Navigation Menu

featured Slider

Featured Posts!

Bermodal Kreativitas, Jengkol Sumedang Bisa Naik Kelas

keripik jengkol kekinian

Bagi banyak orang, jengkol sering dianggap produk kampungan. Hanya saja, Imas Mintarsih (25) tidak seperti kebanyakan orang. Lewat tangan dingin dan ide kreatifnya, gadis asal Sumedang itu berhasil menyulap jengkol menjadi keripik kekinian. Setelah berulang kali menepis cibiran, kini ia bisa bertolak pinggang lantaran omzetnya telah menembus angka Rp30 juta dalam sebulan. 

*** 

Jengkol ibarat kotak pandora pangan Indonesia. Banyak yang menghujat, tetapi tidak sedikit pula yang memuja. Barisan penghujat menjadikan bau tak sedap sebagai alasan mengapa jengkol bukanlah sumber pangan yang baik untuk dikonsumsi. Sementara penggemarnya berdalih, jengkol tetap nikmat disantap apabila diolah dan diracik dengan cara yang tepat. 

Apa pun alasannya, faktanya jengkol tetaplah menjadi hidangan kelas dua bagi masyarakat Indonesia. Tidak ada restoran bintang lima yang berani menyajikan buah berbau menyengat ini sebagai menu utama. Peminatnya paling-paling mereka yang hobi makan di warteg atau rumah makan kaki lima. Mustahil rasanya memesan semangkuk semur jengkol saat santap malam di hotel bintang lima.

jengkol dihujat dan dipuja

Akan tetapi, fakta tersebut tidak menyurutkan langkah Imas untuk berjualan jengkol. Ia menggantungkan sumber rezeki dan penghasilannya dari sepetak kebun jengkol milik almarhum ayahnya di Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat. 

Sebagai seorang anak, awalnya Imas hanya ingin bantu-bantu orangtuanya saja. Maklum saja, kedua orangtuanya memang berprofesi sebagai petani jengkol. Penghasilannya pun tidak seberapa, lantaran jengkol bukanlah sajian yang disukai banyak orang. 

Harga jual jengkol mentah selalu kalah dibanding bawang putih, bawang merah, atau kacang panjang. Kalaupun naik, paling-paling disebabkan faktor musiman seperti jelang Lebaran. Sudah begitu, pohon jengkol tidak bisa berbuah sepanjang tahun. Musim panen jengkol hanya berkisar antara dua hingga tiga kali dalam setahun. 

Itulah sebabnya, banyak petani jengkol yang hidup pas-pasan, termasuk orangtua Imas. Lahan jengkol seringkali dianggap kurang menguntungkan. Untuk menambah pendapatan, menanam komoditas lain seperti kentang, buncis, dan kangkung; mafhum dilakukan oleh banyak petani jengkol di Sumedang.

keripik jengkol Sumedang

Akan tetapi, Imas tidak pernah menyerah. Ia percaya bahwa dengan metode pengolahan yang tepat, jengkol juga bisa disulap menjadi produk bernilai tambah. Ia pun mencoba peruntungan dengan mengolah jengkol menjadi keripik. Dibantu Sang Ibu, mereka kemudian bahu-membahu membuat olahan keripik jengkol. 

Seperti bisnis rintisan pada umumnya, Imas mesti berjuang keras memasarkan produknya. Kala itu ia masih duduk di bangku SMA. Tanpa rasa malu dan ragu, keripik jengkol buatannya ia coba pasarkan kepada teman-teman sekolahnya. Hanya saja, bukan penjualan yang ia dapatkan, melainkan segudang ejekan. 

Teman-temannya mengatakan keripik jengkol buatan Imas kampungan. Tidak cocok disantap sebagai camilan kalangan milenial. Berulang kali Imas promosikan, berulang kali pula ia mendapat cibiran. Sayang seribu sayang, nasib “orang kecil” tidak memberikan ia banyak kebebasan. Lantaran mesti membayar iuran sekolah, ia tetap berjualan meski seringkali pulang tanpa cuan

Bak pebisnis berpengalaman, semangat Imas tidak pernah pupus di tengah jalan. Ratusan cibiran ia jadikan masukan bagi pengembangan usahanya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa faktor utama yang bisa melesatkan usahanya adalah kreativitas. 


Dari Kampungan Menjadi Kekinian 

Gerah dibilang kampungan, Imas mengganti jenis dan desain kemasan agar tampilan produknya lebih sedap dipandang dan punya nilai jual. Dari semula menggunakan plastik transparan murahan, ia mengganti kemasannya dengan alumunium foil berperekat yang bisa dibuka-tutup. Selain lebih kekinian, keripik jengkolnya jadi tidak gampang melempem dan tahan lebih lama. 

Sedikit demi sedikit keripik jengkol Imas mulai dikenal banyak orang. Pemasarannya tidak lagi dilakukan dari mulut ke mulut, tetapi mulai menyasar warung-warung kecil di sekitar tempat tinggalnya. Ia pun menambahkan berbagai varian rasa ke dalam keripik jengkolnya. Mulai dari original, pedas, hingga sapi panggang.

Jengkol Oyoh Sumedang

Tak ingin area pemasarannya terbatas di Desa Pamulihan, pada 2014 Imas mendaftarkan produk keripik jengkolnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang. Ia beri nama Jengkol Oyoh, terinspirasi dari nama Sang Ibu, Yoyoh. Ia pun sukses mengantongi sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sebuah izin yang wajib dimiliki produsen pangan berskala rumah tangga. 

Walau bermodal pas-pasan, Imas meyakini bahwa sertifikasi adalah modal dasar untuk memperoleh kepercayaan konsumen. Sebagai produsen, Imas bisa lebih leluasa memperluas pasar. Pasalnya, pasar modern dan swalayan akan meminta izin PIRT sebelum memasarkan produk makanan atau minuman berskala rumah tangga. 

Tak puas sampai di sana, Imas nekat bergabung dengan komunitas bisnis lokal binaan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Dengan begitu, ia bisa belajar banyak tentang pengelolaan usaha dari para ahlinya. Pada 2015 ia pun terdaftar sebagai mahasiswa Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang dibentuk oleh Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, kampusnya kala itu.

Ridwan Kamil jengkol

Usaha Imas akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Bisnisnya berkembang pesat karena mampu dikelola dengan baik. Laporan keuangannya selalu sehat, lantaran dikelola dengan sangat cermat. Sampai di sini, Imas mulai berani mengikuti kompetisi wirausaha untuk mencari tambahan modal. 

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Imas mendapat kabar dari salah seorang temannya bahwa kompetisi wirausaha bertajuk The Big Star Indonesia Season 2 yang diadakan oleh salah satu pasar daring (online marketplace) ternama akan segera dimulai. Tanpa pikir panjang, Imas langsung mendaftarkan bisnis keripik jengkolnya pada kompetisi yang diikuti oleh lebih dari 20 ribu peserta itu. 

Hasilnya tak disangka. Imas berhasil merebut juara ke-3 dan mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp200 juta. Selama mengikuti kompetisi, ia juga dimentori langsung oleh Daniel Mananta, mantan video jockey terkenal sekaligus pengusaha busana bermerek “Damn I Love Indonesia”. 

Pada saat karantina, Daniel banyak menyumbang ide untuk pengembangan bisnis keripik jengkol Imas. Salah satunya ialah desain kemasan yang lebih kekinian untuk menjangkau pasar kelas menengah-atas. Asal tahu saja, desain kemasan Jengkol Oyoh yang beredar saat ini adalah buah kolaborasi Imas dan Daniel.

Jengkol Oyoh juara

Seluruh uang hadiah kompetisi Imas gunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Kini, ia sanggup mempekerjakan dua orang karyawan tetap. Saat kebanjiran pesanan, ia pun tak segan-segan merekrut karyawan sementara sesuai dengan kebutuhan produksi. 

Berkembangnya usaha keripik jengkol Imas tidak hanya memberi berkah bagi diri dan keluarganya, tetapi juga petani jengkol di Sumedang. Demi mencapai target produksi, Imas membeli bahan baku dari para petani jengkol secara langsung di sekitar tempat tinggalnya. 

Imas pun tak segan membeli jengkol dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga jual petani kepada tengkulak. Hal tersebut semata-mata ia lakukan agar meningkatkan derajat ekonomi petani jengkol di Desa Pamulihan. Ia percaya, dengan berbuat baik kepada sesama, kebaikan pula yang akan kembali kepada diri dan keluarganya. 

Apa yang Imas yakini tampaknya benar. Penjualannya meningkat tajam. Jika dahulu maksimal 50 bungkus terjual dalam sebulan, kini ia sanggup menjual minimal 1.000 bungkus dalam tempo yang sama. Bahkan, kalau sedang ramai angka penjualannya bisa menembus 3.000 bungkus per bulan. Asal tahu saja, Jengkol Oyoh dibanderol dengan harga Rp15.000 per bungkus.

Keripik jengkol oyoh sumedang

Kesuksesan bisnis keripik jengkol Imas bukan semata-mata disebabkan peningkatan kapasitas produksi semata, tetapi juga strategi pemasaran yang tepat sasaran. Selain dipasarkan melalui sejumlah toko oleh-oleh di Sumedang dan Bandung, Jengkol Oyoh Imas jual pula secara online

Tak ketinggalan, media sosial pun turut ia gunakan sebagai sarana promosi demi mendongkrak penjualan. Hingga kini, ia pun masih rajin mengikuti bazar di berbagai acara berskala nasional. Supaya jengkol Sumedang bisa “meledak” dan dikenal oleh lebih banyak orang. 

Dengan strategi pemasaran tersebut, produk Imas mampu menembus pasar nasional. Belum lama ini, Jengkol Oyoh baru saja dipesan secara online oleh salah seorang pelanggannya di Biak, Papua. Dengan bermodal kreativitas, kini keripik jengkol Sumedang buatan Imas bisa naik kelas. 



Potensi Jengkol Sebagai Sumber Ekonomi Kreatif Sumedang 

Kisah keripik jengkol Imas, seperti yang dituturkan di atas, menggambarkan betapa besarnya potensi ekonomi kreatif di Sumedang bila dikembangkan dengan cara yang benar. Bukan hanya tahu dan kopi semata, Sumedang juga punya keripik jengkol kekinian yang jauh dari kata kampungan. 

Selain bernilai tambah, pengembangan ekonomi kreatif berbasis pangan akan meningkatkan daya saing petani lokal dan pengusaha mikro dan kecil. Usaha produktif berskala rumah tangga juga punya peran penting dalam mengentaskan kemiskinan. Sebab paling tidak, industri rumah tangga bakal menyerap banyak tenaga kerja, khususnya bagi mereka yang punya keterbatasan pendidikan. 

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengatakan, jumlah UMKM pada 2018 mencapai 64,19 juta unit, atau setara dengan 99,99 persen jumlah usaha yang ada di Indonesia. UMKM juga menyerap 120,59 juta tenaga kerja, atau setara dengan 97 persen tenaga kerja nasional. 

Sumbangsih UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga tidak main-main. Sekitar Rp5.721,14 triliun mampu dihasilkan UMKM, atau setara dengan 61,07 persen dari total PDB Indonesia. Dari Rp4.244,68 triliun total investasi di Indonesia, lebih dari setengahnya (60,42 persen) ditanam pada sektor UMKM.

UMKM dongkrak ekonomi

Data tersebut memberi gambaran yang sangat jelas kepada kita, bagaimana UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Bahkan, simulasi Kementerian Koperasi dan UMKM pada 2019 menyatakan, jika omzet UMKM naik hingga 30 persen, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan terdongkrak hingga 7 persen. 

Di Sumedang, menurut data Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sumedang, jumlah UMKM pada 2013 tercatat sebanyak 6.872 unit usaha. Peningkatan jumlah dan produktivitas UMKM, sudah tentu akan meningkatkan laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumedang yang pada 2018 mencapai 5,83 persen. 

Hanya saja, mengembangkan UMKM tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dari sekian banyak tantangan, seperti akses pembiayaan, pemasaran, hingga pencatatan keuangan; problem terbesar UMKM di Indonesia—termasuk Sumedang—adalah kesulitan mengembangkan produk yang bernilai tambah. 

Jengkol, misalnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang menunjukkan, produksi jengkol di Sumedang terus menurun. Dari semula 688,80 ton pada 2017, turun sebanyak 11,76 persen menjadi 607,80 ton pada 2018. 

Padahal, Jawa Barat merupakan sentra produksi jengkol. Sebanyak 10.929 ton, atau setara dengan 18,63 persen produksi jengkol nasional berasal dari Jawa Barat. Sumedang sendiri punya kontribusi sebesar 5,56 persen terhadap produksi jengkol di Jawa Barat.

Potensi jengkol Sumedang

Menurunnya produksi jengkol di Sumedang sedikit banyak disebabkan oleh ketidakmampuan UMKM dalam menciptakan produk turunannya. Jengkol dianggap murahan lantaran masih sering disajikan begitu saja. Kalaupun diolah, paling-paling sebatas pelengkap kudapan atau lalapan saja. 

Selain Imas, belum banyak pengusaha di Sumedang yang pandai mengolah jengkol menjadi produk yang laris di pasaran. Apa yang Imas lakukan seharusnya bisa menjadi bukti dan landasan bahwa apabila diolah dengan kreativitas, jengkol Sumedang pun sanggup naik kelas. 

Apalagi, jengkol adalah salah satu produk pertanian yang punya potensi tinggi untuk dikembangkan. Dua tahun lalu Presiden Joko Widodo mengimbau petani sawit agar beralih menanam komoditas yang lebih menguntungkan, salah satunya jengkol. Selain biaya tanamnya murah, harga jual jengkol biasanya meningkat jelang Idul Fitri.

Jokowi imbau petani tanam jengkol

Selain itu, potensi ekspor jengkol pun masih terbuka luas. Badan Karantina Pertanian mengatakan, total ekspor jengkol pada 2017 mencapai 26,5 ton. Sejumlah negara seperti Hong Kong, Arab Saudi, Qatar, Belanda, Korea Selatan, dan Timor Leste, menjadi pelanggan setia dan turut merasakan kelezatan jengkol Indonesia. 

Ingat, data ekspor jengkol yang dimaksud paragraf di atas ialah jengkol mentah. Belum ada produk jengkol olahan—seperti keripik jengkol buatan Imas—yang berhasil menembus pasar dunia. 

Jadi, bisa dibayangkan apabila keripik jengkol Sumedang bisa diekspor. Nilai tambahnya sudah tentu akan meningkat berkali-kali lipat. Pundi-pundi devisa pun turut meningkat. Alhasil, masalah defisit neraca pembayaran—lantaran impor selalu lebih besar dari ekspor—yang menjadi persoalan utama perekonomian bangsa ini, sebagaimana sering diwanti-wanti oleh Presiden Jokowi, bisa segera terselesaikan. 

Namun sebelum terlampau jauh menuju ke sana, marilah kita bersama-sama dukung produk ekonomi kreatif Sumedang agar berjaya di negeri sendiri. Salah satu caranya dengan membeli keripik jengkol buatan Imas. Tidak perlu jauh-jauh ke Sumedang, Jengkol Oyoh sudah bisa dipesan lewat ponsel pintar. 

Sebab kalau tidak dimulai dari kita sendiri, lantas mau bergantung kepada siapa lagi? [Adhi]

keripik jengkol kekinian jengkol oyoh sumedang

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Nasional: Writingthon Jelajahi Sumedang. Gambar bersumber dari koleksi pribadi penulis, akun Instagram @oyohjengkol, pngimage.net, dan Nuansa Pos. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis. 



Referensi: 

[1] BPS Kabupaten Sumedang. 2019. Kabupaten Sumedang Dalam Angka 2019. BPS Kabupaten Sumedang. Sumedang. 

[2] Fauzia, Mutia. 2018. The Big Start Indonesia: Mimpi Imas yang Ingin Keripik Jengkol Olahannya Naik Kelas [daring], (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/07/22/160806726/the-big-start-indonesia-mimpi-imas-yang-ingin-keripik-jengkol-olahannya-naik?page=all, diakses tanggal 9 Februari 2020). 

[3] Kementerian Koperasi dan UMKM. 2019. Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2017—2018 [daring], (http://www.depkop.go.id/data-umkm, diakses tanggal 9 Februari 2020). 

[4] Mulyani. 2018. Presiden Jokowi Sarankan Petani Tanam Jengkol, Ini Faktanya [daring], (https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995151/presiden-jokowi-sarankan-petani-tanam-jengkol-ini-faktanya, diakses tanggal 9 Februari 2020). 

[5] Prayogo, Cahyo. 2019. Dulu Sering Diledek, Kini Pengusaha Jengkol Ini Beromzet Rp30 Juta [daring], (https://republika.co.id/berita/pupmtg/dulu-sering-diledek-kini-pengusaha-jengkol-ini-beromzet-rp30-juta, diakses tanggal 9 Februari 2020). 

[6] Rentjoko, Antyo. 2016. Jateng Tanah Petai, Jabar Tanah Jengkol [daring], (https://lokadata.id/artikel/jateng-tanah-petai-jabar-tanah-jengkol, diakses tanggal 9 Februari 2020). 

[7] Syafina, Dea Chadiza. 2019. Saat Jokowi Cari "Lawan" Sawit dengan Jengkol Hingga Petai [daring], (https://tirto.id/saat-jokowi-cari-lawan-sawit-dengan-jengkol-hingga-petai-dcQt, diakses tanggal 9 Februari 2020).

Ini 6 Hal Masuk Payroll System Indonesia

Payroll Systems

Mungkin bagi Anda yang berkutat dalam hal Human Resource Development (HRD) di sebuah perusahaan, tidak asing dengan yang namanya payroll system. Meskipun tidak masuk langsung dalam urusan HRD, sudah banyak karyawan dan pegawai yang mengenal payroll system dalam lingkungan kerja mereka. 


Payroll System di Indonesia 

Payroll system di Indonesia dengan di luar negeri tentunya berbeda. Adanya penambah dan pengurang gaji yang berbeda membuat hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi investor asing untuk menyesuaikan regulasi akuntansi di Indonesia. Sangat penting untuk menyeimbangkan gaji karyawan dengan profit yang harus diterima oleh perusahaan. Maka dari itu, diperlukan payroll system yang memadai untuk menengahi masalah gaji yang diterima karyawan dengan performa perusahaan. 

Karena payroll system di Indonesia juga memiliki komponen yang berbeda dengan negara lain, maka pemilik perusahaan perlu untuk memahami apa saja yang termasuk dalam payroll system di Indonesia. Berikut ini adalah informasi singkat mengenai payroll system di Indonesia yang mungkin bisa membantu para pemilik perusahaan asing yang hendak membuka usaha di Indonesia. 


Komponen yang masuk dalam Payroll di Indonesia 

Bagi para pemilik usaha asing yang ingin mendirikan perusahaan di Indonesia, perlu sekali untuk memahami hal-hal dasar mengenai payroll system di Indonesia. Karena payroll system ini berkaitan langsung dengan kesejahteraan karyawan dan kesuksesan perusahaan. 




1. Hak-hak dasar pegawai 

Meski tidak berwujud finansial, namun hak-hak dasar pegawai ini berkaitan langsung dengan finansial perusahaan terutama masalah gaji dan bonus. Hak-hak dasar yang diterima oleh pegawai antara lain seperti jam kerja yang wajar (40 jam seminggu) atau delapan jam sehari, gaji yang sesuai dengan standar Upah Minimum Regional (UMR), mendapat jaminan kesehatan, cuti, serta gaji tambahan sesuai lembur yang diberikan. Dengan memahami hak-hak dasar ketenagakerjaan ini, menjalankan payroll system menjadi lebih mudah. 


2. Insentif 

Insentif merupakan reward finansial yang diterima karyawan/pegawai yang terpisah dengan gaji rutinnya. Insentif biasanya diberikan berdasarkan performa atau kinerja karyawan. Jika karyawan melakukan banyak hal yang menguntungkan perusahaan, maka karyawan tersebut bisa mendapat insentif. Perlu diketahui juga bahwa insentif bisa diterima secara individu maupun tim. Lembur yang dilakukan oleh karyawan juga bisa memberikan benefit bagi perusahaan, sehingga perusahaan memberikan insentif kepada mereka. 


3. BPJS Ketenagakerjaan 

BPJS Ketenagakerjaan juga termasuk dalam payroll system di Indonesia. Mungkin di luar negeri juga memiliki dengan nama yang berbeda. BPJS ini diberikan kepada pegawai untuk melindungi pegawai ketika bekerja hingga masa pensiun tiba. Berikut ini perhitungan payroll system sederhana dalam BPJS Ketenagakerjaan: 

Work accident: 0,24% s.d. 1,74% dari gaji bulanan. Dibayar seluruhnya oleh perusahaan. 

● Jaminan kematian: 0,3% dari gaji bulanan. Dibayar seluruhnya oleh perusahaan. 

● Pensiun: 5,7% dari gaji bulanan. Sebesar 3,7% dibayar oleh perusahaan, dan sisa 2% lagi dari potongan gaji karyawan sendiri. 


4. BPJS Kesehatan 

BPJS Kesehatan menjadi bagian yang penting dalam payroll system di Indonesia. BPJS Kesehatan berfungsi untuk melindungi kesehatan karyawan selama bekerja. Asuransi kesehatan yang satu ini dibayar oleh karyawan dan perusahaan. Angka yang diberikan juga berbeda-beda, tergantung oleh peraturan dan ketentuan perusahaan. Akan tetapi, biasanya maksimal uang yang dibayarkan oleh perusahaan adalah 4% dari gaji maksimal Rp 4.000.000, dan jumlah minimal harus dibayarkan oleh perusahaan adalah 1 % dari gaji UMR. 


5. Pelaporan pajak 

Hampir semua software payroll system di Indonesia memiliki fitur pelaporan pajak otomatis yang memudahkan karyawan dan perusahaan dalam proses perpajakan, seperti PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25. Standar perpajakan di Indonesia juga sedikit berbeda dengan yang ada di luar negeri, sehingga pastikan untuk selalu up-to-date dengan informasi pajak terbaru. 


6. Regulasi cuti 

Cuti menjadi salah satu bagian yang perlu diolah dalam payroll system di perusahaan. Adanya kebutuhan meninggalkan tempat kerja dalam beberapa waktu juga akan memberikan perubahan terhadap gaji yang diberikan kepada karyawan. Cuti pun terdiri dari beberapa jenis, sendiri seperti cuti hari besar, cuti melahirkan, cuti sakit, serta cuti untuk keperluan pribadi. 


Itulah informasi mengenai beberapa hal penting dalam payroll system di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Menggapai Masa Depan Bersama Pendidikan dan HACKTIV8


Hiduplah seakan kamu mati besok. Belajarlah seakan kamu hidup selamanya. ~Mahatma Gandhi 

*** 

Manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna. Dengan akal dan ilmu pengetahuan, manusia bisa menciptakan berbagai alat untuk mempermudah kelangsungan hidupnya. Mulai dari api hasil gesekan kayu pada zaman batu, hingga rupa-rupa gawai digital pada era kekinian. Semua bisa dibuat dengan bermodal ilmu pengetahuan. 

Itulah sebabnya, kita dituntut harus terus belajar. Seperti kata Mahatma Gandhi di atas, selama kita masih bernapas, selama itu pula kita wajib menuntut ilmu. Dengan kata lain, tidak ada batasan pada kapasitas otak seseorang tatkala menimba ilmu. Satu-satunya hal yang membatasi seseorang dari akses pendidikan hanyalah tutup usia. 

Saat ini kita sudah memasuki era digital. Sebuah masa ketika perubahan terjadi begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita dikejutkan dengan berita pengguna jalan tol wajib membayar pakai uang elektronik, alih-alih uang tunai. Tak sampai berapa lama, tiba-tiba kita sudah pintar menggunakan QR Code untuk membayar segelas cappuccino di kedai kopi kekinian.


Ingat, itu baru satu contoh. Kita belum membahas bagaimana Friendster ditaklukkan Facebook dalam sekejap. Kita juga belum mengulas bagaimana bisnis taksi konvensional megap-megap akibat beralihnya preferensi masyarakat kepada layanan ride sharing berbasis on-demand

Yang jelas, sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa teknologi lama akan digantikan dengan teknologi baru. Itu tidak bisa dinegosiasi atau ditawar-tawar lagi. Singkat kata, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. 

Dengan semakin cepatnya derap langkah perubahan zaman, semakin cepat pula kita dituntut untuk mengejar ketertinggalan. Tidak bisa dimungkiri, satu-satunya cara agar selalu up-to-date dengan perkembangan zaman ialah gigih belajar. Dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan, kita bukan hanya sanggup bergerak seiring zaman, tetapi juga mampu mengubah masa depan. 

Untung saja, era digital telah menghadirkan banyak kemudahan. Menuntut ilmu tidak hanya bisa dilakukan di kelas, sekolah, atau lembaga pendidikan semata. Informasi dan ilmu pengetahuan tidak hanya bisa diperoleh melalui buku-buku pelajaran saja. 

Tatkala kegiatan belajar-mengajar tidak lagi dibatasi ruang kelas berbentuk fisik; berbagi ilmu bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Kita pun mengenalnya dengan sebutan kelas online atau pendidikan berbasis online. Dengan bermodal gawai digital dan akses internet, kita sudah bisa mempelajari begitu banyak hal.


Sebagai contoh, izinkan saya bercerita satu pengalaman. Sebagai seorang blogger, saya kerap diminta untuk mengisi kelas menulis, baik offline maupun online. Yang menarik, setelah dihitung-hitung, jumlah tawaran mengajar online lebih banyak saya terima ketimbang offline. Artinya, penyelenggara pun memahami bahwa penyelenggaraan pendidikan berbasis online terbukti lebih praktis dan efisien ketimbang offline

Paling tidak, penyelenggara tidak perlu menyewa ruang kelas berbiaya besar, atau bersusah-payah mengumpulkan banyak peserta di satu waktu. Sebagai pengajar, saya pun bisa berbagi ilmu dari rumah, tanpa harus berdandan rapi dan datang ke kelas. Sedangkan untuk pelajar, mereka bisa menimba ilmu kapan saja dan di mana saja. Sebab mereka hanya perlu memantau grup Whatsapp untuk menerima materi dari saya. 


Dalam tataran yang lebih luas, saya percaya bahwa pendidikan berbasis online merupakan wajah dari pendidikan masa depan Indonesia. Sebab bangsa kita adalah bangsa besar dengan potensi yang besar pula. Lagi pula, besarnya potensi Indonesia sudah banyak diramalkan oleh lembaga dunia. 

Kalau tidak percaya, mari kita tengok prediksi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Menurut organisasi kerja sama internasional itu, Indonesia akan naik kelas dari negara berpenghasilan menengah (middle-income country) menjadi negara berpenghasilan tinggi (high-income country) pada 2045 nanti. 

Apakah prediksi itu akan terbukti? Bisa ya, bisa juga tidak. Yang jelas, ketepatan prediksi itu bergantung dari seberapa gigihnya kita dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia. Lagi-lagi, pendidikan adalah satu-satunya kunci untuk menggapai cita-cita itu. Tanpa pendidikan berkualitas, sudah pasti prediksi tadi hanyalah sebuah terkaan di atas kertas. 

Hanya saja, kita paham bahwa negara kita adalah negara besar dengan jumlah pulau terbanyak di dunia. Kualitas pendidikan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya tidaklah sama. Sebagai bukti, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta jauh melampaui IPM daerah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua. Inilah yang menjadi tantangan terbesar pendidikan di Indonesia.


Salah satu cara memangkas ketimpangan pendidikan adalah dengan menggunakan teknologi. Seperti pengalaman saya ketika mengajar di kelas menulis online, semestinya pendidikan berbasis online juga bisa diselenggarakan untuk seluruh anak bangsa. Dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Rote sampai Pulau Miangas. Semua punya kesempatan yang sama untuk menimba ilmu. 

Lantas, mengapa pendidikan berbasis online begitu penting diterapkan di Indonesia? Paling tidak, ada empat hal yang menjadi kausanya. 


Keunggulan pertama dari pendidikan berbasis online adalah kita bisa belajar tanpa dibatasi ruang. Dengan kata lain, di mana pun kita berada, kita bisa mengikuti pelajaran tanpa harus datang ke kelas. Tinggal siapkan gawai digital dan koneksi internet mumpuni, kita sudah bisa mempelajari banyak hal.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas tenaga pendidik di daerah pedesaan, lebih rendah dibanding tenaga pendidik di perkotaan. Oleh karena itu, dengan pendidikan berbasis online, saudara kita di desa bisa mengenyam pendidikan berkualitas, setara dengan mereka yang tinggal di kota. Dengan demikian, ketimpangan kualitas pendidikan antar-daerah bisa segera dipangkas. 


Tahukah Anda bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan biaya pendidikan termahal di dunia? O ya, itu bukan kata saya, melainkan hasil kajian Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) bertajuk HSBC Global Report 2017

Menurut bank terbesar di Asia itu, rata-rata biaya yang dikeluarkan orangtua untuk pendidikan seorang anak di Indonesia, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi, mencapai Rp269 juta. Di tingkat dunia, Indonesia menempati peringkat ke-13 negara dengan biaya pendidikan termahal, melebihi sejumlah negara Eropa seperti Prancis (Rp237 juta).


Pendidikan berbasis online adalah salah satu cara menghemat biaya pendidikan. Sebab seorang pelajar online tidak lagi dibebani rupa-rupa biaya lainnya sebagaimana pendidikan konvensional, seperti biaya transportasi, biaya pemeliharaan gedung/kelas, maupun tempat tinggal. Yang tersisa tinggal biaya honor pengajar dan materi ajaran. Lebih hemat dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.


Era digital mengharuskan kita pintar-pintar mengatur jadwal. Sebab setiap detik merupakan peluang bagi mereka yang benar-benar memanfaatkan. Pendidikan berbasis online adalah jawaban paling tepat untuk mengasah keahlian dan mengembangkan kapasitas diri di tengah berbagai kesibukan. 

Pegawai kantoran, contohnya. Mereka tidak punya waktu luang—seluang mahasiswa misalnya—lantaran harus bekerja sepanjang pekan. Akan tetapi, mereka juga dituntut untuk selalu adaptif menghadapi perkembangan zaman. Mengambil kursus offline bukanlah pilihan yang bijak karena jadwalnya kaku dan kurang fleksibel. Lagi pula, pegawai kantoran biasanya lekat dengan tugas lembur.


Dengan mengambil online course, mereka bebas menentukan jadwal belajar sesuka hati. Di sela-sela jam istirahat siang, akhir pekan, atau malam hari ketika sudah pulang kantor. Sudah begitu, waktu belajar lebih efektif karena bisa dilakukan di mana saja. Alhasil, orang yang punya jadwal padat sekalipun bisa terus belajar dan mengasah kemampuan. 


Kemampuan digital mutlak diperlukan pada masa depan. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, kita dituntut untuk mempersiapkan dari sekarang. Sebagai bukti, berbagai profesi digital terus bermunculan dan semakin dibutuhkan banyak perusahaan. Sebut saja programmer, data scientist, software engineer, hingga full-stack developer

Tak ayal, penyelenggaraan pendidikan berbasis online secara langsung mendukung digitalisasi bangsa kita. Dengannya, setiap orang bisa mendapat kesempatan untuk menjadi programmer andal maupun data scientist jempolan. Alhasil, produktivitas akan meningkat, pengangguran akan terpapas, dan prediksi menjadi negara maju pada 2045 bukanlah isapan jempol belaka.


Sekarang kita sudah tahu pentingnya pendidikan berbasis online untuk pengembangan diri kita dan kemajuan Indonesia. Pertanyaan selanjutnya, kursus online mana yang terbaik untuk kita ikuti? Well, jawabannya bergantung pada impian dan cita-citamu. Juga tergantung pada cabang ilmu mana yang ingin kamu geluti. 

Yang jelas, kalau kamu tertarik dengan segala hal berbau digital dan bermimpi menjadi seorang programmer andal, kamu harus ikut online course-nya HACKTIV8. Selain punya segudang mentor yang siap membimbing kamu sampai bisa, HACKTIV8 juga punya lebih dari 250 hiring partner yang siap merekrutmu ketika lulus nanti. 

Nah, penasaran bagaimana cara HACKTIV8 mampu mengembangkan dirimu dan program online course apa saja yang tersedia? Makanya jangan buru-buru pindah laman. Simak ulasannya dalam beberapa alinea ke depan. 


HACKTIV8 adalah penyelenggara pendidikan informasi dan teknologi, yang didirikan oleh PT Hacktivate Teknologi Indonesia. HACKTIV8 hadir bagi kamu yang ingin mengembangkan keahlian di bidang teknologi digital atau bercita-cita menjadi programmer andal. 

Kurikulum HACKTIV8 dirancang khusus untuk membangun keahlian yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Di sini, kamu akan dibimbing menjadi programmer andal, mulai dari belajar berbagai macam bahasa program seperti Java, Python, C, PHP, Javascript, Ruby, C++, dan SQL; hingga membangun aplikasi sendiri serta mengoperasikan machine learning.


Jangan takut gagal dalam belajar. Sebab HACKTIV8 punya berbagai tingkatan kelas yang bisa disesuaikan dengan latar belakang pendidikanmu, baik pemula maupun ahli. Lagi pula, segudang mentor jempolan akan membantumu menyelesaikan tugas dan proyek yang diberikan selama proses belajar. 


Program pembelajaran di HACKTIV8 dibagi menjadi tiga program, yang bisa kamu pilih sesuai dengan kebutuhanmu. Untuk kamu yang punya waktu luang, ada program Full Time selama 12 minggu di kelas HACKTIV8 di Jakarta. Pada program ini, kamu akan dibimbing dari pemula hingga menjadi seorang full-stack developer.


Waktu luangmu terbatas? Tenang saja. Bagi kamu yang bekerja tapi masih punya waktu luang setelah jam kerja, kamu bisa mendaftarkan diri dalam program Part Time. Pilihan kelas yang dibuka juga banyak. Tinggal sesuaikan saja dengan minat dan kebutuhanmu. Mulai dari Agile Scrum, DevOps, Front End Basic, Golang, Phyton for Data Science, hingga React dan React Native. 


Nah, ini dia yang menarik. Selain membuka kelas offline, HACKTIV8 juga menyelenggarakan kelas online. Cocok untuk kamu yang tinggal di luar Jakarta atau kamu pribadi dinamis yang punya waktu luang yang sangat terbatas. Jadi, tidak ada lagi hambatan untuk menjadi seorang programmer andal. 

Ada tiga program online yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhanmu. Mulai dari Phyton for Data Science, React and React Native, dan Web App Development. Pada program yang pertama, kamu akan diajari bagaimana cara membuat machine learning dan menjadi seorang data scientist. Profesi kekinian yang saat ini banyak dicari perusahaan, terutama start-up company.


Sedangkan pada kurikulum React and React Native, kamu akan diajari cara membuat dan mengoperasikan teknologi yang terkenal yang dikembangkan oleh media sosial nomor satu di dunia: Facebook. Dalam waktu tiga bulan saja, kamu ditargetkan mampu membuat aplikasi Android dan iOS. 

Kelas online yang terakhir, Web App Development, dikhususkan bagi kamu yang tertarik untuk membangun aplikasi berbasis website. Di kelas ini kamu akan diajari bagaimana tentang basic programming, modern JavaScript, database, testing, hingga men-deploy sebuah program. 

Penasaran bagaimana cara daftarnya? Simak saja video berikut ini.



Jadi, sudah terbayang mau pilih program yang mana? Apa pun pilihanmu, yang jelas, setiap kelas/program/kurikulum yang diselenggarakan oleh HACKTIV8 memiliki banyak keunggulan. Paling tidak ada empat. Apa saja? Ayo kita tilik bersama. 


Semua jenis kurikulum yang diajarkan di HACKTIV8 sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kita tahu bahwa saat ini profesi yang erat kaitannya dengan informasi dan teknologi, semakin dibutuhkan di dunia kerja. Ratusan start-up company bermunculan, berebut pangsa pasar dan hati pelanggan.


HACKTIV8 hadir membekali siapa pun yang ingin menjadi programmer agar terus berkembang. Dengan rupa-rupa silabus yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi zaman sekarang, HACKTIV8 akan membantumu siap bekerja di bidang teknologi dan informasi. 


HACKTIV8 memiliki deretan pengajar dan mentor yang siap membimbingmu hingga lulus. Setiap peserta akan diajarkan sesuai tingkatan, mulai dari dasar-dasar hingga tingkat lanjutan. 

Buat kamu yang tidak punya latar belakang pendidikan teknologi informasi, jangan berkecil hati. Sebab mentor HACKTIV8 akan mengajarimu dengan baik hingga menjadi ahli. 

Kalau kamu penasaran seperti apa keseriusan mentor HACKTIV8 dalam mendidik para pelajar, silakan simak testimoni Wika Silo, salah satu pengajar di HACKTIV8, melalui video berikut ini.



Salah satu cara mengukur seberapa bagusnya program belajar adalah dengan melihat lulusannya. Saat ini, HACKTIV8 telah meluluskan lebih dari 1.000 pelajar. Sebagian besar lulusan HACKTIV8 kini telah bekerja sesuai bidangnya. 

Asal tahu saja, rata-rata pendapatan yang diterima alumni HACKTIV8 ketika bekerja adalah Rp11 juta! Itu artinya, alumni HACKTIV8 benar-benar dihargai oleh perusahaan pemberi kerja karena peningkatan kemampuan yang dimilikinya. Simak juga beberapa testimoni hiring partners tentang alumni HACKTIV8 pada gambar di bawah ini.



HACKTIV8 telah bekerja sama dengan lebih dari 250 hiring partners. Dengan kata lain, belajar di HACKTIV8 akan memperbesar peluangmu diterima kerja di banyak perusahaan terkenal. Mulai dari Bukalapak, Grab, DANA, Payfazz, Qlue, hingga Tokopedia.


Tidak perlu bersusah-payah melamar kerja. Ketika lulus dari HACKTIV8, kamu akan langsung masuk radar hiring partners yang akan menawarimu pekerjaan bilamana dibutuhkan. Cukup bermodal tekad, tekun, dan sabar, kariermu akan melesat tajam. 


Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan banyak tenaga kerja di bidang teknologi dan informasi dalam menghadapi era digital. Kita tidak boleh lagi hanya jadi penonton di negeri sendiri. Sudah saatnya kita mencetak anak bangsa berdaya saing, demi mewujudkan cita-cita bangsa menjadi negara maju pada masa depan.


Dengan berbagai program jempolan, HACKTIV8 turut membantu mencetak anak bangsa yang berdaya saing, khususnya di bidang informasi dan teknologi. Apalagi, kursus yang disediakan HACKTIV8 tidak hanya bisa diikuti secara offline saja, melainkan online pula. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kamu yang bercita-cita menjadi programmer untuk terus bermalas-malasan. 

Maka dari itu, segera daftarkan dirimu di HACKTIV8 dan jadilah seorang programmer andal di masa depan! [Adhi] 

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam HACKTIV8 Blog Competition. Gambar bersumber dari koleksi pribadi penulis, Pixabay, dan HACKTIV8. Video bersumber dari channel YouTube HACKTIV8. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Mudahnya Berbelanja Tanpa Kasir dan Uang Tunai di Bliblimart Offline Store



Bosan mengantre tiap kali berbelanja di minimarket? Lupa mengambil uang ketika jadwal belanja bulanan tiba? Tenang. Datang saja ke Bliblimart. Offline store besutan Blibli.com ini punya segudang inovasi yang memudahkanmu berbelanja di toko tanpa kasir dan uang tunai!

Bukan Blibli.com namanya kalau tidak selalu berinovasi. Setelah sukses dengan Bliblimart online, Blibli.com baru saja meresmikan Bliblimart offline store pada Selasa, 28 Januari 2020. Bliblimart bukanlah offline store (toko fisik) biasa. Berbeda dari offline store pada umumnya, di sini kamu bisa berbelanja tanpa kasir dan uang tunai. Cepat, praktis, dan mudah.

Saya adalah salah satu blogger yang cukup beruntung bisa merasakan sensasi berbelanja langsung di Bliblimart. Pada acara “Ngopi Yuk Special: Blogger Exclusive Gathering”, Kamis, 30 Januari 2020, sejumlah blogger—termasuk saya—diajak berkeliling kantor Blibli.com, termasuk berbelanja di Bliblimart. Lokasinya tepat berada di Gedung Sarana Jaya Lantai 1, Jalan Budi Kemuliaan No.1, Jakarta Pusat.



Dan ternyata, apa yang ramai diberitakan sejumlah media beberapa hari ke belakang benar adanya. Di Bliblimart, kamu tinggal memilih barang belanjaan sesuka hatimu. Yang unik, ketika hendak membayar kamu tidak perlu berurusan dengan kasir. Kamu hanya perlu memindai (scan) produk yang ingin dibeli, lewat tombol scan yang ada di fitur “Pencarian” pada aplikasi Blibli.com di ponselmu.

Tidak perlu bingung atau takut salah ketika memindai barang belanjaan. Sebab ada shopkeeper (petugas toko) yang siap membimbingmu dengan senyuman bilamana dibutuhkan.



Setelah semua barang belanjaanmu berhasil dipindai, pembayaran bisa dilakukan dengan menggunakan uang elektronik. Untuk tahap awal, uang elektronik yang diterima di Bliblimart adalah GO-PAY. Jangan khawatir. Ke depan, Bliblimart berjanji akan menambah metode pembayaran uang elektronik selain GO-PAY.

Aji Yogantara, Senior Manager Blibli.com, menjelaskan bahwa dibukanya Bliblimart Offline Store sejalan dengan strategi Omnichannel (segala saluran) yang sedang dikembangkan oleh Blibli.com.



“Bliblimart akan memberikan offline-to-online shopping experience kepada para pelanggan,” tutur Aji. Dengan kata lain, pelanggan dapat memilih barang secara offline, tetapi melakukan pembayaran secara offline dengan menggunakan uang elektronik.

Apa yang dikatakan Aji memang benar. Saya yang mendapatkan kesempatan langsung berbelanja di Bliblimart benar-benar merasakan pengalaman baru. Pasalnya, dengan berbelanja di Bliblimart, ada lima keunggulan yang bisa kita dapatkan.

1. Lebih Cepat Tanpa Kasir

Sebuah studi yang dilakukan Timetric pada 2016 bertajuk Insight Report: The Future of Consumer Payments membuktikan bahwa transaksi tanpa kontak (contactless transaction) lebih cepat.



Rata-rata dibutuhkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu transaksi hanya satu hingga dua detik saja. Ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan transaksi dengan kontak langsung atau kasir yang membutuhkan waktu paling cepat enam hingga tujuh detik.

Kajian Timetric terbukti benar ketika saya berbelanja di Bliblimart. Pasalnya, transaksi di Bliblimart benar-benar dilakukan tanpa kasir. Kita tinggal memindai barang belanjaan dengan smartphone, kemudian membayarnya melalui GO-PAY. Cukup mainkan jari, barang pun terbeli.

2. Praktis dan Aman Tanpa Uang Tunai

Membayar barang belanjaan di Bliblimart harus dilakukan secara non-tunai dengan menggunakan uang elektronik. Artinya, tidak perlu repot-repot membawa uang tunai, kita sudah bisa berbelanja di Bliblimart.



Kemudahan ini menjadikan Bliblimart lebih praktis dibandingkan toko atau pasar swalayan lainnya. Cukup mengisi saldo di akun GO-PAY, barang belanjaan langsung bisa dibayar. Tanpa uang tunai, kita pun terhindar dari berbagai risiko keamanan seperti kecopetan, uang hilang, atau uang palsu. Praktis dan aman.

3. Banyak Pilihan

Seluruh barang kebutuhan sehari-hari, sebagaimana biasa kita temui di toko atau pasar swalayan, bisa kita dapatkan di Bliblimart. Saya mencatat, ada beberapa kategori produk yang dijajalan di Bliblimart, antara lain groceries, perawatan tubuh, makanan dan minuman (baik kemasan maupun cepat saji), jajanan UMKM, kopi kekinian, mainan dan video games, hingga aksesoris seperti tas.



Selain itu, di Bliblimart juga menyediakan tempat bersantai yang sangat nyaman dan lega. Pelanggan yang membeli produk makanan dan minuman dapat menikmatinya langsung tanpa harus keluar store.

4. Mendorong Self-Service dan Digitalisasi

Inovasi yang dilakukan Blibli.com dengan membuka gerai Bliblimart secara langsung mengedukasi pelanggan untuk berbelanja secara self-service. Dengan kata lain, pelanggan bebas memilih produk dan membayarnya sendiri tanpa bantuan kasir.



Ini sejalan dengan era digitalisasi yang tengah berkembang saat ini. Toko yang menerapkan konsep self-service, seperti Bliblimart, lebih efisien dibanding toko yang masih menggunakan kasir. Bagi pelanggan, kemudahan ini memberikan pengalaman berbelanja yang lebih mengedukasi dan mandiri.

Area Pengembangan

Meski punya segudang keungggulan, Bliblimart masih punya beberapa area pengembangan. Saya mencatat, setidaknya ada tiga hal.

Pertama, jumlah gerai. Mengingat baru diluncurkan pada Januari 2020, saat ini Bliblimart baru tersedia di Gedung Sarana Jaya, Jakarta Pusat. Ke depan, Bliblimart berencana akan membuka sejumlah gerai baru di berbagai kota di Indonesia. Kita tunggu saja!

Kedua, jam operasional. Bliblmart saat ini beroperasional pada hari kerja, sejak pukul 08.00 sampai dengan 18.00, lantaran lokasinya yang masih terbatas di Gedung Sarana Jaya (area perkantoran). Andai gerai baru dibuka, akan lebih baik bila Bliblimart menambah jam operasional, minimal hingga pukul 21.00.

Ketiga, metode pembayaran. Saat ini pembayaran di Bliblimart baru bisa dilakukan dengan menggunakan GO-PAY. Ke depan, Bliblimart berencana untuk menambah saluran pembayaran selain GO-PAY, dengan tetap mengusung konsep non-tunai.

Meski masih memiliki beberapa area pengembangan, hal tersebut tidak menahan saya untuk memberi “dua jempol” untuk inovasi yang dilakukan oleh Bliblimart. Sebab di Bliblimart, berbelanja menjadi lebih cepat, praktis, dan mudah.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera nikmati sensasi berbelanja tanpa kasir dan uang tunai hanya di Bliblimart! [Adhi]

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Bliblimart Live Blog Competition yang diselenggarakan oleh Blibli.com pada acara “Ngopi Yuk Special: Blogger Exclusive Gathering”. Gambar bersumber dari koleksi pribadi penulis. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

Belanja di Pasar Tanpa Keluar Rumah? Pakai Aplikasi Tumbasin Saja!


Pasar tradisional, bagi sebagian orang, identik dengan kata kotor, becek, atau kampungan. Tak ayal, konotasi itu membuat warga, terutama di kota besar, lebih memilih berbelanja di pasar modern ketimbang di pasar tradisional.

Padahal, segudang keunggulan bisa kita dapatkan ketika berbelanja di pasar tradisional. Mulai dari harga yang lebih murah, pilihan produk yang lebih lengkap, hingga turut membantu meningkatkan usaha mikro dan kecil.

Untung saja, era digital telah memberi kita banyak kemudahan, termasuk dalam urusan berbelanja. Sekarang, belanja di pasar tradisional tidak perlu keluar rumah. Cukup pakai aplikasi Tumbasin, pesanan kamu akan diantar sampai ke pintu depan.


***

Meski zaman telah berganti, pasar tradisional masih menjadi lokasi favorit warga Indonesia dalam berbelanja. Alasannya satu: harganya lebih bersahabat ketimbang pasar modern. Singkat kata, lebih merakyat.

Selain itu, produk yang dijajakan juga lebih klop dengan tradisi dan kebudayaan Indonesia. Jajanan pasar, misalnya. Di pasar modern, kita sulit menemukan klepon, arem-arem, getuk lindri, cenil, atau sederet jajanan pasar lainnya. Ini yang membuat pasar tradisional tetap bertahan di tengah gempuran ekspansi pasar swalayan atau modern.

Hanya saja, segudang aktivitas dan kesibukan warga, terutama di kota besar, membuat pasar tradisional acap kali dipandang sebelah mata. Maklum saja, kenyamanan masih menjadi isu utama ketika berbelanja di pasar tradisional. Berbeda dengan pasar swalayan yang punya pendingin ruangan, kita kerap berpeluh keringat ketika berbelanja di pasar tradisional. Terkadang, kita mesti menerjang becek atau bermandi hujan untuk sekadar membeli bumbu dapur, sayur-mayur, atau buah-buahan.

Dengan kata lain, kenyamanan menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan warga era digital saat berbelanja. Semakin nyaman, semakin dipilih. Semakin mudah, semakin digemari. Buktinya, banyak pula warga yang tetap memilih berbelanja di pasar swalayan meski harga yang ditawarkan lebih mahal.

Kalau kamu pilih mana? Berbelanja di pasar tradisional atau modern?


Apa pun pilihanmu, yang jelas, saya tetap memilih berbelanja di pasar tradisional. Selain lebih murah, dengan berbelanja di pasar tradisional kita turut serta membantu meningkatkan kapasitas usaha kecil dan mikro (UKM). Karena, sebagaimana kita ketahui, pedagang pasar tradisional mayoritas berasal dari kalangan UKM.

Apalagi, kini berbelanja di pasar tradisional semudah memainkan jari di ponsel pintar. Bagi kamu yang tinggal di Semarang, sudah tersedia Aplikasi Belanja Pasar Tradisional Online di Google Playstore bernama Tumbasin. Hanya bermodal ponsel pintar, kamu bisa memesan rupa-rupa dagangan pasar dengan cepat, murah, dan mudah.

Penasaran bagaimana mudahnya berbelanja di pasar tradisional dengan Tumbasin? Simak pengalaman saya berbelanja dengan aplikasi Tumbasin dalam beberapa alinea ke depan.




Sebagai karyawan kantoran, satu-satunya alasan saya berbelanja di pasar tradisional adalah memenuhi kebutuhan serat sehari-hari. Maklum saja, kewajiban berangkat-pagi-pulang-malam tidak bisa membuat saya leluasa berbelanja di pasar tradisional. Alhasil, makanan cepat saji menjadi pilihan utama saya ketika sarapan, makan siang, dan makan malam.

Akan tetapi, untuk menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan buah harian, pasar tradisional tetap menjadi lokasi pilihan utama saya. Buah favorit saya adalah pisang. Biasanya, dalam sehari saya mengonsumsi pisang hingga tiga kali. Selain mudah dikonsumsi, pisang juga mengandung segudang nutrisi bagi kebaikan tubuh seperti karbohidrat, vitamin C, potasium, dan serat.




Dengan memakai aplikasi Tumbasin, saya bisa membeli pisang sebelum berangkat kerja atau di sela-sela waktu istirahat kerja. Pesan sekarang, besok sudah tiba di rumah. Tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja di pasar tradisional. Mudah, bukan?

Lagi pula, cara berbelanja lewat aplikasi Tumbasin juga sangat mudah. Cukup dengan lima langkah mudah, pesananmu akan tiba dengan selamat sampai di rumah. Apa saja? Ayo kita bahas satu per satu.



Setelah mengunduh aplikasi Tumbasin dari Google Playstore secara gratis, kamu bisa langsung meregistrasi data dirimu. Tidak perlu repot-repot mengisi formulir, sebab aplikasi Tumbasin memberi kamu dua pilihan registrasi.


Kamu bisa log-in dengan menggunakan akun Google, ataupun mendaftarkan diri lewat email. Saya memilih cara yang pertama karena lebih mudah. Cukup sekali sentuh, kamu bisa langsung masuk dan menggunakan aplikasi Tumbasin. Tidak bertele-tele alias cepat dan mudah.




Setelah sukses registrasi, kamu akan masuk ke menu pilihan pasar secara otomatis. Untuk saat ini, ada empat pilihan pasar tradisional yang seluruhnya terletak di kota Semarang. Mulai dari Pasar Karangayu, Pasar Peterongan, Pasar Pedurungan, hingga Pasar Bulu.




Saya memilih Pasar Karangayu karena lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Selain itu, produk pisang yang dijajakan di sana juga lebih beragam. Namun demikian, kamu bisa bebas memilih pasar sesuka hati dan kebutuhanmu.




Setelah menentukan lokasi pasar tradisional, sekarang, kamu bisa memilih produk sesuai kebutuhanmu. Tenang saja. Kamu tidak perlu repot memilih dan memilah produk seperti berbelanja langsung di pasar tradisional. Sebab aplikasi Tumbasin telah mengelompokkan produk ke dalam tujuh jenis kategori.

Mulai dari sayuran, lauk pauk, bumbu, seafood, sembako, jajanan, hingga buah. Kalau masih bingung, kamu juga bisa menemukan produk yang banyak dibeli orang (best seller) di menu utama aplikasi Tumbasin.

Asal tahu saja, pilihan produk yang ditawarkan benar-benar selengkap dan sebanyak berbelanja di pasar tradisional. Setiap kategori produk berisi belasan hingga puluhan jenis produk.




Buah-buahan, misalnya. Saya menghitung ada 51 jenis buah yang siap kamu pilih dalam aplikasi Tumbasin. Mulai dari nanas kupas, pisang susu, salak pondoh, melon, kedondong, bengkuang, hingga tomat hijau. Untuk kategori pisang saja, ada lima jenis: pisang susu, pisang tanduk, pisang raja, pisang kapok, dan pisang ambon. Untuk kali ini, pilihan saya jatuh pada pisang susu.

O ya, kalau kamu malas men-scroll layar ponsel ke bawah, kamu juga bisa mengetik kata kunci produk yang kamu cari di kolom pencarian yang terletak di atas layar. Sekali ketik, produk yang sesuai dengan kata kunci yang kamu masukkan akan segera ditampilkan. Mudah, bukan?



Setelah memilih produk, kamu akan diminta mengisi formulir alamat pengantaran. Ada beberapa data yang mesti kamu isi, yaitu nama penerima, alamat pengantaran, email, dan nomor telepon. Kalau kamu ingin menambah informasi bagi kurir, kamu juga bisa menulisnya di kolom catatan order.



Dengan begitu, kamu tidak hanya bisa berbelanja untuk dirimu sendiri, tetapi juga orang lain. Cukup masukkan nama dan alamat rumah orang yang kamu tuju, kurir Tumbasin akan mengantar belanjaanmu hingga ke lokasi tujuan. Asalkan, lokasinya berada di sekitar kota Semarang, ya!



Sudah puas berbelanja, kini saatnya membayar. Saat ini, Tumbasin memiliki dua metode pembayaran yang bisa kamu pilih. Boleh membayar tunai kepada kurir saat barang tiba di rumah, boleh juga membayar lewat transfer antarbank. Setelah menentukan pilihan membayar, aplikasi Tumbasin akan memberimu nomor order.

Untuk pilihan yang kedua, kamu bisa membayar belanjaanmu ke rekening Tumbasin. Untuk saat ini, Tumbasin baru menyediakan BCA sebagai rekening tujuan. Bila kamu nasabah bank selain BCA, maka kamu akan dikenakan biaya transfer antarbank sesuai dengan kebijakan bankmu.



Untuk kali ini, saya memilih metode pembayaran transfer antarbank. Setelah transfer, buktinya bisa kamu kirim ke Admin Tumbasin via chat Whatsapp sebagai konfirmasi pembayaran.

Tidak perlu berepot-repot membuka aplikasi Whatsapp. Cukup tekan ikon telepon di sebelah kanan bawah, layar ponselmu akan terhubung ke Whatsapp Admin Tumbasin secara otomatis. Tak berapa lama, Admin Tumbasin akan mengonfirmasi pesananmu berikut estimasi waktu pengantaran.

O ya, kalau kamu pesan hari ini, barang akan diantar ke rumahmu besok pagi, pukul 06.00 s.d. 10.00 pagi. Jadi, pastikan daftar belanjaanmu sudah benar, ya!


Dan, keesokan harinya, pesanan saya benar-benar tiba di rumah dengan selamat. Benar-benar dua jempol untuk aplikasi Tumbasin, deh! Tidak perlu keluar rumah, saya bisa berbelanja di pasar tradisional dengan sangat mudah.



Berbekal pengalaman berbelanja di pasar tradisional lewat aplikasi Tumbasin, menurut saya, ada enam keunggulan yang menjadi alasan mengapa kamu harus menggunakan Tumbasin.








Seperti cerita saya, kamu tidak perlu repot ketika ingin berbelanja di pasar tradisional. Lewat aplikasi Tumbasin, kamu tinggal memilih produk pasar sesuai kebutuhanmu. Keesokan harinya, kurir Tumbasin akan mengantar hingga alamat tujuan.

Lagi pula, kamu bisa bayar di rumah, atau transfer antarbank. Lebih praktis dan mudah!




Tumbasin memberikan garansi setiap kamu membeli produk. Bila kamu tidak puas dengan kualitas produknya, Tumbasin akan menggantinya di hari yang sama. 

Namun demikian, berdasarkan pengalaman saya, kualitas produk yang saya terima benar-benar sesuai dengan pilihan saya. Jadi, tidak ada alasan untuk mengajukan claim kepada Tumbasin.




Pakai aplikasi Tumbasin, kamu bisa berbelanja kapan saja. Bahkan ketika malam hari. Yang penting, kamu memesan sebelum pukul 12.00 malam. Pesananmu akan diantar keesokan harinya pukul 06.00 s.d. 10.00 pagi.

Berbeda jika kamu berbelanja langsung di pasar tradisional. Kamu harus datang pagi-pagi buta supaya tidak kehabisan. Lewat Tumbasin, kamu bisa berbelanja kapan pun kamu suka.



Berapa jam yang kamu butuhkan untuk berbelanja? Satu jam, dua jam, atau lebih? Nah, lewat aplikasi Tumbasin, kamu bisa menghemat waktu berbelanja. Cukup luangkan waktu 5 s.d. 10 menit, kamu bisa berbelanja sesuai kebutuhanmu lewat aplikasi.

Jadi, kamu punya banyak waktu untuk melakukan hal produktif lainnya. Singkat kata, Tumbasin sangat cocok untuk kamu yang memiliki agenda padat. Seperti saya—si pekerja kantoran—kamu tetap bisa berbelanja di pasar tradisional.



Harga yang tercantum di aplikasi Tumbasin adalah harga yang sama ketika kamu berbelanja di pasar tradisional. Hanya saja, ada biaya antar, yang menurut saya sangat terjangkau.

Untuk pembelian pisang susu seperti di atas, biaya antarnya hanya Rp10 ribu. Murah, kan? Dibanding ongkos bensin atau transportasi umum ketika berbelanja langsung ke pasar tradisional, menurut saya, biaya antar tersebut jauh lebih murah.



Dengan berbelanja di pasar tradisional, berarti kita sudah turut serta membantu perekonomian rakyat. Sebab pedagang pasar tradisional hampir seluruhnya berasal dari golongan UKM, tulang punggung ekonomi rakyat.

Ketika Tumbasin hadir, maka cakupan pemasaran pasar tradisional menjadi lebih luas. Selain tatap muka, kini pelanggan pasar tradisional juga bisa membeli secara online dengan menggunakan aplikasi Tumbasin. Artinya, digitalisasi pasar tradisional bukan lagi sekadar angan-angan.



Meski punya segudang keunggulan, aplikasi Tumbasin masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Saya mencatat, setidaknya ada dua hal.

Pertama, untuk saat ini, lokasi pasar dan antar masih seputar area Semarang. Kalau aplikasi buatan anak bangsa ini terus kita gunakan, bukan tidak mungkin ke depan dikembangkan. Paling tidak, pasar-pasar tradisional di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, bisa dicakup pula. Kita tunggu saja!

Kedua, pembayaran non-tunai masih terbatas pada satu bank: BCA. Alhasil, ada biaya transfer antarbank bila pelanggan tidak memiliki rekening BCA. Ke depan, kita patut berharap metode pembayaran non-tunai terus diperluas. Selain jumlah bank yang ditingkatkan, juga dibuka kemungkinan pembayaran dengan menggunakan uang elektronik dan dompet digital untuk mengakomodasi kebutuhan generasi milenial.



Namun demikian, secara umum aplikasi Tumbasin sudah melebihi kata sempurna. Penggunaannya mudah, layanan pelanggannya pun ramah. Meski masih memiliki beberapa area pengembangan, itu tidak mengubah rating aplikasi Tumbasin yang saya setor di Google Playstore: Bintang Lima!

Jadi, tunggu apa lagi? Segera unduh aplikasi Tumbasin dan selamat berbelanja di pasar tradisional! [Adhi]


***

Artikel ini diikutsertakan dalam Tumbasin Blog Competition bertema “Ceritakan Pengalaman Kamu Berbelanja dengan Aplikasi Tumbasin.id”. Gambar bersumber dari koleksi pribadi penulis. Sedangkan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.