Ekonomi Digital Kian Mengemuka, Saatnya Milenial Mengambil Peran Utama


Zaman sekarang, semuanya seakan berlomba merebut hati pelanggan. Mulai dari maraknya feed Instagram berbayar, hingga menjamurnya toko online. Yang di sana membagikan kode diskon referral, yang di situ memberikan lelang harga besar-besaran. Belum lagi potongan harga gila-gilaan saban hari belanja online nasional.
Tidak hanya penetrasi iklan dan promosi yang menggunakan teknologi digital, sistem pembayarannya juga demikian. Uang tunai dan kartu debit/kredit terasa semakin ketinggalan zaman. Belum habis decak kagum saat membayar tol pakai uang elektronik, tiba-tiba kini sudah bisa membayar nasi bungkus lewat QR Code.
Ya. Suka tidak suka, genderang ekonomi digital kian berbunyi kencang. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, menjadi jalan pembuka munculnya berbagai inovasi di bidang ekonomi. Tatap muka, seakan tak lagi bermakna. Sebab semuanya kini bisa dilihat, dipesan, dan dibeli lewat tarian dua ibu jari di layar smartphone saja.
Dunia mengenal era ini dengan sebutan “Revolusi industri 4.0”. Masa di mana pemanfaatan teknologi otomasi, big data, robot, artificial intelligence, dan internet of things (IoT), mengubah tatanan industri di semua lini. Baik proses produksi, manajemen, dan pemasaran.
Dampak ke sektor ekonominya pun tak pandang bulu. Mulai dari industri kelas kakap, hingga bisnis kuliner kelas rumahan berebut masuk pasar digital. Transportasi jadul semakin ditinggalkan, ojeg daring berubah menjadi kebutuhan harian. Jangankan sektor komersial, lembaga nirlaba seperti pemerintah saja terus menghadirkan layanan berbasis internet.

Posisi Indonesia

Nah, sebagai salah satu negara terbesar di Asia Tenggara, bagaimana dengan Indonesia? Jika boleh jujur, jawabannya ada dua. Membanggakan sekaligus mengkhawatirkan.
Bila membaca laporan Google dan Temasek yang bertajuk e-Conomy SEA 2018, kita patut berbangga diri. Sebab nilai ekonomi internet kita ternyata paling besar dan tumbuh paling tinggi dibandingkan dengan negara tetangga yakni Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.


Valuasi ekonomi berbasis internet kita berada di angka 27 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2018. Jumlah ini meningkat 49% bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang berada di kisaran 8 miliar Dolar AS. Berdasarkan prediksi Google, angka ini akan terus bertambah hingga mencapai 100 miliar Dolar AS pada tahun 2025.
Namun bila melihat kinerjanya, kita mesti khawatir. Sebab tingginya penetrasi internet dan ekonomi digital nampaknya belum dapat memperbaiki defisit neraca berjalan yang terus menghantui. Terakhir, defisit neraca berjalan masih berada di angka 8,85 miliar Dolar AS pada triwulan III-2018. Artinya, kita masih asyik mengonsumsi barang impor, alih-alih menghasilkan produk yang bernilai ekspor.



Kondisi ini tentu harus diubah. Internet harus digunakan untuk menggerakkan sektor-sektor ekonomi produktif. Lebih baik lagi apabila teknologi digital dimanfaatkan untuk memasarkan produk lokal ke pasar global. Seperti cita-cita taglineMaking Indonesia 4.0” yang digagas oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Untuk mendorong ekspor, sebenarnya Kemenperin telah memetakan 10 sektor unggulan yang memiliki potensi besar. Mulai dari alas kaki, pengolahan ikan dan rumput laut, aneka industri, farmasi kosmetik dan obat-obatan, produk kreatif, barang jadi karet, elektronika, furnitur, makanan dan minuman, hingga tekstil dan produk tekstil. Namun pertanyaannya, sudahkah kita memulainya?

Peran Generasi Milenial

Bila kita memandang dari sisi baiknya, sebenarnya ada satu keunggulan dari semakin tingginya gairah ekonomi digital. Yaitu, ia menghadirkan peluang bagi siapa saja yang ingin berkembang. Hanya bermodal ide bisnis dan kuota internet, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi wirausahawan digital.
Nah, untuk menggerakkan roda ekonomi digital, mau tidak mau kita harus bertumpu pada peran generasi milenial. Sebab, masa depan bangsa bergantung pada generasi muda.
Sembilan puluh juta jiwa milenial Indonesia merupakan potensi yang sangat besar. Dalam konteks ekonomi digital, sayang sekali apabila generasi ini hanya menjadi penonton saja. Bila tak ingin tertinggal, sudah sepantasnya para milenial mengambil peran utama.
Kita beruntung. Tatkala kebutuhan mencetak wirausahawan digital yang handal semakin besar, kini ada lembaga yang mendedikasikan dirinya untuk hal itu. Tak perlu repot-repot, cukup belajar di GeTI, kalian bisa menjadi digital entrepreneur dalam waktu yang singkat.

Siap Hadapi Industri 4.0 Bersama GeTI dan Detalase

Global Entrepreneur & Talent Incubator (GeTI) adalah lembaga pendidikan informal atau inkubator, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan digital marketing para wirausahawan. Di GeTI, kalian akan belajar menjadi digital marketer, dengan dukungan  infrastruktur seperti barang/produk, pengetahuan ekspor, hingga membuka jalur pertemuan dengan pembeli internasional.
Ada dua workshop yang dihadirkan oleh GeTI. Pertama, Hot Incubator Program: Becoming Reseller. Dalam workshop ini, kalian bisa belajar memulai usaha tanpa modal dan produk, dengan menjadi reseller. Seluk beluk menjadi reseller akan dikupas hingga tuntas, mulai dari konsep hingga cara memasarkan produk melalui internet dan media sosial.
Tidak hanya modul pelatihan dan skill digital, GeTI juga menyediakan channel jutaan produk dari dalam dan luar negeri yang siap jual. Setelah menempuh pendidikan, kalian bisa langsung terjun berbisnis tanpa pikir panjang.
Untuk urusan penyediaan produk, salah satu provider yang bekerja sama dengan GeTi adalah Detalase. Di Detalase, kalian bisa menemukan ribuan produk yang siap dipasarkan, serta didukung dengan sistem jasa logistik, metode pembayaran yang aman, dan customer services yang responsif.
Cukup pasarkan di internet dan media sosial, Detalase akan mengirim barang hingga ke tangan pelanggan, dengan menggunakan nama toko kalian. Teknik kerjasama pemasaran digital ini dikenal dengan istilah dropship. Sebuah metode pemasaran yang kini sedang berkembang pesat karena kemudahan yang ditawarkannya.
Tidak seperti bisnis dropship lainnya, Detalase memiliki delapan keunggulan yang sayang untuk dilewatkan, sebagaimana ditampilkan dalam gambar berikut.
Nah, bila kalian tertarik memulai bisnis dropship dengan Detalase, caranya pun sederhana. Cukup dengan lima langkah mudah, kalian sudah bisa menjadi digital entrepreneur yang siap menghasilkan pundi-pundi keuntungan. Penasaran? Simak gambar di bawah ini.



Workshop kedua yang ditawarkan GeTI adalah Digital Marketing Specialist. Workshop ini akan memberi kalian pemahaman mendalam dan pengetahuan tingkat lanjut di bidang digital marketing. Cocok bagi kalian yang ingin mengembangkan lini bisnis yang sudah ada agar lebih berkibar.
Sesi pelatihan dalam workshop ini juga disesuaikan dengan tingkatan pengetahuan kalian terhadap pemasaran digital. Mulai dari Starter Class, Mastering Class, hingga Specialist Class. Kalian akan dibekali seluruh kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh digital marketer, yakni Analytics, SEO, Design, hingga Content Creation. Tujuannya satu, agar bisnis kalian mampu berkembang hingga ranah internasional.
Dalam sebuah konferensi yang saya ikuti belum lama ini, Academic Fair GeTI Oi Wicaksono menjelaskan bahwa GeTI telah berhasil mengembangkan beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk ikan yang semula hanya dinikmati pasar lokal, kini berhasil diekspor setelah mendapat pelatihan dari GeTI. Tentu hal ini patut kita syukuri, karena kegiatan ini pastinya menambah pundi-pundi devisa bagi perekonomian bangsa.

Mulai dari Sekarang

Revolusi industri 4.0 bukanlah sebuah masa yang perlu ditakuti. Sebaliknya, kala ini justru menghadirkan banyak peluang bagi siapa saja yang ingin berusaha. Tak perlu lagi bersusah payah menawarkan barang dagangan lewat teriakan, kini internet bisa menjadi corong yang nyaring tanpa batasan area dan negara.
Agar ekonomi negeri semakin mandiri, generasi milenial harus menjadi motor produktif, bukan delik konsumtif. Keberadaan GeTI dan Detalase dalam mencetak wirausahawan digital patut mendapat acungan jempol. Dengan ilmu digital marketing yang dipersembahkan, barang lokal kini bisa dipasarkan hingga ke ranah internasional.
Namun, untuk mencapai itu semua, ada satu ungkapan berbahasa Inggris yang patut kita renungkan. The way to get started is to quit talking and begin doing. Tak ada hasil tanpa ikhtiar. Oleh karena itu, yuk, jadi wirausahawan digital mulai dari sekarang!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Bloggers Competition yang diselenggarakan oleh GeTI dan C2Live.



10 comments:

  1. Solusi terbaik GeTI yah bang, soalnya emang udah zamannya berubah menjadi digital di berbagai bidang. Kalau bukan generasi muda, lalu siapa lagi? Mnatabbb bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Bang. Saatnya yang muda yang berusaha. Terima kasih sudah mampir ya, Bang.

      Delete
  2. Revolusi 4.0 sangat bermanfaat bagi yang mau memperbaiki diri apalagi para guru. Tapi jadi memberatkan kalau tdak move on dan belajar mengikuti tren 4.0😊😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Kak. Mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan teknologi supaya tidak tertinggal. Terima kasih sudah mampir, Kak. Salam hangat.

      Delete
  3. Zaman era digital ini sepertinya mendigitalkan dari yang konvensional hehe
    media promosi sekarang juga makin simple dengan kehadiran internet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Mas. Promosi semakin mudah lewat internet. Konten menjadi penting, sehingga membuka lapangan kerja pula bagi para pelaku seni digital. Terima kasih sudah mampir dan salam hangat.

      Delete
  4. Betul sekali, Bang. Kami yang secara rutin mengadakan workshop berkala pun saat ini tengah mempersiapkan diri terjun di Industri 4.0 agar manfaat dari workshop kami dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional. Mohon doanya, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Kak. Saya ikut mendoakan agar pelatihan yang dihelat bisa memenuhi ruang otak masyarakat Indonesia. Terima kasih sudah mampir ke mari dan salam hangat.

      Delete
  5. Wow! Bahkan menjadi reseller andal pun ada strateginya ya, Bang. Tapi betul juga supaya profesi apapun tetap berada di kelas profesional, kita mesti mempelajari jurus-jurusnya agar etika kerja tetap terjaga. Meskipun tatap muka dengan klien sangat minimal di era digital ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Kak. Apa pun profesinya, kiat menjadi sukses harus terus dipelajari. Terima kasih sudah mampir. Salam hangat.

      Delete