Beranda

Navigation Menu

Perpustakaan; Tabir untuk Melampaui Harapan


Setengah menggigil, ia mengisi daftar hadir lewat layar sentuh yang terpasang tepat di depan gerbang perpustakaan. Rambutnya basah, jaketnya kuyup. Bekas lumpur di ujung celana panjangnya pun tampak belum mengering.
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak tadi pagi, tidak membuat langkahnya terhenti. Meski sepanjang jalan penuh aral melintang, senyumnya tetap berseri. Begitu saya tanya alasannya datang kemari, jawabannya sungguh menggetarkan hati,
“Saya hanya ingin belajar ekonomi,” tuturnya pasti.
***
Namanya Budi. Ia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa tingkat tiga dari salah satu universitas swasta di Bekasi. Rambutnya ikal, berat badannya tidak sampai lima puluh kilogram. Kulitnya hitam legam, berbanding terbalik dengan giginya yang putih bersih bak model iklan pasta gigi.
Adalah tugas kantor yang mempertemukan saya dengannya siang itu. Di kantor saya, Bank Indonesia, memang terdapat sebuah perpustakaan. Letaknya di lantai dua, Menara Sjafruddin Prawiranegara. Umumnya digunakan oleh karyawan yang mencari bahan referensi untuk laporan, seperti saya. Namun tidak jarang pula dikunjungi oleh mahasiswa yang hendak berburu literatur ekonomi, seperti Budi.


Hari itu, Budi datang seorang diri. Hanya bermodalkan ransel berisi dua buku catatan dan beberapa lembar fotokopian. Sambil menggigit roti yang baru saja dibelinya, ia memulai cerita.
“Kampus kami memang tidak punya taman baca, Pak. Jadi, saya harus datang kemari setiap kali menjelang ujian, atau saat diberi tugas oleh dosen. Kebetulan, perpustakaan Bapak memang lengkap. Pustaka acuannya melimpah. Plus, ada komputernya juga.”
“Temanmu mana? Kok, datang sendirian?” tanyaku penasaran.
“Yah, itulah, Pak. Teman saya rata-rata anak orang berada. Mereka bisa membeli buku, sedangkan saya harus mengandalkan fotokopian. Mereka juga punya laptop, kalau saya masih nabung sedikit demi sedikit,” cakapnya sederhana.
Meski kisahnya memilukan, namun suaranya tidak terdengar getir sama sekali. Saya yang mendengarnya jadi malu sendiri. Karena tiba-tiba merasa digurui oleh keteguhan dan ketegaran sikapnya.
“Tapi saya tidak mau kalah dari mereka, Pak. Makanya saya rajin datang ke sini. Saya harus bisa jadi sarjana ekonomi dalam tiga setengah tahun. Setelah itu, saya mau jadi pegawai negeri di Cilacap, kampung halaman saya, sambil ngurusi Ibu yang sedang sakit seorang diri.”
Kalimat terakhirnya sontak membuat hati saya menangis. Batin saya teriris-iris. Rasa iba seketika memenuhi rongga dada. Saya pun tak kuasa berkata apa-apa, selain memberinya kesempatan bergumul dengan Advanced Financial Accounting karya Ted Christensen.
Sambil berlalu, diam-diam saya memanjatkan doa untuknya. Semoga semua yang dicita-citakannya lekas terlaksana.





Perpustakaan memang identik dengan buku. Keduanya saling berhubungan dan tidak bisa dilepaskan. Tidak ada perpustakaan tanpa buku. Sebaliknya, buku hanyalah komoditas profit jikalau tidak ada perpustakaan yang menyajikannya secara cuma-cuma.
Maka, tidak salah bila timbul argumen bahwa kualitas literasi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan perpustakaan. Semakin banyak perpustakaan, maka semakin terbuka pula kesempatan anak bangsa untuk bisa membaca dan memperoleh ilmu. Pada akhirnya, hanya dengan ilmulah kita bisa menjadi bangsa yang maju.
Hanya saja, sepertinya minat membaca masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Studi Central Connecticut State University bertajuk The World’s Most Literate Nations 2016, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari total 61 negara yang diteliti. Nomor dua dari bawah setelah Botswana. Sedih!


Bila dikupas lebih dalam, terdapat 5 kriteria yang menjadi ukuran dalam studi tersebut. Ada komputer (computers), input sistem pendidikan (education systems-input), output pendidikan (education-test scores), koran (newspapers), dan tentu saja perpustakaan (libraries).
Uniknya, dari lima kriteria tersebut, peringkat perpustakaan kita cukup lumayan. Ia berada pada peringkat ke-36, lebih baik dibandingkan dengan keempat kriteria lainnya, yakni komputer (peringkat ke-60), koran (55), input sistem pendidikan (54), dan kualitas pendidikan (45).
Oleh karena itu, bisa dibayangkan apabila perpustakaan tidak menjadi kriteria penilaian. Sudah barang tentu, Indonesia akan berada pada urutan paling buncit. Aih, jangan! Mari kita berdoa, supaya hal itu tidak benar-benar terjadi.



Berkaca dari hal tersebut, maka keberadaan perpustakaan tidak boleh diremehkan. Ia tidak hanya sekadar tempat berbagai buku diatur dan ditata, melainkan sebuah kawah candradimuka yang akan membawa sumber daya manusia Indonesia semakin berjaya di kancah dunia.
Seperti Budi, misalnya. Baginya, perpustakaan tidak ubahnya dengan sebuah tabir untuk melampaui harapan.
Keterbatasan ilmu, dilawannya dengan gigih membaca buku. Ketiadaan perangkat teknologi, ia akali dengan memanfaatkan komputer dan akses internet berkecepatan tinggi. Seluruhnya dilakukannya dari balik sekat perpustakaan. Dalam benaknya, hanya ada satu impian: menjadi seorang ASN dan kembali ke pelukan Ibunda di kampung halaman.
Seperti Budi, saya pribadi juga membutuhkan perpustakaan. Sebagai seorang analis ekonomi, data adalah raja. Tanpanya, analisis yang saya buat akan terasa hambar. Persis seperti sayur tanpa garam.
Nah, di perpustakaan saya bisa menemukan banyak data dan referensi, Oleh karenanya, perpustakaan menjadi tempat yang kerap saya kunjungi tatkala diminta menyiapkan laporan atau kajian oleh atasan.


Selain untuk kepentingan pekerjaan, ada lima kausa mengapa perpustakaan menjadi salah satu tempat favorit bagi saya. Bagi kalian yang masih enggan ke perpustakaan, semoga alasan ini bisa dijadikan alat untuk menguatkan niat kalian. Tanpa berpanjang lebar, yuk, kita tilik satu per satu.




Berbagai aktivitas harian yang kita lakukan, kadang kala membuat kita terjebak dalam rutinitas belaka. Celakanya, hal ini bisa menyebabkan kita lupa dengan impian dan cita-cita. Hanya melalui hari demi hari, tanpa adanya hasrat untuk meraih prestasi atau menjadi lebih baik lagi.
Agar tidak demikian, maka kita harus berhenti sejenak. Melihat kembali, apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan harapan. Apakah sikap kita selama ini telah memiliki nilai-nilai kebaikan. Singkatnya, mundur selangkah, untuk kemudian melesat jauh ke depan. Inilah esensi dari sebuah refleksi diri.


Nah, suasana hening yang menyelimuti perpustakaan, memberikan kesempatan bagi kita untuk mengintrospeksi diri. Hanya ada kita, buku, dan ketenangan jiwa. Bila hati sedang suntuk, bacalah buku-buku motivasi. Tatkala lapar inspirasi, lahaplah pustaka sarat gizi. Atau saat memerlukan hiburan, temukanlah novel yang laris di pasaran.
Hati tenang, jiwa kenyang, inspirasi pun datang. Asyik, kan?


Perpustakaan bukan sekadar gudang buku yang ditata asal-asalan. Perpustakaan adalah ruang di mana buku ditata dengan teratur, sistematis, dan penuh perhitungan. Ada alasan mengapa tidak sembarang orang bisa menjadi pustakawan.
Dengan berkunjung ke perpustakaan, maka kita akan diajari cara berpikir sistematis. Tatkala mencari sebuah buku, mau tidak mau, kita akan mempelajari denah perpustakaan terlebih dahulu. Katakanlah kita ingin melahap Inferno karya Dan Brown. Maka sudah tentu, kita akan mencarinya pada seksi buku populer atau novel, alih-alih pada rak yang berisi buku kesehatan.


Selain itu, perpustakaan juga mengajarkan kita untuk belajar tanggung jawab. Kala meminjam buku, kita wajib mengembalikannya dengan baik, utuh, dan tepat waktu. Sama halnya ketika membaca buku di tempat. Buku yang sudah selesai dibaca, wajib dikembalikan ke tempat semula.
Memang, sih, ada beberapa perpustakaan yang membolehkan kalian menaruh buku bekas baca di atas meja. Namun demikian, apa salahnya bila kita sedikit membantu tugas pustakawan? Toh, hitung-hitung beramal. Tentu tidak sulit, bukan?


Kita pasti sepakat bahwa perpustakaan adalah gudangnya ilmu. Akan tetapi, menurut saya, perpustakaan lebih dari itu. Tidak melulu soal pelajaran yang terkadang menjemukan, perpustakaan adalah tempat di mana kita bisa menggali potensi diri. Apapun cita-cita yang kalian langitkan, maka perpustakaan bisa menjadi tempat yang paling tepat untuk mulai mewujudkan.


Seorang yang ingin memulai bisnis, misalnya. Ia bisa datang ke perpustakaan untuk membaca 33 Cara Kaya Ala Bob Sadino karya Astrid Savitri atau The Seven Habits karya Stephen Covey.
Pun demikian halnya dengan seorang penulis atau narablog. Ketika membutuhkan tambahan diksi, ia bisa melahap Sepatu Dahlan anggitan Khrisna Pabichara. Atau ia juga bisa memelototi untaian kata dari novel international best seller berjudul Laskar Pelangi, buah pikir Andrea Hirata.
Bagi kalian generasi milenial yang ingin mencari pundi-pundi dari YouTube, maka Berlomba Jadi Populer di YouTube ciptaan Alfa Hartoko, menjadi kitab yang patut dibaca. Jadi, sudah siap menggali potensi diri ke perpustakaan?


Kalau kalian berpikir perpustakaan hanyalah tempat untuk membaca buku, maka mohon maaf, kalian salah besar. Suasana tenteram di perpustakaan, justru memberikan kita ruang untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Kok, bisa? Caranya? Rapat salah satunya.


Coba kita berpikir sejenak. Daripada menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk rapat di hotel berbintang, restoran unggulan, atau kafe kekinian, mengapa tidak kunjungi perpustakaan saja? Saya yakin, ada meja besar dan kursi memadai yang bisa kita gunakan untuk menggelar sesi diskusi.
Karena perpustakaan memaksa kita untuk tidak berisik, maka rapat pun akan menjadi lebih efektif. Pendapat yang diumbar, niscaya lebih tepat sasaran. Saran yang diajukan, otomatis lebih mudah dicerna. Alhasil, solusi dan kesepakatan atas topik atau permasalahan yang dibahas dalam rapat, akan muncul dengan lebih cepat.



Tidak melulu harus serius. Perpustakaan juga bisa kita gunakan sebagai ruang rekreasi agar otak lebih segar dan hati kembali adem.
Beberapa perpustakaan besar, seperti di kantor saya, telah menyediakan beragam fasilitas yang bisa kita manfaatkan. Seperti kopi dan teh gratis, serta akses internet secara cuma-cuma. Segala fasilitas ini bisa kalian manfaatkan sebagai sarana rekreasi.


Oleh karena itu, tatkala jam istirahat, saya kerap memanfaatkan perpustakaan untuk menyegarkan kembali pikiran yang sudah berkabut. Segelas teh manis akan menghangatkan kembali tubuh yang kedinginan akibat terpaan penyejuk ruangan. Akses internet, saya manfaatkan untuk menonton YouTube, atau membaca artikel hiburan yang diumbar oleh media daring tiap menit.
Selepas berkunjung ke perpustakaan selama setengah jam, hati pun menjadi senang, dan siap kembali memulai aktivitas hingga larut malam.


Sekarang, kalian sudah tahu, ternyata perpustakaan lebih dari sekadar gudang buku. Sebaliknya, perpustakaan memiliki banyak kebaikan yang bisa kita manfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup. Entah itu mencari ilmu, menggali potensi, tempat berinteraksi, atau bahkan sarana rekreasi. Setuju?
Oleh karena itu, ada satu pertanyaan yang perlu kalian jawab. Sudahkah kalian memetakan perpustakaan mana saja yang ada di daerah kalian? Jangan bingung. Apalagi sampai garuk-garuk kepala. Sebab Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah menyajikan datanya.


Dalam laman resminya, Perpusnas membabarkan bahwa saat ini terdapat sekitar 3.019 perpustakaan di seluruh Indonesia. Bila diperinci, maka ada 1.191 unit perpustakaan umum, 516 unit perpustakaan khusus, 39 perpustakaan unit perguruan tinggi, dan 1.273 unit perpustakan sekolah.
Pada laman yang sama, kalian juga bisa mengetahui alamat masing-masing perpustakaan, lengkap dengan titik koordinat lokasinya di Google Map. Canggih, bukan? Jadi, tidak alasan bagi kalian untuk bingung mencari perpustakaan, ya!
Nah, bagi kalian yang berdomisili di Banda Aceh dan sekitarnya, ada sebuah kabar gembira. Dari delapan perpustakaan yang ada di sana (menurut data Perpusnas), ada salah satu perpustakaan yang sayang bila dilewatkan. Orang Aceh pasti sudah tahu. Ya, apalagi kalau bukan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala?



Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, atau akrab dikenal dengan Perpustakaan Unsyiah, adalah salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh. Lokasinya berada tepat di Jalan T. Nyak Arief, Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.
Perpustakaan Unsyiah memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak pertama didirikan pada 1970, perpustakaan ini telah beberapa kali pindah lokasi. Awalnya, perpustakaan ini “hanya” menggunakan gedung Fakultas Ekonomi. Seiring dengan semakin tingginya minat baca dan kebutuhan para mahasiswa akan perpustakaan, maka sejak 1994, perpustakaan Unsyiah telah memiliki gedung sendiri. Lokasinya kini berdampingan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah.



Perpustakaan Unsyiah memiliki beragam koleksi pustaka yang dapat kalian jadikan acuan dan sumber ilmu pengetahuan. Setidaknya, ada 75.114 judul koleksi, yang terdiri dari berbagai jenis pustaka. Mulai dari buku, jurnal, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, referensi, laporan penelitian, CD-ROM, hingga dokumentasi. Wah, lengkap, ya?
Memang demikian adanya. Sebab perpustakaan yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah ini memiliki sebuah visi yang tidak bisa dianggap sepele. Yakni, menjadi pusat informasi ilmiah terkemuka dan berdaya saing di Asia Tenggara.
Visi tadi kemudian diwujudkan melalui capaian sertifikasi. Tahun lalu, Perpustakaan Unsyiah mendapat sertifikasi ISO 27001 pada bidang Keamanan Informasi Sistem Perpustakaan dengan aplikasi Online Public Access Catalog (OPAC), Open Educational Resources (EOR), dan Room Booking. Hingga saat ini, Perpustakaan Unsyiah adalah satu-satunya perpustakaan perguruan tinggi yang memegang ISO 27001.
Mungkin kalian bertanya, sertifikasi ISO 27001 itu konkretnya seperti apa, sih? Mudahnya, dengan OPAC, maka kalian bisa mencari buku secara mandiri hanya dengan mengakses portal melalui komputer. Jadi, kalian tidak memerlukan bantuan pustakawan lagi. Canggih, bukan? Untuk lebih jelasnya, silakan tonton video berikut ini.


Jika itu saja belum cukup, tenang saja. Sebab ada satu lagi. Tahun 2017, Perpustakaan Unsyiah menerima penghargaan dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pidie Jaya. Prestasi ini diperoleh oleh Perpustakaan Unsyiah atas keterlibatannya dalam membantu proses reaktivasi perpustakaan di Pidie Jaya, pasca gempa bumi pada Desember 2016. Hebat, bukan?


Nah, bagi kalian mahasiswa Unsyiah dan sekitarnya, ada lima alasan mengapa kalian harus berkunjung ke Perpustakaan Unsyiah, baik secara langsung, ataupun melalui website. Yuk, mari kita ulas satu per satu.







Selain puluhan ribu judul pustaka seperti yang sudah disinggung di atas, Perpustakaan Unsyiah juga memiliki pustaka elektronik yang sangat lengkap. Mulai dari tesis, disertasi, hingga ragam pustaka elektronik lainnya seperti e-book dan e-journal yang dapat kalian akses dari website Perpustakaan Unsyiah.









Perpustakaan Unsyiah juga telah menerbitkan majalah sendiri yang diberi nama Majalah Librisyiana. Majalah yang terbit setiap triwulan ini, berisi tentang informasi seputar kegiatan dan kehidupan kampus di Unsyiah. Nah, bagi mahasiswa Unsyiah sendiri, majalah ini merupakan santapan wajib supaya tidak kudet (kurang update). Setuju?









Sebagai bentuk apresiasi kepada civitas akademika Unsyiah yang telah berkontribusi dalam memajukan literasi, setiap tahunnya Perpustakaan Unsyiah mengadakan Library Award. Tahun lalu saja, ada tiga kategori pemenang, yakni dosen teraktif dalam kelas literasi, pemustaka paling sering berkunjung ke perpustakaan, dan peminjam buku terbanyak.



Nah, bila kalian mau terpilih jadi Pemenang Library Award selanjutnya, makanya, sering-sering berkunjung ke Perpustakaan Unsyiah, ya!






Serupa dengan Library Award, Perpustakaan Unsyiah juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa Unsyiah untuk menjadi duta baca Unsyiah. Caranya? Tentu saja, kalian harus gemar membaca, dan memiliki segudang prestasi di bidang literasi.
Setiap tahun, Perpustakaan Unsyiah membuka pendaftaran duta baca Unsyiah. Nantinya, seluruh pendaftar yang memenuhi syarat, akan diseleksi secara ketat oleh Dewan Juri yang berkompeten di bidangnya. Alhasil, ada seorang mahasiswa dan satu orang mahasiswi yang berhak dinobatkan sebagai duta baca Unsyiah.



Bagaimana? Tertantang menjadi seperti Nadya Tiffany dan Furqan?





Nah, ini yang paling menarik. Sebagai ajang untuk mengapresiasi segala bentuk literasi, Perpustakaan Unsyiah kembali mengadakan Unsyiah Library Fiesta. Pada Unsyiah Library Fiesta 2019 kali ini, ada empat kategori lomba yang diadakan.



Pertama, ada lomba baca puisi yang dapat diikuti oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa. Ada juga lomba debat bahasa Indonesia yang juga dilakoni oleh siswa SMA dan mahasiswa.
Di bidang seni musik, Unsyiah Library Fiesta 2019 juga menyelenggarakan lomba akustik yang dapat diikuti oleh peserta dari kalangan umum. Dan tentu saja, seperti artikel yang sedang kalian baca ini, ada blog competition bagi blogger yang gemar menulis dan mengikuti kompetisi.
Nah, tinggal dipilih, deh. Mana yang akan kalian ikuti sesuai dengan bakat kalian? Pokoknya, jangan sampai ga ikutan, ya!




Keberadaan perpustakaan memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sudut sana, banyak saudara kita yang menggantungkan harapan dari bilik-bilik perpustakaan. Seperti Budi yang tengah berjuang melawan segala keterbatasan dari balik ruang baca. Cita-cita mulia, ia langitkan bersama jutaan aksara yang menghiasi kedua matanya.
Sama halnya dengan Perpustakaan Unsyiah yang selalu menebar inspirasi dan motivasi. Perpustakaan ini membuktikan, bahwa jarak tidak menjadi penghalang bagi pembaca untuk berkunjung ke perpustakaan. Dari website-nya, kita bisa mengakses ribuan karya untuk mewujudkan berbagai asa. Melalui Unsyiah Library Fiesta 2019, kita juga bisa berkompetisi, sambil mengasah potensi sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Terakhir, ada satu kalimat dari Norman Cousins, advokat perdamaian dunia asal Amerika Serikat, yang saya yakin kalian sependapat.

A library is the delivery room for the birth of ideas, a place where history comes to life.

Ya. Ide-ide yang brilian sejatinya lahir dari rahim perpustakaan. Ide besar yang akan kekal dalam lintasan sejarah. Ide mulia yang akan membimbing pencetusnya untuk melampaui batas-batas harapan.
Jadi, kapan kita ke perpustakaan?[]






***

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Unsyiah Library Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Informasi mengenai lomba ini telah disebarkan melalui akun Instagram pribadi milik penulis.

Foto, Ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, website Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Sedangkan video, diambil dari YouTube channel milik UPT. Perpustakaan Unsyiah.

Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Masing-masing sumber telah dicantumkan pada setiap gambar.



Daftar Referensi

Central Connecticut State University. 2017. World’s Most Literate Nations 2016, [daring] (http://www.ccsu.edu/wmln/rank.html, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Perpustakaan Nasional. 2019. Pemetaan Perpustakaan Berbasis Wilayah, [daring] (http://pemetaan.perpusnas.go.id/, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Perpustakaan Unsyiah. 2017. Sekda Pidie Jaya Serahkan Piagam Penghargaan Untuk UPT. Perpustakaan Unsyiah, [daring] (http://library.unsyiah.ac.id/sekda-pidie-jaya-serahkan-piagam-penghargaan-untuk-upt-perpustakaan-unsyiah/, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Serambinews. 2018. Perpustakaan Unsyiah Lulus Sertifikasi ISO 27001, Satu-satunya PTN di Indonesia, [daring] (http://aceh.tribunnews.com/2018/08/15/perpustakaan-unsyiah-lulus-sertifikasi-iso-27001-satu-satunya-ptn-di-indonesia, diakses tanggal 5 Maret 2019).

Nongkrong Kece Anti Kere dengan Aplikasi Club Alacarte



Joni terkejut saat melihat deretan angka pada lembar tagihan yang baru saja ia terima. Ia tak menyangka harus membayar hampir 5 juta untuk santap malamnya kali ini. Batinnya pilu, menyaksikan 99 lembar biru di dompetnya berpindah haluan ke tangan pramusaji. Namun apa daya, untuk saat ini, ia kudu menyembunyikan kegalauannya rapat-rapat. Sebab, harga dirinya mesti tetap terangkat di depan Sang Pujaan Hati yang ingin dilamarnya sejak tadi.
***
Seperti Joni, setiap orang pasti memiliki momen spesial di dalam hidupnya. Biasanya, kita ingin saat-saat itu berjalan dengan mulus tanpa hambatan, sempurna tanpa harus menelan derita. Sebab momen yang dilalui Joni, pada umumnya, tidak akan terulang untuk yang kedua kali.
Namun sayang sekali, kawan saya yang satu itu mengaku sedikit kecewa saat melamar kekasihnya. Bukan karena ditolak. Malah sebaliknya, proposal yang diajukan lantas disambut baik oleh Dewi, kekasihnya.
Hanya saja, selepas mengucapkan janji setia, Joni harus mengencangkan ikat pinggang selama sebulan ke depan. Ia alpa mengecek daftar harga restoran bintang lima yang dipesannya malam itu. Ia hanya menelan mentah-mentah rekomendasi sepupunya yang belum lama ini mengadakan pesta ulang tahun di tempat yang sama.
Jika boleh jujur, sepupu Joni tidak salah. Sebab restoran yang direkomendasikannya memang oke. Suasananya nyaman dan lokasinya tepat berada di pusat keramaian ibukota. Hidangannya lezat, musik jazz yang dilantunkan pun terasa nikmat. Cocok untuk generasi milenial yang tengah dipadu asmara.
Sayangnya, Joni kurang cermat. Andai saja ia mengikuti program keanggotaan di restoran tersebut, maka sudah pasti ia akan diberi diskon yang menggiurkan. Lebih hemat dan tidak bikin kantong cekak.
Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Saya menamainya dengan istilah terjepit situasi dan kondisi (sikon). Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi Joni pada saat itu. Kita pun pernah mengalaminya, bukan?


Jujur saja, saya pun pernah mengalami hal serupa. Meski bukan mutlak sama, namun pastinya sebelas-dua belas. Delapan tahun lalu, saya harus mentraktir kawan-kawan kampus karena baru diterima kerja. Gengsi, dong?
Pilihan lokasinya pun sudah bisa kalian terka: kafe kekinian dengan kopi sebagai minuman andalan. Gaji belum penuh, pengeluaran sudah berlebihan. Singkatnya, gaya-gayaan. Tiga minggu setelahnya, kantong menjerit dan saya pun terpaksa hidup irit. Alhasil, warteg menjadi satu-satunya pilihan saat perut melilit.
Lagi-lagi, andai saja saya memiki kartu diskon kafe tadi, maka bujet yang dikeluarkan untuk traktiran akan jauh lebih hemat. Tidak perlu terjepit sikon. Uang yang tersisa bisa saya gunakan untuk menyambung hidup tanpa harus kelewat bersahaja.
Tapi tunggu. Sejak tadi saya membahas tentang membership program atau discount card sebagai solusi kala terjepit sikon. Bukannya jadi repot kalau tiap nongkrong harus menjadi anggota restoran yang ini atau kafe yang itu? Lantas, bagaimana dengan iuran tahunannya? Kan, mahal?
Eits, kata siapa? Sudah pernah dengar Club Alacarte yang bisa menyatukan ratusan membership dengan satu aplikasi saja? Yang bisa melantaskan niat nongkrong kece tanpa harus menjadi kere? Jika belum, jangan buru-buru pindah laman. Yuk, saya perkenalkan.



Club Alacarte adalah program keanggotaan berbasis aplikasi terkemuka di Indonesia. Aplikasi besutan PT Media Digital Alacarte ini akan memberikan akses bagi kalian kepada ratusan penawaran menarik yang sedang dipromosikan oleh berbagai lifestyle merchant partners di Jabodatabek.
Mudahnya, dengan menjadi anggota Club Alacarte, kalian layaknya seorang premium member dari ratusan merchant top. Sehingga kalian tak perlu repot daftar sana-sini untuk mendapat promo menarik dari merchants. Cukup mengunduh aplikasi Club Alacarte dari Google Play atau App Store, pintu benefit ke berbagai pilihan merchant akan terbuka lebar-lebar. Untuk lebih jelasnya, silakan simak video di bawah ini.


Luasnya jaringan yang dimiliki Club Alacarte membuat aplikasi ini sangat menguntungkan. Jenis merchants yang bekerja sama dengan Club Alacarte juga sangat beragam, sehingga mampu menjawab kebutuhan gaya hidup di ibukota. Ada restoran, kafe, coffee shop, spa, beauty shop, gym, pet shop, barber shop, car wash, dentist, studio art, dan masih banyak lagi.
Dengan menjadi member Club Alacarte, kalian tidak perlu khawatir terjepit sikon lagi. Kini, santap malam bersama kekasih di Eastern Opulence menjadi lebih terjangkau. Merayakan ulang tahun bersama kawan sejawat di First Crack Coffee tidak akan membuat dompet teriak. Mau olahraga di Pilates Capital pun menjadi lebih terjangkau. Tinggal sebut saja, semuanya tersedia.



Sudah tertarik? Pastinya, dong! Kalau begitu, supaya lebih jelas, berikut akan saya ulas bagaimana menggunakan aplikasi Club Alacarte di smartphone kalian.




Menjadi member Club Alacarte semudah membalikkan telapak tangan. Ada tiga langkah sederhana yang perlu kalian lakukan.




Pertama, unduh aplikasi Club Alacarte di smartphone kalian. Pengguna Android dapat menemukannya di Google Play. Sedangkan penikmat Apple dapat menemuinya di App Store. Icon aplikasi Club Alacarte berwarna hitam legam dengan lambang Alacarte berkelir putih di bagian tengah. Jadi, jangan salah pilih, ya!
Setelah berhasil mengunduhnya, langkah selanjutnya adalah mengisi data diri. Buka aplikasi Club Alacarte, kemudian klik menu “Register”. Kalian akan diminta melengkapi data diri, yakni alamat surel, password, nama lengkap, tanggal lahir (opsional), dan jenis kelamin (opsional). O ya, bila mau lebih gampang, kalian juga bisa mendaftar dengan menggunakan akun Facebook.
Terakhir, konfirmasi. Aplikasi Club Alacarte akan mengirim 4 digit kode One Time Password (OTP) ke alamat surel. Segera cek inbox kalian, dan masukkan kode tersebut ke dalam aplikasi Club Alacarte. Bila tak mau repot-repot mengetik kode OTP, kalian juga bisa klik tombol “Confirm My Account” yang dikirim bersamaan dengan kode OTP pada surel kalian.
Nah, setelah langkah-langkah tersebut dilalui dengan benar, maka kini kalian sudah resmi menjadi free member Club Alacarte. Mudah, bukan?



Setelah resmi menjadi member Club Alacarte, kalian bebas memilih ratusan merchant partners yang tersedia pada aplikasi. Club Alacarte sendiri membagi kategori merchants menjadi dua jenis, yakni Dining dan Lifestyle & Retail.


Sesuai namanya, dining merupakan kumpulan premium merchants yang menawarkan berbagai produk dan jasa kuliner. Mulai dari restoran, kafe, coffee shop, bar, dan sejenisnya. Bar Gina, Blue Jasmine, Cliq Coffee & Kitchen, Hatchi, Gordi HQ, Stribe Kitchen & Coffee, dan Sekai Sushi adalah sebagian contoh merchants yang bekerja sama dengan Club Alacarte.
Sedangkan lifestyle & retail adalah kelompok merchants yang menyediakan produk dan jasa untuk memenuhi gaya hidup selain kuliner. Jenisnya pun bermacam-macam. Mulai dari perawatan tubuh, salon kecantikan, klinik gigi, veterinarian, hingga perawatan kendaraan. Pokoknya, lengkap tanpa cela!


Nah, yang menarik dari aplikasi Club Alacarte, kalian bisa memilih kategori merchants tadi dengan berbagai kriteria. Menu “Top Picks”, misalnya, akan menampilkan merchants yang sedang tren di kalangan masyarakat. Selain itu, ada pula menu “What’s New” yang akan menampangkan merchants terbaru. Cocok digunakan ketika sedang bosan dengan yang itu-itu saja.
Apabila ada penawaran unik yang sedang ditawarkan oleh merchants di bulan berjalan, maka kalian bisa mencarinya melalui menu “Monthly Special”. Atau jika kalian punya banyak waktu senggang untuk sekadar scrolling dengan jempol di layar smartphone, maka menu “All” menjadi pilihan yang paling tepat untuk menampilkan seluruh merchants yang bekerja sama dengan Club Alacarte.


Jujur, ketika menggunakan aplikasi Club Alacarte, banyak merchants yang namanya belum pernah saya dengar. Maklum, akhir-akhir ini saya sedang disibukkan dengan tugas di kantor, sehingga jarang nongkrong. Dari namanya, sebagian besar merchants memang unik-unik. Pertanyaannya, apakah merchant tersebut benar-benar worthed?
Tenang saja. Club Alacarte sangat paham dengan keterbatasan kita. Sama seperti imbauan yang biasa kita temui di toko barang pecah belah: “teliti sebelum membeli”. Saat klik salah satu menu merchant pada aplikasi Club Alacarte, maka detail merchant akan terpampang dengan jelas. Setidaknya ada lima informasi penting yang akan kalian temui.


Pertama, tersedia tombol tautan ke akun media sosial milik merchant. Pada umumnya Instagram dan Facebook. Bagi yang ingin menikmati fine dining, misalnya, informasi ini menjadi sangat penting. Sebab lewat Instagram, kita bisa melihat foto-foto makanan yang disajikan. Cocok atau tidaknya, tinggal kita yang tentukan.
Kedua, ada review yang bersifat independen. Merchants kelas top biasanya sering diulas di blog atau situs food critics. Nah, kita bisa membaca ulasan dari situs tersebut dengan menekan tombol berlambang huruf “R” pada aplikasi Club Alacarte.
Ketiga, tersedia nomor telepon dan alamat merchants yang terhubung langsung dengan aplikasi Google Map. Detail ini sangat membantu kita dalam mencari lokasi merchant yang dipilih. Kan, ga enak kalau sudah dandan rapi-rapi, tapi malah kesasar?
Keempat, ada katalog atau menu yang bisa kalian intip. Sebelum datang ke lokasi, kalian sudah bisa pilih-pilih menu. Sekalian menghitung-hitung estimasi biaya yang akan dikeluarkan. Biaya nongkrong jadi lebih hemat dan terukur. Asyik, kan?
Terakhir, tentu saja ada informasi mengenai promo yang ditawarkan oleh merchants. Bisa kalian pilih-pilih sesuai dengan kebutuhan. Nah, mengenai yang satu ini, selengkapnya bisa kalian baca di seksi selanjutnya.



Secara umum, ada tiga kategori promo yang ditawarkan oleh aplikasi Club Alacarte. Semuanya menguntungkan. Tinggal disesuaikan dengan minat dan kebutuhan kalian.


1.      Buy 1-Get-1
Melalui penawaran ini, kalian bisa mendapat tambahan 1 item gratis, ketika membeli 1 item di berbagai dining merchants. Singkatnya, beli 1 gratis 1, atau bayar 1 dapat 2. Dengan syarat, harga item gratisan haruslah setara atau lebih rendah dengan item yang dibeli. Lumayan, kan?
O ya, promo ini berlaku untuk setiap kunjungan yang melibatkan 2 orang atau lebih. Bila berduaan dengan pasangan, maka akan mendapat 1 item gratisan. Bila kumpul dengan 4 orang kawan, maka bisa memperoleh 2 item secara cuma-cuma. Bahkan, tatkala kalian mengajak serta teman-teman sekampung, ada 3 item gratisan yang bisa dinikmati beramai-ramai.
2.     % Off
Program diskon yang lazim kita temui. Dengan memilih penawaran ini, maka kalian bisa memperoleh potongan harga hingga 50% pada jasa tertentu yang ditawarkan oleh lifestyle merchants.
Meregangkan otot yang kaku di Musee Platinum Tokyo, misalnya, menjadi lebih murah dan terjangkau. Sama halnya ketika ingin mencuci mobil di Mastergloss. Mobil jadi kinclong, tanpa harus membuat kantong bolong.
3.     IDR Off
IDR Off memungkinkan kalian untuk mendapat potongan harga saat berbelanja dengan nominal minimum tertentu. Ini bisa kalian manfaatkan di berbagai retail merchants.
Katakanlah, kalian ingin membeli kemeja di The Cufflinks Store. Sebagai member aplikasi Club Alacarte, kalian akan mendapat potongan harga sebesar Rp600 ribu untuk setiap pembelanjaan senilai Rp2 juta. Lebih lanjut, kalian juga bisa menghemat hingga Rp900 ribu ketika tagihan belanja telah mencapai angka Rp3 juta. Beli murah dapat banyak. Menarik, bukan?



Pada titik ini, kalian sudah tahu bagaimana caranya menjadi member dan apa saja kemudahan yang ditawarkan oleh Club Alacarte. Sekarang, saya akan mengulas bagaimana cara menggunakan aplikasinya di merchant.


Pertama, pilihlah salah satu promo pada menu merchant di aplikasi Club Alacarte yang kalian miliki. Misalnya, saya memilih promo Buy-1-Get-1 untuk Any Appetizer di Blue Jasmine Restaurant. Klik tombol “Available” yang berada pada sisi kanan,  maka detail promo akan segera muncul di layar smartphone kalian. Termasuk estimasi biaya yang akan dihemat ketika memilih promo tersebut.
Setelah itu, klik tombol “Redeem” pada bagian bawah tampilan. Maka kalian akan diminta memasukkan 4 digit PIN yang sudah kalian daftarkan di awal masa pendaftaran. Pastikan kalian mengingat PIN-nya, ya! Bila lupa, maka kalian bisa mendaftarkannya kembali pada menu “Settings”.
Apabila telah memasukkan PIN dengan benar, maka tampilan di layar akan berubah. Inilah saatnya melakukan langkah ketiga, yaitu memasukkan PIN milik merchant di smartphone kalian. Mintalah pramusaji untuk memasukkan PIN merchant. Ketika seluruh tahapan sudah dilakukan dengan benar, maka kalian sudah bisa menikmati promo atau diskon sesuai pilihan.
O ya, bila kalian masih belum puas dan ingin memanfaatkan promo lainnya, maka kalian bisa mengulangi cara di atas. Simple, kan?


Nah, setiap melakukan redeem, kalian akan mendapatkan AlaPoints. Apa itu? AlaPoints adalah virtual currency Club Alacarte yang dapat kalian tukarkan dengan berbagai promo menarik lainnya. Contohnya, menggunakan kembali promo yang sudah kalian manfaatkan sebelumnya. Dengan menggunakan AlaPoints, maka promo Buy-1-Get-1 untuk Any Appetizer di Blue Jasmine Restaurant yang sebelumnya kita gunakan, bisa kita manfaatkan kembali kapan saja.
Hanya saja, AlaPoints baru bisa kalian manfaatkan tatkala sudah menjadi premium member, bukan free member. Oleh karena itu, selanjutnya saya akan mengulas tentang bagaimana menjadi premium member Club Alacarte.



Untuk menjadi premium member, kalian dapat masuk ke menu “Shop” yang ada pada laman utama. Ada 3 jenis premium member yang ditawarkan oleh Club Alacarte, sesuai dengan masa berlakunya. Mulai dari 1 bulan dengan biaya Rp49.000, 6 bulan dengan biaya Rp249.000, dan 12 bulan dengan iuran sebesar Rp399.000.
Saat selesai menentukan pilihan, klik tombol “Buy” yang terletak di sisi kanan menu. Tampilan akan berubah. Pada bagian ini, kalian juga bisa mendapatkan potongan biaya premium membership dengan memasukkan kode promo dan/atau referral. Klik tombol “Checkout” ketika sudah selesai.


Langkah terakhir adalah proses pembayaran. Ada dua metode pembayaran yang disediakan, yakni kartu kredit (berlogo Visa dan MasterCard) dan transfer bank. Untuk pilihan kedua, kalian tidak usah khawatir. Sebab ada banyak bank yang telah bekerja sama dengan Club Alacarte. Kalian bisa membayar melalui BCA, Mandiri, CIMB Niaga, Danamon, atau perbankan yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama, Prima, dan Alto.



Nah, ini yang menarik. Club Alacarte tidak hanya menyediakan diskon ciamik, tetapi juga memberikan Samsung Galaxy S10 secara cuma-cuma bagi anggotanya. Wah, mantap! Caranya?


Ketika sudah menjadi member Club Alacarte, baik free member maupun premium member, kalian akan diberikan kode referral. Sebarkan kode ini ke teman-teman kalian. Semakin banyak kode referral kalian digunakan, maka kesempatan untuk mendapatkan smartphone canggih menjadi lebih besar. Tunggu apa lagi?



Bagi saya, aplikasi Club Alacarte merupakan solusi cerdas dalam memenuhi berbagai kebutuhan gaya hidup di ibukota. Dengan menjadi anggota Club Alacarte, banyak pundi-pundi yang bisa kalian hemat saat menikmati santap malam di restoran bintang lima. Kalian juga masih bisa menabung, meski agenda ngopi tetap berjalan setiap akhir pekan.
Sebab diskon dan promo yang diberikan Club Alacarte jauh dari kata sembarangan dan asal-asalan. Sebaliknya, berbagai manfaat yang disediakan sangatlah menguntungkan dan menggiurkan.
Ah, saya jadi berandai-andai. Kalau saja Joni sudah memasang aplikasi Club Alacarte di ponselnya sebelum ia melamar Dewi, pastilah ia tidak akan tersenyum kecut saat membayar tagihan santap malam. Seandainya delapan tahun lalu sudah ada aplikasi Club Alacarte, maka saya pun tidak perlu menahan lapar selepas mentraktir kawan-kawan.


Maka benarlah apa yang dikatakan Ayla Dimitri, beauty influencer dan selebgram terkenal asal Indonesia mengenai aplikasi Club Alacarte.
For those who likes to go out, this app gives you the flexibility and opportunity to save!
Kalau saya, mudah saja. Kita tetap bisa nongkrong-nongkrong kece tanpa takut menjadi kere dengan aplikasi Club Alacarte. Setuju, ente?[]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam #AlaReview Blog Competition yang diselenggarakan oleh Club Alacarte.
Ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, aplikasi Club Alacarte, media sosial merchants (dicantumkan langsung dalam gambar), serta situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya. Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari YouTube channel Club Alacarte.
Tautan artikel ini telah disebarkan melalui akun media sosial penulis, yakni Instagram, Facebook, dan Twitter.