Navigation Menu

Menjadi Bagian dari Lentera Masa Depan





Sorot mata lugu itu jatuh tepat di hadapanku. Wajahnya berseri-seri, tak sabar menanti giliran bersalaman. Sesekali ia tengok pengasuhnya yang tengah sibuk menata barisan.

Dari gerak-geriknya, tampaknya ia ingin berteriak meluapkan kegembiraan. Namun apa daya, keinginan itu terpaksa ia pendam lantaran khawatir pengasuhnya bakal datang membawa sempritan.

Lima menit berselang, tiba saatnya kami berhadapan.

“Yang terakhir, ya? Namamu siapa?” aku bertanya.

“Mukhlis, Pak,” jawabnya.

“Ini buat jajan Mukhlis, ya,” bisikku seraya menyodorkan amplop.

“Alhamdulillah,” timpalnya girang, “makasih, Pak.”

Ia pun berlari seraya mengepalkan tangan ke udara, bersorak-sorai penuh sukacita. Dari kejauhan, aku tersenyum lega.

*** 

Ramadan 2018. Ada yang berbeda pada bulan puasa kala itu. Biasanya, aku dan kawan-kawanku berbuka puasa bersama di kafe atau restoran. Namun, kali ini lokasinya sengaja kami alihkan ke Panti Asuhan Annajah, Petukangan, Jakarta.

Memajukan pendidikan. Itulah alasan kami berbagi rezeki dengan anak-anak panti asuhan. Mas Syarif, pengasuh di Panti Asuhan Annajah, bercerita bahwa anak asuhnya yang berjumlah 45 orang, semuanya berstatus yatim piatu dan berasal dari berbagai penjuru Nusantara.

Batin kami meringis saat mendengar cerita Mas Syarif. Betapa tidak? Anak-anak itu terpaksa putus sekolah lantaran kesulitan biaya. Padahal, pendidikan adalah satu-satunya jalan mendobrak kemiskinan.

Di usia yang begitu muda, mereka mungkin belum menyadari hal itu. Namun, kami tahu persis, tanpa pendidikan, hampir mustahil mereka bisa meraih masa depan gemilang. Rasanya sungguh keterlaluan jika kami yang sudah berpenghasilan enggan berbagi kepada mereka yang serba kekurangan.



Jujur saja, kami tak kuasa membayangkan. Betapa sedihnya mereka tiap kali bersua malam. Tanpa sosok orangtua, mereka dipaksa tegar meski usianya belum genap remaja. Dengan berbagi, sekalipun jumlahnya tak seberapa, paling tidak kami bisa sedikit meringankan beban penderitaan mereka.

Kita memang tidak boleh menghitung-hitung pahala. Itu hak prerogatif Allah semata. Namun, melihat mereka tersenyum bahagia itu sungguh melegakan jiwa.

Maka benarlah firman Allah dalam kitab-Nya:

“…Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” ~ QS. Al Hadiid: 7.

Apa yang kami lakukan dua tahun silam mungkin tidak akan mengubah nasib mereka dalam sekejap. Akan tetapi, kejadian itu betul-betul mengubah caraku bersikap.

Apalagi, sejak membaca rilis Bappenas yang menyebut ada sekitar 4,3 juta anak putus sekolah di Indonesia sepanjang 2019, kontan hatiku terenyuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung ikut program orangtua asuh besutan lembaga donasi Islam yang terafiliasi dengan masjid di kantorku. 



Anak asuhku bernama Fathir Putra Fredyansha. Sejak Juni 2019, aku rutin menyisihkan sebagian penghasilanku untuk biaya sekolahnya.

Sekarang, Fathir bersekolah di SMP Adzkia Islamic School, Tangerang, Banten. Ayahnya seorang supir, ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tanpa uluran tangan para dermawan, dirinya tidak bisa mengenyam pendidikan.

Namun, segala keterbatasan itu tidak membuat Fathir berputus asa. Prestasinya justru luar biasa. Asal tahu saja, ia tergabung dalam Divisi Dakwah OSIS dan didapuk sebagai Koordinator Fraksi Bahasa dan IPTEK di sekolahnya.

Untuk urusan menghapal Alquran, jangan ditanya. Ia sanggup melantunkan Surat Al Baqarah dan Juz 30 di luar kepala! Jadi, bagaimana hati ini tidak menangis jika ada anak sehebat itu terpaksa putus sekolah gara-gara masalah biaya.



 

Meski sampai sekarang aku belum pernah bertemu Fathir, tetapi semangatku dalam berbagi tak pernah pudar. Sebab pada era digital, donasi bisa kulakoni lewat sentuhan jari. Cukup ambil ponsel, dana santunan bisa dikirim seketika.

Memang benar, demi alasan kesehatan, kita tidak disarankan bertemu banyak orang. Memang betul, untuk mencegah penularan virus korona, kita juga diimbau tidak sering bertatap muka.

Namun, sekalipun pandemi terasa mengungkung diri, sudah sepatutnya kita tidak menghentikan kebiasaan berdonasi. Sebab teknologi telah membuat aktivitas transfer dana bisa dilakoni semudah menjetikkan jari.

Justru sebaliknya. Dalam situasi sulit, sekecil apa pun pundi-pundi yang kita sumbangkan, sudah pasti meringankan beban mereka yang tengah dirundung kemalangan.

Percayalah, Kawan. Dengan berbagi, justru kita tidak akan pernah merugi. Sebab Allah telah berjanji:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”. ~QS. Saba: 39.

Lagi pula, cara berbagi itu bermacam-macam. Jika tidak dengan harta, bisa juga dengan ilmu. Contohnya tiga bulan lalu. Aku diminta mengajar kelas menulis daring oleh salah satu komunitas. Kebetulan, aku memang hobi menulis. Mereka yang berminat ikut kelasku diwajibkan membayar Rp50 ribu.

Sejujurnya, aku kurang sepakat dengan keputusan penyelenggara menarik bayaran dari peserta. Karena bagiku, segala jenis ilmu, termasuk ilmu kepenulisan, semestinya bisa diakses setiap orang secara cuma-cuma.

Lantas, apa yang kulakukan?



Ada dua. Pertama, aku berikan beasiswa kepada 10 orang peserta. Teknisnya, aku mentransfer uang senilai Rp500 ribu ke rekening penyelenggara supaya 10 orang peserta tadi bisa ikut kelasku tanpa biaya.

Kedua, aku menolak diberikan honor barang sepeser pun. Aku niatkan semata-mata untuk bersedekah ilmu. Biarlah Allah, pemilik segala harta, yang mengganti semua jerih payahku. Harapanku cuma satu. Lewat berbagi ilmu, dunia kepenulisan digital bisa sedikit lebih maju.


 

Seperti kisahku di atas, era digital benar-benar memudahkan kita dalam berbagi. Hanya saja, dari sekian banyak lembaga donasi, mana yang betul-betul bisa kita percayai?

Jangan bingung. Sesuai Keputusan Menag No.333/2015, pilihlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang direkomendasikan BAZNAS dan memperoleh izin operasional dari Kemenag. Sebab LAZ terdaftar wajib diaudit oleh Kantor Akuntan Publik secara berkala. Dengan kata lain, penyaluran donasinya pasti terjamin.

Kalau sudah, pilih program donasi sesuai niat kita. Aku sendiri paling senang berdonasi di bidang pendidikan. Karena itulah aku memilih LAZ UCare Indonesia.




Yang menarik, LAZ binaan Yayasan Ukhuwah Care Indonesia ini punya program Semarak Yatim. Lewat program ini, kita bisa ikut mewujudkan mimpi puluhan—bahkan ratusan—anak yatim untuk masa depan yang lebih baik.

Masih ragu berbagi? Simak betapa mulianya cita-cita anak yatim binaan LAZ UCare Indonesia lewat video berikut.



Mengharukan, bukan?

Bagi LAZ UCare Indonesia, pendidikan memang jadi prioritas utama. Buktinya, dari total Rp4,77 miliar ZIS yang disalurkan, sekitar 55 persennya dialokasikan untuk pendidikan. Data ini tercantum dalam Laporan Pengelolaan Zakat 2019 milik LAZ yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat itu.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera ambil ponselmu dan ikuti langkah-langkah berdonasi pada infografis di bawah ini.



Sebelum kuakhiri, izinkan aku mengurai satu pitawat. Kawan, jangan sampai pandemi meredupkan semangat berbagi di era baru. Ada jutaan anak menanti uluran tangan para dermawan. Jadilah bagian dari lentera masa depan mereka. Barangkali, donasi itulah yang bakal meringankan langkah kita menuju surga-Nya.

Selamat berbagi! [Adhi]



*** 

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.



2 comments:

  1. Postingan ini mengandung bawang ya Allah. Tak terasa pipiku basah bang :(
    Sumpah aku bersyukur bs punya kawan orang baik kayak ente bang. Tetaplah menginspirasi kami semua. Sukses terus buat ente bang....

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah, Tabarokallah mas.
    Semoga makin banyak orang dermawan yang peduli dengan lentera masa depan.
    Selalu menginspirasi ya bang.

    ReplyDelete