Beranda

Navigation Menu

Edukasi Masa Kini untuk Si Buah Hati



Anak adalah anugerah yang dititipkan Tuhan kepada orangtua. Karenanya, mendidik anak menjadi kewajiban bagi orangtua. Sebab setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak sebagai bekal meraih masa depan.
Meskipun begitu, orangtua sering kali menemui kendala ketika mendidik anak. Salah satunya lantaran faktor generation gap atau celah generasi.
Apa yang dulu diajarkan, belum tentu sesuai dengan era kekinian. Apa yang dulu dianggap benar, boleh jadi dibilang aneh pada era digital. Singkat kata, kalau ingin anak Anda cerdas dan pintar, cara mendidiknya pun harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.


Sekarang, saya coba sodorkan satu contoh. Dua puluh lima tahun lalu, perangkat elektronik yang ada di rumah hanyalah televisi. Itu pun tidak berbayar atau dilengkapi kuota internet.
Alhasil, masa kecil kita dipenuhi dengan aktivitas fisik di luar rumah. Main karet atau kelereng adalah dua amsal sarana belajar untuk mengasah ketangkasan, bersosialisasi, hingga mencari hiburan.
Dewasa ini, segalanya berubah. Digitalisasi telah menyusup ke berbagai sendi kehidupan. Di kota-kota besar, karet dan kelereng sudah tidak lagi ditemukan. Perannya kini digantikan oleh gawai digital dengan beragam gim dan hiburan yang bisa diakses setiap orang, termasuk anak-anak.
Orangtua jadi serba salah. Melarang anak menyentuh gawai—seperti cara belajar mereka dahulu—ibarat merenggut masa depan anak. Pasalnya, gawai adalah gerbang informasi yang, bila digunakan dengan benar, bisa menunjang tumbuh kembang anak.


Sebaliknya, membebaskan anak bermain gawai tanpa kenal waktu juga berakibat buruk. Sundus (2018) dalam penelitian bertajuk The Impact of using Gadgets on Children menyebut anak yang sering bermain gawai berisiko terpapar sejumlah efek negatif.
Mulai dari keterlambatan berbicara (speech delay), kurang fokus, hiperaktif, perkembangan otak terhambat, cemas berlebih, depresi, obesitas, hingga watak buruk. Bahkan, bukan sekali-dua kali kita mendengar berita anak masuk rumah sakit akibat kecanduan bermain gim online.
Hanya saja, kita juga tidak bisa menafikan kenyataan bahwa kondisi dunia saat ini berbeda jauh dengan dunia yang dahulu. Kini, internet dan ponsel pintar lambat laun berubah menjadi kebutuhan dasar.


Rasmus, keponakan saya yang baru masuk SD, adalah salah satu contohnya. Ia sering meminjam ponsel ibu atau ayahnya untuk bermain gim. Belakangan, dia semakin pintar. Orangtuanya dibuat penasaran lantaran kuota data cepat habis.
Usut punya usut, rupanya Rasmus penyebabnya. Bosan main gim, ia pun mengakses YouTube untuk menonton kartun atau vlog anak-anak. Padahal, orangtuanya tidak pernah mengajari cara mengakses YouTube sama sekali. Ada-ada saja.
Apa yang terjadi pada Rasmus adalah gambaran umum anak-anak zaman sekarang. Survei IDN Research Institute pada 2019 menyebut 94,4 persen milenial, termasuk anak-anak, sudah terhubung dengan internet. Bahkan, 79 persen di antaranya dikatakan langsung membuka ponsel semenit setelah membuka mata!


Sayangnya, kecenderungan mengakses internet secara berlebihan semakin umum kita dengar. Ada 5,2 persen milenial muda yang mengakses internet lebih dari 11 jam per hari! Akibatnya, mereka dijuluki sebagai generasi pencandu internet atau i-generation.
Itu yang harus benar-benar dicamkan para orangtua agar buah hatinya tidak salah didikan.



Untuk mendidik anak pada era digital, orangtua tidak cukup sekadar pintar, melainkan harus pintar-pintar. Sebab hanya dengan pintar-pintar-lah orangtua bisa menyisihkan efek negatif internet, kemudian mengambil sisi positifnya saja.
Dengan kata lain, jadikan internet sebagai batu loncatan, bukan sebagai hambatan. Orangtua tidak boleh antipati, melainkan harus wawas diri. Untuk itu, kuncinya ada tiga: batasi, dampingi, dan ajari.

1. Batasi
Akademi Dokter Anak Amerika, dilansir dari The Asian Parent, menyebut orangtua harus membatasi penggunaan gawai pada anak, sesuai jenjang usia.
Anak usia 0—2 tahun dilarang menyentuh gawai! Pada masa ini, anak harus selalu didampingi oleh orangtua, khususnya ibu. Tidak boleh tidak. Sebab pada masa inilah anak wajib mendapat ASI eksklusif agar sehat jiwa raga.


Beranjak ke usia 3—5 tahun, anak mulai diperbolehkan mengenal gawai. Akan tetapi, waktunya harus dibatasi. Paling lama 1 jam per hari. Biar kata anak merengek minta ponsel, orangtua harus menolak dengan lembut. Berikan pengertian bahwa mengakses ponsel itu ada batasannya.
Ketika sudah memasuki usia 6—18 tahun, barulah anak diperbolehkan menggunakan ponsel dua kali lebih lama. Itu pun tidak sembarangan. Harus dilengkapi dengan dua catatan berikut.

2. Dampingi
Meskipun anak sudah boleh mengakses gawai, orangtua harus tetap mendampingi. Sebab kita tidak ingin anak mengakses aplikasi atau konten dewasa yang dapat berdampak buruk pada pembentukan karakter dan tumbuh kembangnya.


Yang jadi masalah, terkadang orangtua membiarkan anaknya mengakses gawai tanpa pengawasan. Alasannya satu: tidak tahan mendengar anaknya merengek atau menangis minta ponsel.
Supaya cepat diam, orangtua malah meminjamkan (atau bahkan membelikan) ponsel kepada anak. Ini keliru. Seharusnya, selelah dan sesibuk apa pun orangtua, anak tetap berhak mendapat pendampingan ketika mengakses ponsel.

3. Ajari
Pada dasarnya, anak selalu belajar dengan cara mencontoh apa yang dilakukan orangtua. Oleh karena itu, orangtua harus ekstra hati-hati. Ketika orangtua main ponsel tanpa kenal waktu, anak pun akan meniru kebiasaan buruk orangtua.
Kalau Anda tidak ingin anak Anda menjadi pencandu internet, maka seyogianya Anda tidak keranjingan internet pula. Tunjukkan pada anak, bahwa gawai hanya dapat diakses untuk keperluan tertentu saja, seperti komunikasi, belajar, atau bermain (dengan batasan tertentu).


Selain itu, ajari aplikasi mana saja yang bisa diakses dan tidak boleh diakses anak lewat ponsel. Pastikan pula, kiat nomor dua selalu Anda lakoni ketika sedang memberikan waktu bagi anak untuk bermain ponsel.
Dengan ketiga langkah di atas, anak jadi paham cara menggunakan internet sejak usia dini. Itu penting sebagai bekal anak dalam mengarungi kehidupan dan menggapai cita-cita pada masa depan.
Efek negatif internet akan diredam. Karakter anak pun jadi tidak terganggu, sebab ada orangtua yang selalu menjadi pengawas dan pendamping. Sedikit demi sedikit, anak pun akan belajar bertanggungjawab dan menghargai apa yang dia miliki, termasuk akses internet.



Untuk melengkapi perkembangan jasmani dan rohani anak usia dini, terkadang peran orangtua saja tidak cukup. Ada beberapa keahlian (skill) yang perlu anak pelajari sejak dini. Boleh jadi orangtua tidak paham, sebab keahlian yang dibutuhkan pada zaman dahulu berbeda dengan era kekinian.
Supaya tidak tertinggal oleh laju perkembangan zaman, Conference Board of Canada (2014) menyarankan agar anak perlu diajarkan keahlian berikut:


Dari enam keahlian di atas, mari kita ambil satu contoh. Kerja sama, misalnya. Anak perlu berinteraksi dengan teman sebaya untuk mencapai sebuah tujuan. Biasanya, hal ini dipraktikkan dalam bentuk permainan beregu. Di rumah, boleh jadi hal itu tidak bisa anak dapatkan.
Oleh karena itu, lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi solusi terbaik dalam mendidik anak pada era digital. Supaya anak bisa mulai mengasah enam keahlian di atas sejak dini, sebelum melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
Lantas, seberapa pentingnya PAUD bagi anak usia dini? Jawabannya, tentu saja sangat penting.
Usia 0—6 tahun adalah usia emas (golden age) bagi kehidupan manusia. Kemdikbud menyebut 80 persen perkembangan otak terjadi pada usia emas. Bila dididik dengan baik, anak memiliki harapan yang lebih besar untuk sukses di masa depan ketimbang sebaliknya.
Kalau kita kaitkan dengan tantangan pada era digital, peran PAUD jadi sangat vital. Seperti kajian Conference Board of Canada di atas, PAUD bisa menjembatani anak untuk mengenal keahlian digital sejak dini. Keahlian ini tentu akan sangat menunjang kehidupan anak ketika beranjak dewasa.


Untungnya, kita sudah semakin sadar akan pentingnya PAUD. Kemdikbud dalam Ikhtisar Data Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017/2018 menyebut angka partisipasi kasar (APK) PAUD sebesar 74,28 persen, meningkat hampir 2 persen dibanding tahun lalu.
Sejalan dengan hal tersebut, jumlah anak didik PAUD juga tumbuh pesat. Pada periode yang sama, ada 14,28 juta anak berusia 3—6 tahun yang duduk di kursi PAUD. Dibanding tahun lalu, jumlahnya meningkat sekitar 370 ribu anak.
Sajian data di atas tentu saja menggembirakan. Indonesia bisa optimis menatap mata depan. Sebab pendidikan anak bangsa sudah berada di jalur yang benar.
Namun demikian, banyaknya jumlah PAUD belum tentu menjamin kualitas pendidikan. Orangtua perlu lebih selektif dalam memilih PAUD kalau ingin buah hatinya tangguh menghadapi era digital. Awas, jangan salah pilih!
Maka dari itu, ada tiga kriteria yang harus diperhatikan orangtua ketika memilih PAUD.

1. Lokasi
Jarak antara PAUD dengan rumah adalah hal pertama yang perlu diperhatikan orangtua. Kalau bisa, jangan terlalu jauh. Lebih baik kalau berada di sekitar kompleks tempat tinggal.


Mengapa? Supaya memudahkan orangtua ketika mengantar dan mendampingi anaknya selama belajar. Selain itu, anak juga terhindar dari stres akibat terlalu lama di perjalanan. Lagi pula, kalau ada apa-apa, orangtua bisa segera merapat dengan cepat. Alhasil, anak senang, orangtua pun jadi tenang.

2. Pengajar
Sama seperti sekolah pada umumnya, kualitas pendidikan di PAUD sangat bergantung pada tenaga pengajarnya. Bila gurunya oke, PAUD-nya pun pasti oke. Sebaliknya juga demikian. Tatkala gurunya asal-asalan, jangan harap anak kita akan dididik dengan benar.


Oleh karena itu, kenali dulu siapa gurunya. Datang dan perhatikan betul bagaimana cara mereka mendidik anak-anak. Jangan anggap “yang penting PAUD” atau ikut-ikutan tetangga saja. Sebab itu akan memengaruhi masa depan anak Anda.

3. Kurikulum
Apabila tenaga pengajarnya sudah oke, sekarang, perhatikan apa yang diajari. Apakah materinya sudah cukup berimbang? Apakah cara mengajarnya bisa membuat anak mengeluarkan bakat dan potensinya? Dan, apakah kurikulumnya sudah cocok dengan tantangan era digital?
Bingung? Jangan khawatir. Tenang saja. Supaya tidak salah memilih PAUD, cermati sajian infografis di bawah ini.


Kata Triling & Fadel (2009), sebagaimana dikutip Iswari (2019) dalam The Challenge of Improving Special Education Quality in Digital Era, ada 15 perubahan paradigma dalam mengajar anak. Maka dari itu, kurikulum PAUD yang sesuai dengan era digital adalah kurikulum yang menerapkan paradigma di atas.
Saya udar satu contoh. Misalnya, paradigma kompetitif yang berubah menjadi kolaboratif. Para orangtua bisa meneliti, apakah PAUD mengajarkan anak mengenal rekan-rekannya? Apakah PAUD mendorong anak didiknya untuk saling bekerja sama? Kalau iya, itu satu contoh PAUD yang baik.
Lantas, PAUD mana yang paling baik? Kalau Anda tinggal di sekitar kawasan BSD Tangerang, Apple Tree Pre-School BSD adalah pilihan terbaik. Belum pernah dengar? Jangan khawatir. Anda berada di blog yang tepat. Tetaplah di sini. Ulasannya akan tersaji dalam beberapa alinea ke depan.



To educate young learners to perform well academically through experiential learning.
Itulah visi Apple Tree Pre-School BSD. Bagi saya, itu cukup menarik. PAUD yang satu ini bercita-cita menjadikan anak andal dalam akademik melalui pendidikan berbasis pengalaman. Kata kunci yang perlu digarisbawahi adalah pengalaman.
Ya, berbeda dari PAUD lainnya, Apple Tree Pre-School BSD mengajak anak terlibat dalam berbagai aktivitas didik. Mulai dari kegiatan belajar di kelas, bermain di luar kelas, kesenian, hingga pagelaran (events).


Dengan begitu, anak usia dini akan mengenal berbagai kegiatan baru, yang tidak bisa ia temukan di rumah. Tumbuh kembangnya akan dipenuhi dengan segudang kegiatan positif yang dapat mengasah kemampuan gramatikal, motorik, hingga kepedulian sosial.
Didirikan sejak 2000, Apple Tree Pre-School memang memiliki pondasi dan metode yang berbeda dengan kebanyakan PAUD. Hal itu, membuatnya menjadi yang terdepan di antara lembaga pendidikan anak usia dini lainnya. Setidaknya, ada 3 alasan mengapa Anda harus memilih Apple Tree Pre-School BSD untuk Si Buah Hati.

1. Kurkulum Berbasis Singapura
Singapura dikenal sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki pendidikan berkualitas tinggi. Tidak heran apabila kurikulum Singapura diadopsi oleh berbagai negara, termasuk Apple Tree Pre-School BSD di Indonesia.
Di Apple Tree Pre-School BSD, anak akan dibekali dengan 11 keahlian dasar sesuai dengan kurikulum pendidikan di Singapura, seperti ditampilkan dalam infografis berikut.


Yang menarik, ada 3 bahasa yang diajarkan di Apple Tree Pre-School BSD: Inggris, Mandarin, dan Indonesia. Seperti yang kita tahu, bahasa Inggris dan Mandarin adalah dua bahasa yang umum digunakan di dunia. Alhasil, masa depan anak lebih cemerlang tatkala mampu berbahasa asing sejak dini.

2. Pilihan Kelas Sesuai Usia
Edukasi mesti diajarkan secara bertahap. Beda jenjang usia, beda pula ajarannya. Hal itu sangat dipahami Apple Tree Pre-School BSD dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini.
Oleh karenanya, ada 6 pilihan kelas yang bisa diikuti oleh anak usia 1,5—6 tahun. Mulai dari Toddler 1 & 2 (untuk anak usia 1,5—2 tahun), Pre-Nursery (2—3 tahun), Nursery (3—4 tahun), Kindergarten 1 (4—5 tahun), dan Kindergarten 2 (5—6 tahun).


Selain pilihan kelas yang beragam, Apple Tree Pre-School BSD juga menata kapasitas kelas agar sesuai dengan jenjang usia muridnya.
Di kelas Toddler, misalnya, jumlah anak dibatasi hingga 12 orang saja. Berbeda dengan kelas Pre-Nursery atau Kindergarten yang memiliki kapasitas hingga 16 dan 20 anak. Tentu saja, hal ini ditujukan agar materi dapat diserap oleh anak secara lebih optimal.

3. Variasi Program
Apple Tree Pre-School BSD memiliki beragam program untuk mengembangkan kemampuan akademik serta mengasah bakat Si Buah Hati. Tidak hanya terpaku di dalam kelas, segudang aktivitas di luar kelas juga masuk ke dalam kurikulum agar nilai-nilai sosial tumbuh pada diri anak.


Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan, Apple Tree Pre-School BSD juga menyediakan sesi musik dan kesenian. Ada pula kelas olah tubuh seperti menari dan taekwondo. Juga sesi presentasi berkelompok dalam bentuk pagelaran pada setiap penghujung tahun ajar.
Berbagai program tersebut menjadikan proses belajar terasa lebih menyenangkan. Tanpa beban atau paksaan. Dengan begitu, bakat dan keahlian anak akan bisa dikembangkan secara optimal sehingga siap menghadapi era digital.



Dalam konteks pendidikan anak usia dini, era digital bukanlah suatu masa yang perlu ditakuti. Bukan pula era yang mesti dihindari. Sebaliknya, dengan pendekatan yang baik, era digital adalah pintu gerbang bagi anak dalam meraih kesuksesan di masa depan.
Untuk mempersiapkan anak menghadapi era digital, pendidikan wajib dimulai sejak dini. Peran dan kasih sayang orangtua di rumah tetaplah yang utama. Namun demikian, posisi PAUD juga tidak bisa dipandang sebelah mata.


Sebab apa-apa yang tidak bisa diajarkan orangtua di rumah, ada di PAUD. Gramatika, sosialisasi, hingga analitika dasar adalah beberapa hal yang dipelajari anak di PAUD. Itu adalah keahlian penting bagi anak untuk menghadapi era kekinian.
Hanya saja, sebagai orangtua, kita juga tidak bisa asal dalam memilih PAUD. Pilihlah PAUD yang benar-benar tepercaya dan memiliki kurikulum pendidikan yang baik, seperti Apple Tree Pre-School BSD.
Oleh karena itu, jangan ragu memilih #appletreeBSD sebagai bekal pendidikan anak dalam menghadapi era digital. Awas, jangan salah pilih! Sebab kita ingin melihat Si Buah Hati tumbuh menjadi pribadi jempolan, bukan? [Adhi]


***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Apple Tree Pre-School BSD Blog Competition bertema Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Era Digital.
Foto dan gambar yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi, situs Pixabay, dan website Apple Tree Pre-School BSD. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Referensi:
[1] Sundus M. (2018), The Impact of using Gadgets on Children.
[2] IDN Research Institute (2019), Indonesia Millennial Report 2019.
[3] The Asian Parent, 10 Bahaya penggunaan Gadget bagi Anak di bawah usia 12 Tahun.
[4] Conference Board of Canada (2014), The Skills Needed in Digital Age.
[5] Kemdikbud (2019), Ikhtisar Data Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017/2018.
[6] Iswari M. (2019), The Challenge of Improving Special Education Quality in Digital Era.
[7] Apple Tree Pre-School BSD.

Akses Informasi dalam Sentuhan Jari



Setiap orang butuh data dan informasi. Apalagi, saat ini kita sudah menapaki era digital. Sebuah masa ketika informasi bukan lagi pelengkap semata, tetapi justru menjadi landasan utama dalam mengambil berbagai keputusan.
Sekarang, mari kita udar beberapa amsal. Seorang mahasiswa jurusan pertanian, misalnya, butuh data luas sawah untuk meneliti dampak urbanisasi terhadap produksi beras. Tanpa data sahih, sudah pasti tumpuan analisis akan goyah. Tanpa informasi kuat, boleh jadi kerangka pikiran akan lemah.
Serupa dengan mahasiswa, investor pun butuh data. Sebelum berinvestasi di suatu daerah, mereka ingin melihat potensinya terlebih dahulu. Oleh karenanya, data-data publik seperti perkembangan ekonomi, jumlah UMKM, hingga frekuensi kunjungan wisatawan acap kali digunakan sebagai penentu keputusan investasi.
Ingat, itu baru dua contoh saja. Apa pun profesi yang kita punya, dalam satu waktu kita pasti memerlukan data dan informasi. Paling tidak, kalau sedang berwisata, misalnya, tentu kita butuh rekomendasi rumah makan atau oleh-oleh jempolan. Benar, kan?

Setiap orang butuh informasi publik. Infografis: Adhi Nugroho

Hanya saja, beberapa pertanyaan umum masih sering diajukan oleh para pencari informasi. Apa yang harus dilakukan untuk mengakses informasi publik? Ke mana kita harus meminta? Bagaimana caranya?
Ya, tiga pertanyaan itu sering kali memutari batok kepala ketika memerlukan data. Apa pun jenis datanya. Baik data sederhana seperti daftar alamat instansi di daerah, maupun data yang bersifat unik seperti realisasi anggaran dan pendapatan belanja daerah.
Sayangnya, tidak semua orang tahu jawabannya. Publik kerap kebingungan harus memulai dari mana. Publik pun kurang paham, ke mana permintaan data mesti ditujukan.
Alhasil, kita jadi sering bolak-balik mengakses Google. Meskipun kata kuncinya benar, belum tentu bertemu data yang diinginkan. Itu masih mending. Bahkan, mafhum kita dengar surat salah tujuan atau tamu salah alamat di berbagai dinas dan instansi pemerintah. Malang, bukan?
Padahal, sejak 2008, kita sudah punya regulasi yang menjamin keterbukaan informasi publik: UU No.14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Beleid tersebut mewajibkan penyelenggara negara dan badan publik untuk menyediakan informasi publik kepada setiap orang dengan cepat, tepat, murah, dan sederhana.

Perubahan ketentuan Keterbukaan Informasi Publik. Sumber: UU No.14/2008. Infografis: Adhi Nugroho.

Dengan adanya regulasi tersebut, segala informasi yang boleh diketahui publik, dikumpulkan dan ditatausahakan oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di masing-masing penyelenggara negara dan badan publik.
Jadi, melalui PPID-lah kita bisa mengakses informasi publik secara satu pintu. Kepada PPID-lah permintaan data dan informasi itu ditujukan. Awas, jangan salah.
Meskipun PPID dimulai dari kata pejabat, jangan khawatir prosesnya bakal ribet. Tenang saja. Justru di beberapa instansi, PPID sudah dapat diakses melalui ponsel dan website. Kita tidak perlu repot-repot lagi datang ke kantor atau mengirim surat tatkala butuh informasi.
Kalau tidak percaya, cobalah buka website PPID Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Cukup dengan tarian jari, Anda bisa mengakses segala informasi publik yang berkaitan dengan Yogyakarta.
Penasaran seperti apa rasanya? Makanya, jangan ke mana-mana. Simak pengalaman saya mengakses PPID DIY dalam beberapa alinea ke depan.



PPID Gerbang Layanan Informasi untuk Cegah Hoaks.
Itu kalimat pertama yang akan Anda baca ketika membuka laman PPID DIY. Kesan pertama sungguh menohok. Tampak sekali kesungguhan Pemda DIY dalam memerangi hoaks.
Simpang siur berita memang berpotensi menimbulkan keresahan. Kalimat di atas, menurut saya, adalah imbauan kepada masyarakat untuk tidak memercayai informasi mentah-mentah. Wajib ditelusuri dan harus diverifikasi.

Laman utama website PPID DIY. Sumber: PPID DIY. Infografis: Adhi Nugroho.

Salah satu cara mengetahui kebenaran informasi adalah mengakses PPID. Informasi apa pun yang tersaji di portal PPID, sudah pasti bisa dipercaya. Data apa pun yang diberikan PPID, sudah tentu bisa dijadikan landasan.
Itulah fungsi PPID yang (boleh jadi) belum diketahui banyak orang. Dengan imbauan menohok yang dipajang di laman utama, PPID DIY sudah selangkah di depan.
Lantas, informasi apa saja yang bisa didapat dari PPID DIY? Semua! Lebih tepatnya, segala informasi publik, kecuali yang dikecualikan. Berkaitan dengan itu, ada tiga informasi yang wajib disediakan dan diumumkan.
Pertama, informasi berkala. Sesuai namanya, informasi ini dipublikasikan secara berkala. Ada sepuluh jenis informasi berkala, antara lain profil badan publik, ringkasan program berjalan, pengumuman pengadaan barang dan jasa, serta prosedur peringatan dini dan evakuasi darurat.
Jadi, kalau kita ingin mengetahui Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemda DIY, kita tinggal mengakses menu informasi berkala saja. Selain itu, setiap informasi dikelompokkan sesuai kategorinya masing-masing. Ini semakin memudahkan pencari informasi ketika mengakses PPID.
Kedua, informasi serta merta. Berbeda dengan informasi berkala, informasi pada kategori ini tidak memiliki jadwal penerbitan tetap. Baru dikinikan setelah ada informasi terbaru mengenai hal-hal yang dapat mengancam ketertiban umum. Hingga saya mengakses, belum ada informasi yang diunggah pada menu ini.

Jenis informasi publik. Sumber: UU No.14. Infografis: Adhi Nugroho.

Terakhir, informasi setiap saat. Seperti namanya, jenis informasi wajib ada setiap saat. Ada 17 jenis informasi yang bisa Anda temui pada menu ini. Di antaranya ialah daftar informasi publik, agenda kerja pimpinan satuan kerja, daftar penelitian yang dilakukan, hingga data perbendaharaan dan inventaris.
Seperti dua jenis informasi sebelumnya, jenis informasi ini juga telah dikategorikan sesuai dengan kelasnya. Sebagai contoh, kalau Anda membutuhkan data Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) DIY, maka pada menu inilah Anda harus mencarinya.
Jangan khawatir tersesat atau tidak ketemu. Sebab menu dropdown yang digunakan dalam portal PPID DIY akan memudahkan Anda dalam mencari informasi. Segalanya dapat diakses melalui sentuhan jari.
Seperti yang telah disinggung di awal, tidak semua data dan informasi yang dimiliki Pemda DIY dapat diketahui oleh publik. Oleh karenanya, ada kategori khusus bernama informasi yang dikecualikan.
Mengapa harus dikecualikan? Bukankah sekarang sudah era keterbukaan? Itu benar. Akan tetapi, ada hal-hal yang sifatnya rahasia sehingga tidak boleh diketahui publik, yaitu informasi yang berkaitan dengan rahasia negara, rahasia bisnis, rahasia pribadi, dan rahasia jabatan.



Andai informasi yang Anda butuhkan belum diunggah di portal PPID, bukan berarti tidak ada. Sebab Anda bisa memperoleh informasi publik yang sesuai dengan kebutuhan Anda melalui mekanisme permintaan.
Ada dua cara. Pertama, secara lisan. Anda bisa mengunjungi kantor PPID DIY di Jl. Brigjend Katamso, Komplek THR, Yogyakarta pada hari dan jam kerja. Di sana, Anda akan diminta mengisi data diri dan jenis informasi yang diminta.
Selanjutnya, petugas PPID akan menerima dan mencatat permintaan Anda, serta memberikan tanda bukti dan nomor pendaftaran permintaan informasi. Anda juga dapat memilih bentuk penyajian informasi (hardcopy atau softcopy).
Apabila informasi yang Anda minta bukan informasi yang dikecualikan, maka dalam waktu 10 hari kerja (dapat diperpanjang selama 7 hari kerja), PPID DIY akan memberikan informasi tersebut. Gratis, tanpa biaya sedikit pun.


Bila Anda bukan warga Yogyakarta atau tidak sempat datang ke kantor PPID DIY, jangan khawatir. Seperti saya, Anda bisa memanfaatkan cara yang kedua, yaitu melalui website.
Kebetulan, saya memang membutuhkan daftar alamat rumah sakit yang tersedia di Yogyakarta. Bukan apa-apa, untuk berjaga-jaga saja. Kalau saya ditugaskan ke Yogyakarta, saya jadi tahu persis letak rumah sakit di Kota Pelajar tersebut.
Untuk itu, saya cukup membuka menu “Layanan Informasi” yang terletak di sisi kanan layar, kemudian mengisi formulir permintaan digital pada menu “Permohonan Informasi Publik”.
Teknis pengisiannya pun sangat mudah. Saya hanya perlu mengisi nama, nomor identitas, unggah KTP, alamat rumah dan surel, nomor telepon, pekerjaan, rincian informasi yang dibutuhkan, serta tujuan penggunaan informasi.

Surel yang dikirim oleh PPID DIY setelah saya meminta informasi publik lewat website. Foto: Adhi Nugroho.

Setelah diisi dengan lengkap, PPID DIY akan mengirim surel berisi nomor permohonan. Selanjutnya, saya bisa mengecek status permintaan informasi melalui menu “Tracking Permohonan”.
Kabar baiknya, seluruh proses di atas memerlukan waktu dua menit saja. Cepat, murah, dan mudah.

Menu tracking informasi untuk memantau proses permintaan informasi yang saya ajukan. Foto: Adhi Nugroho.

O ya, ada satu hal lagi. Ketika sudah dilayani, pastikan untuk mengisi indeks kepuasan yang terletak pada menu sidebar. Kritik dan masukan Anda pasti akan sangat berguna untuk perbaikan layanan PPID DIY ke depan. Jangan lupa, ya!



Hal menarik lainnya ketika Anda mengakses website PPID DIY adalah konektivitas dengan dua portal penting milik Pemda DIY lainnya, yaitu Integrated Development Management Center (IDMC) dan Dataku. Tautan keduanya bisa Anda akses pada ikon dengan nama yang sama pada laman utama.
Portal IDMC sendiri berfungsi layaknya command center. Anda bisa mengakses tiga jenis dashboard secara real-time, yakni (1) dashboard pembangunan; (2) dashboard e-lapor; dan (3) dashboard surveillance.
Pada dashboard pertama, Anda bisa memperoleh informasi realisasi APBD DIY. Penyajian datanya terlihat sangat apik dan modern lantaran menggunakan infografis. Cocok bagi pengusaha, pelaku ekonomi, wartawan, atau praktisi yang ingin mendapatkan informasi realisasi APBD secara padat dan bergizi.

Website PPID DIY terhubung dengan portal IDMC (Command Center DIY). Sumber: IDMC DIY. Infografis: Adhi Nugroho.

Dashboard kedua—dashboard pembangunan—berisi informasi keluhan masyarakat yang diajukan kepada instansi dan dinas di bawah Pemda DIY. Dari dashboard ini, kita bisa mengetahui jumlah, status, dan lamanya penanganan keluhan. Cocok bagi praktisi yang ingin mengukur efektivitas pelayanan Pemda DIY kepada masyarakat.
Sedangkan dashboard terakhir, surveillance, adalah portal untuk mengakses kamera CCTV milik Pemda DIY yang dipasang di seluruh daerah di Yogyakarta. Sangat berguna bagi penegak hukum maupun masyarakat umum yang ingin memantau kondisi jalan untuk, misalnya, menghindari kemacetan.

Website PPID DIY terhubung dengan portal Dataku. Sumber: Dataku. Infografis: Adhi Nugroho.

Tidak kalah apik dengan portal IDMC, ada pula portal Dataku. Sesuai namanya, Dataku berisi berbagai seri data penting yang diterbitkan oleh SKPD Pemda DIY antara lain pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, sosial, ketenagakerjaan; hingga data vertikal yang diterbitkan oleh instansi vertical seperti kepolisian dan Bank Indonesia.
Portal yang dikembangkan oleh Bappeda Provinsi DIY ini ibarat gudang data. Segala data yang berkaitan dengan Yogyakarta ada di sini. Tidak perlu bingung mencari ke sana kemari, cukup mampir ke website PPID DIY, segalanya sudah tersedia. Asyik, kan?



Satu hal lagi yang membuat PPID DIY bergitu istimewa adalah aplikasi Jogja Istimewa. Ya, sebagian informasi yang tersaji dalam website PPID DIY juga disuguhkan melalui aplikasi yang bisa Anda unduh dan akses melalui ponsel pintar.
Pada Jogja Istimewa, Anda bisa mengetahui alamat seluruh layanan publik yang tersedia di Yogyakarta seperti SKPD, pusat kesehatan, tempat ibadah, UKM, SPBU, ATM, Samsat, hingga mengecek pajak kendaraan bermotor.

Sebagian informasi PPID DIY dapat diakses melalui aplikasi Jogja Istimewa. Sumber: Jogja Istimewa. Infografis: Adhi Nugroho.

Selain itu, aplikasi Jogja Istimewa juga cocok bagi Anda yang sedang berwisata ke Yogyakarta. Sebab aplikasi ini memiliki informasi objek wisata, kuliner, hotel dan penginapan, pusat perbelanjaan, pendidikan, hingga kamera CCTV.
Singkat kata, apa pun yang Anda ingin ketahui tentang Yogyakarta, semuanya bisa diakses melalui satu aplikasi saja. Kalau menurut saya, satu kata saja: istimewa!



Tak ada gading yang tak retak, Begitu pula dengan website PPID DIY. Berdasarkan pengalaman saya, ada satu catatan ringan yang perlu menjadi perhatian.
Pada menu sidebar, sebagian besar ikon tidak terhubung pada sumber informasi yang benar. Ikon yang saya maksud adalah (1) Standar Operasional Prosedur; (2) Laporan Harta Kekayaan; (3) Statistik Keuangan; (4) Rencana Kerja; dan (5) Laporan Kinerja. Hanya satu ikon yang benar, yaitu Indeks Kepuasan.

Masih terdapat sedikit galat pada menu sidebar. Sumber: PPID DIY. Infografis: Adhi Nugroho.

Bila kita klik salah satu dari kelima ikon di atas, kita akan terhubung pada tautan yang menyajikan daftar seluruh informasi publik. Bukan informasi khusus seperti yang tertera pada nama ikon.
Seharusnya, apabila kita kilik ikon Laporan Kinerja, misalnya, website PPID DIY menampilkan daftar informasi publik yang berkaitan dengan laporan kinerja saja, bukan keseluruhan informasi.
Saya menduga, galat ini terjadi karena kealpaan dalam membubuhkan kategori pada tiap-tiap dokumen. Meskipun bersifat minor, kesalahan ini akan sedikit mengganggu kenyamanan pencari informasi.
Kendatipun begitu, ini bukanlah sebuah masalah besar. Website PPID DIY tetap menjadi salah satu yang terbaik di antara 33 provinsi lainnya di Indonesia.
Kelengkapan informasi, kecepatan akses, pelayanan permintaan informasi, ketersediaan indeks kepuasaan, hingga keterhubungan dengan portal penting lain membuat PPID DIY terasa begitu istimewa. Selamat mencoba! [Adhi]
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019.