Memasuki penghujung tahun, cuaca di belahan bumi Eropa terasa semakin jauh dari kata bersahabat. Tidak terkecuali di Katowice, sebuah kota metropolitan di bagian selatan Polandia. Suhu udara kala itu mencapai titik nadirnya, minus 2 derajat Celcius.
Meski hawa dingin terus menderu, namun suasana di Paviliun E Spodek Arena—stadion kebanggaan warga Katowice—seketika berubah menjadi hangat tatkala Dr. Tukul Rameyo Adi tampil memukau di atas panggung. Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman itu menyampaikan sebuah pesan penting dari Indonesia.
We proudly present to you, Pulauku Nol Sampah. A community-based innovation movement to manage waste on the island,” tuturnya berbahasa Inggris seraya membuka sesi presentasi pada gelaran akbar bertajuk Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-24 (COP24), Selasa (11/12).



Dalam paparannya, ia menceritakan bagaimana sebuah gerakan komunitas dapat mengatasi masalah sampah plastik. Sebuah isu lingkungan yang akhir-akhir ini kembali mengemuka, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.
Decak kagum terpancar dari raut wajah para pemerhati lingkungan yang memenuhi aula. Ratusan pasang mata yang datang dari berbagai penjuru dunia berhasil dibuatnya terpukau. Tepuk tangan sontak terdengar riuh saat Dr. Tukul merampungkan materinya.
Ketakjuban peserta dalam pertemuan tahunan lingkungan hidup sedunia itu bukanlah tanpa alasan. Sebab solusi sampah plastik yang dinanti dunia, kini tersaji utuh di depan mata. Uniknya, solusi tadi bukanlah berasal dari kota, teknologi terkini, maupun kajian akademisi. Melainkan letupan semangat dan aksi sederhana warga dari Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka.

Mahariah yang Pantang Menyerah

Tidak seperti di Katowice, cuaca di Pulau Pramuka terasa sangat terik. Aroma asin air laut khas pesisir pantai seketika menghujam batang hidung saya, saat kapal cepat yang bertolak dari Pelabuhan Marina Ancol merapat di dermaga.
Rasa mual akibat terjangan ombak di sepanjang perjalanan seketika sirna, tatkala melihat senyum seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangan saya di KBA Pulau Pramuka. Sambil menyusuri tepian pantai, kami pun mulai berdiskusi.



“Enam puluh persen sampah di Kepulauan Seribu berasal dari Jakarta, Mas. Biasanya datang saat musim hujan karena terbawa arus air laut. Hampir seluruhnya berupa sampah plastik,” ujar Mahariah. Tutur katanya lembut, namun tetap tidak bisa menutupi semangat kuat yang muncul dari dalam dirinya.
Mahariah (49) adalah pendiri Rumah Hijau, sebuah komunitas lingkungan hidup yang bermarkas di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dari komunitas inilah lahir gerakan Pulauku Nol Sampah yang dipresentasikan Dr. Tukul di Polandia. Gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan melalui upaya pengelolaan sampah yang baik.

Seperti kata pepatah, pengalaman merupakan guru yang terbaik. Jauh sebelum Rumah Hijau didirikan, Mahariah menjadi saksi bagaimana sampah plastik meluluhlantahkan kelestarian lingkungannya. Tahun 2009, saat banjir besar melanda Jakarta, sebagian besar tanaman bakau di Pulau Pramuka mati akibat terjangan sampah plastik kiriman.
Akibatnya, abrasi pantai tak bisa terhindarkan. Terumbu karang mati, biota laut kehilangan nutrisi. Para nelayan kesulitan mencari ikan, pariwisata daerah kehilangan minat wisatawan. Pada akhirnya, kesejahteraan warga Pulau Pramuka yang menjadi taruhan.
“Kejadian itulah yang menggerakkan hati saya, Mas. Sejak saat itu, kami mulai mengajak warga untuk mendaur ulang sampah plastik dan melakukan reboisasi tanaman bakau di sepanjang pesisir pantai,” ucap Mahariah. Kali ini nada bicaranya terdengar sendu, seakan menyembunyikan kekecewaan yang telah lalu.

Menyadarkan warga untuk melestarikan lingkungan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang mesti dilewati. Segudang tentangan pun harus dihadapi.
Mulai dari keengganan warga untuk memilah sampah, penolakan warga untuk mengikuti pelatihan daur ulang, program budidaya bakau yang tak mendapat sambutan, hingga tuduhan bahwa aksi yang dilakukan Mahariah semata-mata hanya untuk mendapat bayaran.
Namun, segala ujian tadi sama sekali tidak melunturkan semangatnya. Sebagai seorang guru Madrasah Ibtidaiyah, ia sudah terbiasa mendidik santrinya dengan penuh kesabaran. Mengajarkan kebaikan dengan penuh kesantunan, membalas gunjingan dengan seuntai senyuman.
“Saya nikmati semua prosesnya, Mas Adhi. Jikalau saya hanya berorientasi pada hasil, mungkin saya sudah menyerah sejak dulu,” cakapnya pasti.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Kegigihan Mahariah pelan-pelan membuahkan hasil. Tahun 2014, ia mendapat suntikan tenaga dari Variabel Bebas, sebuah komunitas anak muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan pesisir pantai.
Aksi peduli lingkungan yang lebih variatif lantas digencarkan. Mulai dari pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual, penanaman bibit bakau dan terumbu karang, hingga penerapan pola tanam hidroponik untuk memanfaatkan pekarangan.
Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan paket wisata edukasi konservasi. Pelancong yang berlibur ke Pulau Pramuka diajarkan cara mendaur ulang sampah plastik, serta menanam bakau dan terumbu karang. Tujuannya agar para wisatawan juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam dan lingkungan.



“Dari sana, akhirnya banyak warga yang tertarik ikut serta aksi peduli lingkungan. Karena selain melestarikan alam, warga juga memiliki kesempatan untuk mendapat tambahan penghasilan dari daur ulang sampah dan pariwisata daerah,” kata Mahariah. Matanya kini berbinar penuh kebahagiaan.
Seiring meningkatnya kesadaran warga terhadap isu lingkungan, pada tahun 2015 Mahariah bersama sekelompok ibu-ibu di Pulau Pramuka dan sekitarnya mendirikan komunitas Rumah Hijau. Anggotanya kala itu masih sangat terbatas, hanya 9 keluarga saja.
Namun, keterbatasan tadi tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus mengampanyekan gerakan Pulauku Nol Sampah. Saat waktu luang dan akhir pekan, mereka rutin melakukan aksi peduli lingkungan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan warga sekitar, khususnya terhadap bahaya sampah plastik.

Berkat daya juangnya yang tak pernah padam, Mahariah dianugerahi Kalpataru Tingkat Nasional pada tahun 2017. Sebuah penghargaan tertinggi di negeri ini bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Apresiasi itu ia terima langsung dari tangan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Alih-alih jemawa, Mahariah malah semakin bersahaja. Baginya, prestasi pribadi bukanlah tolok ukur keberhasilannya. “Yang terpenting adalah apa yang saya lakukan bisa mengubah pola pikir warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Karena lingkungan yang asri akan memberi banyak manfaat bagi warga,” tuturnya sederhana.
Apa yang dikatakan Mahariah memang benar. Ikhtiarnya terus dilakukan tanpa henti. Pelan tapi pasti, anggota Rumah Hijau pun mulai bertambah. Kini, sudah ada sekitar 40 keluarga yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.



Sejumlah komunitas lingkungan hidup dari berbagai daerah pun mulai berdatangan untuk melakukan studi banding. Terutama komunitas yang fokus terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian ekosistem pesisir pantai. Karena hingga saat ini, belum ada literatur mengenai sistem pengelolaan sampah untuk daerah kepulauan seperti di Pulau Pramuka.
Bak bola salju yang bergulir, Pulauku Nol Sampah mendapat atensi positif dari warga. Tidak hanya sekadar aksi nyata, gerakan ini lambat laun mulai mengubah kebiasaan dan perilaku warga. Dari yang semula acuh tak acuh, menjadi saling merengkuh. Alhasil, kampung Pulau Seribu kini mulai berseri kembali.



Memilah Sampah Mulai dari Rumah
Kami melanjutkan diskusi sambil menelusuri lorong kampung yang nampak sangat asri. Lubang resapan biopori saya temui setiap melangkahkan kaki sejauh 2 hingga 3 meter. Dua kantong sampah—organik dan anorganik—tertata rapi menghiasi pagar rumah-rumah warga. Lengkap dengan tanda pemilah sampah unik yang terbuat dari kaleng bekas berwarna-warni.
“Sengaja kami buat menarik, supaya warga jadi tertarik. Karena pemilahan sampah merupakan langkah pertama dari upaya pelestarian lingkungan. Kami ingin warga terbiasa memilah sampah mulai dari rumahnya,” jawab Mahariah menuntaskan rasa penasaran saya.


Ia kemudian mengantar saya ke “hutan”, sebutan akrab untuk sekretariat Rumah Hijau. Kebetulan hari itu memang bertepatan dengan agenda rapat Rumah Hijau. Persis seperti namanya, sekretariat Rumah Hijau merupakan sebuah tempat terbuka beralas tanah yang dikelilingi pepohonan rindang.
Tak jauh dari sana, saya bisa melihat deretan pot berisi aneka ragam sayuran hidroponik. Di atasnya tersedia alat penadah air hujan yang berfungsi untuk irigasi tanaman saat kemarau datang. Tepat di belakang, kandang kelinci seukuran rumah tipe 21 nampak berdiri tegak menjulang.

Ada pula hutan yang difungsikan sebagai kawasan edukasi konservasi. Suasana pendidikan alam memang terasa sangat kental. Sebab, deretan pesan menarik berwarna-warni yang diukir di atas papan kayu menghiasi pelataran. Lafalnya pun tedengar sangat unik dan menyegarkan, seperti “Less Waste is Better” dan “Pulauku Cantik Tanpa Kantong Plastik”.

Berdekatan dengan kawasan hutan konservasi, ratusan bibit bakau siap tanam tersusun dengan rapi. Bibit ini memang sengaja disiapkan untuk paket edutrip. Dalam paket ini, para pelancong yang berwisata ke Pulau Pramuka akan diajarkan cara menamam bakau di sepanjang pesisir pantai.

“Di sini kami juga memiliki bank sampah, Mas Adhi. Warga yang telah memilah sampah plastik dari rumahnya, bisa menyetornya ke mari,” kata Mahariah seraya menunjukkan mesin pencacah sampah plastik yang tersimpan di bagian belakang.
Nilai tabungan sampah plastik pun bervariasi, tergantung jenisnya. Untuk botol plastik dihargai Rp4.000 per kilogram, sedangkan gelas plastik dinilai Rp6.000 per kilogram. Meski dinilai dengan satuan uang, warga tidak bisa mengambil tabungannya begitu saja.
“Hanya dengan alasan tertentu, barulah warga dibolehkan mengambil uang tabungannya. Seperti membeli beras, membayar biaya sekolah, membeli buku dan seragam sekolah, atau berobat,” ujar Mahariah melanjutkan. “Tujuannya agar tabungan sampah ini benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.”



Sampah plastik yang disetor warga, kemudian dikeringkan dan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah sampah plastik. Nantinya, cacahan plastik tersebut dijual oleh Rumah Hijau kepada para penadah di Muara Angke. Keuntungannya digunakan untuk melakukan aksi pelestarian lingkungan lainnya.
Untuk mengolah sampah plastik jenis lainnya seperti kantong plastik, bungkus mi instan, dan sedotan, Rumah Hijau menerapkan dua jenis metode. Pertama, mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai macam kerajinan tangan, mulai dari bunga buatan, gantungan kunci, hingga tas tangan.
Kedua, membuat bata ramah lingkungan, atau yang dikenal dengan istilah ecobrick. Dengan metode ini, botol plastik diisi dengan berbagai macam sampah plastik yang telah dipotong kecil-kecil hingga padat. Ecobrick kemudian direkatkan dan dibentuk menjadi berbagai peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, serta hiasan dinding.
Dengan berbagai upaya tadi, Mahariah berharap agar sampah plastik tidak lagi mencemari lingkungan Pulau Pramuka, sehingga membuat warganya hidup lebih nyaman.

Dukungan Astra

“Sejak pertama kali Rumah Hijau didirikan, Astra memang sudah hadir mendukung kami,” jawab Mahariah tatkala saya menanyakan dukungan PT Astra International Tbk untuk Pulau Pramuka. Melalui program KBA, Astra bersama Rumah Hijau bahu membahu untuk mewujudkan lingkungan Pulau Pramuka yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif.
Dukungan Astra terbagi menjadi empat pilar, yakni lingkungan, kewirausahaan, pendidikan, dan kesehatan. Pada pilar lingkungan, Astra memfasilitasi upaya pengolahan sampah organik yang dilakukan oleh warga. Saya mencatat, setidaknya ada dua kegiatan yang dilakukan.

Pertama, pemanfaatan alat pembuat kompos dari sampah, atau komposter. Astra mendonasi sejumlah komposter untuk dimanfaatkan warga secara langsung di rumahnya. Dengan alat ini, sampah organik akan diurai oleh bakteri sehingga menjadi pupuk kompos. Pupuk ini kemudian bisa dimanfaatkan kembali oleh warga untuk bercocok tanam.
Kedua, pemanfaatan biodigester. Alat ini berfungsi untuk mengubah sampah organik menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan, yakni biogas. Layaknya gas LPG, biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak.
Mahyudin Hafsah, seorang warga yang memanfaatkan biodigester di rumahnya, mengakui bahwa biogas tidak berbau meski terbuat dari sampah organik. Selain itu, kalori yang dihasilkan juga lebih besar dibandingkan dengan gas LPG, sehingga membuat masakan lebih cepat matang.
“Kegiatan lainnya yang digagas Astra bersama Rumah Hijau adalah Rumah Berseri Astra. Jadi, setiap warga di Pulau Pramuka, diajari cara menanam di pekarangan rumah yang relatif terbatas,” ujar Mahariah bersemangat.

Contoh penerapan Rumah Berseri Astra dapat ditemui di kediaman Hastuti. Suasana hijau nan asri langsung terasa ketika kami berkunjung ke rumah Ibu dua anak itu. Berbagai macam vegetasi ada di rumahnya, mulai dari tanaman obat keluarga, hias, sayuran, hingga buah-buahan.
Sebagian besar tanaman, terutama sayuran, ditanam secara hidroponik. Metode tanam ini sangat cocok diterapkan di pekarangan rumah yang terbatas, karena tidak membutuhkan media tanah. Beberapa jenis sayuran yang ditanam secara hidroponik adalah pakcoy, kangkung, terung, jeruk, kelengkeng, cabai, dan lengkuas.
Sebagai daerah kepulauan, salinitas tanah Pulau Pramuka memang tinggi. Sehingga tidak banyak bahan pangan yang dapat tumbuh di atasnya. Oleh karenanya, pasokan bahan pangan harus dipenuhi dari Jakarta, sehingga biayanya menjadi lebih mahal.
Dengan metode tanam hidroponik, Hastuti mengakui bahwa kebutuhan nutrisi buah dan sayuran keluarga bisa terpenuhi secara mandiri. Alhasil, biaya dapur dan kebutuhan rumah tangga juga dapat ditekan.
Sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan warga Pulau Pramuka, Astra juga menerapkan pilar kewirausahaan. Pada pilar ini, dukungan Astra diwujudkan dalam bentuk pelatihan produk pangan olahan, salah satunya adalah keripik sukun.
Selain itu, ada pula jepa—penganan khas daerah kepulauan. Kudapan ini terbuat dari buah alkesah, nama lain dari sawo mentega. Di tangan ibu-ibu Rumah Hijau, kreasi jepa ala Pulau Pramuka berhasil meraih Juara 1 Lomba Olahan Buah Langka antar KBA yang diselenggarakan oleh Astra pada awal tahun ini.



Dari pilar kesehatan, Astra memberikan pelatihan kepada para bidan yang melayani posyandu Pulau Pramuka. Dengan pelatihan ini, keterampilan para bidan dalam melayani warga Pulau Pramuka semakin meningkat. Harapannya, kesehatan warga akan lebih terjaga.
Pada pilar terakhir, yakni pendidikan, Astra memberikan pendampingan sekolah adiwiyata, dan beasiswa bagi siswa SD, SMP, dan SMA. Selain itu, Astra juga mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan memanfaatkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri. Lokasinya berada di bibir pantai, tidak jauh dari pelabuhan.
Di sini, ada berbagai sarana edukasi yang bisa dimanfaatkan orangtua dalam mendidik anaknya, seperti taman membaca dan papan penunjuk jalan dengan desain yang kekinian. Anak-anak juga bisa belajar menanam sejak dini dengan alat peraga tanaman vertikultur.

Berada di RPTRA Tanjung Elang Berseri, saya seperti melintasi lorong waktu dan kembali ke masa lalu. Ada ayunan dan jungkat-jungkit yang kerap saya mainkan sewaktu TK dahulu. Dari kejauhan, tampak senyum cerah dari wajah polos anak-anak yang berlarian. Saya yakin, kebahagiaan mereka adalah jaminan cerahnya masa depan Pulau Pramuka.
Bernostalgia di RPTRA membuat waktu seakan cepat bergulir. Tak terasa, arloji sudah menunjukkan pukul 14.30. Saya pun harus bergegas ke pelabuhan untuk kembali ke peraduan.
“Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu,” ujar saya kepada Mahariah seraya membenarkan posisi ransel di punggung.
Banyak inspirasi yang bisa dipetik dari kunjungan saya ke KBA Pulau Pramuka kali ini. Namun di antara itu semua, ada satu yang paling melekat di hati. Yaitu semangat Mahariah dalam menjaga lingkungan kampungnya agar tetap berseri.
Bersama Astra, semangat itu kemudian ia tularkan dengan sabar kepada setiap warga. Hingga akhirnya timbul tiga kata mulia: Pulauku Nol Sampah. Untaian kata yang bukan hanya membangkitkan gelora warga Pulau Pramuka, tetapi juga menjadi asa yang terus dilantaskan demi kebaikan Indonesia dan dunia.



***
Artikel ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2018


Dunia blog telah mewarnai hidupku selama dua tahun terakhir. Sejak saat itu, berjuta kebahagiaan datang menghiasi hari-hariku dengan cara yang tak pernah kuduga.
Aku tak pernah menyangka bahwa dengan menulis, aku bisa mengenal narablog jempolan dan belajar dari penulis terkenal. Aku juga tak pernah mengira bahwa lewat rangkaian kata, ternyata aku bisa menimba ilmu dari redaktur senior, menerbitkan buku antologi, hingga menambah uang jajan istri.
Sampai beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba aku tersadar. Apa gunanya bahagia jikalau hanya dirasakan seorang diri saja? Apa pentingnya kilauan materi jika tak pernah berbagi? Nah, sekaranglah saatnya aku ingin berbagi kebahagiaan kepada kalian semua.
Aku yakin, kalian pasti juga memiliki momen yang berkesan selama berkecimpung di dunia blog. Oleh karena itu, aku ingin tahu momen spesial apa yang membuat kalian bangga menjadi seorang penulis blog? Dengan kebanggaan yang kalian miliki, kira-kira apa resolusi kalian untuk menyambut tahun 2019?
Jangan hanya disimpan dalam kenangan, siapa tahu bisa menjadi inspirasi buat banyak orang. Yuk, anggit dalam bentuk tulisan dan menangkan total hadiah senilai Rp7.500.000. Menarik, bukan?

Tema Kompetisi

“Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital”
·     Tulisan bercerita mengenai momen spesial yang membuat kalian bangga menjadi seorang narablog dan resolusi untuk menyambut tahun 2019.
·      Bagi kalian yang baru pertama kali menulis di blog, kalian bisa bercerita mengenai alasan mengapa tertarik menulis di blog dan apa harapan kalian pada tahun 2019 nanti.


Periode Kompetisi

Kompetisi berlangsung mulai tanggal 26 Desember 2018 sampai dengan 25 Januari 2019.


Syarat dan Ketentuan

1.       Peserta yang berhak mengikuti kompetisi ini adalah Warga Negara Indonesia.
2.  Kompetisi ini tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh karena itu, waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan kompetisi ini.
3.   Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Peserta diperkenankan menggunakan kata dalam bahasa asing/daerah yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia atau kurang padu dalam lafal maupun susunan kalimat, namun wajib menggunakan kaidah penulisan yang benar.
4.  Konten blog yang didaftarkan tidak mengandung unsur pornografi, judi, SARA, politik, ujaran kebencian, atau tindakan lainnya yang melanggar hukum.
5.   Tulisan bersifat baru, tidak sedang dilombakan di tempat lain, dan orisinal (bukan karya orang lain atau hasil plagiat). Apabila terdapat kutipan/gambar/infografis/video/animasi milik orang/pihak lain, maka peserta wajib mencantumkan sumbernya.
6. Peserta bebas menggunakan platform blog apapun. Tidak ada batasan usia atau jumlah minimal tayangan pada blog yang dikompetisikan.
7.      Setiap peserta hanya diperkenankan mendaftarkan 1 blog/tulisan.
8.     Panjang tulisan (di luar judul) maksimal 1.500 kata.
9. Peserta wajib memasukkan minimal 2 konten pendukung (berupa gambar/ilustrasi/infografis/video/animasi) dalam blog yang dikompetisikan.
10.   Peserta wajib menuliskan salah satu atau seluruh kata kunci dalam artikel, yakni:
a.        Narablog; dan/atau
b.        Blogger
11.  Dalam satu kata kunci yang dituliskan sebagaimana syarat nomor 10 di atas, Peserta wajib memasukkan satu tautan (backlink) ke alamat blogku, yaitu: https://www.nodiharahap.com
12.    Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
13.   Peserta wajib menyukai Facebook Fanpage serta mengikuti akun Instagram dan Twitter milikku:
a.      Facebook Fanpage: https://www.facebook.com/nodianakrini
b.     Instagram: @nodi_harahap
c.      Twitter: @nodiharahap
14.   Peserta sangat disarankan mengikuti akun Instagram para juri:
a.      Khrisna Pabichara: @khrisnapabichara
b.     Joe Candra: @joecandra18
c.      Nabilla DP: @nabilladp
15. Peserta wajib membagikan tautan blog yang dikompetisikan melalui salah satu akun media sosial milik peserta, yakni Instagram, Facebook, atau Twitter, dengan menyertakan tagar #KompetisiBlogNodi dan #NarablogEraDigital serta mention salah satu akun media sosial milikku sebagaimana angka 13 di atas. Apabila kalian membagikannya di Instagram, maka mention akun Instagramku. Hal yang sama berlaku pada media sosial Twitter dan Facebook.
16.   Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran dengan lengkap pada tautan di bawah ini:


Kriteria Penilaian

1.       Alur cerita, dengan bobot penilaian 30%.
2.      Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan bobot penilaian 30%.
3.     Orisinalitas, dengan bobot penilaian 25%.
4.     Kesesuaian dengan tema, dengan bobot penilaian 10%.
5.      Konten pendukung, dengan bobot penilaian 5%.
Hasil penilaian peserta yang memenuhi seluruh syarat dan ketentuan, akan ditampilkan pada saat pengumuman pemenang di blog ini.


Dewan Juri

1. Khrisna Pabichara, Penulis. Kumpulan artikelnya dapat kalian lihat di https://www.kompasiana.com/1bichara
2.      Joe Candra, Travel & Lifestyle Blogger. Mantan banker yang mengekspansi zona nyaman melalui blog. Tulisannya dapat kalian baca di https://www.joecandra.com
3.     Nabilla DP, Parenting Blogger & Freelance Writer. Sarjana hukum yang doyan ngeblog dan jalan-jalan. Ceritanya dapat kalian nikmati di https://www.bundabiya.com/
Sedikit saran dariku, bacalah beberapa artikel yang ditulis oleh para juri. Pelajari cara dan selera mereka dalam merangkai kata. Dengan begitu, kesempatan kalian untuk menang akan semakin besar. Tapi ingat, tetap jadi diri sendiri, ya!
O ya, aku juga ingin agar kemampuan menulis kalian semakin baik setelah mengikuti kompetisi ini. Oleh karena itu, seluruh blog yang diikutsertakan dalam kompetisi ini akan mendapat tanggapan/komentar dari Khrisna Pabichara! Kapan lagi, coba?
Tanggapan/komentar akan dikirimkan ke alamat surel kalian, paling lambat 7 hari setelah periode pengumuman pemenang.


Hadiah Bagi Para Pemenang

·       Juara 1 akan mendapat uang tunai sebesar Rp1.500.000.
·       Juara 2 akan mendapat uang tunai sebesar Rp1.250.000.
·       Juara 3 akan mendapat uang tunai sebesar Rp1.000.000.
·  5 Orang Juara Harapan Pertama akan mendapat uang tunai masing-masing sebesar Rp500.000.
·  5 Orang Juara Harapan Kedua akan mendapat uang tunai masing-masing sebesar Rp250.000.


Pengumuman Pemenang

Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 5 Februari 2019 di blog ini, serta melalui akun Instagram, Twitter, dan Facebook milikku.


Pengiriman Hadiah

Hadiah akan dikirimkan melalui rekening di bank milik pemenang, paling lambat 3 hari setelah pengumuman pemenang.


Informasi Lebih Lanjut

Apabila masih terdapat pertanyaan seputar kompetisi ini, kalian dapat meninggalkan komentar di bawah, atau menghubungi saya melalui media sosial.


Tanggal 25. Bagi sebagian besar pekerja kantoran, tanggal tersebut adalah saat-saat yang istimewa. Ya, karena itulah saatnya rekening tabungan kita bertambah sesuai dengan besarnya gaji bulanan. Nikmat lagi menyenangkan.
Ibarat kucuran air di padang pasir, tanggal 25 seakan menjadi pelepas dahaga setelah sebulan lamanya bekerja keras. Daftar kebutuhan dan keinginan yang sudah lama diidam-idamkan, akhirnya dapat segera dipenuhi. Sebut saja gawai model terkini, baju baru, atau sekadar nongkrong bersama teman-teman di kedai kopi yang baru dibuka minggu lalu.
Akan tetapi, pernahkah kalian malah merasakan hal yang sebaliknya? Saya pernah.
Delapan tahun lalu, ketika menjalani tahun pertama bekerja, saya merasa gundah gulana setiap bertemu dengan tanggal 25. Gaji yang baru saja masuk di rekening tabungan terasa semu dan sementara. Pasalnya, saya harus membayar berbagai macam cicilan, mulai dari mobil, kartu kredit, hingga biaya kos-kosan.
Setelah membayar, saldo tabungan yang tersisa hanya berkisar antara Rp500 ribu—Rp700 ribu saja. Boleh dibilang jumlah segitu sangatlah pas-pasan untuk hidup selama sebulan di Bandung, tempat saya bekerja kala itu. Alhasil, seminggu kemudian saya harus meminta tambahan uang jajan kepada orangtua.
Saya pun masih menyisakan sebagian besar tagihan kartu kredit. Sebab, saya hanya sanggup membayar tagihan minimumnya saja, yakni 10% dari total tagihan. Semata-mata agar terhindar dari predikat “Dalam Perhatian Khusus”, yang berarti menunggak pembayaran pokok dan/atau bunga kartu kredit hingga 90 hari ke depan.
Padahal kalau boleh jujur, gaji saya saat itu sudah di atas Upah Minimum Regional (UMR). Artinya, seharusnya saya bisa hidup lebih sejahtera dan mandiri tanpa merepotkan orangtua.
Kalau kalian bagaimana? Adakah di antara kalian yang pernah mengalami hal yang serupa? Masih meminta tambahan uang kepada orang tua karena gaji hanya mampir sekejap saja?
Tiga tahun kemudian, barulah saya menyadari ternyata ada yang salah dengan cara saya mengelola uang. Nah, supaya kalian tidak merasakan hal yang sama, saya akan berbagi kiat #CerdasDenganUangmu khususnya bagi kalian yang baru pertama kali bekerja agar tak lagi merepotkan orangtua.

Mengatur Gaya Hidup demi Menekan Pengeluaran

Mengatur gaya hidup merupakan perkara yang mudah diucapkan namun terkadang sulit untuk dilakukan. Terutama bagi kalian yang tinggal di kota besar. Godaan untuk hangout ke kafe bersama teman-teman atau hasrat memiliki gadget mahal, memang terasa sangat sulit untuk ditepikan. Lebih-lebih ketika kita baru gajian.
Namun, gaya hidup yang berlebihan ternyata menjadi penyebab nomor satu terkurasnya dompet kalian. Bahkan tak jarang ada yang sampai terlilit hutang karena hanya ingin dipandang orang.
Sesekali cobalah hitung, berapa banyak uang yang kalian habiskan untuk nongkrong di coffee shop kekinian? Bila uang tersebut kalian tabungkan, jadinya lumayan, bukan?
Oleh karena itu, belajarlah untuk menjalankan pola hidup sederhana. Yakni, pola hidup yang sesuai dengan kebutuhan dan pendapatan kalian. Karena gaya hidup seperti inilah yang akan menekan pengeluaran dan membuat hidup kalian lebih sejahtera.
Yang menarik, ternyata pola hidup sederhana sudah menjadi kebiasaan orang-orang kaya di dunia. Pola hidup seperti ini bahkan menjadikan mereka semakin kaya raya. Seperti Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Charles Ergen (pendiri DISH Network), dan Ingvar Kamprad (pendiri IKEA).
Nah, seperti apa gaya hidup sederhana ala orang terkaya di dunia? Dilansir dari MoneySmart, ada tiga kebiasaan orang-orang kaya yang bisa kalian ikuti saat baru pertama kali bekerja. Yakni tidak malu membawa bekal makanan dari rumah, memilih transportasi umum atau kendaraan biasa, dan membeli barang karena fungsinya.
Selengkapnya dapat kalian lihat pada infografik di bawah ini, atau klik di sini untuk membaca artikelnya.


Memiliki Impian Sebagai Motivasi Menabung
Apa impian kalian ketika sudah bekerja? Menikah, punya rumah, memiliki mobil mewah, atau traveling ke luar negeri? Pastinya semuanya membutuhkan uang, bukan?
Setiap orang pasti memiliki impian. Bedanya, hanya sedikit orang yang benar-benar mau bangun dari mimpinya untuk kemudian berusaha mewujudkan. Supaya tidak sekadar menjadi bunga tidur semata, maka tulislah mimpi kalian sebagai motivasi untuk menabung. Bila perlu, gunakanlah cara-cara unik yang berada di luar kebiasaan.
Sebagai contoh, saat ini saya punya dua impian, yakni memiliki usaha franchise minimarket dan melanjutkan pendidikan istri hingga jenjang pascasarjana. Kedua impian tersebut saya tulis pada kaleng yang saya fungsikan sebagai tabungan. “Otak” untuk dana pendidikan istri, serta “Alfamart” untuk tabungan franchise minimarket.

Kedua kaleng tersebut kemudian saya isi uang, sesuai dengan jumlah dan waktu yang telah saya rencanakan sebelumnya. Yaitu sebesar Rp50 ribu per hari untuk “Alfamart” dan Rp1,5 juta per bulan untuk “Otak”. Dengan metode seperti ini, saya menjadi konsisten dalam menabung. Sekaligus merasa malu apabila impian yang saya tulis sendiri, kemudian saya ingkari hanya karena malas menabung.
Cara unik yang saya lakukan hanyalah salah satunya. Bagi kalian yang masih malas menabung, MoneySmart memiliki beberapa tips cara menabung unik yang bisa membuat kegiatan menabung kalian menjadi tambah asyik. Mari simak videonya di bawah ini.

Secepat Mungkin Buat Pos Dana Darurat

Ketika pertama kali bekerja, segera buatlah pos darurat. Dana di pos ini bertujuan untuk berjaga-jaga. Supaya kalian tidak pusing dan minta bantuan orangtua saat terjadi hal-hal mendesak di luar dugaan, yang berpotensi menguras uang kalian.
Misalnya ketika motor rusak, sakit mendadak, atau tarif kosan yang tiba-tiba meningkat. Semua kondisi tadi mengharuskan kalian untuk mengeluarkan dana di luar bujet yang telah direncanakan. Nah, dana di pos darurat bisa kalian gunakan bila terjadi hal-hal semacam ini.
Bagi saya, cara paling aman untuk membuat pos ini adalah dengan membuka tabungan rencana di bank. Mengapa? Karena dana di tabungan gaji kalian akan dipindahkan secara otomatis (auto-debit) ke rekening tabungan rencana, tepat pada saat tanggal gajian. Dengan demikian, gaji yang tersisa sudah bersih dan siap untuk dialokasikan untuk mendanai kebutuhan lainnya.

Jumlah tabungan dana darurat bisa kalian sesuaikan dengan kemampuan. Akan tetapi, sebisa mungkin alokasikan minimal 10% dari pendapatan kalian untuk dana darurat ini.
Ingat, kalian juga harus memilih instrumen yang tepat untuk dana darurat. Sebagaimana dikutip dari sebuah artikel di MoneySmart, dana darurat haruslah memenuhi tiga prinsip, yakni Aman, Likuid, dan Mudah Diakses (ALM).
Oleh karena itu, selain tabungan rencana, beberapa instrumen dapat kalian manfaatkan untuk menyimpan dana darurat, yakni deposito, emas, dan reksadana pasar uang. Artikel selengkapnya dapat kalian baca di sini.

Sisihkan Dana Untuk Berinvestasi

Usia muda merupakan saat yang paling tepat untuk berinvestasi. Terlebih bagi kalian yang baru saja diterima kerja. Mumpung masih semangat-semangatnya bekerja, maka pendapatan yang kalian hasilkan akan terasa sangat sia-sia bila tidak segara diinvestasikan. Investasi sendiri berguna untuk memupuk kebiasaan dan menjamin kesejahteraan saat hari tua kelak.
MoneySmart dalam sebuah artikelnya menjelaskan ada 4 jenis instrumen investasi yang perlu kalian miliki sebelum berusia 30 tahun. Semuanya relatif mudah diakses dan terjangkau bagi generasi milenial yang baru saja bekerja.



Pertama, emas batangan. Ada alasan mengapa instrumen yang satu ini selalu diminati dari dahulu hingga sekarang. Emas merupakan salah satu logam mulia yang nilainya stabil dan tidak tergerus inflasi. Oleh karena itu, emas sangat cocok dijadikan instrumen investasi.
Tidak seperti dulu, investasi emas kini sangat mudah dan murah. Mulai dari Rp10 ribu saja, kalian sudah bisa membuka tabungan emas di Pegadaian. Pastikan emas yang kalian beli memiliki sertifikat Antam, karena harga jual kembalinya relatif lebih tinggi dibandingkan emas bersertifikat lainnya.



Kedua, reksadana. Bagi kalian yang tidak mau terlalu pusing dalam memilih instrumen investasi yang menguntungkan, maka reksadana patut menjadi pilihan. Mengapa? Karena selain murah (mulai dari Rp100 ribu), dana yang kalian tempatkan akan dikelola oleh manajer investasi yang sudah ahli. Return yang kalian dapatkan juga menggiurkan, karena biasanya melebihi rate suku bunga deposito.
Ketiga, saham. Patut dicatat, jenis investasi ini berisiko tinggi. Oleh karena itu, return yang didapatkan juga biasanya lebih tinggi ketimbang emas dan reksadana.
Selain berisiko tinggi, investasi saham juga membutuhkan keahlian. Oleh karena itu, sebaiknya kalian belajar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham. Caranya, alokasikan sebagian kecil (maksimal 5%) dana kalian untuk belajar. Jika sudah mengerti dan paham, barulah kalian bisa menambahnya secara bertahap.
Terakhir, properti. Meski membutuhkan modal yang tidak sedikit, properti merupakan instrumen investasi yang dari zaman dahulu dipercaya sangat menguntungkan. Karena harga tanah cenderung naik setiap tahunnya.
Nah, bagi kalian yang belum cukup modal untuk membeli properti, kalian bisa memilikinya secara patungan. Metode ini dikenal dengan nama crowdfunding. Sudah banyak perusahaan tekfin yang bergerak di sektor ini, seperti Provesty, NaPro, dan Ethis. Dengan metode crowdfunding, kalian bisa urun rembug mendanai pembangunan proyek atau refinancing properti dengan modal yang relatif terjangkau.

Kesimpulan dan Penutup

Tak bisa dipungkiri masa-masa pertama kali bekerja kadang kala memang menyulitkan. Sebab, saat itulah kita mengalami masa transisi dari remaja menuju dewasa. Dari semula diayomi menjadi mandiri. Dari semula diongkosi, sekarang harus mengatur uang sendiri.
Namun demikian, seorang bijak pernah menyampaikan satu pesan. Kekayaan seseorang bukanlah diukur dari seberapa besar penghasilan yang didapatkan, melainkan dari seberapa besar pengeluaran yang mampu ditekan.
Oleh karena itu, mari terapkan kiat #CerdasDenganUangmu agar kalian menjadi orang yang benar-benar kaya. Bukan orang yang sekadar terlihat kaya dan hanya merepotkan orangtua saja.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog MoneySmart 2018 #CerdasDenganUangmu



Sumber Referensi:
No.
Judul/Perihal
Sumber/Tautan
1.
Bikin Tambah Kaya, Ini Cara Jalani Hidup Sederhana ala Miliarder Dunia
https://www.moneysmart.id/cara-hidup-sederhana-ala-miliarder-dunia-pantes-tambah-kaya/
2.
4 Cara Menabung Kreatif Gampang Banget Lho
https://www.youtube.com/watch?v=uAD-cU9lV4w
3.
Biar Hidup Tenang dan Bahagia! Simpan Dana Darurat Kamu dengan Cara Ini
https://www.moneysmart.id/dana-darurat-itu-penting-simpan-di-4-tempat-ini/
4.
Sebelum 30 Tahun! Miliki 4 Jenis Investasi Ini Kalau Pengin Hidupmu Makmur
https://www.moneysmart.id/sebelum-30-tahun-miliki-4-jenis-investasi-ini-kalau-pengin-hidupmu-makmur/