Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan. ~ QS Ar-Rahman: 60.
***
Ramadan 2019 memang sudah berlalu. Namun, selalu ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari kisah Ramadan di berbagai penjuru dunia. Aktivitas ibadahnya memang serupa—sama-sama berpuasa dan mendirikan salat malam. Akan tetapi, budaya dan suasana yang menghiasinya boleh jadi berbeda.
Di Indonesia, semarak Ramadan senantiasa menggema ke seluruh pelosok negeri. Genderang beduk sahut-menyahut setiap kali azan Magrib berkumandang. Derap langkah jamaah salat tarawih menghiasi malam demi malam pada Bulan Suci. Tidak ketinggalan, teriakan anak-anak dan pemuda masjid memecah kesunyian malam saban waktu sahur tiba.
Puncaknya, mudik ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengan sanak famili menjadi budaya yang tidak bisa dilepaskan ketika merayakan Idulfitri. Inilah suasana Ramadan yang lazim kita rasakan di Nusantara.
Yang menarik, keindahan Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat muslim saja, tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia. Contoh sederhananya bisa kita temukan pada saat halalbihalal. Saling memaafkan pasca Ramadan, tanpa memandang latar belakang agama, adalah salah satu nilai luhur yang dimiliki Indonesia.
Lantas, bagaimana dengan rakyat Indonesia yang berada di luar negeri? Terutama mereka yang tinggal di negara yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Di Amerika, misalnya. Apakah mereka merasakan kegembiraan yang sama?


Meskipun saya belum pernah melewatkan Ramadan di Amerika, saya berani menduga bahwa tantangan berpuasa di sana tidaklah serupa. Saya beri contoh sederhana. Di Amerika, kita tidak bisa menemukan penjaja takjil di pinggir jalan setiap kali beduk Magrib akan berkumandang. Benar, kan?
Kendatipun demikian, bagi Pemerintah Amerika, ternyata bulan Ramadan cukup menarik perhatian. Sebagai bukti, Presiden Donald Trump sampai-sampai mengeluarkan presidential message berkenaan dengan bulan suci Ramadan.
Melalui laman resmi Gedung Putih (5/5), ia mendoakan agar umat muslim di Amerika dapat melaksanakan ibadah Ramadan dengan baik. Tidak lupa, ia juga berharap agar semangat Ramadan bisa mempererat tali persaudaraan antarpenduduk agar tercipta kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis.
Tidak berhenti sampai di sana, orang nomor satu di Amerika itu juga menyelenggarakan acara buka puasa bersama di Gedung Putih. Berbagai komunitas muslim Amerika turut hadir untuk menikmati jamuan makan malam di sana.
Dalam sambutannya, ia menjamin bahwa setiap penduduk di Amerika, baik muslim maupun nonmuslim, pendatang maupun lokal, memiliki hak yang sama untuk bisa beribadah dengan aman dan damai. Ia juga berharap agar semangat Ramadan dapat menjadi jalan terciptanya kerukunan antarkomunitas di Amerika.
Untuk menyimak pidato Presiden Trump secara utuh, silakan tonton video yang saya ambil dari saluran YouTube milik Global News berikut ini.


Apa yang dilakukan Presiden Trump sedikit banyak menunjukkan kepada kita, betapa besar makna Ramadan bagi Negeri Paman Sam. Bisa jadi, besarnya perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Amerika kepada umat muslim disebabkan karena pesatnya perkembangan umat muslim di sana.
Pew Research Center dalam artikel bertajuk New Estimates Show US Muslim Population Continues to Grow, menampilkan fakta yang cukup menarik. Hasil penelitian lembaga survei tersebut menunjukkan terdapat 3,45 juta umat muslim di Amerika pada 2017.
Dalam 10 tahun terakhir, laju pertumbuhan penduduk muslim di Amerika pun terbilang sangat pesat, yakni mencapai 46,81 persen atau hampir 5 persen per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk Amerika sendiri, yang berada di kisaran 1 hingga 2 persen per tahun.
Dari sana, kita pun bisa menduga. Semakin banyak umat muslim di Amerika, maka semakin kental pula nilai-nilai Islam di sana. Pada bulan Ramadan, bulan sucinya umat muslim sedunia, adalah momen yang paling tepat untuk mengukur sejauh mana makna kebaikan dan kedamaian Islam menghiasi kehidupan masyarakat Amerika.

Menebar Kebaikan, Menjalin Tali Persaudaraan
Salah satu kisah tentang indahnya kebersamaan pada bulan suci Ramadan bisa kita temui di sebuah masjid di Virginia. Setelah menunaikan ibadah puasa, umat muslim berbondong-bondong untuk berbuka bersama.
Yang menarik, undangan buka bersama tidak hanya ditujukan bagi umat muslim saja, tetapi juga kepada penduduk sekitar tanpa memandang asal-usul agamanya. Semua bisa hadir menikmati jamuan di dalam area masjid. Lewat santap malam, mereka melebur menjadi satu dalam sebuah kerangka kebersamaan.
Penduduk nonmuslim yang ingin tahu lebih jauh tentang Islam, baik mereka yang sekadar penasaran atau bahkan yang ingin serius belajar, diberikan kesempatan seluas-luasnya. Mereka bisa mengamati bagaimana cara umat muslim menunaikan salat dan mengaji kitab suci Alquran.
Seton Mcilroy, seorang wanita Katolik yang turut hadir di sana, bahkan sempat mengikuti salat tarawih berjamaah. Kepada VOA News, ia mengaku sangat senang bisa merasakan nilai-nilai kedamaian yang diusung Islam secara langsung. Sangat jauh dari kesan negatif yang acap kali ia temui saat membaca berita atau menonton televisi.
“Saya bisa merasakan kehadiran Tuhan meskipun tidak berada di gereja,” tuturnya pasti.
Liputan mengenai indahnya kebersamaan lintas agama yang dihadirkan di masjid Virginia bisa pembaca teliti melalui video di bawah ini.



Indahnya kebersamaan pada bulan Ramadan bukan saja ditunjukkan dari buka puasa bersama atau salat tarawih berjamaah di masjid Virginia, tetapi juga penggalangan donasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga muslim di Amerika.
Alexandria, lembaga donasi muslim nonprofit terbesar di Amerika, seperti dilansir VOA News, menyebutkan jumlah donasi biasanya meningkat pesat pada bulan Ramadan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
Bagi donatur muslim, bulan Ramadan adalah bulannya berzakat. Di samping zakat fitrah—yang memang hanya diwajibkan pada bulan Ramadan—ada pula zakat penghasilan. Biasanya, umat muslim Amerika menentukan haul (batas waktu yang menjadi syarat wajib zakat) bertepatan dengan bulan Ramadan. Alasannya sederhana: supaya lebih mudah mengingatnya.
Bagi donatur nonmuslim, mereka tertarik untuk berdonasi di bulan Ramadan karena alasan kemanusiaan. Mereka ingin ikut andil dalam mengatasi ketimpangan dan kemiskinan di dunia. Program donasi dan zakat dari berbagai lembaga donasi muslim lantas menjadi jembatan yang paling pas untuk menyalurkan kebaikan hati mereka.


Dalam pelaksanaannya, Alexandria memang memiliki program yang terukur. Sekitar 70 persen dari donasi yang terkumpul mereka salurkan untuk mengatasi masalah kelaparan dan kesehatan di seluruh dunia, khususnya di Afrika dan Asia. Sisanya, mereka tujukan untuk membantu korban bencana alam dan kemiskinan di Amerika.
Meski membawa nama Islam, pada praktiknya setiap lembaga donasi muslim nonprofit di Amerika tidak membeda-bedakan agama.
“Kemiskinan tidak mengenal agama. Ketika Anda lapar, saya tidak akan pernah bertanya apa agama Anda,” kata Halil Demir, Direktur Eksekutif The Zakat Foundation of America.
Apa yang ditunjukkan umat muslim di Amerika sejatinya mencerminkan nilai-nilai luhur dari ajaran Islam. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa berbuat baik kepada sesama. Islam juga memerintahkan muslim agar menafkahkan sebagian dari harta yang dimiliki. Kedua nilai inilah yang ingin ditunjukkan oleh umat muslim di Amerika sepanjang bulan Ramadan.

Peran Indonesia
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia tidak mau ketinggalan dalam dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di Amerika. Kemenlu, sebagaimana dilansir MerahPutih, memperkirakan ada sekitar 127.200 orang WNI yang tinggal di Amerika. Sebagian besar bekerja, sebagian lagi menuntut ilmu.
Lantaran merasa senasib sepenanggungan, berbagai komunitas pun mulai bermunculan. Bagi umat muslim, IMSA (Indonesia Muslim Society in America) adalah salah satunya. Organisasi muslim nonprofit yang beranggotakan WNI di Amerika dan diaspora ini telah berdiri sejak 1998.
Sejak itu pula, IMSA menjadi wadah bagi WNI muslim di Amerika untuk saling berbagi dan menyebarkan ajaran Islam. Berbagai program pun dihadirkan untuk menebar kebaikan.


Pada bulan Ramadan tahun ini, IMSA baru saja menyelenggarakan program IMSACARE. Melalui program ini, WNI muslim di Amerika bisa berbagi di Bulan Suci. Jenisnya bermacam-macam. Mulai dari zakat fitrah, fidyah, infak, sedekah, buka puasa bersama, berbagi dengan yatim, wakaf 1 juta Alquran, hingga pemberian beasiswa.
Selain menyalurkan donasi, IMSA juga aktif berdakwah. Salah satunya lewat siaran radio via internet yang bisa Anda akses melalui laman ini. Radio yang telah mengudara sejak 2004 ini bertujuan mengenalkan nilai-nilai Islam di Amerika dan Kanada lewat siaran yang berkualitas dan bermanfaat.
Topik yang disajikan tidak hanya mengenai kajian Alquran, tetapi juga ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan budaya. Dengan demikian, para pendengar bisa mempelajari Islam dari berbagai sudut pandang.
Dalam berbagai kesempatan, IMSA juga sering menyelenggarakan seminar dan bincang-bincang seputar kehidupan di Amerika. Umumnya, acara ini diperuntukkan bagi WNI yang akan tinggal di Amerika, baik karena urusan pekerjaan ataupun perkuliahan.
Dengan adanya acara ini, WNI yang akan menetap di Amerika bisa cepat beradaptasi dengan suasana di sana. Mengetahui di mana lokasi kedutaan, tempat membeli makanan halal, ataupun letak masjid terdekat dari tempat tinggal.


Namun demikian, yang paling ditunggu-tunggu oleh WNI muslim di Amerika adalah agenda tahunan bertajuk Muktamar IMSA. Sesuai namanya, ini adalah acara silaturahmi terbesar WNI muslim di Amerika. Umumnya diselenggarakan pasca bulan Ramadan.
Sebagai gambaran, Muktamar IMSA 2018 dihadiri tidak kurang dari 1.100 orang peserta. Menghadirkan berbagai narasumber seperti duta besar, alim ulama, dai, dan tokoh publik lainnya. Melalui acara ini, rasa persaudaraan di antara anak bangsa akan terjalin erat, serta menjadi contoh bagi umat muslim dari negara lain dalam menunjukkan nilai-nilai keislaman di Amerika.
Jadi, kalau ada waktu luang dan rezeki lapang, jangan lewatkan Muktamar IMSA 2019 yang akan diselenggarakan di Chicago pada bulan depan.

Menyimpulkan Makna Ramadan
Ramadan adalah bulan berbagi kebaikan. Mungkin itu adalah kalimat yang paling tepat untuk memaknai Ramadan di Negeri Paman Sam. Status sebagai umat minoritas tidak serta-merta menjadikan muslim Amerika berdiam diri.
Mereka turut memperkenalkan dan menghadirkan kebaikan ajaran Islam kepada siapa pun tanpa memandang asal-usul agama. Mereka merangkul siapa saja yang merasa kelaparan untuk bersama menikmati keberkahan sajian iftar. Tiada lain yang mereka harapkan kecuali pahala dari sisi Tuhan.
Maka, sudah sepatutnya kita menarik pelajaran dari sana. Melalui perbuatan mulia, dakwah bisa hadir di tengah-tengah Amerika. Saya percaya, inilah yang menyebabkan jumlah umat muslim di sana mampu berkembang dengan pesat melebih laju pertumbuhan penduduknya.
Mereka tertarik dengan Islam lantaran menyaksikan nilai luhur yang ditunjukkan oleh umat muslim. Tidak dengan paksaan, tidak pula karena desakan. Sebab kedamaian dan ketenteraman hanya bisa dihadirkan oleh senyuman, bukan dengan gencatan apalagi makian.
Akhir kata, setelah melalui bulan Ramadan, semoga kita termasuk ke dalam barisan orang-orang yang gigih menebar kebaikan, bukan kebencian. [Adhi]
***
Artikel ini diikutsertakan dalam IMSA Blog Competition.


Referensi
[1] Presidential Message on Ramadan 2019; The White House.
[2] New Estimates Show US Muslim Population Continues to Grow; Pew Research Center.
[3] Muslims Give Millions to Islam Charity Organizations in US During Ramadan; VOA News.
[4] Jumlah WNI di Luar Negeri Capai Jutaan Orang; MerahPutih.
[5] Muktamar IMSA Ajang Silaturahim Kaum Muslim Di Amerika Serikat; Suara Karya.
[6] Indonesia Muslim Society in America at a Glance; IMSA.
[7] People of Different Faiths Unite for Muslim Ramadan Meal; VOA News YouTube channel.
[8] Trump attends Ramadan iftar dinner at The White House, Global News YouTube channel.



“Kapan pulang, Nak?”
Kalimat di atas memang hanya terdiri dari tiga kata. Sederhana dan biasa-biasa saja. Namun ketika terlontar dari lisan seorang Ibu yang merindukan kepulangan anaknya, maknanya sungguh tiada tara.
***
Saban Lebaran menjelang, Ibu selalu mengucapkan kalimat itu dari balik ponselnya. Sering kali suaranya terdengar getir. Sesekali pula saya mendengar isakan. Biasanya dilanjutkan dengan tarikan napas panjang. Saya menduga, itu semua disebabkan oleh gumpalan rindu yang tidak bisa lagi diperam.
Saya pun demikian. Tiada berbeda, sama-sama dirundung rindu.
Sejak kelas 3 SMA, saya memang tidak lagi seatap dengan Ibu. Demi pendidikan dan kualitas otak yang lebih baik, Ibu harus merelakan saya merantau ke luar kota. Tentu saja, awalnya dia tidak rela berpisah raga dengan anak bungsunya. Namun apa daya, kehidupan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Semakin bertambahnya usia, semakin jauh pula jarak di antara kami berdua. Ketika kuliah, saya harus menetap selama empat tahun di Bogor. Tatkala lulus dan memasuki tahun pertama bekerja, tiba-tiba kami sudah terpisah pulau saja. Ibu masih di Bekasi, sedangkan saya mengais rezeki di Bukittinggi.
Hingga kini, saat saya telah berkeluarga dan memasuki tahun kedelapan bekerja, ruang di antara saya dan Ibu semakin melebar. Ketika saya cek lewat Google Map, ada 3.277,5 kilometer jarak yang membentang antara Manado dengan Bekasi. Tatkala saya selami hati, ada jutaan kangen yang terpendam di dalam diri.
Menandatangani kontrak kerja berklausula “bersedia ditempatkan di mana saja” memang sungguh menantang. Sejujurnya, saya memang suka menjelajahi pelosok Nusantara. Guru saya pernah berkata, “Kamu hanya punya satu nyawa, maka gunakanlah waktu yang tersedia untuk mengagumi ciptaan-Nya.”
Saya pun setuju dengan ucapan Sang Guru. Semesta Bumi Pertiwi memang elok tak terperi. Di Sulawesi Utara, saya bahkan pernah mengunjungi tapal batas utara Nusantara. Kepulauan Talaud, namanya. Letaknya berbatasan langsung dengan Filipina. Kalian bisa cek di peta, ukurannya tidak besar, hanya seukuran jempol saja.
Menikmati keindahan Pantai Sara Besar—salah satu pantai pasir putih tak berpenghuni di Kepulauan Talaud—adalah sececap rasa manis ketika bertugas di sana. Tentu saja, kalian tidak akan pernah bisa menemui pantai seperti itu di kota-kota besar. Sebab Sara Besar tercipta bagi para pejalan yang gemar tantangan.


Kembali ke persoalan rindu, jauhnya jarak di antara kami berdua memaksa saya untuk tidak bisa pulang sekehendak hati. Maklum saja, perjalanan Manado—Bekasi harus ditempuh dengan pesawat udara plus taksi bandara. Tiga setengah jam di udara, ditambah satu setengah jam di jalan raya.
Selain karena jaraknya yang jauh, saya pun tahu diri. Gaji seorang karyawan biasa tidak cukup untuk pulang-pergi setiap bulan. Bahkan tiga bulan sekalipun masih terasa berat. Habis, mau bagaimana lagi? Semakin ke timur, biaya hidup semakin tinggi. Inilah yang kerap menjadi kendala.
Namun ketika Ramadan tiba, segalanya berubah seratus delapan puluh derajat. Tunjangan Hari Raya (THR) membuat rekening menjadi gendut, walaupun hanya sesaat. Tentu saja, resep menguruskan kembali rekening yang telah menggendut hanya ada tiga: membayar zakat, membeli baju Lebaran, dan mengenggam tiket pulang ke kampung halaman.
Saya pun bersyukur, kebijakan yang ditetapkan turun-temurun sejak Orde Lama tersebut memudahkan saya untuk kembali bertemu Ibu. Yah, paling tidak, satu tahun sekali. Ditambah libur cuti bersama, itu sudah lebih dari cukup untuk melepaskan kerinduan dari ubun-ubun kepala.
Maka, sehari sebelum libur cuti bersama, saya pun segera menelepon Ibu untuk memberi satu kabar gembira.
“Bu, Insyaallah besok aku pulang.”



Indonesia memang unik. Tradisi mudik memang hanya dimiliki oleh negeri kita tercinta. Kalian tidak akan bisa menemui budaya serupa di belahan bumi mana pun. Sebagaimana yang sudah kalian ketahui, mudik identik dengan silaturahmi. Silaturahmi pula yang menjadi tujuan utama mudik: mempererat tali persaudaraan dengan sanak famili dan tetangga.
Yang mungkin belum kalian tahu, istilah mudik sejatinya dipopulerkan oleh pekerja rantau asal Jawa. Mudik adalah singkatan dari dua kata berbahasa Jawa: mulih dilik, yang artinya pulang sebentar.
Meskipun hanya sebentar, “daya isi baterai” saat mudik amat-sangat ampuh. Paling tidak, cukup untuk melepas rasa rindu sebelum akhirnya penuh kembali pada Lebaran tahun depan.
Apa sebab? Hangatnya cinta keluarga dan romantisme kampung halaman yang membuat segalanya menjadi lebih indah.


Itulah yang saya rasakan ketika mencium tangan Ibu pasca salat Idulfitri. Ibu menangis, saya pun tak sanggup menahan derai air mata. Kami berpelukan dengan sangat erat, seakan tiada lagi hari esok yang bisa dicecap.
Sedetik kemudian, kami sudah tercebur ke dalam perbincangan hangat. Lika-liku dunia kerja sepanjang tahun, tuntas saya ceritakan. Rencana karier dan masa depan, kelar saya utarakan. Ibu pun demikian. Aktivitas harian dengan cucu tercinta—buah hati kakak saya—rampung ia kisahkan.
Acara semakin seru ketika kedua kakak saya—beserta suaminya—bergabung di tengah-tengah kami. Tegur sapa dan bermaaf-maafan menjadi agenda tahunan yang kami lakukan. Riuh suara kemenakan yang masih balita menambah hangatnya suasana Lebaran kami tahun ini.
Tak terasa, dua piring ketupat opor ayam plus rendang lenyap tak berbekas. Tentu saja, Ibu terus menyemangati saya untuk memulai piring yang ketiga.
“Tambah lagi, Nak,” ujarnya dengan mata berbinar.
Saya pun tersenyum lebar seraya memungut rantang ketupat sayur.



“Kabarnya tiket mahal ya, Nod?” tanya Kakak saya sembari menyapih buah hatinya.
Pertanyaan yang cukup beralasan, gumam saya dalam hati. Sejak awal tahun, harga tiket pesawat memang terus melambung. Beragam analisis bisa kita temui, baik dari media cetak dan maupun daring. Ada yang bilang efek duopoli, ada pula yang bilang efisiensi biaya. Apa pun alasannya, yang benar-benar tahu hanyalah maskapainya.
Perbincangan seperti ini memang kerap terjadi ketika kumpul keluarga. Isu yang sedang hangat memang sangat menarik untuk dibahas. Entah urusan politik, sepakbola, lalu lintas mudik, atau sekadar harga tiket pesawat belaka.
“Kalau normal memang agak mahal. Tapi aku dapat di bawah harga pasaran, Kak.” Saya mengambil ponsel seraya menunjukkan aplikasi Tiket.com kepadanya.
“Kok, bisa?”
“Bisa, dong. Di Tiket.com, kita bisa mendapat potongan harga terbaik, lantaran promo Tiket Hari Raya dan Rayakan Kebaikan. Baik rute domestik maupun internasional, semua kena diskon. Tidak main-main, potongannya hingga Rp 1 juta,” jawab saya sambil menyeringai.
Aplikasi besutan PT Global Tiket Network ini memang tidak main-main untuk urusan tiket dan wisata. Selain menjual tiket pesawat, Tiket.com juga menyediakan tiket hotel, kereta api, sewa mobil, dan hiburan lainnya seperti konser, pertunjukan, serta wana wisata lainnya.
Nah, supaya lebih terang-benderang, silakan tonton video profil Tiket.com di bawah ini, ya!


Bagi kalian yang sering bepergian, wisata, atau pulang ke kampung halaman, saya menyarankan agar kalian memesan tiket pesawat, tiket hotel, atau tiket kereta api lewat Tiket.com. Pasalnya, Tiket.com memiliki tujuh keunggulan yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Yang pasti, bisa membuat perjalanan kalian jadi tambah menyenangkan.
Penasaran? Makanya, jangan buru-buru pindah laman. Simak ulasan saya dalam beberapa paragraf ke depan.



Hal utama yang kita inginkan ketika memesan tiket adalah kemudahan akses. Prinsipnya sederhana saja. Kalau ada yang lebih mudah, mengapa harus cari yang susah?
Dari sisi kemudahan akses, kalian tidak perlu khawatir ketika memesan tiket pesawat atau tiket hotel di Tiket.com. Sebab Tiket.com adalah aplikasi multiplatform yang mudah diakses dari mana saja. Sepanjang sinyal lancar, maka tidak ada halangan untuk mengakses Tiket.com.


Bagi kalian yang sehari-seharinya bergelut dengan laptop, kalian bisa membuka website Tiket.com. Ketik saja sesuai namanya di browser kalian, maka menu utama akan segera hadir di depan mata.
Sedangkan untuk kalian yang lebih sering berinteraksi dengan smartphone, kalian bisa mengunduh aplikasinya. Bagi pengguna Android, aplikasi Tiket.com tersedia di Google Play. Sedangkan pelanggan Apple dalam menemukannya di App Store.
Cara daftarnya juga sangat mudah. Selain mengisi data diri, kalian juga bisa masuk dengan menggunakan akun Google atau Facebook. Jadi, tidak perlu repot-repot mengingat password lagi, deh.



Hal selanjutnya yang menjadi perhatian ketika membeli tiket pesawat atau tiket hotel adalah metode pembayaran. Kalau terbatas, kita pun akan malas. Sebaliknya pun demikian. Ketika metode pembayaran lengkap, maka hidup jadi terasa nikmat.
Membayar tiket pesawat atau tiket hotel di Tiket.com lebih mudah. Karena Tiket.com telah menyediakan beragam metode pembayaran untuk kalian. Singkat kata, mau bayar pakai cara apa pun, Tiket.com punya salurannya.


Bagi kalian yang masih konvensional, Tiket.com menyediakan metode pembayaran lewat ATM, Kartu Debit atau Kredit, Transfer antarbank, dan gerai ritel Alfamart dan Indomaret. Tinggal pilih saja mana yang disuka, semuanya sudah tersedia.
Sedangkan untuk generasi milenial yang sudah akrab dengan metode pembayaran kekinian, kalian bisa membayar dengan menggunakan GO-PAY, Virtual Account, Instant Pay, atau cicilan tanpa kartu kredit. O ya, kalian juga bisa mendapat potongan harga dengan mengumpulkan TIX Point, lho!
Untuk tahu lebih jauh tentang TIX Point, baca bagian selanjutnya, ya!



TIX Point adalah poin yang kalian dapatkan ketika bertransaksi di Tiket.com. Nantinya, poin ini dapat kalian tukar dengan berbagai pilihan menarik. Ada tiga, yakni diskon atau extra benefit di merchant yang bekerja sama dengan Tiket.com, potongan harga langsung, serta memperoleh barang-barang pilihan.
Salah satu contohnya seperti ini. Saat kalian membeli tiket pesawat atau tiket hotel di Tiket.com, maka poin yang didapat bisa langsung ditukarkan dengan sepotong pizza gratis di Pizza Marzano atau wrapping bag cuma-cuma dari Angkasa Pura. Perjalanan kalian dijamin tambah menyenangkan.


Nah, semakin banyak berbelanja di Tiket.com, semakin banyak pula Tix Point yang akan kalian dapatkan. Beragam diskon dan kemudahan akan lebih cepat kalian nikmati. Makanya, tunggu apa lagi?



Kalau untuk promo, saya jamin kalian pasti tertarik. Betapa tidak? Ketika harga tiket pesawat melambung tinggi, Tiket.com malah memberi potongan harga besar-besaran. Asyik, kan?
Beberapa promo yang paling ciamik adalah diskon hingga Rp200 ribu untuk penerbangan pilihan rute domestik. Untuk kalian yang suka berlibur ke luar negeri, kalian juga bisa memanfaatkan diskon hingga Rp1 juta di Tiket.com. Tinggal memasukkan kode promo saat membayar, maka potongan harga bisa segera kalian manfaatkan.


Tidak hanya tiket pesawat saja, tiket hotel juga tidak luput dari diskon. Melalui promo Tiket Hari Raya kalian bisa menikmati potongan hingga 15 persen ketika bermalam di Aryaduta Hotel Group. Bagi yang mudik ke Tasikmalaya dan Garut, Tiket.com juga memberikan diskon hingga 20 persen pada hotel pilihan.
Bagaimana? Asyik, kan?



Kadang kala, kenyataan meleset dari rencana atau harapan semula. Sudah beli tiket ke Jakarta, eh, tiba-tiba ditugaskan ke Jayapura, misalnya.
Nah, Tiket.com sangat memahami bilamana hal-hal seperti itu terjadi. Untuk itulah, Tiket.com memberikan kemudahan bagi kalian yang, mungkin saja, terpaksa harus melakukan reschedule atau refund tiket pesawat. Tiket.com menamainya dengan sebutan Smart Reschedule dan Smart Refund.
Untuk mendapat gambaran utuh tentang tata cara reschedule dan refund, silakan teliti infografis di bawah ini.






Pejalan pintar adalah pejalan yang mampu menikmati setiap detik momen perjalanan tanpa merasa kesulitan. Dalam perjalanan, banyak hal-hal tak terduga bisa terjadi. Pada momen seperti ini, ada baiknya kita mengintip kiat atau tips berwisata.
Nah, Tiket.com memiliki blog yang berisi artikel seputar wisata. Di sini, kalian bisa dengan cepat belajar menjadi pejalan pintar. Berbagai kiat berlibur disajikan secara cuma-cuma. Bahasanya juga mudah dicerna, sehingga tidak membuat kalian sakit kepala.


Kuliner, tempat wisata, review hotel pilihan, ataupun sekadar tips baterai saat liburan bisa kalian temukan di Tiket.com. Untuk hal-hal seperti ini, kalian tidak perlu lagi membuka Mbah Google. Cukup buka aplikasi Tiket.com, semuanya tersaji di depan mata.



Pepatah bilang, malu bertanya sesat di jalan. Bila ada hal-hal yang ingin kalian tanyakan, konfirmasi, atau mungkin kalian seorang pengusaha yang ingin mendaftarkan hotelnya di Tiket.com, langsung saja bertanya ke customer care.


Layanan pelanggan Tiket.com tidak pernah libur dan selalu tersedia selama 24 jam penuh. Kapan pun kalian butuh, tinggal kirim surel, chat via WA, atau telepon saja ke nomor yang tertera di atas. Segala pertanyaan akan segera dijawab oleh Tiket.com. Coba saja kalau tidak percaya!



Mudik sudah menjadi budaya yang kental bagi bangsa kita. Ada rasa bangga ketika kembali ke kampung halaman dengan menjadi pribadi yang lebih baik. Ada rasa senang tatkala bertemu dengan orangtua, sanak keluarga, dan handai taulan. Sejauh-jauhnya manusia merantau, ia pasti akan kembali ke tempat asal.
Itu yang saya rasakan selama menjadi perantau di berbagai kota di Nusantara. Momen mudik memang menjadi sangat spesial ketika yang jauh bisa kembali dekat. Bertemu dengan Ibu, meski hanya setahun sekali atau dua kali, membuat energi kembali terisi.
Kini, ke mana pun saya ditugaskan, saya tidak akan cema, gelisah, ataupun khawatir. Kerinduan mendalam akan kampung halaman dapat segera tuntas dengan membeli tiket pesawat lewat Tiket.com. Karena saya percaya, hanya di Tiket.com, semua ada tiketnya.
Kalau kalian bagaimana? Sudah unduh aplikasi Tiket.com juga?
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Curhat Mudik #TiketHariRaya yang diselenggarakan oleh Tiket.com. Vektor, gambar, dan grafik diperoleh dari koleksi pribadi, Tiket.com, dan Envato Market. Seluruh gambar yang ditampilkan pada artikel ini telah diolah terlebih dahulu oleh penulis sebelum ditayangkan. Sedangkan video bersumber dari saluran YouTube milik Tiket.com.


Artikel ini ditulis oleh Jun Panuturi

Punya website perusahaan, bisnis online, toko online, blog, atau situs pribadi? Ingin punya nama email dengan nama domain sendiri agar kelihatan lebih profesional?
Ya, bisa. Yuk, langsung ikuti caranya step-by-step di bawah ini.



Kenapa harus menggunakan nama email dengan domain sendiri?
·       Bisnis kamu pastinya akan kelihatan lebih profesional, kredibel/trusted di mata calon customer.
·       Brand kamu akan lebih diingat pembeli karena customer akan selalu berkomunikasi menggunakan email dengan nama domain kamu.
·       Mencegah kesan “pasaran” karena menggunakan email gratisan dari Yahoo, Rocketmail, Hotmail, atau Gmail.
·       Proses pembuatan email ini mudah dan juga gratis selamanya.

3 hal yang dibutuhkan untuk buat email dengan nama domain sendiri:
·       Domain + Hosting (keduanya berbayar, harus dibeli terlebih dahulu).
·       Akun Gmail (gratis, hanya daftar di gmail.com untuk buat akun Gmail gratis).

Catatan:
Satu-satunya aspek berbayar dari pembuatan email ini adalah bagian pembelian domain & hosting. Untuk domain dan hosting, mungkin sekitar Rp 150 ribuan per tahun.
Ini memang diperlukan karena kita nantinya di awal akan menggunakan cPanel hosting untuk membuat nama email-nya. Contohnya seperti support@jayabaru.com atau info@majubersama.com”.
Lalu, akan kita hubungkan ke Gmail, agar kamu bisa membaca dan membalas email lewat akun Gmail pribadi kamu.
Kalau kamu belum tahu cara membuat website untuk keperluan pribadi ataupun bisnis, silakan baca tutorial membuat website yang sudah saya bagikan sebelumnya. Di sana, kamu akan mengetahui cara membuat situs sendiri secara gratis dengan menggunakan CMS Wordpress.

Membuat Email Profesional Baru di cPanel Hosting

# Langkah 1 - Login ke cPanel Hosting
Caranya, ketik di browser – domainanda.com/cPanel (ganti “domainanda.com” dengan nama domain Anda sendiri).
Lalu masukkan username dan password.




Di mana kamu menemukan detail login cPanel?



Setelah kamu membeli domain dan hosting, perusahaan hosting kamu akan memberikan informasi detail login ke cPanel lewat email. Jadi, silakan cek dulu email pembelian kamu, ya.

# Langkah 2 - Klik Email Accounts



# Langkah 3 - Klik Create

# Langkah 4 - Pilih nama username email, dan password >> Klik Create

Untuk bagian storage space, tidak perlu diubah. Atau kalau mau, silakan diganti sesuai dengan kapasitas hosting email kamu.
Simpan info username dan password email, ya. Nanti kita akan butuhkan lagi.
Selesai! Saat ini, kamu sudah punya nama email dengan domain sendiri.
Sampai tahap ini sebenarnya sudah selesai, sih. Akan tetapi, biar lebih bagus kita bisa mengarahkan email tersebut ke alamat Gmail pribadi.
Tujuannya untuk mempermudah, agar kita bisa membaca/membalas email lewat Gmail pribadi. Jadi, kita tidak perlu repot login ke cPanel hanya untuk membaca dan membalas email.

Menghubungkan Alamat Email Bisnis ke Gmail.com


# Langkah 1 - Simpan detail Mail Client Manual Settings

Cara melihat detail Mail Client Manual Settings:
Login cPanel Hosting >> Email >> Check email
Lalu scroll ke bawah untuk melihat detail manual setting seperti ini:

Simpan detail Port POP3 dan SMTP tersebut. Nanti akan kita perlukan untuk menghubungkan email dari hosting ke Gmail.

# Langkah 2 - Login ke email Gmail.com

Kalau belum punya akun Gmail, silakan daftar gratis, ya. Prosesnya paling lama 10 menit. Dengan mendaftar di Gmail, kita juga otomatis akan punya akun untuk mendapatkan blog gratis di Blogger ataupun Blogspot, Youtube, Google Drive, Google Site, dan produk Google lainnya.
# Langkah 3 - Klik "Settings"
Setelah login, klik icon settings di pojok kanan atas email.

# Langkah 4 - Settings >> Klik "Accounts and Import" >> Send mail as >> Klik "Add another email address"
Langkah ini bertujuan agar kita bisa mengirim dan membalas email lewat Gmail.

# Langkah 5 - Masukkan Name dan Email Address yg kita buat sebelumnya >> Centang treat as an alias >> Klik Next Step

# Langkah 6 - Masukkan Info SMTP Server
Gmail selanjutnya akan mengarahkan kita untuk mengisi detail SMTP server.
Pada dasarnya, kita hanya copy paste saja informasi outgoing server. Silakan lihat gambar di bawah ini.

SMTP Server : Cek bagian outgoing server, biasanya "mail.namadomain.com"
Port: 465
Username: sesuai informasi
Password: sesuai password diawal kita membuat email
Pilih secured connection using SSL

# Langkah 7 - Masukkan Kode Verifikasi yang dikirim ke email hosting
Cek kode verifikasi email dengan cara login ke email hosting seperti biasa:
Login cPanel >> Email >> Email Accounts >> Check Email >> Buka dengan applikasi Roundcube >> Masukkan kode verifikasi >> Klik verify

Jika berhasil, maka di bagian gmail setting >> accounts and import >> "send mail as" akan muncul alamat email kamu tadi.

# Langkah 8 - Settings >> Accounts and Import >> Check mail from other accounts >> Klik "Add a mail account"
Tujuan langkah ini agar kita bisa membaca email masuk.

# Langkah 9 - Masukkan Email Address yang tadi kita buat >> Klik Next

# Langkah 10 - Pilih "Import emails from my other account (POP3)" >> Klik Next


# Langkah 11 - Masukkan Info POP Server
Mirip seperti Langkah 6. Kali ini kita harus memasukkan POP server. Kita tinggal copy saja informasi incoming server seperti langkah nomor 1.


Username : lihat di info incoming server
Password : password ketika membuat email
POP Server : Lihat info incoming server, biasanya mail.namadomain.com
Port: 995 (Sesuai info incoming server)
Centang "Always use a secure connection (SSL) when retrieving mail"
Centang "Label incoming messages"
Klik Add Account

Jika berhasil, maka di bagian gmail Settings >> Accounts and import >> Check mail from other accounts.
Akan muncul nama alamat email yang kita buat tadi.

Tes Akhir: Coba Kirim Email Yuk!

Kamu bisa mengetes dengan cara mengirim email ke email nama domain tersebut.
Pada kasus ini, dari email pribadi saya kirim ke email nama bisnis domain saya support@coostrad.com
Jika berhasil akan muncul seperti gambar di bawah ini.

Selesai. Sekarang kamu sudah punya nama email dengan domain sendiri yang kelihatan keren dan profesional. Kamu juga bisa dengan mudah membaca dan membalas email via akun Gmail pribadi kamu dari smartphone atau tablet.
Semoga kiat membuat email domain sendiri ini bermanfaat, ya. Kalau ada pertanyaan atau komentar, silakan tulis di bawah ini.
***