Beranda

Navigation Menu

Ayam Goreng Krezz ABB, Santapan Halal Penuntas Lapar


Bosen, nih. Makan di luar yuk, Pap!” ajak Nadia kepadaku, sambil mengeringkan rambut panjangnya. Wangi sabun dari tubuhnya merebak ke seluruh kamar, menghujam rongga hidungku.
Istriku baru saja mandi, sementara aku masih terbaring di kasur. Ia sudah siap-siap pergi, saat aku sedang enak-enaknya mendengkur.
Setengah enggan, kulirik ponsel pakai mata satu. Ternyata sudah jam setengah satu. Rasanya baru dua jam yang lalu aku menayangkan tulisan di blogku. Nyatanya sudah sembilan jam berlalu.
Saat akhir pekan, aku memang terbiasa bangun siang. Apalagi ketika malam sebelumnya habis begadang. Sambil mengerdipkan mata berulang-ulang, aku berusaha menyatukan jiwa yang masih melayang-layang.
Kriuuukk...
Tiba-tiba perutku berbunyi kencang. Cacing-cacing di dalamnya mulai mencari suapan. Aku lupa, sudah dua puluh empat jam mereka tak kuberi makan. Karena sibuk kejar tayang, kemarin tak sengaja kulewatkan santap malam.
Dengan cepat Nadia mengalihkan pandangannya kepadaku. Ia tertawa terpingkal-pingkal mendengar perutku keroncongan. Hampir saja pengering rambut jatuh dari genggamannya.
“Tuh, kan. Sudah laper, ya?” tanyanya sambil tersenyum. Aku tak menjawab. Hanya menggaruk-garuk kepala, tersipu malu. Entah mengapa aku merasa seperti tertangkap basah, meskipun sebenarnya tak punya salah.
“Kita coba cari tempat makan baru, yuk. Jangan di warteg terus. Biar aku yang cari ya, Mih,” tuturku sambil membuka Instagram.
Ah, senangnya. Zaman sekarang segalanya terasa lebih mudah. Mau cari tempat makan tinggal mainkan jempol saja. Beda halnya dengan sepuluh tahun lalu, saat kami masih unyu-unyu. Mencari tempat makan baru mesti menelusuri jalan berliku-liku.
Iya, kalau ketemu. Lah, kalau tiba-tiba jalan buntu?
Kami berdua memang biasa makan di luar rumah. Senin hingga Jumat, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mencari nafkah di kantor, sedangkan Nadia menjalankan studi pascasarjana di kampus. Saat akhir pekan tiba, barulah kami makan sama-sama.
“Ayam geprek mau, ga?” tanyaku seraya mengetik tanda pagar #AyamGeprek di menu pencarian media sosial yang paling digemari generasi milenial ini. Sudah tiga tahun lebih menikah, tentu aku tahu apa yang istriku mau.
Ayam sepertinya memang paling cocok dengan lidah orang Indonesia. Selain tersedia di mana-mana, penyajiannya pun dikemas dalam berbagai rupa. Mulai dari soto ayam, mie ayam, ayam kalasan, ayam taliwang, ayam goreng, hingga ayam geprek.
Jenis yang terakhir, belakangan memang sedang naik daun. Membuatku jadi bertanya-tanya. Kira-kira berapa jumlah ayam yang dipotong setiap harinya, ya? Semoga populasi ayam tak kan pernah habis dari muka bumi.
“Mau, Pap. Yang sambelnya pedes, ya. Siang-siang gini enak kayanya,” jawabnya bersemangat. Ia meletakkan pengering rambut kembali ke tempatnya, seraya membereskan selimut yang masih meliliti tubuhku.
Ayam Bersih Berkah. Kayanya enak, Mih. Coba liat, deh,” ujarku seraya menunjukkan beberapa gambar yang terpampang di linimasa akun @ayambersihberkah kepadanya.





Bener, kayanya enak tuh, Pap. Ada di mana memangnya?” tanyanya kepadaku. Kulihat ia menelan air liurnya saat memandangi deretan foto ayam goreng dan geprek, yang kuakui, memang menggugah selera.
Aku membolak-balik kumpulan stories yang terangkum dalam menu highlight berjudul Outlet Jakarta. Dari sana, aku bisa mengetahui daftar lokasi outlet Ayam Bersih Berkah di bilangan Jakarta.
“Paling deket sih di Rawa Belong. Bagaimana?” Aku memastikan lagi di Google Map, jaraknya tak sampai delapan kilometer dari rumah kami di Petojo. Paling-paling 17 menit sudah sampai.
Setelah kuulik isi akun Instagram-nya lebih lanjut, ternyata outlet Ayam Bersih Berkah tidak hanya ada di Jakarta, namun juga tersedia di Kota Kembang. Seluruh alamat lengkapnya terekam dalam fitur highlight bertajuk Outlet Bandung.
“Oke! Eh, tapi kamu mandi dulu sana,” katanya seraya mengambilkanku handuk kering. “O ya, itu teh hangatnya juga sudah kubuatkan. Ada di meja, ya.”
Cacing-cacing di dalam perutku semakin meninju-ninju, karena rasa lapar dan penasaran telah bersatu padu. Setelah mandi dan ganti pakaian, tepat jam satu kami meluncur ke Rawa Belong dengan terburu-buru.

#SensasiKrezzz Bikin Lidah Bergoyang, Lapar pun Hilang

“Selamat siang, Kak. Selamat datang di ABB. Silakan, mau pesan apa?” tanya Riski kepada kami seraya memasang senyum terlebar di wajahnya. Ia adalah salah satu pramusaji outlet Ayam Bersih Berkah Rawa Belong yang bertugas melayani kami hari itu.
Suasana merah menyala langsung memenuhi pandangan mata ketika kami melangkah ke counter untuk memesan. Pasalnya, Riski dan seorang rekannya kompak mengenakan polo shirt dan topi berwarna merah. Dinding outlet yang berwarna putih juga turut dihiasi dengan garis warna berwarna merah.



“Boleh liat menunya, Mas?” tanyaku kepada Riski.
“Silakan, Kak. Ini menunya,” jawab Riski seraya menyodorkan daftar menu, terbuat dari kertas yang dilaminating dengan rapi. Tiap-tiap menunya diberikan tema, dan berisi foto-foto yang membangkitkan selera. Biar kutuliskan satu per satu agar kalian juga bisa tahu.
HOTNYA AYAM GEPREK ABB

AYAM TUMBUK KINI HADIR KEMBALI

COBAIN KREZZZNYA RESEP RAHASIA

Rasa lapar semakin tak tertahan ketika aku melihat daftar menu. Di atas kertas, semuanya nampak lezat. Harganya pun sangat terjangkau. Mulai dari Rp13.500 sampai dengan Rp25.000 saja. Pas dengan ukuran kantong mahasiswa atau karyawan saat tanggal tua.
Tanpa menunggu lebih lama, aku segera meluncurkan pesananku, “Paket Mewah 1 pakai sambal taichan. Tambah Kulit Nyoss-nya juga satu porsi, ya.” Sengaja kupesan lebih, sebab tak kuasa aku menahan perut yang sejak tadi meraung-raung minta makan.
“Kalau saya Geprek Super Hot 2, satu porsi, ya” pesan Nadia kepada Riski.
“Oke, ada lagi, Kak?” tanya Riski kepada kami, sambil memastikan kembali pesanan kami.
“Sudah, Mas. Itu saja dulu,” jawab kami serentak.
“Baik, ditunggu ya, kak. Silakan duduk dulu.”
Pandangan kami segera menelusuri sekujur ruangan ruko satu lantai seluas 52 meter persegi itu. Mencari tempat duduk yang enak dan pas agar santap siang kami lebih nikmat.
Kami menghitung, ada 22 kursi yang tersedia untuk para pelanggan ABB. Seluruhnya dicat dengan warna merah. Sedangkan mejanya berukuran kecil, dikelir dengan warna putih. Satu meja, cukup untuk menampung 2 orang.

Suasananya bersih dan nyaman. Meski tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan, namun kipas angin berukuran besar mampu menjadi pendingin bagi kalian yang kepanasan. Aliran udaranya terasa menenangkan, karena seluruh ruangan dipasangi dengan papan bertuliskan:
Please, No Smoking!
Soket listrik juga tersedia di setiap meja. Dapat kalian gunakan untuk mengisi baterai ponsel ataupun laptop. Di pojok ruangan, ada toilet bersih yang siap kalian gunakan, bilamana hasrat untuk ke belakang sudah tak tertahankan.

Sambil menunggu pesanan datang, kulayangkan pandangan ke arah luar. Tak henti-hentinya kendaraan bermotor lalu-lalang. Aku baru sadar, ternyata outlet ABB Rawa Belong berada di lokasi yang sangat strategis. Tepatnya di Jalan Rawa Belong Nomor II RT 06 RW 12 Palmerah, Jakarta Barat.
Dikelilingi dengan lingkungan akademis dan kos-kosan. Berjarak hanya sekitar 350 meter dari Kampus Syahdan Binus University dan 1 kilometer dari SMA Negeri 78. Aku bisa membayangkan, bagaimana para mahasiswa dan pelajar memenuhi deretan kursi di outlet ini saat hari kerja.
Bila datang kemari dengan membawa kendaraan, kalian tak perlu khawatir. Sebab lahan parkir yang disediakan oleh outlet ABB Rawa Belong cukup lega. Kira-kira muat hingga sepuluh sepeda motor dan dua unit city car.

Kehadiran Riski dari balik serambi koki membuyarkan lamunanku. “Silakan, Kak. Selamat menikmati,” ujar Riski seraya menghidangkan pesanan kami ke atas meja. Ternyata, sudah lima menit berlalu.
Ah, akhirnya datang juga. Mari makan!
Kami segera menyantap sajian tanpa pikir panjang. Sambal taichan-lah yang pertama-tama menjadi korban. Penampakannya merah merona, sungguh menggoda! Kujumput ia dengan jari tangan, dan menaruhnya ke atas lidah yang sejak tadi mengecap tak tertahan.
Rasanya pedas, sedikit asin, dan menyegarkan. Membuat mata terbelalak, kening keringatan, dan nafsu makan membuncah hingga ke ubun-ubun.
Kusantap kembali sambal taichan yang masih tersisa. Namun kali ini kusatukan dengan segigit ayam goreng yang dari tadi menunggu giliran. Warnanya coklat keemasan, utuh sempurna, karena dimasak dengan peralatan Food Grade Modern.
Krezzz. Begitu bunyi kulit ayam bertemu geligi yang kelaparan.
#SensasiKrezzz yang tercipta membuat lidah bergoyang-goyang. Racikan bumbu dan tepung rahasia seketika memenuhi rongga mulut, menjadikan rasa Ayamnya Nikmat.
Tangan dan mulut terasa semakin kompak. Berpacu dan bekerja sama dalam menghabiskan potongan ayam. Membuat perut sedikit demi sedikit mulai terisi, memadamkan rasa lapar yang mendera sejak tadi.





Nadia sama saja. Kulihat ia menikmati suguhannya dengan penuh kenikmatan. Berbeda denganku, ia memilih sambal pedas manis sebagai teman menyantap ayam. Isinya berupa kecap dan irisan cabai merah. Dilengkapi dengan kol goreng yang juga tak kalah nikmatnya.
“Bagaimana, Mih? Enak?” tanyaku kepada Nadia seraya menyeruput es teh manis. Dinginnya perlahan mengurangi rasa pedas sambal taichan.
“Enak banget, Pap. Alhamdulillah, ga salah pilih, ya,” jawabnya mantap.





Benar kata Nadia, kami tidak salah pilih. Sesuai dengan namanya, ada satu keunggulan lagi yang dimiliki oleh #AyamBersihBerkah yaitu halal, bersih, dan berkah.
Sebagai umat muslim, mengonsumsi makanan yang halal merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar. Seluruh menu ayam yang disajikan ABB, pemotongannya dilakukan di Rumah Pemotongan Ayam (RPA) bersertifikat halal. Hal ini menjamin kualitas kehalalan dalam setiap menu ayam yang disajikan.
Membuat hati tenang, makan pun menjadi nyaman. Dan kami menghabiskan sisa siang itu dengan suasana penuh keberkahan.





ABB Bukan Cuma Ayam, Ada Juga Thai Tea dan Es Kepal

Ada satu hal yang masih mengganjal ketika kami sampai di rumah sore itu. Awalnya kami juga ingin memesan Thai Tea dan Es Kepal Melted ABB. Keduanya terlihat menarik di atas kertas menu. Namun sayangnya, Riski bilang keduanya sudah habis.
Tapi tak mengapa, aku jadi bisa menjajal layanan pesan antar. Karena ABB juga sudah terdaftar dalam jaringan Go-Food. Tinggal mainkan jempol kalian, maka pesanan akan segera diantarkan. Sangat berguna bagi kalian yang sibuk sehingga tak bisa makan di luar, atau lapar tapi mager ke outlet ABB terdekat.

Demi menuntaskan rasa penasaran, kami sengaja memesan dua jenis Es Kepal ABB. Yang satu original, dan satu lagi oreo. Ditambah satu gelas Thai Tea sebagai penutupnya.
Dalam waktu 15 menit saja, pesanan kami tiba dengan selamat. Dan ketika kubuka isinya, benar saja, gambarnya tidak berdusta. Es Kepal Melted ABB memang terlihat sangat menggiurkan, persis seperti di foto.
Kombinasi saus cokelat dan es serut langsung lumer saat bertemu lidah. Rasa manisnya seketika tumpah ruah. Saking nikmatnya, beberapa detik kemudian, es kepalnya langsung rata tak bersisa.
Thai Tea-nya juga serupa. Tidak terlalu manis ataupun terlalu tawar. Rasanya pas. Minumnya segelas berdua, membuat sore hari kami tambah ceria.






“Minggu depan makan ABB lagi, yuk, Pap!” ajak Nadia sambil menyeruput tetes terakhir Thai Tea. Nampaknya ia masih penasaran dengan berbagai paket ABB lain yang belum sempat dicobanya.
“Siap!” jawabku mantap. Tentu saja aku setuju. Bagaimana tidak?
Selain #SensasiKrezzz yang nikmat dan mantap, ABB juga halal, bersih, dan berkah. Harganya pun terbilang ramah. Menjadi pilihan yang sangat pas untuk menuntaskan rasa lapar yang membuncah. Bagi kalian yang tak sempat datang ke outlet, layanan pesan antar Go-Food jadi solusi yang mempermudah.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, cobain Ayam Bersih Berkah!



***
Artikel ini diikutsertakan dalam ABB Blog Competition yang diselenggarakan oleh Ayam Bersih Berkah.


Sumber Gambar dan Video: Koleksi Pribadi, Instagram @ayambersihberkah, dan You Tube Channel Ayam Bersih Berkah

Pulau Pasir Timbul, Senandung Pesona Bahari yang Mulai Bersemi



Tuhan menjaga pesonanya dengan cara yang unik, karena ia hanya bisa dikunjungi ketika laut sedang surut.
Aku melompat gembira ketika perahu kecil yang kami tumpangi akhirnya merapat jua. Cerita Pak Marno—sang nakhoda sekaligus pemandu wisata kami kali ini—akhirnya terhenti. Selama mengarungi perairan teluk Lampung, ia sibuk bercerita mengenai betapa indahnya pulau yang akan kami jumpai.
Dan itu membuat kami tambah penasaran.
Sebenarnya tanpa mendengar cerita Pak Marno pun, kami sudah cukup penasaran. Beragam koleksi foto yang viral di media sosial maupun ulasan dari para penulis wisata, telah membangkitkan gairah melancong kami hingga ke ubun-ubun.
Dan ketika akhir pekan yang sempit telah tiba, kami rela terbang pagi-pagi dari Jakarta.
Dermaga kayu sederhana berderik-derik ketika aku berlari melintasinya siang itu. Melewati deretan pondok terapung yang menjajakan mie instan, air mineral, dan kopi. Tempat singgah para pejalan untuk mengisi kembali tenaga yang hilang selepas menempuh perjalanan. Membawa kami semakin dekat menuju ujung dermaga.
Derai tawa dan canda para pelancong yang mulanya terdengar sayup-sayup, kini berubah menjadi semakin lantang. Dari kejauhan, aku bisa melihat raut bahagia keluarga kecil berkejar-kejaran di atas pasir putih.
Sang ibu sibuk memperingati anaknya yang sejak tadi merengek, meminta berenang di bibir pantai. Ada pula sepasang kekasih yang sibuk berfoto-foto dengan pose romantis, seakan dunia milik mereka berdua.
“Pap, jangan buru-buru, nanti jatuh”, suara lembut Nadia, istriku, mencoba memelankan lajuku. Ia memanggilku “Papi”, dan aku biasa menyapanya dengan panggilan “Mami”.
Sambil menunggu Nadia yang masih berusaha turun dari perahu, aku merogoh kamera dari tas kecil berwarna cokelat yang setia melilit bahuku. Membuka menu pengaturan cahaya, dan mengaturnya agar mampu memotret keindahan pulau dengan sempurna. Tak lupa, topi andalan kukenakan untuk menghalau panas yang kini terasa semakin menyengat.
Tepat di bibir dermaga, hembusan angin laut mengobarkan kedua sang saka merah putih yang terpasang kokoh. Layaknya burung garuda yang membentangkan sayapnya lebar-lebar di angkasa. Mengapit papan berwarna putih bersih bertuliskan nama lokasi yang dikelir dengan cat berwarna merah menyala:
PASIR TIMBUL | RINGGUNG PESAWARAN | LAMPUNG
Tak ingin membuang banyak waktu, Nadia dengan sigap memotretku yang langsung bergaya di bawah papan nama. Setelahnya, gantian aku yang mengambil gambarnya. Kami memang biasa bergantian menjadi juru foto pribadi saat sedang berwisata.
Perpaduan antara papan nama berwarna putih, kibaran sang saka merah putih, kesahajaan dermaga kayu, dengan latar belakang lautan luas berwarna biru muda ini, memang sangat cocok untuk diabadikan dan dipamerkan di media sosial.
Namun tentu saja, pesonanya tidak berhenti sampai di sana.

Aku segera menuruni anak tangga kayu yang berjumlah enam biji. Menapaki pasir putih dengan tinggi air yang hanya semata kaki. Ada sensasi tersendiri ketika berjalan kaki di atas air menuju pusat pulau yang berukuran mungil.
Suara khas decak air membasahi kaki, membuatku semakin semangat untuk berlari-lari. Menerjang air hingga berhamburan ke segala arah. Seketika membawa imajinasiku kembali ke masa kanak-kanak dahulu.
Jika kalian datang kemari, diamlah sejenak ketika sampai di tengah-tengah pulau. Rasakan sapuan ombak yang lembut membasahi kaki. Atau gelitik butiran pasir yang berebut masuk ke sela-sela jari.
Nikmati pula birunya laut sejauh mata memandang. Lupakan sejenak tumpukan pekerjaan di kantor. Niscaya, jiwa dan raga akan kembali segar dan siap memulai segudang aktivitas baru.

Berdiri sendiri, aku merasa seperti tenggelam dalam kebesaran Tuhan. Hanya ada diriku, pulau mungil, dan lautan luas yang seakan tak bertepi.
Pulau Pasir Timbul memang layaknya sebuah titik yang muncul ke permukaan di antara luasnya samudera. Uniknya, ia hanya muncul ketika air laut sedang surut.
Sebaliknya, pada saat air laut pasang, ia akan tenggelam menjadi satu dengan Laut Jawa. Oleh karenanya, ada waktu-waktu tertentu bagi kita untuk mengunjunginya.
Pak Marno bercerita, pada umumnya Pulau Pasir Timbul hanya dapat dikunjungi saat siang sampai dengan sore hari. Di luar waktu tersebut, biasanya air laut sedang pasang. Sehingga para pelancong tidak akan bisa menikmati keindahannya pada saat itu.
Namun ketika datang di saat yang tepat, percayalah, kalian tidak akan pernah menyesal mengunjunginya.

Infrastruktur Tunjang Destinasi Wisata Lampung

Sektor pariwisata memang menjadi prioritas Pemerintah Daerah Lampung.
Lampung mulai berubah. Satu hingga dua dekade lalu, mungkin kita mengenal Lampung hanya sebagai tempat singgah para pejalan dan pelaku bisnis dari Pulau Jawa ke Sumatera, ataupun sebaliknya.
Kini, Bumi Ruwa Jurai bukan saja terkenal dengan Pelabuhan Bakauheni-nya, namun juga beragam destinasi wisata baru yang semakin memikat hati para pejalan. Sebut saja Pulau Pahawang, Taman Nasional Way Kambas, Teluk Kiluan dan tentunya Pulau Pasir Timbul.
Data statistik nyatanya memang mengonfirmasi hal tersebut. Seperti dilansir Republika (14/3), jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Lampung meningkat tajam, yakni sebesar 54,45% sepanjang tahun 2017. Dari semula 7,5 juta orang pada tahun 2016, menjadi 11,64 juta orang pada tahun 2017.
Hal tersebut tidak terlepas dari peran Pemerintah Provinsi Lampung. Masih dari sumber yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis mengatakan bahwa sektor pariwisata memang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
Ini dibuktikan dari maraknya pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan dari dan menuju destinasi wisata dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk jalan dari pusat kota menuju ke Pulau Pasir Timbul.



Sekali Jalan, Tiga Pantai Bisa Dinikmati
Ada yang menarik ketika kalian ingin berwisata ke Pulau Pasir Timbul. Pasalnya, kalian tidak hanya akan menikmati pesona Pulau Pasir Timbul, namun juga akan melewati dua destinasi wisata bahari lainnya, yakni Pantai Sari Ringgung dan Pulau Tegalmas.
Bagi yang beragama Islam, kalian juga berkesempatan untuk berkunjung ke Masjid Terapung Al-Aminah. Penasaran? Oke, mari kita ulas satu per satu.


Memulai Perjalanan dari Pantai Sari Ringgung

Perjalanan menuju Pulau Pasir Timbul, akan kalian mulai dari Pantai Sari Ringgung. Lokasinya tepat berada di Jalan Way Ratai kilometer 14 Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.
Dari pusat kota Bandar Lampung, perjalanan menuju Pantai Sari Ringgung dapat kalian tempuh selama kurang lebih 1 jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Arahkan kemudi ke Jalan Way Ratai yang akan membawa kalian menuju Kabupaten Pesawaran.
Ketika memasuki Kabupaten Pesawaran, tingkatkan selalu kehati-hatian dalam berkendara. Sebab, jalan yang kalian lalui lama-kelamaan akan semakin sempit. Apabila membawa mobil, perhatikan selalu kaca spion kanan kalian, karena banyak pengendara motor yang gemar menyalip.



Tidak sulit menemukan Pantai Sari Ringgung. Baliho berukuran besar warna-warni yang terpampang di sebelah kiri jalan akan menjadi tanda bagi kalian agar belok ke kiri, untuk memasuki kawasan pantai. Bunyinya:
Welcome to PANTAI SARI RINGGUNG | Visit & Enjoy Your Day
Pantai Sari Ringgung sendiri merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal. Ketika akhir pekan telah tiba, banyak warga Lampung yang berkunjung untuk menikmati keindahannya.
Biaya masuknya pun cukup terjangkau. Untuk mobil, dikenai tarif sebesar Rp10 ribu. Sedangkan motor, dikenakan tarif sebesar Rp4 ribu.



Di sini, kalian dapat menikmati keindahan alam tepat dari bibir pantai dengan menyewa gazebo berkelir hijau. Harga sewa per unitnya mencapai Rp50 ribu. Agar semakin nikmat, jangan lupa pesanlah sebutir kelapa muda yang banyak dijajakan di sini.
Pada bagian ujung pantai, kalian akan menemui deretan perahu kecil yang pada umumnya dicat dengan warna biru dan putih. Nah, perahu inilah yang akan kalian gunakan untuk menyeberang ke Pulau Pasir Timbul.
Harga sewa perahu memang sangat bervariatif. Tidak ada tarif papan, sehingga kalian harus pandai menawar agar mendapat harga terbaik.



Supaya puas, kala itu kami mengambil paket wisata sehari penuh. Dengan biaya Rp300 ribu, kami mendapat paket menyeberang ke Pulau Tegalmas, Pulau Pasir Timbul, ditambah dengan snorkeling sepuasnya.
Selesai tawar-menawar, saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tegalmas dengan menggunakan perahu.



Melewati Masjid Terapung
Sebelum sampai di Pulau Tegalmas, ada satu keunikan lagi yang sayang untuk dilewatkan: Masjid Terapung Al-Aminah. Jaraknya hanya sekitar 5 menit dengan menggunakan perahu.
“Masjid ini sebenarnya sudah lama dibangun, namun baru diresmikan oleh Pemda Lampung sekitar 3 tahun yang lalu,” tutur Pak Marno menjelaskan kepada kami.



Ya, masjid beratap hijau ini memang unik, karena merupakan satu-satunya masjid di Lampung yang dibangun di atas perairan lepas pantai. Hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan yang menyeberang ke Pulau Tegalmas ataupun Pulau Pasir Timbul.
Oleh karenanya, banyak umat muslim yang singgah sebentar untuk menunaikan ibadah sholat di sana. Atau minimal sekadar memelankan laju perahu untuk mengabadikan gambarnya melalui kamera.
Setelah puas, kita akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Tegalmas.

Mampir ke Pulau Tegalmas, Cikal Bakal “Bali Baru-nya” Lampung

Perahu yang kalian tumpangi akan merapat ke Pulau Tegalmas dalam kisaran waktu 20 menit. Ketika perahu telah bersandar di bibir pantai, kalian akan disambut dengan papan nama berwarna putih, dengan tulisan berwarna-warni yang berbunyi:
Selamat Datang | Welcome | Tegalmas Island | Lampung




Pulau yang memiliki luas sekitar 980 ribu meter persegi ini digadang-gadang menjadi “Bali Baru” milik Lampung. Sebab, pembangunan—baik fasilitas penunjang maupun jalan—terus berjalan di pulau berpasir putih ini. Terutama pada bagian utaranya.
Berbeda dari Pantai Sari Ringgung, di Pulau Tegalmas kalian bisa menemukan resort untuk menginap. Pada umumnya, resort ini sering digunakan untuk acara family gathering berbagai perusahaan di Indonesia, atau wisatawan mancanegara.







Ada dua jenis penginapan yang tersedia di pulai ini. Selain resort berbentuk bangunan dua tingkat, kalian juga bisa menginap di cottage berbentuk kerucut yang menarik untuk difoto. Harga per malamnya berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp4 juta.
Berbagai atraksi juga telah disediakan untuk memikat hati para pelancong, di antaranya banana boat, jet ski, snorkeling, dan diving.
Untuk menjamin agar perut kalian tetap terisi, deretan food stall juga telah tersedia di sini. Kalian bisa menikmati berbagai sajian, mulai dari mie instan, ikan bakar, hingga nasi padang.
Bagi pejalan yang gemar berenang di lautan lepas, kalian juga bisa snorkeling di salah satu spot dekat pulau ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Pasir Timbul. Setelah puas, selanjutnya kita akan kembali naik perahu menuju tujuan akhir: Pulau Pasir Timbul.



Dan Berakhir di Pulau Pasir Timbul
Pulau Pasir Timbul hanya berjarak 5 hingga 10 menit dari Pulau Tegalmas. Pulau ini sebenarnya sudah sejak dahulu dikenal oleh warga Lampung. Namun, kepopulerannya baru meningkat tajam sejak setahun terakhir.
Generasi millennial mengenalnya dengan istilah instagrammable. Sedangkan Kementerian Pariwisata memopulerkannya dengan sebutan Destinasi Digital. Sejalan dengan namanya, memang peran media sosial-lah yang membuat senandung pesona Pulau Pasir Timbul seakan mulai bersemi kembali.
Memang benar kata pepatah. Satu artikel mampu memantik imajinasi ribuan pembaca, sedangkan sebuah foto dapat mewakili ribuan kata.
Akan tetapi, pengalaman pribadi tetaplah yang paling hakiki. Karena ia akan terpatri dalam memori, dan melekat erat di lubuk hati.
Jadi, sudah siap berkunjung kemari?



***
Artikel ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Wisata Indonesia 2018 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.



Sumber Referensi:
No.
Jenis/Judul
Sumber
Tautan
1.
Foto dan Infografis
Pribadi
---
2.
Video Pulau Pasir Timbul
Kementerian Pariwisata RI via Youtube channel Indo Zone Travel
https://www.youtube.com/watch?v=09k_zel0ezo
3.
Destinasi Wisata Lampung Diserbu Wisatawan Nusantara
Republika
https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/13/p5jged382-destinasi-wisata-lampung-diserbu-wisatawan-nusantara