Navigation Menu

Menitip Masa Depan pada Energi Terbarukan



Indonesia memang belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan energi fosil. Tapi bukan berarti kita berdiam diri saja. Banyak cara untuk menghasilkan energi terbarukan. Biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat adalah tiga di antaranya.

*** 

Lebih dari seratus tahun lalu, Henry Ford, pencetus revolusi industri transportasi asal Amerika Serikat, pernah membuat ramalan. Katanya, energi masa depan akan berasal dari rumput, buah, tanaman—hampir apa saja.

Kala itu, banyak orang yang meragukan kebenaran ucapan Sang Revolutor. Namun seiring perkembangan zaman, ketika teknologi dan ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, mayoritas orang sepakat bahwa apa yang diucapkan Ford bukanlah pepesan kosong belaka.

Energi fosil yang lazim kita gunakan, seperti batu bara dan minyak bumi, memang punya beragam efek negatif. Mulai dari polusi udara, efek gas rumah kaca, pemanasan global, hingga hujan asam. Penelitian Gopal dan Reddy (2015) juga membuktikan bahwa proses eksploitasi energi fosil punya dampak buruk terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

Selain merusak lingkungan, energi konvensional juga dapat menurunkan kualitas kesehatan. Pembakaran pabrik dan kendaraan bermotor menyebabkan kita sesak napas. Itulah mengapa, kita lebih senang menghirup segarnya udara pegunungan ketimbang menyesap sesaknya hawa perkotaan.

Lagi pula, energi fosil bukanlah sumber daya abadi. Suatu saat nanti, jika dieksploitasi terus-menerus, akan habis dari muka bumi. Gioietta Kuo, peneliti dari Stanford, memprakirakan energi fosil akan habis pada 2090. Dengan demikian, jelaslah bahwa mencari sumber energi terbarukan mesti menjadi prioritas bangsa mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

Di tengah pencarian sumber energi terbarukan, kita patut bersyukur. Capaian produksi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia terus meningkat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat angka produksi EBT hingga Mei 2020 sudah mencapai 15.805,59 GWh, atau setara dengan 14,21 persen total produksi energi nasional.

Dibanding dua tahun lalu, angka bauran EBT kita mencatat lonjakan yang cukup menggembirakan. Pada 2018, pangsa EBT terhadap total energi nasional hanya berkisar di angka 8,55 persen saja. Dengan kata lain, kita membukukan kenaikan hampir dua kali lipat hanya dalam waktu singkat.




Namun demikian, kita pun sadar bahwa kita tidak boleh lekas berpuas diri. Sebab masih tersisa ruang perbaikan agar cita-cita meningkatkan bauran EBT hingga 23 persen pada 2025, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, benar-benar dapat diwujudkan.

Upaya pencarian sumber energi alternatif terus dilakukan. Banyak penelitian telah membuktikan komoditas alam dan organik bisa menjadi sumber energi terbarukan. Mulai dari singkong, sampah organik, hingga tebu. Hanya saja, penerapannya tidak semudah membalik telapak tangan.

Tingginya biaya produksi masih menjadi kendala terbesar. Sumber energi ramah lingkungan seringkali gagal mencapai pasar gara-gara mahalnya ongkos produksi. Karena alasan itulah batubara masih menjadi penyumbang bahan baku terbesar energi listrik nasional hingga sekarang.

Maka dari itu, energi alternatif yang perlu didorong dan dikembangkan harus berasal dari komoditas yang pasokannya melimpah dan punya daya saing. Agar ongkos produksinya bisa menandingi energi konvensional. Di antara beragam energi alternatif, ada tiga sumber energi yang keberadaannya patut dicermati, yakni biodiesel, lampu tenaga surya, dan kulit cokelat.

Nah, faktor apa yang menyebabkan ketiga sumber energi itu mampu menjadi tulang punggung EBT nasional pada masa depan? Sabar. Tarik napas dalam-dalam. Jangan lupa sediakan kopi dan camilan. Jika sudah, ayo kita ulas satu per satu.



Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi bersih dan ramah lingkungan sebenarnya sudah dilakukan sejak dua belas tahun silam. Kala itu, kadar biodiesel baru mencapai 2,5 persen. Artinya, setiap 100 liter biodiesel terdiri atas campuran 2,5 liter bahan bakar nabati atau energi terbarukan dan 97,5 liter bahan bakar solar. Seiring perkembangan teknologi, kandungan bahan bakar nabati terus ditingkatkan.

Keseriusan kita dalam mengembangkan biodiesel baru terlihat sejak 2016. Pada tahun itu, program mandatori B20 (biodiesel dengan kadar campuran bahan bakar nabati sebesar 20%) mulai digalakkan. Sesuai namanya, mandatori merupakan kewajiban atau keharusan. Dengan kata lain, sektor tertentu seperti usaha mikro, perikanan, pertanian, transportasi, dan pelayanan umum wajib menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini.

Upaya kita tidak berhenti sampai di situ. Pada 2020, program biodiesel terus ditingkatkan menjadi B30. Itu berarti, kadar energi terbarukan dalam tiap tetes solar semakin tinggi. Secara bertahap, kadar nabati dalam solar akan terus dinaikkan hingga berada di titik maksimal, yakni B100. Jika itu terlaksana, maka 100 persen kandungan solar bukan lagi berasal dari minyak bumi melainkan energi terbarukan.

Asa menciptakan B100 pada masa depan memang bukan sekadar impian. Sebab kandungan nabati dari biodiesel sejatinya berasal dari ekstraksi minyak kelapa sawit bernama bioetanol. Di sinilah kita patut bersyukur. Karena Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak kelapa sawit nasional pada 2019 mencapai 51,8 juta ton, atau meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16,7 juta ton dimanfaatkan untuk kepentingan domestik. Yang melegakan, setengah dari permintaan minyak kelapa sawit domestik diserap oleh program biodiesel.


  

Sederet catatan di atas tentu membanggakan. Akan tetapi, bukan berarti program biodiesel bebas hambatan. Tantangan terbesar, seperti yang dikemukakan di awal, ialah menekan harga jual biodiesel agar, paling tidak, setara dengan bahan bakar konvensional.

Untuk saat ini, selisih ongkos produksi biodiesel disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Konsep pengelolaannya pun sangat baik, karena menjunjung tinggi semboyan “dari kita untuk kita”. Perusahaan sawit berorientasi ekspor dipungut iuran sejumlah tertentu. Dana iuran itu digunakan untuk menambal selisih ongkos produksi biodiesel, agar harga jual biodiesel di pasaran bisa bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM).

Kita pun berharap banyak pada perkembangan teknologi. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya konsumsi biodiesel dalam negeri, teknologi produksi pun akan terus berkembang. Ongkos produksi biodiesel pun suatu saat akan lebih murah daripada biaya produksi bahan bakar konvensional.

Yang jelas, peran kita sebagai warga negara yang baik adalah mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah ini. Secara bertahap, gantilah bahan bakar mesin dan kendaraan kita dengan biodiesel. Selain ramah lingkungan, kita juga berperan serta dalam membantu bangsa menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi impor BBM. Keren, kan?




Selain biodiesel, tenaga surya juga menjadi sumber alternatif EBT yang potensial. Apalagi, sumber energi yang satu ini tidak akan habis dimakan zaman. Selama ada sinar matahari, selama itu pula energi bisa dihasilkan.

Saat ini, teknologi yang mengubah radiasi sinar matahari menjadi energi listrik secara langsung sudah tersedia. Namanya solar panel atau photovoltaic. Di Indonesia, teknologi solar panel sudah banyak digunakan untuk Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Yang menarik, penggunaan tenaga surya sebagai sumber energi listrik alternatif pengganti batubara terus meningkat. Apa sebab? Sama seperti biodiesel, keseriusan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi terbarukan memang memegang peranan yang begitu besar.

Kementerian ESDM, melalui Permen ESDM No.12/2008, telah meneguhkan penggunaan tenaga surya sebagai sumber penerangan jalan. Dampaknya, pembangunan infrastruktur penerangan jalan berbasis tenaga surya pun terus meningkat. Selama 2016—2019, sudah ada 46.613 unit PJU-TS yang dibangun.

Lampu tenaga surya itu telah menerangi 2.300 km jalan di 258 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, target pembangunan PJU-TS kembali dinaikkan. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 45.000 unit dalam setahun, atau hampir setara dengan torehan pembangunan selama 4 tahun terakhir.


  

Bukan hanya jalan raya saja yang mendapat sentuhan tenaga surya. Lampu tenaga surya juga sudah menerangi puluhan ribu desa yang tersebar di 22 provinsi berkat program bantuan LTSHE. Sepanjang 2017—2019, ada 363.220 unit LTSHE dibagikan secara cuma-cuma kepada desa yang belum menikmati listrik sama sekali.

Dari keseluruhan daerah, Nusa Tenggara Barat dan Papua menjadi dua provinsi dengan jatah pembagian LTSHE terbesar. Secara berturut-turut, jumlah LTSHE yang diterima oleh kedua provinsi di Kawasan Timur Indonesia itu mencapai 21.558 unit dan 13.252 unit.

Selain sebagai upaya mengurangi peran batubara yang saat ini menjadi sumber energi listrik terbesar nasional, program bantuan LTSHE juga menjadi ejawantah sila kelima Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan bantuan LTSHE, saudara kita yang berada di area terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) bisa mendapat penerangan yang sama dengan kita yang berada di daerah jangkauan aliran listrik.

Kita paham bahwa penerangan merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam mencapai kesejahteraan. Melalui penerangan yang baik, kegiatan belajar-mengajar dan ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penerangan adalah sumber harapan bangsa.

Ke depan, pemanfaatan tenaga surya tidak berhenti sebagai sumber penerangan saja. Pada Februari lalu, PT Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN, sudah menggunakan teknologi solar panel di atap gedung kantor dan unit bisnis pembangkitnya di Bali, untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, bukan mustahil bila teknologi solar panel nantinya akan digunakan secara masif di gedung perkantoran di daerah perkotaan. Atau bahkan di rumah-rumah sebagai alternatif pengganti listrik. Jika itu terjadi, harapan menurunkan emisi karbon dan membangun manusia Indonesia yang peduli akan kelestarian lingkungan pasti bakal terwujud.


 
Jika biodiesel dan tenaga surya sudah tidak asing kita dengar, maka yang satu ini pasti belum banyak diketahui orang. Ya, tidak banyak yang mengira kulit cokelat bisa digunakan sebagai sumber alternatif energi terbarukan. Dan yang paling membanggakan, temuan mengenai potensi kulit cokelat sejatinya datang dari ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Dieni Mansur.

Pada 2014, Dieni mempublikasikan jurnal bertajuk Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals. Dalam kajiannya, ia membuktikan kulit cokelat bisa menghasilkan minyak nabati, bernama pyrolysis oil, yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik.

Pyrolysis oil selama ini memang dikenal punya beragam manfaat. Di bidang kesehatan, minyak nabati ini dimanfaatkan sebagai bahan baku antiseptik dan cairan pembersih luka. Dalam bidang pangan, pyrolysis oil lazim digunakan sebagai cairan pembuat cuka.

Khusus di bidang energi, belum banyak yang memanfaatkan pyrolysis oil. Padahal, menurut Dr. Dieni, potensinya sangat besar. Kulit cokelat—bahan baku pyrolysis oil—berasal dari residu atau limbah kebun cokelat. Cokelat yang biasa kita konsumsi berasal dari biji cokelat. Sedangkan kulitnya biasanya dibuang petani dan menjadi limbah. Itu artinya, memanfaatkan kulit cokelat sama dengan melestarikan lingkungan.

Dengan demikian, tinggal satu pertanyaan yang perlu dijawab. Apakah biaya produksi pyrolysis oil dari kulit cokelat bisa menandingi ongkos produksi batubara? Untuk menjawab pertanyaan itu, dua tahun lalu saya bertemu Dr. Dieni secara langsung. Kebetulan, saya bekerja sebagai analis ekonomi yang terbiasa menghitung ongkos produksi.


  

Setelah kami kalkulasi, hasilnya cukup mencengangkan. Ongkos produksi pyrolysis oil lebih hemat sekitar 20—30 persen ketimbang batubara. Selain itu, tingkat kalori yang dihasilkan pyrolysis oil lebih tinggi daripada batubara. Tingkat kalori batubara yang lazim digunakan PLN hanya berkisar 4.400 kcal. Sedangkan pyrolysis oil mampu menghasilkan energi setara 5.200 kcal. Hebat, kan?

Untuk urusan pasokan, kita tidak perlu khawatir. Indonesia adalah negara penghasil cokelat terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kementerian Pertanian mencatat produksi cokelat nasional pada 2019 mencapai 783,97 ribu ton, meningkat 2,18 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu semua bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil pyrolysis oil.

Apa yang ditemukan Dr. Dieni memberi banyak harapan sekaligus—sekali lagi—membuktikan bahwa Indonesia kaya akan sumber energi bersih dan terbarukan. Ke depan, apabila temuan Dr. Dieni bisa diekskalasi ke tingkat produksi masal, tentu akan meningkatkan capaian EBT dalam bauran energi nasional.




Dari ulasan tiga sumber energi terbarukan di atas, tentu kita berharap banyak. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa semestinya kita menitipkan masa depan bangsa pada energi terbarukan. Karena Indonesia, nyatanya memang punya kekayaan alam melimpah, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tinggal bagaimana kita yang hidup pada zaman sekarang menentukan langkah ke depan. Sudahkan kita berperan serta dalam proses penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan? Ingat, apa yang kita kerjakan saat ini pasti punya dampak bagi generasi mendatang. Jadi, ayo gunakan energi terbarukan untuk masa depan yang lebih gemilang. [Adhi]

*** 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 bertema Energi untuk Indonesia kategori blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.



Daftar Referensi

1. Gopal, D, dan Reddy, R.T. 2015. Exploitation of Conventional Energy Resources—Impacts on Environment—A Legal Strategy for Sustainable Development. 4th International Conference on Informatics, Environment, Energy and Applications Volume 82 of IPCBEE.

2. Kuo, Gioietta. 2019. When Fossil Fuels Run Out, What Then? [daring, https://mahb.stanford.edu/library-item/fossil-fuels-run/, diakses pada 29 Agustus 2020].

3. Kementerian ESDM. 2020. Capaian Kinerja 2019 dan Program 2020. Jakarta: Kementerian ESDM.

4. Yolanda, F. 2020. Produksi Sawit 2019 Capai 51,8 Juta Ton [daring, https://republika.co.id/berita/q54sje370/produksi-sawit-2019-capai-518-juta-ton, diakses pada 29 Agustus 2020].

5. Mansur D. dkk. 2014. Conversion of Cacao Pod Husks by Pyrolysis and Catalytic Reaction to Produce Useful Chemicals.

6. Kementerian Pertanian. 2020. Produksi Kakao Menurut Provinsi di Indonesia 2016—2020. Jakarta: Kementerian Pertanian.

0 komentar: