Navigation Menu

Tetap Nyaman Saat Bekerja dari Rumah Bersama iCreate.id


“Makan dulu, sayang. Sudah siang.”

Kalau sudah asyik bekerja, saya memang sering lupa makan. Untung saja ada istri tercinta yang tak bosan mengingatkan. Kalau tidak ada dia, cacing di perut pasti sudah berteriak kelaparan.


*** 

Enam bulan terakhir memang penuh tantangan. Sejak pandemi Covid-19 meluas, saya punya kebiasaan baru: bekerja dari rumah. Kantor saya menempuh kebijakan work from home (WFH) bagi sebagian besar karyawannya, termasuk saya. Di sinilah tantangan bermula. 

Jika kalian berpikir kerja dari rumah itu santai, kalian salah besar. Justru malah sebaliknya. Saat bekerja di kantor, ada yang namanya “jam pulang kantor”. Namun ketika bekerja dari rumah, tidak ada yang namanya “jam pulang rumah”.

Analogi di atas benar-benar saya alami. Gara-gara tidak ada pembatas yang jelas antara jam kerja dan istirahat, tugas dan pekerjaan seakan tidak ada habisnya. Tidak jarang pula bos memberi tugas malam-malam. Jangankan tengah pekan, akhir pekan pun terkadang saya mesti tetap bekerja.

Undangan rapat juga seakan tidak ada habisnya. Kalian yang berprofesi sebagai karyawan kantoran juga pasti merasakannya. Sejak virtual meeting jadi booming akibat pembatasan sosial, segala hal dibahas lewat rapat virtual. Dalam sehari, saya bisa mengikuti empat hingga lima kali rapat.

  
Meski menantang, situasi ini tetap saya jalani dengan sabar. Alhasil, saya jadi lebih produktif ketika bekerja dari rumah. Daftar pekerjaan yang saya tuntaskan lebih banyak ketimbang bekerja dari kantor. Bonusnya, saya tidak perlu pakai kemeja dan sepatu saat bekerja di rumah. Lebih plong.

Bagi saya, tidak masalah bekerja dari rumah meskipun tantangannya lebih berat. Kita yang masih diberi kesempatan bekerja semestinya bersyukur. Banyak saudara kita di luar sana bernasib malang lantaran di-PHK atau dirumahkan tanpa gaji gara-gara pandemi korona. Kita yang masih terima gaji setiap bulan seharusnya bisa menunjukkan rasa syukur dengan bekerja sebaik-baiknya.

Nah, salah satu bentuk rasa syukur saya kepada Tuhan adalah dengan berbagi ilmu. Kebetulan, saya memang hobi menulis. Pada akhir pekan, selepas terbebas dari padatnya rutinitas, saya sering memanfaatkan waktu luang untuk mengajar cara menulis.

Dalam enam bulan terakhir, alhamdulillah, ada tiga penyelenggara yang meminang saya sebagai narasumber. Seluruh kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara daring melalui bantuan aplikasi rapat virtual. Dan, tentu saja itu semua saya lakoni dari rumah. Dari meja kerja saya.


Kalau kita berpikir sejenak, pandemi Covid-19 memang tidak menyenangkan. Kita mesti mengurangi intensitas bepergian atau keluar rumah. Belum lagi, kalau terpaksa keluar rumah, kita wajib mengenakan masker dan membawa hand sanitizer.

Tapi kalau kita berkenan mengubah sudut pandang, korona juga mengajarkan kita banyak hal positif. Kita bisa melakukan banyak hal produktif dari rumah. Saya, misalnya. Tidak hanya bekerja dari rumah, saya juga bisa mengajar ilmu kepenulisan kepada belasan, bahkan puluhan orang, dengan bermodal gawai dan kuota.

Yah, hitung-hitung tambah amal. Sebab ilmu akan menjadi ladang pahala bagi orang yang tidak segan mengajarkan. Tidak ada salahnya, bukan?

Tetap Nyaman Selama Bekerja di Rumah

Nah, supaya tetap aktif, produktif, dan nyaman saat bekerja dari rumah, kita juga perlu memperhatikan beberapa hal. Karena bekerja dari rumah adalah suatu kebiasaan baru. Sehingga perlu dipersiapkan dengan matang bila tidak ingin keteteran.

Bagi saya, ada empat hal yang perlu kita perhatikan selama bekerja dari rumah. Pertama, menetapkan agenda. Dari sekian banyak pekerjaan kita harus berani menyusun agenda kerja.

Tujuannya apa? Supaya tidak lupa. Terkadang tanpa agenda kerja, ada saja satu-dua tugas yang lupa kita kerjakan. Asyik mengerjakan tugas yang ini, eh, malah lupa mengerjakan tugas yang itu. Imbasnya, kita malah kena omel atasan. Jadi, jangan malas membuat daftar pekerjaan kalau tidak ingin terserang risiko lupa.

Kedua, buat skala prioritas. Dari sekian banyak daftar pekerjaan yang sudah kalian susun, pilih dan pilah mana yang paling penting. Kerjakanlah satu demi satu berdasarkan urutan prioritas.

Dengan menyusun skala prioritas, proses kerja akan lebih fokus dan terarah. Kita jadi tahu persis, pekerjaan mana yang mesti dituntaskan, tugas mana yang perlu didelegasikan. Terkadang, kita terpaksa lembur bukan karena banyak tugas, melainkan karena tidak paham tugas mana yang mesti dikerjakan lebih dulu.


Ketiga, jaga kesehatan. Ini penting. Jangan seperti saya yang sering lupa makan karena keasyikan bekerja. Ingat, ketika bekerja dari rumah, aktivitas fisik akan jauh berkurang ketimbang bekerja dari kantor.

Saat bekerja dari kantor, paling tidak kita akan berjalan kaki, sejak turun kendaraan menuju meja kerja. Beda halnya ketika bekerja dari rumah. Bangun tidur sudah langsung mendekam di meja kerja. Jadi, jangan lupa sempatkan beraktivitas fisik selama bekerja dari rumah.

Terakhir, menata ruang kerja. Ini yang sering dilupakan orang. Apa sebab? Semula, rumah adalah tempat kita beristirahat. Sejak pandemi Covid-19 meluas, rumah bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga tempat bekerja.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memiliki ruang dan peralatan kerja yang nyaman. Paling tidak, meja dan kursi kerja harus kita sesuaikan. Salah kursi bisa berakibat keram otot. Salah meja bisa rentan terjangkit pegal leher. Karena selama ini, kita memang tidak pernah menyiapkan rumah sebagai tempat untuk bekerja.

Untuk itu, kalian perlu furniture kantor yang mendukung aktivitas saat bekerja dari rumah. Atur dan tata ruang kerja sedemikian rupa, supaya kalian tetap nyaman dan betah ketika seharian bekerja dari rumah.

Omong-omong soal peralatan kerja, saya punya satu rekomendasi untuk kalian yang sedang mencari meja dan kursi kerja untuk bekerja dari rumah. Namanya iCreate.id. Di sini, kita bisa memilih beragam furniture online agar tetap merasa asyik dan nyaman selama bekerja dari rumah.

Penasaran seperti apa rupanya? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa ambil kopi dan camilan. Karena sesaat lagi, saya akan mengulas ragam pilihan furniture yang tersedia di iCreate.id. Kalau sudah, ayo kita mulai sekarang.

iCreate.id: Teman Setia Saat Bekerja di Rumah

iCreate.id adalah perusahaan penyedia furniture rumah dan kantoran yang punya beragam pilihan produk. Mulai dari sofa, kursi, meja, tempat penyimpanan, hingga aksesoris. Selain banyak pilihan, produk yang dijual di iCreate.id juga memiliki kualitas yang baik dan tahan lama.

Di iCreate.id, kalian tidak perlu repot-repot keluar rumah. Cukup buka website-nya di sini, kalian bisa memilih ragam produk sesuai kebutuhan kalian. Tinggal dipilih sesuai selera dan anggaran saja. Yang mana pun kalian pilih, dijamin tidak akan menyesal.

Jika kalian tipe orang yang sering penasaran dan tidak puas kalau hanya memilih barang dari website, kalian juga bisa mendatangi gerai iCreate.id di Pesona Square Depok. Tapi ingat, ketika keluar rumah, tetap jaga jarak dan patuhi selalu protokol kesehatan, ya!

Nah, seperti apa, sih produk furniture dari iCreate.id yang kalian butuhkan selama bekerja? Bagi saya, paling tidak ada tiga. Kursi kerja, meja kerja, dan sofa. Yuk kita simak satu per satu.

1. Kursi Kerja

Seperti yang sudah saya kemukakan di awal, iCreate.id punya beragam pilihan kursi kerja. Mulai dari yang biasa hingga yang super nyaman. Totalnya ada sembilan jenis. Tinggal kalian pilih saja sesuai selera dan kebutuhan. Mau yang pakai roda ada. Mau yang pakai kaki juga ada.

Tapi kalau menurut saya, jenis kursi kerja yang paling cocok untuk bekerja dari rumah ada tiga tipe. Pertama, Halstatt Kursi Kantor. Kedua, Hangzhou Staff Chair. Dan yang ketiga, Milstatt Manager Chair.

Soal harga jangan khawatir. Ketiga tipe kursi pilihan saya dijual dengan harga di bawah Rp1,4 juta. Murah, kan? Meski terjangkau, kualitas kursi kerja ini setara dengan kursi kerja yang sering kalian temui di kantor. Awetnya pasti bertahun-tahun.

Nah, daripada penasaran seperti apa bentuknya, lebih baik kalian lihat infografis di bawah ini.


Bagaimana? Keren, kan? Selain terjangkau dan tahan lama, iCreate.id juga punya satu keunggulan lagi yang sayang kalian lewatkan. Bagi kalian yang tinggal di wilayah Jabodetabek dan Bandung, iCreate.id membebaskan ongkos kirim dan instalasi.

Asyik, kan? Tinggal klik langsung bisa kerja!

2. Meja Kerja

Yang tidak kalah penting saat bekerja dari rumah adalah meja kerja. Jika meja kerja terlalu pendek, maka leher kalian akan berisiko terserang pegal-pegal. Jadi, kita memerlukan meja kerja yang baik dan proporsional saat bekerja dari rumah.

iCreate.id juga punya deretan meja kerja yang apik. Total ada 15 tipe meja kerja yang bisa kalian pilih di situs resmi iCreate.id. Dari sekian banyak pilihan, manakah yang paling cocok untuk mendukung aktivitas kita selama bekerja dari rumah?

Sama seperti kursi kerja, saya punya tiga pilihan meja kerja favorit. Pertama, Gosausee Workstation. Kedua, Como Double Desk. Dan yang ketiga, Hillier Double Desk. Seluruhnya adalah meja kerja dengan kualitas nomor wahid dan tidak perlu diragukan lagi. Untuk lebih jelasnya, simak infografis di bawah ini.


Harganya juga tidak bikin kantong bolong. Semua pilihan meja kerja di atas dibanderol dengan harga di bawah Rp3,6 juta saja. Seperti halnya kursi kerja, iCreate.id juga menggratiskan ongkos kirim dan pasang bagi kalian yang bermukim di Jabodetabek dan Bandung.

Jadi, tunggu apa lagi?

3. Sofa

Lah, katanya kerja dari rumah? Kok, ada sofa? Eits, jangan salah. Setelah seharian bekerja kita juga butuh istirahat. Kita perlu selonjoran. Kita juga butuh meregangkan badan supaya tidak kaku dan pegal-pegal.

Inilah yang disebut dengan worklife balance. Waktu istirahat dan bekerja mesti seimbang. Dengan istirahat yang cukup, energi dan semangat kalian akan terisi kembali dan siap digunakan untuk menunaikan tugas dan pekerjaan dari rumah.

Untuk urusan leha-leha, iCreate.id memang jagonya. Ada banyak tipe sofa yang bisa kalian pilih ketika mengunjungi website iCreate.id. Total ada empat merk sofa yang bisa menemani waktu santai kalian selepas bekerja.

Dari keempat pilihan tersebut, jagoan saya ada tiga. Pertama, Amorinito Blue 1-Seater. Kedua, Amorinito Krem 1-Seater. Terakhir, Haiti Sofa 1-Seater. Masing-masing dijual dengan harga kurang dari Rp3 juta saja.

Penasaran bagaimana rupanya? Silakan pelototi infografis di bawah ini.


Keren, kan? Pasti sudah ga sabar, dong, ingin merasakan keempukan sofa dari iCreate.id. Daripada cuma mengkhayal, lebih baik kunjungi saja website resmi iCreate.id sekarang juga!

Mengapa Harus Berbelanja di iCreate.id?

Ada beberapa keunggulan yang bisa kalian menfaatkan ketika berbelanja di iCreate.id. Asal tahu saja, iCreate.id juga menyediakan cicilan 0%, lho! Bagi nasabah BCA, CIMB Niaga, ataupun Mandiri; kalian bisa memanfaatkan fitur cicilan 0% ketika berbelanja di iCreate.id.

Dengan cicilan 0%, pemenuhan kebutuhan meja dan kursi kerja di rumah sendiri akan menjadi lebih mudah dan tidak membebani anggaran. Dengan meja dan kursi kerja yang nyaman, kita bisa bekerja dengan lebih aktif dan produktif.


O ya, untuk kalian yang memesan secara online, di website iCreate.id juga disediakan fitur pelacakan barang. Ketika sudah membayar, kalian tinggal memasukkan nomor pesanan untuk melacak keberadaan pesanan. Cukup mainkan jari, lokasi barang sudah bisa diketahui. 

Selain bisa memesan melalui website, galeri iCreate.id juga tersedia di marketplace kesayangan kalian. Pas banget buat para pemburu diskonan. Seperti belum lama ini, iCreate.id memberi potongan harga dalam rangka promo "Waktu Indonesia Belanja" di Tokopedia.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mengeluh saat bekerja dari rumah. Meski tantangan semakin berat, kita bisa tetap produktif ketika didukung ruang dan peralatan kerja yang nyaman. Untuk kebutuhan meja dan kursi selama bekerja dari rumah, percayakan saja pada iCreate.id! [Adhi]

 
*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog yang diselenggarakan iCreate.id. Gambar bersumber dari dokumentasi pribadi dan website iCreate.id. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

0 komentar:

#IniUntukKita – Creative Financing: Paradigma Baru Pembiayaan Infrastruktur Tanpa Kas Negara


Infrastruktur ibarat urat nadi perekonomian bangsa. Semakin cepat dibangun, semakin cepat pula roda ekonomi berputar.

Karena itu, paradigma pembiayaan infrastruktur modern tidak boleh hanya mengandalkan APBN/APBD semata. Creative financing hadir sebagai solusi pendanaan tanpa membebani kas negara.

*** 

Pernahkah kita berpikir apa rasanya bepergian tanpa jalan tol, jalur kereta api, atau bandara? Sempatkah kita merenung apa jadinya aktivitas perdagangan tanpa pelabuhan? Atau sudahkah kita bertafakur bagaimana nasib petani tanpa aliran irigasi dari bendungan?

Tanpa kehadiran tol, jalur kereta api, dan bandara; kemacetan pasti merajalela. Perjalanan menuju kantor, sekolah, atau lokasi usaha bakal terhambat.

Tanpa peran pelabuhan, aliran barang dan logistik dari dan luar negeri pasti akan tersendat. Seperti halnya nasib petani tanpa bendungan. Tanaman pangan rentan terserang risiko gagal panen akibat kekurangan asupan air.

Kawan, itulah makna penting pembangunan infrastruktur. Dengan jalan tol, kereta api, atau bandara; ruang gerak dan aktivitas tentu menjadi lebih luas. Kita bisa melakukan lebih banyak hal produktif seperti menuntut ilmu dan bekerja.

Dengan pelabuhan, aliran logistik jadi lebih lancar sehingga hasil produksi bisa tersebar merata ke seluruh penjuru Nusantara. Begitu pula dengan keberadaan bendungan sebagai sarana irigasi. Petani bakal hidup sejahtera karena tanaman tumbuh subur dan produktivitas hasil pertanian meningkat.


 
Jadi, tidaklah berlebihan bila infrastruktur disebut sebagai syarat utama menuju bangsa sejahtera. Berkat infrastruktur, sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah akan tumbuh dan berkembang. Hasilnya bisa dirasakan dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Hanya saja, pembangunan infrastruktur kita belumlah sempurna. Kajian Global Infrastructure Hub (GIH) pada 2017 menyebut masih ada celah (gap) pembiayaan sebesar 140 miliar Dolar AS hingga 2040 mendatang agar Indonesia bisa meningkatkan kualitas infrastrukturnya hingga setara dengan negara-negara kelas menengah.

Studi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyodorkan hal senada. Menurut Bappenas, dibutuhkan belanja infrastruktur hingga Rp7.000 triliun pada 2020—2024 agar pertumbuhan ekonomi bisa optimal. 

Sementara kapasitas APBN dalam mendanai infrastruktur hanya sekitar Rp5.000 triliun saja. Gap sebesar Rp2.000 triliun mesti dipenuhi dari luar kas negara. Di sinilah peran creative financing dibutuhkan.


 


Sesuai namanya, creative financing ialah pembiayaan infrastruktur yang dananya tidak bersumber dari APBN/APBD. Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur dibiayai melalui berbagai skema kerja sama antara pemerintah, BUMN, swasta, maupun masyarakat.

Creative financing adalah paradigma anyar dalam membiayai kebutuhan pembangunan. Dengan konsep ini, tanggung jawab pembiayaan infrastruktur tidak semata-mata dibebankan pada pundak pemerintah.

Akan tetapi, semua pihak bersatu-padu dan bahu-membahu demi terciptanya Indonesia maju. Skema kerja sama ini sering disebut dengan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Lantas, apa saja jenis proyek infrastruktur yang dapat dibiayai melalui creative financing? Kementerian Keuangan telah membaginya ke dalam tiga jenis, yakni proyek yang: (i) layak secara ekonomi tetapi finansial marjinal dengan kapasitas fiskal terbatas; (ii) layak secara ekonomi tetapi finansial marjinal dengan kapasitas fiskal memadai; dan (iii) layak secara ekonomi dan finansial.

Dengan kata lain, jika proyek infrastruktur dinilai menguntungkan dan mampu menghasilkan pendapatan setelah beroperasi, maka sebaiknya tidak dibiayai melalui kas negara.

Apa sebab? Karena proyek seperti ini sudah menjadi keahlian BUMN dan Swasta. Dengan begitu, dana APBN/APBD bisa digunakan untuk proyek infrastruktur umum yang memang bersifat nirlaba, seperti jalan raya, fasilitas umum, dan kesehatan masyarakat.

  
Sekarang, mari saya sodorkan satu contoh. Jalan tol Gempol—Pandaan, misalnya. Jalan tol yang beroperasi sejak 2019 ini tidak dibiayai APBN/APBD ataupun perbankan, melainkan dari dana investasi infrastruktur (DINFRA).

DINFRA adalah wadah berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) guna menghimpun dana dari masyarakat, yang selanjutnya digunakan Manajer Investasi untuk berinvestasi pada aset infrastruktur dalam bentuk utang atau ekuitas.

Jadi, skemanya seperti ini. PT Jasamarga Pandaan Tol sebagai pemilik konsesi jalan tol Gempol—Pandaan menjual sahamnya kepada Mandiri Investasi selaku Manajer Investasi. 

Kemudian, Mandiri Investasi menerbitkan DINFRA yang dapat dibeli oleh investor dan masyarakat di pasar modal, dengan potensi imbal hasil sekitar 9 persen per tahun. Hak imbal hasil ini akan dibayar dari pendapatan jalan tol itu sendiri.

Singkat kata, melalui DINFRA, masyarakat punya opsi investasi yang menguntungkan. Selain itu, masyarakat juga bisa berperan aktif dan turut serta menyukseskan pembangunan bangsa lewat infrastruktur jalan tol.

Selain DINFRA, contoh lain creative financing juga bisa kita temui dari skema pembiayaan efek beragun aset (EBA) atas ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi. PT Jasa Marga selaku operator jalan tol mengagunkan hak atas pendapatan ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi selama lima tahun ke depan.

Hak atas pendapatan itu kemudian dijual kepada masyarakat, melalui perantara Manajer Investasi, dalam bentuk surat utang yang disebut EBA.

Dengan membeli EBA, masyarakat bisa memperoleh imbal hasil hingga 9 persen per tahun. Dana hasil penjualan EBA itu nantinya akan digunakan PT Jasa Marga untuk membangun ruas jalan tol di daerah lain di seluruh Indonesia.

  
Dari contoh EBA di atas, kita bisa menarik kesimpulan. Manfaat creative financing tidak sekadar menuntaskan proyek yang sedang dibangun saja, tetapi juga punya efek berganda. 

Dengan berinvestasi pada EBA, artinya kita tidak hanya ikut serta membiayai ruas tol Jakarta—Bogor—Ciawi saja, tetapi juga berbagai ruas tol lainnya milik PT Jasa Marga di seluruh Indonesia.

Dampaknya pun bisa dirasakan secara lebih luas. Saudara kita di luar daerah juga bisa merasakan kemudahan dan kecepatan bertransportasi melalui jalan tol. Konektivitas antar-daerah akan meningkat, sehingga roda perekonomian bakal berputar secara lebih cepat.

Contoh jalan tol di atas hanyalah dua di antara beragam proyek infrastruktur yang dibiayai melalui creative financing. Selain itu, ada pula proyek infrastruktur tanpa pembiayaan kas negara seperti pembangkit listrik milik PT Indonesia Power senilai Rp78,3 triliun, bandara Kulon Progo besutan PT Angkasa Pura I senilai Rp6,7 triliun, maupun tol Trans Jawa buatan PT Waskita Toll Road senilai Rp135 triliun.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung rencana pembangunan infrastruktur yang ditetapkan pemerintah. Syukur-syukur bila mampu terlibat aktif dengan membeli produk investasi creative financing. Itu lebih baik.

Sebab kita paham, tujuan pembangunan infrastruktur adalah untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Persis seperti tagar yang mengawali judul artikel ini: #IniUntukKita. [Adhi]

  
*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Merah Putih Creator Competition kategori Blog Writing Competition yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

0 komentar:

Menitip Masa Depan pada Energi Terbarukan



Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan energi fosil. Tapi bukan berarti kita berdiam diri saja. Banyak cara untuk menghasilkan energi terbarukan. Biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat adalah tiga di antaranya.

*** 

Lebih dari seratus tahun lalu, Henry Ford, pencetus revolusi industri transportasi asal Amerika Serikat, pernah membuat ramalan. Katanya, energi masa depan akan berasal dari rumput, buah, tanaman—hampir apa saja.

Kala itu, banyak orang yang meragukan kebenaran ucapan Sang Revolutor. Namun seiring perkembangan zaman, ketika teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, mayoritas orang sepakat bahwa apa yang diucapkan Ford bukanlah pepesan kosong belaka.

Energi fosil yang lazim kita gunakan, seperti batu bara dan minyak bumi, memang punya beragam efek negatif. Mulai dari polusi udara, efek gas rumah kaca, pemanasan global, hingga hujan asam. Penelitian Gopal dan Reddy (2015) juga membuktikan bahwa proses eksploitasi energi fosil punya dampak buruk terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

Selain merusak lingkungan, energi konvensional juga dapat menurunkan kualitas kesehatan. Pembakaran pabrik dan kendaraan bermotor menyebabkan kita sesak napas. Itulah mengapa, kita lebih senang menghirup segarnya udara pegunungan ketimbang menyesap sesaknya hawa perkotaan.

Lagi pula, energi fosil bukanlah sumber daya abadi. Suatu saat nanti, jika dieksploitasi terus-menerus, akan habis dari muka bumi. Gioietta Kuo, peneliti dari Stanford, memprakirakan energi fosil akan habis pada 2090. Dengan demikian, jelaslah bahwa mencari sumber energi terbarukan mesti menjadi prioritas bangsa mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

Di tengah pencarian sumber energi terbarukan, kita patut bersyukur. Capaian produksi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia terus meningkat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat angka produksi EBT hingga Mei 2020 sudah mencapai 15.805,59 GWh, atau setara dengan 14,21 persen total produksi energi nasional.

Dibanding dua tahun lalu, angka bauran EBT kita mencatat lonjakan yang cukup menggembirakan. Pada 2018, pangsa EBT terhadap total energi nasional hanya berkisar di angka 8,55 persen saja. Dengan kata lain, kita membukukan kenaikan hampir dua kali lipat hanya dalam waktu singkat.




Namun demikian, kita pun sadar bahwa kita tidak boleh lekas berpuas diri. Sebab masih tersisa ruang perbaikan agar cita-cita meningkatkan bauran EBT hingga 23 persen pada 2025, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, benar-benar dapat diwujudkan.

Upaya pencarian sumber energi alternatif terus dilakukan. Banyak penelitian telah membuktikan komoditas alam dan organik bisa menjadi sumber energi terbarukan. Mulai dari singkong, sampah organik, hingga tebu. Hanya saja, penerapannya tidak semudah membalik telapak tangan.

Tingginya biaya produksi masih menjadi kendala terbesar. Sumber energi ramah lingkungan seringkali gagal mencapai pasar gara-gara mahalnya ongkos produksi. Karena alasan itulah batubara masih menjadi penyumbang bahan baku terbesar energi listrik nasional hingga sekarang.

Maka dari itu, energi alternatif yang perlu didorong dan dikembangkan harus berasal dari komoditas yang pasokannya melimpah dan punya daya saing. Agar ongkos produksinya bisa menandingi energi konvensional. Di antara beragam energi alternatif, ada tiga sumber energi yang keberadaannya patut dicermati, yakni biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat.

Nah, faktor apa yang menyebabkan ketiga sumber energi itu mampu menjadi tulang punggung EBT nasional pada masa depan? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa sediakan kopi dan camilan. Jika sudah, ayo kita ulas satu per satu.



Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan sebenarnya sudah dilakukan sejak dua belas tahun silam. Kala itu, kadar biodiesel baru mencapai 2,5 persen. Artinya, setiap 100 liter biodiesel terdiri atas campuran 2,5 liter bahan bakar nabati atau energi terbarukan dan 97,5 liter bahan bakar solar. Seiring perkembangan teknologi, kandungan bahan bakar nabati terus ditingkatkan.

Keseriusan kita dalam mengembangkan biodiesel baru terlihat sejak 2016. Pada tahun itu, program mandatori B20 (biodiesel dengan kadar campuran bahan bakar nabati sebesar 20%) mulai digalakkan. Sesuai namanya, mandatori merupakan kewajiban atau keharusan. Dengan kata lain, sektor tertentu seperti usaha mikro, perikanan, pertanian, transportasi, dan pelayanan umum wajib menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini.

Upaya kita tidak berhenti sampai di situ. Pada 2020, program biodiesel terus ditingkatkan menjadi B30. Itu berarti, kadar energi terbarukan dalam tiap tetes solar semakin tinggi. Secara bertahap, kadar nabati dalam solar akan terus dinaikkan hingga berada di titik maksimal, yakni B100. Jika itu terlaksana, maka 100 persen kandungan solar bukan lagi berasal dari minyak bumi melainkan energi terbarukan.

Asa menciptakan B100 pada masa depan memang bukan sekadar impian. Sebab kandungan nabati dari biodiesel sejatinya berasal dari ekstraksi minyak kelapa sawit bernama bioetanol. Di sinilah kita patut bersyukur. Karena Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak kelapa sawit nasional pada 2019 mencapai 51,8 juta ton, atau meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16,7 juta ton dimanfaatkan untuk kepentingan domestik. Yang melegakan, setengah dari permintaan minyak kelapa sawit domestik diserap oleh program biodiesel.


  

Sederet catatan di atas tentu membanggakan. Akan tetapi, bukan berarti program biodiesel bebas hambatan. Tantangan terbesar, seperti yang dikemukakan di awal, ialah menekan harga jual biodiesel agar, paling tidak, setara dengan bahan bakar konvensional.

Untuk saat ini, selisih ongkos produksi biodiesel disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Konsep pengelolaannya pun sangat baik, karena menjunjung tinggi semboyan “dari kita untuk kita”. Perusahaan sawit berorientasi ekspor dipungut iuran sejumlah tertentu. Dana iuran itu digunakan untuk menambal selisih ongkos produksi biodiesel, agar harga jual biodiesel di pasaran bisa bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM).

Kita pun berharap banyak pada perkembangan teknologi. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya konsumsi biodiesel dalam negeri, teknologi produksi pun akan terus berkembang. Ongkos produksi biodiesel pun suatu saat akan lebih murah daripada biaya produksi bahan bakar konvensional.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah ini. Secara bertahap, gantilah bahan bakar mesin dan kendaraan kita dengan biodiesel. Selain ramah lingkungan, kita juga berperan serta dalam membantu bangsa menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi impor BBM. Keren, kan?




Selain biodiesel, tenaga surya juga menjadi sumber alternatif EBT yang potensial. Apalagi, sumber energi yang satu ini tidak akan habis dimakan zaman. Selama ada sinar matahari, selama itu pula energi bisa dihasilkan.

Saat ini, teknologi yang mengubah radiasi sinar matahari menjadi energi listrik secara langsung sudah tersedia. Namanya solar panel atau photovoltaic. Di Indonesia, teknologi solar panel sudah banyak digunakan untuk Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Yang menarik, penggunaan tenaga surya sebagai sumber energi listrik alternatif pengganti batubara terus meningkat. Apa sebab? Sama seperti biodiesel, keseriusan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi terbarukan memang memegang peranan yang begitu besar.

Kementerian ESDM, melalui Permen ESDM No.12/2008, telah meneguhkan penggunaan tenaga surya sebagai sumber penerangan jalan. Dampaknya, pembangunan infrastruktur penerangan jalan berbasis tenaga surya pun terus meningkat. Selama 2016—2019, sudah ada 46.613 unit PJU-TS yang dibangun.

Lampu tenaga surya itu telah menerangi 2.300 km jalan di 258 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, target pembangunan PJU-TS kembali dinaikkan. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 45.000 unit dalam setahun, atau hampir setara dengan torehan pembangunan selama 4 tahun terakhir.


  

Bukan hanya jalan raya saja yang mendapat sentuhan tenaga surya. Lampu tenaga surya juga sudah menerangi puluhan ribu desa yang tersebar di 22 provinsi berkat program bantuan LTSHE. Sepanjang 2017—2019, ada 363.220 unit LTSHE dibagikan secara cuma-cuma kepada desa yang belum menikmati listrik sama sekali.

Dari keseluruhan daerah, Nusa Tenggara Barat dan Papua menjadi dua provinsi dengan jatah pembagian LTSHE terbesar. Secara berturut-turut, jumlah LTSHE yang diterima oleh kedua provinsi di Kawasan Timur Indonesia itu mencapai 21.558 unit dan 13.252 unit.

Selain sebagai upaya mengurangi peran batubara yang saat ini menjadi sumber energi listrik terbesar nasional, program bantuan LTSHE juga menjadi ejawantah sila kelima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan bantuan LTSHE, saudara kita yang berada di area terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) bisa mendapat penerangan yang sama dengan kita yang berada di daerah jangkauan aliran listrik.

Kita paham bahwa penerangan merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam mencapai kesejahteraan. Melalui penerangan yang baik, kegiatan belajar-mengajar dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerangan adalah sumber harapan bangsa.

Ke depan, pemanfaatan tenaga surya tidak berhenti sebagai sumber penerangan saja. Pada Februari lalu, PT Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN, sudah menggunakan teknologi solar panel di atap gedung kantor dan unit bisnis pembangkitnya di Bali, untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, bukan mustahil bila teknologi solar panel nantinya akan digunakan secara masif di gedung perkantoran di daerah perkotaan. Atau bahkan di rumah-rumah sebagai alternatif pengganti listrik. Jika itu terjadi, harapan menurunkan emisi karbon dan membangun manusia Indonesia yang peduli akan kelestarian lingkungan pasti bakal terwujud.


 
Jika biodiesel dan tenaga surya sudah tidak asing kita dengar, maka yang satu ini pasti belum banyak diketahui orang. Ya, tidak banyak yang mengira kulit cokelat bisa digunakan sebagai sumber alternatif energi terbarukan. Dan yang paling membanggakan, temuan mengenai potensi kulit cokelat sejatinya datang dari ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Dieni Mansur.

Pada 2014, Dieni mempublikasikan jurnal bertajuk Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals. Dalam kajiannya, ia membuktikan kulit cokelat bisa menghasilkan minyak nabati, bernama pyrolysis oil, yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik.

Pyrolysis oil selama ini memang dikenal punya beragam manfaat. Di bidang kesehatan, minyak nabati ini dimanfaatkan sebagai bahan baku antiseptik dan cairan pembersih luka. Dalam bidang pangan, pyrolysis oil lazim digunakan sebagai cairan pembuat cuka.

Khusus di bidang energi, belum banyak yang memanfaatkan pyrolysis oil. Padahal, menurut Dr. Dieni, potensinya sangat besar. Kulit cokelat—bahan baku pyrolysis oil—berasal dari residu atau limbah kebun cokelat. Cokelat yang biasa kita konsumsi berasal dari biji cokelat. Sedangkan kulitnya biasanya dibuang petani dan menjadi limbah. Itu artinya, memanfaatkan kulit cokelat sama dengan melestarikan lingkungan.

Dengan demikian, tinggal satu pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah biaya produksi pyrolysis oil dari kulit cokelat bisa menandingi ongkos produksi batubara? Untuk menjawab pertanyaan itu, dua tahun lalu saya bertemu Dr. Dieni secara langsung. Kebetulan, saya bekerja sebagai analis ekonomi yang terbiasa menghitung ongkos produksi.


  

Setelah kami kalkulasi, hasilnya cukup mencengangkan. Ongkos produksi pyrolysis oil lebih hemat sekitar 20—30 persen ketimbang batubara. Selain itu, tingkat kalori yang dihasilkan pyrolysis oil lebih tinggi daripada batubara. Tingkat kalori batubara yang lazim digunakan PLN hanya berkisar 4.400 kcal. Sedangkan pyrolysis oil mampu menghasilkan energi setara 5.200 kcal. Hebat, kan?

Untuk urusan pasokan, kita tidak perlu khawatir. Indonesia adalah negara penghasil cokelat terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kementerian Pertanian mencatat produksi cokelat nasional pada 2019 mencapai 783,97 ribu ton, meningkat 2,18 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu semua bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil pyrolysis oil.

Apa yang ditemukan Dr. Dieni memberi banyak harapan sekaligus—sekali lagi—membuktikan bahwa Indonesia kaya akan sumber energi bersih dan terbarukan. Ke depan, apabila temuan Dr. Dieni bisa diekskalasi ke tingkat produksi masal, tentu akan meningkatkan capaian EBT dalam bauran energi nasional.




Dari ulasan tiga sumber energi terbarukan di atas, tentu kita berharap banyak. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa semestinya kita menitipkan masa depan bangsa pada energi terbarukan. Karena Indonesia, nyatanya memang punya kekayaan alam melimpah, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tinggal bagaimana kita yang hidup pada zaman sekarang menentukan langkah ke depan. Sudahkan kita berperan serta dalam proses penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan? Ingat, apa yang kita kerjakan saat ini pasti punya dampak bagi generasi mendatang. Jadi, ayo gunakan energi terbarukan untuk masa depan yang lebih gemilang. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 bertema Energi untuk Indonesia kategori blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.



Daftar Referensi

1. Gopal, D, dan Reddy, R.T. 2015. Exploitation of Conventional Energy Resources—Impacts on Environment—A Legal Strategy for Sustainable Development. 4th International Conference on Informatics, Environment, Energy and Applications Volume 82 of IPCBEE.

2. Kuo, Gioietta. 2019. When Fossil Fuels Run Out, What Then? [daring, https://mahb.stanford.edu/library-item/fossil-fuels-run/, diakses pada 29 Agustus 2020].

3. Kementerian ESDM. 2020. Capaian Kinerja 2019 dan Program 2020. Jakarta: Kementerian ESDM.

4. Yolanda, F. 2020. Produksi Sawit 2019 Capai 51,8 Juta Ton [daring, https://republika.co.id/berita/q54sje370/produksi-sawit-2019-capai-518-juta-ton, diakses pada 29 Agustus 2020].

5. Mansur D. dkk. 2014. Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals.

6. Kementerian Pertanian. 2020. Produksi Kakao Menurut Provinsi di Indonesia 2016—2020. Jakarta: Kementerian Pertanian.

0 komentar:

Senyum Ceria di Balik Ikhtiar Sejuta Griya



Raut wajah Tomi tampak berseri. Setelah lama menanti, impiannya punya rumah pertama bakal segera terpenuhi. Berkat program rumah bersubsidi, akhirnya ia memiliki tempat berlindung dari deras hujan dan terik matahari usai menikah nanti.

*** 

Hunian adalah impian setiap insan. Siapa pun pasti bermimpi punya rumah sendiri. Alasannya bermacam-macam. Ada yang mempersiapkan tempat tinggal untuk berumah tangga nanti, ada pula yang berinvestasi supaya hartanya tak tergerus inflasi. Yang jelas, sejak dulu papan memang menjadi salah satu kebutuhan utama manusia selain sandang dan pangan.

Hanya saja, sebagian orang masih merasa kesulitan mewujudkan mimpinya. Selain harganya relatif mahal, dibutuhkan kesabaran dan kegigihan menabung untuk bisa membeli rumah. Inilah mengapa, sebagian kalangan milenial atau pekerja anyar sering mengeluh kesulitan ketika ditanya kapan punya rumah sendiri. Padahal, penghasilan pas-pasan semestinya tidak menjadi halangan dalam meraih rumah impian.

Kalau tak percaya, tengok saja kisah Tomi. Pemuda asal Medan ini bekerja sebagai seorang satuan pengamanan (satpam). Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Boro-boro nongkrong tiap akhir pekan, ia harus membiayai keperluan hidup kedua orangtuanya setiap bulan. Kalaulah ada sisa uang, pasti ia tabung untuk modal membeli hunian.

Tomi memang berasal dari keluarga sederhana. Orangtuanya menggantungkan rezeki dari berjualan nasi padang pinggir jalan di bilangan Medan Johor. Ukurannya juga tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk sekitar 20 pelanggan saja. Apalagi, tahun ini adalah periode yang sulit bagi keluarga Tomi. Sama seperti kebanyakan bisnis kuliner lainnya, usaha yang dilakoni orangtua Tomi juga terdampak badai Korona.

Omzetnya menurun gara-gara minimnya aktivitas warga di luar rumah. Tak seperti hari-hari sebelumnya, pelanggan Nasi Padang Uni Lis—sebutan rumah makan milik orangtua Tomi—lebih memilih memasak di rumah ketimbang santap di tempat. Alhasil, kini rumah makannya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan itulah, Tomi menjadi tulang punggung keluarga bersama kedua orang kakaknya.

Meski tantangan menghadang, Tomi tak pernah menyerah. Situasi sulit tidak membuatnya putus asa. Tomi tetap giat bekerja sembari berbakti kepada kedua orangtua. Tidak lupa, ia juga selalu menyisihkan sisa uang bulanan untuk menggapai mimpinya. Tak seperti kebanyakan milenial seusianya, dirinya memang punya visi jauh ke depan.

Sejak pertama bekerja dua tahun silam, ia sudah bercita-cita punya rumah sendiri. Padahal, usianya kala itu baru 24 tahun. Tatkala kawan sebayanya masih disibukkan dengan bermain gim online atau berburu kopi kekinian, ia malah rela mengencangkan ikat pinggang. Alasannya satu: supaya ketika menikah nanti tidak lagi numpang di rumah ortu.

 

Pernah suatu ketika, Tomi diajak kawannya bertamasya ke Berastagi. Kata kawannya, sekadar cuci mata sekaligus mempererat tali silaturahmi. Namun Tomi sadar, segala aktivitas di luar rumah berpotensi menimbulkan biaya tak terduga. Ia tidak ingin impiannya tertunda hanya karena alasan tenggang rasa. Tawaran kawan ditampiknya dengan sopan.

Akan tetapi, bukan rasa kepedulian yang ia dapatkan melainkan seloroh ejekan. “Sombong betul kau, Tom. Sudahlah, sadar diri saja. Kau tak akan sanggup membeli rumah dengan gaji satpam-mu,” ejek kawannya.

Meski kerap dicemooh, Tomi tetap bergeming. Keputusannya memiliki hunian sudah dipatok bulat-bulat. Ia tolak mentah-mentah ajakan kawannya dengan alasan ingin hidup hemat. Supaya pundi-pundi tabungannya tidak terbuang sia-sia hanya karena melakukan sesuatu yang tiada berguna dan tidak jelas hasilnya.

Lebih baik mengelus dada dan bersabar ketimbang mengubur impian yang sudah lama ia pendam. Skala prioritas sudah disusun dengan jelas. Ia mesti menunda kesenangan demi mewujudkan impian, sekalipun harus menolak ajakan bersenang-senang dari seorang kawan.

Lagi pula, tugasnya sebagai satpam membutuhkan fisik yang prima. Tidak jarang ia harus begadang karena kebagian jaga malam. Ia tidak ingin tanggung jawabnya jadi terbengkalai gara-gara tidak enak badan andai mengiyakan ajakan temannya. Ia juga tidak ingin dipecat gara-gara, misalnya, ketiduran saat bertugas. Saat lepas tugas, lebih baik beristirahat di rumah daripada susah beli rumah.

 

Setiap kegigihan dan kesabaran pasti membuahkan hasil yang menggembirakan. Betul saja, perjuangan Tomi tidak sia-sia. Setelah dua tahun lebih menanti, kini tabungannya cukup untuk membayar uang muka. Usai mencari ke sana kemari, akhirnya pilihannya jatuh kepada sepetak rumah bertipe 36 di perumahan Griya Permata Indah IV, Sunggal, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Griya Permata Indah IV merupakan salah satu permukiman bersubsidi. Dibangun oleh pengembang lokal, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembiayaannya disokong dari sejumlah bank pendukung. Target pasarnya jelas, yakni masyarakat berpenghasilan rendah dengan pendapatan per bulan di bawah Rp8 juta.

Tomi terlihat semringah ketika menunjukkan buah kesabarannya kepada saya. Rumah mungil bercat kuning itu tampak berdiri kokoh. Letaknya tepat di sudut kompleks, membuat Tomi punya sejengkal lahan tambahan dibanding penghuni lainnya. Ketika sudah ditempati nanti, ia berencana menjadikan lahan kecil itu sebagai media bercocok tanam. Supaya terasa lebih asri dan hijau, begitu kata Tomi.

Rumah seharga Rp132 juta itu memang belum ditempati Tomi. Ia baru melunasi uang muka sebesar Rp7 juta dan menandatangani akad pembiayaan pada Februari lalu. Pihak bank dan pengembang menjanjikan serah terima kunci pada September mendatang. Ketika sudah dihuni nanti, Tomi mesti membayar angsuran sebesar Rp1,05 juta per bulan selama sepuluh tahun ke depan.

 

Kalau tidak ada aral melintang, Tomi akan pindah bulan depan. Sekarang, ia tengah mempersiapkan kepindahannya. Barang-barangnya yang kini berada di rumah orangtuanya sudah dikemasi dengan rapi. Sebagian baju-bajunya juga sudah dimasukkan ke dalam tas. Pokoknya, siap angkut pada saatnya nanti.

Yang jelas, Tomi sangat bersyukur menjadi salah satu penerima manfaat program rumah bersubsidi. Meski berpenghasilan pas-pasan, impiannya punya rumah sendiri jadi bisa terpenuhi. Dengan begitu, calon istri dan anaknya bisa terlindungi dari deras hujan dan terik matahari ketika mengarungi kehidupan berumah tangga nanti.


Sejuta Griya bagi Warga Indonesia

Senyum Tomi kepada saya seakan merepresentasikan kebahagiaan yang dirasakan jutaan warga Indonesia lainnya. Program kepemilikan rumah bersubsidi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak 2015 nyatanya memang menjadi sarana pewujud mimpi warga pra-sejahtera untuk memiliki rumah pertama. Melalui program itu, warga yang berpenghasilan pas-pasan bisa memiliki rumah dengan harga dan angsuran yang terjangkau.

Dalam mewujudkan mimpi warganya, pemerintah pusat tidak berjalan seorang diri. Kementerian PUPR menerapkan pola kerja sama dengan berbagai pihak. Selain dibangun oleh Kementerian PUPR sendiri, pembangunan rumah bersubsidi juga dilakoni oleh pemerintah daerah, pengembang lokal, maupun perusahaan swasta lewat dana tanggung jawab sosial. Untuk urusan pendanaan, sejumlah bank—baik BUMN maupun swasta—juga ikut andil.

 

Cita-cita pemerintah menyediakan rumah murah bagi warganya tergambar jelas dari semboyan yang diusung: Program Sejuta Rumah. Targetnya pun jelas. Selama program digelar, minimal ada sejuta hunian dengan harga terjangkau yang tuntas dibangun. Berkat kerja sama erat antar-pihak, sejak 2014 hingga 2019 sebanyak 4.800.170 unit rumah dilaporkan sudah berdiri dan dihuni.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar memang dikhususkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pada 2019 saja, sebanyak 1.257.852 unit rumah berhasil dibangun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 945.161 unit diperuntukkan bagi MBR. Sedangkan sisanya sebanyak 312.691 unit diperuntukkan bagi non-MBR. Dengan demikian, warga berpenghasilan rendah maupun generasi milenial yang baru bekerja bisa merasakan nikmatnya memiliki rumah sendiri.

Meski target terlampaui, pemerintah tetap melanjutkan program kepemilikan rumah. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan kekurangan suplai rumah atau backlog bagi segenap warganya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024, pemerintah telah menetapkan target pembangunan rumah rakyat sebanyak 5 juta unit.

 

Untuk mencapainya, sejumlah program baru pun disiapkan. Yang terkini, ada Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.25/2020 tentang Penyelenggaraan Tapera yang diketok palu pada 20 Mei 2020 lalu, setiap pekerja diwajibkan menabung agar kelak bisa punya rumah sendiri. Melalui program ini, sebanyak 500 ribu unit rumah dicita-citakan rampung dibangun hingga 2024 nanti.

Tidak hanya pegawai instansi pemerintah atau kenegaraan saja, pekerja swasta pun diwajibkan menjadi peserta Tapera. Asalkan, pendapatannya paling tidak setara dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Jadi, bukan hanya aparatur sipil negara, prajurit TNI, anggota kepolisian, atau pegawai BUMD saja yang diberi kemudahan memiliki rumah sendiri. Pegawai swasta maupun generasi milenial yang baru bekerja juga bisa menikmati fasilitas ini.

Besaran iuran Tapera pun sudah ditata agar tidak memberatkan pekerja. Hanya 3 persen dari penghasilan setiap bulan saja. Dari jumlah tersebut, sebesar 0,5 persen ditanggung oleh pemberi kerja. Barulah sisa sebesar 2,5 persen ditanggung secara mandiri oleh pekerja.

 

Yang jelas, semangat menabung warga memang perlu dipupuk kembali. Apalagi, hasil Tapera memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer warga Indonesia. Dengan kewajiban menabung, para pekerja mau tidak mau harus menyisihkan pendapatan demi menggapai impian: memiliki rumah idaman. Sebab kalau tidak dipaksa dan dibiasakan, mustahil asa punya rumah pertama bakal terlaksana.

Semangat Tapera sejatinya persis dengan kisah Tomi di atas. Untuk menggapai mimpi memiliki rumah pertama, kita harus rela menyisihkan sebagian pendapatan. Kita harus ikhlas menunda kesenangan demi meraih griya idaman. Ini yang patut disadari oleh siapa pun yang bercita-cita memiliki hunian.

Apalagi, dukungan Program Sejuta Rumah dari pemerintah terbukti berhasil sejauh ini. Dengan harga rumah dan cicilan yang tidak menguras kantong, kalangan berpenghasilan rendah bisa memperoleh tempat tinggal yang layak dan bermartabat. Dalam konteks yang lebih luas, ekonomi bangsa akan berputar dan taraf hidup warga akan meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana termaktub dalam sila kelima Pancasila, pasti akan tercipta. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional 2020. Pengambilan foto, gambar, dan olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.

0 komentar: