Navigation Menu

Bermodal Internet, Ini Cara Saya Mendulang Rezeki Saat Pandemi



Suatu ketika sejawat di kantor pernah bertanya. Katanya, apa alasan saya rajin menulis di blog? Katanya lagi, sudah enak-enak terima gaji tiap bulan, kenapa harus repot-repot terjun di dunia digital?

Saya hanya menyodorkan jawaban singkat.

Digitalisasi adalah masa depan. Siapa yang enggan beradaptasi pasti terlibas perkembangan zaman. Nge-blog hanyalah salah satu bentuk tindakan rasional yang saya lakukan untuk menghadapi perubahan.

Sekarang, saya balik tanya. Apa yang sudah Anda persiapkan untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan dan ketidakpastian?

*** 

Percakapan di atas terjadi sekitar tiga tahun silam. Saat pandemi COVID-19 belum muncul ke permukaan dan meluluhlantahkan aktivitas ekonomi dan sosial. Ketika tatap muka masih menjadi barang murah yang, mungkin, belum banyak kita syukuri.

Kala itu sebagian orang masih belum sepenuhnya mempercayai arti penting digitalisasi. Rekan kerja saya, misalnya. Ia tidak yakin bahwa nge-blog bisa melahirkan pendapatan tanpa dibatasi sekat lokasi dan jabatan.

Meski menyandang profesi analis ekonomi di salah satu lembaga negara, saya sadar bahwa tiada seorang pun bisa menjamin apa yang akan terjadi pada masa depan. Bisa saja karena resesi ekonomi atau kejadian luar biasa lainnya, kantor saya terpaksa mengurangi jumlah karyawan.

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa saya akan bekerja hingga masa pensiun tiba. Sebab satu-satunya kepastian yang berlaku di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang, lantas kapan lagi?


Sekarang, kita bisa lihat sendiri. Apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi pada banyak pekerja di Indonesia. Gara-gara pandemi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) seakan bergulir tanpa henti.

Kementerian Tenaga Kerja, seperti dilansir Kompas (4/8), menyebut lebih dari 3,5 juta pekerja terpaksa di-PHK dan dirumahkan. Sementara jutaan pelaku usaha gulung tikar atau paling tidak mengalami penurunan omzet lantaran terdampak upaya pembatasan sosial.

Kalaupun nasib baik masih berpihak, risiko pemotongan gaji sudah pasti ditanggung pekerja. Masih segar dalam ingatan kabar viral beberapa waktu lalu. Seorang pekerja bergaji Rp20 juta per bulan curhat kepada pemerintah lewat media sosial lantaran gajinya disunat hingga separuhnya.

Ia mengaku kesulitan karena dengan gaji yang sekarang, cicilan dan biaya hidupnya jauh melebihi penghasilan. Sekalipun gajinya lebih dari dua kali upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta, ia masih berharap agar pemerintah sudi memberi santunan.

Meski terasa menggelikan, kabar viral itu membuktikan satu hal. Apa yang akan terjadi pada masa depan sepenuhnya milik Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah giat belajar, rajin bekerja, dan gigih mengasah kemampuan. Sebab hanya dengan cara itulah pundi-pundi rezeki bisa kita dapati.


Menangkap Peluang di Tengah Tantangan

Pandemi COVID-19 memang tidak menyenangkan bagi semua orang. Itu sudah pasti. Namun demikian, saya termasuk pribadi yang optimis. Saya yakin, Tuhan tidak pernah memberi ujian jika tidak disertai dengan jalan keluar.

Jadi, daripada sibuk berkeluh kesah, lebih baik kita mencari hikmah. Ingat, menggerutu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mending putar otak dan cari akal bagaimana cara mendulang rezeki di tengah himpitan pandemi.

Kalaulah sudi berkaca pada data, maka kita akan temukan jawabannya. Sandvine, konsultan internet asal Kanada, melaporkan konsumsi internet dunia naik hingga 40 persen selama pandemi. Data itu disajikan dalam kajian bertajuk The Global Internet Phenomena Report COVID-19 Spotlight.

Jika kita kaitkan data di atas dengan fenomena digitalisasi, maka pandemi terbukti mempercepat proses digitalisasi itu sendiri. Itulah sebabnya, bidang pekerjaan yang mampu bertahan—bahkan melejit—selama pandemi pasti berkaitan dengan internet.

Sebagai contoh, pekerja kantoran—seperti saya—terpaksa menerapkan kebiasaan baru berupa bekerja dari rumah. Rapat atau aktivitas tatap muka kini dilakukan di ranah maya. Entah pakai virtual meeting, entah lewat email.

Pendidikan sama saja. Untuk mencegah penyebaran virus korona, istri saya terpaksa mempertahankan tesisnya di hadapan sidang pascasarjana dari depan layar laptop. Bulan depan, ia akan diwisuda, lagi-lagi melalui sambungan virtual.

Sektor usaha pun serupa. Pelaku usaha yang mampu berdiri tegak selama pandemi adalah mereka yang sudi merambah pasar digital. Aktivitas promosi maupun penjualan lebih banyak mengandalkan pasar daring (e-commerce), media sosial, maupun layanan pesan antar.

Bagaimana dengan blog? Well, kalau mau bukti, mari saya sodorkan satu data lagi. Menurut Tribun (2/5), penulis digital atau blogger adalah satu dari delapan profesi paling menjanjikan selama pandemi. Tujuh profesi lainnya adalah desainer grafis, fotografer, YouTuber, penjual masker, pedagang camilan, podcaster, dan penjual pulsa.






Itulah mengapa, sejak 2016 saya gigih menggeluti dunia blogging. Sekalipun sudah menduduki posisi cukup nyaman di kantor, saya punya prediksi, blogger bakal menjadi pekerjaan menjanjikan pada masa depan. Tak disangka, prediksi saya kini sudah terbukti.

Sekarang kita sudah sadar. Ternyata masih banyak peluang bertebaran walaupun situasi tengah dirundung tantangan. Pertanyaannya, sudikah Anda bekerja keras dan mengasah diri hingga sanggup mendulang rezeki dari beragam profesi tadi?

Yang jelas, seperti judul artikel ini, saya akan blak-blakan membuka pengalaman saya mendulang rezeki dari dunia blogging. Artikel ini bakal merincikan upaya saya mengais pundi-pundi di bidang kepenulisan digital. Moga-moga ada manfaat yang bisa kalian ambil dan praktikkan.

Jika nanti dirasa baik dan bermanfaat, jangan lupa sebarkan kepada teman, relasi, ataupun sanak famili. Ingat, pahala menyebar kebaikan itu setara dengan berbuat baik. Jadi, tanpa berpanjang-lebar, ayo kita mulai sekarang.

1. Kompetisi Menulis

Sekitar 80 persen total pendapatan yang saya peroleh dari dunia blogging berasal dari hadiah kompetisi menulis. Bahkan sebenarnya, lomba blog merupakan langkah pertama saya berkecimpung di dunia kepenulisan digital.

Jadi begini. Lima tahun silam, kantor saya mengadakan kompetisi blog untuk karyawannya. Gara-gara tergiur hadiahnya, saya coba-coba ikut saja. Hasilnya bisa kalian duga. Saya terpaksa gigit jari lantaran artikel saya buat sekenanya saja.

Penasaran, dong!

Tahun depan saya ikut lagi kompetisi serupa. Namun kali ini saya hadir dengan segudang persiapan. Sebelum menulis, saya pelajari dulu karya para jawara. Saya perhatikan betul bagaimana pemenang lomba menyusun kata demi kata.

Alhamdulillah, saya berhasil mendapat juara kedua. Tahun berikutnya, prestasi saya kembali meningkat. Saya sukses menggondol peringkat pertama.

Sejak saat itu saya rajin menulis dan mengikuti kompetisi. Tidak puas bermain di kandang, saya cari kompetisi menulis berskala nasional. Hasilnya sungguh mengejutkan. Ada puluhan kompetisi menulis digelar dalam setiap bulan!

Penyelenggaranya pun bermacam-macam. Mulai dari perusahaan ternama, lembaga nirlaba, hingga instansi pemerintah. Tinggal pilih saja sesuai kesanggupan, pengetahuan, dan kemampuan kalian.

Hingga artikel ini naik tayang, saya telah menjuarai kompetisi menulis sebanyak 60 kali. Rinciannya bisa dilihat di sini. Memang tidak semuanya juara pertama. Ada yang kedua, ketiga, atau juara harapan. Yang pasti, saya berani jamin, pundi-pundi hadiah dari kompetisi menulis lebih dari sekadar menggiurkan.

Berapa persisnya?

Well, sebagai gambaran, selama 2019 saja, ada 30 lomba menulis yang berhasil saya juarai dari total 62 kali ikut serta. Memang tidak semua hadiah berbentuk uang tunai. Ada gadget, tiket liburan, voucher belanja, dan lain-lain.

Jika semua hadiah tadi dikonversi dalam bentuk uang, maka total pendapatan saya dalam setahun mencapai Rp82,7 juta. Dengan kata lain, dalam sebulan saya sanggup meraup pundi-pundi senilai hampir Rp7 juta. Itu di atas UMR DKI Jakarta, Kawan!

Lantas, apa kiat saya jadi juara?




Setelah ratusan kali ikut kompetisi, menurut hemat saya jurusnya cuma ada tiga. Pantang menyerah, gigih mengasah kemampuan menulis dengan mempelajari artikel para jawara, dan berdoa. Itu saja.

Kalau ketiga hal tadi sudah dilakukan tapi masih gagal juga, silakan cek lagi jurus yang pertama: pantang menyerah. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saja tidak selalu menjuarai Liga Champions, Kawan! Jadi, jangan pernah berputus asa.

Yakini saja rezeki itu sudah Tuhan atur seadil-adilnya. Tugas kita tinggal berikhtiar dan berdoa. Jika kalah dalam kompetisi yang satu, bisa jadi rezeki kita ada di kompetisi selanjutnya. Tetap bersemangat!

2. Konten Berbayar

Semakin banyak menulis di blog, semakin besar pula potensi blog kita dibaca orang. Dengan begitu, traffic atau jumlah kunjungan blog bakal semakin meningkat. Mesin pencari (Google, misalnya) tentu lebih senang merekomendasikan blog yang banyak dikunjungi orang.

Kalau sudah begitu, potensi blog kita untuk dilirik perusahaan atau brand ternama bakal semakin besar. Di sinilah awal mula rezeki yang kedua: konten berbayar atau sponsored post.

Seperti disinggung di awal, internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar kalangan. Segala informasi bisa dicari lewat jaringan internet. Internetlivestats melansir, jumlah pencarian situs lewat Google mencapai 3,5 miliar dalam sehari!

Untuk bersaing dengan miliaran situs lainnya di mesin pencari, perusahaan atau brand ternama sudi mengeluarkan biaya promosi. Blog yang jumlah kunjungannya tinggi diajak bekerja sama dalam bentuk konten berbayar.

Syaratnya, artikel harus mengandung kata kunci (keyword) tertentu yang disisipkan tautan (backlink) menuju laman perusahaan tadi. Artikel itu bisa dibuat oleh pemilik blog sendiri, ataupun disiapkan oleh pemberi kerja.

Kerja sama ini tentu menguntungkan kedua belah pihak. Blogger mendapat bayaran, sedangkan perusahaan memperoleh backlink. Backlink inilah yang akan meningkatkan kualitas situs perusahaan di mata mesin pencari.

Saya pribadi telah belasan kali bekerja sama dengan brand atau perusahaan. Untuk setiap artikel tidak lebih dari 1.000 kata, saya mendapat bayaran mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. Lumayan, kan?

Lalu, apa kiat supaya blog kita dilirik banyak perusahaan?




Ada dua cara. Pertama, berjuang sendiri. Rajinlah mengepos artikel berkualitas di blog, kemudian sebarkan tautannya lewat media sosial. Supaya blog kita dibaca banyak orang dan jumlah kunjungan meningkat.

Dengan begitu, peluang kita diajak bekerja sama oleh brand atau perusahaan ternama akan semakin besar. Jangan lupa, cantumkan pula nomor kontak kalian di blog. Supaya pemberi kerja tahu ke mana mereka harus menghubungi kalian.

Kedua, ikut komunitas atau agensi. Dewasa ini banyak agensi blogger yang punya akses ke berbagai perusahaan ternama. Dengan mendaftarkan diri pada agensi, peluang mendapat tawaran kerja sama konten berbayar akan semakin besar.

Namun demikian, kedua cara di atas sama-sama memerlukan satu hal: rajin-rajin mengepos artikel di blog. Jangan sampai blogmu dihiasi sarang laba-laba karena jarang di-update. Minimal, buatlah tiga hingga lima artikel dalam sebulan.

3. Menulis Opini di Media Massa

Selain menulis di blog, tidak jarang saya mengirim opini ke media massa. Akan tetapi, nuansa artikel untuk kolom opini jauh berbeda dengan tulisan di blog. Jika di blog saya bebas curhat begini begitu, opini tidak seperti itu.

Agar opini naik cetak, pada umumnya kita wajib membahas isu atau topik hangat terkini. Semakin update, semakin besar peluang disetujui redaksi. Sesuai namanya, artikel opini juga mesti mengandung ide, solusi, atau pemikiran orisinal penulis mengenai isu atau fenomena yang sedang terjadi.

Ada sejumlah keuntungan jika opini kita diterima media. Selain menumbuhkan rasa bangga, tentu nama kita akan dikenal banyak orang. Semakin sering menulis opini, semakin kuat pula branding yang kita miliki. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja mendapat bayaran.




Jadi, berapa honor untuk setiap opini yang naik tayang?

Jawabnya bergantung pada kebijakan internal media. Tarif honor opini antara media yang satu dengan media lainnya tidak seragam. Sependek pengalaman saya, honor menulis di media cetak berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per artikel. Dengan kata lain, hampir setara dengan tarif konten berbayar.

Lalu, apakah menulis opini bisa dikategorikan aktivitas di media digital?

Tentu saja, iya. Tidak seperti dulu yang dikirim lewat pos dalam bentuk hardcopy, sekarang kita bisa mengirim opini melalui email dalam format softcopy. Jadi, prosesnya mirip-mirip dengan menulis di blog. Kelar tulis, tinggal kirim.

4. Royalti atau Bagi Hasil Penjualan Buku

Sejujurnya ini salah satu berkah dari rajin ikut kompetisi menulis. Beberapa penata kompetisi menulis yang saya ikuti memang bermaksud membukukan artikel para pemenang lomba. Buku itu kemudian dijual bebas kepada khalayak ramai.

Hingga kini sudah ada tiga buku antologi yang berhasil saya tulis dan beredar di pasaran. Daftarnya bisa kalian lihat pada infografis di bawah ini.




Sekali lagi, semuanya tidak saya niatkan. Saya hanya mengikuti kompetisi, keluar sebagai juara, bonusnya mendapat buku berisi karya sendiri dan pemenang lainnya.

Kabar baiknya, beberapa penyelenggara berbaik hati berbagi royalti. Sebagian keuntungan penjualan buku (harga jual buku dikurangi ongkos produksi) dibagikan kepada penulis.

Jadi, berapa royalti yang saya terima?

Sekali lagi, bergantung pada kebijakan penerbit dan penyelenggara lomba. Kalau saya, sekitar 16 persen dari harga jual buku. Jadi, misalkan setiap unit buku dijual dengan harga Rp100.000, maka bagi hasil yang akan saya terima sebesar Rp16.000 per buku.

Semakin banyak buku terjual, semakin banyak pula royalti yang bisa kita dapatkan.

5. Mengajar Kelas Menulis Virtual

Selain berkompetisi, inilah cara yang paling saya sukai untuk mengais rezeki. Bukan apa-apa, saya memang suka berbagi ilmu dan tampil di hadapan banyak orang. Sudahlah dapat pahala, eh, dapat sangu juga.

Saya tidak hapal persis kapan awal mula diminta mengajar. Yang jelas, ketika prestasi kepenulisan saya mencapai kisaran puluhan, banyak penyelenggara atau instansi yang meminta saya mengisi sesi kelas menulis.

Ada belasan kelas menulis yang telah saya narasumberi. Sebelum pandemi, biasanya kelas ditata dalam format tatap muka. Sekarang, seluruhnya mengandalkan aplikasi rapat virtual di ranah maya.

Uniknya, justru tawaran mengajar lebih banyak saya terima saat pandemi. Sepanjang 2020 saja, sudah ada empat kelas atau acara yang saya narasumberi. Rinciannya bisa kalian temui pada gambar di bawah ini.




Jadi, berapa honor yang saya terima tiap kali mengajar? Maaf, untuk yang satu ini saya tidak pernah menetapkan tarif.

Mengapa? Karena bagi saya, ilmu, termasuk kepenulisan, tidak semestinya menjadi barang dagangan. Dibayar syukur, tidak dibayar juga tidak apa-apa. Santai saja. Hitung-hitung tambah pahala.

Saya pernah mengantongi Rp150 ribu untuk cuap-cuap selama dua jam. Lain waktu diberi Rp1,5 juta untuk sekali pertemuan. Akan tetapi, saya juga pernah tidak menerima honor barang sepeser pun selama mengajar. Yang jelas, kualitas mengajar tetap saya jaga terlepas dari ada atau tidaknya honorarium.

Bagaimana bisa saya mendapat tawaran mengajar?

Well, di sinilah pentingnya branding, Kawan! Zaman sekarang, ketika kalian merasa punya kemampuan atau keahlian di salah satu bidang, promosikan saja lewat media digital. Baik lewat website ataupun media sosial. Cara itu saya lakukan hingga cap penulis digital melekat erat-erat.

Percayalah, jejak digital seseorang akan terekam dengan jelas pada era digital. Gunakan fakta itu untuk mempromosikan usaha atau keahlianmu. Ketika ada pihak yang memerlukan produk atau jasa tertentu, pasti mereka akan mencarinya lewat media digital.

Contohnya tidak usah jauh-jauh. Tengok saja diri sendiri ketika mencari hiburan, tutorial, ataupun barang belanjaan. Hal pertama yang kita lakukan pasti membuka Google, bukan? Maka dari itu, penting bagi kita untuk membangun digital branding yang jempolan.

Membangun Digital Branding Lewat Website

Salah satu media yang saya gunakan untuk membangun digital branding adalah situs atau website. Mengapa? Bagi seorang blogger, website ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Tanpa website milik sendiri, bagaimana artikel bisa diunggah?

Memang benar, blog atau website yang bersifat user generated content (UGC) banyak beredar di jagat maya. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk membangun sebuah digital branding? Jelas tidak.

Jangankan seorang blogger. Pelaku usaha saja kini beramai-ramai membuat website supaya produknya terkurasi oleh mesin pencari. Supaya ketika calon pembeli mencari produk itu lewat internet, situs milik pelaku usaha bisa terpampang di laman utama mesin pencari.

Hal yang sama juga berlaku pada blogger. Dengan memiliki website sendiri, maka pintu rezeki akan terbuka lebih lebar ketimbang menulis di blog UGC. Mulai dari lomba blog hingga konten berbayar, pasti mensyaratkan blogger untuk menulis di website pribadi.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara membuat website pribadi?

Well, langkah pertama yang perlu kalian tempuh adalah mencari penyedia hosting. Untuk yang satu ini, jangan tanggung-tanggung. Pilihlah penyedia Hosting Terbaik Indonesia seperti Exabytes Indonesia.




Mengapa saya menyarankan Exabytes Indonesia?

Sederhana saja. Exabytes adalah penyedia hosting yang telah malang-melintang selama 18 tahun lebih di dunia digital. Exabytes sudah melayani lebih dari 140 ribu klien, baik kalangan individu, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga instansi atau lembaga pemerintah.

Untuk menjaga kepercayaan klien, Exabytes senantiasa memberikan pelayanan terbaik, seperti menyediakan dukungan teknis profesional selama 24 jam penuh. Soal keandalan pun tidak perlu diragukan. Ada jaminan uptime server hingga 99,9 persen yang membuat waktu-muat atau loading page di website-mu semakin melaju.

Tak kenal, maka tak sayang. Untuk mengenal lebih jauh tentang Exabytes Indonesia, silakan tonton video di bawah ini.



Bagaimana Exabytes Membantumu Membuat Website?

Well, ada banyak cara, sih. Kamu bisa membuat website sendiri lalu berlangganan hosting dan Domain Murah di Exabytes. Atau kamu juga bisa mulai dari nol, duduk santai, rebahan, lantas tinggal terima beres saja dari Exabytes.

Lho, website-nya bisa dibuatkan Exabytes juga? Bisa, dong! Cocok banget buat blogger pemula yang belum paham mengutak-atik jeroan website, kan?

Exabytes menyediakan layanan Hosting WordPress Terbaik yang bisa kamu manfaatkan untuk memulai peruntungan di dunia digital. Yang perlu kamu lakukan ialah menentukan paket, memilih nama domain, membayar tagihan, dan menunggu website-nya beres. Mudah, kan?

Tinggal pilih saja sesuai kebutuhan dan profesimu. Untuk blogger pemula, ada pilihan paket WP Blogger dengan biaya Rp48.000 per bulan saja. Sedangkan untuk pelaku usaha kecil, ada paket WP Lite yang dibanderol dengan harga Rp64.000 per bulan.

Bila kedua pilihan di atas tidak cukup karena, katakanlah, kamu seorang developer atau reseller yang ingin bertransaksi melalui website, jangan berkecil hati. Exabytes juga menyediakan paket WP Plus dan WP Geek dengan harga, berturut-turut, Rp216.000 per bulan dan Rp752.000 per bulan.

Kalau sudah membayar dan ternyata kurang puas, lalu bagaimana, dong? Tenang. Exabytes memberikan jaminan 100 hari uang kembali. Kamu bisa me-refund uang secara penuh dalam 100 hari ke depan. Coba saja dulu! Ga akan rugi, deh.

Untuk mengetahui fitur apa saja yang disediakan pada masing-masing pilihan paket, silakan tengok infografis di bawah ini.







Raih Rezeki dengan Program Afiliasi

Sudah punya website dan ingin menambah penghasilan? Ada program menarik dari Exabytes, nih. Namanya Program Afiliasi Terbaik. Lewat program ini, kamu bisa mendapat komisi hingga 25 persen dari setiap transaksi yang menggunakan kode referral-mu. Asyik, kan?

Caranya bagaimana? Tinggal daftar saja di Exabytes. Gratis alias bebas biaya! Kalau sudah, kamu tinggal sebar link atau banner afiliasi sebanyak-banyak di website, media sosial, ataupun media digital lainnya.

Gampang, kan? Tinggal ongkang-ongkang kaki bisa dapat komisi.

O ya, Exabytes juga tidak membatasi pemakaian kode referral, lho! Jadi, kamu bisa mencari calon pelanggan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak pelanggan yang menggunakan kode referral-mu, semakin besar pula komisi yang bakal kamu dapatkan. Keren, kan?

Supaya kamu mendapat gambaran yang utuh mengenai program afiliasi di Exabytes, silakan simak infografis di bawah ini.







Pada Akhirnya, Semua Bergantung pada Ikhtiar Kita

Sekarang, kita sudah paham. Ternyata ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendulang rezeki lewat internet. Tinggal pilih saja, mana yang benar-benar cocok dengan kemampuan dan keahlianmu.

Pandemi COVID-19 ibarat cendawan di musim hujan. Kehadirannya yang begitu cepat dan meluas memang menyusahkan banyak orang. Namun demikian, kita harus yakin bahwa selalu ada hikmah di balik setiap musibah.

Sesulit apa pun tantangan menghadang, selalu ada peluang bagi mereka yang mau berpikir, berikhtiar, dan pantang menyerah. Pertanyaannya, apakah kita termasuk golongan orang yang gigih berikhtiar? Saya kembalikan lagi ke diri kalian.

Yang pasti, saya sudah panjang-lebar membuka resep mendulang rezeki tatkala pandemi. Sekarang giliran kalian. Maukah berbagi di kolom komentar? [Adhi]

*** 

Tautan artikel ini juga dibagikan melalui akun media sosial penulis:

Foto: dokumentasi pribadi. Ikon: Freepik dan Exabytes. Infografis: olah pribadi. Video: YouTube Exabytes Indonesia.

Senarai Rujukan:
1. Sandvine
2. Kompas
3. Tribun
4. Oberlo
5. Exabytes Indonesia

0 komentar: