Beranda

Navigation Menu

Kiat Sukses Berkarier dari Amsal Kepala Ikan



“Kalau menyantap ikan, habiskan pula kepalanya. Supaya di kantor nanti bisa cepat jadi kepala.”
Mendengar pernyataan di atas membuat saya geleng-geleng kepala. Meski kala itu baru diterima kerja, saya tetap tak percaya. Bagaimana mungkin kepala ikan bisa mengantar seseorang menuju kesuksesan? Ini pasti hanyalah mitos belaka. Tak perlu diyakini, apalagi sampai dimasukkan ke dalam relung sanubari.
Kalaupun kalimat tadi adalah sebuah analogi atau perumpamaan saja, logika saya tetap tak bisa menerima. Oke, ikan memang bergizi tinggi. Sarat vitamin, omega 3, dan protein hewani. Siapa saja yang rutin mengonsumsinya, pastilah pintar akal dan sehat jasmani. Dua modal yang bisa mendukung lesatan karier seseorang.
Akan tetapi, kenapa harus repot-repot menghabiskan kepalanya juga? Bukankah dagingnya saja sudah cukup?
Ah, memikirkan kepala ikan, membuat kepala saya berdenyut kencang. Tak masuk nalar. Karena jelas, tak ada kaitan antara “kepala ikan” dengan “kepala bagian”.
Bila maklumat di atas terlontar dari lidah orang biasa, mungkin tak sampai hati saya merenungkannya. Namun nyatanya, ia keluar dari lisan seorang yang cukup sukses. Pensiunan aparatur sipil negara yang menjabat kepala dinas, sebelum akhirnya purnatugas.
Nada bicaranya pun serius. Bukan main-main, apalagi sampai bercanda. Menyiratkan ada rahasia yang sangat penting daripada sekadar menyantap kepala ikan. Andaikan terkuak, pasti benar-benar bisa melantaskan jalan untuk menjadi kepala bagian.
Saya pun tidak berani bertanya blak-blakan. Maklum, usia kami terpaut puluhan tahun. Takut dibilang tak sopan, atau tidak paham tata krama. Memang tak mudah mengurai makna tersembunyi dari seorang angkatan lawas. Terkadang, yang perlu kita lakukan hanyalah mengurut dada dan bersabar.

Penantian panjang saya membuahkan hasil. Lima tahun berselang, akhirnya saya menemukan makna yang sebenarnya. Itu pun bukan karena Sang Pensiunan memberikan penjelasan. Tetapi karena pengalaman bekerja saya yang akhirnya membenarkan.
Pertama, menghabiskan kepala ikan berarti mengerjakan tugas hingga tuntas.
Ya. Apapun profesi yang kalian tekuni, “menuntaskan tugas” adalah kunci sukses yang pertama. Ketika bekerja, kalian akan diberi tanggung jawab untuk mengerjakan tugas. Namun, tidak semua tugas bersifat prioritas. Ada tugas-tugas yang terlihat remeh, namun sayang jika dilewatkan. Persis seperti amsal kepala ikan.
Seorang staf pemasaran, misalnya. Tugas utamanya adalah memasarkan produk atau jasa yang diproduksi oleh suatu perusahaan. Dalam bekerja, ia diberi mandat untuk memenuhi target penjualan.
Namun ketika ia hanya “berjualan”, maka tak ada ubahnya dengan “staf pemasaran biasa”. Tidak salah memang. Tapi, ya, hanya menjalankan tugas utama saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
Beda halnya ketika ia rela “menghabiskan kepala ikan”. Misalnya dengan cara mencatat seluruh umpan balik (feedback) dari para pelanggan. Baik yang bersifat pujian maupun kritik, saran, dan masukan.
Nah, umpan balik seperti ini tentu akan menjadi data yang sangat berharga bagi perusahaan. Diperlukan untuk menyempurnakan produk dan jasa yang dipasarkan. Perusahaan akan mendapat gambaran yang jelas mengenai persepsi produknya di mata pelanggan.
Suatu saat nanti ketika bos bertanya, apa yang menyebabkan produknya laris keras atau bahkan tidak laku di pasaran, ia sudah memiliki jawaban yang tepat dan akurat. Staf pemasaran yang seperti ini, tentu lebih berpeluang untuk menjadi manajer pemasaran di masa depan, bukan?

Kedua, berani menghabiskan kepala ikan sama artinya dengan berani mengambil tanggung jawab besar.
Ada kalanya ketika bekerja, atasan atau klien akan memberikan tanggung jawab yang lebih besar daripada kewenangan kita. Meskipun terkesan tidak adil, tetapi bisa jadi hal inilah yang akan melesatkan perjalanan karier kalian. Yang pasti, pengalaman seperti ini akan menambah peluru kalian saat wawancara kenaikan jabatan nanti.
Mari kita ambil contoh kasus Andi, seorang staf sumber daya manusia (SDM). Sehari-hari ia bertugas menerima keluhan dari para pegawai. Pada akhir bulan, ia bertanggung jawab untuk menghitung dan memasukkan gaji seluruh karyawan ke dalam sistem penggajian.
Suatu ketika, perusahaan tempatnya bekerja ingin mengadakan family gathering di Bali. Setiap karyawan boleh membawa serta keluarga untuk bersuka cita merayakan tercapainya target perusahaan pada tahun berjalan. Bos besar lantas mencari seseorang yang akan dijadikan sebagai ketua panitia family gathering.
Melihat peluang ini, dengan cepat Andi menawarkan diri untuk menjadi ketua panitia. Ia paham, kesempatan ini adalah “kepala ikan” yang sayang untuk dilewatkan. Dengan gagah berani, ia mengambil tanggung jawab yang lebih besar daripada tugas yang telah diamanahkan.
Sekilas memang seperti tak bermakna. Andi tidak mendapat bonus tambahan kala menjadi ketua panitia. Ia juga pulang lebih malam karena harus berkoordinasi secara intens dengan pihak hotel. Bahkan, ia juga harus merelakan pulsanya terkuras karena berulang kali menghubungi event organizer saat sedang tidak berada di kantor.
Namun, pekerjaan tambahan tadi menjadikan Andi lebih kaya pengalaman. Ia jadi tahu bagaimana cara menjalin hubungan baik dengan mitra kerja perusahaan. Ia juga mengerti bagaimana menata helat akbar sekelas family gathering. Layaknya seorang atasan, ia pun menjadi paham betul sifat dan perilaku seluruh karyawan di kantornya.
Hal selanjutnya tentu dapat kalian duga. Tatkala kursi manajer SDM kosong, Andi menjadi satu-satunya staf yang pantas mendudukinya, bukan?

Terakhir, tidak menyisakan kepala saat menyantap ikan semakna dengan tidak memilih-milih pekerjaan.
Ada pepatah bilang, jangan pernah sekali-kali menolak rezeki karena nanti akan merugi. Bila manfaatnya jelas, biasanya kita tak akan menolak. Namun tatkala faedahnya tersembunyi, inilah yang acapkali terlewatkan.
Mari kita simak kisah Budi dan Chandra, dua orang sales representative di sebuah dealer mobil mewah. Sebagai orang yang berhubungan langsung dengan calon pembeli, mereka diwajibkan untuk melayani dengan setulus hati. Menjelaskan spesifikasi mobil yang sedang dipajang, tanpa membeda-bedakan latar belakang pelanggan.
Chandra paham, bahwa produk yang dipasarkannya adalah mobil kelas atas. Calon pelanggan yang datang ke dealer, pada umumnya berasal dari kalangan pengusaha kelas kakap atau direktur dari sebuah perusahaan ternama, yang memiliki penghasilan di atas rata-rata. Chandra berpikir bahwa calon pelanggan yang demikian, pastilah selalu berpenampilan necis dan wah.
Oleh karenanya, Chandra selalu menilai pelanggan dari penampilannya saja. Jika yang datang memakai tuksedo, mengenakan jam tangan mewah, atau menenteng tas seharga puluhan juta rupiah, barulah Chandra melayani. Jika sebaliknya, maka Chandra hanya bersembunyi di balik meja kerja.
Lain Chandra, lain pula Budi. Ia sadar, tugasnya adalah memasarkan mobil tanpa harus menilai tampilan pelanggan. Siapa pun yang datang ke dealer, ia layani dengan sepenuh hati. Karena Budi sadar, penampilan kadang kala tidak mencerminkan kekayaan seseorang.
Ketika seorang pengusaha ala Bob Sadino datang ke dealer, mereka berbeda tanggap. Budi langsung melayani, sementara Chandra menghindar diri. Pengusaha bergaya ceplas-ceplos, bercelana pendek dan sandal jepit itu mendapat penjelasan yang lengkap dari Budi.
Apa yang ditanyakan, Budi selalu menjawab dengan jujur dan santun. Dengan tulus, Budi juga membukakan pintu saat Sang Pengusaha ingin melihat langsung interior mobil. Budi juga setia mendampingi tatkala Sang Pengusaha meminta uji berkendara (test drive) saat itu juga.
Setelah semuanya usai, Sang Pengusaha langsung memesan sepuluh unit mobil! Rupanya, ia sedang membutuhkan mobil untuk fasilitas transportasi pribadi para direktur yang menjalankan perusahaannya. Ia pun segera menandatangani surat pemesanan mobil hari itu juga.
Budi seperti mendapat durian runtuh. Sikap melayani tanpa pandang bulu membuat rezeki Budi mengalir deras dari jalan yang tak diduga.
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nasib Chandra. Keengganannya melayani calon pelanggan berpenampilan sederhana, membuat ia harus gigit jari. Ia pun mesti bekerja lebih keras untuk memenuhi target penjualan hingga akhir tahun nanti.
Nah, dari cerita tadi, kita pasti bisa menjawab pertanyaan sederhana berikut ini. Andaikan kalian adalah pemilik dealer, mana yang akan kalian angkat sebagai kepala cabang? Budi atau Chandra? Tentu saja Budi, bukan?

Dari amsal “kepala ikan” di atas, kita sudah tahu tiga sikap yang perlu dimiliki agar sukses dalam berkarier. Sekarang, ada satu pertanyaan yang tersisa. Bagaimana caranya agar pekerja dapat membentuk atau mempertahankan sikap tersebut selama bekerja?
Banyak penelitian yang sudah memberikan jawaban. Dari sekian banyak penelitian, ternyata ada satu faktor sederhana, namun perannya justru tak bisa dipandang sebelah mata. Bila faktor ini dikesampingkan, niscaya produktivitas kerja karyawan akan menjadi taruhannya.
Faktor yang dimaksud adalah kenyamanan suasana di lingkungan kerja.
Mari kita cermati hasil penelitian World Green Building Council. Katanya, sebanyak 81 persen karyawan sulit berkonsentrasi apabila suasana kantor tidak nyaman. Misalnya suhu ruangan yang terlalu panas, atau adanya gangguan suara yang terlalu bising.
Setali tiga uang, penelitian Purdue University dan Jones Lang Lasalle memberikan jawaban yang serupa. Pengaturan cahaya dan suhu ruangan yang baik, akan meningkatkan interaksi antar karyawan. Sehingga, waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan problem kerja menjadi lebih singkat.
Sama halnya dengan hasil kajian dua perusahaan teknologi terkemuka, Dell dan Intel. Sebanyak 58 persen pekerja memilih fasilitas internet dan ruang kerja yang terbuka sebagai faktor yang meningkatkan kenyamanan bekerja. Berbagai masalah IT, mulai dari internet lemot, glitch, dan bug, adalah kendala utama yang menyebabkan waktu kerja terbuang sia-sia.



Makanya tak heran bila tren menyediakan ruang kerja yang lega, terbuka, menenangkan, serta didukung dengan fasilitas internet, hiburan dan minuman ringan, semakin digemari oleh perusahaan. Bukan saja perusahaan skala besar, namun juga perusahaan rintisan. Hal ini pula yang menyebabkan coworking space semakin mendapat tempat di hati para pekerja lepas (freelancer).
Oleh karena itu, menyediakan kantor yang nyaman bagi para karyawan juga menjadi kunci keberhasilan suatu bisnis. Nah, bagi kalian pemilik perusahaan atau karyawan dari sebuah perusahaan yang sedang mencari kantor nyaman, tak perlu repot mencari-cari ke sana ke mari. Sebab, kini sudah ada Office99 yang hadir memberi solusi.

Office99 adalah penyedia layanan sewa kantor, baik fisik maupun virtual, yang telah beroperasi sejak tahun 2016 di Indonesia. Berkantor pusat di Educenter Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Banten, Office99 telah menyediakan kebutuhan workplace untuk perusahaan dari berbagai sektor usaha.
Mulai tahun 2018 kemarin, Office99 telah menjadi one stop business solution dengan menyediakan layanan pengurusan administrasi bagi perusahaan. Mulai dari dokumen identitas perusahaan, jasa pengurusan Perusahaan Kena Pajak (PKP), hingga jasa konsultasi pajak.
Office99 merupakan solusi praktis bagi perusahaan yang membutuhkan ruang kerja yang nyaman dan lengkap, namun dengan biaya yang terjangkau. Oleh karenanya, Office99 sangat cocok bagi perusahaan rintisan maupun pekerja lepas yang sedang mencari ruang kerja (workspace).
Ada dua jenis layanan sewa kantor yang disediakan oleh Office99, yakni Smart & Virtual Office. Di Office99, konsep smart office atau kantor pintar dihadirkan dalam layanan sewa kantor bernama Serviced Office. Sedangkan layanan sewa kantor virtual dibanderol dengan nama Virtual Office.
Penasaran? Mari kita ulas satu per satu.

Bagi perusahaan yang sedang mencari kantor siap pakai, layanan Serviced Office adalah solusinya. Selain nyaman, ruang kerja yang ditawarkan juga dilengkapi dengan furniture berkualitas, ruang rapat, toilet, internet, listrik, pantry, resepsionis, ruang penerima tamu, hingga area parkir dan keamanan.
Semua fasilitas tadi bisa kalian dapatkan dengan sistem satu harga. Artinya, hanya dengan membayar sesuai harga pada paket yang tersedia, maka kalian tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya operasional lainnya. Seperti biaya listrik, air, telepon, hingga keamanan gedung yang terkadang membuat sakit kepala.
Selain yang telah disebutkan di atas, menyewa kantor di Office99 juga memiliki segudang keunggulan, antara lain:
·       Alamat Kantor yang Prestisius
Dengan menyewa kantor di Office99, alamat kantor kalian akan berada di Educenter BSD, sebuah kawasan elit di Tangerang, Banten. Kantor yang beralamat di kawasan prestisius, tentu akan meningkatkan citra perusahaan di mata klien.
·       Layanan Email
Tak perlu repot-repot mengurus email kantor, karena Office99 akan memberikan layanan ini sesuai kebutuhan kalian.
·       Layanan Pengelolaan Telepon
Di Office99, kalian tidak perlu pusing memikirkan penerima telepon. Karena layanan ini telah disediakan untuk menunjang bisnis perusahaan kalian.
·       Minuman Gratis
Mau kopi, teh, atau air putih? Tenang saja. Semuanya disediakan secara cuma-cuma oleh Office99.
·       Akses ke Business Lounge
Kedatangan tamu, klien, atau pelanggan penting? Santai saja, karena Office99 juga menyediakan akses ke business lounge. Sehingga kalian tak perlu keluar biaya lagi untuk menyewa ruang rapat kelas premium.
Saat ini, ada 6 ruang kerja yang disewakan oleh Office99. Masing-masing dengan ukuran luas dan kapasitas yang berbeda. Kalian juga bisa memilih jangka waktu sewa semau hati. Mau harian, bulanan, semesteran, hingga tahunan, seluruhnya bebas kalian tentukan. Nah, untuk lebih lengkapnya, kalian bisa lihat infografik di bawah ini.

Sesuai namanya, Virtual Office merupakan layanan sewa kantor virtual, atau lebih tepatnya sewa alamat kantor. Perusahaan yang menikmati layanan ini, secara fisik, tidak benar-benar menempati lokasi tersebut, namun tetap beralamat di sana.
Lantas, mengapa layanan seperti ini dibutuhkan?
Bagi perusahaan kecil atau rintisan yang baru berkembang dan belum menghasilkan keuntungan, berinvestasi atau menyewa gedung kantor membutuhkan alokasi anggaran yang cukup besar. Belum lagi apabila biaya operasional kantor juga ikut diperhitungkan. Sudah pasti hal ini akan membebani keuangan perusahaan.
Nah, untuk menekan pengeluaran, layanan Virtual Office yang disediakan Office99 adalah solusi yang tepat. Dengan memiliki alamat kantor yang jelas, maka perusahaan bisa fokus untuk mencetak laba dari bisnisnya, tanpa harus dibebani oleh biaya investasi atau sewa kantor.
Keunggulan memiliki virtual office di Office99 juga sangat banyak. Namun yang utama, alamat kantor jadi lebih bergengsi. Hal ini tentu akan meningkatkan brand image dari perusahaan tersebut. Agar semakin sip, Office99 juga menyediakan Surat Domisili Gedung bagi pelanggan virtual office secara cuma-cuma.
Bagaimana? Menarik, bukan? Nah, untuk mengetahui ragam paket yang ditawarkan, kalian dapat melihat infografik di bawah ini.

Meskipun sering dikatakan bahwa sukses itu relatif, nyatanya setiap orang memiliki hak yang sama dalam meraihnya. Amsal kepala ikan hanyalah salah satu di antara banyak titian menuju kesuksesan dalam berkarier. Tidak ada salahnya bila kalian amalkan, karena memang berasal dari lisan seorang yang sarat pengalaman.
Akan tetapi, tidak ada kesuksesan yang instan. Dibutuhkan kerja keras dan sikap yang benar dalam meraih kesuksesan.  Bahkan tak jarang, diperlukan pula pengorbanan dan kesabaran tanpa batas untuk menggapai kesuksesan. Oleh karenanya, sukses akan terasa sangat manis saat berada dalam genggaman.
Pepatah mengatakan, “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.” Sukses pun tak bisa diraih sendirian. Ada kolaborasi yang menjadi faktor kunci. Seperti halnya #Office99 yang menghadirkan layanan sewa kantor bagi perusahaan yang tengah menapaki tangga kesuksesan.
Sekarang, tak perlu khawatir untuk memulai usaha rintisan. Bersama Office99, jalan menuju kesuksesan menjadi selangkah lebih dekat.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Office 99 Blog Competition.


Ekonomi Digital Kian Mengemuka, Saatnya Milenial Mengambil Peran Utama


Zaman sekarang, semuanya seakan berlomba merebut hati pelanggan. Mulai dari maraknya feed Instagram berbayar, hingga menjamurnya toko online. Yang di sana membagikan kode diskon referral, yang di situ memberikan lelang harga besar-besaran. Belum lagi potongan harga gila-gilaan saban hari belanja online nasional.
Tidak hanya penetrasi iklan dan promosi yang menggunakan teknologi digital, sistem pembayarannya juga demikian. Uang tunai dan kartu debit/kredit terasa semakin ketinggalan zaman. Belum habis decak kagum saat membayar tol pakai uang elektronik, tiba-tiba kini sudah bisa membayar nasi bungkus lewat QR Code.
Ya. Suka tidak suka, genderang ekonomi digital kian berbunyi kencang. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, menjadi jalan pembuka munculnya berbagai inovasi di bidang ekonomi. Tatap muka, seakan tak lagi bermakna. Sebab semuanya kini bisa dilihat, dipesan, dan dibeli lewat tarian dua ibu jari di layar smartphone saja.
Dunia mengenal era ini dengan sebutan “Revolusi industri 4.0”. Masa di mana pemanfaatan teknologi otomasi, big data, robot, artificial intelligence, dan internet of things (IoT), mengubah tatanan industri di semua lini. Baik proses produksi, manajemen, dan pemasaran.
Dampak ke sektor ekonominya pun tak pandang bulu. Mulai dari industri kelas kakap, hingga bisnis kuliner kelas rumahan berebut masuk pasar digital. Transportasi jadul semakin ditinggalkan, ojeg daring berubah menjadi kebutuhan harian. Jangankan sektor komersial, lembaga nirlaba seperti pemerintah saja terus menghadirkan layanan berbasis internet.

Posisi Indonesia

Nah, sebagai salah satu negara terbesar di Asia Tenggara, bagaimana dengan Indonesia? Jika boleh jujur, jawabannya ada dua. Membanggakan sekaligus mengkhawatirkan.
Bila membaca laporan Google dan Temasek yang bertajuk e-Conomy SEA 2018, kita patut berbangga diri. Sebab nilai ekonomi internet kita ternyata paling besar dan tumbuh paling tinggi dibandingkan dengan negara tetangga yakni Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.


Valuasi ekonomi berbasis internet kita berada di angka 27 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2018. Jumlah ini meningkat 49% bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang berada di kisaran 8 miliar Dolar AS. Berdasarkan prediksi Google, angka ini akan terus bertambah hingga mencapai 100 miliar Dolar AS pada tahun 2025.
Namun bila melihat kinerjanya, kita mesti khawatir. Sebab tingginya penetrasi internet dan ekonomi digital nampaknya belum dapat memperbaiki defisit neraca berjalan yang terus menghantui. Terakhir, defisit neraca berjalan masih berada di angka 8,85 miliar Dolar AS pada triwulan III-2018. Artinya, kita masih asyik mengonsumsi barang impor, alih-alih menghasilkan produk yang bernilai ekspor.



Kondisi ini tentu harus diubah. Internet harus digunakan untuk menggerakkan sektor-sektor ekonomi produktif. Lebih baik lagi apabila teknologi digital dimanfaatkan untuk memasarkan produk lokal ke pasar global. Seperti cita-cita taglineMaking Indonesia 4.0” yang digagas oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Untuk mendorong ekspor, sebenarnya Kemenperin telah memetakan 10 sektor unggulan yang memiliki potensi besar. Mulai dari alas kaki, pengolahan ikan dan rumput laut, aneka industri, farmasi kosmetik dan obat-obatan, produk kreatif, barang jadi karet, elektronika, furnitur, makanan dan minuman, hingga tekstil dan produk tekstil. Namun pertanyaannya, sudahkah kita memulainya?

Peran Generasi Milenial

Bila kita memandang dari sisi baiknya, sebenarnya ada satu keunggulan dari semakin tingginya gairah ekonomi digital. Yaitu, ia menghadirkan peluang bagi siapa saja yang ingin berkembang. Hanya bermodal ide bisnis dan kuota internet, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi wirausahawan digital.
Nah, untuk menggerakkan roda ekonomi digital, mau tidak mau kita harus bertumpu pada peran generasi milenial. Sebab, masa depan bangsa bergantung pada generasi muda.
Sembilan puluh juta jiwa milenial Indonesia merupakan potensi yang sangat besar. Dalam konteks ekonomi digital, sayang sekali apabila generasi ini hanya menjadi penonton saja. Bila tak ingin tertinggal, sudah sepantasnya para milenial mengambil peran utama.
Kita beruntung. Tatkala kebutuhan mencetak wirausahawan digital yang handal semakin besar, kini ada lembaga yang mendedikasikan dirinya untuk hal itu. Tak perlu repot-repot, cukup belajar di GeTI, kalian bisa menjadi digital entrepreneur dalam waktu yang singkat.

Siap Hadapi Industri 4.0 Bersama GeTI dan Detalase

Global Entrepreneur & Talent Incubator (GeTI) adalah lembaga pendidikan informal atau inkubator, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan digital marketing para wirausahawan. Di GeTI, kalian akan belajar menjadi digital marketer, dengan dukungan  infrastruktur seperti barang/produk, pengetahuan ekspor, hingga membuka jalur pertemuan dengan pembeli internasional.
Ada dua workshop yang dihadirkan oleh GeTI. Pertama, Hot Incubator Program: Becoming Reseller. Dalam workshop ini, kalian bisa belajar memulai usaha tanpa modal dan produk, dengan menjadi reseller. Seluk beluk menjadi reseller akan dikupas hingga tuntas, mulai dari konsep hingga cara memasarkan produk melalui internet dan media sosial.
Tidak hanya modul pelatihan dan skill digital, GeTI juga menyediakan channel jutaan produk dari dalam dan luar negeri yang siap jual. Setelah menempuh pendidikan, kalian bisa langsung terjun berbisnis tanpa pikir panjang.
Untuk urusan penyediaan produk, salah satu provider yang bekerja sama dengan GeTi adalah Detalase. Di Detalase, kalian bisa menemukan ribuan produk yang siap dipasarkan, serta didukung dengan sistem jasa logistik, metode pembayaran yang aman, dan customer services yang responsif.
Cukup pasarkan di internet dan media sosial, Detalase akan mengirim barang hingga ke tangan pelanggan, dengan menggunakan nama toko kalian. Teknik kerjasama pemasaran digital ini dikenal dengan istilah dropship. Sebuah metode pemasaran yang kini sedang berkembang pesat karena kemudahan yang ditawarkannya.
Tidak seperti bisnis dropship lainnya, Detalase memiliki delapan keunggulan yang sayang untuk dilewatkan, sebagaimana ditampilkan dalam gambar berikut.
Nah, bila kalian tertarik memulai bisnis dropship dengan Detalase, caranya pun sederhana. Cukup dengan lima langkah mudah, kalian sudah bisa menjadi digital entrepreneur yang siap menghasilkan pundi-pundi keuntungan. Penasaran? Simak gambar di bawah ini.



Workshop kedua yang ditawarkan GeTI adalah Digital Marketing Specialist. Workshop ini akan memberi kalian pemahaman mendalam dan pengetahuan tingkat lanjut di bidang digital marketing. Cocok bagi kalian yang ingin mengembangkan lini bisnis yang sudah ada agar lebih berkibar.
Sesi pelatihan dalam workshop ini juga disesuaikan dengan tingkatan pengetahuan kalian terhadap pemasaran digital. Mulai dari Starter Class, Mastering Class, hingga Specialist Class. Kalian akan dibekali seluruh kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh digital marketer, yakni Analytics, SEO, Design, hingga Content Creation. Tujuannya satu, agar bisnis kalian mampu berkembang hingga ranah internasional.
Dalam sebuah konferensi yang saya ikuti belum lama ini, Academic Fair GeTI Oi Wicaksono menjelaskan bahwa GeTI telah berhasil mengembangkan beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk ikan yang semula hanya dinikmati pasar lokal, kini berhasil diekspor setelah mendapat pelatihan dari GeTI. Tentu hal ini patut kita syukuri, karena kegiatan ini pastinya menambah pundi-pundi devisa bagi perekonomian bangsa.

Mulai dari Sekarang

Revolusi industri 4.0 bukanlah sebuah masa yang perlu ditakuti. Sebaliknya, kala ini justru menghadirkan banyak peluang bagi siapa saja yang ingin berusaha. Tak perlu lagi bersusah payah menawarkan barang dagangan lewat teriakan, kini internet bisa menjadi corong yang nyaring tanpa batasan area dan negara.
Agar ekonomi negeri semakin mandiri, generasi milenial harus menjadi motor produktif, bukan delik konsumtif. Keberadaan GeTI dan Detalase dalam mencetak wirausahawan digital patut mendapat acungan jempol. Dengan ilmu digital marketing yang dipersembahkan, barang lokal kini bisa dipasarkan hingga ke ranah internasional.
Namun, untuk mencapai itu semua, ada satu ungkapan berbahasa Inggris yang patut kita renungkan. The way to get started is to quit talking and begin doing. Tak ada hasil tanpa ikhtiar. Oleh karena itu, yuk, jadi wirausahawan digital mulai dari sekarang!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Bloggers Competition yang diselenggarakan oleh GeTI dan C2Live.



Memerangi Kemiskinan Melalui Digitalisasi Pembayaran Zakat dan Wakaf Uang



Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Per Maret 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa masih terdapat 25,95 juta saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Meski membaik dibandingkan dengan periode sebelumnya, namun jumlah penduduk miskin Indonesia ternyata masih menempati peringkat pertama di Asia setelah India (218 juta orang) dan Tiongkok (30 juta orang).
Salah satu cara memerangi kemiskinan adalah penyaluran zakat dan wakaf yang tepat sasaran. Dengan dukungan 220 juta umat muslim, maka potensi zakat dan wakaf di Indonesia sangatlah besar. Sebab, menunaikan zakat adalah kewajiban bagi umat muslim yang telah memenuhi syarat. Sedangkan wakaf merupakan salah satu amalan yang pahalanya tidak akan terputus, meskipun wakif telah meninggal dunia.


Gairah umat muslim Indonesia dalam berzakat sangatlah besar. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) membabarkan bahwa pada medio 2002—2017, dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang berhasil dikumpulkan telah mencapai Rp6,2 triliun. Rata-rata pertumbuhan per tahunnya pun sangat menggembirakan, yakni mencapai 38,02%.
Setali tiga uang, potensi wakaf juga sama besarnya dengan zakat. Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat jumlah tanah wakaf di Indonesia telah menyentuh angka 435,77 ribu bidang tanah, dengan luas mencapai 4,36 miliar meter persegi. Pemanfaatan tanah wakaf pun beragam, mulai dari masjid (43,74%), musholla (30,13%), sekolah (10,61%), kepentingan sosial lainnya (8,32%), makam (4,23%), hingga pesantren (2,98%).


Tingginya minat berwakaf umat muslim didorong oleh semakin bervariasinya pilihan cara berwakaf. Selain wakaf aset tetap berupa tanah dan bangunan, wakif juga bisa menunaikan wakafnya dalam bentuk uang—atau yang kita kenal dengan istilah wakaf uang.
Melalui wakaf uang, para wakif diperkenankan urun rembug untuk mempercepat pengumpulan dana wakaf. Sesuai syariat, wakaf uang sendiri telah dibolehkan melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 11 Mei 2002, yang kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004.
Besarnya potensi zakat dan wakaf di Indonesia seakan mengonfirmasi laporan Charities Aid Foundation (CAF) yang baru saja dirilis pada bulan Oktober 2018 kemarin. Lembaga donasi internasional asal Inggris itu menempatkan Indonesia pada peringkat teratas World Giving Index untuk pertama kalinya dalam sejarah. Artinya, budaya memberi kita paling kental dibandingkan dengan 145 negara lainnya di dunia.


Melihat berbagai fakta tersebut, ada satu pertanyaan menggelitik yang tersisa. Jika budaya memberi kita paling baik di muka bumi, mengapa 9,82% penduduk kita masih hidup di bawah garis kemiskinan? Ini yang perlu kita pecahkan bersama.

Digitalisasi Layanan Perbankan Syariah

Gairah berbagi yang sudah terbukti, seyogianya harus seiring sejalan dengan perkembangan zaman. Jikalau berbagai industri telah memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan layanan dan pemasarannya, maka pengumpulan zakat dan wakaf uang juga harusnya serupa, agar memaksimalkan ikhtiar menuntaskan kemiskinan di Indonesia.
Untuk mencapai itu semua, perbankan syariah sudah sepantasnya menjadi garda terdepan. Layanan pembayaran zakat dan wakaf uang yang dihadirkan oleh bank syariah, haruslah benar-benar memudahkan para muzakki dan wakif dalam berzakat dan berwakaf. Oleh karena itu, penggunaan digital platform bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Salah satu contoh digital platform pembayaran zakat dan wakaf uang bisa kita temui pada aplikasi e-Salaam besutan CIMB Niaga Syariah. Aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Play dan App Store ini memudahkan umat muslim dalam membayar zakat dan wakaf uang hanya dengan sentuhan jari. Cukup dengan mengisi data diri, maka pengguna bisa membayar zakat dan wakaf uang mulai dari Rp10 ribu saja.


Ada tiga metode pembayaran zakat dan wakaf uang yang dapat dipilih. Bagi nasabah CIMB Niaga Syariah, maka pembayaran dapat dilakukan melalui rekening ponsel dan CIMB Clicks. Bagi yang belum menjadi nasabah CIMB Niaga Syariah, maka pembayaran bisa dilakukan melalui kartu kredit berlogo Visa, MasterCard, atau JCB.
CIMB Niaga Syariah juga telah bekerja sama dengan 12 Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan 7 Lembaga Pengelola Wakaf (LPW) dari seluruh Indonesia. Oleh karenanya, pilihan wakif dalam berwakaf melalui e-Salaam sangat beragam, sehingga dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing pribadi. Mulai dari wakaf produktif, pendidikan, rumah sakit, pembebasan tanah, masjid, hingga hewan ternak.
Satu hal lagi yang menjadi keunggulan e-Salaam adalah sistem pencatatan yang tersusun rapi. Para muzakki dan wakif bisa melihat kembali zakat dan wakaf uang yang telah disalurkannya melalui menu history transaksi. Selain itu, e-Salaam juga menyediakan menu jadwal shalat dan arah kiblat untuk memudahkan umat muslim dalam menunaikan ibadah shalat.


Dengan inovasi layanan pembayaran zakat dan wakaf secara digital seperti e-Salaam, maka angka kemiskinan bisa terus ditekan. Asalkan dikelola dengan baik serta disalurkan dengan benar dan tepat sasaran, maka bukan tidak mungkin kita akan sulit menemukan orang miskin di negeri yang kaya ini. Persis seperti negeri Arab saat masa kepemimpinan Umar bin Khattab dahulu. Semoga. []

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel Nasional “Kemudahan Layanan Zakat dan Wakaf Uang Melalui CIMB Niaga Syariah dan e-Salaam” yang diselenggarakan oleh FoSSEI, CIMB Niaga Syariah, dan e-Salaam, serta berhasil meraih Juara 2.