Server merupakan sistem komputer yang
memberikan layanan dalam jaringan komputer. Server
juga menjalankan tugasnya sebagai perangkat lunak atau software yang berfungsi mengontrol setiap akses pada jaringan yang
terdapat di dalam komputer.
Fungsi dari server adalah melayani permintaan data, mengatur jalannya lalu
lintas, menyimpan data, menyediakan sumber daya, mengatur dan berkewajiban
memberikan akses jaringan pada klien, serta menyediakan aplikasi dan data yang
diperlukan klien.
Server memiliki banyak keterkaitan dengan hosting. Jika tidak ada server, hosting tidak akan berjalan dan Anda tidak dapat terhubung dengan website, dengan blog, dengan Google, dengan
media sosial, serta dengan aplikasi-aplikasi menarik yang saat ini sedang
viral. Selain itu untuk menciptakan sebuah server
pada komputer, maka dibutuhkan perangkat keras atau hardware seperti Ram, Processor, dan Hard Drive.
Ada banyak pertanyaan yang dilontarkan para
klien mengenai cara kerja server.
Cara kerja server pada umumnya adalah
server yang menjadi penyedia data,
kemudian klien, atau Anda, atau bisa jadi sistem otomatis yang berperan sebagai
peminta data yang harus dilayani oleh server.
Nah, tahukah Anda jika server memiliki banyak jenis. Tidak semua server bertugas memegang kendali kepada klien. Karena jika hal itu
terjadi kemungkinan besar akan terjadi gangguan seperti loading, error, dan
hambatan lainnya yang mengganggu permintaan klien. Begitu pula dengan hosting. Hosting juga bisa disebut dengan klien dan server adalah pelayan atau penyedia data.
Pada dasarnya cara kerja server dan klien sangat sederhana, yaitu server sebagai penyedia data dan klien sebagai peminta data. Namun
tidak semua klien dilayani oleh server,
mengingat server memiliki banyak
jenis dan tugas masing-masing.
Inilah dua jenis server untuk menemukan hosting,
atau menemukan semua yang klien minta pada jaringan sistem komputer.
Proxy
Server
Proxyserver
bisa disebut juga dengan peladen proxy
atau pelayan proxy. Proxyserver adalah sebuah progam komputer yang melakukan permintaan pada
konten yang berasal dari internet. Proxyserver berfungsi sebagai pengaman
jaringan pribadi yang dihubungkan pada jaringan publik. Server ini dapat beroperasi pada tingkat yang paling tinggi dan
memiliki kontrol terhadap akses jaringan dari klien. Dengan kata lain, tugas
dari proxyserver ini adalah menjaga keamanan pada jaringan pribadi klien.
Fungsi dari proxyserver menurut cara
kerjanya sebagai penyedia data adalah sebagai pembatas antara pemakaian
jaringan lokal maupun jaringan luar, sebagai media penyaringan atau filtering untuk meminimalisir kegagalan,
dan menyimpan data dalam bentuk cache.
Proxyserver
juga memiliki banyak manfaat jika Anda gunakan sebagai pendukung hostingwebsite Anda. Antara lain dapat menghemat bandwidth yang berasal dari koneksi internet atau situs-situs yang
pernah Anda kunjungi pada perangkat yang sama. Proxyserver juga
memiliki kelebihan meningkatkan kinerja internet dengan adanya penghematan dari
bandwith. Dan manfaat yang terakhir
ketika menggunakan proxyserver adalah Anda akan aman dari situs
tanpa izin yang berkeliaran di internet.
DNS
Server
DNS Server
adalah kepanjangan dari domain nameserver. Pada umumnya untuk mengakses
internet Anda membutuhkan IP alamat pada sebuah website. DNS berfungsi untuk meminta informasi IP address pada website berdasarkan nama domain dan web hosting
murah.
Lalu DNS mengajukan informasi URL pada sebuah website berdasarkan IP yang sudah dimasukkan. Fungsi dari server ini yang paling umum adalah
mencari server untuk mengirimkan data
atau email.
Cara kerja DNS server adalah dengan cara mencocokkan nama komponen URL dengan
komponen IP address komputer. Dan
ternyata URL dan IP address memiliki bagian tertentu yang menjelaskan satu
dengan yang lain dan saling berkaitan. Cara kerja DNS yang pertama bisa dimulai
dengan DNS query. Pada saat Anda
mengetik URL atau link ke address
bar, dan alamat yang dicari tidak berhasil ditemukan, maka server berusaha mencari berbagai informasi dan direkam dengan cache.
Kemudian ada recursive query. Kurang lebih tugas dari recursive query adalah memberikan hostname, selanjutnya DNS resolver
memberikan jawabannya. Yang ketiga adalah Iterative
Query. Dengan memasukkan hostname,
DNS akan mencari cache yang tepat
pada memori server.
Jika server
gagal atau tidak berhasil, maka DNS resolver
akan mencari informasi penyebab ketidakberhasilan di RootServer atau Authoritative nameserver yang notabene adalah server
yang paling dekat dengan DNS Zone.
Sekian artikel mengenai dua jenis server popular yang bisa Anda gunakan
untuk keperluan hostingwebsite Anda. Ada banyak server yang bisa Anda coba, tetapi tidak
sedikit klien yang menggunakan proxyserver
dan DNS server.
Jika Anda masih bingung memahami jenis-jenis server dan bagaimana cara kerjanya, Anda
bisa meminta bantuan dengan bergabung bersama Domainesia.com. Tidak hanya di
bombing, Anda juga akan di layani sebagaimana klien dari serverhosting.
“Hari
Sabtu minggu depan ngajar nulis di Semarang mau ga, Nod?” Suara Rafael
terdengar bersemangat dari balik gagang telepon kantor.
Jikalau
ada orang yang mengenal saya lewat akun Instagram, lantas ia beranggapan bahwa
saya jago menulis, tentu saja saya tidak heran. Sebab saya memang sengaja
menampilkan deretan prestasi kepenulisan di akun media sosial. Namun tatkala ada
rekan sejawat di kantor yang meminta saya mengajar ilmu kepenulisan, bagi saya,
ini baru luar biasa.
“Kalau
Bapak El sudah memerintah, saya harus menjawab, siap laksanakan!” canda saya kepada
Rafael sekaligus menerima tantangan yang ia suguhkan.
Dan tepat
pada Jumat sore, terbanglah saya ke Semarang dengan membawa sebuah laptop dan segudang
harapan.
***
Jujur saja. Bagi saya,
menulis memang telah menjadi makanan sehari-hari. Di kantor, tiada hari tanpa
menulis. Ada kajian, laporan, hingga analisis penuh grafik dan deret angka yang
harus saya rampungkan.
Maklum saja, kantor saya
memang berkutat di bidang ekonomi dan keuangan. Jadi, mata saya sudah terbiasa
memindai ribuan aksara dan angka saban hari kerja.
Sepulang kerja sama saja.
Saya terbiasa menganggit berbagai artikel pada malam hari atau akhir pekan.
Entah untuk kepentingan lomba blog, merangkai opini di surat kabar, mengisi
kolom untuk majalah kantor, atau sekadar mengeluarkan unek-unek yang terpendam.
Kalau berhasil menang
lomba, ya, alhamdulillah. Tatkala
tulisan saya tembus di koran lokal, tentu saja saya bangga. Jangankan kedua hal
tadi. Bila ide sudah tersalurkan lewat untaian kata dan titik terakhir kelar
ditaja, saya juga sudah sangat bergembira.
Walaupun terbiasa menulis, akan
tetapi mengajar ilmu kepenulisan itu bagaikan dimensi yang jauh berbeda. Sebab
jika biasanya tulisan saya digunakan untuk kepentingan pekerjaan dan hobi
semata, kini saya harus mengajari para penulis kantoran.
Letak perbedaan sebenarnya
ada pada ihwal kebenaran. Jikalau salah ketik (typo) atau alpa menaruh titik pada karya tulis sendiri, tentu hanya
saya yang merasakan efek negatifnya. Dikoreksi atasan atau gagal menjuarai
lomba adalah dua contoh dampak yang ditimbulkan. Setelahnya, hanya tersisa dua
hal: bersabar dan mau kembali belajar.
Namun jikalau saya sampai
salah mengajari ilmu menulis, maka imbasnya bisa ke mana-mana. Konsekuensinya, peserta
yang saya ajari bisa keliru mengudar kata-kata atau kalimat berbahasa
Indonesia. Lebih-lebih, mereka adalah pengelola konten situs intranet kantor
perwakilan dari seluruh Indonesia. Kalau sudah begini, tentu citra diri dan
karier saya yang menjadi taruhannya.
Maka, berangkat ke Semarang
dan menerima tugas mengajar bukanlah sebuah hiburan. Ini adalah tantangan yang
wajib saya tuntaskan. Rasa gugup dan galau tentu saya rasakan. Namun, berbekal ilmu
dan pengalaman yang jauh dari kata asal-asalan, saya tampil percaya diri di
depan podium dan memulai pelajaran.
“Assalamualaikum. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Perkenalkan, nama saya Adhi Nugroho, biasa dipanggil Nodi. Hari ini kita akan
sama-sama belajar tentang Resep Meracik
Kata,” tutur saya membuka sesi presentasi sambil memegang pengeras suara.
“Mengapa bukan Kiat Menulis yang Baik dan Benar atau Delapan CaraMenulis Popular? Tentu ada alasan mengapa materi ini saya beri
judul Resep Meracik Kata.” Sengaja
saya pancing dengan pertanyaan sederhana demi merangsang otak pemirsa agar
mulai bekerja.
“Teman-teman sekalian,
judul adalah wajah dari tulisan. Jikalau indah dibaca dan enak didengar, maka
pembaca akan tergugah masuk ke dalam. Dengan memilih judul yang tepat, niscaya pembaca
mudah larut dalam nikmat.”
Mata saya mulai menyapu
audiens dari pojok kanan hingga sudut kiri. Saya biarkan aula diliputi keheningan,
agar peserta larut dalam konstruksi gagasan yang saya kemukakan.
“Supaya teman-teman
tertarik, akhirnya materi ini saya beri tajuk Resep Meracik Kata. Dalam dua jam ke depan, kita akan belajar tiga
hal. Pertama, kiat menumbuhkan motivasi menulis, kemudian teknik merangkai
paragraf yang menarik, dan terakhir ragam salah kaprah yang acapkali dilakukan
penulis. Sekarang, mari kita mulai bagian pertama.”
Raut wajah peserta mulai
tampak serius. Sebagian lagi mengangguk-ngangguk. Pandangan yang tadinya
diarahkan ke laptop, kini mereka tujukan ke depan panggung, tempat saya
bernaung.
Kesuksesan ice breaking di awal presentasi membuat
rasa gugup saya hilang tak berbekas. Sejurus kemudian, lisan saya langsung
pandai memainkan perannya dalam melantangkan kata-kata. Habis bagaimana lagi,
pada dasarnya saya memang suka bercuap-cuap, sih. Hehehe.
Kawan, tentu tidak semua
materi di Semarang akan saya ulas di sini. Selain memang sifatnya terbatas,
saya juga khawatir nanti kalian bosan dan keburu pindah laman. Percayalah,
presentasi berdurasi dua jam sangat sulit diurai dalam 1.500—2.000 kata saja.
Namun tenang saja. Jangan
buru-buru kecewa. Sebab ada satu perkara istimewa yang bisa saya bagikan untuk
mengembangkan kemampuan menulis kalian. Ya, apalagi kalau bukan ragam
kekeliruan dalam menulis?
Dari sana, kita bisa
belajar memilih kata yang benar, bukan pasaran. Jadi, mari kita tajamkan pensil
dan renggangkan jari-jemari.
Sudah siap? Yakin? Oke.
Sekarang coba perhatikan gambar di bawah ini.
Di antara ketiga gambar
tersebut, manakah kalimat yang benar? Pertama, kedua, atau yang ketiga? Yang
jelas hanya ada satu jawaban yang tepat.
Tatkala saya tanyakan hal
yang sama kepada para peserta ajar, mereka terbagi menjadi tiga kubu. Sebagian
besar menjawab nomor satu. Sisanya mengacungkan tangan sembari meneriakkan
nomor dua dan tiga. Maka, sebagian dari mereka sudah pasti ada yang keliru.
Sebelum saya beri tahu
jawabannya, coba kita renungkan sejenak. Ternyata di antara kita masih ada yang
salah kaprah memilih kata pada perkara yang terlihat sederhana, seperti
menyewakan rumah. Sekali-kali, jalanlah keliling komplek perumahan. Saya berani
bertaruh kalian akan menemukan banyak kekeliruan seperti contoh gambar di atas.
Jadi, kata mana yang tepat
digunakan ketika pemilik rumah ingin menyewakan rumahnya? Oke. Jawabannya ada pada
kalimat berikut ini. Silakan teliti sepenuh hati.
Jelas, ya! Kalau mau
menyewakan rumah, kata yang tepat diterakan pada papan pengumuman adalah “dikontrakkan”,
bukan “di kontrakan” apalagi “dikontrakan”. Hati-hati! Sebab salah
memilih kata bisa berujung kekeliruan makna.
Bagi sebagian orang,
kekeliruan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Tidak perlu terlalu
diumbar-umbar atau dibesar-besarkan. Namun sebenarnya, ini adalah anggapan yang
sangat keliru. Bahkan sangat fatal bagi kelestarian bahasa Indonesia.
Sekarang, coba kita
bayangkan. Kalau kekeliruan itu berasal dari lembaga pemerintah, wakil rakyat, atau
tokoh publik nasional, maka potensi ditiru oleh orang banyak akan semakin
besar. Ujung-ujungnya, masyarakat akan semakin terjerumus ke jurang kesalahan
yang lebih dalam.
Padahal, sesuai UU
No.24/2009, bahasa Indonesia difungsikan sebagai bahasa komunikasi tingkat
nasional dan media massa. Saban peringatan Sumpah Pemuda, kita juga selalu
menggaungkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa. Maka, miris
rasanya tatkala kita keliru berbahasa Indonesia, hanya karena malas
mempelajarinya.
Pada titik ini, para
peserta di Semarang bertanya. Apakah ada tokoh publik yang keliru berbahasa
Indonesia?
Sayangnya, jawabannya ada.
Saya pun langsung menampilkan opini saya dalam surat kabar Tribun Manado 20 dan
21 Maret 2019, di depan layar presentasi. Kalian juga boleh baca, kok. Silakan!
Jujur saja, ketika
menampilkan gambar di atas, saya langsung merasa #AutoKeren. Hehehe.
Mengapa? Bukan karena keberhasilan
saya mengkritik cara berkomunikasi pemimpin bangsa dengan cara yang baik,
benar, dan elegan. Sama sekali bukan. Tetapi karena saya berhasil meluruskan
pemahaman puluhan peserta yang hadir pada saat itu tentang bagaimana semestinya
bahasa Indonesia digunakan.
Nanti dulu. Sepertinya
bukan hanya para peserta ajar saya di Semarang yang tercerahkan. Mungkin juga
kalian para pembaca dan juri yang sedang menilai artikel ini. Benar, kan?
Lantas, bagaimana dengan
seorang blogger? Apakah wajib
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kalau itu, saya kembalikan
kepada kalian. Kalau kalian tanya saya, jawabannya sudah jelas, bukan?
Nah, peran blog tentu tidak
bisa dikesampingkan dari upaya meluruskan kekeliruan berbahasa Indonesia. Sebab
pada era digital, segala informasi bisa dicari lewat Google. Jikalau blog yang
tampil di halaman pertama keliru memilih kata, maka pembaca bisa ikut-ikutan
terjerumus dalam kesalahan berbahasa.
Sebaliknya juga demikian.
Apabila blogger mau meningkatkan
kemampuan berbahasa Indonesianya, maka sudah tentu bangsa ini akan cepat
tercerahkan. Pembaca tidak perlu membolak-balik halaman surat kabar nasional
bila memerlukan informasi yang baik. Cukup mengetik beberapa kata kunci di
mesin pencari, maka artikel dengan ulasan apik dan tutur bahasa yang tepat,
bisa segera didapatkan.
Itu baru urusan konten dan
kata. Belum urusan penyedia hosting,
yang bila salah pilih, juga tak kalah berbahaya. Loading time lama, server
jebol, sering diserang spam, hingga diping-ponghelpdesk saat terjadi gangguan adalah sekelumit kisah bila kalian
menggunakan penyedia hosting
abal-abal.
Nah, supaya konten dan tutur
kata di blogpost yang sudah ciamik tidak terganggu dengan berbagai
masalah tadi, maka pilihlah penyedia hosting
yang terpercaya. Salah satunya adalah Jagoan
Hosting yang memberikan segudang keunggulan supaya
blog kalian seketika menjadi #AutoKeren.
Penasaran? Makanya jangan
buru-buru pindah laman. Simak ulasannya dalam beberapa ratus kata ke depan.
Jagoan Hosting adalah
layanan penyedia hosting dan domain
murah, serta jasa pembuatan website asal
Malang yang telah beroperasi sejak 2007. Layanan besutan PT Beon Intermedia ini
telah memenuhi kebutuhan hosting dan domain bagi lebih dari 25.000 pelanggan.
Tentu ada alasan mengapa
puluhan ribu pelanggan tersebut mempercayakan website-nya diurusi oleh Jagoan Hosting. Saya mencatat, setidaknya
ada lima keunggulan yang dimiliki oleh Jagoan Hosting. Silakan tilik infografis
berikut ini.
Pertama, murah. Jagoan
Hosting hadir dengan promo yang sulit untuk kalian lewatkan. Ya, apalagi kalau
bukan domain dan hosting berkualitas tinggi dengan harga yang sangat miring?
Untuk urusan hosting murah, Jagoan Hosting mengemasnya
dalam paket bernama Hosting
Kece.Tidak
tanggung-tanggung, paket ini dibanderol dengan harga Rp11.000 per tahun. Ya,
kalian tidak salah baca: sebelas-ribu-rupiah-per-tahun.
Dahsyat, bukan?
Selain itu, Jagoan Hosting
juga menyediakan layanan hosting dan domain murah sekaligus, yang dinamakan
dengan paket Blogger
Kece. Ya, sesuai namanya, paket ini memang sangat
cocok bagi blogger yang ingin berkembang
di jagat dunia maya.
Sudah, tinggalkan saja domain gratisan yang kalian punya. Kini,
sudah saatnya beralih ke top level domain
(TLD). Sebab biaya berlangganan paket Blogger Kece ini hanya seharga Rp50.000
per tahun! Kabar baiknya, paket ini memberikan kalian bonus 1 domain .blog dan 1 cloud mail secara cuma-cuma. Kurang apa, coba?
Bagaimana, sudah jelas?
Kalau belum, silakan teliti kembali infografis di bawah ini, ya!
Kedua, performa tangguh.
Jagoan Hosting menggunakan CloudLinux
yang memberikan jaminan kestabilan website
kalian. Selain itu, teknologi ini juga membuat laman website menjadi lebih ringan,
tangguh, dan aman.
Selain itu, paket hosting di Jagoan Hosting juga
dilengkapi dengan LiteSpeed Cache
yang akan membantu otak laptop atau komputer kalian mencerna memori secara
cepat. Alhasil, loading timewebsite akan meningkat hingga mencapai 90%.
Kapasitasnya bagaimana? Tentu
saja lumayan besar. Baik paket Hosting Kece maupun Blogger Kece, keduanya memiliki
ruang penyimpanan sebesar 200 mega byte. Rentang bandwidth pun mencapai 2,5 giga
byte. Menurut saya, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup bagi kalian
yang sekadar ingin merangkai kata di website.
Masih belum cukup? Tenang.
Bagi kalian yang tidak paham cara mengembangkan website, Jagoan Hosting juga punya solusinya. Sebab paket website di Jagoan Hosting telah
terintegrasi dengan WordPress. Tidak
perlu paham coding, kalian bisa langsung
memiliki website berpenampilan menarik.
Ketiga, aman dan nyaman. Setiap
hal yang berkaitan dengan teknologi digital, ihwal keamanan sangatlah penting.
Mengapa? Sebab kita tidak ingin data-data yang disimpan dalam hosting tiba-tiba hilang tanpa bekas.
Bersama Jagoan Hosting,
kalian tidak perlu khawatir hal ini terjadi. Sebab Jagoan Hosting memiliki
fitur back-up harian, SSL Certified, Virus Scanner, Full Managed
DNS, FTP Upload, Multi PHP Version, danphpMyAdmin.
Seluruh data yang tersimpan di website,
akan aman sentosa. Kalian cukup memikirkan konten yang positif, Jagoan Hosting
akan menjaganya baik-baik.
Aman sudah. Sekarang
tinggal kenyamanan. Jagoan Hosting membuka layanan pelanggan hingga 24 jam
dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Bila ada kendala atau hal apapun yang
ingin ditanyakan, customer service
dan teknisi profesional Jagoan Hosting akan siap siaga membantu kalian.
Untuk urusan bayar-membayar,
Jagoan Hosting juga memberikan kenyamanan untuk kalian. Sebab pilihan metode
pembayaran yang tersedia sangat variatif. Kalian bisa membayar tagihan lewat
bank (BCA dan BNI), uang elektronik (Go-Pay), kartu kredit, atau dengan uang
tunai melalui kasir Indomaret. Bagaimana? Enak, bukan?
Keempat, pilihan nama
domain yang melimpah. Bagi seorang blogger atau digitalentreprenuer, domain layaknya sebuah identitas. Domain yang baik dapat merepresentasikan ciri khas dari pemiliknya.
Maka, memilih domain sama pentingnya
dengan menentukan nama sebuah produk atau perusahaan. Bila namanya enak
didengar, maka bisnis atau pageviews pun
semakin laris.
Nah, di Jagoan Hosting,
tersedia berbagai nama domain yang
menarik. Ada com, blog, id, club, net, xyz, org, site, online, fun, asia,
store, co, us, dan masih banyak lagi. Tinggal pilih sesuai kebutuhan kalian,
Jagoan Hosting menyediakan semuanya.
Terakhir, terpercaya.Bila
empat hal di atas belum juga membuat kalian yakin dengan Jagoan Hosting, maka
ada satu keunggulan lagi. Jagoan Hosting telah dianugerahi beberapa prestasi
mentereng di bidang bisnis internet.
CEO Jagoan Hosting Danton
Prabawanto tercatat sebagai finalis Wirausaha
Muda Mandiri tahun 2009 dari Bank Mandiri. Danton juga mendapat penghargaan
yang serupa pada ajang lainnya, yakni Indonesia Small Medium Business Entreprenuer
Award (ISMBEA) pada tahun yang sama. Selain itu, Jagoan Hosting juga dianugerahi
Best Ecommerce pada ajang pemilihan website kreatif, Sparxup Awards 2011.
Nah, sederet prestasi tadi,
tentu membuat kita yakin dengan keandalan Jagoan Hosting. Kita pun paham, bahwa
deretan penghargaan tersebut bukanlah didapat dengan keberuntungan, melainkan
kerja keras dan dedikasi tinggi. Singkat kata, pembuktian tersebut menjadi
tanda bahwa Jagoan Hosting adalah penyedia hosting
yang terpercaya.
Akhir kata, supaya tambah
yakin, segera kunjungi website Jagoan Hosting di
sini. Kalian juga bisa menyimak testimoni Rifky
Setyan Ananta, pemilik dewihijab.com yang sukses meroketkan bisnisnya bersama Jagoan
Hosting lewat video di bawah ini.
“Mas, jadi apa yang harus
saya perbuat untuk menghasilkan tulisan dan konten yang menarik?” tanya salah
satu peserta. Pertanyaan itu merupakan pamungkas sesi tanya jawab sekaligus
mengakhiri rangkaian presentasi saya pada hari itu.
“Kuncinya, jujur pada diri
sendiri,” tutur saya memulai jawaban. “Saya yakin, sebenarnya kita sendiri
paham, apakah tulisan kita sudah baik, benar, dan menarik. Tatkala bersumber
dari hati dan pikiran yang ikhlas, serta didukung oleh kemauan memilih kata
yang baik dan benar, saya yakin tulisanmu sudah menarik.”
“Yang jadi masalah hanya
satu. Sudikah kalian membuka KBBI tatkala menganggit tulisan? Maukah kalian
mencari padanan kata atau thesaurus
supaya runtutan paragraf tidak membosankan?” Saya balas dengan pertanyaan
supaya ia bisa tergugah untuk berpikir sejenak.
“Singkat kata, kalian harus
bisa menempatkan kemauan di atas kemalasan. Karena sesungguhnya, hanya
satu yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kekeliruan pada tulisan kita.
Yaitu penyakit naluriah bernama malas.
Itu saja,”
***
Artikel ini diikutsertakan
dalam Lomba Review #SobatJagoan edisi
Maret 2019 yang diselenggarakan oleh Jagoan Hosting.
Foto, gambar, ikon, vektor,
dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Jagoan Hosting, dan situs langganan
berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan
memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel
ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari saluran
YouTube Jagoan Hosting.
“Tumben
sampai malam, Pak?” tanya pengojek yang saya tumpangi sepulang kerja. Sambil
menggeser status pemesanan pada aplikasi di ponselnya menjadi “sedang bersama”,
ia menyodorkan helm kepada saya.
“Kok,
bisa tahu, Mas?” Saya agak heran. Dari mana ia hafal jam pulang kerja saya?
Rasanya saya tidak pernah mengenalinya.
“Iya Pak,
saya tahu dari aplikasi ini. Menurut data di sini, saya pernah mengantar Bapak
seminggu yang lalu. Rumah Bapak di Petojo, kan?
***
Percakapan singkat kami membuka
sesi diskusi panjang pada malam itu. Meskipun tidak bertatap muka (karena ia
menyetir, sementara saya dibonceng), kami memaksa untuk tetap bersahut-sahutan.
“Sudah lama ngojek, Mas?” Saya berusaha membalikkan
keadaan. Giliran dia yang menjadi objek cecar pertanyaan.
“Lumayan, Pak. Ada kali
tiga tahun.”
“Sebelumnya kerja apa?”
Saya penasaran.
“Saya di bank swasta, Pak.
Karena bosan dengan rutinitas, akhirnya saya ngojek saja,” jawabnya setengah berteriak melawan lengkingan
klakson pengendara lain yang tidak sabaran menunggu nyala lampu hijau di
persimpangan jalan ibukota.
“Memangnya enakan ngojek,
Mas?” Saya masih penasaran.
“Oh jelas, Pak,” tuturnya
pasti. “Sewaktu di bank, saya pergi-pagi-pulang-malam, tapi gaji ga seberapa. Kalau sekarang, waktu
kerjanya semau saya. Biasanya narik dari pagi sampai siang. Habis itu makan dan
istirahat di rumah sampai sore. Selepas Maghrib, baru saya keluar lagi sampai
jam 9. Ini Bapak yang terakhir.”
“Pendapatannya?” Kepalang tanggung.
Pertanyaan pribadi pun saya luncurkan.
“Hampir dua kali lipat gaji
saya di bank. Kalau rajin, malah bisa lebih, Pak. Hehe.” Saya bisa melihat senyum
lebarnya lewat kaca spion. Menandakan kepuasan diri karena ia berhasil membuat
saya tak mengira.
“Kalau Bapak sudah lama
kerja kantoran?” Nampaknya ia mulai jengah dan mencoba balik bertanya.
“Sudah delapan tahun, Mas.
Selama itu, saya tidak hanya bertugas di Jakarta saja. Saya juga pernah
ditugaskan di Bogor, Bukittinggi, Bandung, dan Manado. Lumayan, keliling
Indonesia gratis,” jawab saya bangga.
“Hebat, ya?”
“Ah, tidak juga, Mas. Yang
hebat, ya, yang punya kantor. Saya, mah, hanya pekerja biasa,” kilah saya.
“Tapi, saya juga punya hobi
sampingan yang menghasilkan, Mas,” tutur saya tidak mau kalah. “Sama seperti
pekerjaan sampeyan, hobi saya juga
tidak dibatasi oleh waktu. Saya bisa bekerja semau dan sesuka hati saya.
Namanya ngeblog, Mas.”
“Hah, nge-bolot?”
“Bukan nge-bolot! Ngeblog, Mas. Blogger.
Itu lho, yang kerjaannya nulis artikel di website.”
Saya berusaha menerangkan dengan sabar.
“Oh, penulis, ya?” Ia mencoba
mencerna.
“Yah, sebelas-dua belas,
lah. Kalau penulis menghasilkan buku, blogger
menghasilkan blog. Dari hobi sampingan tadi, saya bisa mendapat tawaran menulis
artikel, mengajar, bekerja sama dengan orang baru, menerbitkan buku, hingga
memenangkan banyak lomba. Hasilnya lumayan, bisa buat beli gorengan.”
“Wah, asyik, ya?”
“Yah, seperti sampeyan. Karena hobi, maka saya jalani
dengan sepenuh hati. Bangga sudah pasti. Kalau ternyata bisa menghasilkan
prestasi, siapa pula yang tidak senang hati?” jawab saya penuh semringah.
Ketika saya ingin melancarkan
serangan balik dan bertanya mengenai asal-usul dan usianya, tikungan terakhir
mengurungkan kembali niat saya.
“Sudah sampai, Pak. Di
sini, kan?” Sepertinya ia bangga bisa mengetahui dengan tepat lokasi apartemen
saya tanpa melihat peta di ponselnya.
“Betul, Mas. Terima kasih,
ya!” sahut saya seraya mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dompet.
“Jangan lupa bintang lima
ya, Pak. Sukses selalu!” pesannya sambil menarik gas kencang-kencang. Dengan
cepat ia melaju untuk kembali ke peraduannya.
Sambil menatap kilauan
lampu rem sepeda motornya yang semakin memudar ditelan jarak pandang, saya
bergumam dalam hati. Ternyata revolusi industri 4.0 sudah
mengubah tatanan hidup banyak orang. Saya, dia, dan mungkin juga Anda yang
sedang membaca artikel ini. Benar, tidak?
Ya, suka atau tidak, babak
baru revolusi industri memang telah bergulir sejak beberapa tahun terakhir.
Namanya revolusi industri 4.0, episode terbaru dari revolusi industri
sebelumnya, 3.0.
Ciri yang paling kentara
dalam revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi dalam skala yang besar.
Mulai dari robot, otomasi, Internet of
Things (IoT), cloud computing, big data, hingga artificial intelligence (AI). Untuk lebih jelas, silakan teliti
infografis berikut ini.
Pada setiap edisi revolusi,
dampak yang dihasilkan relatif sama, yaitu menghadirkan perubahan bagi banyak
orang. Caranya dengan mengubah kaidah penciptaan suatu produk dan jasa dengan
teknologi sebagai tulang punggungnya. Alhasil, semua menjadi serba cepat dan canggih.
Pengojek yang saya
tumpangi, misalnya. Dengan bantuan big
data dan cloud computing, ia
mampu mengetahui dengan pasti bahwa saya adalah pelanggan yang diantarkannya
satu minggu yang lalu. Melalui rekam jejak pada aplikasinya, ia pun mampu
mengidentifikasi dengan tepat, bahwa saya adalah benar-benar pelanggan, bukan pembegal
yang kerap beraksi di tengah malam.
Sedangkan bagi saya, teknologi
yang digunakan oleh perusahaan rintisan penyedia ojek tersebut, membantu saya
pulang ke rumah dengan lebih cepat dan hemat. Saya pun tidak perlu repot-repot
membawa kendaraan. Hanya dengan memainkan jari, lima menit kemudian pesanan
ojek sudah tiba di depan batang hidung saya.
Selain memudahkan banyak
hal, revolusi industri 4.0 juga membawa segudang peluang. Lagi-lagi, percakapan
saya dengan Abang Ojek bisa dijadikan contoh nyata.
Si Pengojek rela
meninggalkan pekerjaan di bank swasta lantaran melihat peluang yang lebih baik.
Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, apa yang dilakukannya sungguh di
luar dugaan. Keluar dari bank dan menjadi pengojek bukanlah keputusan yang
biasa. Namun, ia mampu membuktikan bahwa menjadi seorang pengojek bisa lebih
sejahtera ketimbang seorang staf di bank swasta.
Dari kisahnya, setidaknya
ada dua hal yang ia dapatkan. Pertama, kebebasan waktu bekerja. Dengan beralih
profesi menjadi pengojek, ia bisa menata jam kerjanya sendiri. Ia pun bisa
menentukan waktu menjemput rezekinya secara mandiri. Berbeda dengan ketika ia
masih menjadi karyawan bank yang jam masuknya (bukan pulangnya, ya!) sudah
ditentukan dengan pasti.
Kedua, pendapatan yang
dihasilkan dua kali lebih besar, meskipun dengan waktu kerja yang relatif
fleksibel. Ia juga bisa makan dan tidur dengan tenang, kala siang hari
menjelang. Hanya bermodalkan keahlian mengendarai sepeda motor dengan baik dan
benar, ia mampu mengalahkan masa lalunya sendiri.
Bagi saya, sama saja. Blogging membuat hidup saya jadi lebih
berwarna. Ada cakrawala baru yang bisa saya nikmati, ketimbang stress dengan
rutinitas pekerjaan di kantor. Saya bisa terus mengasah kemampuan dan
menyalurkan hobi, sambil menikmati berbagai peluang dari menulis dalam jaringan
internet.
Yang paling utama, saya
bisa melakukan hobi yang menghasilkan. Bukan melulu kilauan materi, tetapi juga
deretan prestasi. Alhamdulillah, hingga
saat ini sudah puluhan kali saya menjuarai lomba menulis. Saya juga berkesempatan
tampil di depan banyak orang untuk berbagi ilmu kepenulisan. Contohnya bisa
kalian lihat di bawah ini.
Bagaimana? Keren, kan? Hehehe.
Namun demikian, bukan
berarti revolusi industri tidak punya tantangan. Kita harus pintar-pintar
menghadapi era digital seperti sekarang. Salah melangkah, bisa-bisa kita
tertinggal jauh di belakang. Maka, semestinya kita berbenah diri bila tidak mau
terlibas dalam persaingan yang super ketat.
Satu hal yang pasti, zaman
sekarang menuntut kita untuk memiliki keahlian. Iya, keahlian. Keahlian apapun
bisa kalian asah dan manfaatkan demi meraih peluang. Misalnya keahlian
mengendarai sepeda motor untuk pengojek daring. Atau keahlian menulis dan
meramu konten bagi seorang blogger.
Singkatnya, menata diri
menjadi kunci untuk mengatasi segala tantangan yang menerjang.
Tidak bisa tidak, apabila kalian tidak ingin tertinggal.
Nah, pada artikel ini, saya
akan berbagi lima resep pintar dalam menghadapi era digital. Silakan seduh kopi
atau teh terlebih dahulu. Tambah camilan atau sambil selonjoran juga boleh. Kalau sudah siap, mari kita telaah satu per
satu.
Ada sebuah peribahasa yang
patut direvisi pada zaman sekarang. Bila dahulu kita mengenal “Mulutmu,
harimaumu”, kini sudah berbeda. “Mulut dan jarimu adalah harimaumu”. Salah
memainkan jari ketika mengetik di ranah publik, maka citra diri yang akan
menjadi taruhannya.
Ya, media sosial kini sudah
menjadi gerbang bagi siapa saja untuk menangkap berbagai peluang. Bisnis
kuliner rumahan bisa memajang foto-foto produknya lewat akun Instagram. Influencer atau buzzer bekerja dengan memanfaatkan tagar dan followers di akun Twitter.
Berbagai perusahaan besar pun
berlomba-lomba menjadikan media sosial sebagai sarana interaksi dengan
pelanggan. Tujuannya, tentu saja agar produknya semakin lekat di batok kepala orang-orang.
Lembaga pemerintah dan wakil rakyat juga kerap memanfaatkan media sosial
sebagai alat untuk membuat dan mengomunikasikan kebijakan.
Peran media sosial memang
tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab Hootsuite dalam laporan bertajuk Digital 2019 in Indonesia menyebutkan
bahwa saat ini ada 150 juta pengguna sosial media aktif di Indonesia. Dalam
sehari, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh orang Indonesia untuk bermedia
sosial adalah sekitar 3,5 jam!
Begitu pentingnya media
sosial mengharuskan penggunanya untuk tetap berhati-hati. Sebab salah sebar
informasi bisa berujung tudingan hoaks atau pemblokiran. Keliru curhat dan
mengeluh berlebihan di media sosial bisa mengundang gunjingan. Wong, yang benar saja bisa jadi salah,
apalagi yang jelas-jelas salah?
Bagi kaum milenial, media
sosial kini layaknya potret diri. Kita adalah apa yang kita tayangkan (posting). Ini memengaruhi banyak hal,
misalnya ketika hendak melamar kerja.
Berbagai perusahaan sudah
tidak membutuhkan biodata (CV) panjang-panjang. Cukup dengan meneliti akun
media sosial kalian, maka para data
scientist akan menyajikan beragam fakta yang menentukan layak atau tidaknya
kalian bekerja.
Bagi seorang freelancer sama saja. Salah tayang atau keliru
berucap di media sosial, bisa berujung viral. Alhasil, tawaran pekerjaan dari
agensi menjadi berkurang dan pendapatan akan semakin terancam. Kita tidak ingin
begitu, kan?
Oleh karena itu, kuncinya
adalah mengendalikan diri. Saring sebelum sharing,
teliti sebelum tayang. Jangan melulu pakai nafsu. Gunakan pula otak kalian
untuk menentukan kebenaran konten yang ingin disebarkan. Setuju?
Seperti yang telah saya singgung,
keahlian atau skill sangat dibutuhkan
dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Dalam lingkup yang terbatas,
keahlian yang terkesan “sederhana” bisa jadi sangat berguna bila ditekuni
dengan cara yang istimewa.
Bila Anda jago memasak,
maka jangan takut memajang foto sajian yang Anda buat di dunia maya. Karena
siapa tahu ada yang mengajak kerja sama membuka bisnis kuliner, atau ditawari
pekerjaan menjadi koki di restoran bintang lima.
Demikian halnya bila Anda
ahli memainkan jari di tubuh orang. Jangan salah sangka, maksudnya memijit, ya!
Coba kita terka, berapa banyak pemijit yang bisa menghidupi dirinya lewat
layanan pesan antar pada aplikasi di ponsel? Dengan teknologi, para pemijit
bisa mendapat rezeki dari arah yang tak pernah ia duga.
Itu baru dua contoh
sederhana. Belum berbagai keahlian mentereng lainnya seperti data scientist, social media experts, digital
entrepreneur incubator, payment
systems analyst, dan sebagainya. Tentu keahlian seperti ini sangatlah
dibutuhkan pada era digital. Sebab jangankan yang rumit, yang sederhana saja bisa
laris di pasaran. Iya, kan?
Oleh karena itu, jangan
pernah takut untuk memilih keahlian yang cocok dengan diri kalian. Lakukan
secara benar dan tekuni dengan gigih. Multitasking,
pada beberapa kondisi, memang tetap diperlukan. Akan tetapi, sebaiknya jadilah
ahli dalam satu bidang terlebih dahulu, baru kemudian menekuni bidang yang
lainnya.
Ingat-ingat pesan saya. Selain menggigit kuping sendiri, semua bisa
dilakukan pada era digital.
Ada satu hal yang patut
kalian ketahui untuk menghadapi tantangan pada era industri 4.0. Kita tidak
bisa lagi berjalan sendirian, melainkan harus saling merangkul dan bergandeng
tangan. Singkatnya, kolaborasi!
Supaya mudah dicerna, saya
kasih contoh nyata. Ini merupakan pengalaman saya pribadi, bukan hanya sekadar
teori.
Tiga bulan lalu saya
mengadakan lomba menulis yang saya namai dengan “Kompetisi Blog Nodi”.
Tujuannya ingin berbagi kepada bloggers
di Indonesia, sekaligus mengembangkan dunia literasi di dalam negeri.
Singkat cerita, saya ingin
kompetisi ini berjalan dengan mulus. Mulai dari persyaratan, jangka waktu
penyelenggaraan, hingga tata cara penilaian. Maka, saya pun tidak bisa berjalan
sendirian. Pengalaman saya minim, karena ini merupakan kompetisi pertama yang
saya selenggarakan secara mandiri.
Alhamdulillah, ada
tiga orang ternama yang berkenan membantu saya. Ketiganya bertugas sebagai
juri, sekaligus teman bertukar pikiran untuk mencari solusi apabila ada kendala
selama kompetisi berlangsung. Mereka adalah Khrisna Pabichara, Joe Candra, dan
Nabilla DP.
Hasilnya sungguh di luar
dugaan. Kompetisi Blog Nodi diikuti
oleh 438 peserta dari seluruh Indonesia! Saya senang bukan kepalang. Sebab
meski hadiahnya mungkin tidak terlalu istimewa, akan tetapi atensi blogger sungguh luar biasa. Tidak kalah dengan
kompetisi yang diadakan oleh perusahaan ternama, padahal yang mengurus hanya
empat orang saja.
Pengalaman tersebut
menambah tebal keyakinan saya. Bila ingin #BuildSuccessOnline, maka
kolaborasi menjadi kunci utama. Rumusnya sudah kita ketahui: silaturahmi memperpanjang rezeki. Maka,
silakan bersilaturahmi dengan siapa saja yang berpikiran positif bila ingin mendulang
banyak rezeki.
Kunci keempat adalah jangan
cepat berpuas diri. Sebab puas sejatinya sangat lekat dengan malas. Sebaliknya,
bila kita selalu haus, maka gairah belajar akan terus menyala.
Untungnya era industri 4.0
memudahkan kita dalam mempelajari banyak hal. Mau jadi YouTuber, misalnya. Maka Anda bisa belajar dari video tutorial
mengedit video yang banyak berserakan di berbagai channel YouTube. Cukup bermodal kuota data dua giga, maka niscaya
kalian bisa belajar langsung dari ahlinya.
Demikian halnya dengan
seorang blogger. Bila ingin
mempercantik konten dengan sentuhan infografis, maka ia bisa mencari artikel
yang relevan di Google. Saat membutuhkan data, ia bisa mencari di berbagai
situs penyedia data. Atau tatkala ingin belajar teknik memotret gambar, maka ia
pun bisa memelototi foto-foto kece di banyak akun Instagram.
Dunia bisnis juga sama.
Ketika ingin memulai bisnis kopi, maka kalian bisa belajar dari kisah sukses
pebisnis kopi pada halaman pertama mesin pencarian. Mulai dari siapa
pemasoknya, bagaimana cara memasarkannya, hingga berapa modal dan keuntungannya,
semua bisa kalian temukan lewat bantuan internet. Mudah, bukan?
Kalau sudah begitu, yang
tersisa tinggal satu, yaitu kemauan. Bila sifat itu kalian tanamkan di dalam
diri, maka ilmu akan datang dengan mudah. Sebaliknya juga demikian. Kalau
malas, ya mohon maaf, ujung-ujungnya kalian akan terlibas.
Kunci terakhir adalah
promosi. Percuma bila kalian sudah memiliki keahlian namun tidak pandai
mempromosikan diri. Blogger
berprestasi pun butuh laman berjudul “portfolio”
atau “achievement”
untuk menyajikan rekam jejaknya. Supaya dunia tahu betul kita ini sebenarnya siapa
dan apa keahlian yang membuat kita berbeda.
Lembaga riset IDN Research
Institute dalam Indonesia Millenial
Report 2019 menjelaskan bahwa 70% kalangan milenial Indonesia mengakses informasi
lewat media digital. Artinya, media digital adalah sarana promosi yang paling
efektif. Oleh karena itu, peran website
menjadi sangat penting untuk meraih kesuksesan pada era revolusi industri 4.0.
Bicara mengenai website, tentu kita harus memerhatikan
kualitas layanan dari penyedia hosting.
Salah memilih, ujung-ujungnya bisa merugi. Misalnya ketika loading timewebsite
menjadi lama, spam yang tidak
tersaring dengan baik, biaya yang kemahalan, atau keluhan yang tidak ditindaklanjuti
dengan benar. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?
Oleh karena itu, saya
menyarankan kalian cermat dalam memilih penyedia hosting. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik seperti
Niagahoster.
Karena ada empat keunggulan yang bisa kalian manfaatkan demi meraih impian.
Kalian bisa tilik infografis di bawah ini.
Pertama, Niagahoster
memberikan garansi harga termurah,
tetapi dengan fasilitas yang sangat mewah. Hanya dengan Rp8.000 per bulan,
kalian sudah bisa membeli Paket Bayi
dengan fitur unlimited bandwidth, databases, dan SSL.
Bila mau lebih lengkap,
kalian juga bisa memilih tiga paket lainnya, yaitu Pelajar (Rp38.900 per bulan), Personal
(Rp23.807 per bulan), dan Bisnis
(Rp84.564 per bulan). Ketiganya telah dilengkapi dengan fitur domain gratis. Selengkapnya
bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Kedua, Niagahoster
memberikan dukungan terbaik bagi
kalian. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan website, bisa disediakan oleh penyedia hosting besutan PT Web Media Technology Indonesia ini. Mulai dari Web Hosting, Cloud VPS, WordPress Hosting,
Email Hosting, Registrasi Domain,
hingga Sertifikat SSL.
Bagi kalian yang awam
dengan website tetapi ingin mengembangkan
bisnis secara digital, Niagahoster juga menyediakan jasa pembuatan website. Jangan khawatir gagal, karena
sudah lebih dari 500 pelanggan telah mempercayakan website-nya diracik oleh Niagahoster.
Ketiga, Niagahoster
memberikan rasaaman dan nyaman. Sebab rasio server uptime-nya mencapai 99,98%. Artinya, kalian hampir tidak akan
menjumpai kendala server bila menggunakan jasa hosting di Niagahoster.
Terakhir, ini
yang paling penting. Niagahoster memberikan garansi 30 hari uang
kembali bila kalian tidak puas dengan layanan yang diberikan. Coba
saja dulu. Bila kurang berkenan, maka Niagahoster akan mengembalikan picis kalian.
Dengan empat keunggulan di
atas, maka Niagahoster bisa menjadi partner
yang tepat dalam mempromosikan diri di media digital. Bila ingin tahu lebih
lanjut tentang Niagahoster, maka kalian bisa kunjungi website-nya di sini, atau simak videonya berikut ini.
Revolusi industri 4.0
menjadikan kehidupan serba digital. Ada banyak kemudahan yang bisa kita
dapatkan lewat teknologi dan digitalisasi. Mau apa saja, cukup mainkan ibu
jari.
Namun, era digital juga
memberikan segudang tantangan yang harus kita hadapi. Bila tidak pintar-pintar
menghadapinya, bisa-bisa kita malah gigit jari. Keahlian saja tidak cukup,
karena cara mempromosikan diri juga bisa menentukan rezeki dan prestasi.
Akhir kata, semoga lima
resep pintar yang saya urai bisa membuat kalian tidak lekas berpuas diri dan
terus belajar lagi. Juga menjadikan kalian pandai menangkap peluang dengan
terus berkolaborasi. Jangan lupa, selalu berdoa kepada Yang Maha Pemberi
Rezeki.
Maka, segeralah berbenah
diri dan selamat menghadapi era digital, Kawan Pintar!
***
Artikel ini diikutsertakan
dalam Niagahoster Blog Competition
yang diselenggarakan oleh Niagahoster. Informasi mengenai kompetisi ini telah
disebar melalui akun Twitter dan Facebook penulis.
Foto, gambar, ikon, vektor,
dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Niagahoster, dan situs langganan
berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan
memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel
ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari channel YouTube Niagahoster.
Hello, you can call me Nodi. I'm a blogger who also work as an analyst in a state institution. Infographic enthusiast and Nadia Fitri's lover. For business inquiries, please view my contact.