encum membuat Yorick mampu bertahan di tengah cobaan. Lisan Nenek Encum bak mutiara yang tidak pernah kehabisan kata-kata. Mengajari Yorick bersabar dengan sikap dan tingkah laku yang sederhana. Mendidik Yorick agar tidak pernah alpa mengaji dan selalu percaya dengan keadilan Sang Pemberi Rezeki.


Emosi pembaca diaduk-aduk, ketika kisah mesra di antara Yorick dan Nenek Encum tidak berlangsung lama. Yorick harus berpisah dengan Nenek Encum yang jatuh sakit dan harus mendapat perawatan di kota. Yorick pun terpaksa tinggal di rumah kerabat jauh sembari bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Bukannya lebih baik, Yorick kerap mendapat siksaan yang lebih memilukan dari para kerabatnya. Deretan perlakuan negatif harus rela diterimanya. Berulang kali pula Yorick harus mengelus dada. Alasannya hanya dua: patuh terhadap pesan neneknya dan melanjutkan sekolahnya.
Hingga pada satu titik, Yorick kecil tidak sanggup lagi menahan derita. Ia minggat dan memilih hidup luntang-lantung di jalan. Akan tetapi, justru kehidupan baru ini memberikannya segudang pelajaran kehidupan.
Meski keras dan penuh tempaan, ia bisa berkenalan dan belajar dari banyak orang. Kehidupan jalanan pula yang mempertemukannya dengan para sahabat sejati, yang setia menunggu walaupun dirinya sempat nyaris mati.
Api semangat Yorick untuk terus belajar tidak pernah padam meski serba kekurangan. Kecintaan dan kegigihannya belajar ilmu komputer membuat ia sanggup bertahan hidup secara mandiri. Ia percaya, hanya dengan ilmulah ia bisa menaklukan dunia.
Mengawali karier sebagai pekerja servis komputer serabutan, Yorick bertransformasi menjadi pemrogram IT andal. Keberaniannya dalam mengambil berbagai keputusan penting—meski terkadang tanpa disertai pertimbangan matang—menjadikannya seorang pebisnis jempolan.
Niatnya untuk menaklukan dunia tetap teguh sejak dulu. Yorick tidak pernah menyerah meski bisnisnya pernah merugi 320 ribu Dollar AS lantaran sistem yang dibuatnya untuk klien, sukses dibobol peretas. Ia tetap tabah, bertanggung jawab, dan gigih mencari akal agar bisnisnya tetap berjalan dan impiannya tidak pupus di tengah jalan.
Jiwa pemenang tercipta ketika bangkit dari ribuan kekalahan. Pesan inilah yang tersaji nyata pada novel ini, khususnya ketika pembaca telah merampungkan tiga per empat bagian buku.
Cerita kepedihan yang awalnya sangat pekat, lambat laun berubah menjadi rentetan kemenangan yang melegakan. Manisnya rasa ini kemudian berlangsung hingga titik terakhir kelar ditaja.

Menurut opini saya pribadi, ada lima alasan mengapa Yorick patut menambah deretan koleksi novel kalian. Silakan cermati infografis berikut ini.


Pertama, Yorick adalah novel yang dilematis sekaligus inspiratif. Kisahnya akan melekat erat di hati pembaca novel bergenre mellow, sekaligus menjadi pemantik api semangat bagi yang gemar mencari motivasi lewat sajian literasi.
Dalam novel ini, banyak momen yang akan menumpahkan air mata pembaca. Beberapa di antaranya adalah saat Yorick menjadi petugas upacara, perjuangan Yorick kecil menjadi asisten rumah tangga, kematian Jaung, hingga tentu saja, kepergian Sang Nenek tercinta.
Sebaliknya, pembaca juga akan terinspirasi dengan kisah sukses Yorick dalam menaklukan dunia. Misalnya, kesuksesan melanjutkan sekolah seorang diri, keberhasilan mendapatkan BMW E36 keluaran tahun 1993, hingga puncaknya, kemenangannya dalam menciptakan coding cryptocurrency untuk klien Rusia.
Alhasil, pembaca Yorick akan larut dalam lintasan emosi yang bertumpu pada dua fondasi rasa berbeda: kesedihan dan semangat. Untungnya, Kirana pintar dalam menyatukan keduanya.
Kedua, alur cerita yang bikin penasaran. Kirana dengan cerdas menggunakan alur flashback. Pembaca akan diseret maju-mundur di antara dua negara dan masa, yakni Saint Petersburg di Rusia untuk masa kini, serta Ciamis dan Bandung di Indonesia untuk masa lalu.
Sejak membuka halaman pertama, saya langsung enggan menutup buku lantaran selalu diusik dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Ringan, cepat, dan tidak basa-basi. Saya berani menjamin, pembaca akan sanggup menyelesaikan Yorick setebal 336 halaman dalam waktu singkat tanpa takut merasa tersiksa atau terbebani.
Ketiga, teknik pelataran yang apik. Pembaca akan menikmati keindahan Saint Petersburg yang tergambar jelas dalam deretan kata. Sebaliknya, pembaca pun akan bergidik tatkala membayangkan betapa kerasnya perempatan jalan di bilangan Bandung Utara. Setelah rampung membaca, saya berani bertaruh, pembaca juga pasti tertarik untuk mencari letak Panjalu lewat Google Map.
Dari sisi suasana, budaya Sunda sangat kental mewarnai novel ini. Banyak pepatah Sunda tempo dulu yang dihidupkan kembali oleh sosok Nenek Encum. Kebodoran (kejenakaan) dialog berbahasa Sunda antara Yorick dan kawan-kawannya, tidak jarang mengundang gelak tawa.
Namun demikian, bukan berarti novel ini tidak bisa dinikmati oleh pembaca non-Sunda. Tanpa terkesan menggurui, dengan cergas Kirana menuturkan makna dari setiap aksara berbahasa Sunda, langsung pada alinea selanjutnya.


Keempat, kaya kata-kata mutiara. Bagi pembaca yang suka mengumpulkan kata-kata mutiara, Yorick adalah salah satu novel yang patut dimiliki. Berbagai petuah Sunda khas lisan Nenek Encum bisa dijadikan rujukan sekaligus panutan untuk menumbuhkan motivasi di dalam diri.
Selain itu, Kirana juga membungkus Yorick dengan balutan kata-kata puitis. Umumnya ditampilkan sebagai pengantar pada awal bab. Tidak jarang, Kirana juga menampilkan kalimat puitis sebagai penarik kesimpulan pada akhir bab. Menurut saya, ini yang menjadikan cecap Yorick terasa begitu melekat di hati pembaca.
Kalau tidak percaya, simak kepandaian Kirana dalam menggambarkan sosok Nenek Encum lewat untaian kata-kata berikut.
“Atas nama cinta-Nya, utuh dan penuh memberi, ia setia ada, menyiapkan kedua bahunya untuk melindungi Yorick yang dianggap sebagian orang sebagai anak bungsunya.” ~ Yorick, halaman 105.
Terakhir, diangkat dari kisah nyata. Jujur saja, buku ini sebenarnya biografi yang dikemas dengan cara yang unik: novel. Sosok Yorick benar-benar ada di antara kita, seperti halnya Nevsky Prospekt yang bisa kita temui di dunia nyata. Fakta ini tentunya semakin menyentuh hati pembaca, sebab kisah yang ditera bukanlah fiksi belaka.
Pada bagian akhir novel, terdapat opini yang ditulis oleh enam orang terdekat Yorick. Mereka bercerita mengenai sosok Yorick dari kacamata mereka. Alhasil, pembaca pun jadi ingin tahu, siapa figur Yorick yang sebenarnya? Ketiadaan foto atau gambar Yorick di novel ini dipastikan akan membuat pembaca semakin penasaran.

Tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan Yorick. Meski kisahnya sungguh apik dan inspiratif, di mata saya, ada tiga kelemahan mendasar yang berpotensi membuat pembaca merasa tidak nyaman.


Pertama, penokohan peran pendukung yang terasa dangkal. Beberapa tokoh pendukung, yang menurut saya penting, hanya diulas sepintas lalu.
Pak Harna dan Bu Harna, misalnya. Tidak jelas, mengapa mereka begitu membenci dan tega menyiksa Yorick. Padahal, Yorick menjalani tugasnya sebagai asisten rumah tangga dengan baik. Meskipun kerap melakukan kesalahan kecil, tetap saja Yorick tidak pantas diganjar hukuman “diikat di pohon cemara”. Pasti ada penyebabnya.
Menurut saya, Pak Harna dan Bu Harna adalah figur yang cukup sentral. Sebab Yorick menghabiskan tiga tahun di kediaman keluarga Harna. Saya menduga, di rumah ini pula Yorick melewati masa akil balig. Pasalnya, Yorick berhasil melanjutkan studinya dari SD ke SMP sewaktu tinggal bersama keluarga Harna.
Akil balig adalah salah satu momen penting dalam tumbuh kembang anak. Apa yang dirasakannya pada saat itu, sudah pasti akan membentuk karakter dan kepribadiannya di masa depan.
Maka, interaksi Yorick dan keluarga Harna tidak bisa dipandang sebelah mata. Andai saja Kirana lebih gigih mengurai karakter keluarga Harna, pastilah pembaca akan mendapat kisah yang lebih utuh dan mendalam.
Contoh figur sentral lainnya yang ‘kurang’ mendapat perhatian lebih adalah Tia. Alasannya jelas, Tia pernah menjadi kekasih Yorick. Kisah cinta mereka tak berlanjut karena Tia memutuskan Yorick secara sepihak, lantas menikah dengan pria lain. Batin siapa pun yang berada di posisi Yorick, pasti terguncang.
Sayang, sosok Tia tidak digambarkan dengan lugas. Ia diperkenalkan Kirana sebagai seorang agamis dari keluarga sederhana. Itu saja. Padahal saya yakin, apabila digali lebih dalam, kisah cintanya dengan Yorick pastilah akan menjadi bumbu-bumbu drama, yang niscaya menjadikan novel ini lebih menarik.


Kedua, momen krusial yang terkesan datar. Ada dua momen krusial dalam novel ini yang diuraikan ala kadarnya. Pertama, pertemuan Yorick dengan kedua orangtua kandungnya. Dua kali Yorick dikisahkan bertemu dengan orangtuanya. Dua kali pula Kirana menuturkan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Pertemuan pertama dengan Papanya yang berlangsung di rumah Pak Jaya, hanya mendapat tempat satu setengah halaman (156—157)! Saya sengaja mengakhiri kalimat terakhir dengan tanda seru (!) lantaran benar-benar terkejut. Ini harusnya bisa menjadi momen klimaks di tengah perjalanan cerita. Bagaimana mungkin hanya satu setengah halaman?
Baiklah. Bagaimana dengan pertemuan kedua, yang kali ini dihadiri pula oleh Mama Yorick? Jawabannya, sama saja. Kirana menggambarkan momen kunci itu sebanyak dua halaman saja (177—178). Tidak lebih. Dan ini membuat saya benar-benar kecewa.
Tadinya saya berpikir, pertemuan Yorick dengan orangtuanya bisa menjelaskan asal-usul Yorick. Mengapa ia dititipkan pada Nenek Encum sejak berumur satu tahun? Apa alasan orangtua Yorick berpisah? Tapi sudahlah. Toh, kita tidak akan pernah menemukan jawabannya.
Kedua, kepergian Nenek Encum. Sang Nenek adalah cinta sejati Yorick. Berkat kasih sayang, tuntunan, dan nasihatnya, Yorick tumbuh menjadi pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Namun ketika sampai pada bab Kepergian Nenek, lagi-lagi saya kecewa.
Betapa tidak, kepergian orang nomor satu di hati Yorick itu hanya mendapat tempat 4 halaman saja (237—240). Bandingkan dengan bab terakhir yang mendapat tempat hingga 15 halaman, padahal ‘hanya’ berisi percakapan antara Yorick dan para sahabatnya. Jauh, Mba Kirana!
Alih-alih merasa sedih dan menderita, Yorick malah lebih terlihat terkejut dan menyesal ketika mendengar kematian Nenek Encum. Jujur saja, saya lebih merasa sedih ketika membaca Yorick memakan paha Jaung tanpa sengaja, dibandingkan dengan narasi kematian Nenek Encum. Sayang sekali.
Sebenarnya, tutur cerita yang tampil pada bagian-bagian awal novel terasa lebih menyentuh. Temponya lebih pelan dan kiasannya lebih dalam. Penggunaan alur maju-mundur (flashback) pun terasa sangat pas dan mengena.
Entah mengapa, saya merasa Kirana terburu-buru saat menyelesaikan paruh terakhir novel. Sehingga polesan pada dua momen krusial di atas terasa sangat kurang. Seperti baru menyelesaikan draft, kemudian langsung tayang tanpa dilakukan swasunting terlebih dahulu. Apakah karena diburu tenggat waktu?


Terakhir, kaidah berbahasa Indonesia yang masih kurang. Selain untuk Mba Kirana, kritik yang terakhir saya tujukan pula kepada Key Almira selaku editor.
Meski terlihat sederhana, kesalahan yang terjadi, menurut saya, adalah buah dari seringnya menyepelekan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Novel adalah salah satu media bagi pembaca untuk belajar bahasa Indonesia. Bila sampai ditiru dan dianggap benar, maka akibatnya sangatlah fatal.
Seharusnya, kesalahan ini bisa direduksi dengan rajin membaca KBBI. Terutama bagi editor yang tugasnya menyaring naskah hingga matang sebelum naik cetak. Oke. Supaya lebih jelas, izinkan saya mengurainya dalam bentuk poin-poin.

a.     Penggunaan kata yang keliru:
-    Menakhlukan (hlm. 2), seharusnya menaklukan. Sebab kata dasarnya bukan takhluk, melainkan takluk. Kesalahan yang sama juga terjadi pada kata turunannya seperti penakhluk (hlm. 196), dan menakhlukannya (hlm. 229).
-        Mesjid (hlm. 152), seharusnya masjid.
-    Dipungkiri (hlm. 178 & 286), seharusnya dimungkiri. Sebab kata dasarnya bukan pungkir, melainkan mungkir.
-    Aktifitas (hlm. 245 & 269), seharusnya aktivitas. Sebab aktivitas diserap dari kata berbahasa Inggris yaitu activity, bukan actifity.

b.     Kata yang seharusnya ditulis terpisah:
-        Dimana (hlm. 2, 236, dan 237), seharusnya di mana.
-        Diantaranya (hlm. 2), seharusnya di antaranya. Contoh yang benar ada di hlm. 6 & 95.
-        Kemana (hlm. 6), seharusnya ke mana.
-        Diaplikasi (hlm. 7), seharusnya di aplikasi.
-        Satu persatu (hlm. 72, 88, dan 125), seharusnya satu per satu.
-      Kapanpun (hlm. 91), seharusnya kapan pun. Partikel “pun” ditulis serangkai hanya pada 12 kata berikut: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun. Selain 12 kata tadi, partikel “pun” harus ditulis terpisah.

c.     Kata yang seharusnya ditulis serangkai:
-        Multi kultur (hlm. 7), seharusnya multikultur.
-        Para normal (hlm. 229), seharusnya paranormal.
-        Di undang (hlm. 268), seharusnya diundang.
-        Di jodoh-jodohkan (hlm. 270), seharusnya dijodoh-jodohkan.

d.     Kata yang tidak perlu dicetak miring:
-      Spontan (terjadi berulang kali, contohnya pada hlm. 14 & 16). Kata “spontan” tidak perlu dicetak miring karena merupakan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah atau asing.

e.     Kesalahan akhiran –kan pada kata yang diakhiri huruf /k/:
-        Memantikan (hlm. 3), seharusnya memantikkan.
-        Ditampakan (hlm. 53), seharusnya ditampakkan.
-        Menunjukan (hlm. 53), seharusnya menunjukkan.
-        Menundukan (hlm. 60), seharusnya menundukkan.
-        Menyejukan (hlm. 71), seharusnya menyejukkan.
-        Menaikan (hlm. 161), seharusnya menaikkan.
-        Menampakan (hlm. 178), seharusnya menampakkan.
-        Menaikan (hlm. 182 & 197), seharusnya menaikkan.
-        Memabukan (hlm. 229), seharusnya memabukkan.

f.      Salah tik (typo):
-        Speetboad (hlm. 17), seharusnya speedboat.
-        Setidakya (hlm. 29), seharusnya setidaknya.
-        Tersengal-senga (hlm. 117), seharusnya tersengal-sengal.
-        Menggganti (hlm. 267), seharusnya mengganti.

Mengingat cukup banyaknya kesalahan yang terjadi, maka saya menyarankan agar novel ini diedit kembali pada cetakan selanjutnya. Tujuannya ada dua, yaitu supaya lebih nyaman di mata dan tidak menyesatkan pembaca. Sayang sekali apabila substansi novel yang sungguh memikat, harus ternodai gara-gara kesalahan yang sangat sepele.
Akhir kata, semoga Mba Kirana dan Key Almira bisa menerima kritik membangun ini dengan lapang dada. Tiada maksud saya selain meningkatkan kualitas literasi di Negeri kita tercinta.

Ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari novel ini, yaitu sifat Yorick yang tegar bak karang di lautan. Semangat ini pantas ditiru oleh generasi milenial untuk meraih kesuksesan. Supaya bangsa ini bisa terus maju dan disegani dunia. Oleh karenanya, Yorick pantas dibaca oleh siapa saja yang memerlukan suntikan motivasi.
Akhir kata, saya menilai Yorick pantas diganjar nilai 7 dari skala 10. Mengapa tidak 8 saja? Alasannya sederhana. Apabila kesalahan berbahasa Indonesia diperbaiki pada cetakan selanjutnya, jangankan 8, nilai 9 pun akan saya beri! Selamat membaca!


***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog Review Yorick yang diselenggarakan oleh Novel Yorick.



“Akhir pekan mau ke mana?”
Bagi pegawai kantoran seperti saya, pertanyaan di atas layaknya playlist musik yang kerap diputar sebagai pengantar tidur. Meski didengar berulang-ulang, saya tetap bingung ketika ditanya harus memilih yang mana.
Bukan karena kehabisan daftar lokasi untuk bertamasya. Bukan sama sekali. Justru karena begitu banyaknya wahana, saya jadi bingung tatkala harus memilih salah satu di antaranya.
Apalagi, hiburan di mal—tempat favorit warga kota menghabiskan akhir pekannya—cenderung begitu-begitu saja. Kalau bukan makan atau nonton bioskop, pastilah berbelanja. Ujung-ujungnya, karena galau memilih yang mana, tanpa sadar saya melewatkan akhir pekan di rumah saja.
Saya pun menamakan kondisi ini dengan istilah “weekend dilemma”. Bosan di rumah, tetapi mager keluar lantaran tiada lokasi hiburan yang bisa memuaskan. Kalau kalian bagaimana? Pernah mengalami hal serupa?
***
Tak bisa dimungkiri, keberadaan mal di kota besar memang menjadi daya tarik tersendiri bagi warganya saban akhir pekan. Pasalnya, kita bisa memenuhi segala kebutuhan di mal.
Mau belanja oke, makan bisa, nonton apalagi. Tidak hanya itu, kita juga bisa membeli segala kebutuhan rumah tangga di mal. Maka, istilah one stop shopping center yang kerap melekat di mal pun bukanlah sekadar isapan jempol.
Hanya saja, bila terus-menerus berkunjung ke mal setiap akhir pekan, lambat laun kita menjadi bosan. Bukan karena ketidaklengkapan wahana yang ada di sana. Akan tetapi, lebih disebabkan oleh keseragaman daya tarik yang ada di mal. Singkatnya, semua mal cenderung sama saja.
Kalau tidak percaya, sekarang saya tanya. Apa yang menjadi alasan kalian datang ke mal? Kalau saya, sederhana. Ketika ada film baru—yang sayang bila dilewatkan—tampil di sinema, barulah saya datang ke mal. Benar, tidak?
Maka, hal tadi membuktikan argumen saya. Menonton film sebenarnya adalah alasan utamanya. Bukan berkunjung ke mal dan menikmati setiap jengkal suasana di sana.
Sekarang saya tanya lagi, apakah kalian tetap mau berkunjung ke mal yang tidak memiliki bioskop? Pasti enggan, bukan?
Nah, inilah yang acapkali membuat kita mengalami “weekend dilemma”. Ingin menikmati hiburan yang berbeda di luar rumah, tetapi malah enggan lantaran atraksi yang tersedia di mal hanya itu-itu saja.
Padahal, selain sebagai tempat berbelanja, mal seharusnya berperan sebagai tempat hiburan yang “serba bisa”. Mal seyogianya berfungsi sebagai tempat berlibur singkat untuk mengisi kembali tenaga yang hilang setelah lelah bekerja sepanjang pekan.
Mal juga tempat di mana anak-anak bisa belajar, bermain, dan bercanda dengan rekan-rekan sebaya. Mal pun mestinya menjadi wahana anak muda untuk bersosialisasi dan mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan positif. Inilah beberapa fungsi mal yang dewasa ini jarang kita temui.
Lantas, apa faktor yang membuat mal menarik? Dikutip dari onbrand.co.uk, ada lima alasan mengapa seseorang betah menghabiskan waktunya di mal. Silakan simak infografis di bawah ini.


Pertama, lokasi. Mal yang dekat dengan lokasi permukiman memiliki daya pikat yang lebih tinggi. Apalagi ketika mal berada di lokasi yang sangat strategis. Pengunjung pun akan semakin dimudahkan lantaran tidak perlu membuang banyak waktu di jalan.
Kedua, tempat bersosialisasi. Dewasa ini, mal kerap difungsikan sebagai meeting point. Baik untuk kepentingan bisnis, pekerjaan, atau sekadar bersosialisasi dengan teman-teman. Mal yang memiliki meeting spot oke sudah tentu lebih digemari pengunjung. Ukurannya apa? Mudah, saja. Keberagaman dan kenyamanan lokasi meeting point adalah hal yang paling utama.
Ketiga, kenyamanan fasilitas pendukung. Tempat parkir yang sumpek atau musala yang tidak memadai adalah dua di antara banyak alasan mengapa seseorang enggan datang ke mal. Meski hanya bersifat pendukung, hal ini tetap saja tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab kenyamanan pengunjung sejatinya harus menempati proritas pertama, apa pun alasannya.
Keempat, keragaman retailers. Retailers atau toko bagaikan wajah dari sebuah mal. Tanpanya, tidak akan ada mal. Maka, keberagaman retailers akan menarik minat seseorang untuk datang ke mal. Semakin beragam, semakin baik. Dengan demikian, pengunjung akan menjadi “raja” dengan segudang pilihan retailers yang bisa disinggahinya.
Terakhir, adanya loyalty program. Biasanya, mal yang menawarkan diskon besar-besaran akan menjadi incaran banyak pengunjung. Tentu saja, program diskon adalah salah satu di antara banyak jenis loyalty program. Contoh lain adalah bazaar atau event yang bersifat tematik. Ketika bulan Ramadan, misalnya. Bazaar baju Lebaran akan menjadi opsi yang paling tepat untuk menarik minat pengunjung.
Kalau kalian bagaimana? Setuju dengan kelima faktor di atas? Kalau iya, maka akan saya berikan kabar gembira.


Ada satu mal yang memenuhi seluruh kriteria di atas. Saya jamin, mal ini akan membuat akhir pekan kalian menjadi lebih afdal atau lebih baik. Sebab mal ini menyediakan beragam retailers dan spot menarik, fasilitas pendukung yang lengkap, dan yang paling penting, tidak membosankan meski dikunjungi setiap pekan.
Ya, apalagi kalau bukan Cibinong City Mall? Penasaran? Tenang. Jangan buru-buru pindah laman. Akan saya jelaskan secara gamblang dalam beberapa alinea ke depan.

Ketika pertama kali mendengar namanya lewat media sosial, awalnya saya tak percaya. Apakah Cibinong City Mall benar-benar bisa menjadi jawaban atas weekend dilemma yang kerap saya alami?
Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Maka, hanya ada satu cara untuk membuktikan, yaitu mengunjunginya langsung. Tanpa berpikir panjang, akhir pekan lalu saya meluncur ke Cibinong City Mall. Oke, tanpa berpanjang lebar, berikut kisahnya.


Cibinong City Mall terletak di lokasi yang sangat strategis lantaran berada persis di jantung Kabupaten Bogor. Tepatnya di Jalan Tegar Beriman No.1, Pekan Sari, Cibinong, Kabupaten Bogor. Hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Kantor Bupati Bogor.
Selain dekat dengan pusat pemerintahan daerah, Cibinong City Mall juga dikelilingi oleh berbagai kawasan hunian, seperti Ambar Cibinong Residence, Sukahati Residence, The Avenue Residences, Cikaret, Bojong Gede, dan lain-lain. Jika diukur dari pusat kota Bogor, jaraknya juga tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 40 menit berkendara melintasi Tol Jagorawi.
Singkatnya, bagi kalian yang tinggal di Bogor, Depok, dan sekitarnya, Cibinong City Mall adalah pilihan tepat untuk menghabiskan waktu senggang di akhir pekan. Pasalnya, mal yang rampung dibangun pada 2013 ini memiliki lahan seluas 2,7 Ha dengan area sewa tidak kurang dari 100 ribu kaki persegi.
Bangunan Cibinong City Mall terdiri dari 5 lantai. Mulai dari Level Ground (LG), Ground Floor (GF), Upper Ground Floor (UGF), 1st Floor, dan 2nd Floor. Plus, ada setengah lantai, yang terletak di antara LG dan GF, bernama LG Mezanine. Seluruh lantai tersebut diisi lebih dari 350 toko. Banyak, kan?
Dengan berbagai kemegahan tadi, tidak heran apabila proyek Cibinong City Mall bernilai tidak kurang dari Rp200 miliar. Sejak berdirinya, Cibinong City Mall pun langsung didapuk sebagai pusat perbelanjaan terbesar di Bogor. Wah, hebat, ya?


Daulat tadi nyatanya memang bukan omong kosong saja. Saat memandangi wujudnya dari lobi utama, saya pun langsung kagum dengan kemegahannya.
Untaian huruf bertuliskan “CIBINONG CITY MALL” berdiri megah menghiasi atap lobi. Langit-langit oval yang diusung oleh sepasang tiang penyangga berbentuk “V”, memberikan kesan gagah, modern, dan dinamis.
Tepat di bawahnya, pintu geser otomatis menjadi gerbang utama bagi ratusan pengunjung yang masuk. Senyum, salam, dan sapa petugas keamanan yang berjaga, menambah kesan ramah dan kehangatan yang dimiliki oleh Cibinong City Mall. Di dalam, stan informasi senantiasa siaga untuk memberikan arah bagi pengunjung yang kebingungan mencari lokasi toko atau retailers.
Lantas, apa spot favorit saya ketika berkunjung ke Cibinong City Mall? Jujur saja, saya kesulitan mencari jawabannya. Sebab bagi saya, semua spot di Cibinong City Mall terbilang menarik.
Akan tetapi, setelah saya pilih dan pilah, setidaknya ada tujuh lokasi yang hingga kini masih melekat di hati. Simak ulasannya berikut ini.

Pertama-tama, biar kalian tidak salah sangka, Balkon Kece sebenarnya bukan nama store di Cibinong City Mall. Ini adalah istilah yang saya buat sendiri untuk menyebut deretan balkon yang tersedia di hampir seluruh restoran di Cibinong City Mall.
Berbeda dari mal lainnya, restoran di Cibinong City Mall yang terletak di UG dan 1st Floor rata-rata memiliki balkon outdoor yang menghadap ke arah jalan utama. Sebagaimana restoran pada umumnya, balkon ini dilengkapi dengan kursi, sofa, dan meja yang nyaman. Cocok buat kalian yang ingin berleha-leha sambil menikmati pemandangan kota.
Karena letaknya di outdoor, kita bisa menghirup segarnya udara Cibinong dari balkon ini. Bagi kalian para perokok yang kerap kesulitan mencari smoking area di mal, jangan khawatir. Sebab kalian diperkenankan merokok di area balkon. Alhasil, nongkrong bersama kawan-kawan menjadi lebih asyik dan menyenangkan.


Saya sendiri menghabiskan satu jam di Balkon Kece milik restoran Chop Buntut Cak Yo. Tagline-nya yang berbunyi “Sop Buntut Legendaris” memaksa saya menuntaskan lapar di sini. Semangkuk sop daging paru dan segelas es timun menjadi sajian yang menenangkan sekaligus mengenyangkan pada sore itu.
Tak perlu lama-lama, kudapan lezat tadi saya habiskan dalam waktu sekejap. Hanya 10 menit saja. Lima puluh menit sisanya saya habiskan untuk bersantai, membuka medsos, membaca buku, dan menikmati pemandangan kota. Ah, senangnya.
Nah, selain Chop Buntut Cak Yo, beberapa restoran berbalkon yang bisa kalian singgahi adalah Burger King, Bebek Dower, Marugame Udon, Gokana, dan Red Suki. Silakan dipilih sesuai selera, dan selamat menikmati duduk bersantai di Balkon Kece bersama kawan-kawan!

Sebagai seorang yang gemar membaca, saya tidak bisa melewatkan toko buku ketika berkunjung ke mal. Kabar baiknya, Cibinong City Mall memiliki toko buku Gramedia untuk menuntaskan hasrat membaca saya.
Bagi kalian yang sehobi dengan saya, Gramedia bisa kalian temukan di 1st Floor. Tempatnya cukup luas. Buku-buku yang dijual di sana pun terbilang cukup banyak dan lengkap. Seperti biasa, ada novel, komik, buku agama, pendidikan, dan buku populer lainnya, serta berbagai jenis stationaries yang dijual di sini.


Saya pun tidak melewatkan kesempatan membeli buku pada kunjungan lalu. Setelah memilih dan memilah, jadilah novel Yorick yang akan menjadi santapan saya sepanjang pekan depan.
Kalau kalian bagaimana? Suka baca novel juga?

Pakaian dan kebutuhan rumah tangga memang tidak bisa dipisahkan dari mal. Meski sekarang kita bisa membelinya lewat toko daring (online), tetapi bagi sebagian orang, termasuk saya, membeli pakaian dan kebutuhan rumah tangga haruslah dirasakan terlebih dahulu.
Salah satu kelebihan membeli pakaian dan kebutuhan rumah di mal adalah kita bisa menelitinya secara langsung. Singkatnya, barang yang hendak dibeli bisa dipegang-pegang, diraba-raba, atau dicoba terlebih dahulu. Tujuannya hanya satu: agar lebih yakin dalam menentukan pilihan.


Nah, untuk urusan pakaian, Cibinong City Mall menyediakan puluhan toko baju dan aksesoris yang bisa kalian pilih. Mulai dari Giordano, Hammer, Polo, Ocean Pacific, Levi’s, Zoya, hingga Batik Keris. Akan tetapi, yang paling lengkap dan merakyat, tentu saja toko sejuta umat: Matahari Department Store. Yang terakhir disebut bisa kalian temukan di dua lantai sekaligus, yakni GF dan UGF.
Pilihan toko yang menjual kebutuhan rumah tangga pun tidak kalah banyaknya. Saat ingin membeli bahan makanan sehari-hari, ada Carrefour yang luasnya hampir meliputi seluruh lantai LG. Tatkala membutuhkan perkakas, sofa, kursi, meja, dan sebagainya, ada Ace Hardware yang bernaung di lantai 1st Floor.
Masih kurang? Tenang. Sebab ada pula Informa yang berlokasi di 2nd Floor, dan JYSK Scandinavian Living yang memenuhi lantai LG Mezanine. Jujur saja, nama yang terakhir cukup asing di telinga saya. Akan tetapi, justru karena itulah saya tertarik berkunjung ke sana.
Kebetulan, saya memang sedang mencari kursi kerja untuk di rumah. Maklum, kalau sudah menulis blog, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop. Alhamdulillah, di JYSK Scandinavian Living saya menemukan kursi kerja favorit dengan harga yang cukup terjangkau.

Seperti yang saya bilang, salah satu alasan saya datang ke mal, ya nonton film. Bioskop yang tersedia di Cibinong City Mal adalah Cinema XXI. Seperti di mal pada umumnya, letaknya berada di lantai teratas, yakni 2nd Floor.


Jangan takut kehabisan tiket di sini. Sebab studionya berjumlah delapan biji. Jumlah kursinya pun tidak kurang dari 1.300 unit. Bagi kalian yang masih mencari tiket Avengers Endgame, Cinema XXI di Cibinong City Mall patut kalian coba.

Bagi para keluarga muda yang baru dianugerahi putra atau putri, Cibinong City Mall menyediakan tempat bermain anak yang menarik sekaligus edukatif. Tidak hanya satu, mal ini menyediakan banyak wahana yang bisa kalian pilih sesuai selera dan kebutuhan.
Ada Funtasi yang letaknya di 1st Floor. Bagi saya, wahana ini cukup unik. Di sini, anak bisa menikmati sajian berbagai film virtual reality 4D, lengkap dengan kursi roller coaster buatan yang siap memberikan sensasi nyata. Harga tiketnya pun lumayan terjangkau, yakni Rp25.000 per orang untuk hari biasa dan Rp30.000 untuk hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.


Masih di 1st Floor, ada pula Funbrick yang menjual berbagai mainan anak. Cocok bagi orangtua yang ingin membelikan anaknya mainan, atau menghadiahi keponakannya yang masih balita.
Untuk wahana bermain dan ketangkasan anak, Cibinong City Mall menghadirkan Kidzooona dan Jiggle Been Playfield di UGF. Keduanya cocok untuk anak usia balita, karena tersedia berbagai permainan ketangkasan seperti perosotan, mandi bola, dan sebagainya.
Bagi anak yang hendak beranjak dewasa, tersedia pula beragam games digital di Funworld, yang letaknya berada di 1st Floor. Bagaimana? Lengkap, bukan?

Cibinong City Mall juga menghadirkan berbagai event menarik. Biasanya, acara ini diselenggarakan tepat di depan lobi utama lantai GF. Ketika saya berkunjung ke sana, Cibinong City Mall tengah menyelenggarakan pameran pernikahan bertajuk Cibinong Wedding Expo.


Bagi kalian yang berencana menikah dalam waktu dekat, wedding expo adalah salah satu cara cerdas untuk memangkas biaya pernikahan. Sebab di sini, ada puluhan wedding organizer yang siap memberikan diskon. Kalian bisa mewujudkan pernikahan impian, tanpa harus takut kantong jebol.
Bagi kalian yang tidak sempat datang ke Cibinong Wedding Expo, tenang saja. Sebab Cibinong City Mall selalu mengadakan event menarik lainnya. Untuk memperoleh informasi terkini, silakan pantau akun Instagram Cibinong City Mall di sini.

Ada dua fasilitas Cibinong City Mall yang membuat saya kagum. Pertama, area parkir yang luas. Ini penting, sebab kita tidak ingin berkunjung ke mal yang area parkirnya terbatas. Kalau sempit dan sumpek, bisa-bisa keburu stres sebelum masuk ke mal, bukan?
Nah, untungnya Cibinong City Mall punya area parkir yang mumpuni. Tinggal pilih saja. Mau datang pakai mobil atau sepeda motor, area parkir yang disediakan sangat luas. Khusus bagi pengendara mobil, kalian bisa memilih, mau parkir di area terbuka atau di area tertutup (basement). Sedangkan bagi pengendara sepeda motor, area parkirnya berada di tempat terbuka.


Kedua, musala. Salat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Karena itu, ketersediaan musala yang bersih, rapi, dan luas menjadi faktor yang sangat penting bagi pengunjung muslim. Alhamdulillah, kriteria musala seperti itu bisa kalian temui di Cibinong City Mall.
Mengusung nama Al Alif, musala ini terletak di 2nd Floor, tepat di depan Informa. Ada beberapa alasan mengapa musala ini saya nilai baik. Pertama, disediakan loker bagi pengunjung yang ingin menyimpan barang-barangnya. Selanjutnya, tempat wudu berada di area terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar ketika berwudu.
Ditinjau dari luasnya, musala ini layaknya masjid berukuran kecil. Artinya, cukup luas untuk salat berjamaah sekalipun. Pengunjung yang telah menunaikan salat bisa berdoa dengan tenang, tanpa harus khawatir tempatnya ditunggu orang lain yang belum menunaikan salat. Pokoknya, menunaikan salat di sini sangatlah nyaman.

Nah, itulah tujuh lokasi favorit sekaligus ulasan saya mengenai Cibinong City Mall. Jujur saja, sebenarnya masih ada beberapa lokasi menarik lainnya. Seperti Celebrity Fitness di 1st Floor bagi yang gemar berolahraga, Zona Digital di LG yang menjual kamera dan berbagai perangkat pendukungnya, atau JCO dan Starbucks yang lokasinya bersisian dengan lobi utama.
Namun demikian, tentu tidak semuanya bisa saya ulas di sini. Sebab biar bagaimanapun, untaian kata memiliki segudang keterbatasan. Dan keterbatasan itu membuka ruang bagi kalian agar datang dan merasakan sendiri bagaimana kerennya Cibinong City Mall. Setuju?
Kesimpulannya, weekend dilemma yang saya alami langsung sirna ketika berkunjung ke Cibinong City Mall. Selain lengkap, mal ini menyajikan banyak lokasi menarik yang berbeda-beda. Alhasil, pilihan aktivitas yang bisa dilakukan pun menjadi semakin beragam.
Akhir kata, saya beri kalimat penutup sesuai judul saja, ya. Mau akhir pekanmu makin afdal? Yuk, berkunjung ke Cibinong City Mall!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam City Mall Blog Contest yang diselenggarakan oleh Cibinong City Mall.


Seluruh foto diperoleh penulis secara langsung di Cibinong City Mall. Ikon, vektor, dan grafis bersumber dari situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis.