Beranda

Navigation Menu

Showing posts with label hosting murah. Show all posts

Dua Jenis Server Populer untuk Hosting

Dua Jenis Server Populer untuk Hosting

Server merupakan sistem komputer yang memberikan layanan dalam jaringan komputer. Server juga menjalankan tugasnya sebagai perangkat lunak atau software yang berfungsi mengontrol setiap akses pada jaringan yang terdapat di dalam komputer.
Fungsi dari server adalah melayani permintaan data, mengatur jalannya lalu lintas, menyimpan data, menyediakan sumber daya, mengatur dan berkewajiban memberikan akses jaringan pada klien, serta menyediakan aplikasi dan data yang diperlukan klien.
Server memiliki banyak keterkaitan dengan hosting. Jika tidak ada server, hosting tidak akan berjalan dan Anda tidak dapat terhubung dengan website, dengan blog, dengan Google, dengan media sosial, serta dengan aplikasi-aplikasi menarik yang saat ini sedang viral. Selain itu untuk menciptakan sebuah server pada komputer, maka dibutuhkan perangkat keras atau hardware seperti Ram, Processor, dan Hard Drive.
Ada banyak pertanyaan yang dilontarkan para klien mengenai cara kerja server. Cara kerja server pada umumnya adalah server yang menjadi penyedia data, kemudian klien, atau Anda, atau bisa jadi sistem otomatis yang berperan sebagai peminta data yang harus dilayani oleh server.
Nah, tahukah Anda jika server memiliki banyak jenis. Tidak semua server bertugas memegang kendali kepada klien. Karena jika hal itu terjadi kemungkinan besar akan terjadi gangguan seperti loading, error, dan hambatan lainnya yang mengganggu permintaan klien. Begitu pula dengan hosting. Hosting juga bisa disebut dengan klien dan server adalah pelayan atau penyedia data.
Pada dasarnya cara kerja server dan klien sangat sederhana, yaitu server sebagai penyedia data dan klien sebagai peminta data. Namun tidak semua klien dilayani oleh server, mengingat server memiliki banyak jenis dan tugas masing-masing.
Inilah dua jenis server untuk menemukan hosting, atau menemukan semua yang klien minta pada jaringan sistem komputer.

Proxy Server

Proxy server bisa disebut juga dengan peladen proxy atau pelayan proxy. Proxy server adalah sebuah progam komputer yang melakukan permintaan pada konten yang berasal dari internet. Proxy server berfungsi sebagai pengaman jaringan pribadi yang dihubungkan pada jaringan publik. Server ini dapat beroperasi pada tingkat yang paling tinggi dan memiliki kontrol terhadap akses jaringan dari klien. Dengan kata lain, tugas dari proxy server ini adalah menjaga keamanan pada jaringan pribadi klien.

Proxy Server

Fungsi dari proxy server menurut cara kerjanya sebagai penyedia data adalah sebagai pembatas antara pemakaian jaringan lokal maupun jaringan luar, sebagai media penyaringan atau filtering untuk meminimalisir kegagalan, dan menyimpan data dalam bentuk cache.
Proxy server juga memiliki banyak manfaat jika Anda gunakan sebagai pendukung hosting website Anda. Antara lain dapat menghemat bandwidth yang berasal dari koneksi internet atau situs-situs yang pernah Anda kunjungi pada perangkat yang sama. Proxy server juga memiliki kelebihan meningkatkan kinerja internet dengan adanya penghematan dari bandwith. Dan manfaat yang terakhir ketika menggunakan proxy server adalah Anda akan aman dari situs tanpa izin yang berkeliaran di internet.

DNS Server

DNS Server adalah kepanjangan dari domain name server. Pada umumnya untuk mengakses internet Anda membutuhkan IP alamat pada sebuah website. DNS berfungsi untuk meminta informasi IP address pada website berdasarkan nama domain dan web hosting murah. Lalu DNS mengajukan informasi URL pada sebuah website berdasarkan IP yang sudah dimasukkan. Fungsi dari server ini yang paling umum adalah mencari server untuk mengirimkan data atau email.
Cara kerja DNS server adalah dengan cara mencocokkan nama komponen URL dengan komponen IP address komputer. Dan ternyata URL dan IP address memiliki bagian tertentu yang menjelaskan satu dengan yang lain dan saling berkaitan. Cara kerja DNS yang pertama bisa dimulai dengan DNS query. Pada saat Anda mengetik URL atau link ke address bar, dan alamat yang dicari tidak berhasil ditemukan, maka server berusaha mencari berbagai informasi dan direkam dengan cache.

DNS Server

Kemudian ada recursive query. Kurang lebih tugas dari recursive query adalah memberikan hostname, selanjutnya DNS resolver memberikan jawabannya. Yang ketiga adalah Iterative Query. Dengan memasukkan hostname, DNS akan mencari cache yang tepat pada memori server.
Jika server gagal atau tidak berhasil, maka DNS resolver akan mencari informasi penyebab ketidakberhasilan di Root Server atau Authoritative name server yang notabene adalah server yang paling dekat dengan DNS Zone.
Sekian artikel mengenai dua jenis server popular yang bisa Anda gunakan untuk keperluan hosting website Anda. Ada banyak server yang bisa Anda coba, tetapi tidak sedikit klien yang menggunakan proxy server dan DNS server.
Jika Anda masih bingung memahami jenis-jenis server dan bagaimana cara kerjanya, Anda bisa meminta bantuan dengan bergabung bersama Domainesia.com. Tidak hanya di bombing, Anda juga akan di layani sebagaimana klien dari server hosting.

Secuil Kisah #AutoKeren dari Semarang



“Hari Sabtu minggu depan ngajar nulis di Semarang mau ga, Nod?” Suara Rafael terdengar bersemangat dari balik gagang telepon kantor.
Jikalau ada orang yang mengenal saya lewat akun Instagram, lantas ia beranggapan bahwa saya jago menulis, tentu saja saya tidak heran. Sebab saya memang sengaja menampilkan deretan prestasi kepenulisan di akun media sosial. Namun tatkala ada rekan sejawat di kantor yang meminta saya mengajar ilmu kepenulisan, bagi saya, ini baru luar biasa.
“Kalau Bapak El sudah memerintah, saya harus menjawab, siap laksanakan!” canda saya kepada Rafael sekaligus menerima tantangan yang ia suguhkan.
Dan tepat pada Jumat sore, terbanglah saya ke Semarang dengan membawa sebuah laptop dan segudang harapan.
***
Jujur saja. Bagi saya, menulis memang telah menjadi makanan sehari-hari. Di kantor, tiada hari tanpa menulis. Ada kajian, laporan, hingga analisis penuh grafik dan deret angka yang harus saya rampungkan.
Maklum saja, kantor saya memang berkutat di bidang ekonomi dan keuangan. Jadi, mata saya sudah terbiasa memindai ribuan aksara dan angka saban hari kerja.
Sepulang kerja sama saja. Saya terbiasa menganggit berbagai artikel pada malam hari atau akhir pekan. Entah untuk kepentingan lomba blog, merangkai opini di surat kabar, mengisi kolom untuk majalah kantor, atau sekadar mengeluarkan unek-unek yang terpendam.
Kalau berhasil menang lomba, ya, alhamdulillah. Tatkala tulisan saya tembus di koran lokal, tentu saja saya bangga. Jangankan kedua hal tadi. Bila ide sudah tersalurkan lewat untaian kata dan titik terakhir kelar ditaja, saya juga sudah sangat bergembira.


Walaupun terbiasa menulis, akan tetapi mengajar ilmu kepenulisan itu bagaikan dimensi yang jauh berbeda. Sebab jika biasanya tulisan saya digunakan untuk kepentingan pekerjaan dan hobi semata, kini saya harus mengajari para penulis kantoran.
Letak perbedaan sebenarnya ada pada ihwal kebenaran. Jikalau salah ketik (typo) atau alpa menaruh titik pada karya tulis sendiri, tentu hanya saya yang merasakan efek negatifnya. Dikoreksi atasan atau gagal menjuarai lomba adalah dua contoh dampak yang ditimbulkan. Setelahnya, hanya tersisa dua hal: bersabar dan mau kembali belajar.
Namun jikalau saya sampai salah mengajari ilmu menulis, maka imbasnya bisa ke mana-mana. Konsekuensinya, peserta yang saya ajari bisa keliru mengudar kata-kata atau kalimat berbahasa Indonesia. Lebih-lebih, mereka adalah pengelola konten situs intranet kantor perwakilan dari seluruh Indonesia. Kalau sudah begini, tentu citra diri dan karier saya yang menjadi taruhannya.
Maka, berangkat ke Semarang dan menerima tugas mengajar bukanlah sebuah hiburan. Ini adalah tantangan yang wajib saya tuntaskan. Rasa gugup dan galau tentu saya rasakan. Namun, berbekal ilmu dan pengalaman yang jauh dari kata asal-asalan, saya tampil percaya diri di depan podium dan memulai pelajaran.



“Assalamualaikum. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Perkenalkan, nama saya Adhi Nugroho, biasa dipanggil Nodi. Hari ini kita akan sama-sama belajar tentang Resep Meracik Kata,” tutur saya membuka sesi presentasi sambil memegang pengeras suara.
“Mengapa bukan Kiat Menulis yang Baik dan Benar atau Delapan Cara Menulis Popular? Tentu ada alasan mengapa materi ini saya beri judul Resep Meracik Kata.” Sengaja saya pancing dengan pertanyaan sederhana demi merangsang otak pemirsa agar mulai bekerja.
“Teman-teman sekalian, judul adalah wajah dari tulisan. Jikalau indah dibaca dan enak didengar, maka pembaca akan tergugah masuk ke dalam. Dengan memilih judul yang tepat, niscaya pembaca mudah larut dalam nikmat.”


Mata saya mulai menyapu audiens dari pojok kanan hingga sudut kiri. Saya biarkan aula diliputi keheningan, agar peserta larut dalam konstruksi gagasan yang saya kemukakan.
“Supaya teman-teman tertarik, akhirnya materi ini saya beri tajuk Resep Meracik Kata. Dalam dua jam ke depan, kita akan belajar tiga hal. Pertama, kiat menumbuhkan motivasi menulis, kemudian teknik merangkai paragraf yang menarik, dan terakhir ragam salah kaprah yang acapkali dilakukan penulis. Sekarang, mari kita mulai bagian pertama.”
Raut wajah peserta mulai tampak serius. Sebagian lagi mengangguk-ngangguk. Pandangan yang tadinya diarahkan ke laptop, kini mereka tujukan ke depan panggung, tempat saya bernaung.
Kesuksesan ice breaking di awal presentasi membuat rasa gugup saya hilang tak berbekas. Sejurus kemudian, lisan saya langsung pandai memainkan perannya dalam melantangkan kata-kata. Habis bagaimana lagi, pada dasarnya saya memang suka bercuap-cuap, sih. Hehehe.
Kawan, tentu tidak semua materi di Semarang akan saya ulas di sini. Selain memang sifatnya terbatas, saya juga khawatir nanti kalian bosan dan keburu pindah laman. Percayalah, presentasi berdurasi dua jam sangat sulit diurai dalam 1.500—2.000 kata saja.
Namun tenang saja. Jangan buru-buru kecewa. Sebab ada satu perkara istimewa yang bisa saya bagikan untuk mengembangkan kemampuan menulis kalian. Ya, apalagi kalau bukan ragam kekeliruan dalam menulis?
Dari sana, kita bisa belajar memilih kata yang benar, bukan pasaran. Jadi, mari kita tajamkan pensil dan renggangkan jari-jemari.
Sudah siap? Yakin? Oke. Sekarang coba perhatikan gambar di bawah ini.


Di antara ketiga gambar tersebut, manakah kalimat yang benar? Pertama, kedua, atau yang ketiga? Yang jelas hanya ada satu jawaban yang tepat.
Tatkala saya tanyakan hal yang sama kepada para peserta ajar, mereka terbagi menjadi tiga kubu. Sebagian besar menjawab nomor satu. Sisanya mengacungkan tangan sembari meneriakkan nomor dua dan tiga. Maka, sebagian dari mereka sudah pasti ada yang keliru.
Sebelum saya beri tahu jawabannya, coba kita renungkan sejenak. Ternyata di antara kita masih ada yang salah kaprah memilih kata pada perkara yang terlihat sederhana, seperti menyewakan rumah. Sekali-kali, jalanlah keliling komplek perumahan. Saya berani bertaruh kalian akan menemukan banyak kekeliruan seperti contoh gambar di atas.
Jadi, kata mana yang tepat digunakan ketika pemilik rumah ingin menyewakan rumahnya? Oke. Jawabannya ada pada kalimat berikut ini. Silakan teliti sepenuh hati.


Jelas, ya! Kalau mau menyewakan rumah, kata yang tepat diterakan pada papan pengumuman adalah “dikontrakkan”, bukan “di kontrakan” apalagi “dikontrakan”. Hati-hati! Sebab salah memilih kata bisa berujung kekeliruan makna.
Bagi sebagian orang, kekeliruan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Tidak perlu terlalu diumbar-umbar atau dibesar-besarkan. Namun sebenarnya, ini adalah anggapan yang sangat keliru. Bahkan sangat fatal bagi kelestarian bahasa Indonesia.
Sekarang, coba kita bayangkan. Kalau kekeliruan itu berasal dari lembaga pemerintah, wakil rakyat, atau tokoh publik nasional, maka potensi ditiru oleh orang banyak akan semakin besar. Ujung-ujungnya, masyarakat akan semakin terjerumus ke jurang kesalahan yang lebih dalam.
Padahal, sesuai UU No.24/2009, bahasa Indonesia difungsikan sebagai bahasa komunikasi tingkat nasional dan media massa. Saban peringatan Sumpah Pemuda, kita juga selalu menggaungkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa. Maka, miris rasanya tatkala kita keliru berbahasa Indonesia, hanya karena malas mempelajarinya.
Pada titik ini, para peserta di Semarang bertanya. Apakah ada tokoh publik yang keliru berbahasa Indonesia?
Sayangnya, jawabannya ada. Saya pun langsung menampilkan opini saya dalam surat kabar Tribun Manado 20 dan 21 Maret 2019, di depan layar presentasi. Kalian juga boleh baca, kok. Silakan!


Jujur saja, ketika menampilkan gambar di atas, saya langsung merasa #AutoKeren. Hehehe.
Mengapa? Bukan karena keberhasilan saya mengkritik cara berkomunikasi pemimpin bangsa dengan cara yang baik, benar, dan elegan. Sama sekali bukan. Tetapi karena saya berhasil meluruskan pemahaman puluhan peserta yang hadir pada saat itu tentang bagaimana semestinya bahasa Indonesia digunakan.
Nanti dulu. Sepertinya bukan hanya para peserta ajar saya di Semarang yang tercerahkan. Mungkin juga kalian para pembaca dan juri yang sedang menilai artikel ini. Benar, kan?



Lantas, bagaimana dengan seorang blogger? Apakah wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kalau itu, saya kembalikan kepada kalian. Kalau kalian tanya saya, jawabannya sudah jelas, bukan?
Nah, peran blog tentu tidak bisa dikesampingkan dari upaya meluruskan kekeliruan berbahasa Indonesia. Sebab pada era digital, segala informasi bisa dicari lewat Google. Jikalau blog yang tampil di halaman pertama keliru memilih kata, maka pembaca bisa ikut-ikutan terjerumus dalam kesalahan berbahasa.
Sebaliknya juga demikian. Apabila blogger mau meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesianya, maka sudah tentu bangsa ini akan cepat tercerahkan. Pembaca tidak perlu membolak-balik halaman surat kabar nasional bila memerlukan informasi yang baik. Cukup mengetik beberapa kata kunci di mesin pencari, maka artikel dengan ulasan apik dan tutur bahasa yang tepat, bisa segera didapatkan.
Itu baru urusan konten dan kata. Belum urusan penyedia hosting, yang bila salah pilih, juga tak kalah berbahaya. Loading time lama, server jebol, sering diserang spam, hingga diping-pong helpdesk saat terjadi gangguan adalah sekelumit kisah bila kalian menggunakan penyedia hosting abal-abal.
Nah, supaya konten dan tutur kata di blogpost yang sudah ciamik tidak terganggu dengan berbagai masalah tadi, maka pilihlah penyedia hosting yang terpercaya. Salah satunya adalah Jagoan Hosting yang memberikan segudang keunggulan supaya blog kalian seketika menjadi #AutoKeren.
Penasaran? Makanya jangan buru-buru pindah laman. Simak ulasannya dalam beberapa ratus kata ke depan.



Jagoan Hosting adalah layanan penyedia hosting dan domain murah, serta jasa pembuatan website asal Malang yang telah beroperasi sejak 2007. Layanan besutan PT Beon Intermedia ini telah memenuhi kebutuhan hosting dan domain bagi lebih dari 25.000 pelanggan.
Tentu ada alasan mengapa puluhan ribu pelanggan tersebut mempercayakan website-nya diurusi oleh Jagoan Hosting. Saya mencatat, setidaknya ada lima keunggulan yang dimiliki oleh Jagoan Hosting. Silakan tilik infografis berikut ini.


Pertama, murah. Jagoan Hosting hadir dengan promo yang sulit untuk kalian lewatkan. Ya, apalagi kalau bukan domain dan hosting berkualitas tinggi dengan harga yang sangat miring?
Untuk urusan hosting murah, Jagoan Hosting mengemasnya dalam paket bernama Hosting Kece. Tidak tanggung-tanggung, paket ini dibanderol dengan harga Rp11.000 per tahun. Ya, kalian tidak salah baca: sebelas-ribu-rupiah-per-tahun. Dahsyat, bukan?
Selain itu, Jagoan Hosting juga menyediakan layanan hosting dan domain murah sekaligus, yang dinamakan dengan paket Blogger Kece. Ya, sesuai namanya, paket ini memang sangat cocok bagi blogger yang ingin berkembang di jagat dunia maya.
Sudah, tinggalkan saja domain gratisan yang kalian punya. Kini, sudah saatnya beralih ke top level domain (TLD). Sebab biaya berlangganan paket Blogger Kece ini hanya seharga Rp50.000 per tahun! Kabar baiknya, paket ini memberikan kalian bonus 1 domain .blog dan 1 cloud mail secara cuma-cuma. Kurang apa, coba?
Bagaimana, sudah jelas? Kalau belum, silakan teliti kembali infografis di bawah ini, ya!


Kedua, performa tangguh. Jagoan Hosting menggunakan CloudLinux yang memberikan jaminan kestabilan website kalian. Selain itu, teknologi ini juga membuat laman website menjadi lebih ringan, tangguh, dan aman.
Selain itu, paket hosting di Jagoan Hosting juga dilengkapi dengan LiteSpeed Cache yang akan membantu otak laptop atau komputer kalian mencerna memori secara cepat. Alhasil, loading time website akan meningkat hingga mencapai 90%.
Kapasitasnya bagaimana? Tentu saja lumayan besar. Baik paket Hosting Kece maupun Blogger Kece, keduanya memiliki ruang penyimpanan sebesar 200 mega byte. Rentang bandwidth pun mencapai 2,5 giga byte. Menurut saya, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup bagi kalian yang sekadar ingin merangkai kata di website.
Masih belum cukup? Tenang. Bagi kalian yang tidak paham cara mengembangkan website, Jagoan Hosting juga punya solusinya. Sebab paket website di Jagoan Hosting telah terintegrasi dengan WordPress. Tidak perlu paham coding, kalian bisa langsung memiliki website berpenampilan menarik.


Ketiga, aman dan nyaman. Setiap hal yang berkaitan dengan teknologi digital, ihwal keamanan sangatlah penting. Mengapa? Sebab kita tidak ingin data-data yang disimpan dalam hosting tiba-tiba hilang tanpa bekas.
Bersama Jagoan Hosting, kalian tidak perlu khawatir hal ini terjadi. Sebab Jagoan Hosting memiliki fitur back-up harian, SSL Certified, Virus Scanner, Full Managed DNS, FTP Upload, Multi PHP Version, dan phpMyAdmin. Seluruh data yang tersimpan di website, akan aman sentosa. Kalian cukup memikirkan konten yang positif, Jagoan Hosting akan menjaganya baik-baik.
Aman sudah. Sekarang tinggal kenyamanan. Jagoan Hosting membuka layanan pelanggan hingga 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Bila ada kendala atau hal apapun yang ingin ditanyakan, customer service dan teknisi profesional Jagoan Hosting akan siap siaga membantu kalian.
Untuk urusan bayar-membayar, Jagoan Hosting juga memberikan kenyamanan untuk kalian. Sebab pilihan metode pembayaran yang tersedia sangat variatif. Kalian bisa membayar tagihan lewat bank (BCA dan BNI), uang elektronik (Go-Pay), kartu kredit, atau dengan uang tunai melalui kasir Indomaret. Bagaimana? Enak, bukan?


Keempat, pilihan nama domain yang melimpah. Bagi seorang blogger atau digital entreprenuer, domain layaknya sebuah identitas. Domain yang baik dapat merepresentasikan ciri khas dari pemiliknya. Maka, memilih domain sama pentingnya dengan menentukan nama sebuah produk atau perusahaan. Bila namanya enak didengar, maka bisnis atau pageviews pun semakin laris.
Nah, di Jagoan Hosting, tersedia berbagai nama domain yang menarik. Ada com, blog, id, club, net, xyz, org, site, online, fun, asia, store, co, us, dan masih banyak lagi. Tinggal pilih sesuai kebutuhan kalian, Jagoan Hosting menyediakan semuanya.


Terakhir, terpercaya. Bila empat hal di atas belum juga membuat kalian yakin dengan Jagoan Hosting, maka ada satu keunggulan lagi. Jagoan Hosting telah dianugerahi beberapa prestasi mentereng di bidang bisnis internet.
CEO Jagoan Hosting Danton Prabawanto tercatat sebagai finalis Wirausaha Muda Mandiri tahun 2009 dari Bank Mandiri. Danton juga mendapat penghargaan yang serupa pada ajang lainnya, yakni Indonesia Small Medium Business Entreprenuer Award (ISMBEA) pada tahun yang sama. Selain itu, Jagoan Hosting juga dianugerahi Best Ecommerce pada ajang pemilihan website kreatif, Sparxup Awards 2011.


Nah, sederet prestasi tadi, tentu membuat kita yakin dengan keandalan Jagoan Hosting. Kita pun paham, bahwa deretan penghargaan tersebut bukanlah didapat dengan keberuntungan, melainkan kerja keras dan dedikasi tinggi. Singkat kata, pembuktian tersebut menjadi tanda bahwa Jagoan Hosting adalah penyedia hosting yang terpercaya.
Akhir kata, supaya tambah yakin, segera kunjungi website Jagoan Hosting di sini. Kalian juga bisa menyimak testimoni Rifky Setyan Ananta, pemilik dewihijab.com yang sukses meroketkan bisnisnya bersama Jagoan Hosting lewat video di bawah ini.




“Mas, jadi apa yang harus saya perbuat untuk menghasilkan tulisan dan konten yang menarik?” tanya salah satu peserta. Pertanyaan itu merupakan pamungkas sesi tanya jawab sekaligus mengakhiri rangkaian presentasi saya pada hari itu.
“Kuncinya, jujur pada diri sendiri,” tutur saya memulai jawaban. “Saya yakin, sebenarnya kita sendiri paham, apakah tulisan kita sudah baik, benar, dan menarik. Tatkala bersumber dari hati dan pikiran yang ikhlas, serta didukung oleh kemauan memilih kata yang baik dan benar, saya yakin tulisanmu sudah menarik.”
“Yang jadi masalah hanya satu. Sudikah kalian membuka KBBI tatkala menganggit tulisan? Maukah kalian mencari padanan kata atau thesaurus supaya runtutan paragraf tidak membosankan?” Saya balas dengan pertanyaan supaya ia bisa tergugah untuk berpikir sejenak.
“Singkat kata, kalian harus bisa menempatkan kemauan di atas kemalasan. Karena sesungguhnya, hanya satu yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kekeliruan pada tulisan kita. Yaitu penyakit naluriah bernama malas. Itu saja,”
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Review #SobatJagoan edisi Maret 2019 yang diselenggarakan oleh Jagoan Hosting.
Foto, gambar, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Jagoan Hosting, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube Jagoan Hosting.

Resep Pintar Menghadapi Era Digital



“Tumben sampai malam, Pak?” tanya pengojek yang saya tumpangi sepulang kerja. Sambil menggeser status pemesanan pada aplikasi di ponselnya menjadi “sedang bersama”, ia menyodorkan helm kepada saya.
“Kok, bisa tahu, Mas?” Saya agak heran. Dari mana ia hafal jam pulang kerja saya? Rasanya saya tidak pernah mengenalinya.
“Iya Pak, saya tahu dari aplikasi ini. Menurut data di sini, saya pernah mengantar Bapak seminggu yang lalu. Rumah Bapak di Petojo, kan?
***
Percakapan singkat kami membuka sesi diskusi panjang pada malam itu. Meskipun tidak bertatap muka (karena ia menyetir, sementara saya dibonceng), kami memaksa untuk tetap bersahut-sahutan.
“Sudah lama ngojek, Mas?” Saya berusaha membalikkan keadaan. Giliran dia yang menjadi objek cecar pertanyaan.
“Lumayan, Pak. Ada kali tiga tahun.”
“Sebelumnya kerja apa?” Saya penasaran.
“Saya di bank swasta, Pak. Karena bosan dengan rutinitas, akhirnya saya ngojek saja,” jawabnya setengah berteriak melawan lengkingan klakson pengendara lain yang tidak sabaran menunggu nyala lampu hijau di persimpangan jalan ibukota.
“Memangnya enakan ngojek, Mas?” Saya masih penasaran.
“Oh jelas, Pak,” tuturnya pasti. “Sewaktu di bank, saya pergi-pagi-pulang-malam, tapi gaji ga seberapa. Kalau sekarang, waktu kerjanya semau saya. Biasanya narik dari pagi sampai siang. Habis itu makan dan istirahat di rumah sampai sore. Selepas Maghrib, baru saya keluar lagi sampai jam 9. Ini Bapak yang terakhir.”
“Pendapatannya?” Kepalang tanggung. Pertanyaan pribadi pun saya luncurkan.
“Hampir dua kali lipat gaji saya di bank. Kalau rajin, malah bisa lebih, Pak. Hehe.” Saya bisa melihat senyum lebarnya lewat kaca spion. Menandakan kepuasan diri karena ia berhasil membuat saya tak mengira.


“Kalau Bapak sudah lama kerja kantoran?” Nampaknya ia mulai jengah dan mencoba balik bertanya.
“Sudah delapan tahun, Mas. Selama itu, saya tidak hanya bertugas di Jakarta saja. Saya juga pernah ditugaskan di Bogor, Bukittinggi, Bandung, dan Manado. Lumayan, keliling Indonesia gratis,” jawab saya bangga.
“Hebat, ya?”
“Ah, tidak juga, Mas. Yang hebat, ya, yang punya kantor. Saya, mah, hanya pekerja biasa,” kilah saya.
“Tapi, saya juga punya hobi sampingan yang menghasilkan, Mas,” tutur saya tidak mau kalah. “Sama seperti pekerjaan sampeyan, hobi saya juga tidak dibatasi oleh waktu. Saya bisa bekerja semau dan sesuka hati saya. Namanya ngeblog, Mas.”
“Hah, nge-bolot?”
“Bukan nge-bolot! Ngeblog, Mas. Blogger. Itu lho, yang kerjaannya nulis artikel di website.” Saya berusaha menerangkan dengan sabar.
“Oh, penulis, ya?” Ia mencoba mencerna.
“Yah, sebelas-dua belas, lah. Kalau penulis menghasilkan buku, blogger menghasilkan blog. Dari hobi sampingan tadi, saya bisa mendapat tawaran menulis artikel, mengajar, bekerja sama dengan orang baru, menerbitkan buku, hingga memenangkan banyak lomba. Hasilnya lumayan, bisa buat beli gorengan.”
“Wah, asyik, ya?”
“Yah, seperti sampeyan. Karena hobi, maka saya jalani dengan sepenuh hati. Bangga sudah pasti. Kalau ternyata bisa menghasilkan prestasi, siapa pula yang tidak senang hati?” jawab saya penuh semringah.


Ketika saya ingin melancarkan serangan balik dan bertanya mengenai asal-usul dan usianya, tikungan terakhir mengurungkan kembali niat saya.
“Sudah sampai, Pak. Di sini, kan?” Sepertinya ia bangga bisa mengetahui dengan tepat lokasi apartemen saya tanpa melihat peta di ponselnya.
“Betul, Mas. Terima kasih, ya!” sahut saya seraya mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari dompet.
“Jangan lupa bintang lima ya, Pak. Sukses selalu!” pesannya sambil menarik gas kencang-kencang. Dengan cepat ia melaju untuk kembali ke peraduannya.
Sambil menatap kilauan lampu rem sepeda motornya yang semakin memudar ditelan jarak pandang, saya bergumam dalam hati. Ternyata revolusi industri 4.0 sudah mengubah tatanan hidup banyak orang. Saya, dia, dan mungkin juga Anda yang sedang membaca artikel ini. Benar, tidak?



Ya, suka atau tidak, babak baru revolusi industri memang telah bergulir sejak beberapa tahun terakhir. Namanya revolusi industri 4.0, episode terbaru dari revolusi industri sebelumnya, 3.0.
Ciri yang paling kentara dalam revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi dalam skala yang besar. Mulai dari robot, otomasi, Internet of Things (IoT), cloud computing, big data, hingga artificial intelligence (AI). Untuk lebih jelas, silakan teliti infografis berikut ini.


Pada setiap edisi revolusi, dampak yang dihasilkan relatif sama, yaitu menghadirkan perubahan bagi banyak orang. Caranya dengan mengubah kaidah penciptaan suatu produk dan jasa dengan teknologi sebagai tulang punggungnya. Alhasil, semua menjadi serba cepat dan canggih.
Pengojek yang saya tumpangi, misalnya. Dengan bantuan big data dan cloud computing, ia mampu mengetahui dengan pasti bahwa saya adalah pelanggan yang diantarkannya satu minggu yang lalu. Melalui rekam jejak pada aplikasinya, ia pun mampu mengidentifikasi dengan tepat, bahwa saya adalah benar-benar pelanggan, bukan pembegal yang kerap beraksi di tengah malam.
Sedangkan bagi saya, teknologi yang digunakan oleh perusahaan rintisan penyedia ojek tersebut, membantu saya pulang ke rumah dengan lebih cepat dan hemat. Saya pun tidak perlu repot-repot membawa kendaraan. Hanya dengan memainkan jari, lima menit kemudian pesanan ojek sudah tiba di depan batang hidung saya.
Selain memudahkan banyak hal, revolusi industri 4.0 juga membawa segudang peluang. Lagi-lagi, percakapan saya dengan Abang Ojek bisa dijadikan contoh nyata.
Si Pengojek rela meninggalkan pekerjaan di bank swasta lantaran melihat peluang yang lebih baik. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, apa yang dilakukannya sungguh di luar dugaan. Keluar dari bank dan menjadi pengojek bukanlah keputusan yang biasa. Namun, ia mampu membuktikan bahwa menjadi seorang pengojek bisa lebih sejahtera ketimbang seorang staf di bank swasta.
Dari kisahnya, setidaknya ada dua hal yang ia dapatkan. Pertama, kebebasan waktu bekerja. Dengan beralih profesi menjadi pengojek, ia bisa menata jam kerjanya sendiri. Ia pun bisa menentukan waktu menjemput rezekinya secara mandiri. Berbeda dengan ketika ia masih menjadi karyawan bank yang jam masuknya (bukan pulangnya, ya!) sudah ditentukan dengan pasti.
Kedua, pendapatan yang dihasilkan dua kali lebih besar, meskipun dengan waktu kerja yang relatif fleksibel. Ia juga bisa makan dan tidur dengan tenang, kala siang hari menjelang. Hanya bermodalkan keahlian mengendarai sepeda motor dengan baik dan benar, ia mampu mengalahkan masa lalunya sendiri.
Bagi saya, sama saja. Blogging membuat hidup saya jadi lebih berwarna. Ada cakrawala baru yang bisa saya nikmati, ketimbang stress dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Saya bisa terus mengasah kemampuan dan menyalurkan hobi, sambil menikmati berbagai peluang dari menulis dalam jaringan internet.
Yang paling utama, saya bisa melakukan hobi yang menghasilkan. Bukan melulu kilauan materi, tetapi juga deretan prestasi. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah puluhan kali saya menjuarai lomba menulis. Saya juga berkesempatan tampil di depan banyak orang untuk berbagi ilmu kepenulisan. Contohnya bisa kalian lihat di bawah ini.


Bagaimana? Keren, kan? Hehehe.
Namun demikian, bukan berarti revolusi industri tidak punya tantangan. Kita harus pintar-pintar menghadapi era digital seperti sekarang. Salah melangkah, bisa-bisa kita tertinggal jauh di belakang. Maka, semestinya kita berbenah diri bila tidak mau terlibas dalam persaingan yang super ketat.
Satu hal yang pasti, zaman sekarang menuntut kita untuk memiliki keahlian. Iya, keahlian. Keahlian apapun bisa kalian asah dan manfaatkan demi meraih peluang. Misalnya keahlian mengendarai sepeda motor untuk pengojek daring. Atau keahlian menulis dan meramu konten bagi seorang blogger.
Singkatnya, menata diri menjadi kunci untuk mengatasi segala tantangan yang menerjang. Tidak bisa tidak, apabila kalian tidak ingin tertinggal.
Nah, pada artikel ini, saya akan berbagi lima resep pintar dalam menghadapi era digital. Silakan seduh kopi atau teh terlebih dahulu. Tambah camilan atau sambil selonjoran juga boleh. Kalau sudah siap, mari kita telaah satu per satu.



Ada sebuah peribahasa yang patut direvisi pada zaman sekarang. Bila dahulu kita mengenal “Mulutmu, harimaumu”, kini sudah berbeda. “Mulut dan jarimu adalah harimaumu”. Salah memainkan jari ketika mengetik di ranah publik, maka citra diri yang akan menjadi taruhannya.
Ya, media sosial kini sudah menjadi gerbang bagi siapa saja untuk menangkap berbagai peluang. Bisnis kuliner rumahan bisa memajang foto-foto produknya lewat akun Instagram. Influencer atau buzzer bekerja dengan memanfaatkan tagar dan followers di akun Twitter.
Berbagai perusahaan besar pun berlomba-lomba menjadikan media sosial sebagai sarana interaksi dengan pelanggan. Tujuannya, tentu saja agar produknya semakin lekat di batok kepala orang-orang. Lembaga pemerintah dan wakil rakyat juga kerap memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk membuat dan mengomunikasikan kebijakan.


Peran media sosial memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab Hootsuite dalam laporan bertajuk Digital 2019 in Indonesia menyebutkan bahwa saat ini ada 150 juta pengguna sosial media aktif di Indonesia. Dalam sehari, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh orang Indonesia untuk bermedia sosial adalah sekitar 3,5 jam!
Begitu pentingnya media sosial mengharuskan penggunanya untuk tetap berhati-hati. Sebab salah sebar informasi bisa berujung tudingan hoaks atau pemblokiran. Keliru curhat dan mengeluh berlebihan di media sosial bisa mengundang gunjingan. Wong, yang benar saja bisa jadi salah, apalagi yang jelas-jelas salah?
Bagi kaum milenial, media sosial kini layaknya potret diri. Kita adalah apa yang kita tayangkan (posting). Ini memengaruhi banyak hal, misalnya ketika hendak melamar kerja.
Berbagai perusahaan sudah tidak membutuhkan biodata (CV) panjang-panjang. Cukup dengan meneliti akun media sosial kalian, maka para data scientist akan menyajikan beragam fakta yang menentukan layak atau tidaknya kalian bekerja.
Bagi seorang freelancer sama saja. Salah tayang atau keliru berucap di media sosial, bisa berujung viral. Alhasil, tawaran pekerjaan dari agensi menjadi berkurang dan pendapatan akan semakin terancam. Kita tidak ingin begitu, kan?
Oleh karena itu, kuncinya adalah mengendalikan diri. Saring sebelum sharing, teliti sebelum tayang. Jangan melulu pakai nafsu. Gunakan pula otak kalian untuk menentukan kebenaran konten yang ingin disebarkan. Setuju?



Seperti yang telah saya singgung, keahlian atau skill sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Dalam lingkup yang terbatas, keahlian yang terkesan “sederhana” bisa jadi sangat berguna bila ditekuni dengan cara yang istimewa.
Bila Anda jago memasak, maka jangan takut memajang foto sajian yang Anda buat di dunia maya. Karena siapa tahu ada yang mengajak kerja sama membuka bisnis kuliner, atau ditawari pekerjaan menjadi koki di restoran bintang lima.
Demikian halnya bila Anda ahli memainkan jari di tubuh orang. Jangan salah sangka, maksudnya memijit, ya! Coba kita terka, berapa banyak pemijit yang bisa menghidupi dirinya lewat layanan pesan antar pada aplikasi di ponsel? Dengan teknologi, para pemijit bisa mendapat rezeki dari arah yang tak pernah ia duga.


Itu baru dua contoh sederhana. Belum berbagai keahlian mentereng lainnya seperti data scientist, social media experts, digital entrepreneur incubator, payment systems analyst, dan sebagainya. Tentu keahlian seperti ini sangatlah dibutuhkan pada era digital. Sebab jangankan yang rumit, yang sederhana saja bisa laris di pasaran. Iya, kan?
Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk memilih keahlian yang cocok dengan diri kalian. Lakukan secara benar dan tekuni dengan gigih. Multitasking, pada beberapa kondisi, memang tetap diperlukan. Akan tetapi, sebaiknya jadilah ahli dalam satu bidang terlebih dahulu, baru kemudian menekuni bidang yang lainnya.
Ingat-ingat pesan saya. Selain menggigit kuping sendiri, semua bisa dilakukan pada era digital.



Ada satu hal yang patut kalian ketahui untuk menghadapi tantangan pada era industri 4.0. Kita tidak bisa lagi berjalan sendirian, melainkan harus saling merangkul dan bergandeng tangan. Singkatnya, kolaborasi!
Supaya mudah dicerna, saya kasih contoh nyata. Ini merupakan pengalaman saya pribadi, bukan hanya sekadar teori.
Tiga bulan lalu saya mengadakan lomba menulis yang saya namai dengan “Kompetisi Blog Nodi”. Tujuannya ingin berbagi kepada bloggers di Indonesia, sekaligus mengembangkan dunia literasi di dalam negeri.
Singkat cerita, saya ingin kompetisi ini berjalan dengan mulus. Mulai dari persyaratan, jangka waktu penyelenggaraan, hingga tata cara penilaian. Maka, saya pun tidak bisa berjalan sendirian. Pengalaman saya minim, karena ini merupakan kompetisi pertama yang saya selenggarakan secara mandiri.


Alhamdulillah, ada tiga orang ternama yang berkenan membantu saya. Ketiganya bertugas sebagai juri, sekaligus teman bertukar pikiran untuk mencari solusi apabila ada kendala selama kompetisi berlangsung. Mereka adalah Khrisna Pabichara, Joe Candra, dan Nabilla DP.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kompetisi Blog Nodi diikuti oleh 438 peserta dari seluruh Indonesia! Saya senang bukan kepalang. Sebab meski hadiahnya mungkin tidak terlalu istimewa, akan tetapi atensi blogger sungguh luar biasa. Tidak kalah dengan kompetisi yang diadakan oleh perusahaan ternama, padahal yang mengurus hanya empat orang saja.
Pengalaman tersebut menambah tebal keyakinan saya. Bila ingin #BuildSuccessOnline, maka kolaborasi menjadi kunci utama. Rumusnya sudah kita ketahui: silaturahmi memperpanjang rezeki. Maka, silakan bersilaturahmi dengan siapa saja yang berpikiran positif bila ingin mendulang banyak rezeki.



Kunci keempat adalah jangan cepat berpuas diri. Sebab puas sejatinya sangat lekat dengan malas. Sebaliknya, bila kita selalu haus, maka gairah belajar akan terus menyala.
Untungnya era industri 4.0 memudahkan kita dalam mempelajari banyak hal. Mau jadi YouTuber, misalnya. Maka Anda bisa belajar dari video tutorial mengedit video yang banyak berserakan di berbagai channel YouTube. Cukup bermodal kuota data dua giga, maka niscaya kalian bisa belajar langsung dari ahlinya.
Demikian halnya dengan seorang blogger. Bila ingin mempercantik konten dengan sentuhan infografis, maka ia bisa mencari artikel yang relevan di Google. Saat membutuhkan data, ia bisa mencari di berbagai situs penyedia data. Atau tatkala ingin belajar teknik memotret gambar, maka ia pun bisa memelototi foto-foto kece di banyak akun Instagram.


Dunia bisnis juga sama. Ketika ingin memulai bisnis kopi, maka kalian bisa belajar dari kisah sukses pebisnis kopi pada halaman pertama mesin pencarian. Mulai dari siapa pemasoknya, bagaimana cara memasarkannya, hingga berapa modal dan keuntungannya, semua bisa kalian temukan lewat bantuan internet. Mudah, bukan?
Kalau sudah begitu, yang tersisa tinggal satu, yaitu kemauan. Bila sifat itu kalian tanamkan di dalam diri, maka ilmu akan datang dengan mudah. Sebaliknya juga demikian. Kalau malas, ya mohon maaf, ujung-ujungnya kalian akan terlibas.



Kunci terakhir adalah promosi. Percuma bila kalian sudah memiliki keahlian namun tidak pandai mempromosikan diri. Blogger berprestasi pun butuh laman berjudul “portfolio” atau “achievement” untuk menyajikan rekam jejaknya. Supaya dunia tahu betul kita ini sebenarnya siapa dan apa keahlian yang membuat kita berbeda.
Lembaga riset IDN Research Institute dalam Indonesia Millenial Report 2019 menjelaskan bahwa 70% kalangan milenial Indonesia mengakses informasi lewat media digital. Artinya, media digital adalah sarana promosi yang paling efektif. Oleh karena itu, peran website menjadi sangat penting untuk meraih kesuksesan pada era revolusi industri 4.0.


Bicara mengenai website, tentu kita harus memerhatikan kualitas layanan dari penyedia hosting. Salah memilih, ujung-ujungnya bisa merugi. Misalnya ketika loading time website menjadi lama, spam yang tidak tersaring dengan baik, biaya yang kemahalan, atau keluhan yang tidak ditindaklanjuti dengan benar. Tentu kita tidak ingin seperti itu, bukan?
Oleh karena itu, saya menyarankan kalian cermat dalam memilih penyedia hosting. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik seperti Niagahoster. Karena ada empat keunggulan yang bisa kalian manfaatkan demi meraih impian. Kalian bisa tilik infografis di bawah ini.


Pertama, Niagahoster memberikan garansi harga termurah, tetapi dengan fasilitas yang sangat mewah. Hanya dengan Rp8.000 per bulan, kalian sudah bisa membeli Paket Bayi dengan fitur unlimited bandwidth, databases, dan SSL.
Bila mau lebih lengkap, kalian juga bisa memilih tiga paket lainnya, yaitu Pelajar (Rp38.900 per bulan), Personal (Rp23.807 per bulan), dan Bisnis (Rp84.564 per bulan). Ketiganya telah dilengkapi dengan fitur domain gratis. Selengkapnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


Kedua, Niagahoster memberikan dukungan terbaik bagi kalian. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan website, bisa disediakan oleh penyedia hosting besutan PT Web Media Technology Indonesia ini. Mulai dari Web Hosting, Cloud VPS, WordPress Hosting, Email Hosting, Registrasi Domain, hingga Sertifikat SSL.
Bagi kalian yang awam dengan website tetapi ingin mengembangkan bisnis secara digital, Niagahoster juga menyediakan jasa pembuatan website. Jangan khawatir gagal, karena sudah lebih dari 500 pelanggan telah mempercayakan website-nya diracik oleh Niagahoster.
Ketiga, Niagahoster memberikan rasa aman dan nyaman. Sebab rasio server uptime-nya mencapai 99,98%. Artinya, kalian hampir tidak akan menjumpai kendala server bila menggunakan jasa hosting di Niagahoster.
Terakhir, ini yang paling penting. Niagahoster memberikan garansi 30 hari uang kembali bila kalian tidak puas dengan layanan yang diberikan. Coba saja dulu. Bila kurang berkenan, maka Niagahoster akan mengembalikan picis kalian.
Dengan empat keunggulan di atas, maka Niagahoster bisa menjadi partner yang tepat dalam mempromosikan diri di media digital. Bila ingin tahu lebih lanjut tentang Niagahoster, maka kalian bisa kunjungi website-nya di sini, atau simak videonya berikut ini.




Revolusi industri 4.0 menjadikan kehidupan serba digital. Ada banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan lewat teknologi dan digitalisasi. Mau apa saja, cukup mainkan ibu jari.
Namun, era digital juga memberikan segudang tantangan yang harus kita hadapi. Bila tidak pintar-pintar menghadapinya, bisa-bisa kita malah gigit jari. Keahlian saja tidak cukup, karena cara mempromosikan diri juga bisa menentukan rezeki dan prestasi.
Akhir kata, semoga lima resep pintar yang saya urai bisa membuat kalian tidak lekas berpuas diri dan terus belajar lagi. Juga menjadikan kalian pandai menangkap peluang dengan terus berkolaborasi. Jangan lupa, selalu berdoa kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.
Maka, segeralah berbenah diri dan selamat menghadapi era digital, Kawan Pintar!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Niagahoster Blog Competition yang diselenggarakan oleh Niagahoster. Informasi mengenai kompetisi ini telah disebar melalui akun Twitter dan Facebook penulis.
Foto, gambar, ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, Niagahoster, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari channel YouTube Niagahoster.