Deru politik memang tidak bisa dipisahkan dari ihwal kebangsaan. Keduanya saling kunci-mengunci dan lekat-melekatkan. Sebab, suka atau tidak, politik memang menentukan fondasi dan arah kebijakan yang dijalankan oleh bangsa ini.
Puncaknya pun sudah bisa kita terka. Pilpres yang digelar saban lima tahun sekali, seakan menjadi kompas untuk menakdirkan titian bangsa. Singkatnya, mau dibawa ke mana nasib Nusantara?
Oleh karena itu, tidak heran apabila atensi warga seakan tersedot kuat ke dalam pusaran gempita setiap kali rangkaian Pilpres berlangsung. Silang pendapat dan adu argumen tidak bisa terelakkan. Tentu hal ini sah-sah saja. Sebab setiap orang pastilah ingin Pemimpin yang terbaik bagi bangsa ini.
Tensi boleh saja tinggi. Akan tetapi, otak dan hati harus tetap sejuk. Boleh memilih yang ini, tapi tetap menghargai yang itu. Boleh berpendapat, asalkan jangan memaksakan kehendak. Karena menentukan pilihan adalah hak asasi yang dijamin oleh konstitusi di Republik ini.

Dilema NKRI Bersyariah

Bicara mengenai konstitusi, ada yang menarik dari helat Pilpres kali ini. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab tak henti-hentinya menyerukan “NKRI Bersyariah”. Konsep ini mulai ia lantangkan sejak aksi 212 tahun 2016 yang lalu. Jelang Pilpres 2019, NKRI Bersyariah kembali ia dengungkan ke telinga publik.
Lantas, apa itu NKRI Bersyariah? Dikutip dari CNN Indonesia, Rizieq menjelaskan bahwa NKRI Bersyariah adalah NKRI yang beragama, menjunjung persatuan dan musyawarah, serta melindungi semua agama agar bisa menjalankan ibadahnya masing-masing.
Sebagai warga negara, tentu Rizieq memiliki hak untuk bersuara. Ia pun bebas menentukan siapa Presiden pilihannya. Dengan catatan, semua dilakukan dalam koridor yang benar. Mengenai proposal NKRI Bersyariah, ia pun juga sudah menepis keras anggapan bahwa konsep yang diserukannya akan menggantikan kedudukan Pancasila.


Seperti Rizieq, konsultan politik dan tokoh media sosial ternama Denny Januar Ali juga tak mau ketinggalan. Lewat artikel bertajuk “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, pria yang akrab disapa Denny JA ini menguji proposal NKRI Bersyariah dengan dua indeks yang terukur: Islamicity Index milik Islamicity Foundation dan World Happiness Index besutan PBB.
Hasilnya cukup mengejutkan. Kedua ukuran tadi mengungkapkan bahwa negara barat justru lebih bersyariah ketimbang negara muslim. Alhasil, Denny menyimpulkan Pancasila merupakan jalan terbaik untuk menggapai ruang publik yang manusiawi, bukan NKRI Bersyariah milik Rizieq Shihab.


Sekali lagi, baik Rizieq maupun Denny, sama-sama berhak mengutarakan pendapatnya ke muka publik. Tentu hal ini harus kita hargai.
Namun demikian, ada dua pertanyaan mendasar yang perlu dijawab. Benarkah NKRI Bersyariah tidak diperlukan? Sebaliknya, apakah Pancasila tidak memberi ruang bagi nilai keislaman sehingga harus dipisahkan dengan konsep bersyariah?

Dua Argumen

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengudar dua argumen. Supaya adil, saya sepakat dengan Denny, bahwa argumen ini haruslah memiliki ukuran yang jelas dan diakui oleh dunia. Tanpa berpanjang lebar, mari kita urai satu per satu.
Pertama, berbeda dari kesimpulan Denny, Islamicity Index justru membuktikan bahwa Indonesia semakin bersyariah. Meski bersumber dari publikasi yang sama, ada satu hal yang luput diumbar Denny dalam artikelnya, yakni tren posisi Indonesia itu sendiri.
Sepintas, Indonesia memang tidak bisa dibilang membanggakan karena posisinya selalu berada di luar 50 besar. Namun, coba kita bandingkan dengan tahun-tahun silam. Ternyata, posisi Indonesia terus melesat. Dari ‘hanya’ peringkat ke-91 pada tahun 2005, menjadi peringkat ke-74 pada tahun 2017.


Bila dibandingkan dengan 38 negara muslim lainnya, kita justru patut berbangga. Sebab untuk pertama kalinya Indonesia berada dalam jajaran 10 besar. Tepatnya di peringkat ke-8, setelah Malaysia, Uni Emirat Arab, Albania, Qatar, Oman, Bahrain, dan Kuwait. Bahkan, Arab Saudi saja harus puas bertengger pada urutan ke-13.
Dari empat kriteria penilaian yang diusung Islamicity Index (ekonomi, pemerintahan, hak asasi manusia, dan hubungan internasional), ternyata faktor ekonomi dan pemerintahan yang menyebabkan peringkat Indonesia terus membaik.
Peringkat indeks ekonomi Indonesia saat ini berada pada urutan ke-69, atau naik 29 peringkat dibandingkan dengan tahun 2005. Begitu pula dengan indeks pemerintahan yang naik 31 peringkat menjadi urutan ke-75. Sedangkan kedua faktor lainnya cenderung stabil dan tidak banyak berubah.
Lesatan indeks ekonomi syariah tadi seakan mengonfirmasi laporan Global Islamic Finance Report 2017 yang dikeluarkan oleh Edbiz Consulting. Lembaga asal London itu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-7 dari 48 negara dalam Islamic Finance Country Index.
Berbeda dengan Islamicity Index, 6 negara di atas kita seluruhnya merupakan negara muslim, yakni Malaysia, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Pakistan. Inggris merupakan negara non-muslim terbaik yang “hanya” menempati peringkat ke-17.


Berbagai ukuran tadi jelas membuktikan bahwa nilai-nilai syariah tengah berkembang pesat di Indonesia. Ibarat sepasang kekasih, Indonesia dan ekonomi syariah sedang diliputi asmara. Seiring sejalan dan saling padu padan. Sebab bila yang terjadi sebaliknya, mustahil peringkat Islamicity Index Indonesia bakal terus menjulang, bukan?
Kedua, nilai-nilai ekonomi syariah di Indonesia ternyata memberi dampak yang positif bagi kemajuan bangsa. Meskipun peringkat World Happiness Index kita berada di luar 50 besar, ternyata daya saing kita cukup membuat bangga.
The Global Competitiveness Report 2017/2018 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-36 dari 137 negara di dunia dalam urusan daya saing ekonomi. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, posisi kita naik 4 peringkat.
Artinya, keunggulan komparatif ekonomi Indonesia semakin baik. Jelas, ini hanya bisa terwujud apabila kualitas manusianya unggul. Tentu saja, keunggulan ini tidak lepas dari pengaruh nilai-nilai syariah yang dikandung oleh Bumi Pertiwi.



Jalan Tengah

Kedua argumen di atas sejatinya memberi jalan tengah untuk kita renungkan. Pertama, NKRI Bersyariah tidak diperlukan. Karena tanpa kehadirannya pun nilai-nilai syariah sudah berkembang dengan pesat di Tanah Air.
Lagipula, bukankah Pancasila dan UUD 1945 telah menjamin kemerdekaan penduduk untuk memeluk agama dan menjalankan syariat agamanya masing-masing? Saya kira, ini sudah menjawab cita-cita NKRI Bersyariah versi Rizieq Shihab.
Namun, jangan pula jadi salah kaprah dengan memisahkan Pancasila dengan nilai-nilai syariah. Karena sejatinya, keduanya tidak bisa dipisahkan. Bahkan tanpa disadari, mereka justru seiring sejalan.
Dua argumen yang saya urai telah membuktikan, bahwa Pancasila tidak anti terhadap nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, Pancasila telah memberikan ruang yang besar bagi nilai-nilai syariah untuk berkembang.
Jadi, siapa bilang Indonesia tidak bersyariah?[]

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).



Daftar Referensi

Saputra, Ramadhan Rizki. 2017. Rizieq Dorong Konsep NKRI Bersyariah di Reuni Alumni 212, [daring] (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171202080637-20-259615/rizieq-dorong-konsep-nkri-bersyariah-di-reuni-alumni-212, diakses tanggal 15 Februari 2019).
Ali, Denny Januar. 2018. NKRI Bersyariah Atau Ruang Publik Yang Manusiawi? [daring] (https://pwi.or.id/index.php/berita-pwi/1117-nkri-bersyariah-atau-ruang-publik-yang-manusiawi, diakses tanggal 10 Februari 2019).
Islamicity Foundation. 2018. Islamicity Rankings 2017. [daring] (http://islamicity-index.org/wp/wp-content/uploads/2018/06/Islamicity-Indices-2017.pdf, diakses tanggal 15 Februari 2019).
Helliwell, J., Layard, R., & Sachs, J. (2018). World Happiness Report 2018, New York: Sustainable Development Solutions Network.
Edbiz Consulting. 2018. Global Islamic Finance Report 2017. London: Edbiz Consulting.
World Economic Forum. 2018. The Global Competitiveness Report 2017/2018. Geneva: World Economic Forum.


“Udeh pada ngopi, belom? Ngopi dulu ngapa!”
Suara lantang dari seorang senior di kantor mengejutkanku pagi itu. Ia menyodorkan segelas Cappuccino Latte yang baru saja dibeli lewat aplikasi di ponselnya kepadaku. Aromanya memikat, rasanya juga nikmat. Kantuk di mata pun lekas minggat.
Ya. Pagi dan kopi. Perpaduan yang sempurna untuk memulai hari. Sejak pindah ke Jakarta, aku jadi terbiasa menyeruput kopi di pagi hari. Awalnya, sih, ikut-ikutan saja. Alasannya biar cepat akrab dengan rekan kerja yang baru. Maklum, sebagian besar rekan kerjaku di kantor memang penggemar berat kopi.
Namun, lama-kelamaan ngopi menjadi hobi. Kalau tidak Double Americano, ya, Cappucino Latte tadi. Entah mengapa, rasa penat mengawali hari menjadi sirna setelah minum kopi. Apalagi kalau sambil ngobrol di kantin. Terkadang bisa lupa waktu untuk kembali ke meja kerja. Jangan kalian tiru, ya!
Bagiku, cukup segelas per hari. Tidak kurang, tidak lebih. Akan tetapi, tidak demikian bagi Jojo, salah seorang rekan kerjaku di kantor. Layaknya obat, ia mengaku bisa menghabiskan tiga gelas per hari. Pagi, siang, dan sore menjelang waktu pulang. Bahkan tatkala akhir pekan, ia tidak pernah absen berburu kedai kopi di Jakarta.

Kebiasaan Jojo memang tepat. Selain nikmat, minum kopi juga ternyata memiliki segudang manfaat. Seperti dilansir IDN Times, setidaknya ada 6 kebaikan yang bisa kalian dapatkan ketika rutin minum kopi.
·          Anti Kantuk
Sudah menjadi stigma bahwa kopi membuat melek mata. Faktanya memang demikian. Sebab zat kafein yang terkandung di dalam kopi bisa merangsang aktivitas sistem sarat pusat, sehingga membuat kalian terjaga hingga pagi.
·          Sumber Antioksidan
Seperti yang kita ketahui, zat antioksidan sangat baik untuk menetralisir racun di dalam tubuh. Nah, kandungan antioksidan segelas kopi ternyata setara dengan tiga buah jeruk. Oleh karena itu, minum kopi secara rutin membuat tubuh kalian lebih sehat.
·          Tangkis Stress
Menghirup aroma kopi membuat pikiran tenang. Sebab aroma kopi dapat meningkatkan zat serotonin di dalam tubuh. Penat minggat, stress pun hilang tak berbekas.
·          Metabolisme Tubuh Terjaga
Selain anti kantuk, kafein di dalam kopi juga mampu melepaskan lemak di dalam tubuh. Alhasil, metabolisme tubuh lebih terjaga. Makanya, secangkir kopi tanpa gula setiap hari baik bagi kalian yang sedang diet.
·          Pintar
Sebuah penelitian di Harvard University membuktikan bahwa orang yang mengonsumsi kopi akan lebih mudah menyimpan memori. Karenanya, minum kopi bisa membuat otak encer dan pintar.
·          Umur Panjang
Publikasi Annals of Internal Medicine mengungkapkan bahwa orang yang minum 2—4 gelas kopi setiap hari memiliki 18 persen kemungkinan meninggal lebih rendah dibandingkan orang yang tidak minum kopi. Ini disebabkan karena kebiasaan minum kopi setiap hari membuat tubuh lebih sehat.

Kalau boleh jujur, popularitas kopi memang meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ini disebabkan oleh budaya minum kopi yang menjadi gaya hidup semua kalangan, terutama kaum milenial. Buktinya, kedai kopi kekinian tumbuh subur di berbagai kota besar di Indonesia.
Bila tak percaya, tengok saja lewat Instagram. Banyak variasi minuman kopi kekinian yang semakin mencuri perhatian generasi muda. Mulai dari @district7.coffee, @sehidupsekopi, @klinikkopi, @thfcoffee, @senimancoffe, @kopip3dia, hingga @ottencoffe. Selain bisa dinikmati di tempat, kopi mereka juga bisa dipesan secara on-line. Cocok untuk karyawan kantoran sepertiku yang tidak punya banyak waktu untuk keluar kantor.
Manisnya bisnis kopi memang sangat menjanjikan. Modalnya juga relatif tidak besar. Yayank S. Sahara, misalnya. Ia membuka kedai kopi Coffeezone dengan modal Rp6 juta saja. Berkat kejeliannya dalam memasarkan kopi, ia kemudian mendapat banyak pelanggan setia. Meski ‘hanya’ bertempat di Gelanggang Olahraga Sidoarjo Jawa Timur, cita rasa kopi buatannya tak kalah dengan buatan mall.
Lambat laun, bisnisnya semakin berkibar. Kini, omzetnya telah menyentuh angka Rp90 juta per bulan. Ia pun membuka peluang investasi bagi investor melalui sistem kemitraan waralaba. Satu kedainya dibanderol dengan harga Rp50 juta hingga Rp75 juta. Menggiurkan, bukan?
Yang menarik, sebelum Yayank terjun ke dunia bisnis, ia adalah seorang pegawai kantoran, sama sepertiku. Kisah suksesnya menjadi inspirasi untuk banyak orang yang ingin memulai bisnis. Sebab, setiap orang bisa dan memiliki peluang yang sama. Tentu saja, asalkan mau berusaha. Diam-diam, aku pun merencanakan hal yang sama.

Ya, pada tahun 2019 ini, aku berencana memulai bisnis kopi kekinian. Namanya sudah terbayang dalam benak: “Kopi Nodi”. Desain logonya sudah siap. Motonya pun jelas: “Karena Aku dan Kamu Butuh Kopi”. Mimpi besarnya, tentu saja memiliki banyak gerai di seluruh Indonesia, laris di pasaran, dan menjadi pilihan kalian!
Sebagai langkah pertama aku akan memasarkan Kopi Nodi melalui media sosial. Bila peminatnya banyak, tentu aku akan membuka kedai kopi pada saat yang tepat. Siapa pula yang tidak tertarik menambah pundi-pundi?
Syukur-syukur bila bisnisku nanti bisa berkembang dan menjadi sumber penghasilan yang utama. Resign dari kantor bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Makanya, pelan-pelan aku mulai menabung untuk mewujudkan resolusi Bisnis di Tahun 2019.
Nah, untuk menggapai itu semua, ada tiga langkah awal yang akan kulakukan.
·          Belajar Meracik Kopi
Nikmat butuh takaran yang tepat. Begitu pula dengan kopi. Untuk menghasilkan kopi yang nikmat dan laku di pasaran, aku akan belajar melalui ahlinya. Bram, kenalanku yang berprofesi sebagai barista, sudah siap membantu. Selain itu, berbagai tutorial meracik kopi di YouTube akan kulahap untuk memastikan Kopi Nodi terasa nikmat.
·          Memasarkan di Media Sosial
Media sosial memang membuat segalanya lebih mudah. Sebagai langkah awal Kopi Nodi akan kupasarkan melalui media sosial. Selain memperkenalkan kepada pelanggan, promosi melalui media sosial juga sebagai tes pasar. Kritik, saran, dan masukan bisa didapat dari sana. Ini akan berguna bagi penyempurnaan produk ke depan, sebelum benar-benar membuka kedai.
·          Menemukan Supplier yang Tepat
Setiap bisnis butuh supplier. Kopi pun demikian. Aku mencatat, paling tidak ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Mulai dari alat penyeduh kopi (coffee maker), kemasan, hingga bubuk kopi dan bahan-bahan pendukung lainnya. Untuk menjaga citarasa kopi, maka kualitas bubuk kopi adalah hal yang paling utama. Bila salah memilih, bisa-bisa Kopi Nodi tidak laku di pasaran. Nah, untuk mendapatkan semua itu, aku tak perlu repot-repot mencari. Karena kini sudah ada Ralali.com yang siap membantuku menemukan supplier yang tepat dan berkualitas.
  
Ralali adalah sebuah platform online B2B Marketplace terbesar dan terpercaya di Indonesia. Sebagai marketplace, Ralali berperan menghubungkan antar bisnis di berbagai sektor ekonomi, sekaligus menjadi jembatan antara supplier dengan pemilik bisnis. Tempat yang pas bagi kalian yang tengah memulai bisnis dan mencari supplier yang tepat.
Berdiri sejak tahun 2014, Ralali kemudian berkembang pesat hingga kini. Ada 16.000 supplier, 135.000 pelanggan, 250.000 produk, dan dikunjungi oleh 2 juta unique visitors setiap bulannya. Tahun 2018, Ralali menerapkan sistem vertical marketplace dan menggunakan big data agar setiap pengunjung mampu menemukan solusi untuk mengembangkan usahanya.
Nah, untuk memulai bisnis Kopi Nodi, Ralali benar-benar menjadi solusi buatku. Sebab, aku bisa menemukan berbagai coffee maker di sini. Harganya pun sangat bervariasi. Mulai dari ratusan ribu, hingga jutaan Rupiah. Tinggal pilih sesuai bujet dan kebutuhan.
Pun demikian halnya dengan bubuk kopi. Di Ralali, aku bisa menemukan berbagai macam jenis kopi dari seluruh Indonesia. Mulai dari Arabika, Robusta, Gayo, Takengon, hingga Toraja. Serupa dengan berbagai peralatan pendukung lainnya. Alat perekat (cup sealer) hingga kemasannya pun sudah tersedia di Ralali dengan harga grosir. Mudah, bukan?



Melihat fakta tersebut, apa yang ditayangkan dalam website Ralali memang benar adanya. Disebutkan di sana, ada tiga alasan mengapa kalian harus berbisnis dengan Ralali. Pertama, Ralali merupakan Pusat Grosir Online yang kredibel di Indonesia. Didanai oleh beragam investor top di Asia serta didukung oleh ahli digital yang berpengalaman di bidangnya.
Kedua, teknologi modern yang digunakan Ralali menjadikannya online marketplace yang dapat dipercaya. Membeli barang untuk kebutuhan bisnis menjadi lebih cepat, aman, dan transparan.
Terakhir, Ralali menjadikan pelaku bisnis saling terkoneksi meski terpisah jarak dan waktu. Para Distributor Online semakin terhubung satu sama lain, sehingga usaha yang dijalankan menjadi mudah berkembang. Sudah tentu, hal ini akan mendukung geliat perekonomian Ibu Pertiwi.




Dari sekian banyak keunggulan Ralali, ada delapan yang paling melekat di hati. Ini bisa dimanfaatkan untuk memulai atau mengembangkan bisnis kalian. Tanpa berpanjang lebar, mari kita telaah satu per satu.

Seperti kata pepatah, time is money. Di Ralali, kalian bisa menghemat kedua-duanya. Karena kalian tidak perlu membuang waktu, tenaga, dan biaya untuk mendatangi lokasi supplier. Cukup membuka website atau mengunduh aplikasi Ralali dari Google Play atau Appstore, kalian bisa menemukan segala yang dibutuhkan dengan mudah dan cepat.

Cara berbelanja di Ralali pun sangat sederhana. Cukup mendaftarkan diri sebagai buyer lewat akun Google atau Facebook, kalian sudah bisa mencari produk yang dibutuhkan. Selanjutnya, tinggal memesan dan membayar barang yang kalian perlukan. Bila sudah, supplier akan mengirim barang sampai ke alamat kalian.

Tak perlu takut kehabisan stok barang, karena Ralali merupakan tempatnya Distributor Online berjualan. Ada belasan ribu supplier yang menawarkan ratusan ribu produk dari berbagai segmen kebutuhan.

Sebagai marketplace terbesar di Indonesia, Ralali berprinsip tidak ada yang tidak bisa disediakan. Berbagai jenis produk dengan harga grosir bisa kalian temukan di Ralali. Mulai dari HoReCa (Hotel, Restaurant & Cafe), otomotif, kecantikan, olahraga, tekstil, kesehatan, perkakas, hingga alat berat pun sudah tersedia.

Bahkan jika produk yang kalian cari belum tersedia, maka kalian bisa memesan melalui layanan Ralali Quotation (RQ). Supaya makin asyik, Ralali membebaskan layanan RQ dari segala biaya, termasuk biaya komisi. Artinya, kalian bisa memperoleh barang apa saja dengan harga terbaik!




Siapa bilang online marketplace tidak bisa tawar-menawar? Di Ralali, semuanya memungkinkan. Cukup menekan tombol “Contact Seller” yang tertera di katalog produk, maka kalian bisa berhubungan langsung dengan penjual. Dari sana, harga terbaik bisa kalian dapatkan.




Berbelanja produk di Ralali bisa dipastikan aman. Sebab, Ralali menyediakan berbagai channel pembayaran yang handal. Bisa melalui transfer antar bank, virtual account, kartu kredit, cicilan Kredivo, Instant Payment, hingga Ovo. Seluruhnya bisa kalian manfaatkan sesuai dengan kebutuhan.




Data transaksi sangat penting dalam dunia usaha. Dengannya, kita bisa meneliti berbagai biaya yang dikeluarkan untuk keperluan bisnis. Ralali sangat mengerti akan hal ini. Setiap pesanan tercatat dengan rapi dalam akun Ralali kalian. Cukup membuka menu Order Transaction, maka detail setiap pesanan bisa kalian temukan.





Ketepatan pengiriman barang menjadi kunci keberhasilan suatu bisnis. Untuk menjaga agar barang sampai di tangan pelanggan secara tepat waktu, Ralali menghadirkan fitur bernama Track My Order. Melalui fitur ini, kalian bisa mengecek pengiriman barang secara real-time yang dilakukan oleh sebagian besar jasa ekspedisi. Mulai dari TIKI, J&T, SML, Kargo, Si Cepat, SAP, hingga FirstLogic.





Jangan lewatkan pula berbagai promo menarik yang dihadirkan oleh Ralali. Voucher belanja misalnya. Ketika baru membuat akun di Ralali, kalian langsung mendapat voucher bebas ongkos kirim Rp200 ribu dan diskon 20% hingga Rp200 ribu. Menarik, bukan?




Era digital memang menjadikan segala sesuatunya lebih mudah. Tinggal klik, semuanya bisa hadir dengan cepat. Seperti halnya ketika ingin menyeruput hangatnya secangkir kopi. Tidak perlu repot datang ke kedai kopi, cukup mainkan dua jempol di layar smartphone kalian.
Namun, sayang seribu sayang jika manisnya bisnis kopi tidak kalian coba sendiri. Minum kopi memang nikmat. Akan tetapi menghasilkan pundi-pundi dari bisnis kopi, tentu jauh lebih nikmat. Oleh karena itu, #IniSaatnya aku berubah. Dari sekadar “penikmat” menjadi seorang “pembawa nikmat”.



Seorang kawan pernah bilang, “Menjalankan bisnis itu, mudah. Yang sulit adalah memulainya.” Aku yakin, ucapan itu tidak sepenuhnya benar. Karena aku tahu, Ralali membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah. #ResolusiBisnis2019 mendirikan Kopi Nodi pelan-pelan mulai aku wujudkan.
Setiap bisnis memang butuh proses. Tidak ada yang instan, apalagi langsung menjadi “bintang”. Akan tetapi, setiap orang memiliki peluang yang sama. Sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari untuk mengejar cita-cita. Yang perlu dilakukan tinggal dua: berdoa dan berusaha.
Kini, kalian tak perlu lagi takut berbisnis. Karena ada Ralali, Sang Pusat Grosir Online, yang menjadikan mimpi kalian lebih mudah terwujud.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Ralali Blog Competition.





Saat yang ditunggu akhirnya telah tiba. Kemarin, Dewan Juri telah selesai menilai 438 artikel milik Peserta #KompetisiBlogNodi. Harus kami akui, untuk menentukan Pemenang dari ratusan artikel tidaklah mudah. Silang pendapat tak kuasa dihindari. Adu argumen pun tidak bisa terelakkan.
Namun demikian, perhelatan ini harus dituntaskan. Daftar Pemenang wajib diumumkan pada hari Senin, 11 Februari 2019, sesuai ikrar yang telah disebarkan. Akhirnya, kami pun menelurkan dua kesepakatan.
Pertama, jumlah Pemenang harus ditambah. Bagi saya pribadi, ini merupakan wujud rasa syukur kepada Allah, karena jumlah Peserta ternyata jauh melebihi ekspektasi. Saya tidak menduga, ada 438 Peserta yang rela mengikuti #KompetisiBlogNodi dengan beragam alasan. Untuk itu, jumlah Pemenang yang semula direncanakan sebanyak 13 orang, ditambah menjadi 30 orang.
Kedua, sepakat untuk menentukan nilai akhir dari seluruh artikel milik Peserta. Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, hasil nilai akhir akan saya cantumkan dalam format tabel pada bagian akhir artikel ini. Tujuannya agar Para Peserta dapat melihat urutan peringkat atas karyanya. Tentunya, 30 Peserta teratas berhak menyandang status sebagai Pemenang #KompetisiBlogNodi.
Oke. Tanpa berpanjang lebar, berikut Pemenang #KompetisiBlogNodi.

 

Juara Pertama

Menjadi seorang narablog memang tidak gampang. Sang Belalang Cerewet harus menitikkan air mata saat himpitan datang menerjang. Namun demikian, perkenalannya dengan Teh Ani, menjadi salah satu momentum titik balik. Sejak saat itu, ia bertekad “kembali” menekuni dunia blogging dan membebaskan orang-orang di sekitar dari rasa lapar seperti yang pernah ia alami dulu.
Sembilan karakter bloger yang dikisahkannya, seyogianya harus kita tiru. Sebab Sang Belalang percaya, bahwa karakter tadi akan membuat kita bangga menjadi seorang bloger. Atas kegigihannya, Sang Belalang patut berbangga menempati peringkat pertama dan berhak mendapat uang tunai sebesar Rp1.500.000,00.

Juara Kedua

“Si Biru”, yang sebentar lagi akan purnatugas, membawanya berziarah ke masa lalu. Percakapannya dengan Teh Lela membuatnya tercebur ke dalam lautan blog. Sejak itu, lomba blog menjadi kawah candradimuka baginya untuk mengasah kemampuan menulis. Kemenangan dan kebanggaan terus ia raih, termasuk menjadi wakil Banten dalam helat bergengsi Writingthon Asian Games 2018.
Segudang prestasi tidak membuatnya jemawa. Ia berjanji akan terus meningkatkan kualitas berbahasa Indonesia lewat inspirasi yang ia baca dari artikel milik Khrisna Pabichara. Guru di Yayasan Daar El-Qolam ini juga bertekad akan mengasah kemampuannya dalam menciptakan konten pendukung yang ciamik. Semoga dengan tambahan uang tunai Rp1.250.000,00, resolusi itu bisa terlaksana dengan baik.

Juara Ketiga

Rangga Pradhitya Putra, dengan judul “Demi Lokalisasi dan Jurnalisme Sastrawi.
Sebuah tugas meliput area lokalisasi di Kabupaten Sukamara menjadi titik awal Sang Jurnalis terjun ke dunia blog. Berulang kali ia harus terjun ke lokasi untuk merangkai kepingan cerita utuh yang didapat dari tukang parkir, PSK, hidung belang, hingga germo. Namun, malang tak bisa ditolak. Features yang sudah rampung urun terbit karena alasan pelik dari meja redaksi.
Ditolak redaksi, hasratnya untuk memberitakan tidak padam. Ia mengurai seluk beluk lokalisasi lewat tulisan di blog pribadi. Momentum penutupan Dolly di Surabaya ia manfaatkan untuk membagikan “Selamat Datang di Kabupaten Sukamara” lebih gencar lagi. Alhasil, pada tahun yang sama, lokalisasi Selamat Datang resmi ditutup oleh Pemkab Samara. Lewat tulisan, ia tengah menginsyafkan putra-putri Adam. Lewat kompetisi, perkenankan saya menghadiahi Anda uang tunai Rp1.000.000,00.

Juara Harapan 1

Perkenankan saya membagikan uang tunai masing-masing Rp500.000,00 kepada lima orang narablog jempolan. Semoga kalian berkenan.
Sekar Ayu Wulandari, dengan judul “Inner Child dan Terapi Menulis Selama Belasan Tahun.
Maria Widjaja, dengan judul “Dukung Saya Menjadi Narablog Era Digital, Bos.
Dini Febriani, dengan judul “Prolog 2019: Resolusi Narablog Malas.

Juara Harapan 2

Lewat tulisan, kalian memberikan arti bagi dunia literasi. Oleh karena itu, izinkan saya memberikan uang tunai masing-masing Rp250.000,00 kepada lima orang narablog inspiratif di bawah ini.
Rohyati Sofjan, dengan judul “Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!.
Novi Ardiani, dengan judul “Tujuh Cara Memerangi Sampah Digital Ala Narablog 4.0.

Juara Favorit

Bagi kalian, mungkin uang tunai Rp50.000,00 nilainya tak seberapa. Tapi bagi saya, ini wujud syukur dan apresiasi atas peluh kalian dalam menghasilkan sebuah karya. Wahai 17 orang Peserta, mohon berkenan diterima.

Rifina Dwiseptia Hanafi, dengan judul ““Terima Kasih!”.
Dian Rokhmawati, dengan judul “Aku Berani Jadi Narablog pada Era Digital.
Anggraini Arda Sitepu, dengan judul “Mewaraskan Diri Jadi Narablog di Era Digital.
Gagah Nurjanuar Putra, dengan judul “Paul Salopek dan Cerita Lainnya.
Randi Mulyadi, dengan judul “Traveling Membuatku Bangga Jadi Seorang Narablog.
Gigip Andreas, dengan judul “Kilas Balik dan Resolusi.
Erlina Fitriani, dengan judul “Narablog, Pilihan Bahagia di Era Digital.
Rizka Edmanda, dengan judul “Blog dan Perayaan Kebebasan Berliterasi di Era Digital.
Raden Roro Yeti Wahyu Sri Kartikasari, dengan judul “Merekam Jejak Melalui Blog.
Avy Chujnijah, dengan judul “Catatan Terserak Seorang Blogger.
Muhammad Arief Ardiansyah, dengan judul “My Journey to Become a Blogger in Biological Engineering.

Epilog

Demikianlah nama 30 orang Peserta yang berhasil memenangi #KompetisiBlogNodi. Layaknya dua sisi koin, jika ada yang menang, maka yang lain harus “menunda kemenangan”. Mengapa saya sebut menunda? Karena narablog sejatinya tidak boleh berputus asa. Tetaplah menulis, maka kemenangan suatu saat akan menemui kalian.
Perkenankan pula saya meminta maaf kepada kalian, apabila terdapat kekurangan selama kompetisi berlangsung. Entah berupa pesan yang lama dibalas, pengumuman Pemenang yang harus ditunda, atau keterbatasan saya dalam menambah jumlah Pemenang.
Namun percayalah, niat saya tulus hanya ingin mendapat ridho-Nya, berbagi kebahagiaan dengan kalian, sekaligus meningkatkan literasi bagi Negeri tercinta. Khusus yang terakhir, kita sama, bukan?
Oleh karena itu, izinkan saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi kalian semua. Semoga kompetisi ini menjadi berkah dan ladang amal untuk kita semua.
Sesuai janji, komentar dari Khrisna Pabichara akan saya kirimkan kepada kalian satu per satu melalui surel. Mengapa tidak dibagikan di sini? Tentu karena sifatnya pribadi dan hanya elok dibaca oleh diri kalian sendiri.
Terakhir, berikut nilai akhir dari 438 Peserta Kompetisi Blog Nodi. Terima kasih!
No.
Nama Peserta
Nilai Akhir
1
Isnaini Khomarudin
79.56
2
Firmansyah
78.75
3
Rangga Pradhitya Putra
78.33
4
Sekar Ayu Wulandari
78.00
5
Dedy Hutajulu
76.95
6
Maria Widjaja
76.60
7
Dini Febriani
76.35
8
Christian Evan Chandra
76.00
9
Daniel Mashudi
75.95
10
Rohyati Sofjan
75.25
11
Siska Dian Wahyunita
75.15
12
Fery Arifiansyah
75.05
13
Novi Ardiani
75.05
14
Rifina Dwiseptia Hanafi
75.00
15
Dian Rokhmawati
74.45
16
Anggraini Arda Sitepu
74.40
17
Bety Sulistyorini
73.60
18
Gagah Nurjanuar Putra
73.55
19
Randi Mulyadi
73.50
20
Cory Pramesti
73.50
21
Gigip Andreas
73.40
22
Erlina Fitriani
73.40
23
Rizka Edmanda
72.70
24
Riza Isna Khoirun Nisa
72.60
25
Fadli Hafizulhaq
72.55
26
Monica Anggen
72.30
27
Raden Roro Yeti Wahyu Sri Kartikasari
71.90
28
Avy Chujnijah
71.80
29
Muhammad Arief Ardiansyah
71.65
30
Roikan
71.65
31
Aminnatul Widyana
71.40
32
Annisa Fitri Rangkuti
71.35
33
Rega Rachmad Fauzie Ardiansyah
71.00
34
Irvina Lioni
70.90
35
Achmad Abdul Mu'iz
70.80
36
Dinar Kencana Dewi
70.80
37
Prita Hendriana Wijayanti
70.55
38
Sri Jembar Rahayu
70.40
39
Bhaskara Adiwena
70.35
40
Izandi Brahim
70.25
41
Andri Mastiyanto
70.20
42
Enny Luthfiani
70.10
43
Rahma Fadhila
70.05
44
Siti Jihan Syahfauziah
70.00
45
Retno Septyorini
69.65
46
Bunda Dirga
69.60
47
Casmudi
69.45
48
Rachmah Dewi
69.40
49
Fendi Hidayat
69.30
50
Fauziah Rachmawati
69.25
51
Kanghar Akasa
69.05
52
Fahmi Ishfah Nurul Ihsan
68.90
53
Esmasari Widyaningtyas
68.90
54
Thurneysen S
68.90
55
Wening Niki Yuntari
68.85
56
Eni Rahayu
68.80
57
Bona Ventura
68.80
58
SULFIZA  ARISKA
68.75
59
Poppy Trisnayanti Puspitasari
68.60
60
Moch. Marsa Taufiqurrahman
68.60
61
Muhamad Irfan Prasetyo
68.55
62
Charles Emanuel
68.55
63
Bagus Ramadhan
68.50
64
Riana Dewie
68.45
65
Diah Kusumastuti
68.35
66
Adhy Pratama Irianto
68.25
67
Rizky Ashyanita
68.25
68
Mustika Desi Harjani
68.20
69
Rikanurrizki
68.05
70
Aliyya Rifqunnisa
68.05
71
Rahmi Aulia Hidayat
68.05
72
Supadilah
68.00
73
Demas Reyhan Adritama
68.00
74
Essy Febrianti
67.95
75
Miranti Kencana Wirawan
67.95
76
Musthain Asbar Hamsah
67.90
77
Witri Prasetyo
67.90
78
Danu Ferdina
67.90
79
Maitra Tara
67.80
80
Titik Asa aka Bambang Setiawan
67.80
81
Mutiara Fhatrina
67.75
82
Mohammad Hasan
67.70
83
Faisol Abrori
67.70
84
Phohan Kurniawan
67.35
85
Sri Nurwidayati
67.35
86
Nurmaulidah
67.25
87
Benawati Suardihan
67.25
88
Septia Mustika Sari
67.25
89
Eka Rahmawati
67.20
90
AInhy Edelweiss
67.20
91
Roni Sulfa Ali
67.10
92
Rodhiyatum Mardhiyah
66.90
93
Istantina
66.85
94
Suyatmi
66.80
95
Fachrur Rozi
66.80
96
Aman Maathoba
66.55
97
Anisa Syafira
66.45
98
Ridwan Maulana
66.40
99
Baiq Synthia Maulidia Rose Mitha
66.35
100
Rostina Alimuddin
66.30
101
Aldhi Fajar Maudhi
66.20
102
Arinta Adiningtyas
66.15
103
Esti Vita Ningtias
66.05
104
Andi Akhirah Khairunnisa
66.05
105
Muhammad Zaeni
65.90
106
Faris Fauzan Abdi
65.90
107
RIfki Maulana
65.90
108
Dewi Rieka
65.85
109
Ruby Astari
65.80
110
Sarif Hidayat
65.65
111
Nina Mentari
65.55
112
Diah Ayu Lestari
65.55
113
Rafita Mahdawani Pandiangan
65.50
114
Rina Tri Handayani
65.50
115
Xena Olivia
65.45
116
Purtiah Rantau Sari
65.45
117
Aditya Eko Prasetyo
65.30
118
Nur Rochmaningrum
65.25
119
Mega Rachmawati
65.05
120
Asbudi
65.05
121
I Gusti Ngurah Manik Swadiaya
65.00
122
Puji Wahyu Widayati
65.00
123
Renitasari Oktaviastuti
64.75
124
Rif'atunnisa
64.65
125
muhamad
64.55
126
Nurfitriyana Purnasari
64.40
127
Meykke Alvia Yuntiawati
64.40
128
Desti Amelia
64.35
129
Amrih Priutami
64.30
130
Qonik Niamul Azya
64.20
131
Sri Lestari
64.15
132
Muhammad Maulana Mahardika Amfa
64.10
133
Ida Tahmidah
63.95
134
Achmad Humaidy
63.90
135
Sirajul Munir
63.90
136
Syinta.M
63.80
137
Dellya Elmovriani
63.80
138
Ferry Aldina
63.75
139
Erni Purwitosari
63.75
140
Bayu Samudra (Bara Mas Yudra)
63.60
141
Rifki Affandi Muslim
63.45
142
Ihwan Hariyanto
63.45
143
Ita Radita Puspa
63.35
144
Citra Anisya Wardani
63.35
145
dilakodil
63.10
146
Ayub Dwi Timur
63.00
147
Atiyatul Mawaddah
63.00
148
Muhammad Rachman Afandi Esa
62.95
149
Dian Kusumawardani
62.95
150
Eri Udiyawati
62.95
151
Thomas Jeperson Malau
62.90
152
Novya Ekawati
62.65
153
Izzati Robbi Hamiyya
62.50
154
Reksita Galuh Wardani
62.45
155
Hydriani
62.40
156
Yudi Darma
62.25
157
Nurul Rahmawati
62.25
158
Hary Setiawan
62.10
159
Risman Nur Haqim
62.10
160
andi garmadi
62.05
161
Adhi Hermawan
62.00
162
Ferens Utami
61.95
163
Anis Pustariya
61.90
164
Risma Mualifatun Ni'mah
61.85
165
Nur Alawiyah
61.85
166
Moh. Nailur Rohman
61.80
167
Tia Widiastuti
61.65
168
Martha melliana
61.20
169
Randi Kurnia
60.90
170
I Made Wisnu Adi Wiryawan
60.70
171
Hana Aina
60.70
172
Fatimah
60.60
173
Eva Destrianti
60.50
174
Satyawati
60.50
175
Andi Khoirul Imam
60.25
176
Umi Laila Sari
60.15
177
Lehan syah
60.15
178
Erny Kusumawaty
60.05
179
Wahyu Panca Handayani
60.05
180
Sapti nurul hidayati
60.05
181
Fenny Ferawati
60.00
182
Garnieta Febrianty Utami
60.00
183
Gita Fetty Utami
59.90
184
Rahmadiyono Widodo
59.80
185
ghina rahmatika
59.75
186
Yasinta Astuti
59.75
187
Agustina Purwantini
59.75
188
stephanus wahyu agus wibowo
59.70
189
ISTIQOMAH PRIMASARI
59.60
190
Moh. Mizan Asrori
59.60
191
Laily Indah Sejati
59.55
192
Sri Al Hidayati
59.50
193
Arinda Sari
59.35
194
Rizal Kurniawan
59.20
195
Nur Hadiyati
59.15
196
VINDYANTARI APRILLIA PUTRI
59.15
197
Eva Suryati
59.10
198
Dewi Puspasari
59.05
199
Monika Alieksanti
59.00
200
Siswanto Sardi
58.95
201
Rini Inggriani
58.95
202
Rahmi Erita
58.90
203
Cut Shentia Samara
58.90
204
Ais Dafitri
58.85
205
Bastiani Tjokronegoro
58.85
206
arul hidayat
58.75
207
joko yugiyanto
58.70
208
Elrisa Thiwa Nadella
58.70
209
Husnul Faizin
58.70
210
Mohammad Auliyaur Rosyid
58.65
211
Ahmad Alamul Huda
58.55
212
Diana Sabilla
58.30
213
ZULFIKAR
58.25
214
Katya Alvina Canakya
58.20
215
Anggara Putty Dewanti
58.05
216
Aprilia Fatmawati
57.90
217
Toni Al-Munawwar
57.80
218
Dyah Ayu Sartika Dewi
57.80
219
Muna Arifah
57.80
220
Sindi Alya Syahputri
57.75
221
Tika Yanti
57.70
222
Rizka rahmin
57.60
223
M.Farid Hermawan
57.45
224
Susanna
57.45
225
Sulistiani
57.35
226
Atin Nuratikah
57.30
227
Agusman
57.30
228
dewi normanita pemuka
57.30
229
Yeni Sovia
57.30
230
Sukma Meganingrum
57.20
231
Laily Fitriani
57.05
232
Via Mardiana
57.00
233
Nova Risky Anriani
56.95
234
Moh. Faiq
56.95
235
Maria Frani Ayu Andari Dias
56.85
236
Juli Yandika
56.80
237
Dwi Astuti
56.75
238
Rizki Amalia Oktisah
56.70
239
Gayuh Yustia Nurkharismaningtyas
56.60
240
Arif Budiman Al Fariz
56.55
241
Arief Satiawan
56.50
242
Vidya Nafsil
56.30
243
Jessyca Elnatania
56.10
244
M. Dzikrullah
56.05
245
Eriga Syifaudin Al-Mansur
56.05
246
Afifah Putri Sari
56.05
247
Redha Andika Ahdi
56.05
248
Zikra Delvira
56.05
249
Dewi Aisyah
55.95
250
Wisnu Tri Yulianto Arif
55.95
251
Amanatul Haqqil Ibad
55.90
252
Pramudhita Mega Maharani
55.90
253
Ina Tanaya
55.90
254
Agus Oloan Naibaho
55.90
255
vika kurniawati
55.80
256
fhrengki fernando
55.70
257
Deziyanty Putri Muliani
55.65
258
Tiyan Purwanti
55.65
259
Pangestika Widiasih
55.55
260
Akhmad Helmi Irfansah
55.45
261
Herva Yulyanti
55.35
262
Meigita Nur Sukma
55.35
263
Prima Eko Putra
55.30
264
Yunita Tresnawati
55.30
265
tauhidin ananda
55.25
266
Widya Imrani
55.10
267
IRVANDI
55.00
268
Syilviyana Duta Yanti
55.00
269
Avi Lupi Rinasti
54.90
270
Saepullah
54.85
271
Tri Nurhayati
54.75
272
MARDIANI
54.55
273
Novia Collis
54.55
274
Andi Ainun Jaria
54.30
275
Rezy Refro
54.25
276
Anita Jogi Nasution
54.20
277
Dian Erviana
54.15
278
Ilham Sadli
54.10
279
Helena Magdalena
54.00
280
Anisa Jelita
53.90
281
WAWAN KURNIAWAN
53.85
282
Triana Wulandari
53.85
283
Revi Nuraini
53.85
284
Alifiardi Aditya M.R.
53.80
285
Andika Ramadhana Simarmata
53.75
286
Yunita Sari
53.75
287
Siti Munawaroh
53.70
288
M. Alfathan Rahman
53.70
289
Rio Pratama
53.70
290
Halimatus Sa'Diyah
53.65
291
Ida Raihan
53.60
292
Wawang Nurfalah
53.60
293
Sudikse Inggrid Natalia
53.60
294
Muhammad Ardiansyah
53.60
295
aji abdullah
53.55
296
Yudi Rahmatullah
53.50
297
Kiki Widayanti
53.45
298
Mansur, M.Pd
53.45
299
Candini
53.10
300
Rosa Linda
53.05
301
Siti musrifah
52.95
302
Yola Widya
52.95
303
M. Febriyan Baruna Putra
52.80
304
Rudiansyah
52.80
305
Arief Rais Bahtiar
52.75
306
Etika Suryandari
52.70
307
Fitriana Eka Wulandari
52.65
308
Muhamad Septian Wijaya
52.50
309
Nur Laila Sofiatun
52.50
310
Yustrini Yaminah
52.45
311
Sitti Rahmah
52.45
312
Nani Ratna Ningsih
52.30
313
Fiska Hendiyaningsih
52.30
314
Susan Lolo Bua
52.20
315
Riki Supriatna
52.20
316
Cece hasan basri
52.20
317
Dita Lestari
52.15
318
Titis nur ilmi
52.10
319
Andhika Putra Agus Pratama
52.10
320
Eko prianto
52.10
321
dita novitasari
51.75
322
Ririn Munawarah
51.45
323
Rizal Muhamad
51.40
324
Ahwal Laili
51.35
325
Ahmad Rofai
51.25
326
utari ninghadiyati
51.20
327
Ratnani Latifah
51.20
328
Fitria A. Syarifani
51.20
329
Nanda Permata Sari
51.00
330
Diah Dwi Arti
51.00
331
Tomy erikson Ginting
50.85
332
Dewi Susanti
50.85
333
UMI MARFATHONAH
50.65
334
Muhammad Irsyad
50.60
335
Hanifah Salsabila
50.60
336
Muhamad Maulana Rizki
50.50
337
evi erika puspitasari
50.45
338
trio agatha
50.45
339
Nurjannah Tamil, S.Pd.,M.Pd
50.40
340
Sa'adah Zakiatul Magpiroh
50.35
341
Nuzula Ramadian
50.20
342
Josua Octaryan Lumbantobing
50.20
343
Ida Royani
50.05
344
Debby Zalina
50.00
345
Dede Pertiwi Asih
49.95
346
Dhea pradipta putri
49.75
347
Ana Dian Diriyani
49.75
348
Fitri Vafila
49.75
349
Marlina Ayu Windarti
49.55
350
Witri Widiastuti
49.50
351
Purwanto
49.35
352
Ni Made Asri Wahyuni
49.35
353
Ibrahim Saptanugraha
49.35
354
Ira Filanisa
49.35
355
Vera Dwi Safitri
49.30
356
Arin Khurota A'yun
49.25
357
Alindah
49.25
358
Rappi Darmawan
49.20
359
Bimo Tri Utomo
49.15
360
Rizki Rahmatulloh Sukmana
49.10
361
Wahyu Putri Sishadi
49.00
362
Rizki Andita Noviar
48.95
363
Heru Hendriyana
48.90
364
Amelia Lita
48.90
365
Annisa Khairiyyah Rahmi Nasution
48.85
366
Elfan Muhib Danil Islam
48.85
367
Yosan Erwanto
48.80
368
Siska Wahyuningtyas
48.70
369
Ade Delina Putri
48.65
370
Vista Alnia Pratiwi
48.60
371
andian sumartha
48.60
372
Aji Triono
48.35
373
Silvie Permatasari
48.20
374
Hani
48.15
375
Nur Indah Harahap
48.10
376
annisa astrid putrinda
48.05
377
Ahmad Fauzi
47.75
378
Shelvia Aida Fitri
47.70
379
Ajat Rudiat
47.70
380
Nur sebariani ismi ningsih
47.65
381
Trias Wahyu Saputra
47.30
382
febriani
47.25
383
Lusy Mariana Pasaribu
47.20
384
wa ode syahribanun alwiah
47.20
385
M YOGI SATRIAWAN
47.10
386
utari miranda rahma
47.10
387
Adrian Silvanus Young
47.10
388
Klara Rizky Amilia
47.00
389
Raihan Yudhistira
46.90
390
Luthfi MUzhaffar
46.85
391
Elysa Venorica Deasyningsih
46.60
392
Restin Ambangsih
46.55
393
Afrelan Sius Silalahi
46.20
394
Pipi Miralini
46.05
395
Nurul izzah
45.75
396
Dewi Siti Latifah
45.60
397
Neneng Rohaeniah
45.50
398
Abdul Azis Said
45.35
399
Muhammad Taufan
45.35
400
hernawan luthfi fadillah
45.20
401
Agus Hermawan
45.15
402
Risma
45.15
403
Ni Gusti Agung Mirah Trisna Adi
45.00
404
heldi haidir hidayat
44.75
405
Arif Budiman Efendi
44.60
406
Halimatusadiah
44.50
407
wardha ayu andriyuni
44.50
408
Zulfa sholihatin nissa
44.45
409
Aditiya pratama
44.35
410
Dina Sectio Ficky Aulia
44.25
411
dhea stya okta avianti
44.25
412
Widayati
44.10
413
Seftina Qurniawati
44.05
414
Muhammad Joni Uswanto
43.90
415
Listi Hanifah
43.65
416
Peter Y. P. Sipahutar
43.60
417
Yanti Ani
43.45
418
Muhammad Riadi
43.35
419
Agus Miftahorrahman
43.35
420
Ika Pratiwi Amatullah
43.35
421
Kadek Nova Yulia Wardani
43.25
422
Liana Sari
43.15
423
PUTRI INDAH LESTARI
43.10
424
Rinta Anastasia Kismawati
42.75
425
Agus Elmansya
42.40
426
Ardho Albar
42.30
427
ELYS ROSMALA DEWI
41.60
428
Keken Setiawan
41.45
429
IIN QORIAH
41.05
430
Rofiqotus Sholeha
41.00
431
Nayadhi Sambu Prakasita
40.70
432
MUHAMMAD FARHAN CHAIRUDDIN
40.25
433
Wardani Oktavia Saraswanti
39.05
434
Mochammad Lutfi Azis Rizki Fauzi
38.65
435
Resky Setiawan
37.85