Perpustakaan; Tabir untuk Melampaui Harapan


Setengah menggigil, ia mengisi daftar hadir lewat layar sentuh yang terpasang tepat di depan gerbang perpustakaan. Rambutnya basah, jaketnya kuyup. Bekas lumpur di ujung celana panjangnya pun tampak belum mengering.
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak tadi pagi, tidak membuat langkahnya terhenti. Meski sepanjang jalan penuh aral melintang, senyumnya tetap berseri. Begitu saya tanya alasannya datang kemari, jawabannya sungguh menggetarkan hati,
“Saya hanya ingin belajar ekonomi,” tuturnya pasti.
***
Namanya Budi. Ia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa tingkat tiga dari salah satu universitas swasta di Bekasi. Rambutnya ikal, berat badannya tidak sampai lima puluh kilogram. Kulitnya hitam legam, berbanding terbalik dengan giginya yang putih bersih bak model iklan pasta gigi.
Adalah tugas kantor yang mempertemukan saya dengannya siang itu. Di kantor saya, Bank Indonesia, memang terdapat sebuah perpustakaan. Letaknya di lantai dua, Menara Sjafruddin Prawiranegara. Umumnya digunakan oleh karyawan yang mencari bahan referensi untuk laporan, seperti saya. Namun tidak jarang pula dikunjungi oleh mahasiswa yang hendak berburu literatur ekonomi, seperti Budi.


Hari itu, Budi datang seorang diri. Hanya bermodalkan ransel berisi dua buku catatan dan beberapa lembar fotokopian. Sambil menggigit roti yang baru saja dibelinya, ia memulai cerita.
“Kampus kami memang tidak punya taman baca, Pak. Jadi, saya harus datang kemari setiap kali menjelang ujian, atau saat diberi tugas oleh dosen. Kebetulan, perpustakaan Bapak memang lengkap. Pustaka acuannya melimpah. Plus, ada komputernya juga.”
“Temanmu mana? Kok, datang sendirian?” tanyaku penasaran.
“Yah, itulah, Pak. Teman saya rata-rata anak orang berada. Mereka bisa membeli buku, sedangkan saya harus mengandalkan fotokopian. Mereka juga punya laptop, kalau saya masih nabung sedikit demi sedikit,” cakapnya sederhana.
Meski kisahnya memilukan, namun suaranya tidak terdengar getir sama sekali. Saya yang mendengarnya jadi malu sendiri. Karena tiba-tiba merasa digurui oleh keteguhan dan ketegaran sikapnya.
“Tapi saya tidak mau kalah dari mereka, Pak. Makanya saya rajin datang ke sini. Saya harus bisa jadi sarjana ekonomi dalam tiga setengah tahun. Setelah itu, saya mau jadi pegawai negeri di Cilacap, kampung halaman saya, sambil ngurusi Ibu yang sedang sakit seorang diri.”
Kalimat terakhirnya sontak membuat hati saya menangis. Batin saya teriris-iris. Rasa iba seketika memenuhi rongga dada. Saya pun tak kuasa berkata apa-apa, selain memberinya kesempatan bergumul dengan Advanced Financial Accounting karya Ted Christensen.
Sambil berlalu, diam-diam saya memanjatkan doa untuknya. Semoga semua yang dicita-citakannya lekas terlaksana.





Perpustakaan memang identik dengan buku. Keduanya saling berhubungan dan tidak bisa dilepaskan. Tidak ada perpustakaan tanpa buku. Sebaliknya, buku hanyalah komoditas profit jikalau tidak ada perpustakaan yang menyajikannya secara cuma-cuma.
Maka, tidak salah bila timbul argumen bahwa kualitas literasi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan perpustakaan. Semakin banyak perpustakaan, maka semakin terbuka pula kesempatan anak bangsa untuk bisa membaca dan memperoleh ilmu. Pada akhirnya, hanya dengan ilmulah kita bisa menjadi bangsa yang maju.
Hanya saja, sepertinya minat membaca masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Studi Central Connecticut State University bertajuk The World’s Most Literate Nations 2016, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari total 61 negara yang diteliti. Nomor dua dari bawah setelah Botswana. Sedih!


Bila dikupas lebih dalam, terdapat 5 kriteria yang menjadi ukuran dalam studi tersebut. Ada komputer (computers), input sistem pendidikan (education systems-input), output pendidikan (education-test scores), koran (newspapers), dan tentu saja perpustakaan (libraries).
Uniknya, dari lima kriteria tersebut, peringkat perpustakaan kita cukup lumayan. Ia berada pada peringkat ke-36, lebih baik dibandingkan dengan keempat kriteria lainnya, yakni komputer (peringkat ke-60), koran (55), input sistem pendidikan (54), dan kualitas pendidikan (45).
Oleh karena itu, bisa dibayangkan apabila perpustakaan tidak menjadi kriteria penilaian. Sudah barang tentu, Indonesia akan berada pada urutan paling buncit. Aih, jangan! Mari kita berdoa, supaya hal itu tidak benar-benar terjadi.



Berkaca dari hal tersebut, maka keberadaan perpustakaan tidak boleh diremehkan. Ia tidak hanya sekadar tempat berbagai buku diatur dan ditata, melainkan sebuah kawah candradimuka yang akan membawa sumber daya manusia Indonesia semakin berjaya di kancah dunia.
Seperti Budi, misalnya. Baginya, perpustakaan tidak ubahnya dengan sebuah tabir untuk melampaui harapan.
Keterbatasan ilmu, dilawannya dengan gigih membaca buku. Ketiadaan perangkat teknologi, ia akali dengan memanfaatkan komputer dan akses internet berkecepatan tinggi. Seluruhnya dilakukannya dari balik sekat perpustakaan. Dalam benaknya, hanya ada satu impian: menjadi seorang ASN dan kembali ke pelukan Ibunda di kampung halaman.
Seperti Budi, saya pribadi juga membutuhkan perpustakaan. Sebagai seorang analis ekonomi, data adalah raja. Tanpanya, analisis yang saya buat akan terasa hambar. Persis seperti sayur tanpa garam.
Nah, di perpustakaan saya bisa menemukan banyak data dan referensi, Oleh karenanya, perpustakaan menjadi tempat yang kerap saya kunjungi tatkala diminta menyiapkan laporan atau kajian oleh atasan.


Selain untuk kepentingan pekerjaan, ada lima kausa mengapa perpustakaan menjadi salah satu tempat favorit bagi saya. Bagi kalian yang masih enggan ke perpustakaan, semoga alasan ini bisa dijadikan alat untuk menguatkan niat kalian. Tanpa berpanjang lebar, yuk, kita tilik satu per satu.




Berbagai aktivitas harian yang kita lakukan, kadang kala membuat kita terjebak dalam rutinitas belaka. Celakanya, hal ini bisa menyebabkan kita lupa dengan impian dan cita-cita. Hanya melalui hari demi hari, tanpa adanya hasrat untuk meraih prestasi atau menjadi lebih baik lagi.
Agar tidak demikian, maka kita harus berhenti sejenak. Melihat kembali, apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan harapan. Apakah sikap kita selama ini telah memiliki nilai-nilai kebaikan. Singkatnya, mundur selangkah, untuk kemudian melesat jauh ke depan. Inilah esensi dari sebuah refleksi diri.


Nah, suasana hening yang menyelimuti perpustakaan, memberikan kesempatan bagi kita untuk mengintrospeksi diri. Hanya ada kita, buku, dan ketenangan jiwa. Bila hati sedang suntuk, bacalah buku-buku motivasi. Tatkala lapar inspirasi, lahaplah pustaka sarat gizi. Atau saat memerlukan hiburan, temukanlah novel yang laris di pasaran.
Hati tenang, jiwa kenyang, inspirasi pun datang. Asyik, kan?


Perpustakaan bukan sekadar gudang buku yang ditata asal-asalan. Perpustakaan adalah ruang di mana buku ditata dengan teratur, sistematis, dan penuh perhitungan. Ada alasan mengapa tidak sembarang orang bisa menjadi pustakawan.
Dengan berkunjung ke perpustakaan, maka kita akan diajari cara berpikir sistematis. Tatkala mencari sebuah buku, mau tidak mau, kita akan mempelajari denah perpustakaan terlebih dahulu. Katakanlah kita ingin melahap Inferno karya Dan Brown. Maka sudah tentu, kita akan mencarinya pada seksi buku populer atau novel, alih-alih pada rak yang berisi buku kesehatan.


Selain itu, perpustakaan juga mengajarkan kita untuk belajar tanggung jawab. Kala meminjam buku, kita wajib mengembalikannya dengan baik, utuh, dan tepat waktu. Sama halnya ketika membaca buku di tempat. Buku yang sudah selesai dibaca, wajib dikembalikan ke tempat semula.
Memang, sih, ada beberapa perpustakaan yang membolehkan kalian menaruh buku bekas baca di atas meja. Namun demikian, apa salahnya bila kita sedikit membantu tugas pustakawan? Toh, hitung-hitung beramal. Tentu tidak sulit, bukan?


Kita pasti sepakat bahwa perpustakaan adalah gudangnya ilmu. Akan tetapi, menurut saya, perpustakaan lebih dari itu. Tidak melulu soal pelajaran yang terkadang menjemukan, perpustakaan adalah tempat di mana kita bisa menggali potensi diri. Apapun cita-cita yang kalian langitkan, maka perpustakaan bisa menjadi tempat yang paling tepat untuk mulai mewujudkan.


Seorang yang ingin memulai bisnis, misalnya. Ia bisa datang ke perpustakaan untuk membaca 33 Cara Kaya Ala Bob Sadino karya Astrid Savitri atau The Seven Habits karya Stephen Covey.
Pun demikian halnya dengan seorang penulis atau narablog. Ketika membutuhkan tambahan diksi, ia bisa melahap Sepatu Dahlan anggitan Khrisna Pabichara. Atau ia juga bisa memelototi untaian kata dari novel international best seller berjudul Laskar Pelangi, buah pikir Andrea Hirata.
Bagi kalian generasi milenial yang ingin mencari pundi-pundi dari YouTube, maka Berlomba Jadi Populer di YouTube ciptaan Alfa Hartoko, menjadi kitab yang patut dibaca. Jadi, sudah siap menggali potensi diri ke perpustakaan?


Kalau kalian berpikir perpustakaan hanyalah tempat untuk membaca buku, maka mohon maaf, kalian salah besar. Suasana tenteram di perpustakaan, justru memberikan kita ruang untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Kok, bisa? Caranya? Rapat salah satunya.


Coba kita berpikir sejenak. Daripada menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk rapat di hotel berbintang, restoran unggulan, atau kafe kekinian, mengapa tidak kunjungi perpustakaan saja? Saya yakin, ada meja besar dan kursi memadai yang bisa kita gunakan untuk menggelar sesi diskusi.
Karena perpustakaan memaksa kita untuk tidak berisik, maka rapat pun akan menjadi lebih efektif. Pendapat yang diumbar, niscaya lebih tepat sasaran. Saran yang diajukan, otomatis lebih mudah dicerna. Alhasil, solusi dan kesepakatan atas topik atau permasalahan yang dibahas dalam rapat, akan muncul dengan lebih cepat.



Tidak melulu harus serius. Perpustakaan juga bisa kita gunakan sebagai ruang rekreasi agar otak lebih segar dan hati kembali adem.
Beberapa perpustakaan besar, seperti di kantor saya, telah menyediakan beragam fasilitas yang bisa kita manfaatkan. Seperti kopi dan teh gratis, serta akses internet secara cuma-cuma. Segala fasilitas ini bisa kalian manfaatkan sebagai sarana rekreasi.


Oleh karena itu, tatkala jam istirahat, saya kerap memanfaatkan perpustakaan untuk menyegarkan kembali pikiran yang sudah berkabut. Segelas teh manis akan menghangatkan kembali tubuh yang kedinginan akibat terpaan penyejuk ruangan. Akses internet, saya manfaatkan untuk menonton YouTube, atau membaca artikel hiburan yang diumbar oleh media daring tiap menit.
Selepas berkunjung ke perpustakaan selama setengah jam, hati pun menjadi senang, dan siap kembali memulai aktivitas hingga larut malam.


Sekarang, kalian sudah tahu, ternyata perpustakaan lebih dari sekadar gudang buku. Sebaliknya, perpustakaan memiliki banyak kebaikan yang bisa kita manfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup. Entah itu mencari ilmu, menggali potensi, tempat berinteraksi, atau bahkan sarana rekreasi. Setuju?
Oleh karena itu, ada satu pertanyaan yang perlu kalian jawab. Sudahkah kalian memetakan perpustakaan mana saja yang ada di daerah kalian? Jangan bingung. Apalagi sampai garuk-garuk kepala. Sebab Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah menyajikan datanya.


Dalam laman resminya, Perpusnas membabarkan bahwa saat ini terdapat sekitar 3.019 perpustakaan di seluruh Indonesia. Bila diperinci, maka ada 1.191 unit perpustakaan umum, 516 unit perpustakaan khusus, 39 perpustakaan unit perguruan tinggi, dan 1.273 unit perpustakan sekolah.
Pada laman yang sama, kalian juga bisa mengetahui alamat masing-masing perpustakaan, lengkap dengan titik koordinat lokasinya di Google Map. Canggih, bukan? Jadi, tidak alasan bagi kalian untuk bingung mencari perpustakaan, ya!
Nah, bagi kalian yang berdomisili di Banda Aceh dan sekitarnya, ada sebuah kabar gembira. Dari delapan perpustakaan yang ada di sana (menurut data Perpusnas), ada salah satu perpustakaan yang sayang bila dilewatkan. Orang Aceh pasti sudah tahu. Ya, apalagi kalau bukan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala?



Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, atau akrab dikenal dengan Perpustakaan Unsyiah, adalah salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh. Lokasinya berada tepat di Jalan T. Nyak Arief, Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.
Perpustakaan Unsyiah memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak pertama didirikan pada 1970, perpustakaan ini telah beberapa kali pindah lokasi. Awalnya, perpustakaan ini “hanya” menggunakan gedung Fakultas Ekonomi. Seiring dengan semakin tingginya minat baca dan kebutuhan para mahasiswa akan perpustakaan, maka sejak 1994, perpustakaan Unsyiah telah memiliki gedung sendiri. Lokasinya kini berdampingan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah.



Perpustakaan Unsyiah memiliki beragam koleksi pustaka yang dapat kalian jadikan acuan dan sumber ilmu pengetahuan. Setidaknya, ada 75.114 judul koleksi, yang terdiri dari berbagai jenis pustaka. Mulai dari buku, jurnal, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, referensi, laporan penelitian, CD-ROM, hingga dokumentasi. Wah, lengkap, ya?
Memang demikian adanya. Sebab perpustakaan yang dikelola oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah ini memiliki sebuah visi yang tidak bisa dianggap sepele. Yakni, menjadi pusat informasi ilmiah terkemuka dan berdaya saing di Asia Tenggara.
Visi tadi kemudian diwujudkan melalui capaian sertifikasi. Tahun lalu, Perpustakaan Unsyiah mendapat sertifikasi ISO 27001 pada bidang Keamanan Informasi Sistem Perpustakaan dengan aplikasi Online Public Access Catalog (OPAC), Open Educational Resources (EOR), dan Room Booking. Hingga saat ini, Perpustakaan Unsyiah adalah satu-satunya perpustakaan perguruan tinggi yang memegang ISO 27001.
Mungkin kalian bertanya, sertifikasi ISO 27001 itu konkretnya seperti apa, sih? Mudahnya, dengan OPAC, maka kalian bisa mencari buku secara mandiri hanya dengan mengakses portal melalui komputer. Jadi, kalian tidak memerlukan bantuan pustakawan lagi. Canggih, bukan? Untuk lebih jelasnya, silakan tonton video berikut ini.


Jika itu saja belum cukup, tenang saja. Sebab ada satu lagi. Tahun 2017, Perpustakaan Unsyiah menerima penghargaan dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pidie Jaya. Prestasi ini diperoleh oleh Perpustakaan Unsyiah atas keterlibatannya dalam membantu proses reaktivasi perpustakaan di Pidie Jaya, pasca gempa bumi pada Desember 2016. Hebat, bukan?


Nah, bagi kalian mahasiswa Unsyiah dan sekitarnya, ada lima alasan mengapa kalian harus berkunjung ke Perpustakaan Unsyiah, baik secara langsung, ataupun melalui website. Yuk, mari kita ulas satu per satu.







Selain puluhan ribu judul pustaka seperti yang sudah disinggung di atas, Perpustakaan Unsyiah juga memiliki pustaka elektronik yang sangat lengkap. Mulai dari tesis, disertasi, hingga ragam pustaka elektronik lainnya seperti e-book dan e-journal yang dapat kalian akses dari website Perpustakaan Unsyiah.









Perpustakaan Unsyiah juga telah menerbitkan majalah sendiri yang diberi nama Majalah Librisyiana. Majalah yang terbit setiap triwulan ini, berisi tentang informasi seputar kegiatan dan kehidupan kampus di Unsyiah. Nah, bagi mahasiswa Unsyiah sendiri, majalah ini merupakan santapan wajib supaya tidak kudet (kurang update). Setuju?









Sebagai bentuk apresiasi kepada civitas akademika Unsyiah yang telah berkontribusi dalam memajukan literasi, setiap tahunnya Perpustakaan Unsyiah mengadakan Library Award. Tahun lalu saja, ada tiga kategori pemenang, yakni dosen teraktif dalam kelas literasi, pemustaka paling sering berkunjung ke perpustakaan, dan peminjam buku terbanyak.



Nah, bila kalian mau terpilih jadi Pemenang Library Award selanjutnya, makanya, sering-sering berkunjung ke Perpustakaan Unsyiah, ya!






Serupa dengan Library Award, Perpustakaan Unsyiah juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa Unsyiah untuk menjadi duta baca Unsyiah. Caranya? Tentu saja, kalian harus gemar membaca, dan memiliki segudang prestasi di bidang literasi.
Setiap tahun, Perpustakaan Unsyiah membuka pendaftaran duta baca Unsyiah. Nantinya, seluruh pendaftar yang memenuhi syarat, akan diseleksi secara ketat oleh Dewan Juri yang berkompeten di bidangnya. Alhasil, ada seorang mahasiswa dan satu orang mahasiswi yang berhak dinobatkan sebagai duta baca Unsyiah.



Bagaimana? Tertantang menjadi seperti Nadya Tiffany dan Furqan?





Nah, ini yang paling menarik. Sebagai ajang untuk mengapresiasi segala bentuk literasi, Perpustakaan Unsyiah kembali mengadakan Unsyiah Library Fiesta. Pada Unsyiah Library Fiesta 2019 kali ini, ada empat kategori lomba yang diadakan.



Pertama, ada lomba baca puisi yang dapat diikuti oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa. Ada juga lomba debat bahasa Indonesia yang juga dilakoni oleh siswa SMA dan mahasiswa.
Di bidang seni musik, Unsyiah Library Fiesta 2019 juga menyelenggarakan lomba akustik yang dapat diikuti oleh peserta dari kalangan umum. Dan tentu saja, seperti artikel yang sedang kalian baca ini, ada blog competition bagi blogger yang gemar menulis dan mengikuti kompetisi.
Nah, tinggal dipilih, deh. Mana yang akan kalian ikuti sesuai dengan bakat kalian? Pokoknya, jangan sampai ga ikutan, ya!




Keberadaan perpustakaan memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sudut sana, banyak saudara kita yang menggantungkan harapan dari bilik-bilik perpustakaan. Seperti Budi yang tengah berjuang melawan segala keterbatasan dari balik ruang baca. Cita-cita mulia, ia langitkan bersama jutaan aksara yang menghiasi kedua matanya.
Sama halnya dengan Perpustakaan Unsyiah yang selalu menebar inspirasi dan motivasi. Perpustakaan ini membuktikan, bahwa jarak tidak menjadi penghalang bagi pembaca untuk berkunjung ke perpustakaan. Dari website-nya, kita bisa mengakses ribuan karya untuk mewujudkan berbagai asa. Melalui Unsyiah Library Fiesta 2019, kita juga bisa berkompetisi, sambil mengasah potensi sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Terakhir, ada satu kalimat dari Norman Cousins, advokat perdamaian dunia asal Amerika Serikat, yang saya yakin kalian sependapat.

A library is the delivery room for the birth of ideas, a place where history comes to life.

Ya. Ide-ide yang brilian sejatinya lahir dari rahim perpustakaan. Ide besar yang akan kekal dalam lintasan sejarah. Ide mulia yang akan membimbing pencetusnya untuk melampaui batas-batas harapan.
Jadi, kapan kita ke perpustakaan?[]






***

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Unsyiah Library Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Informasi mengenai lomba ini telah disebarkan melalui akun Instagram pribadi milik penulis.

Foto, Ikon, vektor, dan grafis bersumber dari koleksi pribadi, website Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, dan situs langganan berbayar Envato Market, di mana penulis terdaftar sebagai anggotanya dan memiliki hak untuk menggunakannya. Sedangkan video, diambil dari YouTube channel milik UPT. Perpustakaan Unsyiah.

Setiap gambar yang ditampilkan dalam artikel ini diolah secara mandiri oleh penulis. Masing-masing sumber telah dicantumkan pada setiap gambar.



Daftar Referensi

Central Connecticut State University. 2017. World’s Most Literate Nations 2016, [daring] (http://www.ccsu.edu/wmln/rank.html, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Perpustakaan Nasional. 2019. Pemetaan Perpustakaan Berbasis Wilayah, [daring] (http://pemetaan.perpusnas.go.id/, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Perpustakaan Unsyiah. 2017. Sekda Pidie Jaya Serahkan Piagam Penghargaan Untuk UPT. Perpustakaan Unsyiah, [daring] (http://library.unsyiah.ac.id/sekda-pidie-jaya-serahkan-piagam-penghargaan-untuk-upt-perpustakaan-unsyiah/, diakses tanggal 5 Maret 2019).
Serambinews. 2018. Perpustakaan Unsyiah Lulus Sertifikasi ISO 27001, Satu-satunya PTN di Indonesia, [daring] (http://aceh.tribunnews.com/2018/08/15/perpustakaan-unsyiah-lulus-sertifikasi-iso-27001-satu-satunya-ptn-di-indonesia, diakses tanggal 5 Maret 2019).

12 comments:

  1. Infografisnya makin kereeeeeennnn, bang. Btw klo mau nyari aku saat semester akhir, jawabannya hanya satu. Perpustakaan kampus sebelah hahaha, soalnya millenial bgt. Astaga Indonesia urutan ke-60, sedih yah, bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Merpus mulu, yak, waktu zaman skripsian. Sama, Bang. Hehehe.

      Terima kasih sudah mampir kemari, Bang. Salam hangat.

      Delete
  2. Tulisannya bagus mas adi. Sy yakin ini akan menjadi prestasi ke-26 anda. Semoga amiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Yaa Rabb. Terima kasih untuk doanya, Kak. Saya senang Kakak sudah meluangkan waktu untuk berkunjung kemari.

      Salam hangat.

      Delete
  3. Saya terharu membaca kisah Budi. Semoga apa yang di cita-citakan lekas tercapai, amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Yaa Rabb. Terima kasih sudah mampir kemari, Mas Amir. Salam hangat.

      Delete
  4. Semenjak pindah ke kampung halaman, tempat favorit kami untuk kongko sekeluarga atau bareng teman ya perpustakaan, Bang. Walau tak selengkap di kota besar, Perpustakaan Daerah lumayan nyaman dan bisa jadi solusi tempat menulis dan cari bahan. Kalau ada perpustakaan kayak Unsyiah, keren banget tuh. Tiap hari saya bawa bantal sekalian deh, plus selimut haha soalnya bakal betah. Moga saja Budi bisa mencapai cita-citanya ya. Perpustakaan banyak banget manfaatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senangnya bertamasya ke perpustakaan bersama keluarga. Saya yakin putra Mas Rudi nanti ada yang meneruskan jejak Ayahnya menjadi penulis handal. Amin.

      Terima kasih sudah mampir kemari ya, Mas. Salam hangat untuk keluarga di Lamongan.

      Delete
  5. Woww mantap, sekali mas tulisannya lengkap aktual dan mengalir bak air mengalir di sungai yang jernih

    ReplyDelete
  6. Semakin keren saja perpustakaan Unsyiah ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Kak. Terima kasih sudah berkunjung kemari. Salam hangat.

      Delete