Beranda

Navigation Menu

Memajukan Indonesia Bersama Chatbotika



Dulu, sepuluh tahun lalu, mengecek jadwal praktik dokter bikin sakit kepala. Kita harus buka website RS yang dituju, mencatat nomor telepon, menelepon, menekan nomor ekstensi, lalu bertanya pada customer services. Syukur-syukur kalau diangkat. Kalau tidak, alamat mengulang lagi dari awal.
Padahal, orang sakit butuh penanganan cepat. Terlambat sedikit saja bisa gawat. Masih mending kalau sekadar flu. Coba kalau sakit jantung. Bisa-bisa keburu (maaf) tewas di tempat.
Sekarang, pada era digital, segalanya jauh lebih mudah. Cukup mainkan jari, jadwal praktik dokter langsung tersaji. Boleh pilih sesuka hati, kapan saja Anda sanggupi. Berterimakasihlah pada chatbot—teknologi obrolan berbasis kecerdasan buatan—yang membuat pelayanan kesehatan semakin cepat.


Percaya atau tidak, obrolan di atas adalah komunikasi antara manusia dengan robot. Lebih tepatnya, saya dengan chatbot RS Harum Sisma Medika. Kurang dari tiga detik, saya sudah tahu jadwal praktik dokter hari ini. Saya pun bisa menata waktu berkunjung secara lebih akurat.
Ingat, ilustrasi di atas adalah satu contoh belaka. Sejatinya, masih banyak lini kehidupan lain yang dibuat lebih mudah dan cepat oleh chatbot.
Data Statista menyebut, enam industri yang memiliki tingkat akseptansi konsumen terhadap chatbot tertinggi adalah online retail, kesehatan, telekomunikasi, perbankan, financial advice, dan asuransi.


Di antara itu semua, yang paling terasa adalah online shop. Coba bayangkan kalau Anda jadi pemilik online shop, punya dua orang karyawan, lantas menerima 1.000 pesanan per hari. Kalau satu per satu Anda layani sendiri, sudah pasti tidak sanggup.
Sudah begitu, Anda malah berisiko ditinggal pelanggan bilamana pesanan tidak segera ditanggapi. Sebab kajian Sprout Social (2016) bilang, ada 89 persen obrolan (chat) tidak mendapat tanggapan. Bila itu terjadi pada pelanggan Anda, maka 1 dari 3 orang akan berpindah ke pesaing Anda.


Menambah karyawan, pada beberapa kasus, juga bukanlah solusi tepat. Anda harus memikirkan proses rekrutmen, tambahan pos biaya gaji, hingga risiko fraud lantaran keterbatasan span of control. Kalau skala bisnis Anda terbatas, hal itu bukannya membantu,  tetapi malah tambah merepotkan.
Dengan bantuan chatbot, Anda tidak perlu takut kebanjiran pesanan dan kehilangan pelanggan. Sebab semua tahap pemesanan, mulai dari salam awal, pemilihan produk, hingga pembayaran, bisa dikelola secara otomatis.
Kini, tugas Anda tinggal memastikan barang sampai ke tangan pelanggan saja. Mudah, bukan?

Peran Chatbot dalam Mendukung Industri 4.0 di Indonesia
Berbagai kemudahan yang kita rasakan adalah berkah dari bergulirnya revolusi industri 4.0. Teknologi kekinian—seperti kecerdasan buatan (Artifial Intelligence—AI), Internet of Things (IoT), cloud computing, dan big data—digunakan untuk menghasilkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Kata kunci yang perlu digarisbawahi adalah pelanggan. Pada era ini, semua perusahaan berlomba-lomba untuk menyajikan produk yang semakin bersifat customer centric. Sebut saja on demand services, online marketplace, dompet dan uang elektronik, hingga tekfin.


Hanya saja, pemanfaatan teknologi dan informasi 4.0 di Indonesia umumnya masih terbatas di sektor jasa. Padahal, dalam skala nasional, teknologi informasi semestinya juga diterapkan pada sektor riil seperti manufaktur, pertanian, dan pertambangan. Sebab ekonomi nasional kita masih ditopang oleh ketiga sektor tersebut.
Kalau itu bisa dicapai, maka dampaknya akan sangat besar. McKinsey bahkan memproyeksikan pemanfaatan digitalisasi bisa menambah nilai Produk Domestik Bruto (PDB) kita hingga 120 miliar Dollar AS pada 2025.
Dalam konteks kesungguhan berdigitalisasi, kita patut bersyukur. Riset McKinsey (2018) menempatkan Indonesia pada posisi kedua negara teroptimis (nilai: 78 persen) di Asia Tenggara dalam menyambut industri 4.0.
Kita hanya kalah tipis dari Vietnam (79 persen), unggul dibanding dua negara tetangga lainnya: Thailand (72 persen) dan Singapura (53 persen).


Setali tiga uang, pada 4 April 2019 yang lalu, Pemerintah juga sudah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Dalam peta jalan tersebut, ada 5 sektor prioritas yang perlu dipacu oleh sentuhan teknologi: makanan & minuman, tekstil & busana, otomotif, elektronik, dan kimia.
Untuk mengukur sejauh mana kesiapan korporasi menyambut era industri 4.0, Kemenperin mengeluarkan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Untuk tahun ini, ada 323 perusahaan besar yang mengisi self-assesment INDI 4.0.
Hanya saja, hasilnya belum terlalu menggembirakan. Rata-rata indeks masih berkisar di angka 2 dari maksimal 4. Itu berarti, sektor manufaktur kita belum sepenuhnya bertransformasi ke Industri 4.0. Masih ada celah yang perlu diisi, masih tersisa ruang untuk diperbaiki.


Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengisi celah tersebut adalah penerapan chatbot pada sektor manufaktur. Teknologi yang ditenagai AI ini berfungsi untuk menyimulasikan percakapan, sesuai dengan aturan dan batasan yang ditetapkan oleh pemiliknya.
Selain bisa digunakan untuk customer services, saya membayangkan, teknologi chatbot juga bisa diadopsi dalam proses pemasaran atau pengadaan. Menjual batik Pekalongan, misalnya.
Dengan bantuan chatbot, pemilik pabrik batik bisa terhubung langsung dengan end-user, tanpa perantara. Melalui chatbot, pelanggan bisa memilih batik sesuai ukuran, motif, dan harga yang diinginkan. Semuanya tanpa tenaga manusia.
Alhasil, jangkauan distribusi semakin luas, penjualan pun meningkat pesat. Kalau itu bisa dilakukan oleh sentra batik se-Indonesia, bukan tidak mungkin produk tekstil kita akan merajai pasar Nusantara—berdiri tegak di atas kaki sendiri. Itulah cita-cita dan harapan kita bersama.
Lantas, kenapa harus chatbot? Mengapa bukan yang lain? Paling tidak, ada tiga alasan yang melatarinya.

1. Faktor Tren
Teknologi dan informasi terus berkembang. Dua puluh tahun lalu, publik mulai menggunakan internet. Sepuluh tahun lalu, teknologi instant messaging kita gunakan untuk berkomunikasi. Lima tahun ke belakang, mobile apps timbul ke permukaan seiring mewabahnya teknologi ponsel pintar.


Sejak 2017, chatbot mulai umum digunakan oleh berbagai perusahaan. Tujuannya sebagai media untuk berkomunikasi dan memahami kebutuhan pelanggan dengan cepat dan mudah.
Nah, tren ini diproyeksikan akan terus berkembang dalam sepuluh tahun ke depan. Bahkan, Business Insider berani memprediksi bahwa 80 persen perusahaan besar di dunia akan menggunakan chatbot pada 2020.

2. Kecepatan Respon
Saat ini, chatbot adalah cara berkomunikasi tercepat ketimbang saluran komunikasi lainnya. Survei Facebook IQ menyebut, 59 persen pelanggan di dunia mengakui bahwa fitur chatbot menghadirkan respon yang lebih cepat dibanding sarana komunikasi tradisional lainnya.



3. Tepat Guna
Lantaran didukung oleh teknologi AI, ketepatan menjawab chatbot rata-rata berada di atas 80 persen. Lagi-lagi, itu hasil survei Facebook IQ yang digelar di empat negara di dunia.


Oleh karena itu, menurut NewVoiceMedia, ada 48 persen pelanggan yang bersedia mengganti customer services manusia dengan chatbot. Itu menunjukkan, kualitas layanan chatbot pada umumnya sudah tepat guna.

4. Durasi Layanan
Dengan chatbot, pemilik bisnis tetap bisa menyapa pelanggan selama 24 jam nonstop. Kapan pun pelanggan membutuhkan informasi, chatbot akan setia melayani. Hal ini tidak akan terjadi apabila dikelola oleh tenaga manusia.



5. Menghemat Biaya
Alasan inilah yang paling mendorong perusahaan untuk mengadopsi teknologi chatbot. Kajian IBM menyebut, sekira 30 persen biaya pengelolaan pelanggan dapat dipangkas dengan teknologi chatbot. Dalam konteks efisiensi, itu bilangan yang sangat besar.


Sejalan dengan hal tersebut, Juniper Research berani memprediksi bahwa penerapan teknologi chatbot dunia, akan menghemat 8 miliar Dollar AS di masa depan. Bukan hanya pemilik bisnis, kita sebagai konsumen juga akan diuntungkan lantaran harga produk dan jasa akan semakin murah.

Pentingnya Chatbot Berbahasa Indonesia
Nah, dengan lima keunggulan di atas, tidak heran apabila chatbot semakin banyak digunakan di Indonesia. Hanya saja, dibanding di negara lain, pengembangan chatbot di Indonesia jauh lebih menantang.
Mengapa? Karena di Indonesia kita terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Kalau menggunakan kata baku semata, boleh jadi prosesnya lebih mudah. Yang jadi masalah, di luar suasana formal, kita terbiasa menggunakan kata takbaku atau slang untuk berkomunikasi.
Selain itu, kita pun kerap mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Asal tahu saja, di Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah. Maka dari itu, mengembangkan chatbot yang bisa mengakomodasi budaya berkomunikasi orang Indonesia tidaklah mudah.
Akan tetapi, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Tidak mudah, berbeda dengan mustahil. Pengembangan dan penyempurnaan chatbot berbahasa Indonesia mesti tetap dilakoni kalau negeri ini ingin maju.


Untung saja, kini sudah ada Chatbotikachatbot berbahasa Indonesia besutan Botika. Teknologi chatbot buatan perusahaan rintisan asli Indonesia ini memang berbeda. Sebab Chatbotika telah dibekali dengan teknologi Natural Languange Processing (NLP).
Dengan teknologi NLP, jangankan kata baku, Chatbotika juga mengerti singkatan maupun bahasa gaul. Tidak hanya itu, teknologi Machine Learning membuat Chatbotika bisa belajar dari data yang sudah ada, kemudian mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data tersebut.
Percapakan saya di awal dengan chatbot RS Harum Sisma Medika adalah salah satu contoh penerapan Chatbotika pada perusahaan. Selain RS Harum Sisma Medika, saat ini sudah lebih dari 100 perusahaan yang mempercayakan teknologi chatbot-nya pada Botika.
Lantas, apa saja solusi yang ditawarkan oleh Botika? Paling tidak ada 5 hal.

1. Chat Assistant for Business
Fungsi utama chat assistant adalah melayani online customers mulai dari tahap pemesanan hingga transaksi pembayaran. Seperti percakapan saya dengan chatbot RS Harum Sisma Medika, chat assistant juga bisa digunakan untuk berbagai lini bisnis lainnya.


Kalau kamu punya online shop, Chatbotika adalah solusi yang tepat untuk menjaga relasi dengan pelanggan. Selain online shop dan rumah sakit, Chatbotika juga sudah diterapkan di bidang komunikasi. Maya, virtual assistance XL di media sosial, adalah salah satu contohnya.

2. Chat Console
Dengan Chatbotika, Anda tidak perlu capai-capai membuka chat satu per satu. Sebab dengan fitur chat console, Anda bisa melihat dan membalas pesan yang masuk di dalam satu konsol. Semakin cepat pelanggan mendapat respon, semakin bagus pula layanan yang Anda berikan.



3. Terintegrasi dengan Berbagai Sosial Media
Satu chatbot untuk semua sosial media. Anda hanya perlu membuat satu chatbot, dan siap untuk dijalankan di berbagai kanal sosial media seperti LINE, Facebook Messanger, Telegram, Web Widget, hingga Mobile App. Mudah, bukan?



4. Terintegrasi dengan Berbagai Gerbang Pembayaran
Bukan hanya layanan pelanggan yang bisa di-cover oleh Chatbotika, melainkan transaksi pembayaran pula. Dalam satu kali layanan, Chatbotika akan mengarahkan pelanggan hingga ke berbagai pilihan transaksi pembayaran yang Anda tentukan.


Dengan begitu, Anda tidak perlu repot memantau apakah produk ini sudah dibayar atau belum. Pelanggan juga lebih nyaman, karena proses pembeliannya akan semakin cepat dan mudah.

5. Data Analysis
Chatbotika juga menghadirkan menu data analysis. Memungkinkan Anda untuk menganalisis data layanan pelanggan, sebagai bekal perbaikan layanan di kemudian hari.


Bagi pebisnis, fitur ini sangatlah berguna. Sebab pebisnis yang pintar, adalah pebisnis yang bisa memanfaatkan peluang sekecil apa pun, termasuk dari transaksi yang pernah terjadi. Belajar dan belajar, agar bisnis terus melesat.

Penutup
Revolusi industri 4.0 adalah sebuah era yang tidak akan bisa dihindari. Seluruh negara, termasuk Indonesia, akan terkena imbasnya. Yang jadi pertanyaan, sudah siapkah kita menyambut digitalisasi?
Hasil INDI 4.0 mengatakan, kita belum sepenuhnya menerapkan teknologi 4.0. Masih ada ruang yang perlu diisi, masih tersedia celah untuk digenapi. Namun demikian, kita patut optimis. Sebab pada umumnya, kita tidak antipati dengan perubahan teknologi.
Chatbot, teknologi percakapan berbekal kecerdasan buatan, siap melantaskan cita-cita kita bersama. Dengannya, layanan pelanggan lebih cepat, mudah, dan akurat. Bahkan, di masa depan, chatbot juga berpotensi diadopsi oleh sektor ekonomi unggulan seperti manufaktur, pertanian, dan pertambangan.


Apalagi, kini sudah ada Chatbotika—chatbot yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Kontribusinya bukan hanya mencakup sektor jasa saja, melainkan sektor lainnya seperti kesehatan, farmasi, hingga telekomunikasi.
Dari Chatbotika, kita jadi mengenal teknologi Natural Language Processing. Melalui Chatbotika, kita juga bisa belajar teknologi integrasi media sosial, chat console, hingga gerbang pembayaran.
Kalau sekarang saja sudah banyak teknologi yang berkembang karena chatbot berbahasa Indonesia, bisa Anda bayangkan bagaimana dampaknya dalam sepuluh tahun ke depan. Yang jelas, disrupsi pada setiap sendi kehidupan, pasti akan terulang kembali. [Adhi]
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi #NulisChatbotika bertema Kontribusi chatbot bahasa Indonesia dalam perkembangan Informasi dan Teknologi di Indonesia.
Foto dan gambar yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi dan website Botika. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Referensi:
[1] Invespcro.com, Chatbots In Customer Service – Statistics and Trends.
[2] Kemenperin RI, Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).
[3] Kontan, Bisnis Start up Chatbot Botika tahun ini diproyeksikan tumbuh hingga 200%.
[4] Kemenperin RI, Making Indonesia 4.0.
[5] Bisnis.com, Begini Kesiapan Perusahaan Indonesia dalam Menerapkan Industri 4.0.
[6] Chatbotsmagazine.com, Chatbot Report 2019: Global Trends and Analysis.
[7] Landbot.io, Chatbot Statistics Compilation 2019: The State of Market & Business Opportunities.

Edukasi Masa Kini untuk Si Buah Hati



Anak adalah anugerah yang dititipkan Tuhan kepada orangtua. Karenanya, mendidik anak menjadi kewajiban bagi orangtua. Sebab setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak sebagai bekal meraih masa depan.
Meskipun begitu, orangtua sering kali menemui kendala ketika mendidik anak. Salah satunya lantaran faktor generation gap atau celah generasi.
Apa yang dulu diajarkan, belum tentu sesuai dengan era kekinian. Apa yang dulu dianggap benar, boleh jadi dibilang aneh pada era digital. Singkat kata, kalau ingin anak Anda cerdas dan pintar, cara mendidiknya pun harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.


Sekarang, saya coba sodorkan satu contoh. Dua puluh lima tahun lalu, perangkat elektronik yang ada di rumah hanyalah televisi. Itu pun tidak berbayar atau dilengkapi kuota internet.
Alhasil, masa kecil kita dipenuhi dengan aktivitas fisik di luar rumah. Main karet atau kelereng adalah dua amsal sarana belajar untuk mengasah ketangkasan, bersosialisasi, hingga mencari hiburan.
Dewasa ini, segalanya berubah. Digitalisasi telah menyusup ke berbagai sendi kehidupan. Di kota-kota besar, karet dan kelereng sudah tidak lagi ditemukan. Perannya kini digantikan oleh gawai digital dengan beragam gim dan hiburan yang bisa diakses setiap orang, termasuk anak-anak.
Orangtua jadi serba salah. Melarang anak menyentuh gawai—seperti cara belajar mereka dahulu—ibarat merenggut masa depan anak. Pasalnya, gawai adalah gerbang informasi yang, bila digunakan dengan benar, bisa menunjang tumbuh kembang anak.


Sebaliknya, membebaskan anak bermain gawai tanpa kenal waktu juga berakibat buruk. Sundus (2018) dalam penelitian bertajuk The Impact of using Gadgets on Children menyebut anak yang sering bermain gawai berisiko terpapar sejumlah efek negatif.
Mulai dari keterlambatan berbicara (speech delay), kurang fokus, hiperaktif, perkembangan otak terhambat, cemas berlebih, depresi, obesitas, hingga watak buruk. Bahkan, bukan sekali-dua kali kita mendengar berita anak masuk rumah sakit akibat kecanduan bermain gim online.
Hanya saja, kita juga tidak bisa menafikan kenyataan bahwa kondisi dunia saat ini berbeda jauh dengan dunia yang dahulu. Kini, internet dan ponsel pintar lambat laun berubah menjadi kebutuhan dasar.


Rasmus, keponakan saya yang baru masuk SD, adalah salah satu contohnya. Ia sering meminjam ponsel ibu atau ayahnya untuk bermain gim. Belakangan, dia semakin pintar. Orangtuanya dibuat penasaran lantaran kuota data cepat habis.
Usut punya usut, rupanya Rasmus penyebabnya. Bosan main gim, ia pun mengakses YouTube untuk menonton kartun atau vlog anak-anak. Padahal, orangtuanya tidak pernah mengajari cara mengakses YouTube sama sekali. Ada-ada saja.
Apa yang terjadi pada Rasmus adalah gambaran umum anak-anak zaman sekarang. Survei IDN Research Institute pada 2019 menyebut 94,4 persen milenial, termasuk anak-anak, sudah terhubung dengan internet. Bahkan, 79 persen di antaranya dikatakan langsung membuka ponsel semenit setelah membuka mata!


Sayangnya, kecenderungan mengakses internet secara berlebihan semakin umum kita dengar. Ada 5,2 persen milenial muda yang mengakses internet lebih dari 11 jam per hari! Akibatnya, mereka dijuluki sebagai generasi pencandu internet atau i-generation.
Itu yang harus benar-benar dicamkan para orangtua agar buah hatinya tidak salah didikan.



Untuk mendidik anak pada era digital, orangtua tidak cukup sekadar pintar, melainkan harus pintar-pintar. Sebab hanya dengan pintar-pintar-lah orangtua bisa menyisihkan efek negatif internet, kemudian mengambil sisi positifnya saja.
Dengan kata lain, jadikan internet sebagai batu loncatan, bukan sebagai hambatan. Orangtua tidak boleh antipati, melainkan harus wawas diri. Untuk itu, kuncinya ada tiga: batasi, dampingi, dan ajari.

1. Batasi
Akademi Dokter Anak Amerika, dilansir dari The Asian Parent, menyebut orangtua harus membatasi penggunaan gawai pada anak, sesuai jenjang usia.
Anak usia 0—2 tahun dilarang menyentuh gawai! Pada masa ini, anak harus selalu didampingi oleh orangtua, khususnya ibu. Tidak boleh tidak. Sebab pada masa inilah anak wajib mendapat ASI eksklusif agar sehat jiwa raga.


Beranjak ke usia 3—5 tahun, anak mulai diperbolehkan mengenal gawai. Akan tetapi, waktunya harus dibatasi. Paling lama 1 jam per hari. Biar kata anak merengek minta ponsel, orangtua harus menolak dengan lembut. Berikan pengertian bahwa mengakses ponsel itu ada batasannya.
Ketika sudah memasuki usia 6—18 tahun, barulah anak diperbolehkan menggunakan ponsel dua kali lebih lama. Itu pun tidak sembarangan. Harus dilengkapi dengan dua catatan berikut.

2. Dampingi
Meskipun anak sudah boleh mengakses gawai, orangtua harus tetap mendampingi. Sebab kita tidak ingin anak mengakses aplikasi atau konten dewasa yang dapat berdampak buruk pada pembentukan karakter dan tumbuh kembangnya.


Yang jadi masalah, terkadang orangtua membiarkan anaknya mengakses gawai tanpa pengawasan. Alasannya satu: tidak tahan mendengar anaknya merengek atau menangis minta ponsel.
Supaya cepat diam, orangtua malah meminjamkan (atau bahkan membelikan) ponsel kepada anak. Ini keliru. Seharusnya, selelah dan sesibuk apa pun orangtua, anak tetap berhak mendapat pendampingan ketika mengakses ponsel.

3. Ajari
Pada dasarnya, anak selalu belajar dengan cara mencontoh apa yang dilakukan orangtua. Oleh karena itu, orangtua harus ekstra hati-hati. Ketika orangtua main ponsel tanpa kenal waktu, anak pun akan meniru kebiasaan buruk orangtua.
Kalau Anda tidak ingin anak Anda menjadi pencandu internet, maka seyogianya Anda tidak keranjingan internet pula. Tunjukkan pada anak, bahwa gawai hanya dapat diakses untuk keperluan tertentu saja, seperti komunikasi, belajar, atau bermain (dengan batasan tertentu).


Selain itu, ajari aplikasi mana saja yang bisa diakses dan tidak boleh diakses anak lewat ponsel. Pastikan pula, kiat nomor dua selalu Anda lakoni ketika sedang memberikan waktu bagi anak untuk bermain ponsel.
Dengan ketiga langkah di atas, anak jadi paham cara menggunakan internet sejak usia dini. Itu penting sebagai bekal anak dalam mengarungi kehidupan dan menggapai cita-cita pada masa depan.
Efek negatif internet akan diredam. Karakter anak pun jadi tidak terganggu, sebab ada orangtua yang selalu menjadi pengawas dan pendamping. Sedikit demi sedikit, anak pun akan belajar bertanggungjawab dan menghargai apa yang dia miliki, termasuk akses internet.



Untuk melengkapi perkembangan jasmani dan rohani anak usia dini, terkadang peran orangtua saja tidak cukup. Ada beberapa keahlian (skill) yang perlu anak pelajari sejak dini. Boleh jadi orangtua tidak paham, sebab keahlian yang dibutuhkan pada zaman dahulu berbeda dengan era kekinian.
Supaya tidak tertinggal oleh laju perkembangan zaman, Conference Board of Canada (2014) menyarankan agar anak perlu diajarkan keahlian berikut:


Dari enam keahlian di atas, mari kita ambil satu contoh. Kerja sama, misalnya. Anak perlu berinteraksi dengan teman sebaya untuk mencapai sebuah tujuan. Biasanya, hal ini dipraktikkan dalam bentuk permainan beregu. Di rumah, boleh jadi hal itu tidak bisa anak dapatkan.
Oleh karena itu, lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi solusi terbaik dalam mendidik anak pada era digital. Supaya anak bisa mulai mengasah enam keahlian di atas sejak dini, sebelum melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
Lantas, seberapa pentingnya PAUD bagi anak usia dini? Jawabannya, tentu saja sangat penting.
Usia 0—6 tahun adalah usia emas (golden age) bagi kehidupan manusia. Kemdikbud menyebut 80 persen perkembangan otak terjadi pada usia emas. Bila dididik dengan baik, anak memiliki harapan yang lebih besar untuk sukses di masa depan ketimbang sebaliknya.
Kalau kita kaitkan dengan tantangan pada era digital, peran PAUD jadi sangat vital. Seperti kajian Conference Board of Canada di atas, PAUD bisa menjembatani anak untuk mengenal keahlian digital sejak dini. Keahlian ini tentu akan sangat menunjang kehidupan anak ketika beranjak dewasa.


Untungnya, kita sudah semakin sadar akan pentingnya PAUD. Kemdikbud dalam Ikhtisar Data Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017/2018 menyebut angka partisipasi kasar (APK) PAUD sebesar 74,28 persen, meningkat hampir 2 persen dibanding tahun lalu.
Sejalan dengan hal tersebut, jumlah anak didik PAUD juga tumbuh pesat. Pada periode yang sama, ada 14,28 juta anak berusia 3—6 tahun yang duduk di kursi PAUD. Dibanding tahun lalu, jumlahnya meningkat sekitar 370 ribu anak.
Sajian data di atas tentu saja menggembirakan. Indonesia bisa optimis menatap mata depan. Sebab pendidikan anak bangsa sudah berada di jalur yang benar.
Namun demikian, banyaknya jumlah PAUD belum tentu menjamin kualitas pendidikan. Orangtua perlu lebih selektif dalam memilih PAUD kalau ingin buah hatinya tangguh menghadapi era digital. Awas, jangan salah pilih!
Maka dari itu, ada tiga kriteria yang harus diperhatikan orangtua ketika memilih PAUD.

1. Lokasi
Jarak antara PAUD dengan rumah adalah hal pertama yang perlu diperhatikan orangtua. Kalau bisa, jangan terlalu jauh. Lebih baik kalau berada di sekitar kompleks tempat tinggal.


Mengapa? Supaya memudahkan orangtua ketika mengantar dan mendampingi anaknya selama belajar. Selain itu, anak juga terhindar dari stres akibat terlalu lama di perjalanan. Lagi pula, kalau ada apa-apa, orangtua bisa segera merapat dengan cepat. Alhasil, anak senang, orangtua pun jadi tenang.

2. Pengajar
Sama seperti sekolah pada umumnya, kualitas pendidikan di PAUD sangat bergantung pada tenaga pengajarnya. Bila gurunya oke, PAUD-nya pun pasti oke. Sebaliknya juga demikian. Tatkala gurunya asal-asalan, jangan harap anak kita akan dididik dengan benar.


Oleh karena itu, kenali dulu siapa gurunya. Datang dan perhatikan betul bagaimana cara mereka mendidik anak-anak. Jangan anggap “yang penting PAUD” atau ikut-ikutan tetangga saja. Sebab itu akan memengaruhi masa depan anak Anda.

3. Kurikulum
Apabila tenaga pengajarnya sudah oke, sekarang, perhatikan apa yang diajari. Apakah materinya sudah cukup berimbang? Apakah cara mengajarnya bisa membuat anak mengeluarkan bakat dan potensinya? Dan, apakah kurikulumnya sudah cocok dengan tantangan era digital?
Bingung? Jangan khawatir. Tenang saja. Supaya tidak salah memilih PAUD, cermati sajian infografis di bawah ini.


Kata Triling & Fadel (2009), sebagaimana dikutip Iswari (2019) dalam The Challenge of Improving Special Education Quality in Digital Era, ada 15 perubahan paradigma dalam mengajar anak. Maka dari itu, kurikulum PAUD yang sesuai dengan era digital adalah kurikulum yang menerapkan paradigma di atas.
Saya udar satu contoh. Misalnya, paradigma kompetitif yang berubah menjadi kolaboratif. Para orangtua bisa meneliti, apakah PAUD mengajarkan anak mengenal rekan-rekannya? Apakah PAUD mendorong anak didiknya untuk saling bekerja sama? Kalau iya, itu satu contoh PAUD yang baik.
Lantas, PAUD mana yang paling baik? Kalau Anda tinggal di sekitar kawasan BSD Tangerang, Apple Tree Pre-School BSD adalah pilihan terbaik. Belum pernah dengar? Jangan khawatir. Anda berada di blog yang tepat. Tetaplah di sini. Ulasannya akan tersaji dalam beberapa alinea ke depan.



To educate young learners to perform well academically through experiential learning.
Itulah visi Apple Tree Pre-School BSD. Bagi saya, itu cukup menarik. PAUD yang satu ini bercita-cita menjadikan anak andal dalam akademik melalui pendidikan berbasis pengalaman. Kata kunci yang perlu digarisbawahi adalah pengalaman.
Ya, berbeda dari PAUD lainnya, Apple Tree Pre-School BSD mengajak anak terlibat dalam berbagai aktivitas didik. Mulai dari kegiatan belajar di kelas, bermain di luar kelas, kesenian, hingga pagelaran (events).


Dengan begitu, anak usia dini akan mengenal berbagai kegiatan baru, yang tidak bisa ia temukan di rumah. Tumbuh kembangnya akan dipenuhi dengan segudang kegiatan positif yang dapat mengasah kemampuan gramatikal, motorik, hingga kepedulian sosial.
Didirikan sejak 2000, Apple Tree Pre-School memang memiliki pondasi dan metode yang berbeda dengan kebanyakan PAUD. Hal itu, membuatnya menjadi yang terdepan di antara lembaga pendidikan anak usia dini lainnya. Setidaknya, ada 3 alasan mengapa Anda harus memilih Apple Tree Pre-School BSD untuk Si Buah Hati.

1. Kurkulum Berbasis Singapura
Singapura dikenal sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki pendidikan berkualitas tinggi. Tidak heran apabila kurikulum Singapura diadopsi oleh berbagai negara, termasuk Apple Tree Pre-School BSD di Indonesia.
Di Apple Tree Pre-School BSD, anak akan dibekali dengan 11 keahlian dasar sesuai dengan kurikulum pendidikan di Singapura, seperti ditampilkan dalam infografis berikut.


Yang menarik, ada 3 bahasa yang diajarkan di Apple Tree Pre-School BSD: Inggris, Mandarin, dan Indonesia. Seperti yang kita tahu, bahasa Inggris dan Mandarin adalah dua bahasa yang umum digunakan di dunia. Alhasil, masa depan anak lebih cemerlang tatkala mampu berbahasa asing sejak dini.

2. Pilihan Kelas Sesuai Usia
Edukasi mesti diajarkan secara bertahap. Beda jenjang usia, beda pula ajarannya. Hal itu sangat dipahami Apple Tree Pre-School BSD dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini.
Oleh karenanya, ada 6 pilihan kelas yang bisa diikuti oleh anak usia 1,5—6 tahun. Mulai dari Toddler 1 & 2 (untuk anak usia 1,5—2 tahun), Pre-Nursery (2—3 tahun), Nursery (3—4 tahun), Kindergarten 1 (4—5 tahun), dan Kindergarten 2 (5—6 tahun).


Selain pilihan kelas yang beragam, Apple Tree Pre-School BSD juga menata kapasitas kelas agar sesuai dengan jenjang usia muridnya.
Di kelas Toddler, misalnya, jumlah anak dibatasi hingga 12 orang saja. Berbeda dengan kelas Pre-Nursery atau Kindergarten yang memiliki kapasitas hingga 16 dan 20 anak. Tentu saja, hal ini ditujukan agar materi dapat diserap oleh anak secara lebih optimal.

3. Variasi Program
Apple Tree Pre-School BSD memiliki beragam program untuk mengembangkan kemampuan akademik serta mengasah bakat Si Buah Hati. Tidak hanya terpaku di dalam kelas, segudang aktivitas di luar kelas juga masuk ke dalam kurikulum agar nilai-nilai sosial tumbuh pada diri anak.


Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan, Apple Tree Pre-School BSD juga menyediakan sesi musik dan kesenian. Ada pula kelas olah tubuh seperti menari dan taekwondo. Juga sesi presentasi berkelompok dalam bentuk pagelaran pada setiap penghujung tahun ajar.
Berbagai program tersebut menjadikan proses belajar terasa lebih menyenangkan. Tanpa beban atau paksaan. Dengan begitu, bakat dan keahlian anak akan bisa dikembangkan secara optimal sehingga siap menghadapi era digital.



Dalam konteks pendidikan anak usia dini, era digital bukanlah suatu masa yang perlu ditakuti. Bukan pula era yang mesti dihindari. Sebaliknya, dengan pendekatan yang baik, era digital adalah pintu gerbang bagi anak dalam meraih kesuksesan di masa depan.
Untuk mempersiapkan anak menghadapi era digital, pendidikan wajib dimulai sejak dini. Peran dan kasih sayang orangtua di rumah tetaplah yang utama. Namun demikian, posisi PAUD juga tidak bisa dipandang sebelah mata.


Sebab apa-apa yang tidak bisa diajarkan orangtua di rumah, ada di PAUD. Gramatika, sosialisasi, hingga analitika dasar adalah beberapa hal yang dipelajari anak di PAUD. Itu adalah keahlian penting bagi anak untuk menghadapi era kekinian.
Hanya saja, sebagai orangtua, kita juga tidak bisa asal dalam memilih PAUD. Pilihlah PAUD yang benar-benar tepercaya dan memiliki kurikulum pendidikan yang baik, seperti Apple Tree Pre-School BSD.
Oleh karena itu, jangan ragu memilih #appletreeBSD sebagai bekal pendidikan anak dalam menghadapi era digital. Awas, jangan salah pilih! Sebab kita ingin melihat Si Buah Hati tumbuh menjadi pribadi jempolan, bukan? [Adhi]


***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Apple Tree Pre-School BSD Blog Competition bertema Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Era Digital.
Foto dan gambar yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi, situs Pixabay, dan website Apple Tree Pre-School BSD. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Referensi:
[1] Sundus M. (2018), The Impact of using Gadgets on Children.
[2] IDN Research Institute (2019), Indonesia Millennial Report 2019.
[3] The Asian Parent, 10 Bahaya penggunaan Gadget bagi Anak di bawah usia 12 Tahun.
[4] Conference Board of Canada (2014), The Skills Needed in Digital Age.
[5] Kemdikbud (2019), Ikhtisar Data Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017/2018.
[6] Iswari M. (2019), The Challenge of Improving Special Education Quality in Digital Era.
[7] Apple Tree Pre-School BSD.