Beberapa waktu lalu, seorang senior di kantor mengirim
sebuah foto ke grup Whatsapp. Foto itu berisi artikel milik rekan sekantor yang
dimuat di kolom opini harian Kompas, tanggal 31 Juli 2018. Dari kualitas
gambarnya, saya bisa memastikan bahwa foto tersebut merupakan hasil jepretan sederhana
dengan menggunakan smartphone.
Tulisannya berisi mengenai analisa ekonomi terkini,
sesuai dengan keahliannya dan industri kantor kami beroperasi. Kata demi kata
ditata dengan lugas, hingga menghasilkan sebuah artikel yang komprehensif, memikat,
lagi berguna bagi khalayak luas. Khususnya bagi dunia perbankan dan industri properti
nasional.
Hebat,
pikir saya.
Saya tahu benar bagaimana sulitnya menembus dinding
rubrik opini media yang memiliki slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat” itu.
Mengapa? Karena hingga detik ini, dua artikel yang saya kirimkan ke alamat surel
redaksi, selalu dikembalikan dengan alasan kesulitan mendapat tempat atau
analisis kurang mendalam. Karya saya—sejauh ini—hanya bisa menembus kolom opini
harian lokal, yaitu Tribun Manado dan Koran Manado.
Diliputi rasa penasaran, saya pun segera memakai
kacamata dan mulai membaca artikelnya lewat foto yang ia kirim. Pelan-pelan, penuh
saksama. Terkadang saya harus menggeser layar smartphone dengan gerakan melebarkan dua jari, untuk memperbesar
citra foto yang berukuran minim tadi.
Bagi saya, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membaca
keseluruhan isi artikelnya. Meski sama-sama memakai smartphone, membaca sebuah artikel berisi 639 kata dalam bentuk foto,
tidaklah semudah menyantap tulisan dari laman berita online.
Apalagi, artikel ini bukanlah bacaan yang tergolong
ringan. Bukan berisi 5 lokasi pantai tersembunyi yang harus kamu kunjungi di
Bali. Bukan juga ulasan mengenai nikmatnya menyantap ikan kuah kuning khas
Ternate. Bukan sama sekali.
Artikel ini berisi tentang opini sang penulis mengenai
kebijakan Bank Indonesia dalam mendukung industri properti. Tanpa dihiasi foto
barang sebiji, ataupun sentuhan ilustrasi. Hanya tersedia rajutan kata-kata dan
angka, yang dibingkai dalam kerangka analisis ekonomi.
Baca
Hingga Tuntas
Ketika otak saya baru mulai bekerja mencerna setiap
kata demi kata, ada satu kejadian yang membuat konsentrasi saya menjadi terganggu.
Belasan notifikasi bermunculan dari atas layar smartphone saya tanpa henti. Menyiratkan ada pesan baru yang masuk ke
dalam grup Whatsapp kantor kami.
Karena terus menghalangi pandangan, saya terpaksa
membukanya. Sudah bisa ditebak. Isi pesannya adalah pujian, ucapan selamat, dan
jempol dari bos dan rekan sejawat, kepada sang penulis.
Bukan. Saya bukan orang yang iri hati, apalagi
dengki. Menurut saya—setelah membacanya
dengan tuntas—sang penulis memang pantas diapresiasi setinggi langit.
Sekali lagi, setelah
membacanya dengan tuntas.
Di situlah saya merasa heran. Arus jempol dan
lantunan pujian kepada sang penulis, sudah dimulai hanya satu menit setelah foto
artikel dikirim. Padahal, untuk menuntaskannya, saya membutuhkan waktu sekitar
5 hingga 10 menit. Atau jika dipaksa membaca secara cepat, paling cepat dibutuhkan
waktu selama 3 menit. Itu hanya untuk menuntaskan bacaan, belum tentu mengerti maknanya.
Pertanyaannya, apakah artikel yang sudah susah
payah ditulis, dan berhasil naik cetak di kolom opini harian Kompas yang
terkenal sangat selektif, sudah dibaca dengan tuntas oleh para pemilik jempol?
Jika sudah, bagus. Ia pasti memiliki kecepatan
membaca di atas rata-rata orang dunia, yang “hanya” sekitar 200 hingga 300 kata
dalam semenit. Ditambah, ia membaca hanya dengan bermodalkan foto yang
ditampilkan dalam layar smartphone. Mungkin
ia juga bisa menantang Howard Berg, yang kini masih tercatat dalam The Guinness World Record Book, sebagai pembaca
tercepat dengan kecepatan membaca hingga lebih dari 25 ribu kata per menit.
Namun apabila belum, pantaslah bila UNESCO
menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dari bawah, di antara 61 negara lainnya
dalam urusan literasi. Jangan salahkan pula ketika Trinity—penulis buku wisata The Naked Traveler—memutuskan untuk pensiun
sebagai penulis buku.
Kejadian sederhana tersebut, sontak menyadarkan
saya. Betapa rendahnya minat baca saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air.
Tidak salah apabila kini toko buku lebih banyak menjual perlengkapan sekolah
dan olahraga, dibandingkan dengan produk utamanya, yaitu buku itu sendiri.
Oke, mungkin ada yang berpendapat bahwa ini era millenial.
Bisa jadi ribuan lembar kertas, telah digantikan dengan ribuan megabyte digital. Namun ketika melihat kecepatan
rekan lainnya dalam mengirim pujian, saya kembali sangsi.
Jangankan sebuah buku yang tebal. Membaca judul dan
nama penulis dalam sebuah artikel opini lewat smartphone saja, sudah buru-buru mengacungkan jempol. Mungkin perilaku
inilah yang menyebabkan sekarang banyak bermunculan artikel click-bait semata, yang isinya (mohon
maaf), terkadang tidak menyajikan banyak manfaat, dan hanya mengejar rating popularitas search engine optimization (SEO) semata.
Tentu saya berharap, bahwa sebagian besar pembeli harian
Kompas edisi 31 Juli 2018 dan pelanggan setia kompas.id, membaca artikel kawan
saya dengan tuntas. Atau minimal, memahami sebagian besar isi gagasannya dengan
membaca tiga per empat tulisannya.
Tiga
Kepuasan Menulis
Setiap penulis sejatinya hanya memiliki harapan tunggal
ketika ia menulis, yaitu karyanya dibaca. Saya bisa membayangkan bagaimana
rekan saya menulis artikelnya dengan penuh cita-cita. Berharap agar gagasan
yang ditulisnya, bisa dinikmati oleh banyak orang. Sehingga akan menjadi sumber
rujukan, manfaat, atau inspirasi bagi setiap orang yang membacanya.
Mungkin ia juga berangan-angan, bahwa pembaca yang
kritis akan menghubunginya setelah membaca tuntas tulisannya. Menanyakan tentang
bagian yang kurang tepat, atau menyampaikan argumen atas hasil analisis yang berbeda
pendapat. Menguliti kata per kata, demi merumuskan solusi yang tepat atas topik
yang diangkat.
Jikalau ada harapan untuk memperoleh kompensasi
pun, saya berani bertaruh, bahwa itu berada pada urutan terakhir dari tujuan ia
menulis. Karena jelas, ia tidak mengandalkan artikelnya untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga.
Sebagai seorang blogger—yang
doyan mengikuti kompetisi menulis—saya pun merasakan hal yang sama. Mungkin
karena melihat beberapa prestasi yang telah saya raih, seorang sahabat pernah bertanya.
Mengapa saya lebih banyak mengikuti kompetisi, dibandingkan dengan menulis di
media cetak.
Saya menjawab. Pertama, karena saya memiliki
kesempatan untuk mendapat hadiah. Hadiah yang saya peroleh dari kompetisi
menulis, tidak hanya menjadikan dapur tetap ngebul,
namun juga menambah tabungan bagi istri untuk melanjutkan studi.
Kedua, karena prestasi. Siapa yang tidak senang ketika
namanya terpampang sebagai pemenang kompetisi penulis? Hal itu membuat saya senang
dan ketagihan.
Terakhir, dengan mengikuti kompetisi, minimal
artikel yang saya kirim pasti dibaca dengan tuntas oleh para juri. Pasti! Bisa
jadi bukan hanya sekali, tetapi hingga berkali-kali. Untuk membandingkan
tulisan saya dengan peserta lainnya, apabila kualitasnya dinilai cukup untuk ditempatkan
dalam daftar nominasi pemenang.
Ah, jangan berkecil hati kawan. Saya pernah mendengar
dari orang bijak, bahwa orang yang menulis itu, berpeluang mendapatkan 3
kepuasan. Pertama, puas karena tulisannya berhasil ia selesaikan. Kedua, puas
karena hasil tulisannya telah dibaca. Dan terakhir, puas karena mendapatkan
kompensasi, bisa dalam bentuk materi ataupun ketenaran.
Jikalau yang kedua belum bisa dinikmati, setidaknya
kau sudah mendapat 2 kepuasan lainnya, bukan?
Jika
ditanya siapakah sosok paling inspiratif di Indonesia yang patut dicontoh dalam
meraih kesuksesan? Tanpa ragu saya pasti menjawab : Tung Desem Waringin.
Derita menakdirkan saya mengenal sosoknya. Ketika
itu saya hampir putus asa. Sama seperti kebanyakan orang, penderitaan yang saya
alami disebabkan karena salah mengelola harta.
Mungkin ini juga terjadi pada diri kalian,
khususnya yang berprofesi sebagai karyawan. Belum lama gajian, kok sudah habis tidak karuan. Alih-alih menebalkan tabungan,
malah mencari pinjaman kepada teman jelang akhir bulan. Niat punya kendaraan
jadi tertunda, karena terpaksa mengencangkan ikat pinggang demi sesuap makan.
Terhitung sudah tujuh tahun saya bekerja. Selama
itu pula, saya hidup mandiri. Namun ketika melihat kembali, ternyata saya belum
menghasilkan apa-apa. Jangankan rumah, kendaraan saja belum punya.
Ah,
saya kan sudah menikah,setidaknya saya mampu menghidupi anak orang,
batin saya mencari pembenaran.
Tapi, justru itulah persoalannya. Setiap suami
pasti ingin membahagiakan istrinya. Saya pun demikian.
Istri saya tidak bekerja. Sebagai satu-satunya tulang
punggung keluarga, saya ingin menghadirkan ‘istana’ untuknya. Ingin menyediakan
‘kereta kuda’ yang terbaik untuk transportasi bagi dirinya dan anak-anak kami
kelak. Ingin pula mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi hingga pasca
sarjana.
Jika
saat ini Tuhan memanggil saya, apa jadinya dia nanti? Batin saya berkecamuk.
Beruntung
Ada Pak Tung
Pertanyaan itu terus menghantui benak saya. Hingga
suatu ketika, saat sedang asyik bermain YouTube, tidak sengaja saya melihat
sebuah video. Judulnya sangat menarik untuk di-klik, ‘Bagaimana Mempunyai Peternakan Uang?’
Hah,
peternakan uang? Memang ada ya, peternakan uang?Jangan-jangan
hanya click-bait semata?Kalau memang
ada, bagaimana cara membuat peternakan uang? Berjuta pertanyaan seketika
timbul di otak saya.
Diliputi rasa penasaran, akhirnya saya menonton
videonya. Ternyata video tersebut adalah sebuah video motivasi. Dibawakan oleh
seorang pria yang gemar tersenyum dan penuh semangat.
Kelopak matanya yang sipit tertutup oleh kacamata. Keningnya
terlihat lebar, karena rambutnya yang tersisir rapi dibelah pinggir. Memakai
jas, kemeja putih, lengkap dengan dasi panjang khas seorang motivator.
“Tung
Desem Waringin. Pelatih sukses nomor satu di Indonesia versi majalah Marketing.
Pembicara terbaik di Indonesia versi majalah Marketing. The most powerful
people and ideas in business in Indonesia versi majalah Swa,” ujar seorang narator memperkenalkan sang motivator
dengan latar belakang musik yang memompa tenaga.
Ah,
standar seorang motivator. Di mana-mana motivator pasti memamerkan prestasi. Saya masih menyangkal.
Tidak disangka, apa yang saya tonton satu jam
kemudian benar-benar mengubah pola pikir saya.
“Sebelum saya memulai, saya punya pertanyaan untuk
anda. Pilih mana miskin tapi bahagia, atau kaya tapi sengsara?” tanya Tung
kepada audiensnya seraya membuka acara. Dari logatnya, saya bisa menebak ia
berasal dari Jawa Timur.
Penonton hanya terdiam.
“Oke, saya ulangi. Pilih mana uang seratus ribu
atau lima ribu?” tanya Tung kembali.
“Seratus ribu!” jawab hampir seluruh penonton di
ruangan. Sisanya masih terdiam keheranan.
“Yang jawab seratus ribu, masih salah!” sanggah
Tung. Raut wajah penonton semakin bingung.
“Kebanyakan orang memiliki pola pikir yang salah. Lho, kok salah? Ingat, ada satu
perbedaan mendasar antara orang kaya dengan orang miskin,” lanjut Tung. “Orang
kaya suka memakai kata ‘dan’,
sedangkan orang miskin sering menggunakan kata ‘atau’,” ujar Tung mencoba menyadarkan penontonnya.
“Baik, saya ulangi lagi. Pilih mana uang seratus
ribu atau lima ribu?” pancing Tung kembali. “Benar, anda dapat memilih keduanya. Kalau semuanya menguntungkan,
anda dapat memilih uang seratus ribu dan
lima ribu.”
“Terakhir, saya ulangi lagi. Pilih mana, miskin
tapi bahagia, atau kaya tapi sengsara?” Tung mengulang pertanyaan pertama.
“Saya pilih kaya dan bahagia,” jawab salah seorang penonton. Kini raut wajah sebagian
besar penonton semakin berseri layaknya baru mendapat rejeki.
“Benar sekali! Anda dapat memilh kaya dan bahagia.” ujar Tung sambil tersenyum
sumringah.
Mata saya terbelalak, telinga saya menjadi tajam. Benar
juga. Saya baru menyadari ternyata kunci kesuksesan bermula dari pola pikir. Terkadang
kita tidak berani berbuat sesuatu hanya karena dibatasi oleh pikiran sendiri. Tanpa
pola pikir yang benar, kita akan kesulitan untuk meraih impian.
Kita sering berpikir, biarlah miskin yang penting bahagia. Atau, tidak usah mencari penghasilan tambahan karena kita sudah jadi karyawan.
Ini yang salah.
Siapa yang tidak ingin menjadi kaya dan bahagia? Siapa yang tidak ingin
menjadi karyawan dan memiliki usaha
yang menghasilkan keuntungan? Jika bisa mendapatkan kedua-duanya, kenapa tidak?
Kembali ke peternakan uang, Tung kemudian
menjelaskan cara membuat peternakan uang. Sejatinya hanya ada satu syarat utama
yang wajib dilakukan, yaitu menunda kesenangan.
Kebanyakan orang mengeluarkan uang untuk life style (gaya hidup seperti orang
kaya), ketimbang wealth style (gaya hidup
orang yang benar-benar kaya). Misalnya, seorang karyawan ketika baru diterima
kerja, ia membeli motor. Setelah promosi, ia mengganti motornya untuk mencicil
mobil. Kemudian ketika sudah menjadi direktur—karena gengsi—ia mengganti
mobilnya dengan yang lebih mewah. Begitu seterusnya.
Tentu sah-sah saja memiliki mobil mewah. Tapi
kebanyakan caranya salah. Ingat, semakin banyak punya mobil mewah, biaya yang
akan dikeluarkan akan semakin banyak pula. Cicilan bulanannya, biaya bahan
bakarnya, biaya perawatannya, pajaknya, dan lain sebagainya.
Orang yang benar-benar kaya—bukan terlihat kaya—akan
mengalokasikan sumber pendapatannya (active
income) terlebih dahulu kepada pos-pos yang akan menghasilkan pendapatan
kembali secara pasif (passive income).
Sebagai contoh, seorang yang mengutamakan wealth style, akan menabung sedikit demi
sedikit untuk membeli rumah terlebih dahulu. Kemudian rumah tersebut ia
sewakan, sehingga setiap bulannya ia memperoleh passive income. Nah, passive income inilah yang kemudian
digunakan untuk membiayai life style,
bukan active income. Inilah yang menurut
Tung disebut menunda kesenangan demi memperoleh kesenangan yang lebih besar.
Sontak saya tersadar. Benar kata Pak Tung. Boleh
dibilang selama ini saya hanya menuruti life
style. Jangankan niat memiliki passive
income, tabungan saja rasanya selalu pas-pasan. Lebih besar pasak ketimbang
tiang. Harusnya saya menabung dahulu—menunda kesenangan—untuk membangun passive income. Bukannya malah senang-senang.
Akhirnya, saya menerapkan apa yang diajarkan Pak Tung
dalam hidup saya. Pelan-pelan saya mulai menata kembali gaya hidup dan keuangan
saya. Dan sekarang, alhamdulillah, saya
berhasil mewujudkan salah satu impian istri saya untuk melanjutkan studi pasca
sarjana.
Dari
Derita Menjadi Gelimang Harta
Tung sama seperti kebanyakan orang. Tidak
dilahirkan dari keluarga kaya, melainkan keluarga sederhana. Sejak kecil ia
kerap mengalami kesulitan. Terutama saat bisnis ayahnya bangkrut. Sejak itu,
Tung belajar bagaimana cara bekerja keras untuk mengubah hidup.
Kehidupan yang keras membuat Tung akhirnya menjadi
pribadi ulet dan tangguh. Ada satu prinsip dalam hidup pria kelahiran 22
Desember 1968 ini yang patut kita tiru. Menurut Tung, kunci sukses adalah
belajar mencontek.
Mencontek?
Bukannya itu tidak baik?Nanti dulu.
Menurut Tung, mencontek itu tidak selamanya buruk.
Jika tidak tahu caranya berbisnis, maka kita wajib mencontek pada orang yang
jago bisnis. Jika kita tidak tahu caranya menulis, kita wajib mencontek kepada
penulis. Meniru metodenya, kiat suksesnya, tata caranya, hingga akhirnya kita menjadi
bisa. Sederhananya, jika kita ingin menjadi ahli di bidang apapun, maka kita
wajib belajar pada ahlinya.
Prinsip tersebut membawa Tung menuju kesuksesan. Sewaktu
kuliah, Tung tidak segan-segan berkenalan dan menimba ilmu pada seniornya yang
berprestasi. Tung kemudian berhasil menjadi mahasiswa terbaik di angkatannya.
Bahkan prestasinya saat itu melebihi senior yang mengajarinya.
Prestasi Tung di bidang akademik menarik perhatian
sebuah bank milik swasta. Tung kemudian direkrut bank tersebut, dan tidak
membutuhkan waktu lama untuk menjadi pimpinan berkat prestasinya. Salah satunya
berhasil memperbaiki hasil audit 22 cabang pembantu dalam waktu empat bulan. Kinerja
cabangnya berubah, dari semula terburuk, menjadi yang terbaik di seluruh
Indonesia.
Di tengah kesuksesan, tiba-tiba derita kembali
datang menghadang. Ayahnya sakit keras dan harus menjalani perawatan di
Singapura. Saat itu Tung sangat sedih sekaligus kesal. Meski terbilang mapan,
Tung tidak sanggup membantu ayahnya. Biaya perawatan ayahnya selama sehari jauh
lebih besar dibandingkan dengan pendapatannya dalam sebulan. Hingga akhirnya
ayahnya dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.
Rasa pedih pasca kepergian ayahnya membuat Tung
menjadi pribadi yang lebih tangguh. Tidak ingin hal tersebut terulang kembali
pada ibunya, dengan mantap ia meninggalkan pekerjaannya dan beralih menjadi
pengusaha.
Sebagaimana prinsip yang selalu dipegangnya, Tung
belajar menjadi pengusaha langsung kepada ahlinya, Anthony Robbins. Tung
sampai-sampai menjual hartanya demi membeli tiket seminar Anthony Robbins
seharga 10.000 dolar AS. Anthony Robbins dikenal sebagai pengusaha asal Amerika
Serikat, yang juga berprofesi sebagai investor, motivator handal, dan penulis
buku terkenal berjudul Unlimited Power.
Berkat ilmu yang didapat dan kegigihannya, Tung
saat ini layaknya seorang Anthony Robbins asal Indonesia. Ia menjelma menjadi seorang
investor, pengusaha sukses, motivator handal, dan pelatih CEO hebat di
Indonesia. Dalam waktu 10 tahun, ia telah memiliki 36 properti berupa rumah,
mal, apartemen, dan memiliki berbagai usaha, yaitu toko buku, kebun jati, dan portfolio
investasi saham.
Kiat suksesnya kemudian ia bagikan melalui seminar
dan buku. Hingga saat ini, sudah tiga buku yang ia tulis, yaitu Financial Revolution, Marketing Revolution, dan yang terbaru Life Revolution. Seluruhnya menyandang
predikat best seller.
Ia juga seorang yang sangat dermawan. Dalam
launching buku yang kedua, Marketing
Revolution, ia melakukan aksi ‘bagi-bagi uang’ dan tiket seminar senilai
Rp100 juta di Stadion Sepakbola Baladika Kesatrian Serang. Alasannya supaya
masyarakat bisa berilmu dan sejahtera.
Bahkan, sebagian besar hasil penjualan buku yang
ketiga, Life Revolution, rencananya
akan ia gunakan untuk membangun sekolah kewirausahaan guna membantu
mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Tung memiliki cita-cita mulia agar
seluruh rakyat Indonesia bisa merdeka dari kebodohan dan kemiskinan.
Akhir
kata, jika kembali ditanya siapakah pribadi paling inspiratif di Indonesia?
Tanpa ragu saya pasti menjawab sosok yang sama : Tung Desem Waringin.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis
ublik.id dengan tema ‘Inspirasi Untuk Indonesia’ dan berhasil masuk dalam
30 besar (peringkat ke-25).
Ada slogan unik yang selalu dipegang teguh oleh
para blogger. Terutama bagi blog hunters yang doyan ke sana ke mari,
sibuk mengikuti ratusan blog competition
di jagat dunia maya.
“Kalau emang rejeki, ga akan ke mana,” begitu bunyi
slogannya.
Bagi saya, setiap kompetisi menulis—termasuk blog competition—adalah kontes yang
sangat adil. Mengapa? Sebab, tema yang dilombakan sama, namun tulisan dan kualitas
konten yang dihasilkan dari masing-masing blogger
pasti berbeda.
Urgensi
Koneksi Internet Bagi Para Blogger
Blogger layaknya seorang koki di dapur. Mengolah bahan masak
dan bumbu yang itu-itu saja. Namun begitu sudah jadi, kenikmatannya pasti berbeda.
Bisa jadi si koki sama-sama memasak soto ayam.
Sama-sama pakai daging ayam dan kuah santan. Sama-sama menggunakan gula dan
garam. Saat dihidangkan kepada para pelanggan, reaksinya pasti jauh dari
kemiripan.
Ada yang bilang keasinan, ada yang mengeluh terlalu
pedas. Yang satu menangis kenikmatan, yang lain meringis kurang puas. Yang di
sini bilang maknyus, yang di sana malah
merengus. Tergantung lidah dan selera masing-masing pelanggan.
Jam terbang dan keahlian masing-masing koki, memang
bisa jadi faktor pembeda. Koki di restoran bintang lima, pasti lebih jago
meracik soto ayam, ketimbang koki cap kaki lima. Namun demikian, itu bukan
satu-satunya.
Ada satu hal lagi yang menurut saya bisa menjamin
cita rasa. Yaitu, kualitas bahan makanannya. Bahan makanan yang berkualitas,
akan menghasilkan hidangan yang pas.
Kalau ga
percaya, suruh saja si koki bintang lima membuat dua mangkuk soto ayam. Mangkuk
yang pertama menggunakan daging ayam segar. Sedangkan mangkuk yang kedua
menggunakan daging ayam ala kadar. Pasti kalian akan menyantap mangkuk yang pertama,
bukan?
Hal yang sama berlaku bagi seorang blogger. Kemampuan mengolah bahasanya,
bisa jadi tidak jauh berbeda. Yang satu pernah juara kompetisi di sana, yang
lain pernah jadi pemenang kompetisi di sini. Namun, kualitas bahan bacaan dan
pengalaman si blogger, seringkali
menjadi faktor pembeda di mata para juri atau pembaca.
Dalam mengikuti blog
competition, mengulas sebuah produk, atau menciptakan sebuah konten, seorang
blogger lazimnya akan mencari bahan
terlebih dahulu. Berkeliling di dunia maya sambil mengetuk pintu si embah—yang bukannya
tambah tua, melainkan malah semakin muda—Google.
Semakin banyak bahan dan informasi berkualitas—entah
berupa artikel, bacaan, gambar, animasi, infografis, atau video—yang didapat,
maka kualitas konten yang diciptakan pun biasanya seiring sejalan.
Nah, yang bikin blogger
uring-uringan itu, saat sedang asyik-asyiknya googling, eh, koneksi
internet tiba-tiba lemot tanpa tedeng
aling-aling. Atau bahkan malah terputus sama sekali. Biar sudah di-restart berulang kali, laman yang sedang
dibaca tidak kunjung menampakkan diri.
Saya berani bertaruh, setiap blogger pasti pernah mengalaminya. Entah saat mengais internet di kafe,
mengandalkan modem di rumah, atau mengenyot sinyal WiFi dari kosan yang
kebetulan memang tersedia. Ketika sedang serius berselancar, eh, mendadak jaringan sambungan internet
terputus.
“No internet.
Try checking the network cables, modem, and router. Reconecting to Wi-Fi.
Running Windows Network Diagnostics,” begitu bunyi pesan mengerikan yang
timbul dari layar laptop.
Berhubung dikejar deadline, terpaksa harus menyambung sinyal internet melalui thetering dari smartphone. Selang beberapa saat, yah, kuotanya langsung kosong-melompong. Boro-boro mau posting,
nyari bahan aja ga bisa.
Alih-alih jadi peserta, malah cuma gigit jari jadi
penonton. Makin keki ketika para pemenang diumumkan, dan hadiah dikirimkan. Duh, kesel karena masalah internet jadi ga
bisa ikutan.
Yup, sejujurnya begitulah pengalaman buruk saya. Dari
dulu saya hanya mengandalkan fasilitas WiFi dari apartemen untuk menulis blog. Entah merknya apa. Awalnya sih
baik-baik saja. Namun lama kelamaan, makin ke sini malah semakin lemot.
Begitu benar-benar mati, pas ketika artikel sudah
setengah jadi. Nyesek, karena ga bisa
lanjut nyari bahan buat melengkapi separuh sisanya. Dua jam kemudian tidak ada
perubahan. Deadline sudah terlewati,
dan sinyal WiFi masih saja ogah memberi harapan pasti.
Dongkol, kesel, gondok. Berhubung sudah malam, ya
sudah menyerah saja. Matikan laptop, ambil
guling, tarik selimut, nyalakan AC, lanjut tidur.
Oleh karenanya, slogan para blog hunters yang bilang ‘kalau emang rejeki ga akan ke mana’, menurut
saya perlu sedikit disesuaikan.
Kira-kira bunyinya menjadi seperti ini. “Kalau internet
lancar, Insya Allah rejeki ga akan lari
ke mana-mana”. Bagaimana, setuju?
Nah, kalau sudah setuju, ada paket dari provider internet bagus nih yang bisa jadi
solusi bagi kalian. Namanya Internet Unlimited BOLT. Cocok
banget buat para blogger, content creator, content marketer, online shop
owner, digitalwriter, ataubahkan online driver
yang memerlukan koneksi internet truly
unlimited. Kalian bisa browsing dan
posting sepuasnya, tanpa takut lemot
dan mikirin kuota. Pokoknya langsung gas pol!
Pasti pada penasaran, kan? Sabar. Pelan-pelan. Tarik
napas dalam-dalam.
Namanya juga profesi digital di zaman millennial. Kerjanya
juga bisa di mana saja. Tidak harus di kantor atau di rumah, sambil ngopi di coffee shop juga bisa.
Ide menghasilkan konten ciamik bisa timbul dari kapan
dan mana saja. Kalau sudah nemu, rasanya pasti gatal ingin cepat-cepat
dituangkan. Seperti soto ayam tadi, lebih lezat bila disajikan selagi hangat.
Untungnya, BOLT memahami kebutuhan kita semua. Untuk
mendukung aktivitas mobile kalian, ada
produk bagus, nih. Namanya BOLT MIFI.
Apa
itu BOLT MIFI?
Bagi yang belum mengerti, tetap tenang. Akan saya
uraikan satu per satu.
MIFI kependekan dari mobile wireless fidelity, atau sering dikenal sebagai mobile WiFi. Seperti namanya, MIFI
merupakan hasil pengembangan dari teknologi WiFi.
Akses WiFi hanya bisa digunakan di lokasi yang
terbatas. Lain halnya dengan MIFI, koneksinya bisa diakses dari mana saja,
karena MIFI berukuran kecil, nirkabel, sehingga bisa ditenteng ke mana saja.
Oleh karenanya, BOLT juga menyediakan beragam
varian produk MIFI yang sesuai dengan kebutuhan kalian. Dengan dukungan
internet BOLT
Lebih Cepat, BOLT MIFI mampu menjawab kebutuhan para profesional
digital masa kini, termasuk blogger.
Mau download
gambar, nonton video, posting konten,
membalas pesan pembaca, silaturahmi dengan kawan blogger lainnya, upload foto
di instagram, atau mencari informasi kompetisi blog, bisa kalian lakukan dengan
nyaman. Browsing mencari ide dan
inspirasi jadi bisa dilakukan di mana saja, tanpa takut kehilangan koneksi
internet.
Sama halnya ketika ide menulis sudah didapatkan. Meski
datang di saat yang tak terduga—misalnya ketika sedang dibonceng abang ojeg online—BOLT MIFI tetap siap untuk
diandalkan. Berkat BOLT MIFI, internet ga putus-putus, ide jadi nyambung terus.
Cus!
Delapan
Alasan Mengapa Kalian Wajib Menggunakan Bolt MIFI
Oke, tanpa menunda lebih lama lagi, berikut saya
beberkan delapan alasan mengapa blogger
dan pelaku digital lainnya, wajib menggunakan BOLT MIFI yang didukung dengan
jaringan Internet Unlimited BOLT.
1.Koneksi
Lebih Cepat, Ga Perlu Ragu Kreativitas Terhambat
Yap, bagi para blogger,
koneksi internet yang cepat adalah syarat utama. Betedong, kalau pakai
internet yang lemot? Kebutuhan mencari bahan dan informasi untuk bisa
menciptakan konten juara, malah jadi tersendat. Alhasil, konten yang diciptakan
malah menjadi cacat.
Koneksi internet BOLT Lebih Cepat, karena
menggunakan teknologi paling canggih, yang dinamakan 4G LTE Advance, atau biasa
disebut dengan 4G+. Ini merupakan teknologi yang telah disempurnakan dan
ditambahkan dengan berbagai fitur mutakhir, yaitu:
Carrier Aggregation (CA), membuat koneksi internet BOLT menjadi 2 kali
lebih cepat dibanding internet biasa. Kecepatannya hingga mencapai 200 Mbps!
Interference Cancellation (ICIC), untuk mengontrol dan mengatur kualitas
sinyal agar koneksi internetnya menjadi sangat stabil.
Simple Frequency Network (SFN), dikenal juga dengan nama teknologi Super Cell, fungsinya untuk menyatukan
sekumpulan cellbase transceiver station (BTS) agar sinyal ga terputus.
Hampir seluruh jaringan BOLT juga telah menggunakan fiber optic, sehingga membuat laju internet BOLT menjadi ultra cepat. Kelebihan dari fiber optic lainnya adalah bisa mengirim data dengan ukuran besar, serta tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca.
Dengan beragam teknologi canggih tersebut, kreativitas
kalian dalam mencari informasi untuk menghasilkan konten menarik, menjadi
lancar tanpa takut terhambat.
2.Kuotanya
Truly Unlimited, Tak Perlu Irit-Irit
BOLT menyediakan paket kuota internet yang truly unlimited. Sesuai namanya,
benar-benar bebas kenyot tanpa takut
kehabisan kuota. Yup, BOLT menyebut paket
bebas kuota ini dengan nama BOLT Ultra
Unlimited.
Bagi kalian yang membayangkan kuota unlimited itu seperti apa, tim survei
BOLT telah menguji cobanya. Kuota 1 GB di jaringan internet 4G+ BOLT setara
dengan browsing selama 44 jam, atau 1
jam streaming video dengan kualitas high definition (HD), atau streaming 256 lagu, atau 20 jam non-stop
main game online, atau 17 jam
non-stop mengakses peta lewat GPS.
Ingat, data di atas baru setara dengan kuota 1 GB. Kebayang
bukan, kalau kuotanya tak terbatas alias unlimited?
Ya, semua aktivitas tadi bisa kalian lakukan dengan sepuas-puasnya, tanpa perlu
irit-irit.
3.Coverage
Internet Luas, Bisa Diakes di Jabodetabek dan Medan
Nah, bagi kalian yang berada di Jabodetabek dan Medan,
buruan ganti internet kalian dengan BOLT MIFI. Mengapa? Karena jumlah BTS yang
digunakan sangat banyak, tepatnya ada 3.600 unit. Seluruhnya, khusus untuk memancarkan
sinyal 4G+. Berbeda dari operator lain yang masih harus berbagi bandwidth dengan jaringan 3G dan 2G.
Selain itu, jarak antara BTS BOLT lebih padat
merapat. Kita bisa menemukan 1 BTS BOLT di setiap 150 meter. Kerapatan BTS
tersebut, setara dengan BTS di berbagai kota besar dunia, seperti Tokyo dan
Seoul!
Oleh karenanya, saat ini internet BOLT bisa diakses
di 98% area Jabodetabek dan sekitarnya, serta 95% area Medan dan sekitarnya. Di
dalam gedung, jaringan internet BOLT kini sudah dapat diakses di 121 pusat
perbelanjaan, 57 perkantoran, 43 hotel dan perumahan, 24 rumah sakit, 20
kampus, dan 4 titik bandara.
Jadi, ga perlu mengandalkan WiFi gratisan lagi
kalau kalian berada di dalam gedung. Cukup aktifkan BOLT MIFI, internet ultra
kencang dapat diakses dengan nyaman.
4.Pilihannya
Banyak, Desainnya Menarik
Kalau saya, salah satu pertimbangan dalam membeli
gawai—termasuk MIFI—adalah desainnya. Mengapa? Supaya kalau sedang nongkrong, bisa keliatan lebih keren dan
kekinian. Setuju? Ngacung!
Tenang saja, karena BOLT sudah sangat mengerti
kita-kita generasi millenial. Ada 9 jenis desain BOLT MIFI yang bisa kalian
pilih. Warnanya juga elegan dan dinamis. Kebanyakan berwarna putih atau hitam,
dengan lis oranye dan biru, khas logo BOLT.
Masing-masing varian BOLT MIFI memiliki spesifikasi
tersendiri. Harganya juga ga bikin
kantong bolong. Mulai dari gratis (hanya membayar paket internet) hingga Rp100
ribu.
Nah, untuk lebih mudah memilih varian BOLT MIFI mana
yang sesuai dengan kebutuhan kalian, setidaknya ada 4 hal yang perlu kalian
pertimbangkan. Yaitu harga, kecepatan download,
kapasitas baterai, dan maksimal perangkat yang bisa terkoneksi.
Supaya lebih enak dalam memilih, kalian dapat langsung
ke laman ini.
5.Mudah
Didapat
BOLT MIFI bisa kalian beli di 45 toko BOLT Zone dan
BOLT Store yang tersebar di Jabodetabek dan Medan. Seluruhnya berada di pusat
perbelanjaan sehingga mudah untuk ditemukan. Untuk mengetahui lokasi BOLT Zone
dan BOLT Store, kalian bisa lihat daftarnya di sini.
Selain itu, BOLT juga telah bekerja sama dengan
berbagai toko dan gerai minimarket
ternama, untuk memberikan kemudahan bagi kalian dalam membeli starter pack dan isi pulsa.
Di antaranya adalah Matahari Mall.com, Erafone,
Sentra Ponsel, Selular Shop, Lazia, Hypermart, Books & Beyond, Galeri
Gadget, Urban Life, Alfa Midi, Alfamart, Carrefour, Circle K, Lawson, Family
Mart, MoR, Courts, Giant, Gramedia, dan Toko PDA.com.
Gampang, kan?
6.Harga Ga
Bikin Kantong Bolong, Mudah Cara Bayarnya
Nah, koneksi BOLT sudah terbukti kencang, bebas kuota,
dan dapat diakses di mana saja. Bagaimana untuk urusan harga? Ada dua jenis
tipe pembayaran untuk mendapatkan akses internet bebas kuota, yaitu pascabayar
dan prabayar.
Untuk tipe pembayaran pascabayar, ada dua jenis paket unlimited untuk mendukung koneksi BOLT MIFI kalian.
Pertama, paket Ultra Unlimited 15 Mbps, dengan kecepatan download hingga 15 Mbps dan kecepatan upload hingga 5 Mbps. Biaya bulanannya seharga
Rp272 ribu, belum termasuk pajak.
Yang
kedua, paket Ultra Unlimited 30
Mbps. Sesuai dengan namanya, paket ini memiliki laju download hingga 30 Mbps, sedangkan kecepatan upload-nya hingga mencapai 5 Mbps. Biaya bulanannya dibanderol
dengan harga Rp363 ribu, belum termasuk pajak.
Untuk menambah kenyamanan kalian yang memilih pascabayar,
BOLT juga menyediakan dua metode pembayaran. Bisa menggunakan cash, dengan pilihan tunai atau
transfer. Juga bisa menggunakan kartu kredit, yang sudah termasuk auto debit.
Bagi yang suka menggunakan tipe
pembayaran pra bayar, kalian
juga bisa memilih tiga paket unlimited,
tergantung dari jangka waktu penggunaan. Ada yang selama 3 hari, dengan harga
Rp49 ribu. Ada yang sampai dengan 10 hari dengan harga Rp139 ribu. Ada pula
yang 30 hari dengan harga Rp349 ribu.
Kecepatan maksimal untuk pra bayar mencapai 8 Mbps
untuk download dan 2 Mbps untuk upload. Akses internet ini, bisa kalian gunakan
selama 24 jam penuh tanpa jeda waktu.
Cara membeli paketnya juga gampang. Bisa isi ulang
pulsa BOLT, atau dengan cara pembelian langsung dengan menggunakan kartu kredit
dan online banking. Untuk lebih
jelasnya, silakan simak infografis di bawah ini.
Murah, bukan? Tinggal pilih deh, sesuai dengan
kebutuhan kalian. Saya sih menyarankan agar kalian membeli paket unlimited pascabayar yang 15 Mbps. Ini
sangat direkomendasikan oleh BOLT karena harganya yang sangat terjangkau.
Kecepatannya juga sudah mumpuni untuk berbagai
keperluan para blogger. Antara lain, browsing, nonton video, upload foto, dan lain-lain. Bisa bikin
internetan sepuas-puasnya karena ga perlu lagi mikiran kuota. Internetan jadi
lebih cepat, mudah, dan murah!
7.Banyak
Promo
Ini dia yang banyak dicari. Selain menghadirkan
kualitas internet yang cepat, BOLT juga memberikan banyak promo kepada
pelanggannya. Penasaran? Nih, saya tuliskan daftar promo unggulan yang bisa
kalian manfaatkan saat menggunakan BOLT MIFI:
Cashback reload
73%. Promo ini dapat diperoleh untuk kalian pelanggan prabayar. Caranya, dengan
mengisi ulang paket internet kalian melalui aplikasi MyBOLT atau website, pada jam 8 pagi hingga 5 sore. Buruan,
karena promo ini terbatas hanya untuk 50 transaksi pertama setiap harinya! Periode
promo berlaku sejak 17 Agustus 2018 hingga 30 September 2018.
Cashback Merdeka Rp50 ribu. Promo ini khusus bagi kalian pelanggan pascabayar dengan menggunakan metode pembayaran kartu kredit. Caranya, daftarkan kartu kredit kalian dalam layanan autodebit melalui aplikasi MyBOLT atau MyBOLT selfcare. Lumayan kan dapat diskon Rp50 ribu? Makin murah aja, deh.
Nah, bagi yang masih penasaran dengan promo BOLT lainnya,
kalian bisa mengunjungi laman ini.
8.Layanan
Pelanggan 24 Jam
Tak ada gading yang tak retak. Namanya teknologi,
semua pasti punya keterbatasan, dan suatu saat akan rusak. Nah, jika ada keluhan dengan produk BOLT, kalian dapat menghubungi
layanan pelanggan BOLT yang tersedia selama 24 jam penuh. Berikut caranya:
·1500 595
untuk pelanggan yang menghubungi lewat pesawat telepon;
·021 2559
6595 untuk kalian yang menghubungi lewat handphone;
atau
·care@bolt.id
untuk kalian yang biasa menggunakan email.
Bagi kalian yang ingin tau produk dan keunggulan
BOLT lebih lanjut, kalian juga dapat mengakses website resmi BOLT di sini.
Penutup
Setelah diulas tuntas, menurut saya BOLT MIFI yang
didukung dengan Internet Unlimited BOLT, wajib
menjadi senjata andalan kalian di era digital. Selain karena BOLT Lebih
Cepat, kalian juga bisa mengakses sepuasnya tanpa perlu memikirkan
kuota.
Coverage area dan kualitas network BOLT juga sudah semakin membaik. Didukung oleh teknologi
4G+ dan fiber optic yang membuat akses
ultra cepat, serta ribuan BTS yang mengcover hampir seluruh area Jabodetabek,
Medan, dan sekitarnya.
Selain itu, paket yang tersedia juga dibanderol
dengan harga yang terjangkau, ditambah dengan banyaknya varian BOLT MIFI yang
ditawarkan, serta layanan pelanggan 24 jam penuh. Apalagi, banyak promo menarik
yang bikin Internet Unlimited BOLT tambah
ciamik.
Dengan segudang manfaat yang ditawarkan, BOLT
merupakan provider internet yang
tepat bagi para blogger dan pelaku
digital lainnya—khususnya yang ada di daerah Jabodetabek dan Medan—untuk menghasilkan
konten jempolan. Supaya tambah yakin dan percaya, yuk kita tonton videonya di bawah ini.
Bagus banget, kan? Makanya buruan, tunggu apa lagi. Yuk, gunakan Internet BOLT Unlimited sekarang juga. Kalau internet
lancar, Insya Allah rejeki ga akan ke
mana. Setuju?
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog
Internet Unlimited BOLT yang diselenggarakan oleh JalanTikus dan BOLT
Hello, you can call me Nodi. I'm a blogger who also work as an analyst in a state institution. Infographic enthusiast and Nadia Fitri's lover. For business inquiries, please view my contact.