Beranda

Navigation Menu

Menitip Masa Depan pada Energi Terbarukan



Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan energi fosil. Tapi bukan berarti kita berdiam diri saja. Banyak cara untuk menghasilkan energi terbarukan. Biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat adalah tiga di antaranya.

*** 

Lebih dari seratus tahun lalu, Henry Ford, pencetus revolusi industri transportasi asal Amerika Serikat, pernah membuat ramalan. Katanya, energi masa depan akan berasal dari rumput, buah, tanaman—hampir apa saja.

Kala itu, banyak orang yang meragukan kebenaran ucapan Sang Revolutor. Namun seiring perkembangan zaman, ketika teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, mayoritas orang sepakat bahwa apa yang diucapkan Ford bukanlah pepesan kosong belaka.

Energi fosil yang lazim kita gunakan, seperti batu bara dan minyak bumi, memang punya beragam efek negatif. Mulai dari polusi udara, efek gas rumah kaca, pemanasan global, hingga hujan asam. Penelitian Gopal dan Reddy (2015) juga membuktikan bahwa proses eksploitasi energi fosil punya dampak buruk terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

Selain merusak lingkungan, energi konvensional juga dapat menurunkan kualitas kesehatan. Pembakaran pabrik dan kendaraan bermotor menyebabkan kita sesak napas. Itulah mengapa, kita lebih senang menghirup segarnya udara pegunungan ketimbang menyesap sesaknya hawa perkotaan.

Lagi pula, energi fosil bukanlah sumber daya abadi. Suatu saat nanti, jika dieksploitasi terus-menerus, akan habis dari muka bumi. Gioietta Kuo, peneliti dari Stanford, memprakirakan energi fosil akan habis pada 2090. Dengan demikian, jelaslah bahwa mencari sumber energi terbarukan mesti menjadi prioritas bangsa mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

Di tengah pencarian sumber energi terbarukan, kita patut bersyukur. Capaian produksi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia terus meningkat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat angka produksi EBT hingga Mei 2020 sudah mencapai 15.805,59 GWh, atau setara dengan 14,21 persen total produksi energi nasional.

Dibanding dua tahun lalu, angka bauran EBT kita mencatat lonjakan yang cukup menggembirakan. Pada 2018, pangsa EBT terhadap total energi nasional hanya berkisar di angka 8,55 persen saja. Dengan kata lain, kita membukukan kenaikan hampir dua kali lipat hanya dalam waktu singkat.




Namun demikian, kita pun sadar bahwa kita tidak boleh lekas berpuas diri. Sebab masih tersisa ruang perbaikan agar cita-cita meningkatkan bauran EBT hingga 23 persen pada 2025, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, benar-benar dapat diwujudkan.

Upaya pencarian sumber energi alternatif terus dilakukan. Banyak penelitian telah membuktikan komoditas alam dan organik bisa menjadi sumber energi terbarukan. Mulai dari singkong, sampah organik, hingga tebu. Hanya saja, penerapannya tidak semudah membalik telapak tangan.

Tingginya biaya produksi masih menjadi kendala terbesar. Sumber energi ramah lingkungan seringkali gagal mencapai pasar gara-gara mahalnya ongkos produksi. Karena alasan itulah batubara masih menjadi penyumbang bahan baku terbesar energi listrik nasional hingga sekarang.

Maka dari itu, energi alternatif yang perlu didorong dan dikembangkan harus berasal dari komoditas yang pasokannya melimpah dan punya daya saing. Agar ongkos produksinya bisa menandingi energi konvensional. Di antara beragam energi alternatif, ada tiga sumber energi yang keberadaannya patut dicermati, yakni biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat.

Nah, faktor apa yang menyebabkan ketiga sumber energi itu mampu menjadi tulang punggung EBT nasional pada masa depan? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa sediakan kopi dan camilan. Jika sudah, ayo kita ulas satu per satu.



Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan sebenarnya sudah dilakukan sejak dua belas tahun silam. Kala itu, kadar biodiesel baru mencapai 2,5 persen. Artinya, setiap 100 liter biodiesel terdiri atas campuran 2,5 liter bahan bakar nabati atau energi terbarukan dan 97,5 liter bahan bakar solar. Seiring perkembangan teknologi, kandungan bahan bakar nabati terus ditingkatkan.

Keseriusan kita dalam mengembangkan biodiesel baru terlihat sejak 2016. Pada tahun itu, program mandatori B20 (biodiesel dengan kadar campuran bahan bakar nabati sebesar 20%) mulai digalakkan. Sesuai namanya, mandatori merupakan kewajiban atau keharusan. Dengan kata lain, sektor tertentu seperti usaha mikro, perikanan, pertanian, transportasi, dan pelayanan umum wajib menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini.

Upaya kita tidak berhenti sampai di situ. Pada 2020, program biodiesel terus ditingkatkan menjadi B30. Itu berarti, kadar energi terbarukan dalam tiap tetes solar semakin tinggi. Secara bertahap, kadar nabati dalam solar akan terus dinaikkan hingga berada di titik maksimal, yakni B100. Jika itu terlaksana, maka 100 persen kandungan solar bukan lagi berasal dari minyak bumi melainkan energi terbarukan.

Asa menciptakan B100 pada masa depan memang bukan sekadar impian. Sebab kandungan nabati dari biodiesel sejatinya berasal dari ekstraksi minyak kelapa sawit bernama bioetanol. Di sinilah kita patut bersyukur. Karena Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak kelapa sawit nasional pada 2019 mencapai 51,8 juta ton, atau meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16,7 juta ton dimanfaatkan untuk kepentingan domestik. Yang melegakan, setengah dari permintaan minyak kelapa sawit domestik diserap oleh program biodiesel.


  

Sederet catatan di atas tentu membanggakan. Akan tetapi, bukan berarti program biodiesel bebas hambatan. Tantangan terbesar, seperti yang dikemukakan di awal, ialah menekan harga jual biodiesel agar, paling tidak, setara dengan bahan bakar konvensional.

Untuk saat ini, selisih ongkos produksi biodiesel disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Konsep pengelolaannya pun sangat baik, karena menjunjung tinggi semboyan “dari kita untuk kita”. Perusahaan sawit berorientasi ekspor dipungut iuran sejumlah tertentu. Dana iuran itu digunakan untuk menambal selisih ongkos produksi biodiesel, agar harga jual biodiesel di pasaran bisa bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM).

Kita pun berharap banyak pada perkembangan teknologi. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya konsumsi biodiesel dalam negeri, teknologi produksi pun akan terus berkembang. Ongkos produksi biodiesel pun suatu saat akan lebih murah daripada biaya produksi bahan bakar konvensional.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah ini. Secara bertahap, gantilah bahan bakar mesin dan kendaraan kita dengan biodiesel. Selain ramah lingkungan, kita juga berperan serta dalam membantu bangsa menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi impor BBM. Keren, kan?




Selain biodiesel, tenaga surya juga menjadi sumber alternatif EBT yang potensial. Apalagi, sumber energi yang satu ini tidak akan habis dimakan zaman. Selama ada sinar matahari, selama itu pula energi bisa dihasilkan.

Saat ini, teknologi yang mengubah radiasi sinar matahari menjadi energi listrik secara langsung sudah tersedia. Namanya solar panel atau photovoltaic. Di Indonesia, teknologi solar panel sudah banyak digunakan untuk Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Yang menarik, penggunaan tenaga surya sebagai sumber energi listrik alternatif pengganti batubara terus meningkat. Apa sebab? Sama seperti biodiesel, keseriusan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi terbarukan memang memegang peranan yang begitu besar.

Kementerian ESDM, melalui Permen ESDM No.12/2008, telah meneguhkan penggunaan tenaga surya sebagai sumber penerangan jalan. Dampaknya, pembangunan infrastruktur penerangan jalan berbasis tenaga surya pun terus meningkat. Selama 2016—2019, sudah ada 46.613 unit PJU-TS yang dibangun.

Lampu tenaga surya itu telah menerangi 2.300 km jalan di 258 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, target pembangunan PJU-TS kembali dinaikkan. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 45.000 unit dalam setahun, atau hampir setara dengan torehan pembangunan selama 4 tahun terakhir.


  

Bukan hanya jalan raya saja yang mendapat sentuhan tenaga surya. Lampu tenaga surya juga sudah menerangi puluhan ribu desa yang tersebar di 22 provinsi berkat program bantuan LTSHE. Sepanjang 2017—2019, ada 363.220 unit LTSHE dibagikan secara cuma-cuma kepada desa yang belum menikmati listrik sama sekali.

Dari keseluruhan daerah, Nusa Tenggara Barat dan Papua menjadi dua provinsi dengan jatah pembagian LTSHE terbesar. Secara berturut-turut, jumlah LTSHE yang diterima oleh kedua provinsi di Kawasan Timur Indonesia itu mencapai 21.558 unit dan 13.252 unit.

Selain sebagai upaya mengurangi peran batubara yang saat ini menjadi sumber energi listrik terbesar nasional, program bantuan LTSHE juga menjadi ejawantah sila kelima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan bantuan LTSHE, saudara kita yang berada di area terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) bisa mendapat penerangan yang sama dengan kita yang berada di daerah jangkauan aliran listrik.

Kita paham bahwa penerangan merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam mencapai kesejahteraan. Melalui penerangan yang baik, kegiatan belajar-mengajar dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerangan adalah sumber harapan bangsa.

Ke depan, pemanfaatan tenaga surya tidak berhenti sebagai sumber penerangan saja. Pada Februari lalu, PT Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN, sudah menggunakan teknologi solar panel di atap gedung kantor dan unit bisnis pembangkitnya di Bali, untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, bukan mustahil bila teknologi solar panel nantinya akan digunakan secara masif di gedung perkantoran di daerah perkotaan. Atau bahkan di rumah-rumah sebagai alternatif pengganti listrik. Jika itu terjadi, harapan menurunkan emisi karbon dan membangun manusia Indonesia yang peduli akan kelestarian lingkungan pasti bakal terwujud.


 
Jika biodiesel dan tenaga surya sudah tidak asing kita dengar, maka yang satu ini pasti belum banyak diketahui orang. Ya, tidak banyak yang mengira kulit cokelat bisa digunakan sebagai sumber alternatif energi terbarukan. Dan yang paling membanggakan, temuan mengenai potensi kulit cokelat sejatinya datang dari ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Dieni Mansur.

Pada 2014, Dieni mempublikasikan jurnal bertajuk Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals. Dalam kajiannya, ia membuktikan kulit cokelat bisa menghasilkan minyak nabati, bernama pyrolysis oil, yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik.

Pyrolysis oil selama ini memang dikenal punya beragam manfaat. Di bidang kesehatan, minyak nabati ini dimanfaatkan sebagai bahan baku antiseptik dan cairan pembersih luka. Dalam bidang pangan, pyrolysis oil lazim digunakan sebagai cairan pembuat cuka.

Khusus di bidang energi, belum banyak yang memanfaatkan pyrolysis oil. Padahal, menurut Dr. Dieni, potensinya sangat besar. Kulit cokelat—bahan baku pyrolysis oil—berasal dari residu atau limbah kebun cokelat. Cokelat yang biasa kita konsumsi berasal dari biji cokelat. Sedangkan kulitnya biasanya dibuang petani dan menjadi limbah. Itu artinya, memanfaatkan kulit cokelat sama dengan melestarikan lingkungan.

Dengan demikian, tinggal satu pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah biaya produksi pyrolysis oil dari kulit cokelat bisa menandingi ongkos produksi batubara? Untuk menjawab pertanyaan itu, dua tahun lalu saya bertemu Dr. Dieni secara langsung. Kebetulan, saya bekerja sebagai analis ekonomi yang terbiasa menghitung ongkos produksi.


  

Setelah kami kalkulasi, hasilnya cukup mencengangkan. Ongkos produksi pyrolysis oil lebih hemat sekitar 20—30 persen ketimbang batubara. Selain itu, tingkat kalori yang dihasilkan pyrolysis oil lebih tinggi daripada batubara. Tingkat kalori batubara yang lazim digunakan PLN hanya berkisar 4.400 kcal. Sedangkan pyrolysis oil mampu menghasilkan energi setara 5.200 kcal. Hebat, kan?

Untuk urusan pasokan, kita tidak perlu khawatir. Indonesia adalah negara penghasil cokelat terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kementerian Pertanian mencatat produksi cokelat nasional pada 2019 mencapai 783,97 ribu ton, meningkat 2,18 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu semua bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil pyrolysis oil.

Apa yang ditemukan Dr. Dieni memberi banyak harapan sekaligus—sekali lagi—membuktikan bahwa Indonesia kaya akan sumber energi bersih dan terbarukan. Ke depan, apabila temuan Dr. Dieni bisa diekskalasi ke tingkat produksi masal, tentu akan meningkatkan capaian EBT dalam bauran energi nasional.




Dari ulasan tiga sumber energi terbarukan di atas, tentu kita berharap banyak. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa semestinya kita menitipkan masa depan bangsa pada energi terbarukan. Karena Indonesia, nyatanya memang punya kekayaan alam melimpah, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tinggal bagaimana kita yang hidup pada zaman sekarang menentukan langkah ke depan. Sudahkan kita berperan serta dalam proses penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan? Ingat, apa yang kita kerjakan saat ini pasti punya dampak bagi generasi mendatang. Jadi, ayo gunakan energi terbarukan untuk masa depan yang lebih gemilang. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 bertema Energi untuk Indonesia kategori blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.



Daftar Referensi

1. Gopal, D, dan Reddy, R.T. 2015. Exploitation of Conventional Energy Resources—Impacts on Environment—A Legal Strategy for Sustainable Development. 4th International Conference on Informatics, Environment, Energy and Applications Volume 82 of IPCBEE.

2. Kuo, Gioietta. 2019. When Fossil Fuels Run Out, What Then? [daring, https://mahb.stanford.edu/library-item/fossil-fuels-run/, diakses pada 29 Agustus 2020].

3. Kementerian ESDM. 2020. Capaian Kinerja 2019 dan Program 2020. Jakarta: Kementerian ESDM.

4. Yolanda, F. 2020. Produksi Sawit 2019 Capai 51,8 Juta Ton [daring, https://republika.co.id/berita/q54sje370/produksi-sawit-2019-capai-518-juta-ton, diakses pada 29 Agustus 2020].

5. Mansur D. dkk. 2014. Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals.

6. Kementerian Pertanian. 2020. Produksi Kakao Menurut Provinsi di Indonesia 2016—2020. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Senyum Ceria di Balik Ikhtiar Sejuta Griya



Raut wajah Tomi tampak berseri. Setelah lama menanti, impiannya punya rumah pertama bakal segera terpenuhi. Berkat program rumah bersubsidi, akhirnya ia memiliki tempat berlindung dari deras hujan dan terik matahari usai menikah nanti.

*** 

Hunian adalah impian setiap insan. Siapa pun pasti bermimpi punya rumah sendiri. Alasannya bermacam-macam. Ada yang mempersiapkan tempat tinggal untuk berumah tangga nanti, ada pula yang berinvestasi supaya hartanya tak tergerus inflasi. Yang jelas, sejak dulu papan memang menjadi salah satu kebutuhan utama manusia selain sandang dan pangan.

Hanya saja, sebagian orang masih merasa kesulitan mewujudkan mimpinya. Selain harganya relatif mahal, dibutuhkan kesabaran dan kegigihan menabung untuk bisa membeli rumah. Inilah mengapa, sebagian kalangan milenial atau pekerja anyar sering mengeluh kesulitan ketika ditanya kapan punya rumah sendiri. Padahal, penghasilan pas-pasan semestinya tidak menjadi halangan dalam meraih rumah impian.

Kalau tak percaya, tengok saja kisah Tomi. Pemuda asal Medan ini bekerja sebagai seorang satuan pengamanan (satpam). Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Boro-boro nongkrong tiap akhir pekan, ia harus membiayai keperluan hidup kedua orangtuanya setiap bulan. Kalaulah ada sisa uang, pasti ia tabung untuk modal membeli hunian.

Tomi memang berasal dari keluarga sederhana. Orangtuanya menggantungkan rezeki dari berjualan nasi padang pinggir jalan di bilangan Medan Johor. Ukurannya juga tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk sekitar 20 pelanggan saja. Apalagi, tahun ini adalah periode yang sulit bagi keluarga Tomi. Sama seperti kebanyakan bisnis kuliner lainnya, usaha yang dilakoni orangtua Tomi juga terdampak badai Korona.

Omzetnya menurun gara-gara minimnya aktivitas warga di luar rumah. Tak seperti hari-hari sebelumnya, pelanggan Nasi Padang Uni Lis—sebutan rumah makan milik orangtua Tomi—lebih memilih memasak di rumah ketimbang santap di tempat. Alhasil, kini rumah makannya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan itulah, Tomi menjadi tulang punggung keluarga bersama kedua orang kakaknya.

Meski tantangan menghadang, Tomi tak pernah menyerah. Situasi sulit tidak membuatnya putus asa. Tomi tetap giat bekerja sembari berbakti kepada kedua orangtua. Tidak lupa, ia juga selalu menyisihkan sisa uang bulanan untuk menggapai mimpinya. Tak seperti kebanyakan milenial seusianya, dirinya memang punya visi jauh ke depan.

Sejak pertama bekerja dua tahun silam, ia sudah bercita-cita punya rumah sendiri. Padahal, usianya kala itu baru 24 tahun. Tatkala kawan sebayanya masih disibukkan dengan bermain gim online atau berburu kopi kekinian, ia malah rela mengencangkan ikat pinggang. Alasannya satu: supaya ketika menikah nanti tidak lagi numpang di rumah ortu.

 

Pernah suatu ketika, Tomi diajak kawannya bertamasya ke Berastagi. Kata kawannya, sekadar cuci mata sekaligus mempererat tali silaturahmi. Namun Tomi sadar, segala aktivitas di luar rumah berpotensi menimbulkan biaya tak terduga. Ia tidak ingin impiannya tertunda hanya karena alasan tenggang rasa. Tawaran kawan ditampiknya dengan sopan.

Akan tetapi, bukan rasa kepedulian yang ia dapatkan melainkan seloroh ejekan. “Sombong betul kau, Tom. Sudahlah, sadar diri saja. Kau tak akan sanggup membeli rumah dengan gaji satpam-mu,” ejek kawannya.

Meski kerap dicemooh, Tomi tetap bergeming. Keputusannya memiliki hunian sudah dipatok bulat-bulat. Ia tolak mentah-mentah ajakan kawannya dengan alasan ingin hidup hemat. Supaya pundi-pundi tabungannya tidak terbuang sia-sia hanya karena melakukan sesuatu yang tiada berguna dan tidak jelas hasilnya.

Lebih baik mengelus dada dan bersabar ketimbang mengubur impian yang sudah lama ia pendam. Skala prioritas sudah disusun dengan jelas. Ia mesti menunda kesenangan demi mewujudkan impian, sekalipun harus menolak ajakan bersenang-senang dari seorang kawan.

Lagi pula, tugasnya sebagai satpam membutuhkan fisik yang prima. Tidak jarang ia harus begadang karena kebagian jaga malam. Ia tidak ingin tanggung jawabnya jadi terbengkalai gara-gara tidak enak badan andai mengiyakan ajakan temannya. Ia juga tidak ingin dipecat gara-gara, misalnya, ketiduran saat bertugas. Saat lepas tugas, lebih baik beristirahat di rumah daripada susah beli rumah.

 

Setiap kegigihan dan kesabaran pasti membuahkan hasil yang menggembirakan. Betul saja, perjuangan Tomi tidak sia-sia. Setelah dua tahun lebih menanti, kini tabungannya cukup untuk membayar uang muka. Usai mencari ke sana kemari, akhirnya pilihannya jatuh kepada sepetak rumah bertipe 36 di perumahan Griya Permata Indah IV, Sunggal, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Griya Permata Indah IV merupakan salah satu permukiman bersubsidi. Dibangun oleh pengembang lokal, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembiayaannya disokong dari sejumlah bank pendukung. Target pasarnya jelas, yakni masyarakat berpenghasilan rendah dengan pendapatan per bulan di bawah Rp8 juta.

Tomi terlihat semringah ketika menunjukkan buah kesabarannya kepada saya. Rumah mungil bercat kuning itu tampak berdiri kokoh. Letaknya tepat di sudut kompleks, membuat Tomi punya sejengkal lahan tambahan dibanding penghuni lainnya. Ketika sudah ditempati nanti, ia berencana menjadikan lahan kecil itu sebagai media bercocok tanam. Supaya terasa lebih asri dan hijau, begitu kata Tomi.

Rumah seharga Rp132 juta itu memang belum ditempati Tomi. Ia baru melunasi uang muka sebesar Rp7 juta dan menandatangani akad pembiayaan pada Februari lalu. Pihak bank dan pengembang menjanjikan serah terima kunci pada September mendatang. Ketika sudah dihuni nanti, Tomi mesti membayar angsuran sebesar Rp1,05 juta per bulan selama sepuluh tahun ke depan.

 

Kalau tidak ada aral melintang, Tomi akan pindah bulan depan. Sekarang, ia tengah mempersiapkan kepindahannya. Barang-barangnya yang kini berada di rumah orangtuanya sudah dikemasi dengan rapi. Sebagian baju-bajunya juga sudah dimasukkan ke dalam tas. Pokoknya, siap angkut pada saatnya nanti.

Yang jelas, Tomi sangat bersyukur menjadi salah satu penerima manfaat program rumah bersubsidi. Meski berpenghasilan pas-pasan, impiannya punya rumah sendiri jadi bisa terpenuhi. Dengan begitu, calon istri dan anaknya bisa terlindungi dari deras hujan dan terik matahari ketika mengarungi kehidupan berumah tangga nanti.


Sejuta Griya bagi Warga Indonesia

Senyum Tomi kepada saya seakan merepresentasikan kebahagiaan yang dirasakan jutaan warga Indonesia lainnya. Program kepemilikan rumah bersubsidi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak 2015 nyatanya memang menjadi sarana pewujud mimpi warga pra-sejahtera untuk memiliki rumah pertama. Melalui program itu, warga yang berpenghasilan pas-pasan bisa memiliki rumah dengan harga dan angsuran yang terjangkau.

Dalam mewujudkan mimpi warganya, pemerintah pusat tidak berjalan seorang diri. Kementerian PUPR menerapkan pola kerja sama dengan berbagai pihak. Selain dibangun oleh Kementerian PUPR sendiri, pembangunan rumah bersubsidi juga dilakoni oleh pemerintah daerah, pengembang lokal, maupun perusahaan swasta lewat dana tanggung jawab sosial. Untuk urusan pendanaan, sejumlah bank—baik BUMN maupun swasta—juga ikut andil.

 

Cita-cita pemerintah menyediakan rumah murah bagi warganya tergambar jelas dari semboyan yang diusung: Program Sejuta Rumah. Targetnya pun jelas. Selama program digelar, minimal ada sejuta hunian dengan harga terjangkau yang tuntas dibangun. Berkat kerja sama erat antar-pihak, sejak 2014 hingga 2019 sebanyak 4.800.170 unit rumah dilaporkan sudah berdiri dan dihuni.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar memang dikhususkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pada 2019 saja, sebanyak 1.257.852 unit rumah berhasil dibangun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 945.161 unit diperuntukkan bagi MBR. Sedangkan sisanya sebanyak 312.691 unit diperuntukkan bagi non-MBR. Dengan demikian, warga berpenghasilan rendah maupun generasi milenial yang baru bekerja bisa merasakan nikmatnya memiliki rumah sendiri.

Meski target terlampaui, pemerintah tetap melanjutkan program kepemilikan rumah. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan kekurangan suplai rumah atau backlog bagi segenap warganya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024, pemerintah telah menetapkan target pembangunan rumah rakyat sebanyak 5 juta unit.

 

Untuk mencapainya, sejumlah program baru pun disiapkan. Yang terkini, ada Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.25/2020 tentang Penyelenggaraan Tapera yang diketok palu pada 20 Mei 2020 lalu, setiap pekerja diwajibkan menabung agar kelak bisa punya rumah sendiri. Melalui program ini, sebanyak 500 ribu unit rumah dicita-citakan rampung dibangun hingga 2024 nanti.

Tidak hanya pegawai instansi pemerintah atau kenegaraan saja, pekerja swasta pun diwajibkan menjadi peserta Tapera. Asalkan, pendapatannya paling tidak setara dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Jadi, bukan hanya aparatur sipil negara, prajurit TNI, anggota kepolisian, atau pegawai BUMD saja yang diberi kemudahan memiliki rumah sendiri. Pegawai swasta maupun generasi milenial yang baru bekerja juga bisa menikmati fasilitas ini.

Besaran iuran Tapera pun sudah ditata agar tidak memberatkan pekerja. Hanya 3 persen dari penghasilan setiap bulan saja. Dari jumlah tersebut, sebesar 0,5 persen ditanggung oleh pemberi kerja. Barulah sisa sebesar 2,5 persen ditanggung secara mandiri oleh pekerja.

 

Yang jelas, semangat menabung warga memang perlu dipupuk kembali. Apalagi, hasil Tapera memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer warga Indonesia. Dengan kewajiban menabung, para pekerja mau tidak mau harus menyisihkan pendapatan demi menggapai impian: memiliki rumah idaman. Sebab kalau tidak dipaksa dan dibiasakan, mustahil asa punya rumah pertama bakal terlaksana.

Semangat Tapera sejatinya persis dengan kisah Tomi di atas. Untuk menggapai mimpi memiliki rumah pertama, kita harus rela menyisihkan sebagian pendapatan. Kita harus ikhlas menunda kesenangan demi meraih griya idaman. Ini yang patut disadari oleh siapa pun yang bercita-cita memiliki hunian.

Apalagi, dukungan Program Sejuta Rumah dari pemerintah terbukti berhasil sejauh ini. Dengan harga rumah dan cicilan yang tidak menguras kantong, kalangan berpenghasilan rendah bisa memperoleh tempat tinggal yang layak dan bermartabat. Dalam konteks yang lebih luas, ekonomi bangsa akan berputar dan taraf hidup warga akan meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana termaktub dalam sila kelima Pancasila, pasti akan tercipta. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional 2020. Pengambilan foto, gambar, dan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Kiat Mencari Rumah Sakit Terdekat

Rumah Sakit Terdekat


Kita sering mendengar cerita pasien meninggal gara-gara telat berobat ke rumah sakit terdekat. Kita pun sering mengikuti berita duka nyawa pasien melayang di perjalanan menuju rumah sakit. Memang benar, ajal berada di tangan Tuhan. Akan tetapi, menolong sesama adalah kewajiban umat manusia, termasuk memberi pertolongan pertama. 

*** 

Kalau boleh jujur, ada beberapa faktor penyebab pertolongan datang terlambat. Boleh jadi karena pasien terserang penyakit mendadak, sementara tidak ada seorang pun di sekitar pasien yang memberi pertolongan pertama. Jantung atau stroke, misalnya. Ketika serangan datang sementara tidak ada orang di sekitar yang bisa memberi pertolongan, kedua jenis penyakit ini terbukti fatal. 

Namun di sisi lain, keterlambatan pertolongan pun bisa terjadi karena kealpaan kita dalam mengetahui lokasi rumah sakit terdekat. Memang terkesan sederhana, tetapi itulah yang sebenarnya terjadi. Sebab saat sehat, kita cenderung abai mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan ketika jatuh sakit, termasuk mencari rumah sakit terdekat. Faktor ini yang seharusnya bisa diminimalisasi. 

Apalagi saat ini kita sedang berada di tengah situasi sulit. Pandemi Covid-19 yang mulai meluas di Indonesia sejak Maret lalu, menelan pasien dan korban jiwa yang jumlahnya tidak sedikit. Tenaga medis bekerja di luar batas, kapasitas rumah sakit pun semakin terbatas. 

Tidak jarang pula kita dengar, pasien yang biasanya mudah diterima rumah sakit, harus mengalah dengan pasien dengan kondisi yang lebih patut dirawat. Ibu hamil dan pasien penyakit dalam adalah beberapa di antaranya. Mereka harus mengurung niat berobat ke rumah sakit karena risiko tertular Covid-19 di sana lebih besar dibandingkan ketika dirawat di rumah. 

Oke. Mari kita kesampingkan dulu drama di atas. Yang jelas, dalam situasi normal, rumah sakit adalah tempat paling tepat bagi pasien untuk mendapat perawatan. Berobat ke rumah sakit adalah representasi ikhtiar paling jitu dalam mencari kesembuhan ketika mendapat diuji sakit oleh Tuhan. Oleh karena itu, agenda prioritas kita, siapa pun Anda, adalah mengetahui lokasi rumah sakit terdekat. 

Untung saja era digital membawa segudang kemudahan, termasuk di bidang kesehatan. Mencari rumah sakit terdekat kini semudah membalikkan telapak tangan. Cukup buka website atau aplikasi Halodoc, kita bisa menemukan lokasi rumah sakit terdekat dengan cepat. 

Cukup ketik nama kotamu di menu pencarian lokasi, kamu bisa segera memperoleh alamat lengkap dan daftar rumah sakit terdekat. Jika kamu membuka aplikasi atau website Halodoc lewat ponsel, kamu juga bisa menghubungi nomor telepon rumah sakit tujuanmu dengan sekali klik saja. Mudah, bukan? 

Halodoc adalah website dan aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan tepercaya, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan Anda. Tidak hanya mencari rumah terdekat saja, di sini kita juga bisa bertanya (chat) dengan dokter umum dan spesialis tepercaya dan membeli obat. 

Tidak hanya itu, Halodoc juga menyediakan segudang artikel mengenai kesehatan yang bisa menambah pengetahuan dan informasi tentang berbagai macam penyakit. Ada pula kiat dan pola hidup sehat untuk memitigasi serangan penyakit. 

Untuk mengedukasi masyarakat tentang serba-serbi Covid-19, Halodoc juga menyediakan kanal khusus bernama Coronavirus. Dalam kanal ini, kita bisa mengetahui penyebab, gejala, dan cara mendeteksi potensi Covid-19 secara mandiri dengan teknologi bot-chat. Ingat, mendapati gejala yang persis Covid-19 belum tentu terjangkit Covid-19. Halodoc bisa mengatasi kekhawatiranmu akan hal itu. 

Dengan segudang keunggulan tersebut, Halodoc adalah aplikasi yang patut diandalkan untuk menjaga kesehatan di tengah situasi sulit seperti sekarang ini. Jadi, tunggu apa lagi? Segera unduh aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga. [Adhi]

***

Secuil Kisah Berkarya dari Rumah



Dekik alarm ponsel membuka mataku tepat pukul tujuh pagi. Meski “berangkat ke kantor” tidak termasuk ke dalam daftar agendaku hari ini, aku tetap menyeret langkah kakiku menuju kamar mandi. Sebab aku tahu, selain santap sahur subuh tadi, guyuran air dingin bakal menjadi api semangatku saat bekerja dari rumah sepanjang hari. 

*** 

Sudah hampir dua bulan berlalu, sejak pertama kalinya aku bekerja dari rumah. Ya, meluasnya pandemi Covid-19 di dunia—termasuk Indonesia—memaksa Bank Indonesia (BI) mengambil kebijakan work from home (WFH) untuk sebagian besar pegawainya. 

Kebijakan yang ditempuh BI tersebut selaras dengan seruan Pemerintah. Pada awal Maret lalu, Presiden Joko Widodo mengimbau agar setiap kementerian dan lembaga negara mengambil kebijakan WFH untuk menekan angka penyebaran dan penularan virus Korona. Aku termasuk salah satu di antara ribuan pegawai BI yang berpindah meja kerja dari kantor ke rumah. 

Tentu saja ada nuansa yang jauh berbeda. Jikalau di kantor aku bisa bertegur sapa dan berdiskusi langsung dengan rekan sejawat, kini nyaris seluruh bentuk komunikasi dilakukan dari balik layar laptop atau ponsel. Jikalau di kantor aku bisa serta-merta mendatangi meja senior atau masuk ke ruang atasan untuk meminta arahan saat mengerjakan tugas sulit, kini aku harus putar otak dua kali lebih keras—sebisa mungkin menyelesaikan tugas secara mandiri. 

Ibarat pepatah, alah bisa karena biasa. Awalnya sulit dan butuh penyesuaian. Namun ketika dijalani dengan ikhlas dan sabar, segala hal yang semula menjadi tantangan, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi peluang. Peluang yang bisa menjadikan setiap pekerja dari rumah patut bersyukur. Dan semestinya, rasa syukur itulah yang mendorong siapa pun yang bekerja dari rumah agar tetap menjalankan tugasnya dengan aktif dan produktif.

 

Yang kumaksud peluang di sini, paling tidak ada tiga hal. Pertama, dengan bekerja dari rumah, kita bisa mengatur jadwal dan ritme bekerja secara mandiri. Suatu keunggulan yang boleh jadi tidak bisa kita dapatkan ketika bekerja dari kantor. Sebab di kantor; jam kerja, istirahat, dan pulang sudah ditata sedemikian rupa. Ketika di rumah, Anda-lah yang memegang kendali penuh atas itu semua. 

Gagal mengatur jadwal dengan baik, gara-gara enggan beranjak dari kasur misalnya, bisa berakibat pekerjaan menumpuk. Ujung-ujungnya, waktu bekerja malah lebih lama saat di rumah dibandingkan di kantor. Oleh karena itu, setiap pekerja dari rumah mesti mengatur jadwal dan ritme bekerja dengan cermat bila ingin tetap produktif. 

Kedua, peluang mengasah kemampuan berkomunikasi, baik secara tertulis maupun verbal. Dengan bekerja dari rumah, banyak hal yang perlu didiskusikan atau dikoordinasikan lewat dunia maya. Sebab mayoritas komunikasi akan dilakukan secara tertulis. Entah via Whatsapp (WA) ataupun lewat surel. 

Nah, seorang pekerja dari rumah yang enggan mengasah kemampuan menulis pasti berujung tidak produktif. Sebab ketika berkomunikasi lewat aksara, salah memilih dan memilah kata bisa berujung keliru makna. Salah menyapa atasan bisa jadi kena omelan. Padahal, selesai atau tidaknya tugas yang kita kerjakan akan dinilai atau diperiksa oleh atasan. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengasah kemampuan menulis selama bekerja dari rumah. 

Bahkan, seorang pekerja dari rumah tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan menulis dengan baik, tetapi juga keahlian presentasi secara apik. Seringkali ketika bekerja dari rumah kita diminta presentasi atau mengikuti rapat melalui video conference. Bila tidak pintar berkomunikasi, maka akan berdampak pada kecepatan penyelesaian tugas. Inilah pentingnya mengasah kemampuan berkomunikasi. 

Terakhir, peluang mensyukuri amanat yang diberikan kepada kita. Kawan, jikalau Anda masih mengeluh saat bekerja dari rumah, cobalah baca berita sepekan terakhir. Atau tengoklah topik pemuncak (trending topic) dari lini masa yang berseliweran di sejumlah akun media sosial. 

Berapa banyak pekerja yang terpaksa di-PHK atau dirumahkan karena pemberi kerja atau perusahaannya terdampak ombak Korona? Berapa banyak pengemudi ojek daring yang mesti kehilangan pendapatan gara-gara minimnya aktivitas di luar rumah? Dan, berapa banyak orang yang, dengan sepenuh hati dan segenap jiwa, mendambakan posisi yang kita emban saat ini? 

Maka dari itu, sudah sepatutnya kita bersyukur dengan kondisi kita yang masih punya pekerjaan di saat banyak orang lain kehilangan pekerjaan. Dan, rasa syukur itu tidak cukup kita ejawantahkan dengan menyebut “alhamdulillah” semata, tetapi juga harus diwujudkan dengan kerja keras. Dengan karya yang tidak hanya sekadar memenuhi tugas belaka, tetapi juga punya makna dan manfaat bagi bangsa. 

Dengan berbekal rasa syukur itulah, aku tetap menjalani hari-hari bekerja dari rumah dengan produktif, sekaligus inovatif. Selama bekerja dari rumah, paling tidak ada beberapa hal yang sudah kulakukan. 


Menyelesaikan Tugas Tepat Waktu 


Sebagai seorang pegawai, tentu saja prioritas nomor wahid adalah menyelesaikan tugas yang diamanahkan lembaga kepada kita. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kuncinya, seperti yang telah kuulas di awal, terletak pada kesungguhan mengatur jam kerja dengan cermat dan baik. 

Catat tugas apa saja yang ingin diselesaikan atau dipenuhi setiap hari, termasuk agenda yang melibatkan orang lain seperti presentasi daring maupun rapat virtual. Dari sana, buatlah skala prioritas. Tugas mana yang paling penting dan tenggat waktunya paling pendek. Kerjakan satu per satu dengan tekun dan ikhlas. 

Setiap akhir hari, evaluasi kembali tugas apa yang belum diselesaikan dan mengapa tidak bisa diselesaikan tepat waktu. Karena boleh jadi, kita keliru membuat urutan prioritas. Memang benar, tidak ada pekerja yang sempurna. Akan tetapi, pekerja yang paling baik adalah pekerja yang mampu mengoreksi dan meningkatkan kapabilitas diri dari kekeliruan atau kesalahan yang pernah dibuat.

 

Sedikit cerita, di awal-awal masa WFH, aku pun sering kepayahan karena belum terbiasa mengatur jadwal secara mandiri. Alhasil, aku mesti bekerja hingga larut malam untuk menyelesaikan semua tugas. Namun setelah terbiasa dan rajin mengevaluasi diri, kini aku bisa mengatur ritme bekerja hingga seluruh pekerjaan bisa diselesaikan secara tepat waktu. 

Dari sekian banyak tugas, yang paling menantang adalah menyusun bahan Rapat Evaluasi Ekonomi dan Keuangan Daerah (REKDA), sebagai bahan informasi dan asesmen kondisi terkini perekonomian daerah bagi seluruh Anggota Dewan Gubernur (ADG). 

Biasanya, penyusunan bahan REKDA yang dilakukan setiap triwulan sekali dilakukan secara konsinyasi. Ekonom terpilih dari seluruh Kantor Perwakilan BI di setiap daerah berembug di satu lokasi, agar bisa fokus menyusun bahan. Dengan adanya kebijakan pembatasan sosial, maka penyusunan bahan dilakukan dari rumah masing-masing. 

Tantangan terbesar ketika menyelesaikan bahan REKDA adalah koordinasi. Bila biasanya bisa dilakukan secara tatap muka, kini harus dilakukan secara virtual. Apalagi, bagiku ini adalah pertama kalinya menyusun bahan REKDA setelah dimutasi dari Kantor Pusat di Jakarta menuju Kantor Perwakilan di Sumatera Utara. 

Sulit, sudah pasti. Akan tetapi, rasa syukur yang membuat rasa sulit tersebut tidak kuhiraukan. Meski tergopoh-gopoh dan berulang kali meminta arahan senior, akhirnya bahan REKDA bisa kuselesaikan juga. Tepat waktu pula. 

Bagiku pribadi, menyusun bahan REKDA adalah tugas tersulit selama WFH sejauh ini. Karena paling sulit, maka rasa puas dan bangga setelah mengerjakan jauh melebihi tugas lainnya. Jadi, seandainya boleh berbagi saran, jadikanlah rasa syukur akan amanat yang sudah diberikan lembaga kepada kita sebagai pemicu semangat bekerja agar tetap produktif selama WFH. 


Tanda Tangan Digital 


Bukan BI namanya bila tidak selalu berinovasi. Untuk menjaga kelancaran alur dan kelajuan alir serta memenuhi prinsip tata kelola baik (governance) dokumen selama masa WFH, BI tengah menyiapkan aturan mengenai pemberlakuan tanda tangan digital. Sebelumnya, dokumen di BI mesti ditandatangani secara langsung (dengan menggunakan tinta). 

Jadi, setiap pegawai yang bertugas menandatangani dokumen, entah berupa surat, memorandum, laporan, atau lainnya, nantinya bisa membubuhkan tanda tangan secara digital. Tentu saja, inovasi ini akan memudahkan pegawai selama WFH sekaligus mendukung upaya pembatasan dan interaksi sosial untuk menekan daya penyebaran virus Korona.

 

Sebagai pegawai, peranku adalah mendukung dengan cara mengikuti tata cara dan aturan yang sudah dibentuk oleh BI. Beberapa hari yang lalu kami baru saja uji coba pemberlakuan tanda tangan digital ini. Alhamdulillah, seluruh prosesnya bisa aku lakukan dengan baik dan lancar. 

Rencananya, pada 11 Mei 2020 mendatang, sebagian besar dokumen di BI sudah menerapkan tanda tangan digital. Ketika saat itu tiba, tentu saja aku akan memastikan inovasi ini berjalan dengan baik dan lancar, dengan cara membubuhkan tanda tangan secara digital pada setiap dokumen yang aku tanda tangani. Dengan demikian, bekerja dari rumah bukan lagi hambatan bagi proses bekerja di BI. 


Menulis Opini di Surat Kabar 


Kalau Anda tanya apa hobiku, pasti kujawab “menulis”. Di luar jam kerja, aku menulis dan mengirim artikel opini ke berbagai surat kabar nasional. Selain untuk kepuasan pribadi karena berhasil menyalurkan hobi, tulisanku di surat kabar juga berperan sebagai diseminasi kebijakan BI agar membantu masyarakat dalam memahami peran dan upaya BI dalam menjaga perekonomian negeri. 

Ya, sebagai seorang pegawai, sudah seyogianya kita mendukung setiap kebijakan yang ditelurkan oleh lembaga. Sebagai wujud rasa syukur dan bentuk cinta kepada lembaga, maka salah satu karyaku ketika bekerja dari rumah adalah menulis opini di surat kabar. 

Sebagai seorang ekonom, topik opiniku di surat kabar pasti tidak jauh-jauh dari ekonomi. Salah satu tulisanku (gambarnya bisa Anda lihat di bawah) bercerita tentang pentingnya melanjutkan industri 4.0 yang sempat digagas Pemerintah dua-tiga tahun silam.

 

Apalagi, pada masa pandemi seperti sekarang ini, banyak sektor ekonomi yang terdampak dan berimbas pada maraknya kebijakan PHK dan merumahkan pekerja. Mau tidak mau, pelaku ekonomi dan pekerja harus mengubah cara berpikir (mindset), dari konvensional menuju era digital. Dengan demikian, dampak pelemahan ekonomi akibat Korona dapat diminimalisasi. 

Seperti yang kubilang tadi, bekerja dari rumah seharusnya tidak membuat kita terpaku pada tugas utama semata. Di luar itu, masih banyak yang bisa kita lakukan, termasuk menulis opini di surat kabar. Dengan begitu, buah pikir kita dapat menjadi inspirasi dan berguna bagi pemangku kepentingan, terutama dalam mengambil kebijakan di tengah masa sulit seperti ini. 


Menulis Buku 


Selain menulis opini di surat kabar, masa bekerja dari rumah juga kumanfaatkan untuk menulis buku. Biasanya, buku yang kutulis bertema selain ekonomi, seperti teknologi, inspirasi hidup, maupun cerita sosial. Sejak 2018 hingga saat ini, aku sudah menerbitkan tiga buah buku. 

Buku pertama, Innovation for All (2018), bercerita tentang potensi kulit cokelat menjadi sumber alternatif energi terbarukan, untuk mengatasi ketergantungan kita terhadap energi fosil yang jumlahnya terbatas. Buku kedua, Inspirasi untuk Indonesia (2019), bercerita tentang kisah hidup Tung Desem Waringin, seorang motivator yang mengajarkan pentingnya berhemat untuk ketenangan hidup.

 

Buku terbaru, Impianku untuk Indonesia (2020), bercerita tentang mimpiku melihat Indonesia menjadi negara maju dan upaya yang harus kita tempuh untuk mewujudkannya. Sebagai informasi, buku ini baru saja rilis pada bulan lalu, ketika Indonesia sudah terdampak virus Korona. Karena itu, penting bagi kita untuk terus bermimpi dan berupaya keras mewujudkan mimpi itu, agar kelak Indonesia bisa menjadi negara maju saat era pandemi berakhir. 

Ya, menulis buku adalah salah satu caraku menuangkan gagasan atau buah pikir, sekaligus tetap produktif dan inovatif selama bekerja dari rumah. Dengan berbagi tulisan, mana tahu ada pembaca yang terinspirasi atau mengambil manfaat dari tulisanku. Terlepas dari itu semua, paling tidak, aku tidak berdiam diri saja melihat negeri yang kucintai sakit diterpa Korona. Itu saja. 


Mengajar Kelas Menulis Daring 


Satu lagi upayaku untuk tetap produktif dan inovatif selama bekerja dari rumah adalah mengajar kelas menulis. Sebagai seorang penulis, aku kerap diminta oleh penyelenggara ataupun komunitas menulis untuk mengajar. Topiknya tentu saja tidak jauh-jauh dari menulis. 

Dalam setiap sesi mengajar, aku selalu menekankan kepada muridku bahwa banyak manfaat yang bisa kita raih dengan menulis. Paling tidak, ada empat kepuasan. Puas ketika berhasil menyelesaikan tulisan, puas ketika menerbitkan tulisan, puas ketika tulisan kita dibaca dan direspon oleh pembaca, dan puas ketika kita bisa menghasilkan prestasi selama menulis.

 

Dan juga, aku selalu menekankan tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Sebab bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan dan salah satu simbol negara yang patut kita jaga. Beberapa salah kaprah dalam berbahasa mesti dihentikan. 

Misalnya, semestinya kita menulis “sekadar” alih-alih “sekedar”, karena bahasa Indonesia hanya mengenal kata dasar “kadar”, bukan “kedar”. Kita juga harus berhenti menulis “jaman”, karena itu bentuk takbaku dari kata “zaman”. Kita pun harus terbiasa menggunakan kata “mengubah” alih-alih “merubah”, bila yang dimaksud adalah “menjadi lain dari bentuk semula”. Kira-kira seperti itu. 

Tentu saja, kisahku menjadi pengajar kelas menulis daring tidak dimulai dari kebetulan. Aku menduga, mungkin karena orang lain melihat prestasi menulisku yang hingga kini jumlahnya di atas 50, sehingga mengundangku sebagai pengajar. O ya, rincian prestasi menulisku dapat dilihat di sini. 

Meskipun menulis adalah proses yang tidak kenal kata “pensiun”, dan hingga kini aku pun masih terus mengasah kemampuan menulis, tetapi berbagi ilmu tidak akan pernah keliru. Termasuk ilmu menulis. Oleh karena itu, inilah upayaku untuk tetap produktif dan bermanfaat bagi orang lain ketika bekerja dari rumah. 


Karena Berkarya Bisa dari Mana Saja 


Seperti yang telah kusinggung di awal, bekerja dari rumah semestinya tidak mengurangi produktivitas kita dalam berkarya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dari rumah. 

Lima hal di atas adalah caraku tetap produktif dan inovatif selama bekerja dari rumah. Anda mungkin punya cara yang serupa, bisa juga berbeda. Yang pasti, selama bekerja dari rumah, kita harus tetap bersyukur dengan rezeki, anugerah, dan karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Dan, rasa syukur itu sudah sepatutnya kita buktikan dengan karya. 

Bukankah tugas kita di dunia semata-mata untuk beribadah? Tentu saja bentuk ibadah itu bisa kita wujudkan, salah satunya dengan tetap produktif dan inovatif selama bekerja dari rumah. Jangan lupa, ucapkanlah “bismillah” sebelum Anda bekerja. Mungkin dengan kata itulah pahala dan berkah akan mengalir selama kita berkarya. 

Akhir kata, selamat bekerja dan berkarya dari rumah. [Adhi]

 
*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Perpustakaan Bank Indonesia 2020. Gambar dan olah grafis diambil dan dilakukan secara mandiri oleh penulis. #perpustakaanbankindonesia #worldbookday #shareamillionstories #digitallearning

Bisnis Kian Melesat Bersama Situs DigiMart




Era digital menuntut pebisnis bergerak cepat. Hanya saja, pebisnis pemula kerap kedodoran saat memasarkan produknya secara digital. Minimnya modal dan keahlian olah digital adalah dua hal yang kerap menjadi hambatan. 

Untungnya, kini sudah ada DigiMart. Lewat Situs Freelancer Indonesia ini, kamu bisa mencari rupa-rupa produk dan jasa digital untuk mengembangkan usahamu. Cukup mainkan jari, bisnismu dijamin naik kelas. 

*** 

Digitalisasi bukan lagi keniscayaan. Ia telah berubah menjadi sebuah kebutuhan yang melekat dalam aktivitas keseharian. Buktinya, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, kita tidak bisa lepas dari perangkat digital. 

Bukan hanya media berkomunikasi, gawai juga digunakan untuk mengambil berbagai keputusan. Mulai dari yang sederhana seperti memilih menu makan siang, hingga keputusan penting seperti menentukan pilihan investasi. Yang jelas, digitalisasi telah mengubah pola pikir dan kebiasaan banyak orang. 

Begitu pula dengan bisnis. Dahulu, merintis bisnis cukup bermodal produk berkualitas dan pariwara dari mulut ke mulut. Sekarang, tidak lagi. Selain produk yang bermutu, dukungan promosi digital juga menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. Siapa yang enggan berubah, pastilah tergilas oleh roda perkembangan zaman. 

Berjualan kopi kekinian, misalnya. Supaya produknya dikenal banyak orang, seorang pebisnis kopi mesti mempersiapkan banyak hal. Mulai dari desain logo yang menarik, tata feed dan stories Instagram yang ciamik, video promosi yang atraktif, hingga website atau blog yang terpampang di halaman pertama mesin pencari. 

Hanya saja, tidak semua pebisnis menguasai teknik pemasaran digital, khususnya pada bisnis rintisan. Keterbatasan modal dan kurangnya keahlian digital kerap menjadi hambatan. Ini yang menyebabkan bisnis sulit berkembang.


Memang benar, keahlian digital seperti desain grafis, animasi, dan SEO writing, bisa dipelajari setiap orang, termasuk pemilik usaha rintisan. Namun demikian, pebisnis pemula biasanya belum punya banyak karyawan. Pada banyak kasus, seorang pebisnis malah harus berjuang sendirian. 

Alhasil, waktu yang tersisa untuk belajar pemasaran digital semakin terbatas. Sebab pebisnis harus fokus mengurusi operasional usaha. Mulai dari membeli bahan baku, mengolah menjadi produk jadi, hingga melayani pelanggan. Kalau mengurus usaha saja sudah keteteran, mana sempat belajar olah digital? 

Untungnya, era digital juga menghadirkan banyak profesi digital. Bermodal keahlian digital, mereka berani mengusung status sebagai pekerja lepas atau freelancer. Siap mengerjakan proyek digital asalkan sesuai dengan keahlian dan tarif yang ditentukan. 

Lantaran bekerja seorang diri, tarif yang dipasang seorang freelancer biasanya lebih miring dibandingkan tenaga profesional di sebuah perusahaan. Kondisi ini tentu menjadi kabar baik bagi pebisnis pemula. Cukup menggandeng freelancer, segala hal yang berkaitan dengan pemasaran digital dapat segera terpenuhi. 

Oleh karena itu, pertanyaan yang tersisa tinggal satu. Ke mana pebisnis harus mencari freelancer jempolan? 

Kalau kamu mengira lantaran bekerja sendirian lantas jadi sulit menemukan freelancer andal, maka kamu salah besar. Sebab kini sudah ada DigiMart, Marketplace Produk dan Jasa Digital yang bisa kamu akses via website. Di sini, kamu bisa menemukan ratusan freelancer yang sesuai dengan kebutuhan. 

Penasaran? Makanya jangan buru-buru pindah laman. Simak ulasan selengkapnya dalam beberapa alinea ke depan. 


DigiMart, Situs Freelancer Terbaik di Indonesia 

Subjudul di atas bukan saya ketik tanpa alasan. DigiMart memang situs freelancer terbaik di Indonesia. Marketplace asli Kebumen ini menyajikan produk dan jasa digital terlengkap yang bisa kamu pilih sesuai dengan kebutuhan. 

Buka saja website DigiMart. Mulai dari desain grafis, digital marketing, hingga content writing, semuanya bisa kamu temukan dalam satu situs. Jadi, kamu tidak perlu bersusah-payah mencari kontak freelancer melalui tagar di media sosial. Sebab DigiMart sudah menyediakan semuanya untukmu. 

Nah, apa saja keunggulan berbelanja di DigiMart? Paling tidak ada lima hal. Ayo kita kuliti dalam-dalam. 


1. Lengkap 

Produk dan jasa digital yang dipasarkan di DigiMart terhitung sangat lengkap. Mulai dari desain grafis, hingga optimasi website. Mulai dari jasa penulisan artikel, hingga optimasi sosial media. Semuanya hadir dalam satu situs. 

Untuk mempermudah pembeli ketika berbelanja, DigiMart membagi kategori produk dan jasa sesuai dengan keahlian freelancer. Saat ini ada enam kategori yang bisa kamu pilih, yaitu Akun, Desain Grafis, Digital Marketing, Script & Pemrograman, Penulisan & Terjemahan, dan Lainnya. 

Pada kategori Akun, kami bisa membeli akun digital, antara lain Paypal, Google Adsense, Game, dan YouTube. Sementara untuk kategori Desain Grafis, kamu bisa memesan video animasi, poster, fotografi, hingga poster dan logo.


Kategori Digital Marketing cocok untuk kamu yang ingin mengoptimasi website bisnis. Di sana ada jasa SEO, backlink, PBN, hingga social media marketing. Bagi kamu yang ingin membangun aplikasi untuk bisnismu, jangan lupa tengok pula kategori Script & Pemrograman. Berbagai programmer bisa kamu ajak kerja sama. 

Kalau butuh jasa penulisan artikel berkualitas, jangan lupa mampir ke kategori Penulisan & Terjemahan. Penulis artikel digital terbaik berkumpul membuka lapaknya di sana. Terakhir, untuk rupa-rupa jasa digital lainnya seperti pembuatan website dan toko online, semuanya tersedia di kategori Lainnya. 

Bagaimana? Lengkap, bukan? 


2. Additional Fee Murah 

Kalau kamu pikir biaya tambahan dari situs freelancer Indonesia ini mahal, maka kamu salah besar. Bayangkan, additional fee dari setiap transaksi pembelian hanya Rp5.000 saja. Murah banget, kan?


Keunggulan ini tentu saja memberi kepastian bagi pembeli. Apalagi, salah satu syarat menjadi pebisnis jempolan adalah cermat dalam mengendalikan pengeluaran. Di DigiMart, kamu tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk menemukan berbagai jenis freelancer hebat. 


3. Banyak Pilihan Metode Pembayaran 

Untuk menjamin kemudahan berbelanja, DigiMart menyediakan berbagai pilihan metode pembayaran. Saat ini, kamu bisa membayar dengan saldo akun, PayPal, transfer bank, kartu kredit, atau GO-PAY. 

Khusus untuk transfer melalui rekening bank, pilihan bank yang disediakan juga tergolong lengkap. Kamu bisa membayar melalui Bank Permata, Mandiri, BNI, atau bank yang terhubung dalam jaringan ATM.


Semua pilihan pembayaran dijamin aman. DigiMart akan menampung pembayaranmu, hingga produk dan jasa yang kamu pesan sudah diterima atau diselesaikan. Sudah begitu, ada garansi uang kembali pula. Pesanan diterima atau 100 persen uang kamu akan kembali. 


4. Sistem Rating Jamin Kualitas 

Salah satu alasan mengapa berbelanja di DigiMart itu menyenangkan adalah karena DigiMart menggunakan sistem rating freelancer. Pembeli akan memberikan rating kepada freelancer setelah berbelanja. Dengan kata lain, kamu bisa memastikan kualitas produk atau jasa yang ditawarkan seorang freelancer dari rating-nya.


Semakin tinggi rating mengindikasikan semakin baik pula kualitas produk atau jasa seorang freelancer. Dengan demikian, kita tidak akan salah pilih barang. Sebaliknya, dengan sistem ini freelancer juga akan terpacu memberikan kualitas kerja terbaiknya. Sama-sama untung, bukan? 


5. Mudah 

Tidak perlu ribet berbelanja di DigiMart. Hanya dengan lima langkah mudah, produk atau jasa digital untuk kebutuhan bisnismu akan segera terpenuhi. 

Pertama, membuat dan memverifikasi akun. Sebagai pembeli, kamu cukup mengisi username, alamat email, dan kata kunci. Setelah itu, jangan lupa cek email-mu untuk melakukan verifikasi akun barumu. 

Kedua, pilih produk dan jasa sesuai kebutuhan. Selain lewat kategori yang tersedia, kamu juga bisa memasukkan kata kunci yang sesuai pada kolom pencarian. 

Ketiga, pahami deskripsi dan rating penjual. Baca baik-baik kolom deskripsi dan perhatikan rating penjual, supaya kamu tidak salah pilih produk. 

Keempat, lakukan pembayaran. Setelah yakin dengan produk atau jasa yang ingin dibeli, segera lakukan pembayaran sesuai dengan metode pembayaran yang diinginkan. 

Terakhir, konfirmasi ulang. Segera konfirmasi pesananmu bila produk telah sesuai. Dana akan ditransfer ke rekening freelancer setelah kamu konfirmasi. Jangan lupa beri rating sesuai dengan kualitas produk atau jasa yang telah dibeli.


Nah, itu dia lima keunggulan berbelanja di DigiMart. Dengan segala kebaikannya, DigiMart adalah marketplace terbaik untuk menemukan produk dan jasa digital berkualitas. 

Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs DigiMart dan siap-siap bisnismu bakal melesat! [Adhi] 

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog DigiMart. Gambar bersumber dari koleksi pribadi penulis, Pixabay, dan DigiMart. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Menebar Kebaikan Lewat Aksi Kerelawanan


"No one is useless in this world who lightens the burdens of others."
~ Charles Dickens, Penulis 

*** 

Rasa salut sekaligus iba mengetuk hati saya ketika membaca berita di salah satu media daring ternama. Chen Lingyu, warga asal Wuhan, Tiongkok, memutuskan untuk menjadi relawan saat wabah virus Corona menyerang kampung halamannya. Wanita berusia 28 tahun itu rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan garmen demi menjadi sopir medis gratis di rumah sakit Qiaokuo. 

Saat ditanya apa yang membuat hatinya tergerak, Chen hanya menjawab sederhana. “Saya mencintai Wuhan, apa pun kondisinya. Terlebih dalam situasi buruk seperti ini, saya harus membantu sekuat tenaga.”


Sejak virus Corona muncul pada akhir 2019, kepanikan sontak melanda seluruh dunia. Keterlambatan pemerintah Tiongkok dalam mengumumkan dan mengantisipasi keberadaan virus mematikan ini menyebabkan laju penularan terjadi secepat kilat. Tidak hanya warga Tiongkok, COVID-19 juga menyerang warga negara lain di dunia, termasuk Indonesia. 

Situasi di Wuhan, daerah yang diduga menjadi asal-muasal virus Corona, lebih mencengangkan. Transportasi umum seperti bus dan kereta bawah tanah dikabarkan tidak lagi beroperasi. Aktivitas ekonomi lumpuh, rasa takut merebak di setiap sudut rumah. Warga diminta tidak meninggalkan tempat tinggalnya demi mencegah penularan lebih lanjut. 

Upaya pemerintah Tiongkok membangun rumah sakit dadakan demi merawat pasien dan menemukan vaksin tampaknya belum membuahkan hasil, setidaknya sampai saat ini. Pasien terus berjatuhan, hingga menyentuh angka 77.794 pada 22 Februari 2020. Sebanyak 2.359 di antaranya bahkan telah dinyatakan meninggal dunia.


Di tengah kondisi yang mencengangkan, Chen sama sekali tidak gentar. Tatkala yang lain berlindung di balik dinding rumah, ia rela wara-wiri demi membantu meringankan kesulitan warga. Ketika yang lain panik dan menutup diri, ia sudi beralih profesi hingga virus Corona lenyap dari muka bumi. 

Yang menarik, Chen bukanlah seorang filantropis. Bukan pula tenaga medis seperti dokter ataupun suster. Akan tetapi, keterbatasan itu tidak menjadikannya enggan dalam mengulurkan tangan. Apa pun rela ia kerjakan, termasuk menjadi sopir, asalkan bisa membantu saudara sebangsanya yang tengah berjuang melawan virus Corona di Wuhan. 

Keikhlasan Chen dalam membantu sesama memang patut diacungi jempol. Situasi luar biasa seperti wabah virus Corona semestinya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga setiap warga negara. Sebab sekecil apa pun bantuan yang kita salurkan, pasti akan meringankan beban saudara kita yang terjangkit virus Corona. 

Jadi, bisa dibayangkan apabila sikap mulia Chen bisa tertanam dalam diri banyak orang. Gerakan kerelawanan yang dilakukan secara bersama-sama pasti punya dampak positif yang lebih besar ketimbang dilakukan seorang diri. Sebab kita paham, sesulit apa pun cobaan menghadang, pasti akan terasa ringan bila dipikul oleh banyak tangan. 


Gerakan Kerelawanan Atasi Permasalahan Bangsa 

Situasi sulit seperti di Tiongkok bisa saja terjadi pada bangsa lain di dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya wabah virus Corona, kita juga perlu arif dalam menyikapi berbagai bencana ataupun permasalahan yang berpotensi terjadi di negara kita. 

Banjir, misalnya. Curah hujan tinggi yang terjadi sejak awal tahun ini menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah. Mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Depok, Banten, hingga Karawang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat paling tidak ada lebih dari 409 ribu warga terdampak banjir Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47 di antaranya harus meregang nyawa. 

Tidak hanya di Jabodetabek, beberapa hari lalu Penajam Paser Utara tidak luput dari musibah banjir. Sedikitnya 379 warga calon ibukota negara itu terdampak banjir. Meskipun tidak ada korban jiwa, infrastruktur penting seperti jembatan antarkecamatan dilaporkan putus. Hal ini menyebabkan proses evakuasi dan bantuan dari pemerintah daerah dan relawan sempat terhambat.


Di satu sisi, kita paham bahwa bencana banjir yang melanda bangsa kita memang bisa dimitigasi. Pengelolaan air dan sampah yang baik adalah salah satu di antaranya. Namun di sisi lain, korban yang telanjur tertimpa bencana juga perlu mendapat pertolongan dengan cepat. Jika tidak, jumlah korban pasti akan bertambah banyak. 

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, memang punya kewajiban melindungi segenap warganya, terlebih saat bencana datang. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, kita juga punya obligasi yang sama tatkala mendengar saudara kita sedang tertimpa bencana. 

Seperti kisah Chen di Wuhan, sudah seyogianya kita mengulurkan tangan untuk membantu mereka yang bernasib malang. Yang punya harta berlebih, silakan transfer uang ke rekening bantuan bencana. Yang punya pangan berlimbah, silakan kirim ke posko bencana atau tenda darurat terdekat. 

Andaipun tidak punya harta atau bahan makanan berlebih, kita juga bisa berkontribusi dengan menyumbang tenaga. Membantu memperlancar proses evakuasi korban, menjadi koki di dapur umum darurat, atau bergotong-royong membersihkan saluran air yang tersumbat. Ingat, sekecil apa pun bantuan kita, pasti bernilai besar bagi mereka yang tertimpa bencana.


Dalam skala yang lebih luas, kita juga bisa mendirikan atau ikut bergabung dalam komunitas atau gerakan kerelawanan. Selain lebih terukur dan terencana dibanding bertindak sendirian, gerakan kerelawanan juga merupakan sarana bertukar pikiran dan berbagi pengalaman antaranggota. Dengan begitu, pepatah “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” benar-benar bisa terwujud. 

Oleh karena itu, gerakan kerelawanan adalah solusi dalam mengatasi permasalahan bangsa, seperti bencana alam. Sebab kita tahu, bencana yang terjadi bukan hanya menyengsarakan korban saat terjadi bencana, tetapi juga berpotensi mengancam kelangsungan hidup dan kesejahteraan korban pascabencana. 

Pada hakikatnya, gerakan kerelawanan memiliki berbagai fungsi penting untuk kita cermati lebih dalam. Paling tidak, ada lima hal yang menjadi alasan mengapa gerakan kerelawanan bisa mengatasi berbagai persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.


1. Memupuk Sikap Gotong-Royong Antarumat Manusia 

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Sebagai makhluk sosial, sudah menjadi kodrat manusia untuk saling tolong-menolong. Oleh sebab itu, gerakan kerelawanan menjadi wadah yang tepat untuk memupuk sikap gotong-royong. 

Bahu-membahu menolong orang yang tengah dilanda musibah adalah hal mulia yang bisa dilakukan seorang relawan tatkala mengikuti gerakan kerelawanan. Lagi pula, sikap gotong-royong merupakan identitas bangsa Indonesia. Dengan begitu, tujuan penanganan bencana atau misi kemanusiaan lainnya dapat berjalan secara optimal.


Seorang relawan yang gemar bergotong-royong membantu sesama, pasti memiliki semangat kerja sama yang baik pula. Nah, semangat itu pada akhirnya tidak hanya berguna saat menolong korban bencana, tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat. Saling asah, saling asuh, dan saling asih, adalah karakter mulia yang bisa menjadikan negeri kita tercinta semakin berjaya. 


2. Menghilangkan Kesenjangan Sosial 

Nilai luhur kedua yang dikandung oleh gerakan kerelawanan adalah menghilangkan kesenjangan sosial. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesenjangan sosial dapat memicu terjadinya tindak kejahatan dan kriminalitas. Apabila ketimpangan ini dapat dipapas, kehidupan bermasyarakat tentu akan semakin harmonis. 

Salah satu upaya menghilangkan kesenjangan sosial adalah memperbanyak gerakan kerelawanan. Dengan menjadi relawan, kita akan menjadi pribadi yang terbiasa membantu sesama. Tatkala melihat orang lain kesulitan, kita akan segera menolong tanpa rasa ragu dan segan.


Sikap tolong-menolong seperti itulah yang akan menghilangkan kesenjangan sosial. Seorang kaya tidak akan segan-segan mendonasikan sebagian hartanya kepada orang lain yang sedang tertimpa musibah. Seorang yang punya tenaga berlebih tidak akan ragu-ragu mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah. Sikap-sikap ksatria seperti itulah yang akan menghilangkan kesenjangan sosial. 


3. Mengasah Keahlian dan Keterampilan 

Di tengah kondisi bencana, seorang relawan dituntut untuk selalu cekatan dan tanggap ketika menolong orang lain. Situasi seperti inilah yang biasanya memaksa relawan untuk menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Supaya tugas kemanusiaan yang dikerjakan bisa berjalan dengan baik dan lancar. 

Menolong korban banjir, misalnya. Paling tidak, seorang relawan harus bisa berenang. Jika tidak, Si Relawan justru malah berpotensi menjadi korban. Kalau keahlian seperti ini tidak diindahkan, Sang Penolong akan berubah status menjadi Yang Ditolong. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. 

Maka dari itu, kita harus paham betul keterampilan apa yang harus dimiliki ketika berniat menjadi relawan. Salah satu cara terbaik untuk mempersiapkan diri menjadi seorang relawan adalah dengan mengikuti program pelatihan dan pendidikan kerelawanan, seperti yang diadakan oleh Sekolah Relawan.


Lembaga sosial kemanusiaan yang beralamat di Jl. Sawi No.139, Depok itu memang fokus di bidang edukasi kerelawanan. Saat ini, ada empat program edukasi yang bisa diikuti. Mulai dari Emergency Situation Training, Volunteer Management Training, Disaster Leadership Training, hingga Program Orientasi Relawan. 

Melalui berbagai program edukasi kerelawanan tersebut, Sekolah Relawan akan membekali para relawan untuk selalu waspada ketika tengah melakukan aksi sosial. Lulusannya akan menguasai keterampilan dan keahlian menolong orang, sehingga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika menjalankan aksi kemanusiaan. 


4. Mempererat Tali Silaturahmi 

Patut disadari, menolong orang lain memaksa kita melakukan interaksi sosial. Saat aksi kemanusiaan berlangsung, terjadi komunikasi dua arah antara relawan dan korban. Hal ini akan memaksa kita untuk saling berkenalan. Yang semula tidak kenal, lambat laun menjadi akrab. Yang tadinya acuh tak acuh, sekarang jadi peduli satu sama lain.


Maka dari itu, gerakan kerelawanan akan mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat. Bukan hanya dirasakan saat penanggulangan bencana, sikap guyub dan rukun akan tertanam sekalipun kondisi sudah normal kembali. Dengan demikian, hubungan masyarakat akan senantiasa terjaga dengan baik. 


5. Mempercepat Penyaluran Bantuan dan Pertolongan 

Faktor terakhir yang menjadi alasan mengapa gerakan kerelawanan sangat penting adalah kecepatan. Ketika bencana terjadi, korban pasti memerlukan bantuan dan pertolongan dengan cepat. 

Dibanding bergerak sendiri-sendiri, gerakan kerelawanan akan menyalurkan bantuan dan pertolongan ke daerah terdampak bencana secara lebih cepat. Dengan begitu, jumlah korban terdampak bencana dapat diminimalisasi. 

Memang benar, sudah ada satuan aksi kemanusiaan negara seperti Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tim SAR. Namun demikian, akan lebih baik apabila seluruh lapisan masyarakat bahu-membahu menolong korban bencana tanpa pandang bulu. Hal ini tentu akan semakin meringankan beban penderitaan yang tengah dialami korban bencana. 

Selain itu, gerakan kerelawanan pada umumnya memiliki program aksi cepat tanggap. Program ini sangat penting dalam konteks penanggulangan bencana. Penyebaran informasi tentang peristiwa bencana pun akan berlangsung secara cepat. Ini akan memudahkan relawan dalam menggalang dana kemanusiaan maupun menyusun rencana aksi sosial.


Tidak hanya penanggulangan bencana, gerakan kerelawanan pada umumnya juga memiliki program donasi atau santunan. Social Disaster Rescue (SDR), misalnya. Satuan relawan khusus dari Sekolah Relawan yang dilatih untuk menjalankan aksi kemanusiaan ini mempunyai sejumlah program sosial. 

Salah satu contoh aksi baik yang dilakukan oleh SDR adalah program Free Food Car. Melalui program ini, kaum dhuafa, fakir, miskin, yatim, dan musafir bisa mendapat makanan yang telah disediakan di mobil keliling secara gratis. Program kemanusiaan ini bertujuan untuk membantu asupan pangan dan nutrisi bagi mereka yang kurang beruntung. 

Selain Free Food Car, masih banyak program sosial kemanusiaan yang diselenggarakan oleh SDR. Beberapa di antaranya adalah Food Box (penyediaan kotak makan di showcase masjid), Ketuk Berkah (pemberian sembako bagi janda, yatim piatu, dan dhuafa), Respon Sosial (bantuan sosial kemasyarakatan atas dasar laporan/aduan masyarakat), dan Paperles (pemberian donasi perlengkapan sekolah bagi anak yatim dan dhuafa). 


Saatnya Jadi Relawan 

Persis seperti kalimat Charles Dickens yang mengawali artikel ini, seseorang tidak akan sia-sia ketika meringankan beban orang lain. Dengan membantu sesama, kita akan belajar bagaimana cara berempati atas kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Dengan menolong sesama, kita turut menciptakan interaksi sosial yang harmonis di antara masyarakat. 

Maka dari itu, jangan pernah ragu untuk mendaftarkan dirimu sebagai relawan. Karena sejatinya keberadaan kita di dunia akan lebih bermakna bila dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Semakin banyak gerakan kerelawanan, semakin banyak pula permasalahan sosial-kemanusiaan di bangsa ini yang bisa dipecahkan.


Jadi, bagaimana? Sudah tertarik bergabung menjadi relawan? Kalau iya, kamu bisa mengisi formulir pendaftaran relawan milik Sekolah Relawan di sini. Akhir kata, semoga kita semua termasuk ke dalam barisan orang-orang yang gemar mengulurkan tangan. [Adhi] 

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Parade Inspirasi Relawan 2020 yang diselenggarakan oleh Sekolah Relawan. Gambar bersumber dari Sekolah Relawan dan berbagai portal berita nasional. Video bersumber dari saluran YouTube milik Sekolah Relawan. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis. 


Referensi: 

[1] World Health Organization. 2020. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report – 33. World Health Organization. 

[2] Sekarwati, Suci. 2020. Virus Corona Menyebar, Perempuan Ini Berani Jadi Relawan [daring], (https://dunia.tempo.co/read/1306757/virus-corona-menyebar-perempuan-ini-berani-jadi-relawan/full&view=ok, diakses tanggal 23 Februari 2020). 

[3] Savitri, Eva. 2020. BNPB: 409 Ribu Warga Terdampak Banjir di Jabodetabek, Terbanyak di Bekasi [daring], (https://news.detik.com/berita/d-4845069/bnpb-409-ribu-warga-terdampak-banjir-di-jabodetabek-terbanyak-di-bekasi, diakses tanggal 23 Februari 2020). 

[4] CNN Indonesia. 2020. Banjir Kembali Landa Ibu Kota Baru, 379 Jiwa Terdampak [daring], (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200218180529-20-475849/banjir-kembali-landa-ibu-kota-baru-379-jiwa-terdampak, diakses tanggal 23 Februari 2020).