Sejauh-jauh burung terbang, pasti akan kembali jua ke sarang.
Peribahasa klasik itu selalu terngiang di kepala setiap kali saya mencari hunian. Meskipun zaman sekarang banyak bertebaran brosur perumahan, tetapi mencari “sarang” yang selalu dirindukan bukanlah perkara gampang.
Awas, jangan asal-asalan! Sebab kalau salah pilih, hidup pun jadi tidak tenang.
***
Mencari hunian ibarat mencari jodoh. Bila tidak ingin sakit hati dan hidup sengsara di kemudian hari, kita harus cermat dalam memilih. Sebab kita pasti menginginkan rumah yang ditinggali nanti, bisa membuat hati tenteram dan pikiran tenang ketika tiba saatnya untuk kembali pulang.
Baru-baru ini, Chandra, teman kantor saya, curhat. Ia mengatakan, sertifikat rumahnya tidak kunjung selesai meski cicilannya sudah enam bulan usai. Begitu ditanya ke bank, katanya masih dalam proses pemecahan oleh pengembang.
Tak ayal, ia pun tidak bisa tidur tenang memikirkan nasib bukti kepemilikan asetnya yang hingga kini belum jua terang-benderang.
Lain Chandra, lain pula Rama. Sahabat sejati saya sejak SMP ini mengaku deg-degan. Bukan apa-apa. Pembangunan rumahnya belum juga rampung meski kini sudah memasuki tahun ketiga. Dulu, ketika pertama kali membeli, pengembang menjanjikan rumahnya bisa selesai dalam tempo dua tahun.
Namun kenyataan yang terjadi sungguh jauh berbeda. Janji tinggal janji. Dengan alasan kesulitan keuangan, pengembang meminta waktu kepada Rama paling tidak setahun lagi. Rama pun mesti memeram harapannya untuk segera tinggal di rumah impian.



Dua cerita teman saya menjadi pelajaran yang sangat berarti. Khususnya bagi saya pribadi, yang hingga kini belum memiliki rumah sendiri. Bila saatnya nanti, persoalan semacam tadi harus dipertimbangkan dalam-dalam, di samping faktor preferensi atau selera semata.
Seperti halnya mencari pasangan, memilih hunian juga punya kriteria tertentu. Kalau bisa, seluruh kriterianya terpenuhi agar bisa menunjang segala aktivitas yang kita lakukan sehari-hari.
Berkaca dari hasil survei Rumah.com bertajuk Property Affordability Sentiment Index Indonesia H1 2019, ada 5 pertimbangan besar warga Indonesia dalam membeli properti.


Secara berurutan, pertimbangan tersebut adalah (i) jarak ke fasilitas transportasi umum; (ii) jarak ke tempat kerja; (iii) dekat rumah sakit/klinik; (iv) keamanan; dan (v) lingkungan ramah anak.
Dari kelima kriteria tersebut, kita pun bisa menyimpulkan. Masyarakat mulai menyadari bahwa mencari hunian ideal di pusat kota terasa semakin sulit. Oleh karena itu, keberadaan hunian yang dekat dengan transportasi umum, meskipun agak sedikit jauh dari pusat kota, semakin diminati oleh masyarakat.
Kalau Anda bagaimana? Setuju dengan kelima faktor di atas?
Terlepas dari apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memilih hunian, pertanyaannya sebenarnya adalah, adakah pengembang yang menghadirkan kelima faktor di atas dalam satu kawasan hunian?
Boleh jadi tidak banyak. Sebab ada yang lokasinya dekat dengan jalan tol, tetapi jauh dengan rumah sakit. Saat keamanannya sudah terjamin, ternyata lingkungannya jauh dari kata ramah anak.
Apa benar begitu? Tenang. Jangan buru-buru khawatir, apalagi berburuk sangka. Tidak banyak bukan berarti tidak ada.
Oke. Saya beri satu kabar gembira. Ada sebuah kawasan hunian yang tidak hanya memenuhi seluruh kriteria di atas, tetapi juga memberikan ketenangan lantaran kredibilitas pengembangnya tidak perlu diragukan lagi. Di sana, kisah pilu memilih hunian seperti Chandra dan Rama tidak akan Anda temukan.
Penasaran? Kunjungi saja Kota Wisata Cibubur. Niscaya Anda akan menemui sejuta pesona yang senantiasa lekat dalam jiwa. Namun sebelum itu, silakan simak ulasannya dalam beberapa alinea ke depan.



Kota Wisata Cibubur merupakan sebuah ikon hunian terbaik di kawasan Cibubur. Bagi Anda yang tinggal atau bekerja di area Jabodetabek, nama Kota Wisata Cibubur tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Ya, kawasan hunian ini memang sudah berdiri sejak lama, tepatnya akhir tahun 1996.
Boleh dibilang, pesatnya perkembangan Cibubur hingga menjadi salah satu kota satelit Jakarta adalah buah dari pembangunan Kota Wisata Cibubur. Kembali ke awal 1990-an, Cibubur boleh jadi tidak dikenal orang. Namun sejak Kota Wisata Cibubur dibuka, Cibubur perlahan menjelma sebagai kota terlengkap di selatan Jakarta.
Nah, supaya tidak penasaran, silakan berkeliling di kawasan hunian nomor satu di Cibubur lewat sajian video berikut ini.


Andil besar Kota Wisata Cibubur dalam pembangunan daerah tidaklah mengejutkan. Sebab Kota Wisata Cibubur dibangun oleh pengembang jempolan yang telah memiliki rekam jejak apik di sektor properti dalam negeri, yakni Sinar Mas Land.
Sejak dulu, Sinar Mas Land memang tidak pernah main-main ketika mendirikan kawasan hunian. Anda boleh cek sendiri. Sinar Mas Land tidak hanya membangun kawasan residensial saja, tetapi juga menghidupi sederet elemen penunjang seperti kawasan bisnis dan komersial, hiburan dan rekreasi, pendidikan, dan kesehatan.
Prinsip itu diejawantahkan Sinar Mas Land ketika mengembangkan Kota Wisata Cibubur. Alhasil, di area seluas 750 hektare ini, Anda bisa menemukan sejuta pesona. Tidak hanya hunian yang sangat lengkap dan nyaman untuk ditinggali, Anda juga akan menjumpai peluang berinvestasi yang sulit ditandingi.


Sebagai bukti, beberapa waktu lalu Kota Wisata Cibubur mendapat penghargaan Consumer Choice Award (CCA) 2017 untuk kategori The Most Popular Landed in Cibubur. Acara penghargaan bergengsi tersebut digelar oleh Rumah123.com yang bekerja sama dengan Kompas.com, Majalah SWA, dan SARS.
Lantaran tertarik dengan pesona Kota Wisata Cibubur, beberapa waktu lalu saya berkunjung langsung ke sana. Sambil jalan-jalan, siapa tahu bisa menemukan hunian yang cocok untuk masa depan.
Ternyata, prediksi saya tidak salah. Dari catatan saya, setidaknya ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Kota Wisata Cibubur. Tanpa berpanjang lebar, mari kita ulas satu per satu.



Letak Kota Wisata Cibubur terbilang sangat strategis. Jaraknya hanya sekitar 6 kilometer dari gerbang tol keluar Cibubur. Dari pusat kota Jakarta, jaraknya hanya sekitar 40 kilometer, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui Tol Jagorawi selama 30 hingga 40 menit saja.
Selain bisa diakses melalui Tol Jagorawi, tahun depan Kota Wisata Cibubur juga bisa diakses melalui Tol Cimanggis—Cibitung (Jakarta Outer Ring Road) yang hingga saat ini masih dalam proses pembangunan.
Bahkan, kalau tidak aral melintang, pada akhir tahun ini kita juga bisa mengunjungi Kota Wisata Cibubur dengan menggunakan moda transportasi lintas raya terpadu (LRT) jurusan Cawang—Cibubur. Pembangunan LRT sendiri sudah hampir rampung. Agenda uji coba perdana direncanakan pada September mendatang.


Bagi Anda yang bekerja di Jakarta, di Kota Wisata Cibubur juga sudah tersedia Feeder Busway dan berbagai layanan bus premium yang siap mengantarkan Anda ke beberapa titik di pusat kota, yaitu Senayan, Semanggi, Sudirman, Grogol, hingga bandara Soekarno-Hatta.
Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir dengan kebijakan ganjil-genap yang kini rutin diberlakukan di Jakarta.
Untuk urusan rekreasi, Kota Wisata Cibubur juga dekat dengan sejumlah wana wisata kelas satu. Di antaranya adalah Taman Buah, Bumi Perkemahan Cibubur, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bagi Anda yang suka berakhir pekan di mal, lokasi Kota Wisata Cibubur juga relatif dekat dengan sejumlah mal di Cibubur.



Hal yang paling kentara ketika Anda memasuki Kota Wisata Cibubur adalah tata kawasan yang ramah lingkungan. Sepanjang jalan, Anda akan menemukan pepohonan hijau nan rindang yang ditata cantik di kanan dan kiri jalan. Hati dan pikiran pun menjadi tenang lantaran udara yang dihirup terasa lebih segar.
Pepohonan rindang tidak hanya bisa Anda temukan di ruas jalan utama saja, tetapi juga ketika memasuki cluster hunian. Taman-taman kecil yang tersedia di setiap bundaran dan sudut cluster juga menambah suasana nyaman bagi siapa saja yang melintas.


Tata kawasan Kota Wisata Cibubur memang sangat cocok bagi Anda yang mendambakan kawasan hunian berkonsep hijau. Di sini, Anda bisa berolahraga dengan berjalan kaki atau berlari di sepanjang trotoar dan sudut jalan yang sangat asri.
Ruas jalan yang dibangun di area Kota Wisata Cibubur juga diatur dengan cermat. Kalau boleh jujur, jarak antarjalan terasa sangat luas. Masing-masing ruas terdapat jalur cepat maupun lambat, sehingga cukup untuk dilalui enam kendaraan roda empat secara bersamaan.
Jalan di area cluster hunian pun sama saja. Di Kota Wisata Cibubur, Anda tidak akan menemukan kata sumpek, lantaran lebar jalan yang terasa sangat lega. Sehingga menyisakan ruang untuk area penanaman vegetasi dan sirkulasi udara yang baik di sudut jalan.



Sejak dulu, Kota Wisata Cibubur memang terkenal dengan ragam tipe hunian yang sangat nyaman untuk ditinggali. Hingga kini, sedikitnya sudah ada 48 cluster yang tersedia di kawasan Kota Wisata Cibubur. Beberapa yang masih gres di antaranya adalah Nashville, New Visalia, Bellwood, dan Nebraska.
Untuk menunjang kenyamanan dan menjamin keamanan penghuni yang tinggal di area cluster, Kota Wisata Cibubur menerapkan one gate system security. Artinya, seluruh penghuni maupun tamu akan memasuki area hunian dari satu pintu gerbang utama yang dijaga oleh pengamanan selama 24 jam penuh.
Dari berbagai cluster yang ada, yang paling anyar adalah Nashville. Areanya masih dalam proses pembangunan. Ketika berkunjung ke sana, saya menyaksikan langsung betapa cantiknya desain hunian berlantai dua ini, lewat rumah contoh yang sengaja dibangun untuk menuntaskan rasa penasaran calon penghuni.


Nashville terdiri dari 5 tipe. Mulai dari tipe 100, 129, 137, 166, hingga yang paling besar yaitu tipe 220. Pada tipe yang paling kecil, tersedia 3 kamar tidur yang cukup luas. Satu kamar tidur di lantai satu, dan dua kamar tidur lainnya terletak di lantai dua. Cocok bagi Anda yang baru menikah atau memiliki anak.
Sedangkan pada tipe 220, tersedia empat kamar tidur utama dan satu kamar tidur untuk asisten rumah tangga. Area parkir pun lebih luas, cukup untuk menampung hingga 3 unit mobil. Semua tipe di cluster Nashville memiliki taman di belakang, sehingga menambah rasa nyaman dan menjamin kesehatan keluarga.
Di area cluster Nashville ini, rencananya akan dibangun sebanyak 155 unit rumah. Bila tertarik, Anda bisa memiliki hunian bergaya modern dan minimalis ini dengan harga mulai dari kisaran Rp 1,5 miliar. Silakan hubungi kantor pemasaran Kawasan Wisata Cibubur untuk info lebih lanjut.



Bukan hanya hunian yang nyaman, Kota Wisata Cibubur juga memiliki sederet kawasan komersial yang siap menjadikan investasi Anda terus berkembang. Pada umumnya, kawasan komersial ini terletak di bagian depan di sepanjang ruas jalan utama.
Tidak perlu banyak waktu untuk menilai bahwa kawasan komersial Kota Wisata Cibubur memang sangat menjanjikan. Karena Anda bisa menemukan beragam ruko terisi yang menawarkan berbagai kebutuhan penunjang. Mulai dari kuliner, kebutuhan rumah tangga, bengkel, apotek, hiburan, hingga pendidikan.
Peluang bisnis di Kota Wisata Cibubur juga sangat potensial. Selain memiliki puluhan ribu penghuni yang tinggal di kawasan residensial, Cibubur juga dikenal sebagai kawasan yang sedang berkembang. Pembangunan jalan tol dan pusat hiburan di area sekitar turut meningkatkan nilai investasi yang Anda tanamkan.


Layaknya kawasan hunian, kawasan komersial di Kota Wisata Cibubur juga memiliki beragam nama. Mulai dari Oregon Square, Madison Square, hingga Boston Square.
Yang paling terkini, Kota Wisata Cibubur baru saja memasarkan kawasan bisnis bernama Comm Park, tepatnya pada 28 Juli 2019 kemarin. Selain deretan ruko menjanjikan, Comm Park juga menyediakan fasilitas pergudangan yang bisa Anda manfaatkan untuk menunjang operasional bisnis.
Harga per unit ruko yang ditawarkan di Comm Park pun cukup terjangkau. Mulai dari Rp 1,4 miliar saja, Anda bisa menggarap potensi pasar yang begitu besar. Pebisnis andal, tentu tidak akan melewatkan peluang investasi yang sungguh menggiurkan ini.



Ketika memilih sebuah hunian, khususnya bagi pasangan muda, sebaiknya kita mempertimbangkan prospek ke depan. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan krusial adalah ketersediaan fasilitas pendidikan di sekitar kawasan hunian.
Sebab bilamana Si Buah Hati sudah memasuki usia sekolah, kita tidak perlu repot lagi mencari sekolah. Hati menjadi tenang, tumbuh kembang dan masa depan anak pun tidak dipertaruhkan.
Kota Wisata Cibubur adalah kawasan hunian yang sangat paham dengan kebutuhan pendidikan penghuninya. Karenanya, ada sejumlah fasilitas pendidikan dari berbagai jenjang yang bisa Anda temui, baik di dalam ataupun di sekitar area kawasan hunian.


Untuk jenjang pendidikan anak usia dini, ada sejumlah lembaga prasekolah seperti Kinderfield Cibubur dan Maple Preschool. Sedangkan untuk tingkat SD hingga SMA, ada sejumlah nama sekolah yang sudah tidak asing di telinga, yakni BPK Penabur, Sekolah Islam Fajar Hidayah, Sekolah Katolik BHK, dan Sekolah Islam Al-Azhar.
Lantas, bagaimana dengan perguruan tinggi? Tenang. Ada Universitas Terbuka Kota Wisata Cibubur yang siap mencetak pemuda-pemuda unggul demi masa depan yang lebih baik.



Sebagai umat beragama, kita diwajibkan untuk beribadah. Untuk memenuhi kebutuhan rohani para penghuni dan pejalan yang berwisata, Kota Wisata Cibubur juga telah menyediakan fasilitas ibadah di dalam kawasan.


Bagi umat muslim, ada Masjid Darussalam yang letaknya bersebelahan dengan Sekolah Islam Fajar Hidayah. Selain beribadah, di sini Anda juga bisa membeli rupa-rupa kudapan di area food stall yang masih berada di dalam area masjid. Keamanannya pun terjaga karena telah dilengkapi dengan electronic parking system.
Sedangkan untuk umat Krisitiani, tersedia Gereja Maria Bunda Segala Wisata yang terletak di sebelah area cluster Monaco. Untuk mempermudah pendidikan agama kepada anak, letak bangunan gereja berada dalam satu area dengan Sekolah Katolik BHK.



Meski setiap orang tidak menginginkan sakit, kita harus tetap berjaga-jaga untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk. Salah satu caranya adalah dengan memilih hunian yang dekat dengan fasilitas kesehatan.
Di Kota Wisata Cibubur, Anda tidak perlu khawatir. Sebab kawasan hunian ini telah dilengkapi dengan sederet fasilitas kesehatan nomor wahid. Ketika tubuh sakit atau memerlukan tindakan medis, seperti pada saat mengandung dan melahirkan, Anda pun bisa bernapas dengan tenang.


Saat badan pegal-pegal karena terserang flu, Anda bisa ke Kota Wisata Medical Center. Tatkala membutuhkan perawatan kulit dan kecantikan, silakan mengunjungi Eskin Clinic. Bahkan ketika ingin memasang kawat gigi atau sekadar membersihkan karang gigi, segera arahkan kemudi ke Klinik Gigi Damessa.
Di atas itu semua, Kota Wisata Cibubur juga memiliki Eka Hospital Cibubur. Sebuah rumah sakit berkelas internasional dengan ketersediaan dokter ahli dan fasilitas yang lengkap. Mulai dari jantung, saraf, ibu dan anak, hingga instalasi gawat darurat. Lengkap, bukan?



Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kota Wisata Cibubur memiliki banyak sekali ragam kuliner dan pusat perbelanjaan yang bisa Anda manfaatkan. Dengan begitu, Anda tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar kawasan ketika tiba waktunya belanja bulanan.
Perihal kuliner, sudah ada dua franchise ternama yang beroperasi di Kota Wisata Cibubur, yakni Burger King dan McDonald’s. Di samping itu, ada juga puluhan restoran dan rumah makan yang tersedia di berbagai ruko di sepanjang kawasan komersial.
Mau apa saja ada. Mulai dari sajian lokal, tradisional, hingga internasional seperti Japanese, Korean, dan Western Food. Sebagai gambaran, saya yang lidahnya cocok dengan kuliner Sunda, bisa mampir ke Rumah Makan Saung Alam Sunda.


Ketika berkunjung ke Kota Wisata Cibubur, saya sempat merasakan nikmatnya sajian nasi liwet khas Saung Alam Sunda. Ditambah dengan ayam bakar dan tumis kangkung, siapa pula yang tidak tergugah seleranya?
Untuk urusan belanja kebutuhan sehari-hari, Anda tidak perlu khawatir. Sebab di Kota Wisata Cibubur sudah tersedia Hero. Selain itu, ada juga sejumlah Alfamart dan Indomaret yang berjejer di sepanjang ruko di kawasan bisnis.
Nah, bagi yang senang berbelanja sekaligus berwisata, Anda juga bisa ke Kampung China. Selain menjual pernak-pernik khas Negeri Panda, kawasan Kampung China juga menyuguhkan spot foto yang instagrammable. Cocok untuk dijadikan tujuan jalan-jalan sore pada akhir pekan.



Agar tubuh tetap sehat dan kuat, kita harus rajin berolahraga. Biasanya, pusat kebugaran adalah tempat berolahraga yang paling nyaman. Hanya saja, pusat kebugaran di kota-kota besar seringkali tidak lengkap.
Kalau gym, ya, gym saja. Kalau renang, ya, renang saja. Jarang sekali ada yang menyuguhkan beragam jenis olahraga dalam satu tempat. Alhasil, biaya untuk berolahraga pun menjadi lebih mahal.
Di Kota Wisata Cibubur, Anda tidak perlu bayar mahal. Sebab Kota Wisata Cibubur punya yang namanya Kota Wisata Sport Club & Spa. Di sini, Anda cukup membayar satu annual fee untuk mendapatkan beragam fasilitas olahraga yang menyehatkan.


Untuk renang saja, Kota Wisata Sport Club & Spa memiliki tiga jenis kolam. Ada yang tipe olympic, orang dewasa, hingga anak-anak. Selain itu ada pula beragam arena olahraga lainnya seperti futsal, tenis, bulu tangkis, squash, biliar, tenis meja, basket, dan jogging track.
Jangan lewatkan pula kelas gym dan aerobik dengan instruktur andal, yang jadwalnya tersedia hampir setiap hari. Tatkala badan pegal-pegal akibat bekerja atau berolahraga, Anda pun bisa memanfaatkan fasilitas spa untuk mengendurkan kembali otot-otot yang tegang.



Daya pikat dan pesona Kota Wisata Cibubur memang membuat waktu terasa cepat berlalu. Tidak terasa, sudah hampir seharian saya berputar-putar mengelilingi Kota Wisata Cibubur.
Ternyata, apa yang diberitakan di media dan diserukan oleh orang-orang memang benar adanya. Kota Wisata Cibubur adalah kawasan hunian yang sungguh memesona. Di samping ketersediaan fasilitas yang sangat lengkap, ikon hunian di Cibubur ini juga menyuguhkan tata kawasan hijau yang indah lagi berseri.
Tak heran, saya pun betah berlama-lama menikmati sejuknya udara di sini. Benar-benar kawasan residensial impian yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan menjamin masa depan yang lebih baik.


Akhir kata, seperti Anda yang gigih membaca artikel ini, saya pun jadi punya satu mimpi. Ya, apalagi kalau bukan memiliki satu hunian di Kota Wisata Cibubur? Mimpi yang kini harus saya perjuangkan untuk meraih indahnya masa depan.
Untuk itu, mari kita saling mendoakan. Semoga dalam beberapa waktu ke depan, saya dan Anda diberi kelancaran rezeki oleh Tuhan agar dapat segera merasakan indahnya sejuta pesona di Kota Wisata Cibubur. Setuju? [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Kota Wisata Cibubur Blog Competition yang diselenggarakan oleh Kota Wisata Cibubur.


Setiap foto yang ditampilkan dalam artikel ini bersumber dari koleksi pribadi, website Kota Wisata Cibubur, dan sumber-sumber lainnya yang namanya telah dicantumkan pada masing-masing gambar.
Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube milik Kota Wisata Cibubur.



Masih lekang dalam ingatan kisah manis mudik Lebaran beberapa bulan silam. Lewat gambar dan cuitan di media sosial, warganet girang bukan kepalang lantaran waktu tempuh mudik yang jauh berkurang.
Bila pada tahun-tahun sebelumnya pemudik mesti “tersiksa” berhari-hari, kini dalam hitungan jam mereka sudah tiba di kampung halaman untuk merayakan Idulfitri. Ya, itu semua berkat tol Trans Jawa dan Trans Sumatra yang sudah beroperasi.
***
Kendatipun tahun ini saya tidak tergabung dalam barisan pemudik, cerita tentang lancarnya perjalanan mudik Lebaran akhirnya sampai juga ke telinga. Selain dari viralnya berita di media sosial, adalah paman saya yang menceritakan pengalamannya menikmati mudik Lebaran lewat jalan tol Trans Jawa.
Bertolak dari Jakarta, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 7 jam untuk sampai di Semarang. Itu pun sudah termasuk dua kali istirahat dan isi bensin di rest area. Menurutnya, jalan terasa lebih lengang. Kepadatan kendaraan pun terasa jauh berkurang.
Apa yang dialami paman saya, ternyata juga dirasakan oleh mayoritas pemudik di Pulau Jawa. Heru Sadmiko, misalnya. Kepada Detik (30/5/2019), ia mengaku hanya membutuhkan 9 jam untuk tiba di Magetan, Jawa Timur.
Berangkat dari Jakarta pada pukul 14.30, Heru sudah bisa keluar tol Ngawi pada pukul 22.30. Kepadatan hanya terjadi sesaat di ruas Tol Cikunir. Selepas itu, ia bisa memacu laju mobilnya hingga 100 km per jam. Ia pun bersyukur bisa berkumpul dengan keluarga tercinta dalam kondisi tubuh yang lebih fit.


Heru tidak salah. Ia memang pantas bersyukur. Sebab apa yang ia alami sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada mudik Lebaran tahun 2016.
Seperti dilaporkan Tribunnews, waktu tempuh yang dibutuhkan pemudik untuk melintasi rute Jakarta—Surabaya bisa mencapai lebih dari 30 jam karena macet parah di sepanjang jalan. Dalam kondisi normal saja, setidaknya dibutuhkan 18 hingga 21 jam perjalanan.
Kondisi itu serupa dengan apa yang dirasakan oleh pemudik yang bertolak menuju Sumatra. Sebelum tol Trans Sumatra dibuka, rata-rata lama tempuh rute Lampung—Palembang mencapai 10 sampai dengan 12 jam. Pada mudik Lebaran kemarin, jarak tempuhnya bisa dipersingkat hingga 2 kali lipat.
Sekarang, pemudik bisa bernapas lebih lega. Dengan adanya tol Trans Jawa dan Trans Sumatra, aktivitas mudik menjadi lebih lancar, nyaman, dan menyenangkan.
Dan yang paling penting, tidak ada lagi kemacetan parah yang menelan korban jiwa seperti halnya tragedi kelam yang terjadi di pintu keluar gerbang tol Brebes tiga tahun silam.

Enam Gagasan Bangun Infrastruktur dan Transportasi untuk Masa Depan
Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra hanyalah dua dari sekian banyak proyek infrastruktur dan transportasi yang dibangun Pemerintah. Ada ratusan proyek lain yang sudah diresmikan maupun akan beroperasi dalam beberapa tahun mendatang. Mulai dari jalan raya, kereta api, bandara, hingga moda raya terpadu (MRT).
Infrastruktur dan transportasi memang menjadi fokus pembangunan Pemerintah selama lima tahun terakhir. Sebab sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing, pembangunan kedua sektor tersebut haruslah ditempatkan pada prioritas nomor wahid.
Bila diibaratkan dengan tubuh manusia, infrastruktur bagaikan urat nadi. Tugasnya menjadi saluran penghubung seluruh bagian tubuh. Melalui urat nadi, sari pati nutrisi bisa ditransfer secara utuh, sehingga membuat badan sehat dan kuat. Tatkala urat mampat atau terhambat, maka tubuh pun akan sakit dan menderita.
Transportasi juga sama pentingnya. Apabila infrastruktur adalah urat nadi, maka transportasi adalah darah yang berfungsi sebagai kendaraan yang mengalirkan zat-zat penting yang dibutuhkan tubuh. Tatkala aliran darah tidak lancar, maka tubuh pun tidak akan mampu beraktivitas normal.
Dalam konteks pembangunan bangsa, infrastruktur dan transportasi memiliki peran yang sangat penting. Oleh karena itu, melalui artikel ini, saya akan mengurai enam gagasan mengenai pembangunan infrastruktur dan transportasi untuk masa depan Indonesia.
Saya berharap, gagasan ini tidak hanya berguna bagi kemajuan bangsa, tetapi juga akan membuat aktivitas keseharian kita menjadi lebih mudah dan nyaman.
Apa saja? Tanpa berpanjang lebar, mari kita kuliti satu per satu.

1. Jalan Tol demi Pembangunan Ekonomi yang Lebih Merata
Harus diakui, ketimpangan pembangunan ekonomi adalah tantangan yang mesti dihadapi oleh bangsa ini. Sebab sejak dulu kala, pembangunan memang selalu difokuskan di Pulau Jawa. Itulah mengapa, kita pun mengenal dengan istilah Jawa sentris.
Alhasil, ekonomi bangsa selalu bertumpu pada pulau Jawa. Faktanya memang demikian. Data terkini menyebutkan, pada triwulan pertama 2019, sumbangsih Pulau Jawa terhadap capaian Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai lebih dari setengahnya, yakni 59,03 persen.
Kondisi tadi tentunya menimbulkan kesenjangan. Kita pun bisa merasakan dampaknya secara nyata. Kalau boleh jujur, sarana dan prasarana penunjang di Jawa tentu lebih lengkap dibandingkan dengan kawasan timur Indonesia. Mulai dari jalan raya, transportasi, pendidikan, hingga wahana hiburan dan rekreasi.


Maka, satu-satunya cara untuk mengatasi ketimpangan tersebut adalah pembangunan infrastruktur dan transportasi yang lebih merata. Pembangunan Jalan Tol Manado—Bitung di Sulawesi Utara, misalnya.
Ketika sudah beroperasi nanti, arus orang maupun barang antara Manado dan Bitung akan semakin lancar. Dengan begitu, geliat ekonomi antardaerah akan semakin berkembang, sehingga menjadikan daerah yang tadinya tertinggal berubah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Kesenjangan antara Jawa dan daerah lainnya pun akan semakin terpapas. Dengan demikian, saudara kita yang tinggal di daerah terluar juga bisa menikmati manisnya buah pembangunan yang lebih adil dan merata.

2. Kereta Api untuk Menghemat Waktu dan Biaya Ekonomi
Sebagaimana kita ketahui, pertumbuhan kendaraan yang tidak terkontrol adalah penyebab utama kemacetan. Di Jakarta saja, setidaknya ada 1.500 unit kendaraan baru yang mengaspal di berbagai ruas jalan ibukota. Fakta tersebut diungkap oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, kepada Kompas (13/9/2018).
Kemacetan membawa dampak negatif bagi kita semua. Mulai dari waktu tempuh yang lebih lama, pencemaran udara, memburuknya kesehatan akibat stres, hingga biaya ekonomi yang lebih tinggi.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, sebagaimana dilansir Bisnis Indonesia, mengatakan bahwa total kerugian yang harus dialami oleh warga Jakarta akibat kemacetan mencapai Rp 100 triliun per tahun. Angka tersebut terutama berasal dari banyaknya energi kendaraan yang tersia-siakan akibat kemacetan.



Pembangunan infrastruktur dan transportasi adalah salah satu solusi mengatasinya. Mari kita ambil contoh pembangunan MRT Jakarta. Proyek senilai Rp 16 triliun tersebut menghemat waktu puluhan ribu warga yang beraktivitas di ibukota. Dari stasiun bundaran HI hingga Lebak Bulus yang berjarak 16 kilometer, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 17 menit saja.
Dari sisi biaya, keberadaan MRT juga akan sangat menghemat biaya transportasi warga. Untuk rute yang sama, warga hanya perlu mengeluarkan uang senilai Rp 14.000 saja. Bila dibandingkan dengan kendaraan umum lainnya, ongkos MRT jauh lebih terjangkau.
Agar bangsa Indonesia semakin maju, kesuksesan MRT Jakarta harus ditiru oleh daerah padat penduduk lainnya. Misalnya Surabaya, Semarang, Bandung, bahkan Sulawesi. Keberadaan kereta api yang menghubungkan antardaerah dalam provinsi di kota-kota tersebut, tentu akan meningkatkan mobilitas dan mengurangi waktu tempuh, sehingga struktur biaya pun akan semakin efisien.

3. Meningkatkan Konektivitas Antardaerah di Papua
Di beberapa daerah, khususnya di kawasan timur Indonesia, konektivitas masih menjadi masalah. Minimnya jalan beraspal, kurangnya jembatan, hingga kontur geografis yang tak seragam, seringkali menjadi penyebab terhambatnya distribusi barang dan transportasi orang.
Lagi-lagi, pembangunan infrastruktur dan transportasi adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan konektivitas antardaerah.
Di Papua, misalnya. Sebelum jalan Trans Papua beroperasi, warga Papua di Merauke harus mengarungi jalan berlumpur dan berbukit untuk bisa sampai ke Boven Digul. Waktu tempuhnya pun bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.


Dengan adanya jalan Trans Papua, kini waktu tempuh menjadi hanya 8 jam saja. Jarak yang ditempuh juga relatif lebih pendek, yakni menjadi 422 kilometer. Ketimbang harus mengitari bukit dan gunung yang berliku, tentu warga Papua akan semakin mudah beraktivitas dengan hadirnya jalan Trans Papua.
Namun demikian, jalan Trans Papua tidak bisa berdiri sendirian. Ia harus didukung dengan pembangunan jalan penunjang yang menghubungkan antardistrik yang masih terisolasi oleh hutan dan pegunungan.
Dengan adanya jalan penunjang, simpul-simpul isolasi pun akan terbuka. Warga yang tinggal di pegunungan atau lereng perbukitan menjadi lebih mudah berpindah tempat dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Alhasil, tiada lagi daerah tertinggal atau terbelakang.

4. Tingkatkan Kualitas Jalan dalam rangka Menekan Laju Inflasi
Salah satu penyebab naiknya harga barang dan jasa, atau dengan kata lain inflasi, adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Dalam banyak kasus, ketidakseimbangan tersebut adalah buah dari kelangkaan barang.
Ketika distribusi barang terhambat akibat kendala infrastruktur dan transportasi, harga pun bisa menjadi lebih mahal. Contohnya seperti ini. Akibat jalan Trans Sulawesi rusak, distribusi cabai rawit dari Gorontalo ke Palu menjadi terhambat. Alhasil, harga cabai rawit di Palu akan menjadi lebih mahal akibat kekurangan pasokan.


Nah, kenaikan harga cabai rawit akan memicu kenaikan harga makanan lainnya di Palu. Misalnya ayam goreng, nasi goreng, ataupun ragam kudapan lain yang berbahan baku cabai rawit. Kalau sudah berlaku masif, harga barang nonmakanan juga akan meningkat dan memicu inflasi.
Untuk mengatasi kelangkaan barang, pembangunan infrastruktur dan transportasi mesti menjadi yang terdepan. Sebab semakin baik kualitasnya, maka akan semakin lancar pula jalur distribusi barang sehingga tidak terjadi kenaikan harga akibat kelangkaan pasokan.

5. Bangun Infrastruktur dan Transportasi sebelum Berinvestasi
Investasi adalah salah satu komponen penggerak ekonomi. Salah satu dampak positif yang dihasilkan dari kegiatan investasi adalah terciptanya lapangan pekerjaan.
Pembangunan smelter di Kolaka, Sulawesi Tenggara misalnya. Kegiatan investasi ini akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar ataupun daerah lainnya. Adanya pekerja smelter baru akan menimbulkan kebutuhan ekonomi baru di Kolaka, misalnya perumahan, rumah makan, hingga hiburan.
Kebutuhan tadi membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Mereka akan membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan para pekerja smelter di daerahnya. Dalam kerangka yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pun akan semakin meningkat.



Nah, pembangunan infrastruktur dan transportasi sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan investasi tadi. Sebab smelter tidak akan beroperasi optimal apabila kondisi jalan berantakan. Tidak akan ada investor yang berani membangun kawasan permukiman bila tiada moda transportasi yang memadai.
Sebaliknya pun demikian. Tatkala kondisi jalan sudah beraspal dan moda transportasi beragam, maka investor pun akan dengan senang hati berinvestasi tanpa harus diminta berkali-kali.

6. Infrastruktur Tapal Batas Menjaga Kedaulatan Bangsa
Ada cerita kelam yang harus kita telan lantaran kurangnya memerhatikan pembangunan infrastruktur dan transportasi di masa lalu. Cerita itu adalah berpisahnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari pangkuan Bumi Pertiwi.
Pada 17 Desember 2002, International Court of Justice (ICJ) memutuskan dua pulau yang terletak di selat Makassar tersebut menjadi daerah teritorial Malaysia. Apa sebab? Dibanding Malaysia, kita kurang memerhatikan pembangunan di daerah tersebut. Ukurannya sederhana. Ringgit lebih dicintai oleh warganya ketimbang Rupiah.
Bila tidak ingin terulang kembali, pembangunan infrastruktur dan transportasi, khususnya di daerah terluar, haruslah menjadi prioritas utama. Untungnya, Pemerintah sadar akan hal ini.
Sebagai contoh, Pemerintah telah mengoperasikan bandara Miangas di Sulawesi Utara sejak 12 Maret 2017. Asal tahu saja, Miangas adalah sebuah pulau kecil yang terletak di ujung paling utara Nusantara. Berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina.
Bandara yang menelan biaya hingga Rp 275 miliar tersebut tidak hanya berperan sebagai penghubung antara Manado dan Miangas, tetapi juga sebagai pos lintas batas yang senantiasa dijaga oleh pasukan pertahanan kita.


Apa yang dilakukan Pemerintah di tapal batas utara mesti dilakukan juga di bagian lainnya. Misalnya di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Pasalnya, pulau ini benar-benar terbagi menjadi dua bagian.
Seluas 246,61 km2 menjadi bagian Indonesia, sedangkan 187,23 km2 sisanya menjadi wilayah Malaysia. Bila tidak ingin bernasib sama dengan Sipadan dan Ligitan, pembangunan infrastruktur di Sebatik harus diutamakan. Tujuannya tentu saja bukan hanya untuk kepentingan ekonomi semata, melainkan untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Jadilah Heroes of The Nation Bersama DJPPR Kemenkeu RI
Keenam gagasan di atas, sejatinya menjelaskan betapa pentingnya pembangunan infrastruktur dan transportasi bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dalam membangun keduanya, Pemerintah pun tidak tinggal diam.
Melalui payung hukum Peraturan Presiden (Perpres) No.56/2018, ada 227 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mesti diselesaikan. Mulai dari pembangunan jalan tol, bandara, perumahan, energi, air minum, irigasi, hingga telekomunikasi. Dari sekian banyak proyek tersebut, lebih dari setengahnya merupakan proyek infrastruktur dan transportasi.
Lantas, dari manakah sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur dan transportasi tersebut? Jawabannya, bisa dari Pemerintah, swasta, kerja sama keduanya, atau peran dari individu warganya.
Dari sisi Pemerintah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah salah satu instrumen utama yang digunakan untuk membangun bangsa, termasuk di bidang infrastruktur dan transportasi. Bila kita tilik datanya, infrastruktur memang menjadi prioritas utama pembangunan.


Di dalam struktur APBN 2019, anggaran infrastruktur mencapai Rp 415 triliun, atau setara dengan 17 persen anggaran belanja negara. Setiap tahun anggaran infrastruktur meningkat. Sebagai gambaran, jumlah anggaran infrastruktur tahun ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan anggaran infrastruktur pada APBN 2015, yang tercatat sebesar Rp 256,1 triliun.
Untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur dan transportasi yang masif, cepat, dan tepat sasaran, Pemerintah tidak bisa bertumpu pada anggaran penerimaan negara (terdiri dari pajak, penerimaan negara bukan pajak, dan hibah) saja, tetapi juga harus bertumpu pada pembiayaan anggaran, yang sebagian besarnya berupa utang negara.
Meski dibiayai dari utang, kita tidak perlu khawatir. Sebab pengelolaan risiko utang Pemerintah sangat baik. Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) selalu mengedepankan prinsip kehatian-hatian dalam mengurus utang negara.
Artinya, utang Pemerintah benar-benar dimanfaatkan untuk mengakselerasi kegiatan produktif, salah satunya yakni pembangunan infrastruktur. Bukan kegiatan konsumtif yang tidak memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.
Nah, agar tidak salah paham dalam memahami konsep utang Pemerintah, silakan tonton video yang diambil dari saluran YouTube milik DJJPR ini, ya!


Selain pengalokasian utang yang selektif, keseimbangan utang Pemerintah pun terus dijaga. Salah satu ukurannya adalah rasio utang terhadap PDB yang selalu berada jauh di bawah batas maksimal 60 persen sebagaimana amanat UU Keuangan Negara.
Pada akhir Juni 2019, rasio utang Pemerintah terhadap PDB berada di angka 29,50 persen. Bila dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, rasio utang terhadap PDB kita juga masih jauh di bawah.
Jika kita kupas lebih dalam lagi, komponen utama utang Pemerintah adalah Surat Berharga Negara (SBN). Sampai dengan medio Juni 2018, pangsanya mencapai 81,4 persen dari total utang Pemerintah.
Nah, sebagai warga negara yang baik, kita pun bisa jadi pahlawan bangsa (heroes of the nation) dalam mendukung pembangunan negeri dengan berinvestasi melalui SBN. Seperti baru-baru ini, Pemerintah menerbitkan SBN bertajuk Saving Bonds Retail (SBR) Seri 007.



Melalui SBR007, kita sudah bisa berinvestasi dengan nominal kecil, yakni mulai Rp 1 juta saja. Selain aman karena dijamin oleh negara, tingkat pengembalian SBR007 juga sangat menguntungkan. Dan yang paling penting, kita juga bisa turut serta membangun infrastruktur dan transportasi.
Apabila tidak sempat berinvestasi di SBR007, jangan khawatir. Sebab panggilan untuk berkontribusi lewat SBN akan selalu datang kembali. Dikutip dari Bisnis.com, DJPPR menyebutkan akan ada lima instrumen SBN Ritel lagi yang akan terbit pada sisa tahun ini, yakni Sukuk Tabungan Seri 005 (ST005), SBR008, Obligasi Republik Indonesia Seri 016 (ORI016), dan ST006.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera berinvestasi di SBN dan jadilah pahlawan dalam pembangunan bangsa ini. Sebab kalau bukan kita, lantas siapa lagi? [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog DJPPR bertema Heroes of The Nations yang diselenggarakan oleh DJPPR.
Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Seluruh sumber foto telah dicantumkan pada masing-masing gambar. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube milik DJPPR.